Dark Love [Chapter 4]


Annyeong.. :D 

Mian ya gak pernah lanjut utang-utang yang numpuk dan malah bikin baru –” 

Oh ya,seperti biasanya, Author mau minal addzin-an sama  readers ah, kalo selama ini Author ngeselin hehe :3

Oke deh, cekidot! 

Eiiittt, SIDERS?! GET OUT!!! 

Happy Reading :) 

Title: Dark Love

Author: MeydaaWK or Lee Hyera

Cast: Find it.

Length: Series

Genre: Sad, romance

Rating: PG 13

_______________

            Author POV

 

            “Apa ini tidak terlalu cepat?” Tanya Appa Sooyoung sambil sesekali mengusap kepalanya. “Kurasa, seharusnya kita merencanakan dari dulu.”

“Tidak. Aku tidak ingin berlama-lama dengan sesuatu yang tidak pasti.” Nyonya Choi membantah, sambil tetap berkutat dengan Seohyun disampingnya dan Kyuhyun di depannya.

“Menurutku—” Sulli baru akan angkat bicara, tapi segera disela oleh Nyonya Choi.

“Aku tidak menyuruhmu berkomentar, cepat naik ke atas. Aku perlu membicarakan ini dengan orang dewasa.”

Dengan kesal, Sulli akhirnya bangkit dan naik ke lantai dua. Dia sebenarnya ingin mendengarkan pembicaraan orangtuanya dengan Kyuhyun dan Seohyun, dia ikut prihatin atas kesedihan yang menimpa kakak kesayangannya, meskipun galak, Choi Sooyoung. Dia ingin juga membela ayahnya yang entah kenapa selalu ditindas oleh ibunya. Ahh, malang nya menjadi remaja.

“Tapi, ada baiknya juga, kalau pernikahan dilaksanakan setelah saya mendapat posisi tetap di Rumah Sakit.” Kyuhyun berusaha menyangkal keinginan calon-mertuanya.

“Tidak ada tapi-tapian, Cho Kyuhyun.” Nyonya Choi langsung menyerang dengan telak. “Kalau sudah kubilang seminggu lagi, maka seminggu lagi!”

“Eomma…” Seohyun akhirnya angkat bicara. Dalam hatinya, dia sangat gembira mendengar lamaran Kyuhyun dan Eomma-nya yang ngotot menikahkannya cepat-cepat. Tapi dia tidak ingin Kyuhyun merasa tertekan. “Benar kata Appa, dan Kyuhyun Oppa. Pernikahannya lebih baik diundur saja.”

“Baiklah,” putus Nyonya Choi akhirnya. Seperti biasa, dia selalu menuruti keinginan anaknya itu. “Delapan hari lagi.”

Tuan Choi hanya terdiam sambil membayangkan betapa hancur hati Sooyoung. Mungkin dia akan berpura-pura terlihat baik-baik saja. Teapi dia sangat tahu bagaimana isi hati Sooyoung.

            _______________

            “Sudah berapa lama sakit itu terjadi?” Tanya Dokter Park, seorang Dokter killer yang dulu mengajarnya ketika magang.

“Hmm, sudah lama. Mungkin sebulan lebih,” Sooyoung meremas bagian bawah kemeja kremnya yang dipadu dengan celana bahan panjang.

“Kemungkinan bukan terkilir.”

“Bukan?” Sooyoung mengulang ucapan Dokter Park dengan heran. Setahunya, kakinya hanya terkilir. Tapi dia mulai sedikit percaya, mengingat kakinya sudah dipijat dua kali dan tidak sembuh juga.

“Ya. Mungkin seperti infeksi dalam tulang, atau mungkin juga tersobeknya daging dalam.” (sumpah, Author nggak paham sama sekali istilah kayak ginian!)

Sooyoung mulai terlihat cemas. “Apa perlu dilakukan tes rontgent Dok?”

Dokter Park mengangguk mantap. “Tapi mungkin bukan sekarang.”

“Ne, terima kasih. Saya permisi.”

Sooyoung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Dokter tersebut. Dokter Park bilang apa? Dokter tua itu bahkan curiga kalau dia kenapa-napa. Artinya, pasti ada apa-apa.

Mengapa Ayahnya langsung tahu ada yang tidak beres dan selalu menanyakannya? Kenapa Ibunya—yang justru seharusnya perduli—malah sama sekali tidak memerhatikan dan sibuk mengurusi usaha berliannya dan Seohyun? Kenapa?

Sooyoung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar. Awalnya, dia kebingungan ingin menuju kemana. Dia juga muak jika harus pulang ke rumah dan melihat wajah gembira ibunya, Seohyun, dan Kyuhyun. Sooyoung membelokkan mobilnya menuju Namsan Tower. Sebenarnya, lebih indah kesana jika malam. Tapi Sooyoung benar-benar tidak punya pilihan lain selain kesana.

Sesampainya di pelataran parkir, Sooyoung segera keluar dari mobil dan menghirup aroma oksigen yang terasa berbeda ketika di rumah. Itu artinya, yeoja itu benar-benar penat dengan semua kegiatan yang dilakukannya setiap hari.

Sooyoung mengeluarkan kamera digital bewarna hitamnya dan memotret sekelilingnya. Dia memang selalu membawa digital di dalam tas. Terkadang juga di dasbor mobil. Tapi entah kenapa, dia sama sekali tidak merasa terhibur. Dan malah merasa semakin sedih.

“Soo!” Panggil HyukJae, Dokter di Rumah Sakit yang menangani Seohyun.

Refleks, Sooyoung berbalik. Dia tersenyum lebar melihat siapa yang tengah tertawa, memperlihatkan gusi uniknya lebar-lebar, bersama anjingnya.

“Kenapa Oppa disini?” Tanya Sooyoung, berjongkok untuk mengelus-elus bulu anjing yang bernama Choco itu.

“Ingin berjalan-jalan saja. Kau habis darimana?”

Sooyoung terpaksa berbohong, “Dari mal. Mencari kemeja baru, yang murah. Haha.” senyum yang sangat memalukan dan bohong besar yang menyedihkan.

“Dapat?”

“Tidak, hehe. Semuanya mahal sih.”

Pembicaraan mereka berlanjut, sambil berjalan mengitari Namsan Tower tersebut.

            _______________

            Kyuhyun akhirnya bangkit dari kursi untuk berpamitan kepada calon mertuanya. Nyonya Choi memaksa agar acara pernikahan tetap seminggu lagi. Jadilah, dia harus mengikuti permintaan pemaksa seperti Nyonya Choi itu.

“Ghamsahamnida, saya permisi.” Ucap Kyuhyun sambil menunduk seratus delapan puluh derajat. Arlojinya menunjukkan pukul dua belas, jadi sudah lima jam dia di kediaman keluarga Choi.

Dia ingat tengah malam tadi, dia mengemudikan mobilnya kesini. Menemui Sooyoung. Dia tidak percaya telah melakukan itu. Karena itu pasti akan sangat menyakitkan bagi Sooyoung mendengar kedatangannya tadi pagi untuk melamar Seohyun dan bukan dirinya.

Kyuhyun tahu rasanya dikhianati. Tapi mungkin perasaan Sooyoung saat ini lebih sakit daripada remaja yang dikhianati. Mungkin yeoja itu merasa sangat hancur sekarang. Dan Kyuhyun merasa dirinya menjadi seorang Malaikat Maut yang telah mencabut perasaan bahagia dari kehidupan Sooyoung.

“Ne, hati-hati, Oppa.” Pesan Seohyun sambil tersenyum manis.

Entah kenapa, senyum itu tidak sama dengan senyum saudara kembarnya. Senyum yang dengan mudahnya dapat menembus pertahanannya.

_______________

Hari ini, sehari setelah lamaran Kyuhyun, Sooyoung ditelepon oleh Dokter Park yang menyuruhnya untuk foto rontgent. Sooyoung bergegas bersiap-siap. Termasuk menyiapkan mentalnya untuk menghadapi hal terburuk sekalipun.

Dalam beberapa menit, mobil BMWkeluaran terbaru itu keluar dari garasi dan dikemudikan Sooyoung gila-gilaan. Ini adalah hari liburan kedua. Otomatis, Sooyoung terbebas dari tugas mengantar-jemput adik-adiknya.

Sooyoung ingat, dua hari belakangan ini, Sulli terus menerus memaksa tidur bersamanya. Mungkin adiknya itu merasa ada yang tidak beres dan mengira kalau Sooyoung akan mati.

Setelah memasuki pelataran parkir disamping Rumah Sakit, Sooyoung mulai mengurangi gas-nya dan akhirnya turun. Yeoja itu memakai kaus yang dipadu dengan blazer serta celana jins panjang bewarna. Memang sama sekali tidak resmi. Tapi inilah Choi Sooyoung. Dokter Eksentrik.

“Annyeong.” Sapa Sooyoung begitu masuk ke dalam ruangan untuk rontgent, disana ada beberapa Dokter. Ada Dokter Kim, Dokter Park, dan Dokter Cha.

Eksekusi dimulai. Dokter Kim menjalankan tugasnya dengan sangat bagus. Dia tidak tampak takut atau ngeri. Biasa saja.

Beberapa menit kemudian, foto rontgent selesai. Sooyoung diperbolehkan pulang setelah berbicara serius dengan dokter-dokter itu. Hasil CT Scan-nya baru bisa diambil seminggu kemudian. Lama sekali.

“Ghamsahamnida, dokter-dokter.” Kata Sooyoung sambil tertawa. “Aku permisi…”

Sooyoung lalu melangkahkan kakinya keluar. Setelah sampai di mobil, tiba-tiba dia teringat dengan sahabatnya yang terkena kanker tulang, Sunkyu, atau yang biasa dia panggil Sunny. Kamar nomor 117.

Segera saja, Sooyoung berlari menuju lift dan menaikinya menuju lantai empat. Sementara menunggu lift sampai, Sooyoung mulai berpikir tidak-tidak. Jangan-jangan Sunny sudah meninggal? Ppabo! Kenapa dia baru ingat sahabatnya itu dirawat di RS tempatnya bekerja? Ah, masalah Seo-Kyu membuatnya jengah dan mudah melupakan hal-hal sepenting ini.

Pintu lift terbuka, tergesa-gesa Sooyoung berlari menuju kamar 117 di pojok. Dia segera membuka pintu dan menemukan Sungmin—teman SMU-nya juga—tengah memeluk seorang yeoja sambil menangis.

“S-su-ng-min Oppa? Sunny bagaimana?!” Seru Sooyoung, tidak memedulikan Kyuhyun—yang entah kenapa bisa sampai disini. Tadi pagi kan namja itu masih berada di rumahnya!

Sungmin tidak menjawab, tapi matanya iya. Mata namja itu meredup melihat yeoja-nya sekaligus anae-nya itu tergeletak tak berdaya, dengan kaki yang telah di amputasi. Sooyoung ingin menangis. Tapi tidak boleh. Dokter harus kuat. Harus lebih kuat ketimbang keluarga pasien yang meninggal seperti ini.

Tangan Kyuhyun—entah darimana asalnya—menarik lengan Sooyoung ke ruang khusus Kyuhyun.

“Mianhae, seharusnya kau tidak melihat itu.” Kata Kyuhyun setelah mereka memasuki ruangan yang dingin itu.

“Wae?”

“Karena itu pasti membuatmu sedih.”

“Oh, jadi kau tidak sadar, ada yang lebih menyakitkan ketimbang ini?”

Kyuhyun langsung menunduk. Secara sengaja atau tidak sengaja, ucapan  Sooyoung langsung menyodok hatinya telak. Seperti tidak ada lagi pengampunan untuk Kyuhyun.

“Mianhaeyo.”

“Untuk apa? Untuk mengkhianatiku? Oh maaf, aku salah. Pasti dari awal kau tertarik dengan Seohyun kan? Dan tidak punya cara lain agar dia jadi milikmu kecuali lewat aku kan? Rencana yang sangat licik, Cho Kyuhyun.” Kata Sooyoung, berusaha terdengar wajar di telinga Kyuhyun. Berusaha menghilangkan degup jantungnya yang sangat cepat. Oh Tuhan! Betapa dia masih menyukai namja di depannya ini!

Kyuhyun tidak menjawab. Memilih diam. Dia merasa sangat pantas mendapatkan makian apapun dari Sooyoung. Cuma satu yang tidak diinginkannya. Sooyoung menuduh dia mencintai Seohyun.

Sooyoung menghela nafas, menghambur keluar dan masuk ke lift yang kosong. Dia sudah muak dengan semua ini. Kenapa tidak sekalian membunuhnya saja ketimbang menyiksanya perlahan-lahan seperti ini?! Dia merasa lebih baik jika begitu. Sooyoung merasa matanya panas, jadi dia langsung berlari menuju mobilnya.

Tiba-tiba ponselnya bergetar, ada sebuah telepon masuk. Lee HyukJae. Astaga, mendengar nama namja itu sudah membuat Sooyoung tersenyum. Namja itu memang kocak. Sayangnya, kekocakannya tidak dapat menggantikan nama Kyuhyun di hatinya.

Annyeong!” Seru HyukJae.

“Ne, ne. Ada apa Oppa?” Tanya Sooyoung.

Gwenchana. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan di pusat perbelanjaan? Aku mau membeli perlengkapan.”

“Ne. Jam berapa? Kalau sekarang bagaimana?”

Ne. Memang sekarang, kutunggu di rumahku. Nanti kau ikut mobilku saja, mobilmu taruh di rumahku. Tidak enak berjalan-jalan kalau menyetir sendiri-sendiri.”

“Oke! I’m coming….” Seru Sooyoung sambil tersenyum. Sedetik kemudian, Sooyoung langsung masuk ke  mobil itu dan keluar dari Rumah Sakit. Meninggalkan sepasang mata yang hanya bisa menatap, tanpa bisa menyentuh, atau bahkan menghampiri. Sepasang mata yang terluka karena perbuatannya sendiri.

            ______________

 Pernikahan Seo-Kyu tinggal menghitung hari. Undangan telah tersebar kemana-mana. Dari pengusaha berlian, saudara, tetangga, dokter, sahabat, keluarga, dan lain-lain. Hiasan-hiasan pernikahan juga telah disiapkan. Seperti tenda, meja bar, dan piranti lain yang important.

Hari ini, adalah Jadwal-Merangkai-Bunga. Sulli, Seohyun, dan Sooyoung dipaksa merangkai bunga-bunga itu dengan apik, kalau bisa, tanpa kekurangan. Sedari tadi pula, Sooyoung terus mengerucutkan mulutnya karena Eomma-nya terus menerus meneriakinya, memukul lengannya, atau mendesis-desis karena dia melakukan kesalahan dengan bunga wangi itu.

“Harusnya, mawar ya dengan mawar! Kenapa malah ada campuran bugenvilnya!” teriak Eomma-nya sambil menatap tangkai buatan itu dengan kesal. “Soo! Harusnya itu kau perhatikan cara kerja Seohyun! Semuanya rapi di tangan dia! Kau juga Sulli!”

“Kalau begitu,” Sooyoung menggantungkan ucapannya. “Eomma suruh saja Seohyun yang mengerjakan semuanya. Lagipula, yang menikah kan dia, kenapa harus aku yang sibuk seperti ini?!”

“Sst… Eonnie, jangan membuat Eomma bertambah marah.” Bisik Sulli. Memutar-mutar tangkai bunga yang berisi bunga mawar merah.

“Kalau Seohyun yang mengerjakannya, dia bisa lelah! Tidak ada yang namanya calon pengantin kelelahan karena merangkai bunga!”

“Baiklah, kalau begitu kita adakan saja. Syukur-syukur bisa membuat rekor!”

Sulli terkikik mendengar ucapan konyol itu.

Nyonya Choi hanya melotot sekilas, memutuskan tidak meributkan hal ini.

“Sudah, Soo, kalau kau lelah, kau masuk ke kamar saja. Biar aku yang mengerjakan.” Kata Seohyun, mengambil alih pekerjaan Sooyoung yang hancur lebur.

“Aku juga ya, Eonnie.” Kata Sulli, setelah mendapat persetejuan Seohyun—berupa anggukan—dia bergegas mengikuti langkah terseok-seok Sooyoung. “Well, Eonnie, seharusnya sekarang Eonnie bisa memberitahuku mengenai kepincangan Eonnie.”

“Aniyo,” Sooyoung menyahut sambil tetap berjalan. “Mungkin hanya keseleo atau terkilir. Belakangan ini aku banyak berlari dan menginjak pedal gas terlalu dalam, hingga kakiku seperti ini.”

“Ayolah, Eonnie.” Rengek Sulli penuh harap. “Aku sangat tahu kalau Eonnie berbohong. Sekarang, katakan sebab-akibat kaki Eonnie.”

“Aku juga tidak tahu!” Kata Sooyoung langsung. “Kalaupun aku tahu, sekarang pasti aku akan pergi ke tukang pijat sungguhan, dan bukannya Ahjumma yang tidak pintar memijat!”

Sulli menghela nafas kesal. Dia tahu betapa keras kepalanya Eonnie-nya itu ketika terjebak seperti ini. Jadi, dia berjalan menuju kamarnya yang berlawanan arah dengan kamar Sooyoung tanpa bertanya lebih lanjut.

Di kamarnya, Sooyoung menutup pintu dengan lemah, lalu tanpa tertahan lagi, bahunya merosot turun. Hingga pantatnya menyentuh tanah. Dia lelah dengan semua penderitaannya ini. Dia bahkan tidak tahu kapan hidupnya berakhir. Diam-diam Sooyoung menantikan kematiannya. Berharap semoga dia mati sebelum pernikahan Kyuhyun dan Seohyun. Berharap dia akan bahagia di kehidupan kelak. Tanpa terbebani lagi dengan Kyuhyun, Seohyun, foto rontgent, Eomma-nya yang pilih kasih, Sulli, Appa-nya…

Sooyoung menarik nafas panjang dengan sedih, lalu mengembuskannya tanpa tersisa. Airmatanya turun. Hanya setetes. Karena setelah airmata itu menetes, kesadaran Sooyoung menghilang.

            ________________

            “Mwo?! Kenapa terburu-buru sekali?!” Seru Appa Kyuhyun ketika namja itu menyampaikan undangan pernikahannya.

“Mmm…, tidak apa-apa.” Jawab Kyuhyun.

“Baiklah, tapi bagaimana perlengkapan pernikahanmu itu?”

“Sudah disiapkan oleh Eomma Seohyun,” sahut Kyuhyun. “Appa tenang saja, semuanya terkendali.”

Tuan Cho mengangguk.

“Baiklah, Appa setuju. Dan Appa yakin Eommamu juga,”

Kyuhyun tersenyum dan menaiki tangga menuju loteng sekaligus kamarnya. Dia tengah tangga, dia teringat ucapan Sooyoung yang menyerangnya secara telak. Sooyoung benar, dia pantas dibenci.

Beep beep.

Kyuhyun membuka ponselnya dan melihat satu pesan baru untuknya dari Seohyun. Dengan malas dibukanya pesan itu, tahu kalau Seohyun pasti mengirimkan pesan tidak penting. Tapi, Seohyun adalah calon anaenya yang harus dihormatinya.

  T B C

Gimana? Jelekkah? Pendekkah? Maaf deh –” ini udah 2015 kalimat looh :P 

Inget, RCL lohyaaa :) 

71 thoughts on “Dark Love [Chapter 4]

  1. keburu dah seokyu nikah itu hasil rontgen lama amat..
    dag dig dug akuh..
    sad kayaknya ya.. kalo happy tuh maksain bgt ddeh.. huft..
    siapin hati deh buat baca part END..😥

    btw ffnya keren..🙂

    Like

  2. Ah ya ampun kasian banget sih soo unnie sama sulli gara2 eommanya pilih kasih… Kan kan jadi salah paham kan soo unnienya ke kyu oppa

    Like

  3. annyeong aku raeder baru, eh ga juga dah soal’a beberapa bulan yg lalu aku pernah baca part 1 nya ,eh past mau cari ff ini aku lupa judulnya#curhat

    sumpah ya soo kasian banget si punya oemma kya gtu, kyu juga klo ga bisa,jangan sok”an mau nikahin seo, kasian?
    udah lah cape dah, ah ya thor part berikutnya jangan lama”

    Like

  4. Kki Soo knp tuh?
    Aih.. Eomma Soo bner deh, sbel bgt aku.. Errr… Kkk..
    Kyu ni ah, nrut2 aj si.. Kan Soo terluka..
    Aish! Knp ortu Kyu jg stju, huee!!
    Msih krang pjang thor #pletak!
    Next part!

    Like

      1. Yah thor, ksih bcoran.a aj skrg. Ngguin part slnjut.a bsa jdi bangkotan dluan aku, wakaka!
        Iy nih, gk konsisten kya kmu *gorokin author #tebalik woy!*
        iy, pnjangin lgi ampe 4000/5000 words yah..
        Kkk~

        Like

  5. hmmm iya kependekan chingu,, hehe.. next part lebih panjang ya chingu,,
    tp endingnya kyuyoung ya,, klo d novelnya kan lara ga nikah ama dokternya, tp nikah ama mantan pasiennya..hehe,, next part dtggu🙂

    Like

    1. hehe… iya deh, soalnya mles ngelanjut😛
      iya, laranya nikah sama pasiennya yang usil, and Lina punya bayi kembar. tp ff ini kan mau dibikin happy ending, jadi nanti ceritanya author karang sendiri hehe🙂

      Like

  6. Aku gergertan beneran deh/ergetan sama sikap kyu yg ngga tegas banget . Kalo yg maksa eomma nya dia sendiri sih wajar kalo dia nnurut nah ini sama eommanya seo? Berontak kek . Itu soo kenapa ya kakinya?
    Kok aku kalo komen sedang menunggu moderasi terus yah?

    Like

    1. iya, di ceritanya kyu itu dipaksa plus kasihan sama seo… jadi deh dia nikahin seo.
      tunggu part selanjutnya aja ya…🙂
      iya nggak tahu, semua komennya pending ._.

      Like

  7. Wahhhh………ap bnran kyuppa ma seo mw nkh??????g rela bgt…..ksian soo…ud skit ht…kena pnyakit pula!!!daebakk chingu dtggu part nextny….

    Like

  8. Aigoo…. miris banget ya nasib soo eonni T.T
    Soo eonni kenapa tuh ? Sunny sudah meninggal kah ?
    Nyonya Choi nih makin lama makin ngeselin coba gk usah pilih kasih huu……

    Next partnya ditunggu ya eonni ^^

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s