[2/2] The Fourth Date (SOOKRIS)


poster by Sasphire
poster by Sasphire

Title: The Fourth Date

Author: MeydaaWK

Cast: Find It.

Genre: Sad, Romance

Rating: PG14

Length: Twoshoot

Author Note:

Author comebaccckkk!!

Hehe, setelah berapa bulan gak lanjutin nih ff, akhirnya Chapter2nya sekaligus END-nya keluar😀

Mian ya, kalo END nya agak sedikit aneh, Gak sesuai dengan keinginan kalian😦

Tapi tetep RCL ne?

Ghamsahamnida ^^

Check It Out!

Happy Reading~

______________

 

Sooyoung-ah, aku benar-benar gugup.” Kata Yuri dari telepon.
Sooyoung mengedikkan bahu, meski tahu bahwa Yuri tidak akan tahu itu. “Dasar berlebihan, nikmati saja. Biarkan mengalir.”
Tapi aku benar-benar tidak tahu. Bagaimana kalau rencananya gagal?! Bagaimana kalau Kris ternyata lupa dan tidak datang? Bagai—”
Shut Up! Semuanya akan baik-baik saja. Tenang saja. Kalian berkencan dimana?”
WinterEst.”
 “Jam berapa?”
“Tujuh.”
Tiba-tiba, perasaan itu membuncah di hati Sooyoung. Meledak-ledak seolah ia adalah bom granat yang sudah meledak. Sooyoung memegangi dadanya dengan bingung. Dia tahu ini perasaan macam apa. Dia cemburu. Sooyoung menekan kuat-kuat dadanya, seolah itu bisa membuat perasaan itu hilang. Tapi, tak bisa ditahan lagi.
Akhirnya, Sooyoung memutuskan akan merusak kencan Yuri bersama Kris. Tidak seharusnya mereka bahagia di atas penderitaan dan sakit hatinya. Sooyoung bergegas mencari kunci mobilnya. Lalu setelah menemukannya, dia mengeluarkan mobil sedannya dari garasi dan membawanya ke WinterEst. Udara sangat dingin, tapi mungkin hangat. Sooyoung merasa kedinginan karena gugup.
Dia sampai di kafe mewah itu. Sooyoung bergegas masuk ke dalam dan menemui satu pelayan yang wajahnya dapat dipercaya.
“Nona, tolong kalau yeoja ini sama namjanya datang dan pesan minuman, tolong masukan obat ini ke minuman namjanya ya.” Kata Sooyoung sambil menyodorkan potret Yuri yang sedang tersenyum dan obat sakit perut dosis rendah.
“Ini obat apa?” Tanya pelayan itu.
“Liver. Namja itu sakit liver, dan dia tidak mau minum obat. Jadi tolong saya, tolong kasih obat ini. Kalau dia tidak meminum obat ini, dia bisa mati.”
“Baiklah,” pelayan itu akhirnya menyerah dan mengantongi obat berbentuk bubuk itu di celemeknya. Sooyoung menyerahkan uang lalu menyelinap. Sudah pukul tujuh. Seharusnya Kris dan Yuri sudah sampai.
“Benar-benar namja yang tidak sopan! Bayangkan, dia meninggalkanku!” Seru Yuri sambil mengentakkan kakinya. “Bahkan, dia tidak bertingkah seperti gentleman dan malah membiarkanku membayar minumannya!”
Sooyoung dan Hyera memberi Yuri tatapan prihatin. Bukan, yang prihatin hanya Hyera, sementara Sooyoung berpura-pura. Dia sudah tahu semuanya.
“Hmm… Mendengar itu, apa kau masih mau kencan dengannya?” Tanya Sooyoung pada Yoon Ah.
“Yaah, itu pilihan yang sulit. Tapi toh, aku tetap akan kencan dengannya.”
Shit. Maki Sooyoung dalam hati. Baiklah, aku harus menyiapkan plan selanjutnya. Lanjutnya, masih di dalam hati.
“Aku permisi, masih banyak tugas yang harus kukerjakan,” kata Sooyoung, lalu bergegas pergi dari sana. Sampai di jalan, Sooyoung mengumpat-umpat pelan. Dia bukan orang jahat. Kemarinpun, sebenarnya dia tidak tega meracuni minuman Kris. Dan sekarang, dia harus menyiapkan plan jahat lagi? Yang benar saja!
Sooyoung POV
Aissh, masa aku harus meletakkan obat pembuat sakit perut lagi ke minuman Kris? Atau kuberi di minuman Yoon Ah saja? Ah, itu bisa menimbulkan kecurigaan. Lagipula, seperti tidak ada ide lain saja, plan satu diulang-ulang.
Ah, bagaimana kalau kusuruh pelayan menumpahkan minuman ke gaun Yoon Ah? Ide bagus! Tapi sepertinya aku harus mengeluarkan uang lagi. Gwenchana, Sooyoung-ah, lagipula, salah siapa berkencan dengan Kris!
Benarkah aku cemburu? Benarkah aku masih mencintai Yifan? Benarkah aku masih merindukannya? Benarkah ini semua kulakukan untuk membuat Yifan tetap mencintaiku? Agar ia tidak jatuh cinta pada teman-temanku sendiri?!
Lupakan Sooyoung-ah. Laksanakan rencana itu. Buat mereka semua kapok dan menjauhi Kris! Ya, aku harus melakukan itu.
Eomma, Appa, kenapa aku menjadi sejahat ini? Mungkinkah ini efek samping cemburu?
“Annyeong Yongie-ya,” sapa Kris dari depanku.
Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum membalas salamnya.
“Bagaimana kalau kita makan siang bersama?” Tanyanya.
“Mianhamnida, Kris-ssi, aku punya urusan yang harus kuselesaikan. Dan sepertinya kau juga, kau mungkin harus menyiapkan pakaian untuk pergi berkencan dengan Yoon Ah.”
Sarkastis. Kenapa aku terdengar sinis dan sarkastik?!
“Aku tidak pernah menyiapkan pakaian sebelum kencan.” Kris menyahut dengan sangat tenang, dan dingin. Tangan kanannya dimasukkan ke saku celana. Yaah, sepertinya itu memang kebiasaannya dari kecil.
“Itu bukan urusanku, tuan.” Ujarku, lalu segera melambai dan pergi.
Kris POV
Dingin sekali. Seharusnya, dia bersikap sedikit hangat kepadaku dan bukannya sinis seperti itu. Ah, tapi memangnya apa yang kuharapkan?! Seorang yeoja—yeojachinguku tepatnya—yang kutinggalkan tiga tahun tanpa kabar, akan menyambutku dengan semangat sambil tersenyum riang? Ppabo!
Aku mengikuti langkah lebar Sooyoung. Kakiku lebih lebar daripadanya, jadi mudah saja mensejajarinya. Bahkan mungkin aku bisa menyalipnya dengan mudah. Aku melirik ke samping, Sooyoung mengenakan celana jins biru gelap panjang, kemeja putih biasa, mantel tebal bewarna krem, dan syal bewarna merah. Rambutnya yang panjang dan berombak, diikat satu dengan sembarangan. Ada helai-helai rambut yang terlepas dari ikatannya dan jatuh dengan lemas di samping telinganya. Gadis sederhana.
Sooyoung sepertinya sadar kuperhatikan, dia langsung menoleh dan menatapku bingung. “Ada yang salah denganku?” Tanyanya, memandangi pakaiannya sendiri.
“Aniya. Kau cantik.”
Sooyoung melotot, “Itu sungguh tidak sopan. Kau bahkan tidak cukup mengenalku untuk mengatakan itu.”
“Aku mengenalmu selama tiga belas tahun. Apa itu tidak cukup untuk mengatakan itu?” Tanyaku dengan santai.
“Kau bukan Yifan. Kau tahu itu. Kau pasti hanya kembarannya, atau orang lain yang kebetulan mirip dengan Yifan.”
“Tapi aku memang Yifan.” Sahutku lemah, aku tidak tahu mengapa, tapi hatiku terasa sangat sakit mendengarnya mengatakan itu.
Sooyoung berbalik menatapku. “Kalau kau Yifan, kau punya banyak perubahan yang tidak kusukai.” Katanya dengan sangat dingin dan tegas. Aku tidak percaya, tapi aku melihat air mata berkumpul di pelupuk matanya yng bulat.
“Salah satunya?”
“Kau bukan Yifanku, selamat tinggal.”
“Kau mengatakan itu untuk menyakitiku, tapi kau justru menyakiti dirimu sendiri!” Aku berseru dengan suara keras dan tajam, Sooyoung berjalan meninggalkanku. Tapi lewat bahunya yang naik turun, aku tahu dia menangis. AKu tetap diam, aku harus memberi Sooyoung waktu. Tidak peduli berapa lama itu.
Author POV
Sooyoung sudah memberikan instruksi kepada pelayan di restoran tempat Yoon Ah dan Kris berkencan. Tidak peduli sesakit apa rasanya hatinya, dia tetap memaksa menghancurkan kencan kedua itu.
Tiba saatnya.
Kris datang. Dia mengenakan kaus yang ditutupi blazer lembut dan celana jins biasa. Dia duduk di kursi paling pojok. Beberapa menit kemudian, Yoon Ah datang—mengenakan gaun pendek bewarna hijau—yang langsung duduk di depan Kris.
Beberapa menit kemudian, pesanan mereka datang. Pelayan yang telah diberi instruksi Sooyoung, menatap Sooyoung dengan tidak yakin, Sooyoung langsung mengangguk.
Pelayan itu mendekati Yoon Ah dengan ragu, lalu berpura-pura tersandung karpet merah tebal, dan sukses. Jus stroberi itu tumpah di gaun—bahkan kepala—Yoon Ah.
“Apa-apaan ini!” Cetus Yoon Ah dengan marah, sementara Kris berusaha menahan tawanya.
Sooyoung menyelinap keluar dari restoran itu.
“Jinjja! Kencanku gagal hanya karena pelayan sialan itu!” Seru Yoon Ah sambil menjejakkan kakinya dengan kesal. “G.A.G.A.L!!”
“Sudah, mungkin Kris bukan jodohmu saja. Atau mungkin waktunya yang tidak tepat.” Hibur Yuri. Saat itu, Hyera dan Sooyoung belum tampak di sekolah karena keduanya tidak punya jam pagi.
“Tapi, aku sedikit curiga.” Kata Jessica dengan nada mengancam, “lihat tingkah laku Sooyoung. Bahkan dia selalu menanyakan tempat dan waktu berkencan kita.”
“Jadi kau curiga Sooyoung yang melakukan semua ini?”
“Ya, lagipula, sepertinya Sooyoung memiliki affair dengan Kris. Aku pernah melihat mereka berdua pulang bersama.”
“Baiklah, ayo kita selidiki.”
Jessica, Yuri, dan Yoon Ah tersenyum dengan sinis dan tajam.
Sooyoung dan Hyera berjalan tergesa-gesa di sepanjang pekarangan sekolah yang luas. Mereka heran karena Yuri, Yoon Ah, dan Jessica meminta bertemu lewat SMS setengah jam yang lalu.
“Menurutmu, ada hal penting yang ingin mereka sampaikan?” Tanya Hyera dengan bingung.
“Tidak.” Tapi menurutku, ya.
“Ah, baiklah. itu mereka.” Memang Jessica, Yoon Ah, dan Yuri berdiri tidak jauh dari mereka. Dan sekali lihat, Sooyoung tahu ada yang tidak beres dengan mereka.
“Annyeong. Ada apa memanggil kami kemari?” Tanya Hyera, langsung duduk di samping Jessica yang memandang Sooyoung sinis.
“Tidak usah berbasa-basi, Hyera-ya.”
“Memangnya ada apa?” Tanya Sooyoung, berpura-pura bodoh dan tidak tahu. Tapi memang dia tidak tahu. Lagipula, mungkinkah teman-temannya itu tahu mengenai kejahatannya? Mana mungkin!
“Aku tahu semuanya Sooyoung-ah. Kau, dengan teganya menjegal kami dari belakang.” Yuri beseru sambil melemparkan pandangan membunuh yang kejam. “Aku tahu kau punya affair dengan Kris kan? Jangan berpura-pura kau tidak tahu semuanya.”
“Ada apa ini?” Hyera bertanya sambil menunjukkan raut bingung.
“Tutup mulutmu, Hyera-ya. Aku perlu memberi pelajaran pada yeoja jahat di depan kita.”
Sooyoung menutup mulutnya dengan tangan, kaget dengan ucapan kasar Yoon Ah yang—tentu saja—ditujukan untuknya. “Apa yang kalian maksud? Menjegal?!” Tanyanya.
“Ya! Pasti kau yang menyuruh pelayan itu menumpahkan jusku di gaun yang kupakai! Jangan berbohong Sooyoung-ah. Aku melihat mobilmu terparkir di dekat restoran itu!”
Sooyoung terdiam. Itu benar. Semuanya benar.
“Kami akan memaafkanmu, kalau kau tidak menghancurkan kencanku. Jika kau menghancurkannya, maka kau akan menyesal seumur hidup!” Tegas Jessica, lalu menarik lengan Yuri, sedangkan Yoon Ah menarik lengan Hyera. Awalnya Hyera menolak, tapi dengan kasar Yoon Ah menariknya.
Sooyoung sendirian.
Sooyoung POV
Itu benar. Semua yang dikatakan Jessica benar. Aku memang yeoja jahat itu. Aku memang jahat. Toh, kalau salah satu dari mereka adalah jodoh Kris, aku tidak akan bisa menghancurkan takdir itu.
Aku menutup mata. Rasanya benar-benar sakit, disini. Di hatiku.
Nae maumi neomu apayo…
Aku membuka mata, dan aku mendapati Kris dihadapanku. Sedang memandangiku. Tanpa dapat ditahan lagi, air mataku mengalir dengan kecepatan tiada banding. Tangan Kris terjulur, mungkin berniat mengusapnya, tapi aku mendorongnya.
“Aku tahu itu bukan kau.” Kata Kris menenangkan.
“Tapi itu memang aku. Kau tidak tahu siapa aku. Kau tidak tahu!” Aku menjerit. Lalu langsung berbalik meninggalkannya. Kubiarkan air mataku menetes-netes.
Siapa tahu bahwa kencan Jessica bersama Kris benar-benar hancur?! Hyera yang memberitahuku. Bahwa mereka—Jessica, Yoong, dan Yul—benar-benar marah dan berjanji akan menghabisiku. Hyera bilang, esok aku tak usah berangkat dulu. Dan biarkan kemarahan mereka menurun ke voltase yang rendah.
Tapi, tentu saja aku menolak. Aku tidak sepengecut itu sampai kabur. Aku akan tegar menghadapi semua. Toh, aku tidak berusaha menghancurkan kencan Jessica. itu murni tidak sengaja. Tidak ada campur tanganku di urusan itu.
Jadi aku berangkat pagi-pagi, lalu memutuskan naik mobil daripada naik bus dan langsung berangkat. Kampus masih sepi, hanya beberapa anak yang baru berangkat. Tapi mereka dan Hyera sudah menunggu. Dengan tenang aku menghampiri mereka, berharap tidak langsung mendapat cacian dan makian.
PLAKK!
Author POV
PLAKK!
Jessica menampar pipi Sooyoung dengan kasar.
“KAU MEMANG BENAR-BENAR TIDAK BISA DIMAAFKAN CHOI SOOYOUNG!” Seru gadis itu dengan sangat kasar.
“Apa? Apa salahku?! Aku tidak mengganggu kencanmu!” Bentak Sooyoung sambil mengempaskan tangannya yang awalnya memegangi pipinya.
“Tidak bisa dipercaya! Dasar gadis jahat!” Kali ini Yuri yang berteriak. “Kau pikir kami akan percaya dengan ucapanmu lagi?”
Sooyoung memandangi ex-chingunya itu dengan dingin, “Kalau aku memang benar, kau mau apa? Menjilat ludahmu sendiri?”
Jessica melotot.
“Dengar semuanya, aku memang menjegal—menghancurkan tepatnya—kencan Yoong dan Yul, tapi aku tidak menghancurkan kencan Sica! Aku berani bersumpah!”
Jessica tertawa sinis.
“TERSERAH! Terserah kalian jika tidak percaya, terserah saja! Aku tidak peduli! Jauhi aku! Maki aku sepuas kalian! Toh, kalian tidak bisa mengembalikan kencan-kencan kalian dengan Kris! Terserah saja!” Bentak Sooyoung dengan tegas dan tajam lalu bergegas pergi dari sana. Sooyoung memegangi bagian bawah sweter tebal yang dikenakannya, meremasnya. Tubuhnya gemetar. Dia terduduk di beranda perpustakaan tepat ketika Kris lewat.
Kris menghampiri Sooyoung yang menunduk dengan air mata berjatuhan.
“Aku belum pernah melihatmu terlihat bahagia.” Kta Kris sambil duduk disamping Sooyoung.
Sooyoung menoleh, matanya sembap dan merah. “Oh ya? Kau masih bisa mengatakan itu? Sekarang, kutanya, siapa yang membuatku seperti ini?!” Bentaknya.
“Mianhae,” Kris menunduk, matanya memandangi Sooyoung intens meski tidak terlihat. “Aku benar-benar tidak berniat meninggalkanmu.”
“Lupakan saja.” Kata Sooyoung.
“Kita bertemu nanti malam, pukul tujuh, di kafe Summerize.”
Sooyoung mengedikkan bahu, lalu segera pergi dari sana.
Mala mini, Sooyoung menata gaun-gaunnya di kasur. Memilih-milih gaun mana yang kira-kira cocok digunakan malam ini. Dia harus tampak cantik di depan Kris.
Akhirnya, Sooyoung memutuskan mengenakan rok balon selutut bewarna biru laut dan kaus sesiku bewarna putih yang memiliki renda-renda tidak terlalu mencolok di beberapa bagian. Hari ini tidak begitu hangat, jadi Sooyoung memadukan pakaiannya dengan mantel putih yang tidak terlalu tebal dan sepatu bot berhak yang tidak terlalu tinggi.
Setelah semuanya siap, Sooyoung segera berangkat. Dia memutuskan menaiki mobil.
Kris sudah menunggu di kafe sepuluh menit. Waktu yang lama untuknya, karena biasanya dia yang telat. Bukan dirinya yang menunggu. Saat melihat Sooyoung memasuki kafe, Kris merasa sangat lega. Dia menarik napas dalam-dalam agar tidak terlihat terlalu gembira. Sooyoung sudah menghampirinya dengan wajah dingin.
“Mianhae, aku terlambat.” Ujar Sooyoung dengan dingin.
“Gwenchana. Kau mau memesan apa?”
Sooyoung menyebutkan makanan yang disukainya, lalu melanjutkan dengan minumannya.
Kris memandangi Sooyoung dengan heran, “Kau terlihat kurus, masa kau makan sebanyak ini?” Tanyanya takjub.
Sooyoung hanya tersenyum sedikit, lalu kembali sibuk dengan dunianya. Kris berjalan menuju ruang pemesanan karena kafe ini tidak memiliki pelayan, dan pelanggan memesan lewat komputer di ruang pemesanan.
Setelah memesan dan mengambil pesanannya, Kris kembali sambil membawa dua baki. Memang pekerjaan yang lumayan sulit, tapi Kris santai-santai saja.
“Untukmu, dan ini untukku.” Katanya dengan tenang, lalu sibuk dengan baki makanannya.
“Aku tidak punya waktu banyak.” Tandas Sooyoung sambil memandangi Kris. “Jadi, apa yang ingin kau katakan?”
To the point sekali,” gerutu Kris. “Well, apa kau masih menyukaiku?”
Refleks Sooyoung mendongak. “Apa aku terlihat masih menyukaimu?”
“Aku bisa jelaskan semuanya.”
“Silakan,”
Kris menarik napas dalam, “Aku pergi, bukan kemauanku.” Katanya dengan perlahan. “Ini semua karena ayahku. Salah satu karyawannya di perusahaan menggelapkan banyak uang. Dan akibatnya, ayahku terkena getahnya. Dia harus membayar semuanya.”
Sooyoung menatap Kris dengan prihatin, menyesal karena mengambil keputusan sebelum mendengar kenyataannya.
“Kau tahu, orangtuaku tidak memiliki cukup uang untuk membayarnya.” Jelas Kris getir. “Mereka membawaku pergi. Meninggalkan Korea, menuju ke Negara kelahiranku. Kami menetap disana selama tiga tahun. Kau tahu, mereka mengambil semua alat komunikasi di rumahku, dan membuatku seperti hidup di penjara, terkekang. Itu menyedihkan. Berulang kali aku berusaha meneleponmu, tapi mereka mengetahui itu dan mengurungku di kamar selama seminggu. Aku berusaha kabur, tapi mereka lebih pintar dariku, mereka meletakkan kamarku di lantai tiga. Jarak antara kamarku dan lantai bawah tinggi sekali. Aku tidak berani turun.”
“Jadi—kita berpisah karena uang?” Tanya Sooyoung berusaha bercanda.
Kris tersenyum, senyuman getir. “Aku menulis namamu di tembok kamarku, mencatat e-mail, nomor telepon, dan menempelkan semua klisemu. Suatu hari, aku berhasil kabur dan meneleponmu. Kau tahu apa yang kudapatkan? Eommamu bilang, kau sedang pergi pesta di sekolah. Seorang namja menjemputmu.”
Sooyoung menunduk, dulu memang dirinya pergi ke pesta bersama namja yang menyukainya. Saat itu, ia begitu putus asa mengharapkan Yifan, sampai akhirnya Sooyoung mencoba menjalin hubungan dengan namja lain, bermaksud ingin melupakan Yifan, tapi nyatanya tetap tidak bisa. Dia tetap mencintai Yifan.
“Kau ingin aku melanjutkannya?” Tanya Kris.
Sooyoung mengangguk pelan.
“Aku menyerah saat itu juga. Kukira kau sudah melupakan aku. Hingga aku kembali ke Korea. Orangtuaku berhasil membayar utang mereka, dan membiarkanku pergi kembali kesini, bersama bibiku—ibu Baekhyun. Hari itu, aku mencari informasi tentangmu. Kukira kau bahagia dengan namja pilihanmu. Tapi tidak, kau malah terlihat menyedihkan. Jadi aku berusaha kembali masuk ke hidupmu. Rumahmu masih sama. Jadi dengan mudah aku mengikutimu. Setiap hari, aku selalu menjemputmu. Diam-diam. Dan hari itu, kau pergi ke pantai.” Kris menghela napas. “Aku, Baekhyun, dan Luna melihatmu duduk di pinggir pantai. Aku tidak cukup berani untuk menghampirimu, jadi kusuruh Baekhyun menemuimu.”
“Jadi, namja yang memberitahu Baekhyun tentang diriku secara detail adalah, kau?”
Kris mengangguk. “Itu cukup. Ceritaku berhenti sampai disini. Dan kau, jelas menolakku. Benar, kan?”
Sooyoung menunduk, “Mianhae. Aku mengambil keputusan tanpa berpikir.”
“Arra. Annyeong, Sooyoung-ah. Semoga kau bahagia tanpaku.” Kata Kris, lalu segera pergi meninggalkan meja itu.
“Jadi dia pangeran masa lalumu, itu?” Tanya Yuri tiba-tiba, dia, Yoon Ah, dan Jessica sudah mendengar semuanya dari Kris dan Hyera. “Mian, aku benar-benar tidah tahu. Memang seharusnya kami tidak berkencan dengan namjamu.”
“Ini bukan salahmu,” ujar Sooyoung pilu.
“Kalau begitu, seharusnya kau mengejar Kris.” Sekarang, Jessica yang menyemangati.
Sooyoung tersenyum, berurai air mata, lalu menghambur keluar dari kafe. Berharap tidak kehilangan jejak Kris.
“Tenang saja, Soo! Kris tidak mungkin pergi secepat itu! Aku, Yuri, dan Yoon Ah memarkir mobil di sekeliling mobil Kris! Jadi dia tidak bisa keluar!”
Sooyoung tersenyum, melambai sebentar, lalu bergegas keluar dari kafe. Sampai di pelataran parkir, Sooyoung melihat Kris tengah memandang mobilnya yang bewarna hitam di tengah-tengah mobil bewarna pink, silver, dan merah marun.
“Ya! Kau tak bisa mengeluarkan mobil!” Seru Sooyoung sambil menghambur ke pelukan Kris.
Kris tampak syok dengan kehadiran Sooyoung yang tiba-tiba. Dia langsung berbalik dan memandangi Sooyoung penuh tanya.
Sooyoung memperlihatkan senyum lima jarinya, lalu dengan santai berkata, “Kau tak bisa menjauh dariku. Kecuali kalau kau berniat pulang tanpa mobil.”
“Yeah, benar.”
“Nah, kalau begitu, bisa tidak kita bicara berdua?”
“Baiklah, disana ada kursi.” Kata Kris sambil menunjuk kursi kayu bewarna di pojok. Setelah mereka duduk, Kris memulai percakapan. “Apa yang ingin kau katakan?”
“Apakah tawaran itu masih ada?”
“Tawaran apa?”
“Aissh, jinjja.” Sooyoung mengibaskan rambutnya yang tergerai, “apakah kau masih mengharapkan aku menjadi yeojachingumu?”
Kris langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Sooyoung yang jujur dan to the point, “Seharusnya kau tahu tanpa harus bertanya.” Katanya sambil tersenyum.
Sooyoung meringis tidak enak. “Well, kalau begitu—bukannya aku terlalu percaya  diri, tapi artinya kau masih menyukaiku.Dan kalau kau ingin aku jadi yeojachingumu, kau harus melakukan satu syarat dariku.”
Kris tampak terkejut sebentar, tapi lalu menyahut dengan gaya santai. “Apa?”
Sooyoung mencondongkan tubuhnya mendekat, hingga bibirnya hampir menempel di telinga Kris, “Buktikan kalau kau masih mencintaiku.” Bisiknya dengan tenang.
Okay.” Kris menyahut, lalu langsung masuk ke dalam kafe lagi. Sooyoung mengikutinya dengan bingung. Sampai di dalam, Sooyoung melihat sahabat-sahabatnya tengah menatap Kris dan dirinya bingung.
Pandangan Hyera mengatakan ‘Apa yang terjadi?’ dan Sooyoung, tentu saja tidak dapat menjawabnya.
Suara feedback berdengung membuat telinga sakit, orang-orang menatap Kris di panggung dengan bingung. Sooyoung lebih-lebih. Dia hanya dapat berdoa semoga Kris tidak melakukan hal gila.
“SOOYOUNG-AH, SARANGHAEYO. SARANGHAEYO. SARANGHAEYO. JEONGMAL SARANGHAEYO. CHOI SOOYOUNG SARANGHAEYO. SARAAAAAAAAAANGHAAAEYOOO!” Kris berteriak-teriak menggunakan mic sampai orang-orang menatapnya kesal.
Beberapa detik setelah puas berteriak-teriak, Kris turun dari panggung dan menghampiri Sooyoung yang tampak sangat terkejut.
“Naah, aku sudah membuktikannya bukan?”
“Dasar gila!!”
Kris hanya terkekeh lalu memeluk Sooyoung. Sooyoung memutuskan hanyut ke dalam pelukan Kris. Tanpa disadarinya, air mata bahagianya mengalir dengan sendirinya. Akhirnya, dia kembali.
Dia kembali menjadi Choi Sooyoung…
Dan Kris kembali menjadi Wu Yi Fan-nya.
Miliknya selamanya…
 E N D
Hehe, gimana readers? Pada suka sama alurnya?
Ato malah kecepeten? 
Mian ne, kalo ff ini ancur banget -___-
Tapi tetep dong, don’t forget comment! 
Gomawo sebelumnya ^^
Annyeong ^^ 

2 thoughts on “[2/2] The Fourth Date (SOOKRIS)

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s