[Chapter 9] Impostress


Poster by UnniKNA
Poster by UnniKNA

Title: Impostress

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

Other Cast:

-Choi’s Family

-Cho’s Family

Genre: Romance, Sad

Rating: PG15

Length: Series

Author Note:

Annyeong ^^

Author comeback nih~

Cepet kan Author lanjutnya? Keke iya dong :* *plakk

Oh ya, rencananya besok Minggu Author mau post ff baru Author. Tapi Author post Chapter 1-nya ntar, pas Impstress tamat ^^

Ada yang setuju? Ntar deh liat pembaca aja J

Oke, sekarang langsung aja ya ^^

Check It out~

Happy Reading~

______

Chapter 8~
 “Tidak—tidak, ini tidak benar.” Ujar Sooyoung sambil menggelengkan kepalanya. Air mata menggenangi kedua bola matanya yang besar. Dia mendorong kursinya ke belakang dan berlari meninggalkan Kyuhyun.
Aku mencintaimu, Choi Sooyoung… Benar-benar mencintaimu…” ucap Kyuhyun lirih, nyaris merintih. “Dan karena itu, bisakah kau membuka hatimu untukku?”
Chapter 9~
“Sooyoung-ah, bisakah kau datang ke rumah sekarang? Semuanya sedang berkumpul disini, dan akan ada sesuatu yang ingin Eomma utarakan.” Kata Nyonya Choi sambil menempelkan ponselnya ke telinga. Berharap mendengar persetujuan puterinya itu.
Waeyo, Eomma? Memangnya ada apa?”
“Nan gwenchana. Tidak ada apa-apa. Hanya saja, semuanya sedang berkumpul. Dan kami memiliki sesuatu yang ingin kami bicarakan denganmu.”
Tapi Eomma, bahkan aku baru tinggal disini selama seminggu. Bagaimana kalau aku tidak ikut dulu?
“Aniya! Semua harus ikut! Termasuk kau, Choi Sooyoung. Pokoknya, sejam lagi kau harus sudah sampai disini!” Seru Nyonya Choi lagi sambil menutup telepon secara sepihak, mirip waktu itu.
“Bagaimana? Eomma sudah menelepon Sooyoung?” Tanya Soojin sambil menghampiri Nyonya Choi yang sedang meletakkan ponselnya di atas meja. Dia baru saja datang ketika tiba-tiba ibunya menelepon menyuruhnya datang karena ada yang ingin dua keluarga itu bicarakan, dan ini mengenai sumpah dan wasiat.
“Sudah. Semoga saja dia datang.”
Tuan Choi berjalan menghampiri anae dan puterinya itu, lalu tersenyum dengan tidak enak. Mereka—keluarga Cho dan Choi—sudah salah memperhitungkan keturunan. Keturunan yang asli—keturunan yang seharusnya dinikahkan—adalah keturunan kedua. Sebenarnya, keturunan pertamanya adalah Tuan Choi dan Tuan Cho, sayangnya mereka tidak lawan jenis, tidak bisa dinikahkan. Sedangkan, keturunan kedua yang asli dari Keluarga Cho adalah Cho Ahra. Dan keturunan kedua dari keluarga Choi adalah Choi Soojin. Mereka tidak lawan jenis. Jadi, yang benar adalah… well, kalian sudah bisa menebaknya mulai sekarang.
“Soojin-ah, apa kau ingin bertahan dengan pernikahan ini?” Tanya tuan Choi sambil menghampiri mereka berdua.
“Ehmm… Kenapa Appa tiba-tiba menanyakan hal itu?” Soojin menjawab dengan gugup. Lalu kesadarannya kembali, ini adalah kesempatan bagus untuk meminta bercerai kepada orangtuanya. Jadi, dia akan mengutarakan segalanya, sekalian nanti di depan keluarga Cho. “Sebenarnya—” Soojin memulai ucapannya sambil menghela napas, berharap orang tuanya tidak terlalu syok—atau bahkan pingsan. “—Aku tidak ingin menikah dengan Kyuhyun. Appa, Eomma, kalian tahu aku tidak mencintainya. Bahkan menyukainyapun aku tidak! Karena itu, aku tidak bisa menjalankan pernikahan ini dengan baik. Jeongmal mianhae, aku tidak bisa menjadi anak yang menepati surat wasiat kakek buyut.”
Senyum lega menghiasi wajah tuan dan Nyonya Choi. Sementara Soojin hanya menunduk, tidak berani menatap kedua wajah orang tuanya.
“Begini, Soojin-ah. Sebenarnya, kami salah memperhitungkan—”
______________
Kyuhyun menatap wajah Ahra dengan bingung. Kakaknya itu balik menatapnya dengan wajah sama-sama bingung. Mereka tidak tahu mengapa kedua orang tuanya tiba-tiba menyuruh mereka datang ke rumah keluarga Choi yang tidak cukup dekat dengan rumah yang sekarang mereka tinggali. Lagipula, suara Eomma-nya terdengar seperti orang kebingungan.
“Noona juga tidak tahu, lebih baik kita cepat kesana. Apa kau sudah mengutarakan niat-mu itu?!” Tanya Ahra sambil menatap Kyuhyun cemas.
Kyuhyun mengangguk.
“Naah, berarti kau sudah menyebabkan masalah besar.”
“Mana aku tahu. Aku kan hanya mengatakan apa yang sebenarnya.” Ujar Kyuhyun tanpa merasa bersalah. “Tapi memangnya untuk apa Noona juga disuruh kesana?”
“Yaah, jangan bertanya begitu padaku. Noona juga tidak tahu. Sudah kita kesana, cepat kau ganti baju. Apa kau ada meeting hari ini? Biar kutelepon sekretarismu itu menyuruhnya membatalkan semuanya.”
Kyuhyun menggeleng. “Tidak, aku tidak ada meeting hari ini. Kita bisa langsung berangkat,” sahutnya sambil melangkah menuju kamar.
Dua menit kemudian, Kyuhyun sudah kembali ke ruang tamu tempat Ahra menunggunya sambil memutar kunci mobilnya dan berjalan keluar. Keduanya sudah duduk dengan santai di kursi, meski tak urung jantung Kyuhyun berdebar. Apa orang tuanya akan menerima tuntutannya dan Soojin untuk bercerai? Atau mereka malah akan menghakimi mereka? Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya dengan penat, untuk mengusir rasa bosan, dia menyalakan tape yang ada dalam mobilnya. Tape mungil itu memutar lagu milik salah satu personil Boyband Beast, Yoseob yang berjudul Although I. Sedetik kemudian, lagu itu telah terdengar di setiap sudut mobil.
Sesampainya di kediaman keluarga Choi, Kyuhyun memarkir mobilnya dekat dengan sebuah mobil bewarna silver-purple yang dikenalnya sebagai mobil Sooyoung. Artinya, gadis itu juga ada disini. Mungkin disuruh datang oleh keluarganya. Atau mungkin gadis itu sendiri yang berinisiatif untuk datang.
Tiba-tiba Kyuhyun teringat kemarin malam, ketika dengan teganya Sooyoung meninggalkannya sendirian di restoran dalam keadaan patah hati. Bagaimana mungkin dia ditolak dengan begitu kejam? Kyuhyun memang merasa bersalah karena dengan mudah dia berkata ingin bercerai dengan kakak yeoja itu dan berencana memacari yeoja itu. Tapi, apakah seharusnya yeoja itu MENINGGALKANNYA sendirian dalam keadaan seperti itu? Seharusnya tidak. Tidak, jika gadis itu memiliki perasaan yang sama dengannya.
“Kajja cepat turun, apa kau mau seharian melamun di dalam mobil?!” Seru Ahra membuat Kyuhyun tersadar dari pikirannya yang berkelana tidak karuan.
“Ah, ne.”
Kyuhyun beranjak keluar dari mobilnya dan segera menutupnya, menyalakan alarm dan masuk ke dalam rumah keluarga Choi yang tampak sangat tenang dari luar.
Beberapa kali Ahra menyalakan bel rumah tersebut, berharap seseorang membuka pintu. Memang pintu rumah itu tidak terkunci, tapi dia merasa tidak sopan ketika masuk tanpa salam dan tiba-tiba berdiri di hadapan keluarga Choi. Setelah bel ketiga, akhirnya seseorang memutar kenop. Dan ketika pintu terbuka, Kyuhyun terpana sesaat.
Dia, disana. Nyata. Sedang menatapnya dan Noona-nya. Dengan tangan memegang kenop. Dengan wajah yang sama kagetnya dengan Kyuhyun. Sama canggungnya dengan Kyuhyun. Sama rikuhnya dengan Kyuhyun. Choi Sooyoung. Gadis yang meninggalkannya sendirian dengan dua piring berisi spageti dan dua gelas teh herbal, dengan sebuah lilin aromaterapi yang digantung di dekatnya…
“Kajja masuk.” Kata Sooyoung ragu, tersenyum ramah sambil membuka pintu lebih lebar. Sooyoung tahu jika keluarga Cho juga ada disini, dan bukan hal yang mustahil bahwa anaknya juga akan ada disini. Tapi dia terlalu kaget ketika melihat wajah Kyuhyun dan Ahra yang sedikit mirip.
Ahra dan Kyuhyun memasuki rumah itu, sebelumnya, Ahra melemparkan senyum hangatnya kepada Sooyoung. Namun Kyuhyun sama sekali tidak menatap Sooyoung, meski itu membutuhkan kekuatan yang sangat besar. Karena—Kyuhyun pernah berkata—bahwa Sooyoung seperti magnet baginya.
Setelah tamu itu masuk, Sooyoung kembali menutup pintu dan menguncinya. Pertemuan diadakan di aula belakang rumahnya yang sangat besar. Jadi, tidak akan ada orang yang menjaga pintu depan. Lagipula, pembantu-pembantu rumah besar itu dilarang keluar masuk di rumah utama ketika pertemuan dilaksanakan. Kecuali untuk menyuguhkan makanan dan minuman atau apapun.
“Kalian hanya perlu lurus saja, mungkin Eommaku masih berada di ruang keluarga, jadi dia yang akan mengantarkan kalian. Aku harus pergi ke kamar mandi. Permisi.” Tutur Sooyoung tanpa menatap Kyuhyun dan memberikan senyumannya kepada Ahra.
“Ne, ghamsahamnida, Sooyoung-ah.”
Sooyoung membungkuk hormat sebelum berlalu ke tangga yang membentuk lorong yang terletak di bagian kanan.
“Bukannya gadis itu sangat menarik?” Bisik Ahra ketika mendapati Sooyoung sudah menghilang dari pandangannya.
“Ya, memang.”
“Kalau begitu, kenapa kau sama sekali tidak menatapnya?”
“Aku terlalu kecewa untuk menatapnya. Sudahlah, ayo cepat pergi.”
Sooyoung masih dapat mendengar semuanya. Dia berdiri di dekat tangga di lantai dua, dia melihat raut menggoda Ahra, dan melihat wajah jengah dan penat Kyuhyun dengan jelas. Serta mendengar semua ucapannya.
Sooyoung segera menjauh dari tangga dan berlari ke kamar mandi, berusaha menahan air matanya yang ingin meluncur turun sekarang. Ketika sudah di dalam kamar mandi, cepat-cepat Sooyoung mengunci pintu dan menatap dirinya sendiri di kaca wastafel. Apa dia begitu membuat Kyuhyun kecewa sampai menatapnya saja Kyuhyun malas? Salahkah tindakannya meninggalkan Kyuhyun kemarin? Tapi Sooyoung tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu. Dia terlalu tahu bahwa ini tidak benar. Bukannya dia ingin menjadi benar atau apa. Tapi, Kyuhyun adalah kakak iparnya. Dan tidak seharusnya Kyuhyun menyatakan cintanya kepada Sooyoung. Lagipula, kemarin Kyuhyun bilang dia ingin menceraikan kakaknya hanya untuknya. Sooyoung senang mendengar itu, sekaligus kecewa—karena dia tahu peluang bercerai sangat kecil, bahkan mungkin tidak ada. Dan karena hal itu, dia sangat bingung untuk melakukan apa.
Air matanya kembali menetes di pipinya, tangan Sooyoung segera bergerak untuk mengelapnya. Dia menyalakan kran dan membiarkan tangannya basah, dia menampung air lalu membasuh wajahnya yang terasa sangat berat. Setelah membasuhnya beberapa kali, Sooyoung merasa wajahnya menyegar. Dia mengeringkan tangannya dengan mesin pengering di dekat wastafel, lalu merogoh saku cardigan tipisnya, mengeluarkan karet kuncir dan menguncir rambutnya. Sooyoung kembali mengaca, setelan rok biru gelapnya yang ditiga senti di atas lutut masih tertata, cardigan putihnya yang membentuk jaring-jaring juga masih rapi. Rambutnya yang dikuncir tanpa sisir, menghasilkan kunciran yang tidak begitu rapi, dan helai-helai rambut depannya yang tidak ikut terkuncir terurai dekat dengan telinganya dengan lemas. Sooyoung menatap sandal rumahnya yang lunak, masih bagus.
Siap. Dia siap kembali menghadapi keluarganya dan keluarga Kyuhyun. Jadi, dia membuka pintu kamar mandi—setelah memastikan wajahnya tidak terlihat menyedihkan—lalu berjalan turun ke lantai satu.
Ketika masuk ke dalam aula, Sooyoung mendapati semua orang sudah duduk di kursi panjang berhadapan—yang modelnya sedikit mirip dengan model meja makan besar—dan sedang menantinya saja. Dengan cepat Sooyoung mengambil bagian di samping kakaknya, sementara di depannya adalah Kyuhyun yang sedang mengamati cappuchino  di hadapannya dengan sangat tenang.
“Baiklah, kita akan memulai ini.” Suara Tuan Cho menggelegar, dia berhenti sebentar untuk berdeham. “Ada baiknya aku mulai menjelaskan tentang pertemuan leluhur kita.”
“Tidak bisakah dia menyingkatnya? Cara bicaranya membuatku ngantuk.” Bisik Soojin kepada Sooyoung sambil berpura-pura memasang wajah tertarik kepada hal yang sedang diungkapkan tuan Cho.
“Ssst,”
“Mereka bertemu di hari yang muram. Saat itu, leluhur Cho sedang dalam kesulitan yang sangat parah tentang perusahaan, dalam hitungan detik—jika tidak ada donator sama sekali sekali—perusahaan yang sudah dicita-citakannya dari kecil itu bangkrut. Dan saat itu, leluhur Choi—yang baru saja pulang dari Jepang—menyelamatkan perusahaan yang akan gulung tikar itu.” Tuan Cho kembali berdeham sebelum menatap tuan Choi, memberi isyarat agar tuan Choi melanjutkan cerita itu.
“Dan ya—mereka semakin dekat dan bersahabat. Dan saat itu, ibuku—atau isteri leluhur Choi—sedang hamil. Sementara isteri leluhur Cho sudah melahirkan setahun yang lalu. Leluhur Cho dan Choi kira, mungkin mereka bisa menjodohkan keturunannya agar hubungan bisnis sekaligus persahabatan mereka tidak akan dipisahkan oleh kematian. Tapi, sayangnya leluhur Cho melahirkan seorang anak laki-laki, yaitu aku. Sehingga jelas saja, kami tidak bisa dinikahkan. Dan akhirnya, leluhur Cho dan Choi sepakat untuk menulis surat wasiat itu.”
“Dan kami bisa mengabulkannya sekarang. Lewat Cho Kyuhyun, dan puteri kami, Choi Soojin. Sayangnya, kami salah perhitungan.”
Terdengar seruan kaget di meja itu. Soojin tampak tenang karena dia sudah mendengar kekeliruan itu tadi. Matanya menatap Kyuhyun yang tampak syok.
“Keturunan kedua adalah Cho Ahra dan Choi Soojin. Dan jelas mereka tidak bisa dinikahkan. Dan, pilihan berhenti tepat di Cho Kyuhyun dan Choi Soojin. Itu salah. Karena Kyuhyun bukanlah keturunan kedua. Jadi, pernikahan seharusnya tidak dilakukan. Yang seharusnya dilakukan adalah, pernikahan antara Cho Kyuhyun-Choi Sooyoung.”
“Tapi kami tidak bisa memaksa kalian berdua bercerai. Kami menunggu pendapat kalian, apakah kalian ingin terus bersama dalam ikatan paksa pernikahan ini, atau bercerai. Itu terserah kalian, kami hanya mengikuti saja.”
“Bercerai!” Seru Kyuhyun tiba-tiba dengan suara lantang. “Semuanya, kuharap kalian dengar ini, aku tidak menyukai bahkan mencintai Soojin. Aku hanya menganggapnya teman, cukup. Dan karena itu, aku tidak bisa hidup serumah dengannya. Tolonglah,”
Sooyoung semakin kaget mendengar penjelasan Kyuhyun saat itu. Bagaimana tidak, otaknya masih mencerna ‘kekeliruan-perhitungan-keturunan’ itu, dan sekarang Kyuhyun dengan lantang mengatakan ingin berpisah.
“Baiklah, Kyuhyun ingin bercerai. Bagaimana denganmu, Soojin-ah?” Tanya Tuan Cho sambil menatap Soojin.
“Mmm, sebenarnya aku juga ingin bercerai.”
“Baguslah, kita sepakat. Mereka akan bercerai. Dan, Kyuhyun-ah, apakah kau setuju jika harus menikah dengan Choi Sooyoung untuk menepati surat wasiat keluarga, atau kau ingin menikah dengan orang lain?”
Kyuhyun menghela napasnya sebentar. Menatap Sooyoung di depannya yang tampak kaget dan bingung. “Ya. Karena aku mencintainya—” Lalu setelah melihat anggukan Soojin, Kyuhyun akhirnya membuka penyamaran yang pernah dilakukan Sooyoung-Soojin.
Seisi ruangan minus Kyuhyun, Ahra, dan Soojin terkejut. Bahkan, Sooyoung yang tahu segalanya ikut terkejut. Dia tidak menyangka Kyuhyun akan membuka kebohongannya waktu itu. Terlebih lagi, dia membeberkannya di depan semua orang. Sooyoung tidak tahu bahwa Soojin sebenarnya yang menyuruh Kyuhyun membeberkannya lewat isyarat kepala. Sooyoung hampir saja bangkit ketika Soojin memegangi lengannya.
“Unnie—dia mengatakan segalanya,” ujar Sooyoung dengan takut. Matanya nyalang memandangi kedua orang tuanya dan orang tua Cho.
“Gwenchana. Saat ini memang akan tiba.”
“Baiklah.” Tuan Cho berdeham. “Alasan apa yang kaulakukan sampai menyuruh Sooyoung bertukar tempat denganmu?”
Soojin menghela napasnya sebelum menjawab. “Semuanya tahu bahwa aku tidak menyukai Kyuhyun. Saat itu aku pergi menemui mantan namjachinguku yang terpaksa kuputuskan karena pernikahan ini. Dan aku tidak ingin ketahuan masih memiliki hubungan dengan orang lain sementara statusku yang sudah tidak sendiri lagi. Jadi, aku memanfaatkan kenyataan bahwa Kyuhyun tidak mengenali wajahku dan Sooyoung. Jadi, aku memaksa Sooyoung untuk menggantikan aku selama beberapa bulan. Dua bulan tepatnya.”
Nyonya Choi menatap puterinya tak percaya. Dia heran kenapa bisa Sooyoung dan Soojin menyimpannya selama ini.
“Baiklah, sepertinya alasan itu cukup masuk akal.” Kata Tuan Cho dengan suara berat, tidak menyangka semuanya akan serumit ini. “Jadi, Kyuhyun sama saja dengan melamarmu, Sooyoung-ah. Apakah kau akan menerimanya?”
“A-Aku tidak tahu.” Jawab Sooyoung sambil menunduk. Dia senang mendengar kenyataannya, tapi dia juga bingung harus melakukan apa. Pasti memalukan sekali jika ketahuan bahwa dia menyimpan perasaan kepada Kyuhyun, meski namja itu juga begitu. Baiklah, dia bisa meminta waktu untuk berpikir. Mungkin itu bisa mengurangi kadar malunya. “Mungkin, mm, aku butuh waktu untuk menjawab ini.”
“Baiklah. Kapan kau akan menjawabnya?!” Tanya Kyuhyun di hadapannya.
“Mmm, seminggu lagi?” Sooyoung menjawab dengan nada bertanya. Dipandanginya Kyuhyun di hadapannya. Namja itu terlihat keren dengan kaus oblong polos dan kemeja kotak-kotak bewarna hitam putih yang tidak dikancingkan. Dan, sepertinya namja itu baru saja memotong rambutnya. Karena rambut tebal ikal yang dilihatnya sehari yang lalu sudah menghilang dari wajah rupawan Kyuhyun.
“Hmm… Jadi semuanya selesai ya? Kalian bisa bertemu seminggu lagi.”
_____________
Seminggu berlalu begitu cepat bagi Sooyoung. Pagi ini, dia dibangunkan oleh perasaan aneh—antara gembira bercampur malu—yang membuat pipinya berubah warna menjadi pink.  Dia sengaja bangun pagi-pagi dan menyiapkan masakan—dia yakin sekali Kyuhyun akan datang ke rumahnya, dia masih tinggal di rumahnya waktu itu. Kemarin Sooyoung sudah membeli beberapa pakaian yang dirasanya cocok untuknya, sekaligus untuk menambah kesan feminin yang tidak pernah tampak darinya. Sooyoung mengeluarkan pakaian barunya yang telah diseterika kemarin malam. Ada beberapa setelan rok dari katun, ada juga dari satin, dan dari beludru. Sooyoung memilih rok bewarna putih selutut yang mirip di MV Day By Day *pas Sooyoung naik sepeda.
Sooyoung menyelesaikan masakannya, baru mandi dan memakai pakaiannya yang baru. Dia meraih bandana kain bewarna putih. Menurutnya, ia harus tampil menarik hari ini.
Ketika Sooyoung selesai, dia duduk menghadap kaca, meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia terlihat cantik dan sempurna hari ini, bertepatan ketika ponselnya yang sedang di-charge berbunyi. Sooyoung segera berjalan menghampirinya dan melihat bahwa Kyuhyun meneleponnya. Memang sekarang komunikasinya dengan Kyuhyun berubah lancar. Bahkan kemarin Kyuhyun mengirim MMS yang menggambarkan sebuah cincin bertahtakan berlian yang sangat manis dan tidak cukup besar. Kyuyun juga mengirimkan SMS yang berkata bahwa dia mencintai Sooyoung dan mau melakukan apapun untuknya. Sooyoung yakin sekali waktu itu dia menangis terharu.
“Yeoboseyo, Oppa.”
Dan, well, Kyuhyun memaksanya memanggilnya Oppa.
“Ne? Kau mau kesini? Nde, annyeong.”
Tepat seperti dugaannya, namja itu pasti kemari. Sooyoung menatap seisi ruangan, berharap dia sudah membersihkan semuanya. Tapi meja dan rak yang terletak di ruang tamu kotor dan berdebu. Sooyoung terpaksa mengganti bajunya dengan kaus rumahan dan membersihkan ruangan. Kenapa dia bisa melupakan kenyataan bahwa dia belum mengelap seisi ruangan? Sooyoung ppabo.
Sooyoung POV
Ketika selesai menyapu dan mengelap seisi ruangan. Aku akhirnya memutuskan bahwa mengepel kedengaran bagus. Mungkin Kyuhyun akan semakin tertarik dengan sikap rajinku ini. Well, kesan pertama harus yang baik-baik bukan? Meskipun kami pernah serumah—seranjang pula—aku tidak yakin dia ingat tipe seperti apa aku ini.
Setelah semuanya selesai, aku mencuci tanganku dan menyeka keringat, lalu kembali memoleskan bedak dan make-up tipis lalu mengganti kaus. Ups, ini urutan yang salah. Kausku merusak make-up-ku. Jadi aku terpaksa mencuci wajahku kembali dan memakai gaunku lalu memoleskan make-up. Aku harus menjepit poniku ke belakang supaya krim pemutihnya bisa merata, tapi bel rumahku sudah menjerit-jerit.
Sialan, bahkan aku belum menyelesaikan make-up-ku dengan rapi. Sebagai gantinya, aku harus puas dengan hanya memakai bedak dan menyisir rambut. Parah, tanpa blush-on merah muda, wajahku terlihat pucat. Tapi jika aku memoleskan blush-on, aku harus mencuci wajahku kembali karena tidak mungkin aku memakai blush-on setelah memakai bedak tipis. Efek bedaknya bisa hilang.
“Sooyoung-ah!” Seru Kyuhyun dari depan, membuatku terpaksa mengakhiri make-up-ku dan harus puas dengan bedak tipis dan lipgloss saja.
“Kenapa lama sekali? Kau melakukan apa saja?” Tanya Kyuhyun heran sambil menatapku dari atas ke bawah. “Kau mau kemana?”
Astaga! Apa dia tidak mengerti bahwa ini hari pentingku!? Apa dia tidak tahu bahwa—sebagai wanita—hari lamaran—atau hari saat aku menjawab lamarannya—adalah hari yang penting? Masa begitu saja dia tidak tahu?!
Uh-oh, coba lihat pakaian yang dikenakannya! Dia memakai kaus dan celana jins saja!! Untuk apa aku berbelanja baju ketika mendapati bahwa dia hanya memakai KAUS?! Kemarin dia terdengar romantis dan menyenangkan dan perhatian, kenapa sekarang dia hanya memakai KAUS?! Apahari saat aku menjawab lamarannya bukan hari untuknya memakai pakaian formal? Aku mungkin akan sedikit menerimanya kalau dia memakai kemeja dengan jins. Tapi ini… Omona~
“Sooyoung-ah? Kenapa kau malah melamun begitu? Ada yang salah? Memangnya kau mau kemana? Kenapa tiba-tiba menggunakan gaun dan bandana begitu? Hei, bahkan itu terlihat lucu untukmu. Dan—high heels? Kau memakai high heels di rumah? Sooyoung-ah? Apakah kau sakit?!”
BRAK.
Pintu itu tertutup seketika.
T B C
Keke, gimana readers? Masihkah jelek? Ini nih upaya aku biar Impostress END-nya agak lama😀
Nggantung banget ya?
Yaah, meskipun jelek Author harap kalian tetap RC and setidaknya menghargai Author sedikit. Author kan lanjutnya cepet ^^
Don’t Be Silent Readers!!
Annyeong~

18 thoughts on “[Chapter 9] Impostress

  1. kyu peak dasar huh.
    oya, maaf bgt aku gabisa comment di part2 sebelumnya, kecuali di blog yg tampilannya kaya gini. aku ga ngerti cara commetnya gimana. maaf bgt ya😥

    Like

  2. Hahaha soo rela merubah enampilan demi kyu tapi malah direspon gt ama.kyu…hahaha dasar kyuhyun pabbo..aaaaakkkkhhhh sumpah suka banget baca ff ini…

    Like

  3. kyu kyu,bner2 bkan namja yg peka..
    Soo udh cpe2 dandan cantik bwt ktmu kyu,eh kyu’e malah biasa az n n’rasa kalo sooyoung aneh..
    Next part az ah pnasaran gmn soo akhr’e…

    Like

  4. Urakan bnget. .
    Kyu gak ngerti perasaAn.y soO. . Hehe. SoO.y jdi ngambek kan. . HmMmMmM. . Go to part end

    Like

  5. omonganmu Kyu, pedes ky cabe -_-
    kan kasian Sooyoung udh dandan cantik2, nah malah elu katain x_x
    happy ending kan thor? iya kan? ya kan? pasti kan thor *plak maksa amat gue😄
    keep writing ^^

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s