Impostress [Chapter 3]


Poster by UnniKNA
Poster by UnniKNA

Title: Impostress

Author: MeydaaWK

Cast: Find It.

Genre: Sad, Romance.

Rating: PG13

Length: Series

Poster: UnniKNA

Author Note:

Holla readers ^^ *senyumlimajari

Author cepet kan comebacknyaa? Nih walopun Author lagi try out, tapi Author ngelanjutin nih ff ^^

Oh ya, setelah chapter 3-nya dipost, mungkin ini post-an terakhir Author di blog ini. Soalnya Author mau fokus dulu -___-

Langsung aja deh, tetep RCL ya walopun ceritanya jelek -____-

Happy Reading~

__________________

CHapter 2~

Seorang yeoja masuk, dia memiliki tubuh tinggi yang lumayan proporsional, dan memakai pakaian yang mahal.

“Annyeonghaseyo, naneun Seo Johyun imnida. Tuan bisa memanggil saya, Seohyun. Karena orang-orang biasa memanggil saya begitu.” Kata Seohyun dengan sopan.

“Baiklah, atas dasar apa, kau kesini?” Tanya Kyuhyun.

“Saya melihat iklan di internet, dan saya mengira saya lumayan pantas untuk mendaftar. Saya bersekolah jurusan Akademi Sekretaris.”

“Baiklah, tinggalkan lamaran kerja di meja sini.”

Seohyun menyodorkan map bewarna tersebut di meja, lalu membungkuk hormat. “Ghamsahamnida, tuan—”

“Cho Kyuhyun.”

“Tuan Cho Kyuhyun, saya permisi.” Lalu Seohyun melangkahkan kakinya keluar.

Dengan malas, Kyuhyun mengambil map tersebut, lalu mulai membaca.

____________________

Chapter 2~

Kyuhyun menatap arloji Rolex-nya yang terpasang di tangan kirinya, sudah siang. Saatnya makan siang. Kyuhyun menguap, lalu bangkit dari kursinya dan menyambar ponselnya di meja. Kyuhyun mengetik SMS untuk Soojin, tapi tidak terkirim karena nomor itu tidak aktif.

Jadi, Kyuhyun menelepon saudaranya, Yuri.

“Yeoboseyo, waeyo Kyu?”

“Bisa tolong berikan ponselmu ke Soojin? Aku perlu bicara dengannya. Nomornya tidak aktif,”

Yuri mengangkat bahu di ujung sana, lalu memberikan ponselnya pada Sooyoung.

“Yeoboseyo,”

“Soo-ya? Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Ajak Yuri sekalian?”

“Ne. Kau kesini?”

“Ya.”

Kyuhyun tersenyum kecil, lalu teringat nomor ponsel Soojin.

“Soojin-ah, kenapa nomor ponselmu tidak aktif?”

“Ah, aku menggantinya beberapa hari yang lalu. Nanti kau kuberitahu.”

“Baiklah, annyeonghaseyo.”

Bip.

“Sepertinya kalian sangat cocok satu sama lain.” Kata Yuri, melipat tangannya di depan dada dan memandangi Sooyoung takjub. “Kuberitahu rahasia Kyuhyun ya. Dia itu tipe namja dingin yang lebih mementingkan karir daripada yeojachingu. Karena itu, dia setuju saja dijodohkan padamu. Mungkin dia sadar dia tidak mungkin bisa mendapatkan anae yang lebih baik daripada yang dipilihkan orangtuanya.”

Sooyoung tersenyum. “Tapi dia lumayan.” Katanya.

“Memang. Tapi dia bodoh.”

Sooyoung hanya tersenyum kecil sambil menaikkan satu alisnya dengan pandangan mengejek. “Kalau dia bodoh, tidak mungkin dia bisa menjadi direktur.” Katanya dengan sangat santai.

Well, menurutku, pasti bibi terpaksa menjadikan Kyuhyun direktur karena tidak memiliki keturunan lain.”

Sooyoung hanya tersenyum, lalu dia menoleh mendengar suara klakson mobil yang dikenalnya. “Kajja, sepertinya itu mobil Kyuhyun,” ajaknya pada Yuri.

Yuri mengedikkan bahu, “Chakkaman, aku harus memakai mantel yang cukup hangat.” Ujarnya sambil masuk kembali ke dalam butiknya.

Sooyoung menatap heels yang dipakainya, lalu menatap pakaian yang dikenakannya, dan terakhir, rambutnya. Masih lumayan rapi, meski ada beberapa helai rambut yang terlepas dari kuncirnya dan memilih membingkai wajahnya. Sooyoung tersenyum. Semuanya masih sesuai dengan keinginannya. Sooyoung memang sering merasa dirinya tidak cantik dan sempurna. Jadi jangan heran jika dia terus-menerus menatap penampilannya.

“Selesai. Kajja,” ajak Yuri yang sudah memakai mantel yang mengikuti mode terbaru dan syal. “Bukannya udara dingin?”

Sooyoung hanya mengangguk sekilas, lalu bergegas keluar dari butik itu dengan langkah santai.

Kyuhyun sudah menunggu. Dia duduk di depan mobilnya dengan sikap dingin yang nyata. Begitu melihat Sooyoung dan Yuri, Kyuhyun tersenyum lebar sambil melambaikan tangan seperti model-model.

“Lama sekali aku menunggu.” Cerocos Kyuhyun langsung begitu mereka masuk ke dalam mobil yang hangat itu.

Yuri berdeham sebelum menjawab. “Well, sebagai wanita, ini sudah termasuk cepat.”

Sooyoung mengangguk menyetujui.

“Oh ya, Soojin-ah, barusan ada orang menelepon. Dia mengaku bernama Summer Choi—dia adikmu, bukan? Aku sudah memberikan nomor ponselmu, pasti sebentar lagi dia akan menelepon.”

Sooyoung tercengang, tapi denagn cepat dia menutupi keterkejutannya dengan senyum manis seperti biasa. “Well, adikku itu itu memang kurang kerjaan.” Katanya.

“Tapi anehnya dia mengaku sebagai teman kuliahmu.”

“Dia memang pemalu.”

Kyuhyun mengangguk-angguk mengerti, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Sedangkan Yuri, gadis itu menaiki mobil mewahnya sendiri dan ikut melaju di belakang Sooyoung dan Kyuhyun.

________________

Makan siang berjalan lancar. Sekarang, mereka berencana pulang. Tapi mendadak ponsel Kyuhyun berbunyi. Kyuhyun melap mulutnya dengan serbet dan bergegas menjauh dari meja makan itu ke tempat yang lebih sepi.

Sooyoung menatap Yuri penasaran.

“Dia memang selalu begitu. Meninggalkan orang yang makan bersamanya dan bicara di telepon selama berjam-jam.” Jelas Yuri seolah mengerti arti pandangan Sooyoung.

“Ah, lamakah?”

Yuri mengangguk. “Kita lanjutkan makan saja. Lebih enak jjajangmyun ini ketimbang Kyuhyun,”

Sooyoung kembali menunduk untuk memakan pesanannya, tapi pikirannya campur aduk. Ada apa Soojin meneleponnya? Adakah urusan yang ingin dikatakannya? Tentu saja ada! Masalah pernikahannya. Tanpa sadar, Sooyoung menghela napas.

“Gwenchana? Kau terlihat tertekan.” Kata Yuri sambil menyodorkan tisu dan gelas air putih milik Sooyoung.

“Gwenchana. Aku memang sedikit pusing, rasanya aku terlalu bersemangat.”

“Kau sepertiku saja, aku memang selalu pusing setiap kali merasa terlalu bersemangat. Tapi tenang saja, mungkin sebentar lagi pusing itu hilang. Ini, minum ini.”

Sooyoung mengambil gelas bening itu dan meminum isinya. Kepalanya berdenyut-denyut. Rasanya ia tidak siap meninggalkan Kyuhyun dan Yuri. Mereka terlalu baik. Sooyoung mengangkat wajahnya ketika seseorang menyeret kursi di depannya.

“Mianhae, Soo. Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang. Manajer bilang ada sedikit masalah dengan perusahaan. Yuri-ya, tolong antar anaeku ini. Semuanya sudah kubayar, jadi kalian tinggal pulang saja. Mianhae, annyeong.” Jelas Kyuhyun terburu-buru lalu bergegas pergi.

“Dia memang selalu seperti itu ya?” Tanya Sooyoung.

Yuri mengangguk. “Tapi tidak apa-apa sepanjang dia sudah membayarkan makanannya.” Cetusnya sambil tersenyum lima jari.

Entah kenapa, feeling Sooyoung sudah tidak enak.

“Aku sudah selesai, kau sudah belum?” Tanya Yuri sambil mengelap bibirnya dengan serbet merah dari beledu yang tersedia disana.

Buru-buru Sooyoung mengangguk dan ikut mengelap bibirnya, lalu menatap tempias dirinya dari kaca kecil di dalam tasnya. Masih lumayan. “Kajja pulang.” Ajaknya.

Yuri mengangguk. Gadis itu berdiri sambil merapikan mantel mahalnya yang kusut dan rok berkerutnya. Setelah kembali rapi, Yuri mengajak Sooyoung keluar dari kafe itu. Mereka menuju ke mobil Yuri yang bewarna biru, yang terparkir di barisan paling dekat dengan mereka.

“Itu mobilku, kajja.” Ajak Yuri.

Beberapa menit kemudian, mobil itu sudah berjalan.

Sesampainya di bangunan apartemen Soo-Kyu, Yuri menghentikan mobilnya.

“Aku harus buru-buru, jadi tidak apa-apa kan aku mengantarkanmu sampai sini?” Tanya Yuri dengan ramah.

“Ne, gwenchana. Terima kasih, ne?”

“Cheonma.”

Sooyoung keluar dari mobil dan melambai kepada Yuri. Mobil biru itu melaju dan meninggalkan Sooyoung sendirian. Dengan pelan, Sooyoung melangkahkan kakinya masuk ke dalam bangunan tinggi dan besar itu.

Sampai di depan pintu apartemennya, Sooyoung memasukkan nomor kombinasi yang telah diberitahukan Soojin, dan langsung masuk. Sooyoung melepas heelsnya dan meletakkan sepatu cantik itu di rak belakang, sama seperti tadi dan langsung masuk ke kamar untuk mengganti bajunya yang tidak nyaman.

Selepas mengganti baju, Sooyoung menghempaskan tubuhnya di kasur empuk itu dan memandangi langit-langit. Dia baru menyadari langit-langit kamarnya dihias dengan bintang-bintang bewarna emas, bulan sabit bewarna putih kebiruan, dan warna biru safir yang menyeluruh. Sooyoung meletakkan kepalanya yang sakit di atas bantal.

Ini bukan posisinya.

Ini bukan tempatnya seharusnya berada.

Seharusnya dia tidak menggantikan Soojin jika dia sendiri akhirnya jatuh cinta.

Sooyoung menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusri kepenatan yang terkungkung. Sampai ponselnya berbunyi. Dengan tangan kiri Sooyoung meraih ponselnya itu di nakas dan mendapati ada nomor baru. Dengan malas Sooyoung mengklik tombol yes.

Yeoboseyo, Sooyoung-ah.”

Sooyoung langsung terpana mendengar suara itu, jelas ini adalah kakaknya, yang seharusnya ada di tempatnya saat ini. Dengan berat, Sooyoung menyahut. “Ya.”

Gwenchana? Aku akan pulang segera! Kau tenang saja.”

“Jangan pulang,”

Mwo?”

Sooyoung kaget dengan suaranya sendiri. “Jangan pulang sekarang. Silakan habiskan waktumu dengan namjamu itu!” Bentaknya secara langsung, Sooyoung kembali terkaget-kaget.

Mwoga? Apa yang kau bilang?!”

KLIK.

Telepon itu sudah terputus, Sooyoung yang memutuskannya. Dengan menyesal Sooyoung meletakkan ponselnya di pangkuan dan memandanginya kosong. Sooyoung tak percaya. Sepertinya, efek jatuh cinta membuatnya jadi terdengar jahat dan egois, dan juga… merampas kebahagiaan orang lain.

Pintu utama di apartemen mereka berkeriutan pertanda terbuka. Sooyoung bergegas meletakkan ponselnya di laci paling atas nakas dan berpura-pura tidur. Dia tidak siap bertemu dengan Kyuhyun setelah apa yang dilakukannya. Merampas kebahagiaan namja itu dengan kakaknya.

Kyuhyun meletakkan sepatu kulitnya dan melepas kaus kakinya dan melemparnya ke tong cucian dan masuk ke dapur untuk mengambil minuman. Kyuhyun menatap soju yang baru saja diteguknya, terduduk di bar yang disediakan di dapur apartemen mewah itu. Pekerjaan membuatnya hampir gila.

Tapi setidaknya sekarang dia tidak sendirian, batin Kyuhyun lalu meletakkan gelas bekasnya ke wastafel dan mengembalikan botol soju itu ke kulkas yang dingin. Setelah itu, Kyuhyun masuk ke kamar mereka.

Yang pertama dilihatnya adalah Sooyoung yang tertidur, Kyuhyun tersenyum sekilas, lalu mengambil piama hangat dan masuk ke kamar mandi. Setelah pintu tertutup, Sooyoung terbangun—tepatnya membuka matanya karena sedari tadi dia tidak tidur—matanya sembap dan merah. Buru-buru dihapusnya airmata di ujung matanya dan membenamkan dirinya ke lipatan selimut tebalnya.

_________________

Sooyoung menata gaun-gaun yang baru saja dibuatnya di cantelan. Sudah dua minggu ini dia bekerja di butik Yuri. Sudah dua minggu pula dia bertahan di posisi penyamarannya.

Suara kelintingan bel di pintu berbunyi—tanda ada pengunjung yang masuk. Sooyoung memandang hasil pekerjaannya dengan senang, lalu berbalik menghadap pengunjung itu. Sooyoung tampak kaget beberapa saat, tapi akhirnya bisa mengatasinya dan menepuk bahu pengunjung itu. Wu Yifan, alias Kris.

“Darimana saja, kau?!” Seru Sooyoung sambil mengangkat alis.

“Syuting. Karena aku sangat tampan dan keren, jadi tahun ini adalah tahun milikku,” kata Kris dengan percaya dirinya yang besar.

Sooyoung mengedikkan bahu dengan tidak peduli. “Lihat rancanganku.” Katanya dengan santai.

Well, hanya satu kata untuk mendiskripsikannya.”

“Apa?” Tanya Sooyoung penasaran sambil menunjuk kursi di pojok butik mewah itu.

“Yeppo.”

“Aaih, gomawo. Sepertinya aku harus mentraktirmu untuk itu.”

“Memang harus.”

Pintu di belakang butik terbuka, Yuri keluar sambil membawa sepotong tuxedo dan dasi beraneka ragam. Dia terpana melihat namja yang bersama Soojin, salah satu pegawainya. “MWO?! Bukannya ini Kris yang model itu ya?!” Semburnya dengan keras, sampai tangannya hampir menjatuhkan tuxedo itu.

“Untuk pertama kalinya aku ketahuan,” kata Kris.

“Kau benar-benar…?”

“Tidak salah lagi.”

Sooyoung memukul pundak Kris pelan, sambil tertawa. “Perkenalkan Yuri-ya, dia ini teman yang sudah kuanggap sepupuku, dan ya, dia memang model. Model terjelek yang pernah kulihat.”

Kris menjulurkan lidahnya. “Kalian sudah makan?” Tanyanya setelah memasukkan lidahnya ke dalam mulut lagi. “Ini tawaran hebat lho, jarang-jarang model terkenal seperti aku ini mengtraktir orang.”

Yuri terkekeh. “Wait oke? Aku segera siaaap.” Jerit Yuri lalu masuk ke dalam ruang direktur.

Sooyoung menunjuk sofa kulit di pojok dan memberi isyarat agar Kris duduk disana. Sementara dia sendiri merapikan gaun-gaun baru itu lalu bergerak menyusul Kris.

“Darimana kau tahu aku bekerja disini?”

Kris mengangkat alisnya dingin, “Well, aku ini terkenal. Jadi mudah saja mengirim mata-mata untuk menjagamu.” Katanya sambil terkikik.

“Jangan bercanda!” Seru Sooyoung sambil memukul pundah Kris pelan. “Kau bertanya pada siapa?”

“Kyuhyun,”

Sooyoung ber-oh ria dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

“Nah, selesai. Kajja! Kris-ah, kau mau aku naik mobilmu atau aku naik mobilku sendiri?” Tanya Yuri sambil mengikat rambut ikalnya yang berombak dengan karet khusus.

“Naik mobilku saja.”

“Memangnya tidak ada yang mengenalimu, ya?” Tanya Yuri lagi, penasaran.

“Kris ini sangat urakan, dan saat tampil di televisi, dia tidak pernah memakai pakaian resmi. Jadi untuk menyamar Kris hanya perlu mengenakan kemeja atau jas dan kacamata. Selesai. Dan semua orang tidak akan mengenalinya.” Jawab Sooyoung sementara Kris terkekeh.

Mereka kemudian keluar dari butik dan masuk ke dalam mobil Kris yang mewah.

___________________

Sooyoung mengeluarkan ponselnya yang bergetar, baru saja dia akan menyuapkan makanannya. Ada telepon dari Kyuhyun. Dengan segera Sooyoung menekan tombol yes. Telepon langsung tersambung.

“Yeoboseyo, wae Kyuhyun-ah?” Tanyanya dengan nada pelan.

Apa Kris sudah menemuimu?”

“Sudah. Waeyo? Kami sedang ditraktir Kris.”

Kau dan Yuri?

“Hmm…”

Eoddiya?”

“Wae? Kau mau menyusul?”

Ne.

Sooyoung menyebutkan kafe tempatnya makan lalu menutup telepon.

“Kyuhyun ya?” Tanya Yuri sambil mengerling genit.

“Ne,”

“Benar-benar pasangan yang romantis.” Kris berkata dengan nada kocak sambil menyuapkan helai-helai mie jjajangmyun yang bewarna kecokelatan.

“Ada-ada saja kau. Sebentar lagi Kyuhyun kemari.”

Yuri mengedikkan bahu, “Benar-benar tidak bisa membuat orang tanpa-dia sebentar saja.” Katanya dengan sedikit kesal. “Tapi, sepertinya Kyuhyun itu menyukaimu, Soojin-ah.”

“Benar, Sooyoung-ah.” Kata Kris. Lalu menutup mulutnya karena kaget. Dia salah menyebutkan nama lagi.

Sooyoung sendiri tampak lebih syok.

“Sooyoung? Nuguya?” Tanya Yuri penasaran.

“Ah, Sooyoung itu adikku.” Jelas Sooyoung yang masih menyamar menjadi Soojin, “dan kami sedikit mirip. Kris ini sudah mengenalku lamaaa sekali, tapi dia selalu salah menyebut namaku. Dia sering menyebutku Sooyoung. Padahal aku ini Soojin. Dasar ppabo!” yang terakhir, tentu saja ditujukan kepada Kris yang hanya tersenyum tak jelas.

“Oooh, benarkah kalian semirip itu? Entah kenapa, aku memiliki ketertarikan kepada orang kembar,”

“Kembar itu tidak menarik.” Kris mulai berkata-kata. “Sulit membedakannya, seperti yang terjadi padaku.”

Well, itu terjadi karena kebodohanmu!”

Kris terkikik dengan wajah tak berdosa dan melanjutkan makan kembali.

“Apa kalian sudah selesai?”

Sooyoung mendongak, dan mendapati Kyuhyun sudah duduk di sampingnya dengan wajah ceria. “Cepat sekali kau datang. Ya, kami hampir selesai.”

“Kalau begitu aku harus cepat-cepat memesan,” kata Kyuhyun sambil memanggil pelayan.

Setelah semuanya selesai makan, Kris membayar bon makannya—beserta Kyuhyun—dan langsung keluar dari kafe tersebut.

“Gomawo Kris-ah,” kata Yuri sambil meringis.

“Akhirnya aku berhasil memoroti Kris.” Ujar Sooyoung sambil memegangi perutnya yang kenyang.

“Dasar, kajja Sooyoung-ah, kita pulang. Semuanya, annyeong.” Kata Kyuhyun sambil melambai pada Kris dan Yuri.

Sooyoung mengikuti Kyuhyun setelah melambaikan kiss-bye pada Yuri dan Kris.

______________

“Soo-ah, besok kita akan pergi ke pesta.” Kata Kyuhyun sambil menyandarkan kepalanya ke bantal yang lunak dan hangat.

“Pesta? Pesta apa?” Tanya Sooyoung heran.

“Salah satu kolega bisnis keluarga menikahkan anak mereka, dan kita diundang ke resepsi pestanya.”

Sooyoung mengangguk-angguk. “Apa ada yang mengenalku disana?” Tanyanya untuk memastikan bahwa tidak ada kendala yang bisa membongkar penyamarannya.

“Tenang saja. Yuri adalah teman puteri dari Tuan Cha, dia pasti hadir di pernikahannya.”

Sooyoung tersenyum dalam hati. Selamat!

“Baiklah, sepertinya sudah terlalu larut, kajja tidur.”

Sooyoung membenamkan kepalanya ke dalam selimut. Dia benar-benar berharap tidak bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya sebagai Choi Sooyoung.

Beberapa saat kemudian, ponsel Sooyoung berbunyi. Sooyoung menatap Kyuhyun yang telah tertidur pulas. Dia segera meraih ponselnya dari laci nakas dan melihat nama penelponnya. Tidak dikenal. Sooyoung meng-klik tombol yes.

“Yeoboseyo?” Tanyanya.

Soo—kau disana?”

Tanpa perlu menjawab, Sooyoung langsung mematikan telepon itu dan menon-aktifkan ponselnya. Telepon dari Soojin. Sooyoung menggeleng-gelengkan kepala beberapa saat, lalu memutuskan untuk menutup matanya.

T B C

Hehe, panjangkan?

Makanya tetep RCL okee?

Gomawo udah berkunjung di blog-ku ^^

Annyeong ^^

79 thoughts on “Impostress [Chapter 3]

  1. soo msh ttp menghindar dr soo jin,knp soo bkan blang trus terang sama soo jin kalo soo udh mlai jatuh cinta ama kyuppa,sapa tw soo jin ngerti trus bkal bntuin soo

    Like

  2. bukannya kyu ga punya nomor sooyoung ? Ko udah ngasih ke soojin ? Bingung .-.
    Walaupun kasian sama sooyoung, tapi jangan terlalu gini dong thow, keliatannya soo nya egois banget sama soojin😦
    aku gabisa komen di blog, susah kalo di hp -…-

    Like

  3. soo eonnie jadi nyaman sama kyuppa nih,
    gimana tuh nasib soo eonnie sama soojin eonnie selanjutnya??
    lanjut part 4🙂

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s