[CHapter 3] My Fault


my-fault-coverbyvnjwoon

Title: My Fault

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

-Victoria Song

-Choi Siwon

Genre: Sad, Romance, Love Story

Rating: Teenager

Length: Chaptered, Series

Credit Poster: VnjWoon

Author Note:

Annyeong~

Author comeback nih🙂 adakah yang menanti? *plakk

Hehe, part ini mungkin bagian tersedih dari My Fault *maybe

jadi, tolong hargai kerja keras Author bikin ini walopun ini ancur plus jelek banget -__-

Oh ya, akhirnya Author post di wp lagi o//o” yiippiie —

oke deh, langsung aja ^^

tapi jangan lupa siapin lagi yg Author saranin ya^^

Backsound: -Super Junior: In My Dream

-Super Junior: Storm

Previous Part: || Chapter 1 || Chapter 2 ||

Check It Out~

Happy Reading ^^

________________

Chapter 2~

Dan, ketika Kim Ahjumma masuk ke dalam dapur, aku yakin sekali seperti mendengar suara Eun Gi dan sepupu Kyuhyun lainnya berseru, “Benar kan apa yang kubilang, Kyuhyun pasti memiliki seorang yeojachingu! Dan lihat! Bahkan dia dua kali lipat lebih sempurna daripada kau!”
Akhirnya, air mata yang sedari tadi kutahan mengalir begitu saja…

______________

CHapter 3~

Sooyoung’s POV

Sejam kemudian, aku akhirnya keluar dari kamar. Sekaligus mengecek apakah Kyuhyun sudah pulang dan menemui gadis itu atau tidak. Aku bangkit dan keluar dari kamar.

Ketika sampai di ruang keluarga, aku mendengar Kyuhyun berbicara dengan yeoja itu. Suara mereka terdengar gembira dan semangat. Bahkan, aku yakin sekali bahwa Kyuhyun berubah menjadi Kyuhyun-ku yang dulu, yang selalu berbicara dengan ceria. Tidak seperti sekarang, dia berubah menjadi namja pendiam yang sering sekali membuatku bertanya, apakah yang ada dalam pikirannya sekarang. Aku mengintip lewat celah pintu yang sedikit terbuka, kulihat Victoria duduk mendempet dengan Kyuhyun. Lengan Kyuhyun berada di…. OMO! Benarkah lengan Kyuhyun berada di paha gadis itu? Apa Kyuhyun-ku berubah menjadi seorang mm… pervert?

Aku melihat semuanya.

Semuanya terlihat jelas dalam pandanganku.

Ketika gadis itu tertawa, dan dengan mudahnya Kyuhyun mendekatkan bibirnya lalu menyatukannya dengan bibir gadis itu…

Lalu, aku tersadar bahwa aku tidak seharusnya melihat ini semua. Seharusnya dari tadi aku tidak kemari dan mendapati bahwa kenyataan ini akan semakin menyakitiku. Kenapa aku begitu naif sampai tidak sadar bahwa mereka bisa melakukan hal ini di depan mataku?! Aku tahu dari orang-orang bahwa biasanya gadis London atau Amerika lebih agresif dan tidak terlihat malu ketika selesai berciuman. Dan, pemandangan ini cukup.

Aku tidak mau hatiku lebih sakit dari ini.

Melihatnya bersama Victoria saja membuat air mataku seolah akan membludak keluar. Terlebih ketika melihatnya mencium gadis lain.

Tidak, aku tidak akan melihat hal ini lebih jauh.

_

Author’s POV

Oppa, ayo antarkan aku.” Pinta Victoria manja sambil menggelayut di lengan Kyuhyun. “Aku sudah terlalu lama disini. Dan lagi, aku takut adegan kita tadi dilihat oleh pembantumu.”

Ah, Kim Ahjumma kan sudah tua. Pasti dia juga pernah merasakan apa yang namanya kasmaran.” Bantah Kyuhyun.

Hah? Tua? Honey, bukan si Tua itu yang kumaksud, tapi gadis yang satunya lagi! Yang tinggi! Apa dia anak dari mm, Kim Ahjumma?”

Kyuhyun tersentak. Sadar bahwa orang yang dimaksud Victoria adalah Sooyoung.

Ah ya, benar. Dia adalah salah satu pembantu disini. Bukannya dia manis? Tapi, tentu saja lebih manis dan cantik kau, hon.”

Dan Sooyoung mendengar itu.

Ah, aku memang manis.” Ujar Victoria, lalu mereka kembali berciuman.

Sudah, ayo antarkan aku.” paksa Victoria dengan napas tersengal.

Kyuhyun tersenyum puas dan mengikuti langkah Victoria yang sudah berjalan keluar mendahuluinya.

Dan sekali lagi, sorot mata itu menunjukkan kekecewaan.

_

Sooyoung’s POV

Jangan berpura-pura baik kepadaku.” Ucap Kyuhyun dingin ketika berpapasan denganku di ruang keluarga. Awalnya, aku sedang membaca buku ketika tiba-tiba Kyuhyun mengatakan hal yang menyakitkan itu. “Dan, kau, aku akan segera menceraikanmu…”

Ucapan itu bagai petir yang menyambar-nyambar dengan cepat. Seolah dalam pikiranku sedang terjadi badai yang bercampur dengan hujan.

Akhirnya, hal itu terucap juga. Akhirnya, saat-saat yang kutakutkan tiba. Aku terdiam beberapa lama, berusaha mencerna ucapan Kyuhyun. Berharap bahwa pendengaranku salah. Namun, apalah yang bisa kulakukan? Aku hanya sanggup menerima, dan itu terdengar sangat menyedihkan. Aku meremas bagian bawah kaus yang sedang kupakai, berusaha menahan air mata yang telah menggenang di kedua mataku. Apakah tidak boleh bahwa aku tetap memakai nama ‘Cho’? Apa tidak boleh jika aku berharap bahwa kita akan tetap bersama? Apakah aku jauh terlalu jahat, bahkan untuk berharap agar kau tidak menceraikanku?

Kyuhyun hanya menatapku dingin. Tatapan yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari tatapannya kepada Victoria.

Tuhan, apa masih belum cukup lima tahun dalam penderitaan? Apa masih belum cukup luka yang ditimbulkan oleh kepergiannya?

Lalu Kyuhyun meninggalkanku begitu saja.

Bertepatan ketika air mataku mengalir dengan deras. Aku jatuh tersimpuh. Duniaku berputar-putar seolah aku berada di dalam roller coaster yang kehilangan kendali. Aku menunduk, membekap kuat dadaku, berusaha menahan rasa sakit yang semakin membuncah. Kuremas erat kausku, berusaha menyalurkan rasa sakit dalam hatiku ke jari-jariku yang memutih karena tertekan.

Kejadiannya hampir sama ketika Kyuhyun meninggalkanku. Bedanya, aku tidak memakai gaun itu, dan tidak ada koper berisi uang dan berkas-berkas itu. Lalu, aku baru sadar, sekarang aku mengenakan kaus bewarna hitam….

_

Aku menatap nyalang atap kamarku. Berusaha mencari kebahagiaan di balik warna putih cat yang begitu suci. Apakah masih ada secuil kebahagiaan untukku? Apakah hanya akan ada kenistaan di balik semua lukaku yang basah?

Air mataku kembali mengalir dengan cepat.

Kenapa aku harus menangis? Bukannya lambat laun hal ini akan terjadi juga? Kenapa aku bahkan tidak mempersiapkan hatiku dari hari-hari yang lalu? Dari lima tahun yang lalu, ketika aku terbangun dan mendapati bahwa aku hanyalah seseorang yang ditinggalkan? Kenapa aku justru seperti disadarkan oleh harapan-harapan semu yang seolah-olah menerkamku dari dalam kegelapan? Kenapa aku tidak mau bangun dan malah tetap menangis? Kenapa rasanya seperti seakan ada sebuah truk besar datang dan menabrakku?

Ayolah, bukannya aku masih sekuat dulu? Bukannya aku masih sama ketika aku akhirnya bangkit dan mendirikan kafe itu? Oh ayolah, siapapun, tolong bantu aku keluar dari semua ini.

Sooyoung-ah.” Panggil Kim Ahjumma membuatku tersadar. Aku segera merapikan baju dan wajahku lalu keluar.

Ada apa, Ahjumma?”

Gadis itu datang lagi,”

Aku mengangguk sekilas, lalu berbalik masuk ke dalam kamar untuk sekedar menyisir rambut dan mencuci wajah. Setelah menyiram wajahku dengan air segar, aku bangkit dan berjalan menuju ruang tamu. Tempat gadis itu kemarin berciuman dengan Kyuhyun.

Annyeong~” sapaku sambil membungkuk. Pasti gadis itu masih mengira aku sebagai pembantunya, apalagi setelah Kyuhyun bilang bahwa hal itu memang benar, kemarin.

Nado.” Ujar Victoria itu dingin. Lalu dia menatapku dengan pandangan tajamnya. “Apakah kau tahu dimana Kyuhyun sekarang?”

Aniya, saya tidak tahu.” sahutku.

Baiklah, aku akan menunggu disini. Aku ingin limun, cepat siapkan!”

dalam hati, aku berharap Kyuhyun sadar akan menikahi gadis galak dan dingin sepertinya. Semoga saja kehidupannya yang akan datang jauh lebih baik daripada kehidupannya selama lima tahun lebih denganku. Semoga…

Aku kembali dan meletakkan baki berisi dua gelas dan sebuah botol besar berisi limun. Yang satu nanti untuk Kyuhyun ketika datang.

Silakan dinikmati. Apakah kau—mm, Nona—ingin ditemani atau saya pergi saja?”

Kau disini saja.”

Aku mengangguk, lalu duduk bersimpuh di depannya. Kelihatannya, aku memang sangat pantas sebagai seorang budak wanita di hadapanku ini.

Kau tahu sejauh mana hubunganku dengan Kyuhyun?” Tanyanya tiba-tiba selesai meminum limun yang tadi kuletakkan dan memandangiku.

Aku menggeleng, sebenarnya, mungkin saja aku mengerti seintim apa hubungan mereka. Tapi aku tidak ingin berburuk sangka dan membuat hatiku lebih sakit untuk menghadapi kenyataan itu.

Kami sudah berhubungan sejak dua tahun yang lalu.” Jelas Victoria. “Dan, kami sudah melakukannya beberapa kali.”

Aku memandangnya. Apakah Victoria tidak merasa malu menceritakan hal itu di hadapan seseorang yang dianggapnya sebagai pelayan? Namun, tetap saja kenyataan itu menusuk ulu hatiku.

Apakah kau, hamil?” Tanyaku hati-hati. Berusaha tidak terdengar terlalu ingin tahu dan menampakkan sakit hatiku.

Tidak. Tentu saja kami berhati-hati.”

Aku mengangguk mengerti. Berharap, dia mempersilakan aku masuk segera sebelum aku menunjukkan keadaan terpurukku. Sekarang bahkan aku sudah menunduk sedalam-dalamnya, berusaha menipu diriku sendiri bahwa aku tidak apa-apa. Berusaha seolah-olah aku tidak merasa sakit hati dengan kenyataan bahwa Kyuhyun belum pernah menyentuhku—yang notabene adalah anae sahnya—dan malah beberapa kali melakukannya dengan Victoria yang hanya pacarnya saja. Tapi, aku cukup tahu diri untuk sadar bahwa London lebih bebas daripada yang kupikirkan. Dan pada kenyataan bahwa Kyuhyun membenci aku. Meskipun aku heran kenapa dia bersikap lebih baik padaku ketika hari pertama dia berada disini.

Aku sangat mencintainya. Dan aku tahu dia juga begitu. Dia sangat manis dan romantis. Kau tahu tidak? Bahkan, dia membelikanku LIMA cincin berlian karena dia pikir semua cincin itu cocok untukku.”

Ya, tentu saja aku mengetahui itu. Aku juga pernah merasakannya. Dan rasanya, mendengarmu mengatakan bahwa kaupun mendapatkan berlian—yang lebih mewah—membuat hatiku seperti terempas keras dan terinjak.

Dia sangat baik. Tapi, beberapa kali ibunya menelepon dan menyuruhnya untuk meninggalkanku. Ibunya pernah bilang padaku di telepon bahwa aku sangat jahat dan membuat yeoja disana sakit hati dengan diriku yang menjadi pacar—calon istri—Kyuhyun. Tapi, apa peduliku? Yeoja itu saja yang bodoh yang menyia-nyiakan Kyuhyun. Dan, tidak ada yang berhak menghalangiku. Lagipula, Kyuhyun sama sekali tidak mencintai yeoja itu, dia bilang, bahkan dia membencinya.”

Kau tahu? Itu bagaikan palu godam yang sangat besar dipukulkan di hatiku berkali-kali. Aku merasakan tanganku dan seluruh tubuhku bergetar oleh rasa sakit yang semakin dalam. Benarkah Kyuhyun benar-benar membenciku? Tidak mungkinkah bahwa dia melemparkan sebuah senyum saja, sebelum perpisahan kami?

Lalu—lalu… Apakah kau tahu siapa gadis itu?” aku mendengar suaraku bergetar dan terdengar sangat parau. Tuhan, bisakah kau hentikan siksaan yang begitu pedih ini? Bisakah kau cabut saja nyawaku? Atau, paling tidak, biarkan aku tuli dan buta dalam beberapa waktu yang kuminta, supaya aku tidak perlau mendengar hubungan mereka dan melihat kebahagiaan mereka yang sama sekali tidak melibatkan aku?

Tidak. Tapi Kyuhyun pernah bilang, bahwa gadis itu lumayan manis. Hanya saja, sifatnya seperti iblis. Kyuhyun juga bilang, sebenarnya dia tidak pernah menyukai gadis itu. Dia hanya berpura-pura saja. Dan sebenarnya, selama ini dia mau bersikap baik kepada gadis itu karena gadis itu miskin dan terlihat begitu menyedihkan. Tapi ternyata gadis itu malah menyerangnya dari belakang!”

Ya Tuhan—masih kurangkah penderitaanku sekarang?

M-mian… tapi saya harus segera pergi.” kataku sambil cepat-cepat bangkit dan menggigit bibirku keras menahan tangis yang semakin membuncah dan terasa mencekik. Aku berlari sepanjang jalan menuju kamarku lalu mengunci pintunya. Tubuhku merosot begitu saja ketika pintu telah terkunci.

Jadi, selama ini hanya rasa kasihan yang mendasari hubungan kita?

Jadi, harapan menjadi Princess Disney hanyalah harapanku semata?

Jadi selama ini sikapmu untukku hanyalah rasa kasihan semata?

Lalu kenapa kau tidak memberitahuku bahwa sama sekali tidak ada rasa itu, dan yang ada hanyalah rasa kasihan, lalu membiarkanku jatuh semakin dalam?

Kenapa, Kyuhyun-ah?

Bisakah kau memberitahuku?

Bahkan, jika kenyataan itu mungkin lebih menyakitkan daripada apa yang kurasakan?

 

_

Aku menghirup aroma tea panas di depanku dalam diam. Mataku terasa panas karena terlalu banyak menangis, dan bernapas bahkan menyakitiku. Bisakah aku mati sekarang?

Tiba-tiba, pintu kamarku terbuka begitu saja. Membuatku hampir saja menjatuhkan gelas berisi tea panas itu. Aku memandang pintu dengan tatapan kaget. Dan, aku lebih kaget lagi ketika Kyuhyun berada di ambang pintu dengan wajah sangat dingin.

Aku ingin bangkit dan menanyakan ada apa. Tapi Kyuhyun sudah berjalan menghampiriku dan melemparkan berkas yang dibawanya ke arahku dan berjalan meninggalkanku.

Pintu berdebam ketika dibanting menutup. Aku mengalihkan pandanganku dari pintu dan memandangi berkas itu. Melihat halaman depannya saja sudah membuatku tahu. Aku membuka berkas itu dan mengeluarkan isinya yang berupa beberapa lembar kertas putih. Aku membaca kop surat yang berada di bagian atasnya.

SURAT PERCERAIAN

Air mataku kembali mengalir ketika melihat dua buah tanda tangan yang terbubuh di bagian bawah kertas itu. Ada tiga kolom tanda tangan, dan yang satu itu untukku. Aku memejamkan mata, membiarkan air mataku semakin banyak mengalir. Kupegang erat kertas itu.

Apakah ini semua nyata?

Kenapa secepat ini?

Tidak ada waktukah untukku tinggal bersama Kyuhyun, tetap mengenakan marga Cho di depan namaku, dan tetap mencintainya?

Atau, inikah akhir dari segalanya?

Aku kembali meletakkan kertas itu di atas nakas dengan tangan dan seluruh tubuh gemetar, sadar bahwa aku tidak sanggup bahkan untuk sekedar membaca judulnya saja. Rasanya, seperti sebuah jalan menuju rasa sakit, pengkhianatan, kemarahan, emosi, dan patah hati baru saja terbuka lebar di hadapanku. Dan, aku tidak punya pilihan lain selain melaluinya.

Tapi, mungkin juga setelah melaluinya, hidupku akan berubah menjadi lebih baik. Begitu juga Kyuhyun. Dia tidak perlu lagi berbohong kepada Victoria. Dan, aku tidak perlu lagi berpura-pura menjadi seorang pelayan di depannya.

Lelah. Sakit. Pedih. Rapuh. Lalu, hancur perlahan-lahan.

Kupegangi dadaku yang seolah-olah dalam ambang kehancuran dan menekannya kuat-kuat dengan kedua tanganku yang basah oleh air mata. Rasanya, keinginan untuk mati lebih cepat semakin besar.

Rasanya, aku hanya dapat melihat kegelapan berada di hadapan mataku. Rasanya, aku tidak menemukan secercah cahaya kebahagiaan di depan mataku dan hanya mendapatkan bahwa yang berbahagia disini hanyalah Kyuhyun dan Victoria. Dan, itu mungkin benar.

Maka, jika aku memang benar,

aku yang akan merasa terluka lagi disini.

_

Author’s POV

Sooyoung sengaja bangun pagi-pagi dan duduk di pinggir ranjangnya dengan tatapan kosong. Matanya terlihat merah dan bengkak. Dia memandangi surat perceraian yang ada di atas nakas dengan pandangan nanar.

Beginikah akhir dari segala rasa sakitnya?

Lalu dengan tangan yang bergetar dan terasa lelah, dia mengambil kertas itu dengan lunglai.

Aku berharap, jika aku menanda tangani ini, maka kehidupanmu akan jauh lebih baik daripada sekarang. Dan aku juga berharap, semoga dengan kedatanganku di pengadilan, semuanya akan kembali baik-baik saja. Seperti semula.” Bisiknya kepada diri sendiri, air matanya kembali mengalir. Dan dengan sedih, dilapnya air yang keluar itu. Dia lalu kembali memejamkan matanya sebentar, lalu akhirnya dengan langkah yang berat, dia berjalan menuju kamar mandi.

Setelah selesai mandi, Sooyoung berjalan keluar mengenakan jubah mandinya. Rambutnya basah oleh air. Dengan tangan gemetar, diraihnya kenop lemari dan membukanya.

Dia mendapati bahwa dia tidak pernah membeli baju sejak lima tahun yang lalu.

Sooyoung meraih celana jins biru muda, dan sebuah kemeja bewarna putih.

Sooyoung’s POV

Aku memutuskan akan mengenakan kemeja dan celana yang bewarna cerah. Cukup sudah aku memakai pakaian gelap. Mulai sekarang, aku akan berusaha keras untuk hidup baik dan bahagia. Cukup sudah lima tahun aku hidup dengan keadaan yang menyedihkan.

Setelah selesai mengganti baju, aku duduk di depan meja rias dan memandang tampias wajahku yang terlihat pucat dan bengkak. Harusnya aku sadar bahwa kedatangan Kyuhyun kemari hanya untuk memamerkan kemesraan mereka dan hanya untuk bercerai denganku. Kenapa aku begitu bodoh? Bukannya seharusnya aku memahami gelagatnya dari awal? Kenapa aku justru mengharapkan hal yang terlalu tidak mungkin untuk terjadi?

Pintu diketuk.

Aku seolah tersadar dari lembah kegelapan hatiku.

Segera aku bangkit dan membuka pintu. Kim Ahjumma berdiri di hadapanku sambil membawa baki berisi sarapan untukku dan segelas minuman hangat. Biasanya, jika berhadapan dengan makanan, keadaanku akan sedikit membaik. Tapi nyatanya, hatiku semakin teriris-iris melihat makanan yang tersedia di hadapanku.

Sup kimchi.

Dulu, ketika hubungan antara aku dan Kyuhyun masih baik, aku sering memasakkan sup kimchi untuk Kyuhyun. Dan lalu, kami akan berciuman setelahnya. Dan melihat sup itu, membuat ingatanku seakan dijungkir-balikkan.

Gwenchana?” Tanya Kim Ahjumma sambil menatapku. Tapi yang bisa kulakukan adalah menangis, lalu menutup pintu di depan Kim Ahjumma.

Sulit sekali mengendalikan air mataku karena rasanya tekanan di hatiku sangat dalam dan menumpuk, sehingga bernapaspun aku kesulitan. Dan rasanya seakan jiwaku disedot dari tubuhku,. Seolah-olah aku bisa melihat diriku sendiri sedang menangis dan menunduk. Menangisi takdir yang begitu kejam kepada kehidupanku.

Apakah masih kurang rasa sakit yang menghujamku di dalam pernikahan kami? Apakah Tuhan masih tidak rela untuk membiarkan diriku bernapas tanpa himpitan? Apakah sesulit itu membiarkanku bahagia meskipun itu hanya untuk semenit?

Apakah masih kurang malam-malam yang kulewati dalam kesendirian dan rasa sakit? Apakah masih kurang luka yang ditorehkan dalam-dalam oleh Victoria?

Tuhan~

_

Dan disinilah aku. Berdiri di depan bangunan besar pengadilan. Seolah-olah, jika aku menginjakkan kakiku di bagian depan bangunannya saja, aku akan hancur berkeping-keping. Lalu angin akan menerbangkan bagian tubuhku.

Duk.

Maaf,” kata seseorang setelah tanpa sengaja menabrakku.

Aku mengangguk tanpa memandangnya. Mengabaikan rasa sakit di lututku karena jatuh begitu saja. Tapi rasanya, sakit di hatiku seratus kali lipat lebih sakit dari ini.

Nona, apa kau baik-baik saja?” Tanya namja itu lagi.

Ya, aku baru sadar bahwa seseorang yang menabrakku adalah seorang namja yang sangat tinggi.

T-tentu.” sahutku, berusaha keras mengabaikan rasa sakit dalam hatiku yang terasa semakin menusuk.

Apakah kau bisa berjalan?” Tanyanya lagi.

Dan kali ini, pertahananku runtuh. Air mataku kembali mengalir dengan cepat. Dan kali ini, aku tidak menahannya lagi. Kubiarkan rasa sakit hatiku yang membuncah keluar begitu saja. Aku duduk di salah satu undakan dan menutup wajahku dengan kedua tanganku. Sekeras mungkin menahan agar isakanku tidak keluar.

Nona, waegeurae?” Tanya namja itu.

Aku tidak peduli lagi.

Aku hanya ingin menyelamatkan hatiku.

Aku hanya ingin membiarkan diriku sendiri.

Author’s POV

Namja itu memandangi Sooyoung dengan heran. Kenapa yeoja itu menangis tiba-tiba. Tapi tentu saja, dia tidak mendapatkan jawabannya. Akhirnya, yang bisa dilakukannya hanyalah duduk di samping Sooyoung dan mengelus pundak gadis itu dengan canggung.

Beberapa menit kemudian, ketika isakan dan getaran di tubuh Sooyoung mereda, namja itu baru berhenti menepuk pundak gadis itu dan memandanginya.

Waegeurae?”

Gggwenchanna.” sahut Sooyoung sambil mengeluarkan sapu tangan dalam tas sandangnya dan mengelap air matanya. “Mianhae, mianhae…”

Gwenchana. Siapa namamu?”

Jeda sejenak karena Sooyoung masih sibuk mengelap air matanya.

Choi Sooyoung.” jawab gadis itu akhirnya sambil memasukkan sapu tangan ke dalam tasnya kembali. Dia tidak menatap namja itu sama sekali.

Wah, ternyata marga kita sama.” Ujar namja itu terdengar semangat. “Aku Choi Siwon.”

Sooyoung menatap Siwon sebentar, lalu kembali mengalihkan pandangannya.

Maaf merepotkanmu.” Katanya, lalu bergegas bangkit hendak meninggalkan Siwon.

Kau mau kemana?”

Tentu saja aku mau masuk. Kau juga?”

Siwon mengangguk sekilas lalu mengikuti langkah Sooyoung.

Ketika mereka berdua sampai ke dalam ruang pengadilan, akhirnya keduanya berpisah. Karena tujuan mereka kesini berbeda.

Sooyoung melangkahkan kakinya dengan berat ke bagian kanan pengadilan dan duduk di bagian depan ruangan yang tertutup. Dipandanginya pintu besar dari baja itu. Seolah-olah ketika dia masuk, dia akan hancur berkeping-keping lagi.

Sooyoung-ssi!” Seru Siwon sambil menenteng beberapa map cokelat di tangan kiri sementara tangan kanannya dia gunakan untuk melambai kepada Sooyoung. “Ternyata kau kemari untuk… bercerai?” Siwon sengaja tidak mengucapkan kata ‘bercerai’ dengan keras.

Sooyoung hanya mendongak, lalu mengangguk sebelum sibuk kembali dengan tasnya.

Sebentar,” kata Siwon lagi dengan tiba-tiba membuat Sooyoung kembali mendongak. Sementara Siwon membuka sebuah map cokelat dan mengeluarkan isinya yang berupa beberapa tumpukan kertas putih dan sebuah stempel. Dia membaca kertas putih paling atas dan menatap Sooyoung lagi. “Aku yang akan mengurus perceraianmu.”

Oh, ya?” Tanya Sooyoung dengan nada acuh. “Aku bersyukur karena aku mengenalimu.”

Ah, ya sudah. Aku masuk dulu.”

Sooyoung hanya mengangguk sekilas.

Sooyoung’s POV

Cho Kyuhyun dan Choi Sooyoung!” Seru seorang wanita sambil memandangiku yang duduk sendirian. Mungkin wanita itu dipekerjakan untuk memanggil orang-orang yang akan bercerai seperti aku.

Aku mendongak, bangkit dengan perlahan dan berjalan menuju pintu baja itu.

Anda sendirian?” Tanya wanita tadi dengan senyum yang manis. Seolah tidak kaget melihat mataku yang memerah dan sembap. “Seharusnya anda kesini bersama suami… ups, maaf, maksudku calon-mantan-suami anda.”

Memangnya dia belum datang, ya?” aku mendengar suaraku mencicit dan mengecil. Memang, kukira Kyuhyun sudah berada di dalam. Tapi ternyata namja itu belum datang.

Wanita itu tersenyum sekilas lalu mempersilakanku masuk.

Anda bisa menunggunya di dalam, kebetulan anda adalah peserta terakhir.”

Aku hanya mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan luas bercat putih itu. Di ujung ruangan, ada sebuah meja yang lumayan lebar dan panjang, serta ada tiga kursi di depan dan belakang meja itu. Di salah satu kursinya sudah duduk Choi Siwon yang baru kukenal tadi. Memang benar, ternyata dia bekerja di pengadilan ini.

Silakan duduk,” kata Siwon sambil tersenyum manis. Benar, dia memang sangat tampan.

Aku tidak menjawab dan langsung duduk. Ekor mataku memandangi kursi kosong di sampingku. Seharusnya Kyuhyun sudah disini dari tadi. Dia yang merencanakan perceraian ini. Dan seharusnya dia sudah duduk tenang di sampingku. Aku senang bisa duduk berdampingan dengan Kyuhyun, meskipun mungkin ini adalah terakhir kalinya aku melihatnya. Dan meskipun ini adalah akhir dari segalanya.

Aku menyerahkan berkas yang kemarin diberikan Kyuhyun kepadaku. Siwon menatapku, sebelum membuka berkas itu.

Dimana Cho Kyuhyun itu?” tanya Siwon sambil menatapku ingin tahu. Dia pasti tahu bahwa hubunganku sama sekali tidak akur. Dan juga, dia pasti tahu kalau aku masih sangat mencintai dan mengejar Kyuhyun meskipun dia mungkin juga tahu bahwa Kyuhyun sama sekali tidak sepertiku.

Aku tidak tahu.” jawabku dengan suara parau. Tidakkah dia mengerti bahwa rasanya sakit sekali duduk disini, menanti Kyuhyun, lalu menanda tangani surat perceraian? Tidakkah dia mengerti bahwa rasanya menyedihkan mengharapkan pernikahan kami akan berjalan sedikit lebih lama?

Ya sudah. Kita bisa menunggunya.” ujar Siwon sopan lalu membuka sebuah map lagi. “Apa kau bisa menceritakan penyebab perceraianmu kepadaku?”

Aku tidak sanggup menceritakannya, karena tangisku akan membuncah dan tidak terkendali lagi. Maka, aku menggeleng.

T B C

hehe, gimana reader? Jelek banget yah ? -__-

Mian ne🙂

Jangan lupa tinggalkan jejakmu ^^

Ghamsahamnida~

117 thoughts on “[CHapter 3] My Fault

  1. Yeaa, Choi family:v *ingat sama triple $ :v (Siwon, Suho, Sooyoung)-_-

    Btw, hitam warna kesukaanku T_T
    Gak baik ya? Tapi itu udah mendarah daging/?

    Komen apalagi dah ini-_-

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s