I’m Your Girl, Boy! [Oneshoot]


Annyeooong! ^^ #Rusuh!

Author comeback nih! Hahak. Nih, Author bawa Oneshoot yang ancur banget!

Mian ya, kalo ini mengecewakan blah blah blah. Dan mian karena belum bisa ngelanjut FF lainnya ._.

Langsung aja deh, pokoknya tetep RCL yaAAH!

Happy Reading! ^^

Title: I’m Your Girl, Boy!

Author: Lee Hyera or MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

-Im Yoon Ah

Length: Oneshoot

Genre: Romance

Rating: PG13

_______________

            Sooyoung POV

 

From: Kyuhyun Oppa :*

          Soo, nanti ke kelasku, ne?

 

          To: Kyuhyun Oppa :*

          Membuat PR lagi?

 

          Aku menghela nafas kesal. Ingin sekali aku berteriak kepada Kyuhyun bahwa aku ini yeojachingunya, bukan gurunya, atau pembantunya. Selama menjalin hubungan dengan Kyuhyun, sudah berpuluh-puluh kali aku mengerjakan PR-nya, membawakan barangnya yang tertinggal, dan lain-lain. Kesal sih, tapi mau bagaimana lagi.

Namanya juga cinta.

Dan sekarang, aku bergegas pergi ke lantai tiga, ke kelas Kyuhyun Oppa. Umur Kyuhyun memang terpaut dua tahun di atasku. Sebentar lagi, dia akan pergi ke Universitas.

“Soo!” panggil Fany, sahabatku, sambil melambai ceria. “Mau ke kelas Kyuhyun, Soo?”

“Nde. Mau ikut?” tawarku. Namjachingu Fany juga sekelas dengan Kyuhyun. Jadi sekalian saja mengajaknya.

“Hihi. Tahu saja. Kajja!” ajaknya, meringis malu-malu. Hubungannya memang baru terjalin dua bulan ini. Sedangkan aku sudah lima bulan.

Kami berjalan menaiki tangga yang cukup lebar dari marmer. Berkali-kali Fany mengaca di kaca kecilnya. Yaaah, pasangan baru.

Sampai di koridor atas, aku langsung melihat Kyuhyun di depan kelas dengan kaki dan tangan diangkat satu. Pasti dihukum. Melihat wajah nyengirnya saja sudah membuatku kesal.

“Dihukum lagi?” bisikku, berjongkok. Bisa gawat kalau Park Songsaenim melihat kami berdua. Fany malah tertawa sambil melambai ke jendela.

“Hehe. Jebaal, kerjakan ini untukku ya?” mohon Kyuhyun sambil menunjuk buku dan buku paket tebal serta pulpen disampingnya. “Aku bisa menghadap ke Kepsek kalau dihukum sekalii lagi…”

“Nde nde!” sahutku buru-buru. “Berhenti membuat wajah melas seperti itu. Aku pergi. Fany-ah! Kajja!” kataku sambil mengambil barang-barang tadi.

“Mengerjakan PR lagi, ya?” Tanya Fany, setibanya kami di kelas.

Aku mengangguk. “Setiap hari aku seperti guru saja. Aisssh! Bagaimana menjawabnya?!” aku menggerutu kesal sambil membolak-balik halaman buku paket. Mengerjakan Matematika, yang benar saja! Aku memang tidak begitu bodoh, tapi aku sangat benci matematika.

“Biar kubantu.” kata Fany perhatian sambil duduk di sampingku. Sedetik kemudian, dia langsung menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal dengan gugup. “Aduuh, Mianhae, Soo. Tapi, sumpah! Susah!”

“Ne ne. Aku tahu.”

_______________

Setelah mengantarkan buku-buku Kyuhyun, aku bergegas pergi ke kantin. Setidaknya Mi Ramen panas bisa memulihkan mood-ku yang hancur lebur. Aku sudah kehilangan setengah jam istirahatku karena harus mengerjakan soal tadi.

“Kajja! Kita harus cepat…” ajak Fany sambil menyeret langkahku.

“Pesan apa?” Tanyaku, bersiap memesan makanan.

“Bulgogi dan diet coke saja. Kata Siwon Oppa, aku mulai terlihat gendut.”

“Ne.” Kasihan sekali Fany. Dia sebenarnya suka makan, seperti aku. Tapi Siwon oppa memang sedikit tidak menyukai yeoja yang gendut. Beruntung Kyuhyun Oppa tidak pernah mengomentari penampilanku, atau gendut tidaknya aku. Satu poin kebaikan untuk Kyuhyun! “Ahjumma, aku pesan satu porsi Mi Ramen, satu porsi bulgogi, satu diet coke, dan es teh saja.” pesanku.

“Nde.”

Beberapa menit kemudian, makanan kami sudah siap dan dihidangkan.

Ting Tong! Ting Tong! Ting Tong!

          “Tuhaaaannn…” gerutuku kesal, bergegas aku melahap Mi Ramen yang semakin terasa membakar bibir. Fany sendiri acuh tak acuh tetap memakai bulgoginya pelan.

Beep Beep.

Aku merasakan ponselku bergetar. Ada satu telpon dari.. Kyuhyun Oppa. Pasti mengerjakan PR lagi…

Aku langsung mematikan ponselku dan melanjutkan makan. Siapa peduli dengan dia saat lapar dan panik seperti ini. Fany juga tampak tidak peduli saat ponselnya berbunyi.

“Tidak mengangkatnya?” tanyaku sambil berusaha menelan.

“Andwaeyo. Tidak penting.”

Sudah dipastikan, itu bukan dari Siwon Oppa.

Selesai makan, kami bergegas kembali ke kelas. Beruntung Song Songsae sedang ada urusan hingga tidak masuk kelas. Sebagai Ketua kelas, seharusnya aku menjaga kelas. Aku ngaku. Aku memang ketua kelas dan selalu menduduki rangking satu di kelasku, dan rangking dua paralel. Lalu, seperti setruman listrik, kenyataan menyerbu ke dalam otakku.

Jangan-jangan Kyuhyun Oppa hanya memanfaatkan kepintaranku saja? Tegakah dia? Tidak cintakah dia padaku?

_______________

Author POV

 

            Kyuhyun melangkah terburu-buru di koridor sekolah yang mulai sepi. Seperti biasa, mencari Sooyoung untuk mengerjakan PR-nya. Sesampainya di depan kelas Sooyoung, Kyuhyun sedikit mengintip untuk mengetahui ada guru tidak. Cih, ternyata ada. Dengan kesal Kyuhyun berbalik dan kembali menaiki tangga menuju lantai tiga.

“Oppa!” panggil Yoon Ah sambil melambai.

“Ah, ne, Yoon Ah-ssi.” Kyuhyun membalas lambaian Yoon Ah kaku sambil menatap tangga. “Wae?”

“Oppa mau bertemu Sooyoung, ya? Sayang sekali, kelas Sooyoung sudah diisi oleh Cha Songsaenim. Jadi…, daripada Oppa kembali ke kelas dengan sia-sia. Lebih baik ke kelaskuu.”

“Untuk apa?”

“E…e…” Yoon Ah meremas bagian bawah kemeja putihnya. Bingung ingin menjawab apa. “Gwenchana. Mungkin Oppa bisa mampir sebentar—”

“Mianhae, Yoon-ah. Tapi aku buru-buru.”

Yoon Ah hanya menatap kepergian Kyuhyun dengan sedih. Meski tahu kalau Kyuhyun telah mempunyai yeojachingu, Yoon Ah tetap tidak gentar mendekati Kyuhyun.

“Yoon Ah-ssi.” panggil Donghae, membuat yeoja itu langsung membalik.

“Wae?” tanyanya dingin.

“Kau ada waktu nanti malam?”

“Anio. Aku sibuk.” balas Yoon Ah, langsung bergegas pergi menjauhii Donghae yang menatapnya sendu.

__________________

“Omona! Aku lupa kalau kita ada janji, Soo…” kata Kyuhyun yang sedang memainkan PSP-nya.

Mwo? Semudah itu oppa melupakannya?! Aku sudah dua puluh kali mengingatkan Oppa tentang ini. Cepat datang kemari!!”

“Ne ne… Tunggu sebentar!” Balas Kyuhyun, langsung menatap malas ke arah ponselnya dengan kesal.

Friday Café

 

            “Sudah lama menunggu?” Tanya Kyuhyun, berusaha menahan agar tak pulang karena ingin memainkan game online-nya itu.

“Lamaaa sekali.” sahut Sooyoung dingin. “Yang Oppa ingat apa sih?!”

“Oh ya, Soo. Aku punya banyak PR besok, mau tidak kau mengerjakannya untukku?” Tanya Kyuhyun sambil mengeluarkan setumpuk buku-buku tebal dan dua buah pulpen.

Sooyoung hanya menatapnya tajam. “Masih bisa Oppa mengatakan itu?” katanya, menekan amarahnya dalam-dalam. Belum saatnya mengeluarkan unek-uneknya sekarang.

“Mwo? Memangnya aku harus mengatakan apa?”

“OPPA!” BRAK! Sooyoung langsung membentak Kyuhyun sekaligus menggebrak meja di depannya. Semua orang melihat mereka.

“E…e… Memangnya ada apa?” Kyuhyun tampak sedikit gentar.

“Oppa. Sekarang aku Tanya, aku ini kau anggap apa?!”

“…?”

“Guru?! Pembantu?! Hei!! Aku ini YEOJACHINGUMU Oppa!!!” Emosi Sooyoung langsung memuncak dan membuat Kyuhyun mengkeret di kursinya.

“Mulai sekarang… berhenti memanggilku untuk mengerjakan tugas Oppa. Aku sudah jenuh. Kita akhiri saja disini..” kata Sooyoung kemudian. Melepas casing belakang ponselnya dan membuang kartu GSM-nya dan menginjaknya. Lalu, setelah membereskan barang-barangnya dan  membayar uang bon makanannya, Sooyoung langsung pergi tanpa menengok lagi.

Sooyoung POV

 

            Sudahlah, kumohon… Berhentilah menangis. Seharusnya kau bersyukur karena terbebas dari tugas-tugas matematika, fisika, bahasa inggris, dan lain-lain. Seharusnya sekarang kau tersenyum senang dan mulai menghapus ingatan tentang Kyuhyun.

Anio.

Tidak semudah itu melupakan namja yang telah kucintai sejak enam bulan yang lalu… Lagipula, aku yakin mungkin sekarang Kyuhyun juga sedang sedih.

Bukan, bukan karena hubungan kami, tapi mungkin dia sedih karena tidak ada lagi orang yang membantunya membuat PR dan mengambilkan barang-barangnya yang tertinggal.

Haha. Memikirkan itu membuat hatiku semakin sakit. Mungkin saja…. Kalau aku tidak buru-buru marah, Kyuhyun berubah pikiran dan kami akan berjalan-jalan sekarang…

“Sooyoung…?”

Aku segera berbalik dan melihat Yoon Ah. Dia adalah yeoja yang lumayan populer di sekolah. Itu karena wajahnya yang manis. Tapi, kata Fany, dia itu menyukai Kyuhyun Oppa. Mungkin saja tadi Kyuhyun Oppa menelponnya dan mereka janjian di Friday Café.

“Ne, waeyo?” aku berusaha tersenyum ramah. Itu sulit, mengingat keadaan hatiku sekarang.

“Kau masih mempunyai hubungan dengan Kyuhyun Oppa?” tanyanya lamat-lamat, tampak sedikit ragu. Mungkin dia berpikir, dia bisa kalah dari aku jika bertengkar. Mengingat tinggi tubuhku yang lebih besar sedikit daripada dia. Tapi aku langsung berhenti memikirkan itu melihat kukunya yang dimanikur Perancis yang sangaaat panjang dan bewarna pink.

“Anio. Kami sudah putus.” sahutku. Mencoba meneliti apakah ada sorot kegembiraan di mata Yoon Ah atau tidak. Aku tidak melihatnya, maksudku, aku tidak bisa melihat wajahnya karena lampu-lampu yang dipasang berjejer di jalan sedikit rusak.

“Aaah, sayang sekali.”

“Anio. Tidak begitu sayang. Aku beruntung pernah memilikinya, meski sebentar.” Aku menekankan kata ‘sebentar’. “Permisi, aku punya banyak tugas di rumah.” lanjutku, melambai pada Yoon Ah dan berjalan menjauh.

_______________

Kyuhyun POV

Aku berusaha fokus pada game di depanku. Seharusnya sekarang aku senang karena bisa memainkan game ini tanpa harus dimarahi Sooyoung—yang berkali-kali menyuruhku belajar. Meski aku malas-malasan membuka buku tanpa membacanya.

Tapi aku rindu suara cemprengnya yang selalu meneleponku, menyuruhku belajar, menyuruhku berhenti bermain game sampai larut malam, menyuruhku makan, menyuruhku mandi, bahkan Sooyoung pernah sampai menyita PSP dan video game-ku ketika esok aku ada ulangan.

Satu komentar yang bisa kuberikan kepada Sooyoung: dia sempurna, penyayang, baik, dan rajin.

Astaga…. Sudah beberapa kali aku melukai perasaannya?!

Aku ingat sekali… dulu, saat kami bertemu di Café, aku malah menyuruhnya mengerjakan PR-ku dan tidak membiarkan dia menyentuh makanannya sebelum PR-ku jadi…

Aku langsung meraih ponsel dan berniat memintanya kembali… saat aku ingat tadi dia membuang kartu GSM-nya ke lantai dan langsung pergi. Baiklah, aku bisa memintanya kembali besok.

______________

Tapi ternyata tidak.

Aku tidak bisa menemukan Sooyoung esok harinya. Aku sudah bertanya pada sahabatnya, Tiffany. Tapi yeoja itu bilang Sooyoung tidak mengatakan sesuatu tentang ketidakberangkatnya dia kepada Tiffany. Saat aku mampir ke rumahnya—sebenarnya Sooyoung tinggal sendirian, orangtuanya tinggal di Paris dan dia memutuskan tetap disini—tapi kosong. Pemilik rumah tersebut bilang Sooyoung pergi. Pindah mungkin.

Sebenarnya apa yang terjadi padanya?!

Sekali lagi, aku berusaha mencari jejak-jejak Sooyoung lewat jejaring social dan melihat apakah Sooyoung sedang online. Tapi ternyata akunnya telah terhapus dari jejaring sosial dan aku tidak bisa menemukannya.

Astaga, benarkah Sooyoung pergi ke Paris?!

_______________

5 Tahun kemudian—Paris, 2010

 

            Author POV

 

            “Seharusnya kau pulang sekarang, Soo.” Kata Tuan Choi sambil menatap puteri kesayangannya yang tampak merana. Dia juga sangat kaget ketika, lima tahun yang lalu, puterinya itu tiba di depan rumahnya dan tampak sangat kacau.

“Aniyo, Appa.” Bantah Sooyoung, meski wajahnya ingin. “Aku senang tinggal disini.”

“Tapi kau sudah selesai wisuda. Mencari pekerjaan disini sangat sulit. Kau harus menjadi glamor dan meninggalkan sikap Korea-mu.”

“…” Sooyoung terpekur sebentar. “Untuk sementara aku tidak bekerja dulu, Appa.” kata Sooyoung lalu berbalik dan menaiki tangga.

Nyonya Choi cepat-cepat mengikutinya. Setelah mereka berdua di kamar, Nyonya Choi mulai mengeluarkan serentetan pertanyaan yang sangat sulit dijawab Sooyoung.

“Kau benar-benar tidak ingin kembali ke Korea, Soo?” Tanya Nyonya Choi setelah melihat ekspresi Sooyoung yang menampakkan tidak akan menjawab pertanyaan darinya tadi.

“…”

“Eomma yakin, seseorang pasti sedang menunggumu sekarang.”

“Mengapa Eomma seyakin itu?! Aku bahkan tidak yakin Kyu—” Sooyoung langsung menutup mulutnya, dia keceplosan. Sebenarnya dia ingin mengatakan ‘aku bahkan tidak yakin Kyuhyun Oppa masih menungguku.’, tapi batal.

Nyonya Choi tersenyum. “Eomma dan Appa akan menyiapkan tiket pesawat ke Korea untukmu. Besok kau berangkat. Bersiaplah.” jelasnya, lalu bangkit sambil tetap tersenyum.

Sooyoung langsung merengut dan melempar bantal dengan kesal ke tembok. Dia jelas belum siap pergi ke tempat kelahirannya, sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, jika Eomma-nya sudah menjelaskan sesuatu dan pergi, artinya dia tidak ingin dibantah. Dan Sooyoung jelas tidak mau dicap anak durhaka. Sooyoung harus mulai bergerak sekarang.

Tapi Sooyoung malah mengeluarkan PSP-nya dan mencari game baru. Dia meng-klik sebuah game yang berjudul ‘Searching Love’. Belakangan ini dia sangat mengidolakan game. Seperti Kyuhyun. Game itu sama sekali tidak sama dengan judulnya.

Hanya saja Sooyoung tidak melihat tulisan ‘Game by Cho Kyuhyun Present’.

________________

“Selamat, Tuan Cho. Anda berhasil membuat Korea gempar dengan game baru buatan anda. Tetaplah berkarya.” kata seorang namja paruh baya, sambil menyalami tangan Cho Kyuhyun. Ya, Kyuhyun memang memilih berkarir menciptakan game-game baru yang belum pernah ada.

“Ne, Jeongmal ghamsahamnida.” Balas Kyuhyun, membungkuk 90 derajat. Dia sudah sukses sekarang. Tapi kehidupan cintanya tidak sesukses karirnya.

Kyuhyun pernah mencoba pergi ke Paris, tapi langsung dimarahi oleh kedua orangtuanya yang mengingatkan dia akan Ujian yang beberapa hari lagi akan dia alami. Dan semua harapannya pupus, karena dia sekarang tidak pernah sempat pergi ke Paris.

“Kyuhyun Oppa.” Panggil Yoon Ah, sekarang yeoja itu berprofesi sebagai Sekretaris di Perusahaan Pusat yang besar. Tapi dia tetap mengejar-ngejar cinta Kyuhyun.

“Ne, wae?” Kyuhyun berseru sambil menghampiri Yoon Ah yang tampak cantik dengan rok pendek ketat, kemeja berbunga, dan blazer cokelat, serta rambut digerai.

“Chukkae. Oppa sangat hebat. Sekarang sudah enam game yang Oppa buat. Aku paling suka dengan game Oppa yang bernama Ruuuun! itu. Memainkannya seperti melakukannya sendiri.”

“Ghamsahamnida. Kajja kita makan malam. Kau ada waktu kan?”

Yoon Ah mengangguk dengan semangat. Tahun-tahun ini, sejak kepergian Sooyoung, hubungannya dengan Kyuhyun mulai baik. Dia sering bermain ke rumah Kyuhyun, sering makan bersama, berbelanja bersama blah blah blah.

_______________

Pesawat berkecepatan tinggi itu akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Incheon yang sangat ramai. Entah kenapa. Sooyoung keluar dari pintu Pesawat dan berjalan pergi setelah mengambil koper dan tas-tasnya.

Dia sebenarnya enggan keluar dari pesawat dan ingin kembali ke Paris, tapi pasti orangtuanya akan marah besar dan memecatnya jadi anak.

Sooyoung berjalan terhuyung-huyung karena jet-lag yang dialaminya setelah terbang selama beberapa jam yang melelahkan. Sedari tadi dia tidak tidur. Melainkan membaca novel roman. Sebenarnya Sooyoung ingin memainkan game, dia ketagihan memainkan ‘Searching Love’, tapi apa daya, mengeluarkan alat elektronik sama saja ingin mati. Itu bisa memancing sinyal radio aktif yang akan membuat pesawat tidak terkendali. Sooyoung berjalan dengan santai, tidak ada orang yang menjemputnya.

“Taksi!” serunya sambil melambaikan tangan pada sebuah taksi yang melaju lambat.

Sooyoung POV

 

            Setelah meletakkan koper dan tas-ku di bagasi, supir taksi tersebut masuk ke mobil dan mulai melajukan mobil.

“Ke mana?”

“Seoul.” aku menjawab sambil mengalihkan pandanganku dari depan ke samping. Hhhh, aku sedikit penasaran, jangan-jangan…, sekarang Kyuhyun sudah menikah? Punya anak?!

Aissssh! Soo-ah, dia itu sudah bukan siapa-siapamu, dia tidak mungkin menjadi milikmu lagi. Rasanya aku butuh air untuk meringankan sakit kepalaku.

“Ahjussi, tolong ke Friday Café.” kataku, memerintah.

“Nde.”

Ahjussi itu membelokkan mobilnya ke arah Friday Café. Sebentar lagi aku sampai. Rasanya bintang-bintang seperti menghilang, ditelan awan gelap bewarna hitam kebiruan, rasanya seperti ada perintah yang menyuruhku untuk kembali.

“Sudah sampai, nona.”

“Ne, ghamsahamnida.”

Setelah memberikan uang, aku bergegas masuk ke Café tadi dan duduk di kursi pojok. Café ini terbuat dari kaca. Dindingnya kaca, temboknya kaca, semuanya serba kaca. Aku seperti terkurung di akuarium kaca sekarang.

“Haha! Oppa ini ada-ada saja.”

Aku langsung menengok mendengar suara yeoja yang tertawa dengan kerasnya. Dia pikir dia tidak mengganggu orang apa?!

Tapi rasanya tenggorokanku langsung tercekat. Kyuhyun, dengan Yoon Ah. Jangan bilang mereka berdua menjalin hubungan. Jangan bilang…

“Nona, anda ingin pesan apa?”

“Jus apel saja. Dan kentang goreng.” kataku, “eh, tapi bola-bola nasi boleh juga.”

“Ne, tunggu sebenar Nona,” kata pelayan itu sambil melangkah pergi.

Diam-diam aku memata-matai Kyuhyun dengan Yoon Ah. Mereka sangat serasi. Aku bahkan bisa melihat kilatan kebahagiaan di mata Yoon Ah. Aku ingin berteriak keras-keras pada mereka agar sadar bahwa aku ada.

“Nona, ini makanan anda. Selamat menikmati.”

Aku mengangguk sambil menatap bola-bola nasi bercampur daging itu dengan tatapan lapar. Meski mood-ku sedang jelek sekalipun, rasa makanan tetap membuatku kepingin.

_______________

Kyuhyun POV

 

            Sementara Yoon Ah memesan makanan, aku memutuskan untuk melihat-lihat keadaan sekitar. Café ini sama sekali tidak berubah sejak Sooyoung memutuskan aku.

“Oppa! Kenapa melamun? Oppa mau pesan apa?”

“Jjajangmyun dan Jus jeruk saja,” sahutku buru-buru. Mataku berhenti ketika aku melihat seorang yeoja yang sedang duduk sendirian. Sepertinya aku mengenal postur tubuh yeoja itu.

Aissh, tidak mungkin! Sooyoung berambut pendek, sedangkan yeoja itu memiliki rambut hitam legam yang panjang bergelombang (Kayak pas di MV-nya Time Machine!).

“Oppa? Kenapa melamun? Ini makanan kita sudah sampai.” Kata Yoon Ah sambil mendorong baki berisi pesananku. “Kudengar Oppa sering sekali kesini.”

“Eo. Disini menyenankan, dan Café ini juga unik.” Komentarku, tetap menatap yeoja tadi. Instingku mengatakan, yeoja itu adalah Sooyoung.

Yeoja itu memutar tubuhnya hingga menghadapku. Dan kami berdua sama-sama terpana. Yeoja itu memang Sooyoung. Sooyoung menatap wajahku dengan pandangan kosong.

Setelah itu, Sooyoung langsung memutar kursinya kembali, lalu merogoh tas-nya dan mengeluarkan dua lembar uang, meletakkannya ke meja dan bergegas keluar dari Café ini.

“Soo! Tunggu!” Teriakku spontan dan bergegas berlari mengikutim Sooyoung yang berdiri di pinggir jalan raya.

Author POV

 

            Ppabo! rutuk Sooyoung pada dirinya sendiri. Seharusnya tadi dia tidak membalik tubuhnya dan membuat Kyuhyun tahu bahwa dia ada disana. Sooyoung bisa mendengar langkah berlari namja itu di belakangnya.

Dia dalam keadaan buruk. Seharusnya dia segera mencegat taksi. Tapi sayangnya, Friday Café berada di sebuah jalan yang tidak dilalui Taksi ataupun Angkutan.

“Hosh… Kau kemana saja, Soo?!” Seru Kyuhyun, menarik tangan Sooyoung.

“Lepaskan.” Kata Sooyoung dingin, berusaha menarik tangannya sendiri.

“Beri aku sebuah alasan untuk melepaskanmu lagi.”

“Lepaskan.” Sooyoung mengulangi ucapannya kembali. Meski dia merasa kesal dengan kelemahan yang ditunjukannya.

“Beritahu aku, kau kemana selama ini?!”

“Untuk apa aku memberitahumu?”

“Karena aku mencintaimu.”

“Karena kepintaranku? Karena aku dengan sukarela mengerjakan PR-PR-mu?! Karena aku—dengan bodohnya—selalu menolongmu tanpa mengeluh?”

Kyuhyun menarik nafas panjang sebelum berkata, “Karena aku membutuhkanmu. Tidak peduli kau bodohpun. Tidak peduli kau miskin, tidak peduli kau jelek atau apapun.” Setelah mengatakan itu, Kyuhyun mendekati Sooyoung. “Maukah kau menikah denganku?!”

Tidak tertahan lagi, airmata Sooyoung mengalir perlahan.

“Ne…” jawabnya, langsung memeluk Kyuhyun.

Because you need me, then I will be all Yours….

  E N D

Gimana?  Menyesap emosi gak? Haha

RCL dong!

Ghamsaahamnida^^

76 thoughts on “I’m Your Girl, Boy! [Oneshoot]

  1. Cerita’a bagus semua…tpi ending’a aq agak nggak dpet feel’a..soal’a terlalu cpet soo nrima kyu lgi..
    Next ff’a yw..

    Like

  2. mmmmmmmmmmmmmm, semuanya bagus, tapi end nya terlalu cepett thor, menurut aku lebih bagus soo nolak dulu, terus kyu ngejar2 dulu, sampai soo luluh baru mau deh:D

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s