The Letter Of Hurt [Oneshoot]


background_by_jmuirhead

 

Annyeong ^^

Author comeback! buahahaha. Nih Author kembali bawa Oneshoot ancur!

Yaah, mungkin ini jelek, nggak mutu, aneh, ngebingungin, tapi tetep like yaaah!😀

Udah ah langsung aja, capek ngocehnya! Inget, tetap COMMENT LIKE !

Cekidot!

Title: The Letter Of Hurt

Author: MeydaaWK or Lee Hyera

Cast: Find it by yourself.

Rating: PG13

Genre: Sad, romance.

_________________

          Author POV

 

          “Kyuhyun-ah?”

Kyuhyun langsung berbalik mendengar namanya dipanggil. Tiffany.

“Ne?”

“Ini, ada surat dari Sooyoung.” Kata gadis itu sambil menyodorkan amplop hitam tersebut. “Baca itu,”

“Ne.”

         

Kyuhyun membuka amplop hitam itu. Awalnya, dia hanya mendapati sebuah bungkusan bunga kering bewarna putih pucat. Lalu dia melihat setitik noda di putik bunga itu, warna merah yang begitu pekat namun kering. Tanpa sadar, Kyuhyun merabanya… Kering. Sekering surat itu. Lalu dia melihat amplop lagi, yang ini lebih kecil, namun sama-sama bewarna hitam. Kyuhyun membukanya, dia melihat sebuah kertas putih, dan sebuah tulisan yang dikenalinya…

 

Dear Oppa, Cho Kyuhyun.

         

-06 Februari, The First Day-

 

Oppa, penyakitku semakin parah. Dokter bilang mungkin tidak lama lagi. Manajer Hong juga terus memaksaku beristirahat. Semua pegawai di toko sudah mengetahui tentang penyakit yang kuderita. Mereka semua memandangku dengan kasihan. Terkadang, saat aku tengah bekerja, mereka berebut ingin menggantikanku. Aku selalu tertawa, maksudku tertawa sedih. Aku tidak ingin dikasihani. Tapi mereka tidak sepertimu, mereka tidak pernah bisa mengerti aku sebaik kau mengerti aku.

Oppa, hari ini adalah hari ulang tahun sekaligus hari kematian Eomma. Aku berkunjung ke makam Eomma, aku setengah berharap kau juga disana. Tapi tidak. Aku hanya menemukan buket bunga layu yang kutaruh disana di akhir Januari. Aku tidak mendapatkan apa-apa. Aku tidak mendapatimu, Oppa.

Oppa, sewaktu aku kembali bekerja, Manajer Hong sedang melihat berita. Kau tahu itu berita apa? Itu berita tentangmu. Kau dikabarkan mempunyai hubungan dengan model terkenal Seo Joo Hyun. Benarkah begitu, Oppa? Manajer Hong langsung mengganti channel begitu melihatku. Tapi aku melarang. Aku ingin melihat wajahmu meskipun hanya lewat televisi. Aku bangga melihat Oppa. Tapi aku benci melihat sikap Oppa terhadapku.

Oppa, waktu aku pulang, aku berharap kau sedang duduk di depan rumahku. Aku berharap sekali Oppa. Tapi harapan itu justru menusukku seperti sembilu. Aku mendapati kekosongan disana. Yang ada hanya bunga matahari kesukaan Eomma dan pintu yang terkunci rapat. Aku masuk ke rumah dan memasak mie ramen untuk diriku sendiri. Setelahnya, aku meminum obat-obatan yang harus aku konsumsi untuk menjaga kesehatanku. Lalu beranjak tidur.

 

-07 Februari, The Second Day-

 

Oppa, keesokannya aku bangun karena tiba-tiba hidungku mengeluarkan darah. Rasanya kepalaku pusing sekali sampai aku ingin muntah. Aku berlari ke kamar mandi dan meminum obat penahan rasa sakit banyak-banyak. Lima butir. Aku menangis. Menangisi nasibku, nasib Eomma… Tapi tidak denganmu. Nasibmu sungguh baik Oppa. Aku berharap kau dihadiahi umur panjang dan kebahagiaan. Setelah itu, aku menelepon Manajer Hong. Kubilang aku tidak bisa bekerja hari ini. Manajer bilang aku harus ke rumah sakit jika sedang sakit.

Oppa, akhirnya aku pergi ke rumah sakit. Dokter bilang, keadaanku semakin memburuk. Kutanya, berapa hari lagi aku bisa hidup, Dokter bilang, mungkin tidak sampai seminggu… Aku mengangguk mengerti. Menahan tangis sebenarnya. Lalu aku pulang, memutuskan untuk mampir di Jasa Pemakaman dekat Rumah Sakit. Aku memesan peti dan alat-alat pemakaman lainnya tapi tidak untuk sekarang. Aku menyerahkan uang. Aku berkata kembali, aku akan datang setiap hari, jika aku tidak datang, maka saat itu juga, orang itu boleh mengirim peti itu di rumahku. Mereka setuju.

Oppa, setelah beberapa bulan ini terus-menerus memakan ramen dan kimchi, aku memutuskan untuk hidup sehat menjelang kematianku. Aku masak banyak sayuran. Aku juga menyiapkan piring, gelas, serbet, dan makanan untukmu. Aku sengaja tidak menyertakan sayuran di piringmu. Aku berbicara, seperti saat aku sedang bicara padamu. Aku tertawa, mengingat kebodohanku berbicara sendirian, tapi pada saat itu juga aku merasa senang dan lega.  

 

Kyuhyun menghapus air matanya yang menitik. Dia ingin sekali menutup kertas itu. Agar dia tidak merasa lebih sakit lagi. Tapi Kyuhyun tahu, dia harus tahu tentang apa yang terjadi kepada yeojachingunya itu.

 

Oppa, kepalaku kembali sakit. Mungkinkah ini efek obat? Atau justru efek memakan sayuran? Yang terakhir itu jelas tidak mungkin. Aku kembali meminum obat penahan rasa sakit itu, aku terpaksa melakukannya. Karena aku tahu komentar Dokter tentang menkonsumsi obat-obatan seperti ini. Dokter bilang, itu malah akan memperburuk penyakitku. Tapi, asal Oppa tahu, sakitnya minta ampun…

 

-08 Februari, The Third Day-

 

          Oppa, aku bangun pagi-pagi sekali. Entah kenapa, aku merasa sehat. Yang pertama kulakukan adalah jogging di taman seperti yang biasa kita lakukan setiap minggu pagi. Disana sudah lumayan ramai, ada banyak pasangan yang sedang bermesraan disana. Jujur Oppa, aku iri. Setengah mati kutahan air mataku.

          Oppa, apa menjadi aktor membuatmu lupa padaku? Apa menjadi kaya membuatmu malu melihatku? Apa menjadi bahagia membuatmu meninggalkan kisah kita dulu? Jadi, apa dulu kau tidak bahagia ketika bersamaku? Oppa, tolong jawab aku. Aku begitu putus asa sampai rasanya ingin bunuh diri. Haha, ppabo. Aku kan memang akan mati.

          Oppa, aku pulang. Aku tidak kuat melihat pasangan-pasangan itu. Kau tahu apa yang ada di pikiranku? Yaitu adalah, cara agar aku dan Oppa bahagia. Meski rasanya sangat tidak mungkin. Oppa, aku berdoa: Semoga Tuhan cepat-cepat mencabut nyawaku. Agar aku tidak perlu melihat Oppa bersama model itu, agar aku tidak perlu meminum obat penahan rasa sakit lagi, agar aku bisa bertemu Eomma dan Appa.

          Oppa, aku kembali mampir di Jasa Pemakaman. Memastikan agar mereka tidak perlu mengirim peti mati itu sekarang. Lalu aku pergi bekerja. Saat aku sampai, Tiffany langsung mencegatku. Dia bertanya apakah aku dan kau masih memiliki hubungan. Kujawab, tidak. Tiffany tersenyum. Dia bercerita kalau kau dan model itu akan menikah sesegera mungkin. Benarkah, Oppa?

          Oppa, malam itu, aku kembali mencoba menghubungi ponsel Oppa. Masih tidak aktif seperti dulu. Aku menangis, terisak memandangi foto kita berdua yang sedang memakan bibimbap di depan kantor tempatmu bekerja dulu. Hmmm, sudah berapa lama kau menjadi artis dan bukannya akuntan? Dua bulan… Dua bulan tidaklah cepat Oppa. Aku mempunyai pertanyaan yang sangat bodoh. Apakah Oppa memikiranku? Apakah Oppa berencana akan mengakui hubungan kita ke netizen? Apakah Oppa akan menjelaskan bahwa hubungan Oppa dengan model itu tidaklah benar? Dan apakah-apakah lainnya…  

          Oppa, aku masih tidak mengerti. Dulu, sewaktu Oppa masih menjadi akuntan, Oppa sangat baik kepadaku. Oppa sering mengantarku ke tempat kerja, menemaniku ke makam Eomma dan Appa, menemaniku makan, mengantarku pulang, mengantarku ke rumah sakit… Tapi sekarang? Sejak Oppa menjadi artis, Oppa malah melupakanku. Oppa hidup dengan dunia netizen dan dunia percintaanmu dengan model itu. Siapa namanya? Ah ya, Seo Joo Hyun. Aku sering melihat wajah model itu di televisi. Aku juga sering melihat Oppa.

 

          -09 Februari, The Fourth Day-

 

          Oppa, aku bangun pagi ini dengan dunia yang sangat berbeda. Sakitku semakin parah rupanya. Aku bergegas mandi dan pergi ke rumah sakit lagi. Dokter bilang, mungkin tinggal empat hari. Jujur, aku merasa sedih mendengarnya. Tapi hatiku yang pedih mengatakan ini saat yang baik.

          Oppa, hari ini hari minggu, aku pergi ke Gereja untuk beribadah. Sekaligus berdoa agar kita bisa bertemu dalam keadaan bahagia. Aku berdoa lama sekali sampai seorang pendeta menatapku keheranan. Akhirnya, aku bangun dan bekerja. Seperti biasa, toko ramai ketika hari minggu. Aku bekerja keras dengan memasak puluhan ramen, puluhan bibimbap, puluhan kimbap, puluhan jjajangmyun, dan masih banyak lagi. Aku ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat orang bahagia. Aku ingin sekali.

          Oppa, aku mengajak Tiffany untuk tinggal di rumahku, bersamaku. Alasanku, karena aku sering kesepian. Ppabo! Mungkin Oppa sudah tahu kalau itu hanya alasan palsu saja. Alasan sebenarnya adalah, karena, jika aku mati, akan ada orang yang melihatku, dan menguburkanku. Supaya mayatku tidak mati membusuk. Tiffany setuju, lagipula, dia merasa kasihan kepadaku. Aku pulang duluan, karena kepalaku begitu pusing. Sebelumnya, tentu saja aku mampir di Jasa Pemakaman itu.

 

          Jadi, itulah alasan kenapa peti itu datang sendiri? Batin Kyuhyun, kembali menghapus air matanya yang terus mengalir. Ini semua kesalahannya. Dia yang melupakan yeojachingunya, demi sebuah dunia yang baru dikenalnya. Kyuhyun membalik kertas itu dengan perlahan. Matanya terbelalak melihat sebuah noda darah di kertas itu. Sedikit membuat tulisan tangan yeojachingunya mengabur. Mata Kyuhyun menelusuri kertas itu. Semakin banyak noda darah di kertas itu. Kyuhyun menghela napas berat. Lalu kembali membacanya dengan pelan. Airmatanya langsung mengambang kembali.

 

Oppa, aku kembali mimisan. Kali ini dua kali lebih banyak dari yang pertama. Tiffany menatapku kasihan, terus menerus memberikan tisu bersih dan menyiapkan serbet basah. Dia menangis bersamaku. Akhirnya, setelah satu box tisu habis, darah dari hidungku berhenti. Tiffany menyuruhku meminum obat dan menyiapkan kasur. Aku tidak tahu jam berapa aku tidur. Yang aku tahu, rasanya kematian begitu dekat denganku. Seolah tinggal menjulurkan tangan saja, dan aku akan mati. Setelah itu, duniaku terasa gelap dan pekat sekali.

 

          -10 Februari, The Fifth Day~ My Birthday-

 

          Oppa, pagi ini aku bangun terlambat. Sudah pukul delapan. Aku langsung bangkit dan mendapati bahwa sudah ada sarapan yang dibuat Tiffany untukku di meja. Aku begitu bersyukur karena tidak perlu pergi dengan perut kosong.

          Oppa, kau bisa menyimpulkan hidupku kan? Seharusnya memang bisa. Karena duniaku seakan berhenti berputar ketika kau meninggalkanku. Betapa anehnya dunia ini. Aku tidak pernah mengerti rencana apa yang dijadikan Tuhan sebagai nasibku.

          Oppa, hidupku seakan berhenti. Seakan-akan aku hidup sebagai arwah Choi Sooyoung dan bukannya Choi Sooyoung sendiri. Sering sekali aku menangis tengah malam, berharap kau akan pulang dan mengikat hubungan kita seperti yang kaujanjikan dulu. Kau ingat kan, Oppa? Waktu itu hujan deras. Dan kita baru saja pulang dari rumah sakit. Kau bilang, kau akan memperjuangkan cinta kita. Tapi apa nyatanya? Kau berbohong, Oppa.

 

          Kyuhyun mengelap ingusnya depan lengan kemejanya. Dia berbohong. Suatu kenyataan yang sangat sulit diterimanya. Tapi mungkin lebih sulit lagi diterima Sooyoung. Apakah kau bahagia, Soo? Apakah kau merasa senang atas rasa bersalahku? Apakah kau mau menerima permintaan maafku yang datang terlalu lambat? Kyuhyun mencengkeram amplop tadi dengan airmata menitik. Satu-satunya alasan di melupakan Sooyoung adalah, karena dia ingin membuat dirinya sendiri terbiasa hidup tanpa Sooyoung. Agar, saat Sooyoung pergi, mungkin penderitaannya agak terkurangi. Tapi nyatanya, malah semakin berat. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa kepergiannya membawa efek yang sangat besar terhadap Sooyoung. Dia terlalu egois untuk mengerti ketergantungan Sooyong terhadap kehadirannya. Yeojachingunya itu meninggal, bertepatan ketika Kyuhyun yang datang untuk merayakan hari ulang tahun Sooyoung. Yang dia dapatkan adalah, kematian.

 

Oppa, aku menangis begitu keras sampai rasanya kepalaku pusing sekali. Aku tidak bisa pergi  bekerja, apalagi ke Jasa Pemakaman itu. Aku memutuskan mengakhiri surat ini sekarang. Tanganku bergetar ketika aku memaksa menulis. Entah kenapa, hidungku kembali mengeluarkan darah. Aku sudah berusaha agar darah ini berhenti dan tidak mengotori kertas, tetapi semua usahaku gagal. Aku merasa, sebentar lagi Malaikat pencabut nyawa akan datang. Maka, aku menyelesaikan suratku hari ini juga. Sambil terus menangis, mimisan, aku tetap menulis Oppa.

          Oppa, bisa kau mengerti keadaanku? Hidupku begitu berantakan tanpamu, Oppa. Rasanya aku ingin muntah. Aku berlari ke kamar mandi dan muntah. Darah Oppa. Aku memuntahkan darah. Begitu banyak, dan kental. Aku mencuci tanganku dan kembali menulis. Menyelesaikan garapanku.

          Oppa, kau tahu rasanya ingin mati? Kalau kau tahu, itulah yang kurasakan sekarang… Aku mengambil setangkai bunga bewarna putih, mengambil dua amplop hitam berbeda ukuran. Tanpa sengaja, darah dari hidungku menetes ke putik bunga itu.

 

          Kyuhyun menangis terisak. Mungkin saat itu, Sooyoung tengah menulis di meja kamarnya, dengan wajah pucat, mimisan, tubuh bergetar. Namun dia tetap menulis. Tidak perduli rasa sakit yang terus-menerus menghantamnya.

 

Oppa, aku sudah tidak tahan lagi. Berjanjilah padaku, berjanjilah… Kau akan bahagia selamanya. Hanya itu satu-satunya lampu penerang di hidupku.

          OPPA! Aku melihat Eomma, dia melambai padaku. Kau pasti heran, kenapa aku menuliskannya. Karena, meskipun aku hampir-mati, aku ingin kau tahu. Bukan, bukan agar kau kasihan kepadaku… tapi…

          Oppa, aku harus mengakhirinya sekarang.

          Your dears,

          Choi Sooyoung.

 

          Dan begitulah akhir dari surat panjang tentang kehancuran secara perlahan hidup Sooyoung. Kematian merenggut nyawanya begitu cepat. Kyuhyun menenggelamkan kepalanya di amplop hitam tersebut, berusaha mencari sedikit saja aroma Sooyoung yang tertinggal. Tidak ada. Kematian menyerap semua energi dalam surat ini. Kyuhyun ingat sekali, ketika Sooyoung mengantarnya untuk wawancara di sebuah channel televisi. Dia juga ingat ketika namanya berada di papan berisi tentang calon-calon yang akan didebutkan sebagai aktor.

Sooyoung bersama Kyuhyun saat itu. Mereka merayakan kebahagiaan itu dengan minum tiga botol soju dan memakan daging. Lalu, seminggu sesudah didebutkan, badan Sooyoung semakin melemah. Sejak saat itu, Kyuhyun menghindar seperti seorang pengecut. Dia memutuskan untuk meninggalkan Sooyoung. Hari itu juga, Kyuhyun dipanggil ke ruangan manajer. Rupanya, untuk memajukan kepamoran Kyuhyun, mereka setuju membuat sensasi tentang hubungan Kyuhyun dengan Seohyun. Tanggapannya lumayan baik.

Kyuhyun kembali menghapus airmatanya yang mengalir semakin deras. Dari dulu, dia tahu penyakit Sooyoung. Tapi tidak sampai menyangka kalau kematian akan sedekat ini. Kyuhyun menyesali keputusannya meninggalkan Sooyoung. Tapi apalah manfaat dari menyesal? Tidak ada.

“Soo-ah, semoga engkau tenang disana, mianhamnida…” bisik Kyuhyun dengan air mata beruraian.

Semuanya berakhir disini.

 

            Oppa! Aku akan selalu bersamamu

E N D

Haha, gimana? jelekkah? Feelnya dapatkah? *Mogamogadapet!

Pokoknya, tetap RCL oke!

Annyeong^^

 

         

79 thoughts on “The Letter Of Hurt [Oneshoot]

  1. unni aku udah baca ff ini berulang ulang kali, tapi setiap aku baca pasti nangis, feelnya itu dapet bgt hehehe keep writing unnie😅😅

    Like

    1. I’m sorry ><
      tp kalo kyu yg dibikin menderita kurang feelnya ^^
      tp aku bikin ff yg kyunya menderita. buka aja library terus klik yang twenty five minutes ^^ *promosi

      Like

  2. 4 Bulir air mata akhirnya netes juga thor dari mataku yang udah berkaca2 dari pertengahan baca FF ini *alebay-_-
    Thor, dada gw sesek thor sampe hidung gw juga mendadak pilek lg gara2 FF lu thor -,-

    Good .. Kalo aku punya 10 jempol, aku transfer deh buat author..

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s