Impostress [Chapter 1]


kyuback

Annyeong ^^

Akhirnya author comeback bawa Impostress chapter 1 ^^

Akhirnya posternya jadi juga hehe, gomawo sebelumnya udah nungguin🙂

Mian ya, chapter 1-nya mungkin kurang memuaskan, ini udah lumayan panjang loooh ^^

Udah ah, capek ngetiknya, langsung aja ya. Jangan lupa COMENT dan LIKE oke? Ghamsahamnida ^^

Check It Out!

Title: Impostress

Author: MeydaaWK

Cast: FInd It.

Genre: Romance, Sad.

Length: Series

Rating: PG14

____________________

Copy of background_by_jmuirhead

_______________

Author POV

“Mana bisa seperti itu, Unnie?!” Sooyoung memekik, meski suaranya tidak sepenuhnya keluar karena diredam.

“Bisa saja. Yang harus kau lakukan adalah, berpura-pura menjadi diriku, hanya untuk malam ini saja kok. Malam-malam selanjutnya, aku yang akan bersamanya. Ini benar-benar urusan penting. Tidak boleh dilewatkan.”

Sooyoung meringis dengan wajah bingung. “Tapi—tapi, bagaimana kalau dia mengenaliku? Dan tahu kalau aku bukan anae-nya sekarang? Masalahnya bisa rumit, Unnie!”

Well, setidaknya itu tidak akan terjadi. Aku tahu benar. Dia tidak mengenal kita. Mungkin saja dia bahkan tidak menyadari kalau yang berada di sampingnya adalah kau, dan bukannya aku.” Soojin tersenyum meyakinkan lalu menepuk-nepuk lengan Sooyoung pelan. “Dengar, semuanya akan baik-baik saja jika kau tidak kelihatan gugup dan mengakui semuanya.”

Dengan terpaksa, Sooyoung mengangguk. Meski hatinya dan pikirannya tidak sepenuhnya setuju dengan ide kakak perempuannya itu. Tadi pagi, pernikahan kakaknya dengan namja yang dijodohkan dengannya berjalan. Soojin terpaksa menerima pinangan keluarga Cho karena desakan keluarga besarnya dan surat perjanjian menyebalkan yang ditulis puluhan tahun yang lalu oleh kakek neneknya. Dia meninggalkan mantan namjachingunya. Dan sekarang, Soojin harus menemui mantannya itu untuk memberitahu sesuatu yang tidak diketahui Sooyoung.

“Bagus, biarkan aku pergi. Eomma dan Appa tidak akan mengganggu di apartemen baruku, jadi kau tenang saja dan lakukan hal yang sewajarnya dilakukan seorang anae.” Kata Soojin sambil tersenyum manis.

“Tapi Unnie, bagaimana kalau—”

Belum sempat Sooyoung menyelesaikan kalimatnya, Soojin sudah menyela, “Waktuku terbatas, aku pergi apa tidak. Mungkin lima menit lagi mobilnya sampai. Dan mungkin sepuluh menit lagi mantan namjachinguku pergi.”

Sooyoung menghela napasnya. Terpaksa. Mau tidak mau dia harus melakukan ini. Soojin langsung menarik tasnya ke pintu belakang, melambaikan tangannya dan berkata-kata dengan tidak jelas.

Pintu apartemen mewah itu terbuka. Tampak sosok suami Soojin, alias Cho Kyuhyun, keturunan kedua dari leluhur Cho. Sooyoung semakin tersiksa. Ditariknya napas dalam-dalam, lalu berjalan menghampiri Kyuhyun, tangannya menarik tas kerja di tangan Kyuhyun dan meletakkannya di lemari dekat pintu.

“Mi-mianhae, a-akk-aku belum terbiasa melakukan ini.” Ujar Sooyoung sambil membungkuk, tanpa sadar dia menggigit bibirnya. Pikiran bagaimana-bagaimananya berputar dengan cepat di otaknya. Saat dia menengadah, yang dilihatnya adalah senyum Kyuhyun. Astaga, pekik Sooyoung dalam hati, kenapa bisa aku tidak memerhatikan wajah namja yang sangat tampan ini?!

“Gwenchana. Kau pasti lelah, banyak sekali tamu yang datang di resepsi.” Sahut Kyuhyun, melepas jas formalnya. Tadi dia pergi ke kantor untuk mengecek pekerjaannya, memastikan semuanya sudah selesai supaya tidak menjadi pikiran. “Kajja tidur. Apartemen ini hanya punya satu kamar. Mungkin kita bisa berbagi tempat tidur.”

Sooyoung meringis tidak enak. Ini yang paling dia takutkan, berbagi tempat tidur. Kyuhyun meraih tangan Sooyoung, menariknya masuk ke dalam kamar mewah di lantai satu. Sooyoung hanya mengikuti Kyuhyun, dia sedikit heran. Kenapa apartemen sebesar dan semewah ini hanya memiliki satu kamar? Ini pasti kerjaan orangtuanya dan Kyuhyun. Beruntung sekali Soojin bisa terlepas dari ketidakenakkan seperti ini.

“Kenapa semua koperku sudah kosong? Kaukah yang memasukkannya ke dalam lemari?” Tanya Kyuhyun, menatap koper-kopernya yang berserakan.

“Ah, iya. Aku tidak senang melihat barang-barang yang tidak pada tempatnya. Mian, aku lupa tidak menyimpan koper itu ke lemari juga.”

“Tidak apa-apa. Kenapa kau terus meminta maaf? Dirapikan saja aku sudah bersyukur.”

“Karena aku istrimu.” Sahut Sooyoung spontan. Dia langsung terkejut sendiri dengan suaranya. Memalukan!

Good Wife!” Kyuhyun terkekeh pelan. “Aku mau mandi dulu, apa kau sudah mandi?”

Aduh, mengapa nada suara Kyuhyun terdengar sangat menggoda?!  batin Sooyoung.

“Sudah dari tadi. Akan aku siapkan handuk dan pakaian hangat. Kebetulan tadi aku sudah menata alat-alat mandi.”

“Gomawo, Soojin-ah.”

“Aku bukan Soo—” Sooyoung langsung menutup mulutnya dengan reaksi berlebihan.

“Bukan Soo, apa?” Kyuhyun berbalik.

“Andwae, aku tidak mengatakan apa-apa. Mungkin aku terlalu linglung…”

Kyuhyun kembali terkekeh, meraih dua handuk couple—bewarna biru dan pink—yang ditata di aluminium mirip jemuran di samping kamar mandi di kamar mereka. “Milikku yang mana? Yang biru apa yang pink?” Candanya, melempar pandangan nakal ke arah Sooyoung.

“Kalau kau ingin menjadi yeoja, silakan saja pakai yang pink.” Sooyoung membalas candaan Kyuhyun.

“Baiklah. Kita bertukar, oke?” Kata Kyuhyun, mengambil handuk pink dan mencantelkan handuk biru kembali. Lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Sooyoung menatap pintu kamar mandi, menghela napas dalam-dalam. Bagaimana kalau dia jatuh cinta pada Kyuhyun yang notabene kakak iparnya?! Sooyoung menyandarkan tubuhnya ke lemari berpelitur itu. Matanya terpejam. Sooyoung menatap dirinya sendiri, pantaskah dia? Dia ingat sekali ketika orangtuanya menyampaikan perjodohan itu. Saat itu,  Kakaknya, Soojin yang akan dijodohkan, menolak mati-matian. Sementara orangtuanya terus memaksa. Saat itu, Sooyoung menawarkan dirinya untuk dijodohkan, karena dia tidak ingin kakaknya sedih. Tapi dengan keras orangtuanya menolak. Sekarang, Sooyoung tahu kenapa. Dia tidak cantik. Itu saja. Sementara Soojin, kakaknya itu sempurna. Cantik, berbakat, putih, dan feminin. Air mata Sooyoung mengalir. Dia benar-benar iri kepada kakaknya. Sering sekali namja yang ditaksirnya menyukai Soojin. Membuatnya cemburu setengah mati.

Sooyoung menatap pakaian yang dikenakannya, T-shirt pendek yang nyaman, dan celana training. Mungkin jika dia Soojin, dia akan memakai pakaian tidur seksi dan bukannya kaus dan celana kedodoran.

Sooyoung melepas ikatan rambutnya dan menyusupkan dirinya sendiri ke balik selimut tebal. Lalu teringat dia sudah berjanji akan menyiapkan pakaian hangat, jadi dia bangkit menuju lemari, mencari kaus dan sweter untuk tidur serta celana training. Dia melihatnya tadi ketika menatanya bersama Soojin. Tapi, Soojin hanya melihat dan terus menempelkan ponselnya ke telinga. Jadi, Sooyoung tidak berbohong bahwa dia yang merapikan seluruh rumah.

KLIK. Kunci pintu kamar mandi diputar oleh Kyuhyun, jadi Sooyoung terburu-buru menyerahkan pakaian itu lewat celah pintu yang dibuka Kyuhyun.

“Kau tidak melewatkan pakaian dalam, kan?” Tanya Kyuhyun dari dalam.

Sooyoung menepuk dahinya. Mana bisa dia memegang pakaian dalam namja?! Aisssh! Lalu dengan sikap bingung dan jijik, dia meraih pakaian dalam itu dan meletakkannya di tangan Kyuhyun.

“Aku pergi tidur, ya? Semuanya sudah selesai, kan?” Tanya Sooyoung.

“Aku belum sempat makan malam.” Sahut Kyuhyun.

“Baiklah, akan kubuatkan nasi goreng kimchi.”

“Ramyun saja,”

“Ya! Aku tidak berbelanja mie ramyun, jadi makan seadanya saja.” Cetus Sooyoung, “setuju, tidak? Kalau tidak ya silakan cari di luar!” Sooyoung terpana mendengar nada suaranya yang ketus. Aduuh, kenapa sikap lamanya yang ingin dibuangnya kembali lagi?! Dia jadi tidak terdengar seperti Soojin.

“Setuju, setuju.” Sahut Kyuhyun. “Sweter? Paduan yang lumayan,”

“Tentu saja,” Sooyoung mendengus. “Aku ini pintar membagi pakaian dalam keadaan, seumpama dingin ya aku memilih sesuatu yang tertutup.”

“Bagus. Tapi ada baiknya kau segera ke dapur dan memasak.”

“Oh, iya!” Ujar Sooyoung, lalu berbalik ke arah pintu, membukanya lalu mendorongnya dan berjalan menuju dapur.

Dapurnya masih bersih sekali, dan peralatannyapun lengkap. Pasti salah satu dari orang tua Kyuhyun yang menyiapkannya. Sooyoung mulai memasak. Dia pintar dalam hal ini. Tapi sama sekali tidak pintar dalam urusan merias diri, makanya dia lebih senang dengan penampilan natural dan rambut yang diikat saja. Cepat dan tidak memerlukan biaya. Tidak seperti Soojin yang sehari selalu pergi ke salon, untuk creambathlah, pijatlah, blah blah blah. Tapi kalau hasilnya jadi cantik seperti Soojin sih, Sooyoung mau-mau saja. Tapi dulu dia pernah mencobanya, mengeriting rambutnya kecil-kecil, tapi rambutnya malah nyaris terbakar karena kepanasan. Jadi, mulai sekarang, Sooyoung anti-salon.

“Sudah selesai?” Tanya Kyuhyun, sambil menghampiri Sooyoung yang sedang memasak. Dia mendudukkan dirinya sendiri ke pantry.

“Ya! Hati-hati, jangan sampai terkena barang-barang itu!”

Kyuhyun mengangguk sekilas, memutuskan turun daripada kena masalah. Bau harum masakan tercium di udara. Sedetik kemudian, Sooyoung mengambil nampan, meletakkan piring besar di tengahnya dan piring serta sendok ke atasnya dan membawanya ke meja makan mungil untuk empat orang di dekat pantry.

“Ayo, makan.” Ajak Sooyoung, setelah selesai menata piring-piring itu.

Kyuhyun langsung duduk di kursinya, membalik piring dan menunggu Sooyoung mengambilkannya nasi.

“Segini?” Tanya Sooyoung, menaruh nasi goreng itu di piring Kyuhyun. “Cukup atau kurang?”

“Cukup.”

“Ini kan baru sesendok. Satu sendok lagi, ya?!”

Kyuhyun hanya mengangguk, lalu mulai memakan setelah Sooyoung meletakkan telur dan kimchi ke atas piringnya, bercampur dengan nasi goreng. Dengan sedikit ragu, Kyuhyun menyuapkan sesendok kecil nasi goreng ke mulutnya. “Hmm, mashitta. Seingatku, masakanmu dulu tidak seenak ini.”

Sontak wajah Sooyoung pucat pasi. Memang dulu Soojin pernah memasakkan jjangjangmyun untuk keluarga Kyuhyun, tapi rasanya benar-benar tidak enak. “Eee… Tidak. Mungkin menjadi lumayan setelah aku berlatih dengan Ahjumma dan Eomma.” Ujar Sooyoung dengan gugup.

Kyuhyun mengabaikan kalimat terakhir Sooyoung dan menyendok nasi gorengnya lalu memakannya dengan lahap. “Kau tidak ikut makan?” Tanyanya.

“Aniyo, tadi aku sudah memasak untuk diriku sendiri.” Sebenarnya untukku dan Soojin Unnie.

“Umm, adikmu tidak kemari?”

“A-aniyo, dia sedang sibuk di rumah.”

Kyuhyun meletakkan piringnya yang sudah kosong ke meja, lalu membawanya beserta nampan ke wastafel, “Kali ini, aku yang cuci piring. Karena kau sudah memasakkanku.”

“Baiklah.” Sooyoung mengangguk. “Aku tidur dulu, ya? Besok kau berangkat kerja, tidak? Biar kupasang alarm.”

“Mian, ya. Kita tidak punya waktu untuk bulan madu.”

Bagus. Karena aku pasti langsung kebingungan jika itu terjadi, batin Sooyoung. “Aah, gwenchana. Mengurus perusahaan memang bukan hal mudah.”

“Baguslah kalau kau mengerti.” Kyuhyun tersenyum manis, melanjutkan cuci piringnya. “Kau tidur sana. Pasti melelahkan merapikan rumah hari ini.”

“Mengusirku, ya?”

“Ya.”

“Cish,” Sooyoung tertawa, lalu berbalik untuk masuk ke kamar.

Kyuhyun POV

 

Kenapa jantungku berdetak tidak karuan? Masa sih, aku mencintainya? Hanya karena dia memilihkanku baju, merapikan rumah, bertukar handuk, dan memasak untukku?! Tapi kenapa perasaan ini tidak terasa ketika pernikahan tadi? Ada apa denganku?

Ah sudahlah. Lagipula, Soojin begitu cantik, baik, dan menyenangkan. Kenapa tidak kutemukan sosok yang seperti itu di hari-hari sebelum pernikahan? Aku menghentikan pekerjaanku, lalu menatap pintu kamar. Cintakah? Masa?

“Kyuhyun-ah, cepat tidur!” Teriak Soojin dari kamar.

Aku mengeringkan tanganku dengan mesin pengering di sudut dapur. Dan masakannya pun sangat enak, tidak seperti ketika pertama kali bertemu. Tapi aku tidak pernah bisa menghapal wajah Soojin dan adiknya. Dan dulu, ketika pertama kalinya aku dan Soojin bertemu, rasanya dia tidak sepolos ini. Tapi sekarang? Aaah, apa urusanku. Jadi aku langsung merapikan piring-piring tadi ke rak dan masuk ke kamar.

Author POV

 

Sooyoung langsung membuka matanya ketika mendengar pintu berkeriutan. Kyuhyun.

“Sudah selesai?” Tanyanya, menepuk-nepuk kasur di sampingnya. Dia tidak ingat kapan terakhir kali keberaniannya muncul. Apalagi di depan kakak iparnya.

Kyuhyun tersenyum setengah, hanya sudut bibir kanannya yang dinaikkan, lalu menelusup ke dalam selimut yang sama dengan Sooyoung. Bau mawar. “Kalau aku kesini, maka artinya sudah.” Sahutnya, lalu pandangannya tertuju pada laptop yang teronggok di meja rias. “Milikmu?”

“Ah, ya.”

“Bagus. Awalnya aku juga ingin membelikanmu laptop, kukira tinggal sendirian di apartemen kosong bukan hal bagus yang menyenangkan. Jadi, kau memainkan apa dengan laptopmu, itu?”

Games, membuka jejaring sosial, dan mendesain.” Sooyoung langsung menutup mulutnya, mendesain dia bilang?!

“Mendesain? Hmmm, menarik sekali. Kau seharusnya berkata padaku sejak kemarin-kemarin.”

“Apa?”

“Sepupuku, Kwon Yuri, memiliki sebuah butik yang lumayan terkenal, dan dia terus-menerus memaksaku mencarikan seseorang yang pintar mendesain pakaian yang keren. Kau bisa kan?”

“A-aku tidak tahu. Kemampuanku masih sedikit sekali.”

Kyuhyun memetik jarinya sendiri, “Mudah diatur. Coba kulihat hasil desainmu.” Katanya, lalu berjalan mengambil laptop itu dan membawanya ke kasur. “Dimana kau menyimpan file-nya?”

“Tapi aku tidak mendesain di laptop. Aku lebih senang menggambarnya.”

“Di buku ini?” Tanya Kyuhyun sambil mengacungkan buku akuntansi model lama yang besar. Lalu membukanya, “Waaah, Yuri pasti bangga sekali! Soo-ah, besok aku akan mengantarmu ke butik saudaraku itu.”

“Bagaimana… Bagaimana kalau dia menolakku? Kau bilang butik itu terkenal, dan hasil desainku sama sekali tidak bagus. Jadi bagaimana kalau ditolak? Kau akan malu sekali.”

“Siapa peduli? Kalau kau ditolak, maka aku akan memutuskan tali persaudaraanku dengannya!”

Sooyoung tertawa. “Kajja tidur.”

Kyuhyun meletakkan buku itu, lalu menelusup ke dalam selimut lagi. Masih berbau mawar. “Night, Have a nice dream.”

Too.

Lalu mereka tertidur.

______________

Esoknya, Sooyoung merasakan ada sesuatu yang memeluk pinggangnya. Dia membuka mata dengan pelan, dan mendapati ada tangan di atas pingganya. Tangan Kyuhyun. Sooyoung mengeluh tidak jelas, berusaha menarik dirinya sendiri. Tapi jika dia menggerakkan kakinya sedikit saja, maka Kyuhyun akan bangun. Sooyoung menatap jam kecil di meja kecil disamping kasur. Masih pukul empat. Tidak mungkin Kyuhyun bangun sepagi ini. Jadi, Sooyoung memutuskan untuk turun dari kasur dengan sangat pelan. Awalnya, Sooyoung menarik kepalanya menjauh, lalu tangannya, tubuhnya, dan akhirnya, kakinya. Bebas.

Sooyoung melirik Kyuhyun sekilas. Namja itu terlihat kekanakan dan polos dalam tidurnya. Rambutnya yang sedikit tebal dan ikal kusut karena pemiliknya tidur. Mulutnya sedikit ternganga. Sooyoung berusaha dengan sangat keras agar tangannya tidak menelusuri wajah itu. Lalu dia teringat siapa dirinya. Harusnya, Soojin sudah kemari sejak tadi malam. Sooyoung langsung tersentak, dia merogoh saku celananya, dan mendapati sakunya kosong, jadi dia berputar-putar di rumah dan mendapati ponselnya di sofa ruang tamu. Sooyoung langsung menyambarnya. Berharap ada telepon atau pesan singkat dari kakaknya itu. Ada dua pesan. Sooyoung membukanya.

From: Soojin Unnie

Soo-ah, mianhae, tapi sebaiknya kau menyamar menjadi aku selama beberapa bulan ini. Karena aku tidak akan pulang.

 

From: Soojin Unnie

Soo-ah, sekali lagi, mianhae. Kau pasti bahagia dengan Kyuhyun.

 

Kepala Sooyoung langsung berputar. Kakaknya, pergi? Meninggalkan kepalsuan bersama dirinya di apartemen mewah ini. Sampai kapan dia akan menjadi Soojin? Sooyoung menyandarkan kepalanya ke tembok dan memijat kepalanya pelan-pelan.

Baiklah, aku akan melakukannya. Lagipula, mungkin dia akan bahagia. Ya, mungkin saja. Mungkin terjadi, jika Kyuhyun tidak tahu siapa tepatnya dirinya. Tapi, lambat laun, Kyuhyun akan tahu semuanya. Sooyoung mengingat-ingat acara yang bisa membuat kepalsuannya terbongkar. Acara Keluarga. Mungkin beberapa bulan ini akan aman karena orang tua Sooyoung dan Kyuhyun sedang berlibur dalam jangka waktu yang sangat lama. Sooyoung lalu tersenyum, bangkit menuju dapur. Dia harus menyiapkan masakan sebagai seorang anae. Hari ini Sooyoung memutuskan untuk memasak sesuatu yang ringan. Jadi dia memilih sup kimchi, daging bakar, dan nasi saja. Mungkin teh hangat diperlukan.

Tepat ketika Sooyoung selesai menata masakan di meja, pintu kamar terbuka. Sooyoung mendapati Kyuhyun terlihat sangat mempesona dalam balutan pakaian acakadut dan penampilan yang tak kalah acakadutnya.

“Aku terbangun karena menghirup masakan.” Kata Kyuhyun sambil tersenyum, lalu duduk di kursi. “Bisa tidak aku makan sebelum mandi?”

“Tidak. Kau harus mandi,” kata Sooyoung, mendorong Kyuhyun menuju kamar. “Ini sudah pukul lima lebih sebelas menit, kau harus cepat. Ibumu bilang kau biasa masuk kantor satu jam lebih cepat.” Memang Sooyoung mendengarkan ketika Eomma Kyuhyun menceritakan kedisiplinan anaknya ketika pergi ke kantor.

“Ternyata kau mendengarkan ibuku,” sahut Kyuhyun. Menatap sup kimchi yang menguarkan harus itu dengan ingin. “Ibuku terkadang bersikap berlebihan.”

“Eommonim tidak begitu, kurasa.” Sooyoung kaget ketika mendengar suaranya ketika menyebutkan ‘Eommonim’.

“Karena kau menantu yang baik, kau tidak mungkin mengatakan sesuatu yang buruk tentang mertuamu.” Jelas Kyuhyun, sambil menepuk-nepuk lengan Sooyoung. “Baiklah, aku akan mandi.”

Sooyoung terpaku mendengar penjelasan Kyuhyun. Karena kau menantu yang baik, kau tidak mungkin mengatakan sesuatu yang buruk tentang mertuamu. Dia teringat ketika makan malam dengan keluarga Kyuhyun dilaksanakan, diam-diam Soojin selalu menyumpahi mereka dengan kata-kata yang pasti tidak ingin mereka dengar. Dan bahkan kakaknya itu menatap Eomma Kyuhyun dengan jijik. Pantaskah kakaknya itu masuk ke dalam kategori menantu yang baik?

Sooyoung menggeleng-gelengkan kepalanya, beranjak menuju kamar untuk menyiapkan pakaian Kyuhyun. Dengan hati-hati, diambilnya kemeja polos bewarna putih yang telah diberi kanji agar terlihat rapi, lalu celana bahan panjang bewarna hitam, dan jas hitam bercorak putih di bagian terbawah lemari. Tangan Sooyoung terjulur dengan ragu ketika akan mengambil pakaian dalam.

Sooyoung akhirnya meraih pakaian dalam itu dan langsung memberikan ke Kyuhyun melalui celah pintu kamar mandi.

Sooyoung sendiri membuka lemari miliknya sendiri di sudut kanan ruangan, lalu memilih rok terusan bewarna krem kepink-an (?) yang tidak terlalu feminin, lalu meraih blazer putih pendeknya.

KLIK. Pintu kamar mandi terbuka, Kyuhyun keluar sambil membawa handuk pink tersebut dan mengusapkannya ke rambut ikalnya yang basah.

“Kau sudah siap?” Tanya Sooyoung, sambil menelusupkan pakaian dalamnya ke tengah-tengah blazernya.

“Sudah, cepat mandi. Kita berangkat bersama saja.”

Well, memang harus begitu mengingat aku yang tidak tahu dimana butik saudaramu itu dan bagaimana wajah saudaramu.”

Kyuhyun terkekeh. “Baiklah, cepat. Mungkin kita akan mampir sejenak di kantorku. Absen mungkin?”

Sooyoung mengedikkan bahu, menarik ikat rambut di bawah bantal lalu bergegas masuk ke kamar mandi. “Kalau kau merasa kelaparan, kau bisa makan dulu!” Teriaknya ketika pintu kamar mandi tertutup.

“Aniyo. Aku masih cukup sabar untuk menunggumu.”

Dari dalam kamar mandi, Sooyoung terkikik.

 _______________

Sooyoung menatap pemandangan Seoul lewat kaca mobil sport Kyuhyun yang dirawat dengan sangat baik. Masih ramai saja, padahal ini masih pukul setengah tujuh.

“Macet, ya?” Tanya Kyuhyun, berusaha menghapus kecanggungan yang menggantung di atap mobilnya.

“Ya, mungkin. Padahal baru sepagi ini.”

Well, itu salah satu sebab kenapa aku selalu berangkat satu jam lebih awal.”

“Cukup menolong?”

“Lumayan. Kita hampir sampai di kantorku. Tinggal belok—”

“Tidak ada yang tidak tahu letak perusahaanmu yang terkenal itu. Bahkan aku sudah tahu sejak umurku dua puluh tahun.”

Kyuhyun tersenyum setengah lagi, lalu membelokkan mobilnya setelah sebelumnya menyalakan lampu sen. “Kau mau ikut tidak? Atau kau mau tetap disini?” Tawarnya.

“Lebih baik ikut denganmu saja. Sebenarnya, aku tidak suka sendirian.”

“Bagus,” ujar Kyuhyun. “Kajja.”

Mereka berdua turun. Perusahaan yang dikelola Kyuhyun sangat besar dan megah. Sooyoung pernah bertanya pada Appa-nya perusahaan apa itu, tapi Appa-nya malah marah-marah dan mengatakan bahwa dia sangat tidak perhatian kepada perusahaan kakak iparnya itu. Sampai saat ini, Sooyoung memutuskan untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri.

“Annyeong,” sapa beberapa pegawai yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Sooyoung merasa sangat canggung dengan semua ini. Apalagi tatapan pegawai-pegawai itu ketika mereka melihat sepatunya. Well, salah ya kalau kita memakai sepatu flatshoes yang tergolong sangat biasa di perusahaan mewah?! Batin Sooyoung kesal.

Mereka tiba di ruang kerja Kyuhyun. Sooyoung melihat seorang yeoja yang mungkin berprofesi sebagai sekretaris Kyuhyun. Sooyoung menyipitkan matanya, menilai-nilai penampilan yeoja itu. Menurutnya, sebagai sekretaris, yeoja itu terlihat sangat glamor. Bahkan tergolong, sedikit nakal.

“Annyeong, Kyuhyun-ah.” Sapa yeoja itu, lalu berkedip kepada Sooyoung. “Kau pasti anae barunya, ya? Cho Soojin?”

Anae baru? Seru Sooyoung dalam hati, memangnya Kyuhyun pernah punya anae selain kakaknya?! Sooyoung berdeham dengan sesopan mungkin, lalu mengangguk. “Kau tahu namaku, tapi aku tidak.” Katanya dengan nada sopan, namun Sooyoung merasa ada nada sinis di kalimat terakhirnya.

Okay. Namaku Victoria, Victoria Song.” Kata Victoria, lalu mengerling kepada Kyuhyun dengan sangat tidak sopan.

Sooyoung menggeram dalam hati, sadar sekali kalau Victoria bisa saja menggoda Kyuhyun. Bahkan melihat kerlingannya saja, Sooyoung sudah sadar itu. Dia berusaha tidak muntah di wajah Victoria sekarang. Namun demi kebaikan, Sooyoung tersenyum sesopan dan semanis mungkin. Bagaimanapun, sekarang kedudukannya adalah seorang anae Direktur utama di perusahaan itu. Dan Sooyoung tidak ingin nama baiknya tercoreng karena muntah dan memaki kepada seorang sekretaris genit yang menyebalkan.

Victoria sepertinya sadar sepenuhnya bahwa dia cantik, dan anae Kyuhyun cemburu padanya. Karena semua itu, dia berdiri, keluar dari mejanya. Menunjukkan rok super-pendeknya dan sepatu high heelsnya yang amat-sangat tinggi.

Sooyoung terpana, beraninya sekretaris itu!! Geramnya lagi, dan dia lebih kaget lagi mendapati sekretaris itu tidak menggunakan stoking dengan rok sependek itu.

“Soojin-ah, kajja masuk.” Kata Kyuhyun, menyadarkan Sooyoung dari geramannya. Lalu dia menoleh kepada Victoria. “Aku ingin laporan keuangan sekarang juga.”

Sooyoung menghela napasnya. Dia menaksir apakah dia kelihatan marah pada Victoria sehingga Kyuhyun menyuruh Victoria pergi dari ruangan itu.

Sooyoung mengikuti langkah Kyuhyun. Lalu memandangi seisi ruangan itu.

“Aku tidak tahu kedudukanmu begitu penting sampai kau memerlukan sekretaris.” Ujar Sooyoung sambil melipat tangannya di depan dadanya seolah menegaskan. Lalu teringat dia hanyalah anae palsu. Tapi toh Soojin juga pasti geram ketika melihat Victoria. “Memiliki sekretaris mungkin masih bisa diterima, jika sekretarismu itu adalah seseorang berbudi yang memakai pakaian tertutup. Dan bukannya rok super-pendek, high heels, dan tank top dalam blazer. Dan, tanpa stoking.”

Well, aku tidak bisa menyuruhnya berpakaian lebih rapi. Itu haknya.”

“Kau bisa memecatnya.”

“Tidak bisa.”

“Karena…?”

“Karena… Karena…”

“Dia cantik, dan… seksi. Oh, dan satu lagi—” Sooyoung mendekati Kyuhyun lalu mencondongkan tubuhnya sendiri. “—Dia berani.”

“Berani apa?!”

Menggodamu. Jangan bilang kau tidak menyadari itu selama ini.”

“Kau cemburu,”

“Tidak.” Sahut Sooyoung. “Aku hanya mencari jalan keluar agar hubungan kita tetap baik.” Lanjutnya, memundurkan tubuhnya kembali. “Tampak Miss Victoria ini memendam rasa kepadamu.”

“Omong kosong. Dia tidak seperti itu.”

“Kau tidak bisa menilainya, karena kau seorang namja. Dan aku, aku adalah seorang yeoja. Aku tahu sekali bagaimana perilaku seorang yeoja yang menyimpan rasa pada seorang namja.”

“Kau mulai menyebalkan.”

“Aku memang menyebalkan jika itu diperlukan. Dan kau harus disadarkan.”

Kyuhyun tampak kesal sekaligus marah, “Ini hari pertamamu menginjak kantorku, tapi kau sudah membuatku SANGAT KESAL!!”

Sooyoung menatap Kyuhyun dengan pandangan terluka. “Aku mengerti,” katanya, beringsut menjauh dari Kyuhyun, lalu meraih tasnya yang tergeletak di sofa. Sooyoung menghela napas, lalu berbalik memandang Kyuhyun. “Jangan meremehkan insting seorang yeoja.” Katanya perlahan, lalu segera membuka pintu dan menutupnya dengan kasar. Victoria sudah berada di mejanya lagi, tersenyum seolah-olah bahagia mendengar pertengkaran pertama mereka. Sooyoung memelototinya sebentar, lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan.

Harga dirinya terluka.

Sooyoung menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Dia mengerti. Bahkan sangat mengerti. Pegawai-pegawai yang tadi menatapnya dengan pandangan mengejek yang tidak terlalu kentara, mulai berani menatapnya seolah berkata, Yeoja ini sangat tidak sopan dan tidak pantas untuk  menjadi anae Direktur kita. Sooyoung mempercepat langkahnya. Lalu begitu lift terbuka, dia segera naik. Lebih baik menangis di dalam lift, daripada menangis di kantor yang pertama kali diinjaknya.

T B C

Hehe, gimana? Baguskah?

Gimana keadaan Sooyoung setelah ini? Tetap RCL yaa ^^

Ghamsahamnida ^^

121 thoughts on “Impostress [Chapter 1]

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s