[Chapter 4] My Fault


my-fault-coverbyvnjwoon

Title: My Fault

Author: @MeydaaWK

Cast:

-CHoi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

-Choi Siwon

-Victoria Song

Genre: Sad, romance, love story

Rating: Teenager and PG

Length: Chaptered/Section/Series

BackSound: SJ: Storm, In My Dream

Author Note:

Holla semuanya~ *tebarkutu-__-

Mian Author lama gak muncul, soalnya komputer Author kembali rusak *huaaaa jai Author gak bisa post😦 datanya pake ilang lagi ._. jadi Author bikin lagi -__-

Tahu kan kalo bikin lagi, otomatis ceritanya bakal beda. jadi ini aneh dan jadi gak nyambung gitu😦

Yaah, meskipun jelek dan GJ, Author harap tetap RCL yaah ^6

Untuk readers yg kemarin udah comment, GOMAWO YAA!! ^^

Previous Part: || Chapter 1 || Chapter 2 ||

Check It Out!

Happy Reading~

________________

Chapter 3~

“Ya sudah. Kita bisa menunggunya.” ujar Siwon sopan lalu membuka sebuah map lagi. “Apa kau bisa menceritakan penyebab perceraianmu kepadaku?”

Aku tidak sanggup menceritakannya, karena tangisku akan membuncah dan tidak terkendali lagi. Maka, aku menggeleng.

_____________

Chapter 4~

Author POV

 

Sementara itu, Kyuhyun tengah sibuk memasang dasi, dan Victoria tengah tiduran di atas kasurnya yang lunak. Mereka berdua baru saja makan pagi dan kini Kyuhyun berniat akan pergi ke Pengadilan untuk menceraikan Sooyoung tanpa sepengetahuan Victoria.

“Oppa pergi dulu.” Ujar Kyuhyun pelan. “Hati-hati ne?”

“Oppa…” seru Victoria manja sambil mengerutkan bibirnya. “Aku sedang tidak enak badan. Masa Oppa ingin pergi? Ayolah, temani aku saja! Memangnya ada yang lebih penting dariku?!”

Kyuhyun memandang Victoria lagi.

“Oppa, kalau Oppa meninggalkan aku, aku akan memutuskan Oppa dan kembali ke Cina saja!”

“Ne, ne. baiklah, Oppa akan tetap disini. Kau istirahat ne? Biar Oppa pesankan teh panas untukmu.”

Victoria tersenyum penuh kemenangan.

 

__________

 

“Ini sudah dua jam, Soo.” Ujar Siwon dengan tidak enak. “Apa kau masih ingin menunggu namja itu?”

Sooyoung hanya menunduk. “Tidak tahu,” cicitnya dengan suara yang sangat  pelan. Tangisnya hampir meledak lagi karena lelah dan sakit hati. Dia sudah menguatkan hatinya untuk datang kesini. Tapi, orang yang memintanya kemari malah tidak datang. Bahkan tanpa pemberitahuan apapun. Apakah Kyuhyun ingin membalas dendam padanya?

“Baiklah, beberapa menit lagi aku masih sanggup menunggu. Tapi jika sudah lewat setengah jam, lebih baik kita pulang saja.”

Sooyoung menatap Siwon yang begitu baik dan pengertian. Dia akhirnya menggeleng dengan batin tercabik. “Tidak, kita hentikan sekarang saja. Aku tahu dia tidak akan datang. Jadi, seberapa lamapun kita menunggunya, dia tidak akan pernah datang.” Tuturnya dengan sedih. “Maafkan aku sudah membiarkanmu menunggu. Jeongmal mianhaeyo.”

Siwon hanya menatap Sooyoung yang tengah menutup ritsleting tasnya dan membungkuk sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkannya.

 

_____________

 

Sooyoung POV

Aku menatap jalanan di hadapanku dengan perasaan campur aduk. Antara sakit hati yang semakin hari semakin menumpuk dan rasa kecewa serta cemburu yang tiba-tiba menumpuk dalam sudut hatiku. Sekarang, udara dingin mulai terasa menusuk permukaan kulit dengan menyakitkan. Beberapa kali aku mengibaskan lenganku berharap dapat mengusir rasa kedinginan dan rasa sakit. Namun, itu sama sekali tidak menolong.

Tidak. Aku tidak ingin pulang dalam keadaan sedih seperti ini. Aku harus mencari penghiburan untuk diriku sendiri. Akhirnya, aku memutuskan akan  mampir di Starbuck untuk sekedar menghangatkan tubuh dan mendinginkan hatiku yang terasa membara.

Aku sengaja memilih kursi di dekat jendela dan paling pojok. Hal ini memang selalu kulakukan sejak lima tahun yang lalu. Memilih tempat pojok sudah seperti kebiasaan wajibku saja. Mobil-mobil dan kendaraan bermotor berlalu lalang di seberang kafe. Asap-asap tipis menghiasi.

“Anda ingin memesan apa, Aghassi?” Tanya seorang pelayan yeoja sambil menatapku. Aku tidak tahu sejak kapan dia sudah berdiri di hadapanku.

Espresso.” Jawabku. Sengaja memilih kopi pahit untuk menemani kehidupanku yang pahit ini. Mungkin satu-satunya pilihanku adalah itu.

Beberapa menit kemudian, pelayan itu kembali sambil meletakkan pesananku, lalu membungkuk sebelum pergi menjauh.

Aku menatap asap yang mengepul dari cangkir porselen itu. Pandanganku beralih ke seberang. Aah, toko bunga itu. Biasanya, ketika hari sedang libur (lima tahun yang lalu), Kyuhyun akan mengajakku membeli sebuket bunga untukku di toko itu. Sudah kubilang, dia memang sangat romantis. Meski sekarang, aku tahu kenyataan bahwa Kyuhyun hanya kasihan terhadapku. Lalu, sebuah mobil yang sangat kukenal berhenti di depan toko bunga itu. Disusul oleh dua orang—yang juga kukenal—keluar dari dalam mobil yang hangat.

Mataku kembali terasa memanas ketika mereka kembali berciuman. Aku tidak tahu kenapA mereka berani berciuman di tempat ramai seperti ini.

Kualihkan pandanganku dengan cepat, berusaha menahan air mataku yang memaksa keluar. Aku sudah tidak tahan lagi. Terlalu banyak luka yang kupendam. Terlalu banyak rasa sakit yang begitu mendalam. Terlalu banyak pemandangan pedih yang terpaksa kulihat.

Jadi, aku menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Berusaha tidak terlihat oleh orang-orang bahwa aku sedang menangis. Kutahan isakanku yang terasa mencekik di tenggorokan. Aku akhirnya mendongakkan kepalaku setelah kurasa cukup. Tidak, aku tidak boleh menjadi gadis yang cengeng lagi. Tidak akan ada lagi Choi Sooyoung yang menangis karena melihat Kyuhyun bermesraan dengan Victoria ataupun gadisnya yang lain.

Tidak akan ada lagi.

 

____________

 

“Mulai sekarang, Victoria akan tinggal disini. Sekamar denganku.” Tutur Kyuhyun dingin sambil menatap bergantian Kim Ahjumma dan Sooyoung. “Aku harap kalian menghormatinya.”

Aku hanya menunduk. Tidak lagi. Aku tidak boleh menangis lagi.

Kemudian, dari bawah aku melihat sepatu mengkilat Kyuhyun menjauh bersama sepatu high heels yang dikenakan Victoria. Suara koper menggesek lantai membuat telingaku geli. Aku menoleh kepada Kim  Ahjumma.

“Gwenchana?” tanyanya dengan kasihan.

“Ne.” aku mengangguk. “Aku akan pergi melihat mereka. Mungkin mereka membutuhkan bantuanku.”

Aku lalu berjalan menyusuri koridor kamar-kamar dan melihat bahwa lampu kamar Kyuhyun sudah menyala. Semoga mereka tidak marah karena kedatanganku.

Author POV

Sooyoung terpana melihat pemandangan tidak senonoh Kyuhyun dan Victoria. Ia melihat dengan jelas ketika jemari Kyuhyun meremas bagian depan atas Victoria. Dia juga mendengar ketika terdengar desahan halus yang keluar dari mulut Victoria. Susah payah ditahannya air mata yang seolah menyumpal di kedua matanya.

Dan, akhirnya Victoria dan Kyuhyun selesai berciuman dan mendapati bahwa dia ada di sana. Sedang memandangi mereka dengan rasa sakit yang tak terlukiskan.

“Aku—aku hanya ingin menanyakan apakah kalian  bisa menata.. mm, kamar sendiri.” Ujar Sooyoung sambil menggigit bagian bawah bibirnya yang mati rasa. “Dan… sepertinya, aku mengganggu kalian. Mianhae,” ujarnya lagi buru-buru lalu menjauh.

Rasanya  lebih menyakitkan lagi. Dia tahu dengan jelas apa yang akan terjadi setelah ini. Dan hal itu, pasti akan lebih intim lagi daripada yang pernah dilihatnya.

________________

“Untuk apa kau duduk disini? Oppa, masa Oppa mau semeja dengan pembantu sepertinya?!” Seru Victoria sambil memandangi Sooyoung seolah dia adalah cacing di atas makanan.

“Tapi—tapi biasanya saya memang duduk disini.” Sahut Sooyoung dengan rikuh. Merasa malu atas posisi palsunya yang hanya sebagai pembantu.

“Tidak, mulai sekarang, kau harus makan berpisah meja dengan kami! Ayo, Oppa, usir dia!”

“Apakah kurang jelas?” Tanya Kyuhyun dengan dingin. Matanya menatap Sooyoung tajam seolah berusaha mengulitinya.

“Ye~ Arraseo, tuan.” Ujar Sooyoung cepat-cepat sambil mendorong kursinya ke belakang dan berjalan dengan cepat kembali ke dapur. Matanya terasa memanas. Kenapa Kyuhyun sama sekali tidak membelanya? Bahkan mengatakan sesuatu yang membuat perasaannya lebih baikpun tidak. Atau, kenapa Kyuhyun tidak memberitahukan pada Victoria bahwa Sooyoung adalah istri sahnya dan bahkan mereka belum bercerai? Kenapa namja itu bahkan setega itu?

“Sudahlah, tidak apa-apa. Jangan menangis. Makan ini, masih lumayan hangat,” tutur Kim Ahjumma sambil menepuk-nepuk pundak Sooyoung. “Biarkan saja mereka melakukannya sepuas hati mereka. Perbuatan jahat, akan dibalas dengan jahat dan bahkan lebih kejam suatu saat nanti.”

“Ahjumma tidak tahu…” cicit Sooyoung sambil menggigit bibirnya. Dia merasa, di balik segalanya, dialah tersangka utamanya. Dan, jika karma masih berlaku, dialah yang pertama kali mendapatinya.

Kim Ahjumma masih menepuk-nepuk pundaknya seolah menyuruhnya untuk tetap bernapas dengan baik. Setelah rasa sesak yang menggumpal di dada Sooyoung sedikit melega, dia baru mengambil piring dan nasi.

_____________

“Sooyoung-ah!” Seru Siwon dari kejauhan sambil melambai kepada Sooyoung semangat. “Kenapa kau bisa disini? Kau pemilik café ini?”

Sooyoung mengangguk dan tersenyum. “Ya, aku memang pemiliknya. Selamat dinikmati.”

Siwon mengangguk sekilas. “Aku sering datang kemari, tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu?” Tanyanya dengan heran.

“Jam seperti ini, biasanya aku selalu di dalam.”

“Oh, kau mau menemaniku?”

“Mianhae., tapi masih banyak urusan yang belum kuselesaikan. Jeongmal mianhae, Siwon-ssi.”

“Gwenchana. Semoga urusanmu  cepat selesai,”

“Gomawo.” Ujar Sooyoung sambil membungkuk lalu pergi menjauh.

___________

Kyuhyun POV

“Oppa, kajja kita keluar! Bajuku sudah membosankan semua, kajja berbelanja!” ajak Victoria sambil menggelayut di lenganku.

“Tapi, Oppa harus menyelesaikan banyak hal.” Tolakku dengan halus. Memang benar, aku harus menghadiri rapat pengangkatan Direktur baru di kantor dan harus kembali untuk mengurus perceraian antara aku dan Sooyoung. Sebenarnya, aku sedikit merasa kasihan kepadanya. Tapi, mau bagaimana lagi. Jika aku tetap menahannya seperti ini, dia akan merasa lebih sakit lagi.

“Oppa~ masa Oppa tega kepadaku?!”

“Vicky-ya,” ujarku berusaha tenang menghadapi sikap manjanya yang sering sekali terlihat. “Oppa sibuk. Oppa harus mengerjakan beberapa berkas dan mencari investasi supaya perusahaan tetap stabil. Jadi, tinggal di rumah dan lakukan hal yang menurutmu menyenangkan. Atau, jika kau ingin belanja, ini uang untukmu. Kau bisa berbelanja sepuas hatimu, tapi aku harus bekerja.”

“Oppa!”

“Vikky-ya, mengertilah.” Aku menatapnya datar. Biasanya, jika  sudah kutatap begitu, dia akan diam dan menurut. Terkadang, aku memang merasa sangat kesal kepadanya yang terlalu manja. Tapi, aku juga memutuskan akan bersikap baik kepadanya, karena bagaimanapun, dia adalah pelarianku.

Okay.” Katanya akhirnya dan menerima uang yang kuberikan dan keluar dari kamar. Aku mengganti pakaian rumahku dengan jas formal dan celana bahan hitam yang telah dikanji. Lalu memasang dasi bewarna biru gelap. Lalu seberkas kenangan seolah tergambar di depan mataku.

Aku mengingat ketika Sooyoung menyemangatiku ketika aku akan berangkat kerja—pertama kalinya—di perusahan ayahku. Dia terlihat sangat cantik dan feminin dalam satu waktu. Rambutnya yang panjang dan bewarna  cokelat digerai begitu saja. Dan dia sengaja memilih rok terbaiknya untuk datang mengantarkan aku. Meskipun dia harus pergi kuliah setelahnya.

Cepat-cepat aku mengusir kenangan itu. Tidak, dia tidak boleh hadir lagi dalam hatiku. Dia tidak pantas untuk itu. Meski separuh hatiku menolak untuk mengikuti perintah mulutku, aku memaksakannya. Aku tidak ingin berkumpul lagi dengan manusia kejam seperti Sooyoung.

Aku berjalan keluar setelah merasa penampilanku rapi. Aku melihat Sooyoung tengah berjalan sambil menunduk. Dia sama sekali tidak melihatku. Jadi aku sengaja berhenti berjalan, menantinya menabrakku.

Dan benar. Sooyoung benar-benar menabrakku. Dia jatuh dan pandangannya tertuju kepadaku. Dan untuk kedua kalinya, aku melihat matanya memerah dan air mata mengalir di kedua pipinya.

Meskipun aku memaksa hatiku untuk membiarkannya dan menjauh, aku tetap tidak bisa melakukan hal itu. Jadi, entah kekuatan dari mana, tiba-tiba aku memeluknya begitu saja.

Rasanya, seolah-olah rasa sakit hati yang kutindih dengan berbagai kesenangan semata terhempas begitu saja. Seolah-olah baru kemarin aku meninggalkannya. Tubuhnya di lenganku terasa sangat kecil dan dingin. Aku mendekapnya semakin erat.

Dan aku sadar bahwa dia sudah terisak di bahuku. Aku tersentak dan melepas pelukanku lalu menatapnya. Bibirnya—yang ia gigit—bergetar dengan cepat dan matanya mengeluarkan bulir-bulir air mata yang menyakitkan bagiku.

Satu kenyataan yang tidak pernah bisa aku sangkal,

Aku masih mencintainya.

___________

Sooyoung POV

“Apa yang kaulakukan?!” seru Victoria ketika melihat Kyuhyun memelukku. Sukar dipercaya bahwa ini bukanlah mimpi.

“Aniya, Vikky-ah. Tadi dia jatuh, dan aku membantunya berdiri. Kajja kita tinggalkan.” Jawab  Kyuhyun sambil menggandeng Victoria menjauh dariku.

Pasti tadi itu mimpi.

Tapi aku tahu itu kenyataan. Kenapa dia membuat perasaanku semakin tak karuan? Jika dia memang benar membenciku, kenapa dia tadi memelukku dan membuatku merasa bahwa aku adalah seseorang yang diinginkan? Kemudian, kenapa dia berubah menjadi Kyuhyun-yang-dingin seperti biasanya? Kenapa dengannya?!

Aku menatap kepergian mereka dan pintu kamar yang tertutup rapat. Rasanya aku ingin menangis lagi. Tapi, tentu saja tidak boleh. Aku tidak ingin menjadi seorang gadis cengeng.

Kutahan air mataku dan berjalan masuk.

___________

Author’s POV

Ting tong!

Dengan cepat Sooyoung bangkit, lalu berjalan menghampiri ruang tamu. Sejak tadi dia memang sudah mencari alasan agar bisa menjauh dari meja makan. Memang, entah kenapa Victoria tiba-tiba menyuruhnya dan Kim Ahjumma makan di meja makan utama, seperti biasanya. Dan kini Sooyoung merasa menyesal karena dia mau makan bersama lagi. Dia akan menolak jika tahu bahwa Victoria hanya ingin pamer kemesraan dengan Kyuhyun.

“Annyeong~” sapa Siwon begitu dia membuka pintu.

“Kau? Kenapa bisa sampai disini?” Tanya Sooyoung kaget. “Darimana kau tahu rumahku?”

“Ah, seorang pelayan memberitahuku.”

“Ah ya, tentu saja. Ayo masuk, dan silakan duduk.” Kata Sooyoung sambil mempersilakan Siwon masuk. Belakangan, dia baru sadar bahwa Siwon terlihat sangat tampan dan keren ketika mengenakan pakaian non-formal seperti saat ini. “Kau mau minum apa?”

“Seadanya saja.” Sahut Siwon santai sambil memandangi keadaan sekitar.

“Oh ya. Chamkamman.”

Beberapa menit kemudian, Sooyoung sudah kembali sambil membawa baki berisi dua gelas bening dan sekotak jus.

“Silakan dinikmati. Ada apa, maksudku, kenapa tiba-tiba datang kemari?” tanya Sooyoung canggung.

“Sebenarnya, aku merasa malas tinggal di rumah dan berkumpul dengan kertas-kertas.” Jawab Siwon jujur. “Maka, aku kesini untuk mengajakmu jalan-jalan. Dan, mungkin, makan malam?”

Sooyoung ingin menolak. Tapi dia juga malas tinggal di rumah dan melihat Victoria  dan Kyuhyun, jadi dia mengangguk mengiyakan lalu permisi untuk mengganti baju. Ketika dia melewati lorong, dia melihat Kyuhyun tengah mengamatinya. Tapi Sooyoung tidak ingin berpikiran tentang Kyuhyun yang menatapnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri.

Setelah mengganti pakaiannya dengan rok selutut bewarna krem tanpa lengan dan dengan hiasan sabuk mungil bewarna cokelat di bagian pinggang, lalu Sooyoung memadukannya dengan cardigan  tipis bewarna cokelat dan sepatu flat yang juga bewarna cokelat. Dia lalu menguncir rambutnya yang lumayan panjang.

Setelah semuanya siap, Sooyoung keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu. Siwon sedang memandangi setiap inci ruang tamu yang didesain dengan gaya minimalis dan jiwa muda.

“Mianhae menunggu lama,” ujar Sooyoung berusaha tenang. Meski sekarang entah mengapa dadanya berdegup.

“Ne, gwenchana. Sudah siap? Kajja berangkat,” ajak Siwon dengan tenang lalu menarik lengan Sooyoung keluar dari rumah itu.

Sementara seseorang menatap mereka tidak suka.

 

__________

“Aku suka berada disini.” Ujar Siwon memecah keheningan di antara mereka. “Apa kau juga?”

“Ya, aku juga menyukainya. Bagaimana mungkin kau tahu tempat ini?”

“Ayahku.”

Sooyoung menatap Siwon ingin tahu, mencoba meminta namja itu untuk menjelaskan lebih jauh. Siwon balik menatapnya, lalu dengan sengaja melempar pandangan ke depan.

“Ayahku adalah seorang arkeolog. Dia suka traveling kemana-mana, sesuka hatinya.” Jelas Siwon sebagai awalan. “Dia bertemu ibuku di suatu hari, ketika umurnya menginjak tiga puluh tahun. Ibuku menyukai Ayahku. Dan begitu juga dengannya. Mereka menikah.” Siwon menghentikan ceritanya dengan menghela napas panjang. “Kemudian, ibuku terserang penyakit—Ayahku tidak pernah memberitahukanku penyakit apa itu. Waktu itu, usiaku baru menginjak tiga tahun. Ibuku sakit parah, dan mungkin… nyawanya tidak tertolong.”

Sooyoung menatap Siwon kembali, dan mendapati bahwa namja itu begitu tenang dan tampak sangat santai untuk ukuran orang yang sedang bersedih.

“Ayahku ingin memberikan sesuatu yang tidak—belum—pernah dilihat olehnya. Jadi dia berkelana kembali selama hampir dua bulan—aku tidak tahu dia kemana. Dan dia kembali, membawaku bersama ibuku dengan mobil jeep-nya ke sebuah tempat yang jauh. Ayahku mengabadikan tempat ini untuk ibuku. Ibuku meninggal disini.”

“Kedengarannya sangat menyakitkan.”

“Ya, tapi Ayahku tahu ini pasti akan terjadi. Dan dia bersyukur, dia bisa menunjukkan tempat ini sebelum ajal menjemput Ibuku.”

“Aku juga ingin memiliki seorang namja yang mencintaiku.” Ujar Sooyoung tiba-tiba. Matanya menerawang ke depan, seolah mencari kebahagiaan di antara rimbunan semak-semak dan lahan luas penuh air.

“Aku juga.”

“Bukan, yang kuinginkan bukan seperti hal yang kauinginkan.”

Then?

“Aku hanya ingin dicintai. Bukan dicintai dalam arti berlebihan, aku bahkan tidak pernah mengharapkan mendapatkan tempat indah seperti Ibumu. Aku hanya ingin dicintai,” air mata mengalir dari dalam pelupuk matanya. “Bukannya dicintai dalam kesia-siaan.”

“Aku tahu.” Ujar Siwon, menarik yeoja ke dalam dekapannya dan mengelus pundaknya. “Aku tidak berpikir kenapa suamimu itu tega menceraikanmu.”

“Kau tidak tahu!” Jerit Sooyoung tiba-tiba dengan wajah bersimbah air mata. “Kau tidak tahu, Choi Siwon…”

“Aku mengerti! Salah seorang pelayan di kafemu menceritakan segalanya! Tentang perselingkuhan yang dilakukan suamimu! Dan tentang dia yang meninggalkanmu!”

“Bukan itu.” Sahut Sooyoung, masih dengan air mata mengalir. “Kau tidak tahu bahwa akulah yang jahat! Akulah yang menghancurkan semua kebahagiaanku sendiri! Dan akulah yang membuatnya berubah seperti itu!”

“Omong kosong. Kau hanya sedang membelanya saja. Kau tahu itu semua tidak benar, dan karena kau begitu mencintainya, kau membuat alibi agar dia tidak terlihat jahat di depan mataku.”

Aku-tidak-begitu.” Sahut Sooyoung terbata, “kau salah mengerti diriku. Aku bukan seperti yang ada di pikiranmu.”

“Baiklah, kalau bukan begitu, bisakah kau menceritakan segalanya kepadaku?”

“Untuk sebuah alasan, tidak.”

“Baiklah, kajja kuantar pulang.”

Dan berakhirlah segalanya.

____________

Sooyoung’s POV

Aku hanya berdiam diri di dalam mobil Siwon yang hangat dan lembap. Aku hanya merasa tidak seperti diriku sendiri. Aku merasa seolah Siwon menganggapku terlalu suci dan bukannya seorang gadis jahat seperti yang—memang—aku lakukan.

Suasana sangat sepi, dan bahkan Siwon tidak menyalakan radio tape seperti ketika berangkat tadi. Dan karena suasana ini, aku merasa aku ingin membagi rasa sakit hatiku. Lagipula, kukira Siwon adalah orang yang mau mendengarkanku. Kukira, mungkin Siwon akan mengerti di balik segalanya. Semoga saja dia mengerti.

“Aku sudah berpacaran dengan Kyuhyun selama beberapa tahun.” Ujarku mengawali. Suaraku terdengar tercekat dan parau. Mungkin efek menangis dan berteriak tadi. “Kau tahu, aku dan Eomma-ku, adalah orang miskin. Kami tidak lebih dari sekedar sampah.”

“Tidak ada manusia sampah di dunia ini,”

“Kyuhyun adalah orang kaya, dan Eommaku memaksaku untuk segera menikah dengannya supaya kami bisa terlepas dari kemelaratan. Dan aku melakukannya. Aku benar-benar melakukannya.” Aku menghela napas pilu, setengah merasa jijik dengan diriku sendiri. Dan semuanya meluncur dari dalam mulutku dengan mudah, seolah-olah aku adalah penembak kata yang tidak akan berhenti sebelum kelelahan.

Setelah ceritaku berakhir, aku baru menyadari bahwa mobil Siwon berhenti di pinggir jalan. Dia sudah menghentikannya sejak tadi. Sekarang, aku juga baru sadar bahwa air mataku sudah mengalir dengan deras sejak tadi.

Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, aku hanya merasakan kehangatan ketika Siwon memelukku, dan aku tidak tahu sejak kapan bibirku sudah menempel di bibirnya…

 

___________

“Kau darimana saja?!” Tanya Kyuhyun dengan kasar. Aku memang sengaja meminta Siwon langsung pulang saja karena ini sudah malam, lagipula aku takut orang berpikir macam-macam.

Tiba-tiba, aku merasa keberanianku untuk melawan tumbuh. Aku berpikir bahwa apa yang dikatakan Siwon tadi ada benarnya juga.

Jangan hanya membiarkannya melukaimu, lakukan sesuatu yang bisa membuatmu senang. Dia bisa melakukan hal yang menyakitimu, dan kau pun seharusnya bisa. Ingat, aku selalu ada di pihakmu.

“Memangnya apa pedulimu?” Bantahku keras dan menatapnya datar. “Kalau aku mengganggu acaramu dengan Victoria, aku minta maaf.” Lanjutku dengan puas ketika melihat raut muka kaget di wajah Kyuhyun lalu berjalan meninggalkannya.

Kali ini, aku tidak akan pernah membiarkannya menginjak-nginjak harga diriku, sekali lagi. Karena aku juga bisa melakukan hal yang sama.

T B C

Hehe,  gimana readerS?

Gak karuan banget ya? sebenarnya, Author bingung nih disini. modelnya ceritanya mau dibikin kayak gimana -__-

Udah ada Kyuhyun POV kan? dan disini juga akhirnya Sooyoungnya jadi berani gitu🙂

oke deh, tetep RCL yaah ^^

 

 

 

119 thoughts on “[Chapter 4] My Fault

  1. Kyaa, Siwon oppa>o<
    Yee, hore, kyaa, anu, hyaa, (penyakit alaynya kambuh-_-)
    Daebak eonni!
    Backsoundnya ngena/? (kok jadi ke backsound-_-)
    yaudah eonni, aku tak bisa berkata apa-apa lagi/? *kambuh-_-
    Hwaiting eonni!!

    Like

  2. Mian ya author untuk bebetapa part sebelumnya aku gak ksih komen, krna table emainya gak muncul, mungkin krna jringannya yng gangguan atau apalah aku juga gak ngerti….

    Sumpahh ini nyesak bnget,, aku kasin sama soo,, knp kyu bs memperthnkan egonya untuk membenci soo padahalkan dia msh mncintai soo,,, semoga aja dngan mlwnnya soo bisa mnyadarkan kyu

    Like

  3. akhirnya soo unni bs melawan jg
    buktikan soo unni klau soo unni bs melawan
    fighting soo unni,jgn nangis dn menderita lg

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s