[Chapter 2] My Fault


my-fault-coverbyvnjwoon

Title: My Fault

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

Cho Kyuhyun

-Victoria Song

-Other Cast

Genre: Sad, Romance, Love Story

Length: Series, Chaptered

Rating: Teenager

Author Note:

Annyeong~

Author cepet kan ngelanjutnya? Kasih applause dong -_-

Ini 9 halaman loh, jadi lumayan panjang. Tapi mungkin ini jelek dan acakadut, dan SAD GAGAL!!

Jadi mian ya kalo gak sesuai harapan -__-

Langsung aja ya, yang penting jangan lupa tingggalkan komentar dan jejak kalian disini ^^

Check It Out!

Happy Reading~

________________

Chapter 1~
Kemana semua kebahagiaanku?! Kemana?
Aku bersimpuh, menangis terisak cepat dan dalam. Tanganku yang memegangi ponsel terjatuh layu di samping tubuhku yang bergetar keras.
Mungkinkah…

Mungkinkah gaun ini adalah gaun kegelapan yang benar-benar nyata?!

Chapter 2~
15 June 2011~
 
Author’s POV
Yeoja itu kembali sibuk menata hiasan di meja itu. Tangannya bergerak mengelap dan mengangkat piranti—seperti vas bunga, tempat sendok, dsb.—dari atas meja. Rambutnya yang panjang bergelombang digelung ke atas dengan sebuah karet bewarna hitam. Debu-debu tipis menghiasi wajahnya. Yeoja itu baru berhenti ketika seorang pelayan menghampirinya.
“Nyonya, Kim Ahjumma meminta Nyonya segera pulang.”
Yeoja itu—Cho Sooyoung—mengangguk sekilas lalu bergegas berbalik menuju ke arah dapur tempat semua pelayan berkumpul.
Sudahkah kalian memahami kehidupannya?
benar, hancur.
Kehidupan Sooyoung seakan-akan mati begitu saja. Lima bulan setelah ditinggalkan—atau dibuang—Sooyoung memutuskan akan membuka usaha sendiri supaya hidupnya tidak bergantung kepada uang serta tanah yang diberikan Kyuhyun dengan Cuma-Cuma padanya. Akhirnya, Sooyoung memutuskan akan membuka sebuah kafe mungil, kebetulan Kyuhyun memiliki tanah di dekat rumahnya sekarang.
Selesai mendirikan kafe, Sooyoung menyadari bahwa dia membutuhkan tenaga kerja, dan akhirnya dia mempekerjakan Kim Ahjumma di rumahnya. Baginya, Kim Ahjumma adalah Eomma-nya yang selama ini menghilang. Sooyoung begitu menyanyangi Kim Ahjumma dan seluruh pegawainya sekarang. Mereka semua baik. Dan mereka semua tahu bahwa Sooyoung adalah yeoja yang ditinggalkan…
Sooyoung menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir semua kenangan pahit yang dialaminya itu. Inilah kehidupannya sekarang. Setiap hari, dia selalu berusaha menyibukkan dirinya dengan pekerjaan—apa saja, yang penting pikirannya teralihkan dari Kyuhyun dan kenangannya yang selalu menyakitinya…

___________

“Ada apa, Ahjumma?” Tanya Sooyoung ketika dia selesai meletakkan tasnya dan melepas sepatu. “Kenapa tiba-tiba menyuruhku pulang?”
“Tadi ada yang menelepon,” sahut Kim Ahjumma sambil memandang Sooyoung kasihan. “Penelepon itu bilang, tuan akan segera pulang.”
Sooyoung’s POV

“Tadi ada yang menelepon, Penelepon itu bilang, tuan akan segera pulang.”
Kalimat itu seolah air es yang diguyurkan di seluruh tubuhku. Kim Ahjumma kembali menatapku, seolah aku akan jatuh berdebam seperti dulu. Aku mencengkeram erat bagian bawah kausku dan memandangi Kim Ahjumma. Berusaha menemukan suaraku yang menghilang di tenggorokan.
“Kapan?” Tanyaku, setelah suaraku yang parau kembali.
“Tidak tahu,” Kim Ahjumma menggeleng.
Sebenarnya, tidak ada yang tahu siapa ‘Tuan Cho’ itu. Bahkan, Kim Ahjumma yang notabene orang terdekatku sekarang hanya tahu bahwa Kyuhyun meninggalkanku karena sebuah alasan yang bahkan tidak diketahuinya. Aku menutup diriku rapat-rapat dari dunia luar. Kubiarkan semua orang mengambil kesimpulan mereka tentang diriku sendiri. Entah itu hal yang baik, atau malah buruk. Aku tidak peduli. Karena memang aku lebih buruk dari itu.
“Apakah orang itu menitipkan pesan?” Tanyaku.
“Tidak,”
“Ne, gomawo Ahjumma.” Ujarku cepat-cepat lalu berlalu ke dalam kamarku. Ketika sudah sendirian, seketika perasaan itu kembali terasa sekali. Seakan-akan kekandasan pernikahanku baru terjadi sedetik yang lalu dan bukannya lima tahun yang lalu. Hatiku rasanya kembali sakit. Dan bahkan aku menghela napas panjang supaya pernapasanku yang sesak kembali lancar. Tidak terjadi.
Semuanya selalu berbalik arah dari yang kuinginkan. Aku ingin tidak menangis, tapi air mataku berkumpul dengan sangat cepat. Aku ingin melupakan Kyuhyun, tapi justru perasaanku itu semakin besar.
Aku menyandarkan kepalaku ke balik pintu, berusaha meresapi kenyataan bahwa mungkin Kyuhyun pulang hanya untuk mengambil semua hartanya kembali, atau menceraikanku. Tapi—meski aku yakin itu benar—aku tetap berharap Kyuhyun kembali karena aku. Aku sebagai anaenya, dan karena dia mencintaiku. Bukan hal langka lagi mendengar Kyuhyun dekat dengan seseorang di luar negeri. Sepupu-sepupu Kyuhyun—yang telah mengetahui tentang niatku saat itu—selalu dengan sengaja menggosip keras-keras tentang hubungan terbaru Kyuhyun dengan wanita terbarunya. Dan aku tahu dengan sangat jelas, bahwa hatiku seakan dipotong kecil-kecil sebelum akhirnya dimusnahkan. Yang terakhir—Eun Gi, salah satu sepupu Kyuhyun yang membenciku—berkata bahwa Kyuhyun akan segera datang dan mengurus perceraian kami dan dia akan menikah dengan yeoja lainnya yang berhasil menarik hatinya.
Aku yakin sekali, saat itu aku menggigit bibir keras-keras, berusaha meredam emosi dan rasa sakit hati yang begitu menumpuk dan dalam di hatiku. Dan Eun Gi malah semakin semangat bercerita, mengolok-olok tentangku, dan ibuku.
Ah, tentu saja. Ibuku memang sudah tidak ada. Semuanya meninggalkanku. Seakan aku adalah sampah yang harus hidup dengan rasa sakit, dan patah hati. Tapi, aku selalu beranggapan bahwa Tuhan punya rencana indah di balik segalanya. Dia pasti datang dan menolongku, membantuku mengeringkan luka-lukaku, dan—mungkin—mencarikan namja lain yang mencintaiku.
______________

Kupandangi seseorang yang sekarang berdiri di hadapanku. Mataku memanas, seolah bersiap mengeluarkan air mata. Aku menggigit bibirku dengan keras, berharap air mataku tidak mengalir sekarang.
Dia sudah pulang.
Kembali.
Kesini.
Hanya untuk menceraikanku
“Selamat datang,” kataku dengan suara sangat parau. “Apakah harimu berjalan menyenangkan?”
“Tidak.” Sahutnya dingin, yang membuat senyumku mulai menghilang.
Jelas saja. Dia tidak menyukai ketika dia harus meninggalkan yeoja-nya dan mengurus surat perceraian denganku.
“Baiklah, Ahjumma,” panggilku. “Tolong antarkan tuan ke kamarnya.”
Kim Ahjumma memandangku, seolah memastikan bahwa aku tidak gila. Tapi aku hanya mengangguk.
Sebenarnya, Kim Ahjumma menanyakan apakah aku benar-benar akan memberikan kamar Larangan itu untuk ditinggali Kyuhyun. Kamar itu sudah terkunci selama lima tahun… Kamar Pernikahan kami…

Author’s POV

Kim Ahjumma menunjukkan kamar itu. Kamar yang selalu Kyuhyun ingat, bahkan sampai sekarang. Ketika wanita paruh baya itu berhasil membuka kunci pintu, Kyuhyun yakin sekali melihat raut sedih dari wajah wanita itu.
Dengan pelan, Kim Ahjumma berkata, “Ini kamarnya, apakah Tuan bisa mengangkat dan membereskan barang-barang Tuan sendiri?”
Kyuhyun hanya mengangguk, menyeret kopernya masuk ke dalam. Dia tersentak ketika melihat ruangan itu. Sama persis dengan pertama kalinya dia mengajak Sooyoung melihat kamar.
Kamar itu masih bernuansa cerah, dengan bunga bertaburan, dengan dua nakas di kanan-kiri kasur, dan dengan lima buket bunga mahal yang digantung di setiap sudutnya. Kyuhyun ingat sekali ketika keluarganyalah yang memaksa untuk menghias kamar ini. Dan, kamar ini tidak mengalami perubahan sedikitpun. Namun, bunga-bunga yang digantung itu diganti dengan bunga imitasi yang sama persis dengan bunga aslinya. Dan seisi kamar itu bersih dan terlihat wangi. Kasurnya yang berseprai putih dengan selimut dan sarung bantal biru tertata rapi. Seprai yang sama dengan waktu Eommanya memasangkan seprai itu…
Hati Kyuhyun serasa ditohok oleh tombak tajam. Dia teringat tentang pernikahannya. Dia teringat tentang segalanya. Dia teringat dengan kenyataan bahwa dia mendengar Sooyoung dan Eommanya mengatakan bahwa mereka hanya menginginkan uangnya saja…
Lalu kenapa Sooyoung terlihat sangat sedih, dan bahkan menangis-nangis ketika dia meninggalkannya begitu saja? Kenapa Sooyoung bahkan tidak menempati kamar ini? Kenapa Sooyoung bahkan memintanya untuk tetap tinggal?
Kyuhyun merasa dunianya mulai mengabur…

_______________

“Bagaimana harimu, menyenangkan?” Tanya Sooyoung ketika Kyuhyun duduk di meja makan, tepat di depannya. Sementara Kim Ahjumma duduk di samping Sooyoung.
“Tidak terlalu.”
“Ah, mianhae karena memberimu kamar yang itu.” Sooyoung mendapati suaranya bergetar. “Tapi hanya kamar itu yang pantas denganmu, Kyuhyun-ssi.”
Bahkan Sooyoung sudah tidak memanggilnya Oppa lagi…
“Gwenchana.” Ujar Kyuhyun dingin sambil menatap piring berisi nasi dan lauk yang diambilkan Sooyoung untuknya. Dengan tangan kanannya, Kyuhyun menarik piring itu dan memulai acara makannya. Masakan Sooyoung sama sekali tidak berubah, bahkan menjadi lebih enak. Ini salah satu hal kenapa Kyuhyun yakin sekali menikahi Sooyoung. Karena yeoja itu begitu menarik, perhatian, ramah, dan pandai memasak. Dan hanya satu hal yang membuat Kyuhyun kecewa kepadanya, rencana busuknya itu.
“Aku sudah selesai. Apa kau ingin pergi denganku? Aku membangun sebuah kafe di dekat sini.” Ujar Sooyoung sambil meringis tidak enak.
“Aku ikut.” Kyuhyun ingin melihat kafe itu. Dia penasaran, lagipula, tanpa mendirikan kafepun, Sooyoung bisa kaya jika menjual tanah miliknya ataupun menyewakannya.
“Aku pergi dulu Ahjumma,” ujar Sooyoung kepada Kim Ahjumma sambil membungkuk yang membuat Kyuhyun heran. Kim Ahjumma hanya sebagai pelayan saja, tapi kenapa kelihatannya gadis itu begitu menghormatinya?! Tapi tak urung Kyuhyun ikut membungkuk dan segera mengikuti Sooyoung di depannya.
Sesampainya mereka di kafe Sooyoung, Kyuhyun kembali terpana melihat besar dan ramai kafe yang tidak bisa dibilang mungil itu. Sekarang, keyakinan Kyuhyun tentang Sooyoung yang hanya menginginkan uangnya saja mulai menyurut.
“Ayo masuk. Mian, kafe itu mungkin tidak pantas.” Ajak Sooyoung sambil tersenyum manis. Hampir sama dengan senyumnya kepada Kyuhyun ketika mereka masih dalam tahap berpacaran. Namun, senyum itu memiliki perbedaan yang begitu kentara. Sejak ditinggalkan Kyuhyun, Sooyoung tidak pernah tersenyum dengan ceria. Senyumnya hanya dengan separuh hatinya. Dan Kyuhyun tahu itu…
“Kafe milikmu sangat ramai.” Ujar Kyuhyun tanpa sadar.
“Ah, ini karena jam makan pagi. Nanti juga mulai menyepi, kajja kuantar kau berkeliling. Atau kau ingin duduk saja dan makan sesuatu?”
“Tidak.”
Sooyoung mengangguk dan mulai melangkah mengelilingi kafe itu. Beberapa pelanggan setianya mengangguk atau tersenyum kepadanya.
Setelah beberapa menit berkeliling, Sooyoung menyuruh Kyuhyun duduk di salah satu meja. Dia sendiri berjalan menuju ke dapur setelah menyuruh Kyuhyun menunggu. Beberapa saat kemudian, Sooyoung sudah kembali sambil membawa baki berisi camilan—khas kafe—dan minuman segar.
Matahari mulai cerah, dan sekarang menjadi panas.
Ketika mereka berdua duduk berhadapan. Sooyoung merasa hatinya melambung tinggi dengan sangat cepat. Seakan Kyuhyun tidak pernah meninggalkannya sendirian. Seolah dia sekarang sedang bermesraan dengan Kyuhyun.
“Apa maksud kedatanganmu kesini?” Tanya Sooyoung akhirnya dengan suara serak. Ingin sekali dia berharap bahwa Kyuhyun datang kesini bukan untuk menceraikannya. Tapi—setelah apa yang dia lakukan terhadap namja itu—rasanya permintaannya itu terlalu besar dan tidak akan pernah dikabulkan.
“Memangnya tidak boleh?”
“Tentu saja boleh.” Sahut Sooyoung cepat. “Itu kan rumahmu, bukan rumahku. Aku hanya berpikir, mmm, kalau-kalau kau berniat mengusirku?” Matanya mulai berkaca-kaca.
Dengan cepat Kyuhyun mendongak. “Apa maksudmu dengan mengusir?! Itu rumah kita!” Serunya cepat.
Sooyoung tersenyum sedih, tahu bahwa dalam hati Kyuhyun tidak akan seperti itu. Lambat laun, Kyuhyun akan menceraikannya dan kata ‘rumah-kita’ akan segera berganti menjadi ‘rumahku-bukan-rumahmu’.
“Nyonya, ada satu pelanggan yang meminta bertemu dengan nyonya.” Kata seorang pelayan sambil tersenyum.
“Ah, ne. Mianhae Kyuhyun-ssi. Apa kau berencana pulang atau duduk disini sampai aku pulang?”
“Aku pulang saja.” Jawab Kyuhyun lalu kembali menatap Sooyoung. “Apakah aku perlu membayar?”
“Oh, tentu tidak.” Sooyoung melambaikan tangannya seolah berkata ‘tidak’. “Tidak perlu. Apa kau masih ingat jalan pulang?”
Kyuhyun mengangguk sekilas lalu berjalan pergi.
Sebenarnya, dia punya misi yang membuatnya kembali ke Korea. Appa-nya memintanya untuk kembali, dan Eommanya bahkan sampai menangis memintanya untuk memaafkan Sooyoung. Memang, ketika Kyuhyun membuat keputusan akan pergi meninggalkan Sooyoung, Eomma-nya yang begitu percaya dan perduli kepada Sooyoung menolak dan marah besar. Eomma-nya bilang bahwa dia sama saja dengan orang terjahat di dunia. Lalu Eomma-nya mulai mengatakan bahwa dia tidak mempercayai hal yang didengar Kyuhyun. Bisa saja yang memiliki niat buruk itu Eomma Sooyoung dan bukannya gadis itu. Tapi saat itu Kyuhyun merasa buta karena amarah besar dan tetap memaksa meninggalkan Sooyoung.
Lalu, sebulan yang lalu Appa-nya menelepon, memintanya untuk mengurus perusahaan yang terbengkalai karena Appa-nya sibuk dengan cabang barunya di Amerika. Keluarga Cho hanya memiliki satu keturunan laki-laki, jadi dengan sangat terpaksa mereka menyuruh Kyuhyun pulang. Dan Kyuhyun memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Sooyoung sekalian.
______________
Sooyoung’s POV

Aku mengempaskan tubuhku di atas kasurku yang tidak terlalu lebar. Kasur pernikahanku memang dipakai Kyuhyun. Aku sengaja tidak merubah tatanannya, hanya untuk membuatku sadar, bahwa aku sudah menikah . Tapi rasanya aku tidak sanggup bahkan hanya untuk sekedar menatap kasur itu. Rasanya terlalu menyakitkan. Dan bukannya sadar bahwa aku seorang anae, aku malah menyadari bahwa aku ditinggalkan begitu saja.
Selama ini, salah jika orang-orang beranggapan aku sangat kuat dan hebat. Aku tidak pernah menunjukkan kesedihanku dan lukaku di hadapan mereka. Seolah-olah hidupku berjalan dengan sewajarnya dan bukannya kesedihan melulu yang menerpaku. Tapi, ada saatnya juga batu karang keropos. Dan itu artinya, ada saatnya juga aku akan menangis terisak. Teringat bahwa aku memang seseorang yang ditinggalkan.
Beberapa detik kemudian, aku yakin sekali bahwa aku mendengar suara kenop pintu kamarku dibuka.
Tidak, tidak. Tidak boleh ada yang melihatku menangis. Jadi, aku mengelap air mataku dengan piyamaku, bertepatan ketika pintu kamarku terbuka.
“Ada apa?” Tanya Kyuhyun dingin sambil memandangku dengan dingin.
“Gwenchana. Apa kau bisa tidur?” Aku sudah sering sekali ketahuan menangis, maka sekarang aku bisa dengan mudah mengelabui orang-orang dengan mengatakan bahwa ‘aku-tidak-menangis’ disertai alasan yang tepat.
“Tidak.” sahut Kyuhyun—masih dingin—sambil berbalik meninggalkanku. Aku berusaha menahan air mataku dengan keras. Tidak, aku tidak boleh menangis sekarang. Meskipun rasa sakit itu semakin menderaku. Aku harus kuat, seperti sosok yang kutampilkan selama ini.
Aku harus membuang jauh-jauh luka-luka itu…
_______________

Aku terbangun di tengah malam ketika mendengar suara Kyuhyun tengah mengobrol dengan seseorang. Aku penasaran, jadi aku menyelinap keluar setelah meyakinkan diriku bahwa pakaianku menutupi tubuhku dengan baik.
Lampu kamar Kyuhyun menyala. Aku menghela napas, lalu menarik dalam. Semoga saja dia tidak melihatku dalam keadaan seperti ini.
Aku sampai di depan kamarnya, ada sedikit celah dari pintu yang tidak terutup rapat itu. Aku mendengar Kyuhyun berbicara, dan aku melihat wajahnya terlihat cerah sekali. Lebih cerah daripada ketika menikah denganku. Lebih cerah daripada ketika masih berpacaran denganku…
Aku menyingkirkan pikiran itu jauh-jauh, sadar bahwa aku bisa dengan mudahnya menangis ketika mengingat semua ini. Dan aku tidak ingin itu terjadi. Aku menajamkan telingaku dan mendengar bahwa Kyuhyun me-loud speaker telepon itu. Aku harus bersyukur karena ini.
Aku baik-baik saja, kapan kau akan kembali, hon?” tanya suara dari dalam telepon itu. Aku yakin sekali bahwa itu suara seorang yeoja. Dan tiba-tiba rasanya dadaku sesak dan terasa penuh sekali oleh luka-luka yang kembali muncul ke permukaan. Seakan menghisapku detik demi detik.
“Tidak tahu,” sahut Kyuhyun pelan. Tapi, aku masih dapat mendengarnya. Dan itu, semakin membuat hatiku sakit. Mungkin tidak pantas aku merasa sakit, karena aku yang memulai rasa sakitku sendiri. Dan aku juga tidak berhak, bahkan untuk menuduh Kyuhyun berselingkuh. Toh, aku bukan siapa-siapanya lagi. Dan, sepertinya Eun Gi pernah memberitahuku tentang Kyuhyun yang—katanya—dekat dengan seorang gadis oriental yang kebetulan tinggal di London.
Okay. Well, kalau begitu aku yang akan datang kepadamu. See you, Hon. I love you~” ujar yeoja itu lagi menggunakan bahasa Inggris. Meski tidak pintar, aku masih paham ucapan gadis itu. Dan selanjutnya, aku mendengar suara ‘muah muah’ yang cukup keras dari gadis itu. Sungguh menjijikkan. Dan, ada satu hal yang membuatku semakin terpuruk, Kyuhyun membalasnya.
Tuhan, masih pantaskah aku mencintai Kyuhyun? Masih pantaskah aku merasa cemburu padanya? Masih pantaskah aku merasa iri pada gadis itu?
Dan, lagi, air mataku kembali mengalir.
____________________

Aku tidak bisa berangkat bekerja. Kepalaku sakit dan mataku berbayang-bayang sehingga menyebabkan pandanganku berkunang-kunang. Ketika Kim Ahjumma masuk ke kamarku pada pukul lima pagi, aku berkata bahwa aku tidak berangkat kerja dahulu, dan aku menyuruh Kim Ahjumma untuk mengatakan kepada Kyuhyun bahwa aku hanya ingin tidur lebih lama supaya dia tidak khawatir. Meski aku tidak yakin apakah Kyuhyun memang merasakan hal itu.
Jadi, ketika Kim Ahjumma datang kembali untuk mengantarkan sarapan dan berkata bahwa Kyuhyun sama sekali tidak menanyakanku—ini menyakitkan. Sungguh-sungguh menyakitkan—dan namja itu sudah keluar mengenakan jas formal seperti orang yang ingin bekerja, aku bangkit dan memutuskan akan membersihkan rumah. Kim Ahjumma sudah terlalu banyak bekerja, jadi sekarang aku harus menolongnya.
Sejam kemudian, setelah aku selesai membersihkan rumah dan belum sempat mandi, bel rumah berbunyi. Karena saking terburu-burunya, aku masih membawa lap kotor dan memakai celemek bewarna biru muda.
Ketika membuka pintu, aku mendapati bahwa ada seorang yeoja tinggi dan sangat manis berdiri di hadapanku. Dia mengecat—atau mungkin itu warna aslinya—rambutnya dengan warna pirang yang terlihat begitu lembut dan bercahaya. Dia sangat cantik. Tiba-tiba aku merasa malu setelah melihatnya secara sekilas.
Are Kyuhyun in here?” Tanya yeoja itu mengenakan bahasa Inggris yang sempurnadan memandangiku seolah aku adalah pembantu rumah tangga tidak penting yang begitu mengganggunya.
No… He work now.” jawabku dengan bahasa Inggrisku yang tidak karuan. Aku bahkan tidak tahu apakah kalimat yang kuucapkan benar. Cepat-cepat kuletakkan celemek dan lap itu di atas meja dan mempersilakannya masuk.
“Oh, baiklah. Aku Victoria Song, yeojachingu Kyuhyun.” katanya dan memandangku dingin. Dia benar-benar fasih berbicara bahasa Korea.
Oh ya, benar. Tentu saja. Tentu saja yeoja di depanku kini adalah pacar Kyuhyun. Kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi? Dan kini, rasa sakit yang menumpuk dalam hatiku bertambah lagi.
Kyuhyun memang sudah tidak sendiri. Dan hanya aku, seseorang yang—kini—merasa sakit…
“Ah, jeoneun Cho—Choi Sooyoung imnida. Aku adalah—”
“Pembantu Kyuhyun, right?”
Aku hanya mengangguk sekilas. Lalu mengajaknya duduk di sofa ruang tamu yang masih sama ketika lima tahun yang lalu.
“Apakah anda menginginkan jus? Atau Teh? Atau limun?”
“Limun.”
Cepat-cepat aku berbalik sambil menahan air mataku yang hendak keluar. Ketika membuka pintu yang memisahkan ruang tamu dan ruang tengah, aku melihat Kim Ahjumma memandangku khawatir.
“Biar Ahjumma saja,” kata Kim Ahjumma sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk dan sekuat tenaga menahan air mataku yang memaksa keluar.
Dan, ketika Kim Ahjumma masuk ke dalam dapur, aku yakin sekali seperti mendengar suara Eun Gi dan sepupu Kyuhyun lainnya berseru, “Benar kan apa yang kubilang, Kyuhyun pasti memiliki seorang yeojachingu! Dan lihat! Bahkan dia dua kali lipat lebih sempurna daripada kau!”
Akhirnya, air mata yang sedari tadi kutahan mengalir begitu saja…
Kau tahu, Kyuhyun-ah…
Rasanya menyakitkan sekali ketika kau meninggalkan aku sendirian, dengan luka-lukaku yang kubuat sendiri, dan dengan air mata yang tidak akan pernah berhenti mengalir.
Dan kini, semuanya kembali, bahkan lebih menyakitkan daripada ketika kau bilang bahwa aku sialan, dan kenyataan bahwa kau membenciku…

kenyataannya, apakah namaku dalam hatimu sudah tergeser oleh namanya dengan mudahnya?

Lalu, apakah gunanya aku selama ini?
Bukannya ini hanya akan membuatku lebih sakit lagi?

Karena, sekarang, hanya aku yang terluka.
 T B C
Huaaa gimana? ancur parahkah?
Nih ff gak karuan banget -___-
Sebenernya nih, part yang menurut Author bagian paling sad adalah chapter 3 ._. 
Tapi gaktau ya kalo menurut kalian ini sad gak -___-
tetap RCL ne? 

Annyeong~  

25 thoughts on “[Chapter 2] My Fault

  1. sumpah thor ceritanya nyesek bgt..
    apasalahnya sih klau kyu maafin soo unni kan kasian,lg pula bkn dia yg jahat tp eommanya,dn eomanya udh mninggalkan..
    aku brhrp end nya kyuyoung

    Like

  2. speechless.
    Sumpah gw ga bisa ngomong.
    Nyesek to the max!:/ T.T
    sakit bget rasanya jdi suyong.
    YaAllah..
    Sumpah feelnya berasa bget chingu T_______T

    Next part asap yaa T.T ^^

    Like

  3. knpa kyuppa udah punya pacar padahalkan msh nikah dg soo onnie? knpa kyuppa g memaafkan soo onnie ja, dy g salah apa2 T_T… poor soo onnie
    next part dtnggu chingu

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s