Impostress [Chapter 2]


Poster by UnniKNA
Poster by UnniKNA

Title: Impostress

Author: MeydaaWK

Cast: Find It.

Genre: Sad, romance.

Rating: PG13

Length: Series

Author note:

Annyeong ^^

Karena besok min udah Try Out dan gakbisa post, chapter2nya min post sekarang aja ya.

Oh ya, chapter ini lumayan panjang lho🙂 Makanya RCL yah, hargai min yang mikir utang ff sama tes -____-

Oh ya, apakah disini gak ada SooKris shipper? Kenapa kayaknya pada gaksuka sama ff baru min yang castnya SooKris?

Udah ah, cape ngetiknya –”

Tapi inget dong, RCL okeee?

Check It Out!

Happy Reading~

___________________

Chapter 1~

Sooyoung menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Dia mengerti. Bahkan sangat mengerti. Pegawai-pegawai yang tadi menatapnya dengan pandangan mengejek yang tidak terlalu kentara, mulai berani menatapnya seolah berkata, Yeoja ini sangat tidak sopan dan tidak pantas untuk  menjadi anae Direktur kita. Sooyoung mempercepat langkahnya. Lalu begitu lift terbuka, dia segera naik. Lebih baik menangis di dalam lift, daripada menangis di kantor yang pertama kali diinjaknya.

Chapter 2~

Kyuhyun terbelalak sesaat mendengar pintu ditutup dengan sangat kasar, lalu dia segera keluar. Dia mendapati Victoria menunduk dengan wajah terlihat sangat sedih.

“Ada apa?” Tanya Kyuhyun.

“Anaemu… Anaemu… Anaemu… Mengatakan bahwa aku yeoja yang sangat tidak tahu diri—dan dan…” Air mata Victoria menetes.

Kyuhyun geram sekali, diurungkannya kakinya yang hendak menyusul Sooyoung. Menenangkan Victoria pasti lebih menyenangkan daripada berlari-lari sepanjang kantor untuk mengejar Soojin, anaenya.

_______________

Sooyoung kembali memencet speed-dial dua, yaitu nomor ponsel kakaknya, berharap banyak ponsel Soojin aktif saat itu. Tapi yang dia dapati hanya ucapan seorang yeoja yang mengatakan nomor dalam keadaan mati.

Sooyoung mengeluh, menghela napasnya. Hari itu tidak terlalu dingin. Tapi juga tidak hangat. Dengan kesal, dia menendangkan kaleng minuman kosong ke langit. Berharap botol itu mengenai kepala Soojin sekeras mungkin. Dia menyesal sekali berharap kalau Kyuhyun akan mengejarnya. Sial.

“Nona, sepertinya kau menjatuhkan ini.” Kata seorang namja sambil tersenyum manis. Lalu mnyodorkan kunci.

“Astaga, gomawo…” kata Sooyoung, mulai mengingat kalau dia memiliki apartemen di daerah Seoul juga. Tapi sama sekali tidak mewah dan berada di pedalaman. Tidak apa-apa, pikir Sooyoung sambil menepuk-nepuk pahanya dengan senang, yang harus dia lakukan sekarang adalah mengemas barang-barang dan melarikan diri. Kelihatannya berkebun dan mengurung diri terdengar menyenangkan ketimbang mendengar amarah seseorang mengenai penyamarannya.

Sooyoung bergegas mencegat bus, menunjukan kartunya, lalu duduk dengan tenang di sudut kanan bus. Sesampainya di halte dekat hotel, Sooyoung beranjak turun lalu dengan tergesa-gesa menunggu lift. Pintu lift terbuka. Sooyoung menyambutnya dengan sukacita yang berlebihan, karena mendapati dia bisa sendirian di dalam lift.

Sooyoung sampai di lantai Sembilan, lantai apartemen Kyuhyun dan Soojin, kembali Sooyoung menyeret tasnya yang terasa berat karena membawa buku akuntansi model lama itu. Bodohnya ia mengira Kyuhyun akan semenyenangkan itu. Ini semua karena Victoria. Sooyoung menghela napasnya kembali, memencet beberapa tombol untuk nomor kombinasi, dan langsung masuk. Dan Sooyoung merasa sangat menyesal sudah pulang. Kyuhyun sudah menantinya… Bersama Victoria. Dengan sikap angkuh yang anggun, Sooyoung melewati mereka seolah Kyuhyun dan sekretaris genitnya itu tidak ada.

“Kau kemana saja?” Tanya Kyuhyun. “Tidak seharusnya kau mengatakan sesuatu yang buruk kepada Victoria.”

Sooyoung berhenti melangkah, dahinya berkerut heran. Dia? Mengatakan sesuatu yang buruk kepada Victoria? Yang benar saja! Lalu jalan pikiran Sooyoung terbuka. Dia tergelak, lalu berbalik memandang Kyuhyun dan Victoria dengan muka memerah karena tertawa terlalu keras.

“Pintar sekali kau menjilat, Nona.” Kata Sooyoung, memegangi dadanya yang masih tersengal. “Dan kau, Tuan Cho Kyuhyun, mudah sekali mempercayai seorang penjilat! Pasangan yang cocok sekali!” Yang terakhir, Sooyoung hanya bergumam.

“Apa maksudmu?” Tanya Kyuhyun. Sementara Victoria terlihat seperti ingin mencekik Sooyoung sampai mati.

“Pasangan penjilat yang cocok sekali. Hmm, pasangan penjilat ya?” Sooyoung memutar bola matanya dan mengibaskan rambutnya pelan. Mencondongkan tubuhnya ke arah Victoria, lalu berkata, “Pasangan penjilat kelihatan terlalu bagus untukmu, ya, kan? Kelihatannya, kau lebih pantas disebut, penjilat yang  jalang.”

“Hentikan!”

Well, tidak perlu semarah itu, aku juga sudah berhenti.” Kata Sooyoung dengan tenang. “Kalau begitu, Nona Song, silakan nikmati hasil jilatanmu.”

Sooyoung memandang Victoria lagi, satu alisnya naik dan dia tersenyum sinis. Lalu masuk ke dalam kamarnya. Sooyoung menyandarkan badannya di belakang pintu sebentar, untuk sekedar menghela napas. Berani sekali dia! Sialan, bagaimana kalau Kyuhyun melaporkan itu pada orang tuanya?! Dan—dan, penyamarannya akan terbuka dengan sia-sia…

Dengan langkah mengentak, Sooyoung membuka lemarinya dengan kasar, kaget mendapati betapa banyaknya pakaian Soojin. Memang pakaian yang dikenakannya adalah pakaian Soojin.

“Sialan, bagaimana aku menyimpannya hanya dalam satu koper?!” Gumam Sooyoung, lalu mulai mencari baju-baju yang kira-kira pantas. Lalu meninggalkan yang lainnya.

Setelah semua siap, Sooyoung mengganti blazer tipisnya dengan mantel bewarna krem yang sama dengan gaunnya. “Baiklah,” gerutu Sooyoung lagi, “semuanya sudah siap. Dan aku harus pergi dari sini.”

Sooyoung membuka pintu, didapatinya Victoria telah pulang, dan Kyuhyun yang duduk di sofa dengan sikap menguasai.

“Kau akan kemana?” Tanya Kyuhyun, menatap Sooyoung dengan tajam.

“Kemana? Tenang saja, Tuan Cho. Aku akan pergi,”

“Tidak ada yang boleh pergi tanpa seijinku!”

“Kalau aku pergi, kau bisa memasukkan Victoria di apartemen ini. Aku tidak akan marah kok,”

PLAK!
Kyuhyun menampar Sooyoung dengan keras, membuat pipi yeoja itu memerah dalam sekejap. Sooyoung memegangi pipinya, lalu memandang Kyuhyun dengan tatapan terluka dan marah yang menjadi satu.

“Sepertinya, keluarga kita sudah bilang, jika salah satu dari kita memukul yang lain, maka yang dipukul berhak pergi.” Ujar Sooyoung dengan dingin, lalu segera menyeret kopernya. Sooyoung berlari-lari sepanjang koridor apartemen, bersiap memasuki lift.

Lift terbuka saat ponsel hitam Sooyoung bergetar, dengan sedikit kesal, Sooyoung merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel itu. Ada satu panggilan untuknya, dari Kris, sahabatnya.

“Yeoboseyo?” Seru Sooyoung, menyelinap masuk ke dalam lift sambil berusaha menahan barang-barang yang dibawanya. “Baiklah, mungkin aku sedikit terlambat.” Lanjutnya lalu menutup ponselnya dan menaruhnya di tas bagian depan.

“Mwoya?! Soojin kabur?!” Seru Ahra kepada adiknya, Kyuhyun, dengan perasaan meluap-luap. “Kenapa?!”

Kyuhyun menatap ponselnya dengan kesal, menelepon kakaknya hanya untuk didamprat? “Well, ini bukan salahku. Dia mengatakan sesuatu yang tidak baik kepada Victoria. Dan ucapannya benar-benar kasar. Jadi tidak salah kalau aku menamparnya.”

Menamparnya?” Suara Ahra terdengar benar-benar tidak percaya. “Kau dengar, Kyuhyun-ah, sudah berapa kali kubilang, Victoria itu penjilat! PENJILAT!”

“Bagaimana mungkin kata-kata Noona benar-benar mirip dengan Soojin?”

“Karena kami yeoja. Victoria itu mencintaimu, dan Noona yakin sekali kalau dia tidak mempedulikan apapun kecuali kebahagiaannya. Hatinya tidak cukup lapang untuk menerima kenyataan bahwa kau sudah menikah. Dia benar-benar egois, kalau kau ingin tahu!”

“Noona-ya, tapi tidak seharusnya Soojin mengatakan sesuatu yang sangat kasar!”

“Dengar, Kyuhyun-ah,” suara Ahra melembut namun penekanannya semakin terdengar. Dia mengembuskan napas. “Aku juga pasti akan mengatakan sesuatu yang mungkin melebihi kasarnya ucapan Soojin jika mengetahui nampyeonku memiliki sekretaris yang benar-benar tidak tahu diri. Dan—jangan membantah! Kau tahu bahwa dia sering menatapmu dengan pandangan yang tidak biasa.”

Kyuhyun terdiam, dia memang selalu merasa risi jika sendirian bersama Victoria. Benar kata Soojin, yeoja itu benar-benar berani dan tidak tahu malu. “Baiklah, aku akan mencari Soojin. Noona tenang saja, aku pasti akan menemukannya.”

“Biarkan dia sendiri dulu. Aku tahu rasanya dipermalukan. Dan memukulnya jelas-jelas mempermalukan yang paling parah. Jadi, mungkin tiga jam cukup baginya. Dan dengar, ada baiknya jika kau mengirim Victoria menjadi sekretaris orang lain. Mungkin Tuan Kim yang sudah tua.”

“Ne, arraseo.”

Klik, Ahra menutup ponselnya. Sementara Kyuhyun memandangi ponselnya dengan sikap bingung. Sejak kapan dia dengan mudahnya dibuat bingung oleh yeoja? Kyuhyun mengentekkan kakinya di lantai, lalu membuka kontak, dan menelepon nomor Soojin. Tidak aktif. Hanya saja, Kyuhyun tidak tahu bahwa seseorang yang kemarin tidur bersamanya bukan Soojin yang sesungguhnya, dan yeoja yang diteleponnya adalah Soojin yang asli.

______________

“Masa?” Kris menatap Sooyoung dengan pandangan kaget. “Kau, menyamar menjadi kakakmu?!”

Sooyoung memelototi Kris dengan kesal. “Sepetinya, kau sudah mengatakan hal yang sama tiga menit yang lalu.” Ujarnya, lalu menyuapkan sesendok muffin ke mulutnya. Dia benar-benar tidak sanggup memakan makanan yang mengenyangkan, karena dia benar-benar muak.

Well, maafkan aku. Tapi tentunya, kau tidak bisa pergi dari masalah ini, kan?”

“Benar. Dan aku benar-benar menyesal telah mengambil semua pakaian kakakku.”

“Suatu tindakan yang benar-benar tidak rasional, Nona Choi Sooyoung.”

“Aku benar-benar tidak bisa memikirkan hal yang rasional, Tuan Kris yang Terhormat.”

“Tajam sekali, Nona Choi. Karena itu benar-benar menyakitiku.”

“Jadi,” ujar Sooyoung lamat-lamat. Dia benar-benar menyukai sikap Kris yang santai dan nada mengejek di tiap kalimatnya. “Kau merasa kau tidak terhormat, tuan Kris? Hmm, sangat bagus karena kau menyadari itu.”

Kris terkekeh pelan, jelas-jelas tidak mempedulikan ucapan Sooyoung.

“Lalu, tindakan apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Satu-satunya hal yang paling rasional adalah, kembali.”

“Benar-benar menyedihkan. Aku seperti menjilat ludahku sendiri.”

“Itu satu-satunya hal yang bisa kau lakukan,” ujar Kris. “Aku akan mengantarmu, kalau bisa, aku akan menonjoknya karena beraninya menampar nona tergalak di seluruh dunia.”

“Lebih baik jangan, Kris. Aku mungkin akan mendiamkannya sampai Soojin Unnie membongkar semuanya.”

“Itu tindakan yang bagus. Kalau perlu, kau bisa mendiamkannya selamanya.”

“Kau gila! Dia itu kakak iparku, dan tidak ada agama yang memperbolehkan mendiamkan seorang kakak ipar sampai mati.”

“Yaah, mungkin tidak selamanya. Meskipun, menurutku, itu pasti tindakan yang menyenangkan!”

“Dasar! Sekarang cepat antarkan aku, dan, oh! Bayarkan makanan ini juga.”

“Seperti yang kau minta, Nona.”

Sooyoung terkekeh. Meski tidak memiliki perusahaan, Kris adalah fotografer sekaligus publik figur. Tapi entah kenapa, Kris hanya perlu memakai kemeja resmi dan kacamata untuk penyamaran. Dan, semua orang tidak akan mengenalinya.

Mereka berjalan memisah, karena Kris harus mengambil mobil dan Sooyoung akan menunggunya di halte. Hubungan mereka sudah seperti kakak-adik.

_______________

Kyuhyun terpana ketika melihat kedatangan Sooyoung bersama seorang namja yang rasanya pernah dilihatnya di televisi. Kyuhyun sedang duduk di ruang tamu.

“Annyeong, Kyuhyun-ssi.” Sapa Kris, sambil membungkuk hormat. Tapi Sooyoung sama sekali tidak menunjukkan rasa hormatnya. Sementara Kris sendiri tampak membungkuk dengan gaya menghina campur mengejek yang mengesalkan. “Sepertinya bagus sekali, kalau aku memperkenalkan diriku.”

“Ya.”

“Namaku Kris, kau tidak perlu mengetahui nama asliku, karena menurutku, kau sama sekali tidak pantas untuk itu.”

Perkataan yang sangat tajam, batin Kyuhyun sambil menilai-nilai Kris. “Kalau tidak salah, aku pernah melihatmu di televisi. Sepertinya kau berprofesi sebagai—”

Gotcha! Memang benar,” sela Kris lalu menepuk-nepuk pahanya. “Soojin-ah, lebih baik aku pulang sekarang. Dan kau, Kyuhyun-ssi…” Intonasi Kris berubah menjadi tajam dan intens, “aku tidak akan pernah diam kalau sekalipun kau melukai Noona-ku ini!”

Kyuhyun mengangguk. “Memang tidak seharusnya aku melakukan itu.” Ujarnya dengan pandangan meminta maaf.

“Baiklah, aku pergi dulu, Sooyoung-ah..”

Sooyoung menegang.

“Mian, entah kenapa aku selalu memiliki kecenderungan menyebut nama kalian berdua dengan Sooyoung, Soojin-ah. Jeongmal mianhae,” kata Kris dengan santai. Bakat aktingnya akhirnya berguna. “Mungkin karena kalian sangat mirip.”

“Yah, well, sudah banyak orang yang mengatakan itu.” Ujar Sooyoung, setelah sebelumnya melirik Kris tajam. “Aku sangat menghargai kesalahanmu menyebut nama orang, tahu!”

Kyuhyun meringis. “Ada baiknya jika aku meminta maaf padamu, Soojin-ah.”

“Baiklah, karena kau memintaku, aku akan memaafkanmu.” Jelas Sooyoung santai.

“Sudah lupa dengan janji ingin mendiamkannya, eh?” Sindir Kris. “Tapi, menurutku, tuan Kyuhyun ini sangat tidak pantas kau diamkan.”

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak. Lalu menilai bahwa Kris dan Soojin adalah orang terkocak yang pernah ditemuinya.

“Kau membongkar rahasia kita, Tuan.” Kata Sooyoung dengan ekspresi terluka. “Tapi ada baiknya kau segera pulang. Aku sibuk dan ingin tidur, kau tahu.”

“Baiklah, aku juga sibuk dengan gadisku.”

Well, seperti kau punya saja!”

“Hehe, Annyeonghaseyo!” Seru Kris, lalu memakai sepatu sneakernya dengan pelan lalu melambai dengan sikap ceria. “Lain kali, aku pasti akan mengganggu kalian lagi.”

“Aku tidak mengundangmu,”

Pintu tertutup.

“Aku benar-benar minta maaf soal tamparan itu, Soojin-ah. Bagaimanapun, kau benar. Sekretarisku itu memang tidak berpenampilan sopan,”

“Dan dia memang penjilat.”

“Aku belum yakin tentang fakta itu. Tapi lain kali aku pasti tidak akan semudah itu tidak mempercayaimu. Dan aku juga sudah memindah tugaskan Victoria. Aku tidak cukup tega untuk memecatnya. Jadi aku memindah tugaskan Victoria menjadi sekretaris Tuan Kim yang sudah tua. Dan mungkin aku harus mencari sekretaris baru.”

“Yaah, itu ide bagus. Tapi tentunya kau harus membuat beberapa syarat, dan salah satunya adalah, tidak berpakaian tidak sopan, dan menganggap atasan sebagai atasan, dan bukannya namja.” Goda Sooyoung, lalu mengedipkan matanya sambil tersenyum.

Kyuhyun terpaku, jantungnya berdegup dengan kencang. Dan dia merasa pipinya terbakar. Mungkin warnanya sudah semerah kepiting rebus. Kyuhyun tak percaya Soojin-lah yang membuatnya seperti ini.

“Ada apa? Apa kau marah? Aku kan hanya bercanda!”

“A-aniyo, tentu saja tidak. Aku setuju,”

“Oh, baguslah.”

“Aku perlu mandi,” kata Sooyoung tegas, lalu memandang seisi ruangan. “Apa kau sudah makan?”

“Belum.”

“Bagus, aku juga belum. Biar kulihat ada makanan apa saja di dapur.”

“Biar aku.” Cetus Kyuhyun, “mungkin memang sebaiknya kau mandi. Mungkin bisa menghilangkan sakit kepala, atau sakit di pipimu itu.”

Sooyoung mengangguk, lalu bergegas masuk ke kamar. Ada benarnya juga, karena pipinya terasa sangat panas sejak tamparan itu.

_______________

“Jadi, kali ini kita akan langsung ke butik saudaramu itu?” Sergah Sooyoung dengan harapan yang sangat sedikit mengingat kejadian kemarin.

“Yap, pasti saudaraku itu senang. Kemarin dia marah-marah karena kita tidak jadi datang.”

“Yaah, memang seharusnya dia merasa begitu. Kalau begitu, aku akan berganti pakaian dulu.”

Beberapa menit kemudian, Sooyoung keluar dari kamar. Dia mengenakan rok bahan bewarna putih yang pendek, dan kaus tanpa lengan bewarna putih di dalam blazer bewarna biru langit cerah.

“Mungkinkah aku harus menukar flatshoesku dengan high heels?”

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari bulgoginya, lalu mengatakan, “Sangat perlu.”

“Kenapa begitu?”

Kyuhyun mengedikkan bahunya, “Tidak tahu, ya. Tapi mungkin itu rencana bagus. Dan aku juga belum pernah melihatmu memakai high heels, kecuali di pesta pernikahan, itupun, tretutup oleh gaun itu.” Jelasnya sambil menyeruput teh paginya. Dua hari ini, dia jadi memiliki kebiasaan, yaitu meminum teh manis yang hangat di pagi hari, meminum limun yang tidak terlalu dingin di siang hari, dan teh herbal di sore hari. Tapi kebiasaan itu terlaksana ketika bersama Sooyoung.

“Baiklah. Sepertinya, memakai high heels sudah menjadi kebiasaan yeoja di Seoul.” Kata Sooyoung, lalu bergegas menghampiri rak sepatu di dekat pintu belakang. Ada dua rak sebenarnya, yang satu milik Soojin, yang satu milik Kyuhyun. Sementara Sooyoung tidak memiliki sepatu disini kecuali flatshoesnya. “Menurutmu, aku harus memakai yang berpita atau yang bertali?”

“Berpita saja,” jawab Kyuhyun sambil menunjuk sepatu high heels bewarna biru muda yang memiliki hiasan pita di ujungnya.

Dengan hati-hati Sooyoung memasang sepatu itu, lalu berseru dengan ceria. “Kajja! Tapi, tunggu, apa udara dingin hari ini?”

“Lumayan,”

“Kalau begitu, seharusnya aku memakai mantel.”

“Lupakan.” Kata Kyuhyun, “mantel membuat orang kelihatan gendut.”

Well, lebih baik terlihat gendut daripada mati kedinginan.” Sahut Sooyoung enteng, lalu masuk ke kamarnya.

Ingatan Kyuhyun terbang. Lebih baik terlihat gendut daripada mati kedinginan. Kyuhyun ingat dulu Soojin pernah berkata padanya, lebih baik mati kedinginan daripada kelihatan tidak trendi dan gendut. Kyuhyun ingat sekali, saat itu hari sangat dingin, dan keluarga besar mereka mengadakan piknik kecil-kecilan, sekaligus awal Kyuhyun dan Soojin bertemu. Saat itu, Eomma-Eomma mereka menyuruh semuanya memakai pakaian hangat yang nyaman. Tapi dengan tegas Soojin mengatakan bahwa dia lebih baik mati kedinginan daripada kelihatan tidak trendi dan gendut. Saat itu, Kyuhyun yakin sekali dia tidak akan pernah menyukai Soojin karena sikapnya yang mementingkan kecantikan dan penampilan daripada kesehatan. Dan sekarang… Kyuhyun merasa ada yang aneh. Tidak biasa. Mana mungkin seseorang berubah dalam jangka waktu kurang dari sebulan?

“Kajja berangkat. Kenapa kau malah melamun?”tanya Sooyoung, dia sudah mengenakan mantel bewarna krem yang tidak terlalu tebal.

“Ah, aniyo. Kajja!”

_______________

“Aah, jadi ini sepupu iparku?” Tanya Yuri sambil tersenyum. “Hmm, Soojin-ah, dulu Kyuhyun bilang, usiamu sedikit lebih tua darinya, tapi kenapa wajahmu bahkan terlihat lebih muda?”

“Ah, tidak.” Sangkal Sooyoung, meski wajahnya tersipu-sipu.

“Ini hasil desainnya.” Ujar Kyuhyun sambil melirik Yuri tajam.

Yuri mempersilakan mereka duduk di sofa yang berbentuk L bergaya Eropa. Lalu menerima buku akuntansi tebal yang dibawa Sooyoung. Halaman pertama saja sudah membuat Yuri menganga, dia bahkan tidak yakin desain itu buatan seorang mahasiswa jurusan permodelan. Dengan pintarnya, Sooyoung memperbarui hanbok tebal dengan gaya yang sedikit ke-Eropa-an, dan membuatnya jadi pendek. Lalu menghias seperlunya. Yuri membalik buku itu. Kali ini sebuah gaun. Gaun pengantin mungkin karena melihat lebarnya dan hiasannya. Gaun itu berbentuk kecil di bagian dada, dan melebar di bagian bawah pinggang, lalu memberi kerutan dan lipatan yang tidak terlalu mencolok lalu memberi hiasannya. Hanya dengan pita saja sudah membuat gaun sederhana itu tampak cantik.

“Omona~! Soojin-ah, desainmu benar-benar orisinal, dan sempurna! Kau pasti cocok bekerja di butikku. Karena sebenarnya aku lebih suka gaun sederhana daripada gaun yang terlalu banyak hiasan.”

“Ah, gomawo. Tapi bukankah itu keputusan yang terlalu cepat? Bisa saja kau menyesali keputusan ini.”

“Tentu saja tidak. Mulai besok, kau bekerja untukku. Tenang saja, butik ini lumayan ramai. Bahkan kami biasa menerima puluhan order gaun setiap harinya. Jadi, selamat datang…”

“Gomawo…”

“Kyu-ya, lebih baik kau pulang. Kulihat dari tadi, Ahjumma di pojok itu memandangmu terus!” Seru Yuri.

“Itulah efek samping punya wajah tampan!” Cetus Kyuhyun dengan percaya diri. “Baiklah aku pergi. Tapi kau harus mengantarkan Soojin sampai apartemen!”

“Iya iya. Perhatian sekali kau,”

Kyuhyun sudah melenggang pergi dengan santai.

“Bagaimana kalau sekarang kau berkeliling butik ini, pasti kau ingin tahu dimana letak ruangan menjahit, kamar mandi, blah blah blah…”

“Ah, iya. Gomawo Yuri-ah,”

“Berhenti mengucapkan gomawo. Sudah, kajja kita mulai turnya!”

_______________

Kyuhyun melepaskan mantel cokelatnya yang senada dengan jasnya ke cantelan di dekat pintu ruangannya. Hari ini, dia memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini. Well, jelas karena dia tidak memiliki sekretaris. Victoria baru saja selesai mengepak barangnya, itupun disertai dengan makian dan sumpah serapah yang ditujukan untuknya. Gadis itu berseru tentang cinta, dan kehidupan. Entahlah, Kyuhyun tidak bisa mendengar jelas.

“Annyeonghaseyo, tuan Cho. Apa tidak sebaiknya kita memasang iklan lowongan pekerjaan? Anda memiliki banyak sekali tugas hari ini.” Kata mantan-sekretaris ayahnya yang sekarang menjabat sebagai Juru Keuangan di kantor besar itu.

“Ye. Tolong  siapkan iklannya, mian saya menyuruh anda sembarangan.”

“Ne, gwenchana. Saya juga mengira akan seperti ini akhirnya,”

“Mwo?”

“Ya, saat Song Qian mengatakan bahwa anae mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya, itu bohong. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. nyonya Cho Soojin hanya melirik sekilas lalu pergi. Bahkan mereka tidak mengatakan apa-apa.” Jelas Juru Keuangan Park yang berkacamata.

“Benar-benar seorang penjilat, sudahlah, saya sudah memindahkan nona Song Qian.” Gumam Kyuhyun.

“Ne, itu keputusan yang sangat baik, tuan. Karena menurut saya, tidak baik seorang namja yang sudah memiliki anae setiap hari satu ruangan bersama seorang yeoja yang belum menikah, dan selalu memakai pakaian yang tidak pantas. Saya akan menyiapkan iklan itu.”

Kyuhyun mengangguk sedikit, lalu kembali sibuk dengan berkas-berkas di tangannya dan map-map warna hijau. Beberapa menit kemudian, telepon kabel di ruangannya berbunyi. Kyuhyun menatapnya sejenak, baru sadar kalau yang berbunyi adalah telepon untuk keluarga atau sekedar kolega bisnis yang akrab dengannya. Tapi anehnya, Kyuhyun tidak mengenali nomor itu.

“Yeoboseyo?” Kata Kyuhyun setelah memutuskan akan mengangkat telepon.

Ne, apakah ini benar tuan Cho Kyuhyun?”

“Ne, kau benar. Waeyo?”

Apakah Nona Choi Soojin, bersama anda?

“Ye.”

Bisakah kami berbicara dengannya?

“Kami? Eh, tapi nyonya Cho Soojin sedang tidak di tempat. DIa memiliki banyak kegiatan. Jika boleh tahu, anda siapa?”

Bisa kau berikan nomor ponselnya?”

“Mworago?!”

Nomor ponsel. Saya benar-benar membutuhkannya.”

Kyuhyun membuka ponselnya dan menyebutkan nomor Soojin, sayangnya, dia menyebutkan nomor Soojin asli, dan bukannya Soojin yang sekarang bersamanya. “Sudah?”

Aniyo. Ini bukan nomor ponselnya.”

“Tapi yang kutahu hanya ini.”

Bisa tolong minta kepadanya? Saat ini, ada hal mendesak yang harus saya diskusikan bersamanya. Saya teman sewaktu Soojin kuliah.”

“Siapa namamu? Biar nanti Soojin kuberitahu.”

Kyuhyun mendengar nada gugup di seberang sana, lalu suara yeoja tadi kembali terdengar.

Naneun, Summer Choi imnida.” Kata Summer—yang sebenarnya adalah Soojin yang asli—dengan nada pelan. Dia sangat yakin Sooyoung akan langsung tahu siapa dirinya. Karena dia benar-benar membutuhkannya saat ini.

“Baiklah, nanti akan kuberitahukan nomormu. Supaya Soojin bisa menghubungimu.”

Ye. Kalau bisa secepatnya.”

Klik. Kyuhyun menatap telepon itu dengan heran, sejak kapan ada orang Korea bernama Summer Choi? Dan—Choi? Itu artinya, yeoja yang baru menghubunginya adalah keluarga Soojin. Kyuhyun merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya lalu menyambungkannya dengan ponsel Ahra, kakaknya.

Nada sambung terdengar, lalu suara kakaknya yang kecil terdengar.

“Yeoboseyo? Waeyo, Kyu?” Seru Kakaknya itu, dengan latar keramaian di belakangnya.

“Noona sudah dimana? Kenapa berisik sekali?”

“Ah, aku sedang berjalan-jalan. Disini indah sekali. Kapan-kapan kau harus mengajak Soojin kemari. Kemarin kau bilang, kau menyukainya.”

“Iya iya, Noona, tolong tanyakan pada Eommonim siapa Summer Choi?”

“Summer Choi? Baiklah, sebentar. Eommonim! Summer Choi itu siapa?!” Seru Ahra dengan volume tinggi. Beberapa menit kemudian, hanya suara-suara berisik tadi yang terdengar oleh Kyuhyun.

“Halo? Cho Kyuhyun?”

“Aku masih disini, Noona.”

“Naah, Eommonim bilang, Summer Choi adalah nama Eropa Sooyoung. Adik Soojin yang jadi pengiring pengantin itu.”

“Ah. Gomawo, Noona. Selamat bersenang-senang.”

Klik. Kyuhyun meletakkan ponselnya ke meja, lalu memangku kepalanya dengan tangan. Sooyoung? Kenapa nadanya seperti ketakutan begitu? Kenapa harus menggunakan nama Eropanya? Ada apa sebenarnya? Aiisssh, lupakan Kyuhyun-ah! Seru Kyuhyun kepada dirinya sendiri. Lalu mulai sibuk dengan pekerjaannya. Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk dengan pelan.

Kyuhyun mendongak, mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas dan map itu, lalu berkata, “Masuk!”

Seorang yeoja masuk, dia memiliki tubuh tinggi yang lumayan proporsional, dan memakai pakaian yang mahal.

“Annyeonghaseyo, naneun Seo Johyun imnida. Tuan bisa memanggil saya, Seohyun. Karena orang-orang biasa memanggil saya begitu.” Kata Seohyun dengan sopan.

“Baiklah, atas dasar apa, kau kesini?” Tanya Kyuhyun.

“Saya melihat iklan di internet, dan saya mengira saya lumayan pantas untuk mendaftar. Saya bersekolah jurusan Akademi Sekretaris.”

“Baiklah, tinggalkan lamaran kerja di meja sini.”

Seohyun menyodorkan map bewarna tersebut di meja, lalu membungkuk hormat. “Ghamsahamnida, tuan—”

“Cho Kyuhyun.”

“Tuan Cho Kyuhyun, saya permisi.” Lalu Seohyun melangkahkan kakinya keluar.

Dengan malas, Kyuhyun mengambil map tersebut, lalu mulai membaca.

T B C

Hehe, penyakit TBC-nya kumat wkwk

Gimana cerita selanjutnya? Pengganggu yang satu lagi udah comeback tuh xD

Tetap stay di blog ini yaa ^^

Ghamsahamnida🙂

Annyeong^^

72 thoughts on “Impostress [Chapter 2]

  1. wah knapa tuh soojin?? oh,, apa seohyun bkal jdi masalah lagi buat kyuyoung? apa victoria msih akan ganggu kyuyoung? trus gmana reaksi kyu saat tau soo yg sbnernya??
    keren bnget ff nya..!!

    Like

  2. ahhh
    vic udh kluar skrg seo yg mask
    bnyk bgt sih phk ke 3 dl hub kyuyoung
    aku izin lanjut ya thor

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s