[Chapter 1] My Fault


my-fault-coverbyvnjwoon

Title: My Fault

Author: MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

-Other Cast

Genre: Sad, Romance, Love Story

Rating: Teenager

Length: Series

Author Note:

Annyeong ^^

Setelah nge-post, akhirnya Author mutusin utk ngepost ini sekalian. Sebagai permintaan maaf Author karena nglanjut lama -__-

Yaah, chapter ini mungkin aneh, pendek, jelek bla bla bla. Tapi pokoknya tetap RCL yaa ^^

Langsung aja deh, SIDER!! MENJAUHLAH!!

Check It Out!

Happy Reading~

___________

04 May 2006~

Sooyoung POV
“Sooyoung-ah, pokoknya kau harus menikahi dia!” Seru Eomma keras sambil bersedekap. “Kau tahu keluarganya sangat kaya, dan kita mungkin akan kaya juga seperti mereka!”
“Eomma-ya, aku menikah dengan Kyuhyun Oppa bukan karena uang.” Ujarku berusaha tenang. “Tapi karena aku dan dia saling mencintai.”
“Eomma tidak peduli, pokoknya, kau harus berhasil mendapat uang dan tanah-tanah keluarga Cho yang tersebar di Korea!” Jelas Eomma dengan sangat tenang. “Omong kosong apa itu, cinta?! Apa cinta membuatmu kaya?!”
“Eomma… Ini bukan masalah kaya atau tidak. Ini masalah perasaan. Aku tidak mungkin bahagia jika aku menikah dengan orang yang tidak kusukai.”
“Omong kosong, nyatanya aku menikah dengan Appa-mu bukan karena cinta!”
Aku benci ketika Eomma sudah mengatakan tentang ketidak-adanya rasa cinta pada hubungan pernikahannya yang retak delapan tahun lalu, saat Appa pergi bersama wanita lain dan meninggalkanku dan Eomma dalam kebangkrutan yang menyedihkan. Tapi dalam kasusku ini, aku mencintai Kyuhyun. Dan karena Kyuhyun adalah orang kaya, Eomma memaksaku cepat-cepat menikah dengannya. Sejak seminggu yang lalu, Kyuhyun memang sudah melamarku. Tapi aku tidak ingin menikah cepat-cepat, aku ingin menikmati hubunganku dengan Kyuhyun dahulu sebelum berjalan menuju ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi sepertinya Eomma tidak sepikiran denganku, dia menganggap pacaran adalah hal terkonyol yang pernah dia dengar. Dan sekali lagi, aku tidak bisa membantahnya.
“Pokoknya,” kata Eomma lagi dengan sangat tegas. “Besok, kau harus sudah menerima pinangannya.” Lanjutnya sambil berjalan pergi, meninggalkan aku dalam kebingungan.
_____________
“Aku menerimamu, Oppa.” Kataku. “Apa tidak sebaiknya pertunangan dilakukan cepat-cepat?”
“Ya, tentu.” Ujar Kyuhyun dengan semangat yang tinggi. Matanya berbinar ceria dan senyumnya berkembang di bibirnya. “Appa-ku sudah lama menanyakan ini.”
Aku merasa aku adalah wanita terjahat di dunia ini, karena menginginkan pernikahan untuk uang. Meskipun, aku juga mencintainya.
“Sekarang, ayo kita pergi berbelanja. Sebelum aku kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan. Lalu mengambil cuti untuk acara pertunangan dan pernikahan kita.” Dia mencubit hidungku pelan, yang membuat aku tertawa.
“Ah, ya. Itu terdengar romantis.” Ujarku semangat, meski rasa tidak nyaman itu masih menggelayut dalam hatiku. “Kita akan berbulan madu kemana?”
“Mmm, aku tidak tahu apakah keluargaku menginginkan tempat yang jauh. Mungkin ke Prancis?”
“Tidak, tidak.” Kataku menolak. “Itu terlalu mahal. Menurutku, Jeju saja cukup.”
Kyuhyun tertawa dan mencubit pipiku. “Tidak ada yang terlalu mahal bagimu, baby. Tapi—baiklah, seperti yang kau minta. Jeju!”
Aku tertawa riang. Aku tidak ingin membuatnya menghabiskan banyak uang untukku. Toh pada akhirnya, aku akan memoroti dia seperti yang diinginkan Eomma.
“Baiklah, ayo kita pergi ke toko cincin.” Ajaknya sambil menarik tanganku agar berdiri. Lalu kami berjalan bergandengan menuju mobilnya yang terparkir rapi di dekat sebuah pohon, dia mengeluarkan kuncinya lalu membuka pintunya untukku dan mempersilakan aku masuk, sebelum dia kembali ke pintu yang lainnya untuk dirinya sendiri. Aku selalu merasa menjadi princess dalam serial kartun Disney ketika bersamanya. Tuhan, bolehkah aku melakukan hal ini ketika niat jahat ada di hatiku?
Kyuhyun menyalakan radio tape dan mencari lagu yang cocok untuk keadaan kami saat ini. Dia menemukannya, lagu mellow yang berlirik lagu bahagia sudah mengalun dengan lembut di mobil.
“Kau ingin emas putih, atau emas biasa?” Tanya Kyuhyun ketika mobilnya membelok ke arah toko perhiasan terkenal di Seoul.
Aku tersenyum. Tidak tahu harus memilih apa, toh mungkin cincin itu akan digadaikan oleh Eomma-ku setelah acara pernikahan selesai. Aku tahu, saat acara pernikahan, Kyuhyun akan memberikan cincin yang berbeda lagi—milik keluarganya turun-temurun, Eomma-nya pernah memberitahuku tentang ini—yang artinya cincin yang dia beli untukku tidak akan digunakan.
Kyuhyun kembali membukakan pintu dan menarikku lembut keluar, dia bergegas menyalakan alarm dan menggandeng lenganku protektif—meski aku tahu dia bukan tipe laki-laki yang marah melihatku bersama namja lain jika kami tidak memiliki hubungan.
“Aghassi, kami mencari cincin.” Ujar Kyuhyun kepada pelayan yang tersenyum dengan rambut bersanggul rapi.
“Ne, chankamman. Anda menginginkan emas putih atau emas biasa?”
Seperti pertanyaan Kyuhyun saja!
“Emas putih, dengan mata berlian.”
“Oppa—tidak perlu berlian!” Tolakku langsung. “Aku—aku tidak suka berlian, jangan berlian—”
“Omong kosong. Kemarin kau bilang bahwa kau ingin cincin seperti milik aktris Song Hye Kyo yang berlian itu.”
“Itu—itu kan saat itu… Sekarang, sekarang berbeda lagi.” Aku kelabakan mencari alasan yang tepat.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya kepadaku, dan mengangguk kepada pelayan itu. Sehingga pelayan itu berjalan menuju ke sebuah rak kaca dan mengeluarkan sebuah kotak besar berisi cincin yang banyak—serta sangat indah. Pelayan itu menyodorkan kotak itu kepadaku, sambil tersenyum dan menunjuk-nunjuk cincin di dalam sana.
“Ini, silakan memilih Nona dan Tuan.” Kata Pelayan itu tenang sambil tersenyum lebar.
Aku hampir saja ternganga, tapi untungnya Kyuhyun pernah menunjukkan sebuah catalog yang menunjukkan sebuah cincin dengan mata berlian super besar dan puluhan kali lipat lebih cantik dan mahal. Aku memandangi cincin itu satu-persatu, semuanya indah dan terkemas dalam model-model mata berlian yang cantik.
Pandanganku tertuju kepada sebuah cincin emas putih yang memiliki mata kecil-kecil, namun sangat indah. Aku menyukainya hanya dalam sekali lihat. Lagipula, cincin dalam kotak itu memiliki mata berlian yang besar, dan itu pasti mahal. Sudah kubilang, aku tidak ingin memberatkan Kyuhyun dengan cincin yang nantinya hanya akan dijual. Aku memandang Kyuhyun dan mendapati bahwa dia sedang memandangiku. Tatapannya mesra dan intens sekali. Ah, pasti itu yang membuat pipiku memerah.
“Mmm, Oppa, bagaimana dengan yang ini?” Tanyaku sambil menunjuk cincin yang kusukai itu.
“Sooyoung-ah, kau tahu kau bisa mendapatkan lebih dari ini.” Ujar Kyuhyun sambil tersenyum manis kepadaku. Ah, andai saja dia mengetahui niatku. Mungkin saja sekarang dia sudah menamparku dan meludahiku, mungkin.
“Tidak. Ini, atau tidak.” Kataku keras kepala. Tidak, Kyuhyun Oppa. Aku tidak ingin memberatkanmu.
“Baiklah, tolong yang ini.” Ucap Kyuhyun kepada pelayan itu.
Beberapa menit kemudian, pelayan itu kembali sambil menyodorkan paper bag bewarna silver mungil yang cantik berisi cincin tadi. Kyuhyun menyerahkan uang dan pelayan itu kembali masuk—mungkin untuk mengambil kembalian.
“Kajja, kita pulang.” Kata Kyuhyun setelah menerima uang kembalian itu. Dia kembali menggandeng lenganku, dan sedikit menyeretku. Jarak antar tubuh kami sempit sekali. Bahkan mungkin tidak ada. Tapi aku sama sekali tidak merasa keberatan, dia adalah kekasihku, calon pengantin untukku. Dan lagipula, aku tidak pernah sekalipun merasa risih dengan perlakuannya kepadaku. Cinta memang sangat indah.
Ketika kami sudah duduk di dalam mobil, Kyuhyun menatapku—bahkan lebih intens dari tadi—dan tidak tahu bagaimana hal itu terjadi, bibirnya sudah menempel di bibirku.
__________
“Kau menginginkan gaun yang mana? Atau, mungkin kau bisa memberitahukan kepada Mrs. Kim ini warna yang kau inginkan?” Tanya Kyuhyun sambil memandangku dengan senyumannya yang membuatku meleleh.
Mrs. Kim—desainer khusus keluarga Cho sudah menunggu sejak tadi—melihatku mengelilingi butik wedding dress-nya yang lebar dan luas yang berisi puluhan atau malah ratusan gaun-gaun yang sangat indah sekaligus mahal.
“Mmm, apa kau menginginkan gaun bewarna putih seperti pengantin umumnya?” Tanya Mrs. Kim sambil tersenyum ramah.
“Tidak, jangan putih.” Kudengar suaraku parau dan mencicit. “Hitam, aku ingin gaun hitam.”
“Soo—apa yang kau pikirkan? Masa kau ingin berpakaian hitam dalam pernikahan kita? Seakan-akan kita sedang berduka saja!” Tutur Kyuhyun.
Tidak, aku tidak akan pernah memakai gaun bewarna putih dalam pernikahanku dengan Kyuhyun. Tidak, selama aku masih bisa memilih warna lain. Kalian tentu bisa menebak alasanku. Aku tidak sesuci warna putih—lambang kesucian. Aku kotor, dan jahat, dan kejam. Warna putih hanya akan membuatku terlihat semakin jahat. Hanya hitam yang bisa melambangkanku. Hitam. Karena hitam dianggap warna kotor dan kadang diartikan kegelapan dan kejahatan. Maka, warna yang paling cocok untukku dan semua niatku adalah Hitam.
“Oppa, aku terlihat aneh memakai warna putih. Tolonglah, aku ingin sekali memakai warna hitam dalam gaunku.” Ujarku memohon. Suaraku terdengar sangat menyedihkan.
“Baiklah, Mrs. Kim. Hitam, tolong buatkan gaun bewarna hitam.” Kyuhyun tampak sedikit bingung dengan sikapku dan memandangiku. “Kau ingin model seperti apa, Soo?”
Aku terdiam. Mataku memandangi setiap gaun-gaun yang dipajang di dinding butik yang bersih. Mataku mulai memandangi satu-persatu, dan pandanganku terjatuh kepada sebuah gaun panjang sekali, yang mempunyai lengan sesiku yang melebar pada bagian bawah lengan. Pada lehernya, terdapat sebuah renda yang membentuk kerah tinggi. Sementara bagian dadanya sedikit ke bawah. Gaun itu sangat cantik sekaligus sederhana. Ada sebuah pita dan tali-tali pendek pada bagian dada dan sebuah bros rubi ditempelkan di depan pita besar itu.
“Aku ingin itu!” Kataku spontan.
Mrs. Kim mengangguk. “Memang, menurutku kau akan sangat cantik jika memakai gaun itu, Sooyoung-ah. Aku akan menyiapkannya dalam sebulan. Apakah kau ingin perombakan sedikit atau sama seperti itu saja?” Tanyanya.
“Seperti itu saja.” Sahutku sambil memandangi gaun itu lagi. Semoga saja harganya tidak semahal gaun yang lainnya. Mrs. Kim mengeluarkan meteran dan mengajakku masuk ke ruangan tertutup—seperti kamar pas—di pojok ruangan. Mrs. Kim menutup pintu dan memandangi tubuhku dari atas ke bawah. Aku ketakutan. Mungkin saja dia bisa melihat niat jahat yang tersimpan rapat di balik topeng wajahku kini. Aku menghela napas.
“Sooyoung-ah, bisakah kau melepas pakaianmu dan membiarkanku mengukur tubuhmu? Pakaianmu terlalu tebal. Bisa-bisa gaun yang kau pesan kebesaran karena salah ukuran.”
“Ah, ne.” Desahku lega. Tentu saja dia hanya ingin mengukur tubuhku! Bodohnya aku!!
__________
Aku tidak percaya bahwa hari ini memang hari pernikahanku. Bagaimana mungkin hidupku yang singkat—dan menyedihkan—akan dimulai? Well, menurutku hidup baru dimulai setelah aku menikah. Dan kini aku hampir menikah. Tidak bisa dipercaya.
“Sooyoung-ah, ayo cepat!” Seru Appaku sambil mendengus. Dia terpaksa datang sebagai waliku. Aku tidak punya kakak laki-laki. Jadi dengan sangat terpaksa aku meminta Appa datang.
“Ne, Appa.” Aku memandangi wajahku yang terpampang di kaca sekali lagi. Make-up-nya sempurna. Keluarga Cho menyewa banyak sekali tukang make-up—aku lupa apa namanya—yang sangat professional. Belakangan aku mengingat bahwa aku pernah melihat mereka di teve sedang merias wajah para aktris Korea terkenal. Gaun hitamku—yang tampak sangat rapi seolah diseterika puluhan ribu kali—terlihat manis dan melekat pada tubuhku dengan apik. Bukannya aku memuji diriku sendiri atau apa, aku hanya merasa cantik di atas kegelapan hatiku.
Appa menyodorkan lengannya kepadaku—bersamaan dengan musik sakral dari piano di pojok ruangan dimainkan—aku memasukkan lenganku ke tengah-tengah lengannya dan kami berjalan diiringi tatapan iri para yeoja teman-teman Kyuhyun sewaktu sekolah dan teman-teman yeojaku yang tampak terharu melihatku berdiri. Namun ada satu hal yang membuatku sedikit terganggu, tampaknya mereka merasa sangat terganggu melihatku memakai warna hitam. Memang, atas kemurahan hati serta kekayaan keluarga Cho, mereka membuat gereja besar itu dihiasi dengan nuansa hitam putih. Dinding-dindingnya yang memang bewarna putih, diberi hiasan bewarna hitam gelap. Kyuhyun memakai tuxedo bewarna putih bersih, terlihat sangat bersih dan bersinar. Sedangkan aku terlihat gelap, menyedihkan, dan redup.
Kyuhyun menyambutku dan melemparkan sebuah senyuman manis kepadaku. Aku mengangguk kepadanya dan berjalan di sampingnya. Kami berdua bergandengan dan menghadap ke pastor yang sudah menunggu ingin segera mengucapkan janji-janji setia ala pernikahan.
__________
Aku menangis. Benar-benar menangis.
Air mataku menetes-netes dengan cepat, membasahi gaun hitam yang kukenakan seolah-olah mataku adalah air mancur yang tidak akan berhenti mengucurkan air dengan deras. Belum genap sehari pernikahanku berlalu, aku sudah menangis.
“Jadi selama ini hanya UANG yang ada di otakmu Choi Sooyoung?!” Bentak Kyuhyun dengan amarah meluap-luap dan menunjukku seolah-olah aku adalah sampah.
Aku kecewa kepada diriku sendiri sekaligus kepadanya.
“Kalau begitu, KAU HANYA MENGINGINKAN UANG DARI PERNIKAHAN INI CHOI SOOYOUNG SIALAN?!” Bentaknya lagi, kali ini volume suaranya melengking tinggi.
Aku semakin terpuruk dalam lembah kegelapan hatiku sendiri.
Dia benar. Aku memang Choi Sooyoung sialan. Aku memang begitu…
“JAWAB AKU CHOI SOOYOUNG!”
Bukannya suaraku yang keluar, malah air mataku yang mengalir semakin deras. Dia memang mengetahui segalanya. Niat jahatku. Semuanya. Seandainya Eomma tidak menyeretku keluar dari ballroom gereja menuju ke kamar mandi dan membisiki tentang rencananya yang harus aku lakukan. Kyuhyun memang tidak menumpahkan semua amarahnya secara langsung kepadaku. Dia menunggu ketika kami benar-benar berdua. Aku tidak tahu bahwa dia tahu. Yang aku tahu, tiba-tiba dia menatapku tajam dan mengatakan tentang niat busuk Eommaku.
“Bagus, kalau kau tidak mau menjawab. Aku mengambil kesimpulan bahwa jawabannya adalah ya.” Kyuhyun menghela napas, tampak sangat tinggi di atasku. Setiap ucapannya seperti algojo yang memotong-motong tubuhku sedikit demi sedikit. Sementara aku, kecil, tidak berdaya, lemah, dan tidak tertolong lagi.
“Oppa—” Air mataku kembali mengalir di pipiku ketika suaraku akhirnya kembali. “Tolong—dengarkan…” Hilang kembali.
“AKU TIDAK PEDULI!” Suara Kyuhyun kembali meninggi. Dia berbalik dan menghilang di ruangan lain. Aku menunduk—keadaanku benar-benar tidak karuan, bersimpuh di lantai dengan wajah dan pakaian yang tidak karuan—berusaha mencari jalan keluar agar pernikahan kami tidak kandas begitu saja…
Beberapa saat kemudian, suara ketak-ketuk suara sepatu Kyuhyun terdengar. Aku kembali mendongak, seolah menantinya memukulkan algojonya di atas kepalaku.
Dia membawa berkas-berkas dalam amplop besar cokelat dan sebuah koper kecil di tangannya yang lain. Kyuhyun melemparkan semuanya di hadapan wajahku.
Brak.
Barang-barang yang dibawanya berserakan di hadapanku, mengiringi air mataku yang mengalir semakin banyak. Membuatku yakin sekali aku akan buta jika mengeluarkan air mata lagi.
“Ini semua adalah kekayaanku yang KAUINCAR! JADI SILAKAN MAKAN ITU!” Seru Kyuhyun sambil menendang koper itu ke arahku sehingga terbuka. Isinya adalah puluhan tumpuk uang. “DAN INI, ADALAH SURAT-SURAT TANAH KELUARGA CHO YANG RENCANANYA KAU CURI ITU!”
“Sekarang, ini semua untukmu! Selamat tinggal!!”
Langkah kakinya menjauh, meninggalkanku sendirian, ketika akhirnya terdengar suara pintu utama tertutup dengan sangat keras.
Lalu segalanya menjadi gelap.
____________
Aku terbangun ketika bermimpi jatuh di lembah yang sangat curam. Hal pertama yang aku lihat adalah setumpuk uang. Uang itu membuatku sadar bahwa sekarang aku memang sendirian. Ditinggalkan begitu saja.
Kepalaku berdenyut nyeri dan seluruh tulangku seakan terlepas dari persendian, mataku juga terasa panas dan sangat berat—bahkan untuk sekedar dibuka. Aku berusaha keras bangkit, memandangi semua amplop yang berserakan di depanku.
Ucapan-ucapan menyakitkan Kyuhyun kemarin seolah menyihirku. Aku kembali menggigit bibir, berusaha keras agar tidak menangis. Mungkin banyak pengantin baru yang menangis ketika merindukan keluarga mereka, tapi tidak ada yang menangis, sadar bahwa dirinya hanya pengantin baru menyedihkan yang tidak diperlukan dan ditinggalkan begitu saja. Kecuali aku.
Dengan langkah sempoyongan, aku berjalan menuju kamar kami. Kemarin Kyuhyun mengajakku ke rumah ini dan menunjukkan dimana kamar kami nantinya. Aku tersenyum kecut, seakan sadar diri bahwa aku hanyalah orang buangan, bahwa kami tidak akan pernah berbagi kamar. Selamanya, mungkin.
Ketika memasuki kamar, hatiku seakan dihantam berkali-kali oleh palu besar bergerigi yang sangat menyakitkan. Kamar itu dihias dengan begitu banyak bunga sehingga ketika pintu terbuka, aroma bunga itu akan melesak keluar dengan cepat. Namun, seperti nasibku, banyak bunga diantaranya layu dan mengerut. Sama sepertiku. Kulangkahkan kakiku dengan berat dan dengan tubuh bergetar hebat menuju ke tengah kasur yang ditaburi oleh bunga-bunga mungil yang membaurkan aroma segar. Air mataku kembali menetes-netes membasahi seprainya yang sehalus sutera.
Hanya satu yang membuatku sadar,
dering ponsel.
Aku yakin sekali bahwa itu adalah nada dering ponselku yang baru. Nada deringnya terdengar ke seisi ruangan. Aku bangkit dari kasur dan mulai mencari dimana letak ponselku. Gaun hitam yang kusut ini memberatkan langkahku sehingga beberapa kali aku hampir terjatuh ketika menginjak bagian bawahnya. Akhirnya aku menemukannya di bawah meja. Mungkin kemarin Kyuhyun tanpa sengaja mengamuk—membantingi isi tasku dan perabot rumah. Aku mengambilnya dan mendapati bahwa sebuah panggilan dari Bibiku masuk.
“Annyeonghaseyo, Bibi.” Sapaku berusaha ceria, meski suara serak dan parauku terdengar sangat jelas.
Sooyoung-ah, tolong dengarkan ini baik-baik. Dan tolong berpegangan pada sesuatu.” Kata Bibi sambil menghela napas. Aku mengerutkan dahi, namun tak urung mundur untuk bersandar pada sebuah rak besar. “Sooyoung-ah, tadi malam, Eomma-mu… Meninggal.”
Dan, seolah air mata yang kukeluarkan semalam belum cukup juga, air mataku membludak.
Kemana semua kebahagiaanku?! Kemana?
Aku bersimpuh, menangis terisak cepat dan dalam. Tanganku yang memegangi ponsel terjatuh layu di samping tubuhku yang bergetar keras.
Mungkinkah…
Mungkinkah gaun ini adalah gaun kegelapan yang benar-benar nyata?!

T B C
Hehe, gimana? Jelekkah? Atau feelnya dapet? 
Mian ne, kemarin gak bisa dibuka -__-
sekarang udah bisa kah?
Kalo iya sih alhamdulillah ._.
Tetep RCL yaa ^^    

20 thoughts on “[Chapter 1] My Fault

  1. Hiks hiks … Pdahal itu bukan slah soo kn eommanya yg nyuruh bgitu
    eomma soo mninggal trus soo gmna dgn uang” itu
    kyuhyun ngeri banget marahnya
    sangat ditunggu klnjutannya🙂

    Like

  2. sedih amat br aja nikah dan blm sempet ML eh dah pisah…emak’a soo gila harta ga sabaran bgt dah kepengen dapet harta eh skrng malah mati…cepat dilanjut chingu

    Like

  3. hiks hiks😦 nyesek nyesek😦 baru nikah udah bertngkar~ tega bnget eommanya😦 miris~ KyuYoung harus bersatu~ next partnya ditnggu^^

    Like

  4. nyesek chingu sungguh malang nasib soo onnie. ommanya yg gila harta tega. disaat seharusnya merasakan bahagyanya pengantin baru hrus berakhir dg air mata. kyuppa udah tau semuanya. apakah yg trjdi selanjutnya dg mereka?
    chingu jngn bt sad ending y T.T
    next part dtnggu

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s