-SOOKRIS- The Fourth Date [Twoshoot]


poster by Sasphire
poster by Sasphire

 

Annyeong ^^

Author comeback nih, barengan sama SNSD *plakk!

Hehe, mian ne belum sempet lanjut Impostress, gak ada ide sih -_____-

Oh ya, ini pertama kalinya blog ini diisi oleh SooKris Fanfictiong kwkw xD Sebenernya, ff ini terinsprirasi dari sebuah FTV yang judulnya kencan ke 5 hehe

Oh iya, di ff ini Author numpang nama yaa ^^ Itu yang jadi Lee Hyera wkwk

EH, Author minta tolong ya readers, hari senin ntar kan Author try out, gak tahu sampe hari apa -___- jadi Author mungkin gak bisa ngepost fanfiction dulu ^^

Udah dulu ah ngomongnya, langsung aja ya. Oh iya, ini bukan oneshoot loh yaa, ini TWOSHOOT!

Happy Reading ^^

Title: The Fourth Date

Author: MeydaaWK

Cast: Find it.

Genre: Romance

Rating: PG 13

Length: Twoshoot

Poster: Sasphire (Sasphire.wordpress.com)

____________________

Sooyoung POV

Hari ini adalah hari kelulusan. Dengan hati berdebar, aku dan teman-temanku menunggu papan kelulusan terkutuk itu. Sudah setengah jam kami menunggu, tapi rasanya ada satu yang kurang. Namjachinguku.

“Kau melihat Yifan?” Tanyaku kepada teman namja yang sering kulihat dengan Yifan, namjachinguku itu.

“Tidak. Tapi hari ini dia tidak berangkat.” Sahut teman-temannya, selalu dengan jawaban yang sama. Uhhh…

Aku juga sibuk menghubunginya. Lewat ponsel, jejaring sosial, bahkan aku pergi ke rumahnya. Padahal jarak rumahnya dengan sekolahnya dua kilometer! Apalagi bus jurusan rumah Yifan sedang tidak beroperasi. Entah kenapa. Tapi semuanya nihil. Yang tersisa di rumahnya, hanyalah pembantunya yang telah dipecat lima bulan yang lalu, serta bangunan megah yang besar itu. Orangnya, tidak ada.

Aku kebingungan.

Bahkan aku tidak memedulikan kelulusan. Untuk apa aku lulus jika aku kehilangan namjachingu sekaligus sahabat yang sangaaaat kucinta? Aku benar-benar kesetanan. Bahkan aku berlari-lari sepanjang koridor sekolah, berharap akan menemukan sosok kurus-tinggi Yifan. Tapi tidak ada.

Aku patah semangat.

Aku patah hati.

Hari itu, adalah hari yang paling terkutuk! Aku bersumpah, saat Yifan menampakkan dirinya dan berkata dia sedang bercanda, aku akan langsung melemparinya dengan sepatu! Kalau perlu, sepatu teman-temanku dan Yifan sekalian.

Tapi, sejak hari itu, Yifan tidak pernah menampakkan batang hidungnya.

Yifan hilang.

Ditelan bumi.

 _______________

Untuk apa mengingat-ingat masa lalu, coba? Haha. Aku memang bodoh. Jujur, rasanya aku masih patah hati. Tidak peduli bahwa Yifan tidak pernah muncul. Sampai sekarang, sampai tiga tahun sesudah hari kelulusan.

Yifan lulus. Tuan dan Nyonya Wu sudah mengambil ijazah serta rapornya sehari sebelum kelulusan. Park Songsae bilang, tuan dan nyonya Wu tampak berantakan. Dan bingung. Sehingga Park Songsae mengijinkan mereka mengambil ijazah dan rapor Yifan lebih dulu.

Sampai sekarang, rasanya aku masih bisa mengenali wajah Yifan. Aku hanya perlu menutup mata, dan Yifan yang sedang tersenyum, Yifan yang sedang tertawa, Yifan yang sedang mendribel bola basket, Yifan yang bibirnya berkerut, Yifan yang meringis, akan muncul secara refleks di kepalaku.

Rasanya aku perlu pergi ke psikolog. Siapa tahu, dokter punya obat agar aku bisa lupa pada sosok Yifan.  Rasanya hidupku terlalu dibayangi, dipenuhi, dikungkung, oleh Yifan. Sosok namjachinguku, sampai sekarang.

Ayo Sooyoung-ah! Seharusnya kau sadar! Kau harus menginjak bumi, sebelum angin menerbangkanmu! Teriakku kepada diriku sendiri.

Tapi Yifan terlalu melekat. Terlalu menguasai hatiku. Dia memiliki sifat yang terlalu, terlalu…

Bukan Yifan yang terlalu, tapi aku… Aku yang terlalu

_______________

Hari ini, aku tidak ada jadwal kuliah sama sekali. Kosong. Jadi, aku memutuskan akan mengunjungi tempat paling bersejarah di hidupku. Pantai…

Aku tidak tahu kenapa pantai ini begitu istimewa di hatiku. Aku tidak tahu kenapa rasanya aku masih bisa melihat diriku bersama Yifan, sedang berlarian disini. Ya, disini adalah tempat kami berkencan. Yifan tidak pernah mengajakku ke tempat lain kecuali pantai ini. Saat kutanya kenapa, dia hanya tersenyum dengan sangat manis, dan pandangan mata sangat tegas. Matanya yang runcing, membuatku teringat elang.

Yifan-ku yang bermata elang.

Yifan-ku juga memiliki hidung mancung yang panjang dan lurus serta tajam. Kalau kau meminta aku melukiskannya, pasti aku tidak akan sanggup.

Yifan-ku juga memiliki tinggi di atas standar. Tinggi sekali…

Yifan-ku juga memiliki alis yang hitam, lebat, dan entah kenapa sering sekali membuat matanya yang tajam dan runcing terlihat jenaka.

“Sendirian?” Tanya seorang namja tiba-tiba.

Aku langsung menoleh, pertanyaan namja ini membuat anganku tentang Yifan menguap hilang. Kalau kutaksir, wajah Namja ini terlihat familier. Apa ya?

“Ne. Kau lihat sendiri.” Sahutku, berhenti menaksir, dan kembali menatap pantai. Tidak seharusnya ada orang yang datang di pantai hari ini.

“Apakah kau Choi Sooyoung?” Tanya namja itu, aku heran bagaimana dia bisa mengetahui namaku.

“Ada apa? Bagaimana kau tahu namaku?”

“Kalau begitu, itu pasti kau.” Sahut namja itu. “Namaku Byun Baekhyun. Kau mungkin tidak mengenalku, tapi seseorang memberitahuku tentangmu. Bahkan seseorang itu menceritakan rincianmu secara detail. Aku mungkin bisa mengenalimu meski di keramaian sekalipun.”

“Siapa seseorang itu?” Tanyaku. “Apa aku mengenalnya?”

“Oh ya, pasti. Karena dia begitu mengenalmu. Kalau begitu, aku permisi.”

“Siapa nama orang itu?”

Baekhyun—yang kira-kira setahun lebih muda daripada aku—hanya melambai dan berseru, “Kau akan mengetahuinya cepat atau lambat.” Lalu pergi.

Seseorang yang kukenal? Seseorang yang mengetahuiku begitu detail? Seseorang yang akan kutahu? Entahlah. Aku tidak peduli. Untuk apa aku memikirkan itu? Membuang waktu saja!

Jadi, aku kembali ke angan-anganku tentang Yifan.

Sampai mana tadi?

Ah ya.

Dagunya tirus, namun tidak terlalu tirus. Diam-diam, aku sering membayangkan memiliki dagu setirus itu. Dagu Yifan membuat senyumnya terlihat semakin cemerlang. Lalu membuatku jatuh cinta…

 _______________

Paginya, aku menerima SMS dari Yuri, sahabatku yang centil. Dia bilang, ada dua mahasiswa baru di universitas kami. Dia juga bilang, mahasiswa baru itu sangat tampan dan keren. Tapi, apa peduliku? Lagipula, bayangan Yifan masih terus menghantuiku.

Seperti biasanya, aku berangkat kuliah dengan bus. Eomma selalu melarangku mengendarai mobil sendiri di jalan Seoul yang ramai dan berbahaya. Hari ini langit cerah. Awan bergulung tidak terlihat. Semoga saja hari ini cerah.

Ah, hari cerah. Membuatku teringat Yifan saja. Kira-kira, sekarang dia sedang melakukan apa?

Beep. Aku merogoh saku kemejaku, mengeluarkan ponsel bewarna hitam metalik yang ketinggalan jaman, ada satu pesan dari Hyera.

From: Lee Hyera

Sooyoung-ah, eoddiga?

To: Lee Hyera

Di bus.

 Aku turun di halte dekat sekolah. Sudah lumayan siang, dan ramai. Jadi aku memutuskan langsung ke kantin saja. Lagipula, biasanya Hyera dan yang lain lebih senang di kantin daripada di taman atau di perpustakaan yang penuh mahasiswi sok pintar berkacamata.

Lapangan basket ramai sekali. Mungkin ada lomba yang diadakan antar kelas atau semester. Entahlah, peduli apa?

Sampai di kantin, Yoon Ah sudah duduk bersama teh herbalnya yang bewarna pekat. Jari-jarinya yang dimanikur Perancis melambai-lambai.

“Ya! Sooyoung-ah! Kau sudah lihat namja itu belum? Kau pasti kageeeeet sekali karena mereka begitu tampan!” Jerit Yoon Ah ceria.

“Iya, iya.” Sahutku, langsung meletakkan tas jinjing kulitku di meja dan menarik kursi. “Ada pertandingan basket?”

“Ya, murid baru itu bergaya di basket. Sekarang, Hyera dan Yuri sedang melihat mereka. Nah, itu mereka datang.”

Aku menoleh dan mendapati kedua sahabatku yang lain sedang tertawa-tawa genit, lalu melambai pada namja yang sedang bermain basket. Aniya, yang genit hanya Yoon Ah, sementara Hyera hanya diam. Kalau tidak salah, aku melihat bayangan orang seperti Yifan. Tinggi, berdagu tirus dan runcing—

“Ya! Melamun terus!” Cetus Yoon Ah, menyeruput milkshake stroberi yang baru saja dipesannya. “Soo, kau tahu? Namja itu—yang tinggi, yang bernama Kris—sangat tampan, dia juga pintar bermain basket! Taecyeon bahkan kalah darinya!”

“Sejak kapan aku tertarik pada basket?” Komentarku acuh.

“Kajja, aku dan Sooyoung ada jadwal hari ini.” Kata Hyera, dia sedari tadi hanya diam. Yah, bukan hal yang sangat mengherankan mengingat Hyera adalah princess calm menurutku. Sebenarnya, aku lebih senang bersama Hyera, dia selalu diam dan hanya berkata atau bertanya pada saat mood-ku sedang bagus. Tidak seperti Yoon Ah dan Yuri yang terus mencerocos tanpa henti.

“Soo, aku ingin bicara padamu. Tapi, kau jangan menangis disini ya?”

“Menangis? Itu tidak ada di kamusku, nona!” Cetusku santai, meski hatiku menanggapi yang lain. Kata itu, menangis, ada di kamusku sejak Yifan hilang.

“Baiklah, namja yang tinggi itu, yang disukai Yoong, terlihat seperti mirip—Yifan.”

Aku tertegun secara langsung. Syok. Kris = Yifan? Aniya, aku tidak bisa yakin begitu saja, kecuali jika aku bisa melihat wajah Kris sendiri.

“Aku masih ingat wajahnya, Soo. Kalau kau takut aku salah. Seperti yang kaugambarkan, mata tajam seperti elang, hidung lurus runcing, alis gelap lebat, dagu tirus runcing—aku masih ingat semua itu. Dan semuanya ada pada diri Kris ini.”

Aku menghela napasku. Berat sekali. “Kalaupun itu Yifan, aku tidak akan peduli padanya lagi. Aku marah—benar-benar marah. Aku tidak peduli itu dia atau bukan! Sekalian saja mati! Aku tidak peduli!” Tandasku panjang lebar, yang semuanya—tidak benar. Hatiku terus menyangkalnya.

Hyera tersenyum meneguhkan. Aku yakin dia tahu aku berbohong. “Baguslah, aku tidak mau kau bersaing dengan yeoja-yeoja itu.” Katanya, tersenyum kalem lagi, lalu menunjuk sekelompok yeoja yang sedang tertawa-tawa. Aku mendengar salah satu dari mereka menyebut-nyebut nama Kris.

“Aku yakin aku bisa. Tenanglah.”

____________________

Sebenarnya, aku masih memiliki satu sahabat lagi, teman tepatnya. Karena aku tidak terlalu dekat dengannya, yaitu Jessica Jung. Dari awal, aku tidak terlalu suka yeoja yang senang berdandan dan berbelanja.

Yuri dan Yoon Ah memang senang berdandan, tapi kegenitan mereka tidak sampai level kegenitan Jessica yang elegan, menikam, dan dingin.

Aku hanya bertemu dengan Jessica ketika pelajaran Sastra saja, dan pulang-berangkat kuliah. Itupun jika Sica sedang tidak sibuk dengan pacar-pacarnya. Seperti saat ini, aku pulang dan berangkat sendirian. Awalnya, Yoon Ah dan Yuri menawarkanku tumpangan. Tapi aku menolak, karena rumah kami berbeda jurusan. Dan Hyera memiliki jadwal tambahan. Jadi dia tidak bisa menemaniku.

Dengan lelah, aku memutuskan mampir sebentar ke toko buku. Mungkin ada novel roman baru yang bagus. Atau mungkin aku bisa mencari diktat dan buku referensi. Bagaimanapun, aku harus memupuk pengetahuan kan?

Di lorong pertama, aku hanya menemukan novel-novel lama yang sudah bertengger sebulan yang lalu. Di lorong kedua, aku hanya melihat kamus-kamus yang sudah kumiliki sejak lama. Di lorong ketiga, aku melihat Yifan.

Secara refleks, aku menghindar. Aku langsung kembali ke lorong kedua, dan menyambar kamus bahasa Prancis mungil yang belum kupunyai. Lalu langsung melesat ke kasir. Aku bodoh. Padahal aku sendiri yang berharap bertemu Yifan. Tapi aku malah bersembunyi seperti hantu. Dan lagipula, belum tentu namja tinggi yang sedang mengetik di komputer pencari buku itu Yifan. Mungkin dia hanya Yifan-Yifan yang lain. Yang tak kukenal.

Setelah membayar kamus mini itu, aku langsung keluar dari toko, dan berlari ke halte. Dadaku berdegup kencang. Lalu, tanpa bisa ditahan lagi, aku berbalik menuju ke toko, memutuskan memata-matai namja yang mirip Yifan itu.

Beberapa menit setelah aku menemukan tempat mengintai, namja itu keluar. Ada seorang yeoja bersamanya, sepertinya aku pernah melihatnya di kampus, yeoja itu memanggilnya Kris.

Hyera tidak salah, dia memang Yifan versi lebih trendi. Dia memang Yifan, tapi bukan Yifan-ku. Aku melihat yeoja itu menyandarkan kepalanya ke bahu Kris dengan manja. Pasti dia yeojachingu Kris yang mirip Yifan itu. Kris hanya menggerak-gerakkan bahunya, terlihat tidak nyaman dengan posisi itu, tapi tetap diam dengan wajah dinginnya yang cool. Dia memencet alarm mobilnya dan masuk. Lalu mobil itu keluar dari pekarangan toko. Pengintaianku selesai sampai disitu.

 __________________

Author POV 

Kris membelokkan mobilnya masuk ke kompleks perumahan mewah di daerha Seoul yang ramai, mengantarkan yeoja yang sedang bersamanya. Dengan kesal, dia menyeret sepupunya itu—Luna—masuk ke rumahnya sendiri.

“YA! Jangan menggangguku lagi! Sudah kubilang, kalau yeoja melihatku bersamamu, pasti mereka mengira aku memiliki hubungan denganmu, Luna-ya! Dan bagaimana kalau Sooyoung tahu itu dan salah sangka?!” Bentaknya sambil mengentakkan kaki.

“Ya! Wu Yifan! Siapa kau membentakku di rumahku sendiri?! Lagipula, temui saja Sooyoung! Kau tak melihat raut merananya waktu di pantai?! Dan kau malah menyuruh Baekhyun Ppabo itu menemuinya!”

“YA! Kenapa kalian berteriak-teriak? Dan apa kau bilang, Luna-ya?! Ppabo? Kris yang ppabo! Aku itu pintar!” Kata Baekhyun santai sambil tertawa. “Eh, Yifan-ah, tapi Sooyoung-mu itu cantik lho, bagaimana kalau aku jadi namjachingunya saja?”

“Dasar! Sudah sana masuk! Aku mau pulang! Byeeee~!” Seru Kris dengan cuek, lalu segera masuk ke mobilnya. Beberapa detik kemudian, mobil sport itu sudah berjalan dengan kecepatan standar. Meninggalkan debu-debu di rumah itu.

Kris memakai earphone di dasbor dan memakainya. Lebih baik mendengarkan lagu daripada ditemani sepi mencekam. Yang mengingatkannya pada Sooyoung.

Ah, sudah lama sekali sejak kepergiannya yang tiba-tiba. Pasti sekarang Sooyoung membencinya. Belakangan ini, Kris membuntuti Sooyoung kemana-mana. Dia juga sering ‘menemani’ Sooyoung. Menemani yang artinya: mengikuti diam-diam. Sooyoung tidak pernah tahu dia ada. Karena gadis itu selalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Tapi hari ini dia kehilangan jejak Sooyoung. Dan terpaksa menemani Luna—sepupunya—ke toko buku.

Kris ingat, dulu sekali, dia sering heran melihat kesibukan Sooyoung. Gadis itu bisa diam selama berjam-jam tanpa berbicara padanya, padahal dia selalu siap mendengarkan ucapan gadis itu. Tidak peduli itu penting atau tidak. Dulu, saat dia bertanya Sooyoung memikirkan apa, gadis itu hanya tersenyum. Dan temannya semasa SMU, sekaligus sahabat terdekat Sooyoung, memberitahunya bahwa isi pikiran Sooyoung selama ini adalah berkhayal. Mengkhayalkan apa saja.

Kris tersenyum kembali. Dia menyesal sudah meninggalkan Sooyoung. Tapi bukannya penyesalan tidak pernah ada artinya? Lagipula, mulai sekarang dia akan berusaha merebut hati Sooyoung kembali.

Kris menambah kecepatan mobilnya dan kembali tersenyum.

 _______________

“Soo! Aku sudah mengajak Kris berkencan!” Seru Yuri sambil tertawa-tawa.

“Dan aku yang kedua. Setelah kencan Yuri-Kris selesai, aku yang akan kencan dengannya!” Sambar Yoon Ah.

“Dan aku yang ketiga!” Seru Jessica.

Sooyoung dan Hyera hanya mengangkat bahu tidak peduli. Ani, yang tidak peduli hanya Hyera. Sementara Sooyoung pura-pura tidak peduli. Telinganya berdiri seperti kucing. Bersiap menyimak apa saja yang didengarkannya dari ketiga sahabat dan temannya itu. Entah kenapa, belakangan ini Jessica menjadi lebih dekat dengannya dan yang lainnya.

“Menurutmu, Kris menyukai warna apa?” Tanya Yuri sambil berpikir.

Angan Sooyoung terlempar ke masa lalunya lagi. Siang itu, mereka—Yifan dan Sooyoung—bermain hujan-hujanan. Meski saat itu hanya gerimis yang turun. Seperti biasa, saat hujan reda dan matahari kembali bersinar, pelangi akan muncul. Dan saat itu, pelangi memang muncul.

“Kau suka warna apa di pelangi?” Tanya Sooyoung pada Yifan.

“Hijau, karena dedaunan bewarna hijau. Dan karena kau sedang memakai rok hijau!” Seru Yifan sambil menatap rok terusan biasa yang dipakai Sooyoung kala itu.

Sooyoung tersadar, tanpa basa-basi, dia menyahuti Yuri, “Hijau.”

“Mwo? Hijau? Darimana kau tahu?”

Yuri menatap Sooyoung curiga. Sementara Jessica lebih sibuk dengan kuteks pink-nya yang mengkilat.

“Tidak, itu hanya feeling yeoja.” Tandas Sooyoung dengan gugup. “Aku permisi, sepertinya aku ada kelas hari ini. Annyeong.”

Hyera bergegas mengikuti langkah Sooyoung yang lebar-lebar.

“Soo—apa kau mengingat Yifan? Kris bukan Yifan, Soo.” Kata Hyera sambil menjajari Sooyoung. “Kau ingat? Yifan tidak suka dijadikan bahan pembicaraan di sekolah. Dan Kris sudah menjadi bahan pembicaraan sekarang. Jelas sekali itu bukan sifat Yifan.”

“Arraseo.” Sooyoung mengangguk dengan sedih. “Sudah kubilang, aku akan berusaha keras melupakan Yifan. Meski itu tidak mungkin sekalipun.”

Hyera hanya tersenyum. “Semuanya akan baik-baik saja jika kau berusaha. AWAS—SOO!!”

DUAKK! Bola basket itu melambung tinggi, lalu dengan sukses mengenai kepala Sooyoung. Sooyoung sukses pingsan.

“YA! Ayo tanggung jawab! Cepat angkat Sooyoung ke ruang kesehatan!” Teriak Hyera sambil melotot kepada Baekhyun dan Kris yang hanya terpaku dengan wajah bodoh. “YA! Kalian sadar tidak?! Sooyoung pingsan!!” Teriak Hyera lagi, kali ini dia berusaha memapah Sooyoung sendirian.

Kris langsung maju dan mengangkat Sooyoung, sementara Baekhyun masih mematung. Mereka berjalan menuju ke ruangan kesehatan.

 ____________________

“Makanya, melempar bola itu melihat keadaan dulu! Jangan langsung lempar saja!!” Bentak Hyera kepada Baekhyun dan Kris yang sedang duduk di samping ranjang UKS tempat Sooyoung dirawat—pingsan, tepatnya.

“Ne, ne. Kami kan sudah meminta maaf. Lagipula yang melempar bola kan Kris, bukan aku!” Sahut Baekhyun sambil mengerutkan kening.

“Baiklah, aku minta maaf.” Tandas Kris.

“Jangan meminta maaf padaku, minta maaf pada Sooyoung nanti.”

“Hyera-ya.” Panggil Kris dengan tenang, “kau tidak mengenalku?”

Hyera terpaku. “Kau—kau benar-benar… Yifan? Wu Yi Fan?!” Cicitnya sambil menekan tubuhnya sendiri di ranjang.

“Ya, tapi jangan beritahu Sooyoung soal ini.”

“Dengar, Sooyoung sedang menjalani masa melupakanmu! Kemana kau selama ini?! Hah?! Kau bahkan tidak peduli dengan Sooyoung yang sering sakit sejak kau pergi!”

Kris—atau Yifan—hanya menunduk. “Tapi kumohon, jangan beritahu Sooyoung kali ini. Aku belum bisa menceritakan alasanku meninggalkannya. Suatu saat nanti—aku yakin—aku pasti akan menceritakan semuanya.”

“Ada apa ini? Jadi, yeoja ini adalah sahabatmu sekaligus sahabat Sooyoung?!” Tanya Baekhyun dengan heran.

“Ya, dan kau siapa?” Tanya Hyera, tapi langsung menutup mulut ketika ranjang single itu bergerak. “Baekhyun-ssi, kajja pergi. Biarkan Sooyoung dan Yifan bicara.”

Sedetik kemudian, ruangan itu sudah senyap karena hanya ada Sooyoung yang masih mengumpulkan nyawa dan Kris yang terdiam.

“Kau siapa?” Tanya Sooyoung, dia menatap mata Kris yang tajam. “Apa aku mengenalmu?”

“Mianhae,” sahut Kris, menunduk sedalam-dalamnya.

“Untuk? Bahkan kita tidak saling mengenal.” Sahut Sooyoung, jelas sekali menutupi kenyataan bahwa dia benar-benar merindukan Yifan.

“Jangan berpura-pura, Youngie-ya,”

“Kau tidak berhak mengatakan itu. Kau bukan siapa-siapaku. Dan kau jelas bukan Yifan-ku. Arra?”

“Aniya, aku memang Yifan.”

“Tidak.” Sooyoung menggeleng, menenangkan dirinya sendiri yang gemetar. “Kau Kris, dan sampai kapanpun, aku tidak akan mengenalmu.” Lanjutnya, lalu berdiri, meski kepalanya berdengung ngilu. Pasti bola basket itu menghasilkan memar.

Kris terdiam, meski tangannya membantu—yang selalu ditolak—Sooyoung berdiri.

“Gomawoyo, annyeong.” Kata Sooyoung lalu bergegas pergi dari UKS senyap itu.

Selama sepersekian detik, Kris hanya mematung dengan perkataan menusuk Sooyoung yang seperti rol film lama yang diputar ulang di kepalanya. Bukan berarti Sooyoung akan memaafkannya. Bukan berarti Sooyoung akan menerimanya. Dan atas semua itu, dapat dipastikan dia yang akan terluka.

Kris menundukkan kepalanya, tiba-tiba ponselnya bergetar. Dengan malas Kris membuka flip ponselnya itu dan mendapati beberapa pesan dari ‘penggemarnya’.

From: 473467

Oppa, nanti kita benar-benar akan berkencan kan? Kwon Yuri-

Kris menghela napasnya. Dia meletakkan ponselnya, memutuskan untuk tidak membalasnya. Toh semua orang tahu bahwa dia orang yang senang menepati janji. Tidak seharusnya Kwon Yuri ini merendahkan daya ingatnya, apalagi tentang kencan.

“Ya, kau sudah selesai? Kajja!” Ajak Baekhyun yang muncul di pintu. “Ibuku menyuruhmu mampir sebentar di rumah.”

Kris hanya tersenyum setengah—sinis tepatnya, lalu langsung bangkit setelah sebelumnya mengibaskan mantel hitamnya. Udara dingin hari ini. Dan hanya kelompoknya yang bodoh yang bermain basket di musim seperti ini.

 _______________

Kau tahu itu bukan dia. Bisik Sooyoung berulang kali ke hatinya sendiri. Yifan tidak begitu. Dia bukan Yifan. Tapi toh, dia memang Yifan. Aku Sooyoung akhirnya, namja yang tadi bersamanya adalah benar-benar Yifan.

“Soo,” panggil Kris dari kejauhan.

Sooyoung berhenti melangkah, kaget dengan panggilan yang tiba-tiba itu. Sooyoung berbalik, dan dia langsung menyesal.

“Mwoya?”

“Boleh aku pulang bersamamu?”

“Aku belum pernah melihatmu berjalan di jalan ini. Pasti rumahmu berlawanan arah.”

“Aniya, aku baru saja pindah ke apartemen disana.” Sahut Kris, sambil menunjuk gedung tinggi dekat kompleks perumahan Sooyoung.

“Oh.” Sooyoung merogoh sakunya, mengeluarkan dua buah permen, dan melemparkan yang satunya ke arah Kris.

Kris tersenyum, setelah sebelumnya menangkap permen itu. “Masih cokelat,” gumamnya. Mengingat ketika dulu dia dan Sooyoung memakan permen rasa cokelat, cokelat krispi, dan produk jajan lainnya yang berasa cokelat.

Sooyoung mendongak, itu karena tingginya tidak setinggi Kris. Dia hanya sebahu Kris. “Well, aku memang suka cokelat sejak dulu.”

“Aku tahu. Aku juga.”

Selanjutnya, tidak ada percakapan lain. Sooyoung sibuk dengan dunia-khayalannya, sementara Kris memutuskan untuk diam dan merekam semua kejadian ini.

T B C

Hehe, gimana readers? Pada suka sama alurnya? Kecepeten ya? Hehe

Mian ne –v kalo ff ini jelek abiiis xD

Tapi, meskipun jelek, kalian tetap RCL yaah ^^

Sampai ketemu lagi di chapter selanjutnya🙂 Tetap nongkrong disini oke? ^^

Annyeong ^^

31 thoughts on “-SOOKRIS- The Fourth Date [Twoshoot]

  1. Woahh kriss disini sdikit nyebelin juga menurut gw. Panteslah klo soo tu benci sma dia walaupun hatinya tuh gak bisa ngebohongi dia msh sayang sma kriss.

    Like

  2. wow. SOOKRIS!
    pairing favoritku, nih ^^
    tapi…
    ada apa sama Kris kok ninggalin Sooyoung itu aja sih? padahal sooyoungnya masih cinta (kayaknya?)
    awas aja kalau dia selingkuh, dia akan mati di tanganku /kejam/
    ayo lompat ke chapter dua!

    Like

  3. Hyaaaa!!! My favorite couple!!! SooKris!!! Haha, maap ya thor, aku heboh. Aku ninjas soalnya (•ˆ⌣ˆ•)
    Btw, katanya sooyoung kesel sm kris, tp kok msh mau berkomunikasi ya sm Btw, katanya sooyoung kesel sm kris, tp kok msh mau berkomunikasi ya sm Btw, katanya sooyoung kesel sm kris, tp kok msh mau berkomunikasi ya sm Btw, katanya sooyoung kesel sm kris, tp kok msh mau berkomunikasi ya sm kris?
    Tp gpp deh. Yang penting sookris bersatu (´⌣`ʃƪ)♡ ditunggu kelanjutannya Tp gpp deh. Yang penting sookris bersatu (´⌣`ʃƪ)♡ ditunggu kelanjutannya Tp gpp

    Like

  4. sookris!! suka banget ma ini couple :*
    kenapa kris nya ninggalin soo?! lanjut thor, keren.. suka kalo ff nya panjang🙂

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s