[Oneshoot] Immortal Wound


immortalwoung

Title: Immortal Wound

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung (Aku)

-Cho Kyuhyun (Kau)

-Seo Joo Hyun (‘Dia’)

Genre: Sad.

Rating: Teenager

Length: Oneshoot

BackSound: Sad Song

Author Note:

Anyeong^^

Mian Author comeback gak bawa My Fault. Author lagi bingung nih, keabisan ide -___-

jadinya Author bikin ff ini aja.

sebenarnya, Author agak gak paham ini Oneshoot atau Drabble. tapi menurut panjangnya, kayaknya ini sih Oneshoot ._.

Check It Out!

Happy Reading~

SIDERS!!! GET OUT!

______________

Aku merasa seolah jantungku berhenti berdetak, berhenti mengirimkan darah merah di setiap tubuhku, merasa seolah-olah tubuhku melemah dengan sendirinya. Aku merasakan kabut pekat membayangi kedua mataku yang sehat. Aku merasa seolah-olah baru saja didorong ke dasar jurang yang curam dan membiarkan tubuhku berguling-guling dengan kecepatan tiada terkira dan terempas di dasarnya.

“Gwenchana?” tanyamu, dengan suaramu yang khas yang seringkali membuatku merindukanmu.

Tapi, tidak. Kau tidak mengerti betapa sakitnya hatiku saat kau mengatakannya. Kau tidak tahu betapa seringnya aku memandangimu, berusaha untuk terlihat normal. Bukannya seseorang dengan obsesi untuk memilikimu.

Aku bisa saja mengatakan aku tidak baik-baik saja. Tapi, aku takut kau akan mengerti segala hal yang kututup rapat-rapat darimu dan membukanya dengan kasar.

“Gwenchana.”

Kau dan aku, sama-sama terdiam. Biasanya kita selalu bercanda, mengatakan sesuatu tanpa beban, dan bukannya berdiam diri—kehabisan bahan pembicaraan begini. Namun, saat itu aku tidak dapat membuka mulutku, bahkan untuk bernapas pun aku kesulitan.

“Aku harus pergi. Masih banyak yang harus aku urus untuk pernikahanku minggu depan.” Katamu, lalu dengan tenangnya pergi dari hadapanku. Mungkin aku berlebihan mengatakannya, tapi ini semua benar. Tidak lama lagi, kau juga aku meninggalkanku sendirian. Itu kenyataan, dan aku merasa sakit oleh segala kenyataan itu.

Kau tahu seberapa lama aku duduk disana—mematung—berusaha menyesapi kenyataan yang seperti batu yang dilemparkan ke kepalaku itu. Kau tahu, bahwa akhirnya pertahananku hancur dan air mataku mengalir dengan begitu cepat, bahkan sebelum aku sadar bahwa kau benar-benar akan meninggalkanku.

Aku begitu sadar bahwa lama-kelamaan, ini akan terjadi juga. Dan aku sudah berusaha dengan keras untuk pergi darimu. Tapi, entah kenapa, kau selalu berhasil menemukanku. Seolah kau hanya perlu memejamkan mata, dan  tempat persembunyianku akan langsung kau ketahui. Terkadang, aku berharap bahwa hanya aku yang bisa kau temukan semudah itu. Namun, mengingat bahwa kau akan pergi, membuat kesadaranku pulih.

Tentu saja tidak.

Immortal Wound

 

Kali ini, kau kembali berhasil menemukanku. Padahal, aku sudah meyakinkan diri bahwa kau tidak mungkin menemukanku disini, di taman. Aku tahu kau tidak pernah ke taman ini. Dan kau pernah bilang, bahwa taman ini membuat kenangan buruk tentang kekasihmu yang entah keberapa menghantuimu kembali. Tapi kau kesini, dan itu sudah cukup membuatku tahu bahwa dia berhasil membuatmu melupakan kekasihmu itu.

Kau bilang bahwa kau berhasil membuat dia senang dengan dua setel gaun pilihanku yang khusus kau belikan untuknya. Kau juga bilang, bahwa kau mendapat bonus menciumnya sebagai gantinya. Dia bahagia, dan aku sakit karenanya.

“Untuk apa kau kesini?” Tanyamu dengan datar, berbeda ketika kau berkata tentang dia.

Aku tidak punya alasan untuk mengelak. Dan aku tahu kau akan langsung tahu bahwa aku berbohong jika aku mengatakan alasanku itu. Maka aku tidak mengelak, dan hanya menggeleng.

“Apa aku menyebalkan?” tanyamu sambil menatapku.

Kau tahu, mata cokelat gelapmu yang berputar-putar seperti kelinci membuatku ingin memelukmu saat itu juga. Namun aku tahu itu tidak akan pernah bisa aku lakukan karena kau sudah menjadi miliknya.

“Tidak.”

“Kalau begitu, kenapa kau menjauhiku?”

Oh, God! Dia bahkan tahu bahwa aku menjauhinya. Apakah ada laki-laki se-intens dirinya?

“Aku tidak menjauhimu. Aku hanya ingin beristirahat sebentar,”

“Maksudmu, aku membuatmu kelelahan, begitu?”

Aku menggeleng kuat-kuat, kembali merasakan sakit di dadaku.

“Lalu kenapa?”

Aku hanya ingin menyingkir sejenak darimu, dan dia. Aku lelah berpura-pura baik-baik saja.

“Aku hanya ingin memberimu waktu dengannya. Itu saja.”

“Aku hanya bersamanya lima jam setiap hari. Dan waktu lainnya untuk bekerja, atau pergi bersamamu.”

“Kalau begitu, aku absen bersamamu.”

“Kenapa?”

“Aku lelah. Itu saja,”

“Jangan berbohong. Apa kau tidak suka melihatku bersama Joohyun?”

“Tidak. Aku suka kalian,”

“Kau berbohong,”

“Kau tahu aku tidak.”

“Ya, kau berbohong.”

“Sudahlah, pembicaraan ini membuatku lelah.”

Kita hanya diam. Dan hal itu semakin membuatku terpuruk, karena—di akhir kebersamaan kita—aku malah membuat hubungan kita tidak baik. Tapi, percayalah, aku tidak akan pernah mengganggu hubunganmu dengannya. Seperti ini saja, cukup. Meskipun aku tidak yakin aku akan berbahagia di atas kebahagiaanmu.

 

-Immortal Wound-

 

“Pernikahan kami akan berlangsung besok. Aku tidak sabar, dan jujur, aku takut sekali.” Jelasmu sambil menggenggam tanganku erat-erat, seolah-olah melakukan itu membuatmu bisa bernapas lega  kembali.

Tapi, semakin erat kau menggenggamnya, semakin sakit rasanya disini, di hatiku.

“Tidak apa-apa. Kau tidak akan mengacaukannya.”

“Aku belum pernah merasa segugup ini.”

“Aku tahu.” Ujarku sambil tersenyum semanis mungkin, meskipun rasa pahit itu bercampur dengan senyuman tulusku untukmu dan dia. “Kau pasti akan berhasil.”

“Kau memang teman yang baik.”

TEMAN?! KAU BILANG TEMAN? Sungguh, Kyuhyun-ah, aku tidak mengharapkan menjadi temanmu, aku ingin menjadi salah satu pengisi hatimu… sungguh.

“Ah, ya. Aku tahu.” Sahutku, memalingkan wajahku darimu. Tapi sepertinya kau tidak menyadari itu. Lalu aku merasakan kau melepas genggamanmu.

“Janji kau akan datang?”

Aku ingin sekali menggeleng, berkata aku tidak bisa datang karena ada acara—yang tentu saja merupakan kebohongan—namun, nyatanya aku malah mengangguk mantap.

“Bagus, melihatmu pasti membuat perasaanku membaik.”

“Terima kasih.”

“Apa pekerjaanmu membuatmu kelelahan?”

“Lumayan, bosku membuatku hampir pingsan.”

“Makanya, segeralah mencari pacar. Pacar pasti bisa membuatmu bahagia.”

Satu-satunya namja di dunia yang ingin aku jadikan pacar adalah kau. Tapi sepertinya kau tidak akan pernah menyadari itu. Bahkan  meskipun dunia berakhir.

“Tidak,” sahutku pahit. “Aku tidak akan pernah melakukannya.”

“Kenapa? Apa kau trauma berhubungan?”

Menjalin hubungan saja tidak pernah!

“Tidak. Hanya menghindari kenyataan sebentar.”

“Ucapanmu terdengar begitu dalam.”

“Aku tahu.” Ujarku. “Pernahkah kau merasa begitu bahagia?”

“Pernah. Kenapa kau bertanya begitu?”

“Aku hanya ingin bertanya. Kapan?”

“Sekarang.”

“Oh, tentu saja. Bertemu Joohyun membuatmu bahagia, right?”

Kau mengangguk dan tersenyum. Kemudian, aku merasa sakit hatiku begitu mendalam. Dan memutuskan akan pergi sebentar saja.

“Aku ingin pulang.” Ujarku.

“Kuantar,”

“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.”

Kau mengangguk maklum, kemudian membiarkanku berjalan pergi sendirian.

 

-Immortal Wound-

Aku melihatmu dengan setelan tuxedo formal itu. Benar, kau terlihat sangat tampan. Dan aku semakin iri melihat Joohyun yang berada di sampingmu, mendampingi hidupmu, bukan aku. Kau memasang dasi kupu-kupu bewarna putih itu, kemudian memandang tempias wajahmu di kaca yang setinggi tubuhmu itu, kemudian tersenyum lebar.

“Apa aku terlihat tampan?” Tanyamu dengan  senyum merekah.

“Sangat tampan,”

“Kau juga.”

Aku hanya mengenakan setelan rok selutut bewarna biru muda yang bahkan sangat muda dan mengggerai rambutku setelah menyisipkan sebuah bandana putih.

“Joohyun terlihat sangat cantik.”

“Memang. Dia selalu cantik,”

Itu bagaikan belati.

“Dia pasti menunggumu melihat penampilannya.” Kataku pelan sambil merunduk.

“Ayo, mari kita lihat dia.”

Aku tidak ingin. Sama sekali tidak ingin melihat dia dalam gaun pernikahan yang keluargamu belikan. Sama sekali tidak ingin.

“Tidak usah. Aku mungkin akan menemani Eomma-mu sebentar.” Tolakku halus, kemudian  keluar dari ruang rias mu itu. Sebenarnya, aku hanya ingin menjauh sebentar darimu daripada melihatnya bersama dengan dia.

-Immortal Wound-

“Bukannya semua berjalan dengan lancar?” Tanyamu padaku sambil tersenyum lebar padaku ketika acara pernikahanmu selesai. Dan sekarang, semua tamu sedang beristirahat dengan makan dan berbincang dengan kerabat.

“Ya, sangat lancar malahan.” Ujarku, berharap bahwa orang yang berdiri di sampingmu tadi adalah aku. Namun, harapan itu malah semakin menyesakkan dadaku yang sudah sesak dari tadi.

“Kau tahu, hal yang paling membahagiakan selanjutnya adalah ketika aku memasangkan cincin di jari manis Joohyun.”

Dan hal itu adalah hal paling menyakitkan bagiku.

“Ah, tentu saja.”

“Apakah kau ingin makan? Ataukah ikut berfoto bersama?”

Aku menggeleng. Aku hanya tidak ingin terlihat lemah dan sakit di hadapanmu. Aku selalu ingin kau anggap Choi Sooyoung yang ceria, yang selalu bersikap baik kepada orang di sekitarnya, dan selalu ikut berbahagia bersama orang yang disayanginya. Namun, yang terakhir, tidak bisa kutepati jika hal itu menyangkut dirimu. Aku tidak pernah rela.

“Lebih baik aku pulang saja. Aku lelah dan butuh tidur.”

“Oh, tentu saja. Tapi masa kau tidak mau ikut berfoto satu saja?”

Aku menggeleng lemah. Habis sudah tenagaku untuk menahan air mataku. Aku harus mengeluarkannya sesegera mungkin, sebelum air mata itu menjadi Kristal dan aku harus mengeluarkan Kristal dari dalam mataku.

“Aku pulang dulu. Selamat atas pernikahanmu, semoga semuanya berjalan menyenangkan.”

Aku pergi, dan kau bahkan tidak merasa ada yang hilang. Aku semakin menyesali takdir, kenapa aku tidak pernah bisa melupakanmu dan malah terus-menerus menumpuk harapan semu yang menusuk. Sekarang, aku hanya bisa memandangimu, tanpa bisa menyentuhmu, atau bahkan untuk mengharapkan kau ada di sampingku. Yang sanggup kulakukan adalah mengirim segala pengharapan—dan mungkin lukaku—kepadamu dan dia. Mungkin membiarkanmu merasakan sedikit saja dari apa yang aku rasakan bisa membuatku sedikit lega.

Tapi aku tidak bisa, kau terlalu baik. Kau terlalu menyeluruh dalam hidupku. Sehingga menyakitimu sedikit saja, akan berbalik melukaiku.

Oh Tuhan, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi dengan kehidupanku.

Apakah aku sanggup hidup tanpamu, ataupun aku akan hancur berkeping-keping saat itu juga…

 

-Immortal Wound-

“Kau tahu, kau bisa tidak melakukannya.” Katamu sambil menatap hasil kerja kerasku selama seminggu ini. “Kemeja bayi ini mungkin terlalu mungil untuk dipakai Kyu Joo.”

“Tidak apa-apa,” sahutku, merasa bahagia melihat kemeja itu.

“Kyu Joo mungkin akan menyukainya. Dan mungkin Joohyun akan lebih menyukainya. Kau tahu, dia menyukaimu.”

Aku mengangguk, menyembunyikan rasa pahit yang telah kutahan beberapa tahun belakangan ini yang muncul kembali ke permukaan.

“Dan, terima kasih kemeja ini.”

“Sama-sama.”

“Apa kau perlu diantarkan?”

“Ah, tidak. Kau pasti ingin segera bertemu Kyu Joo. Langsung pulang saja.”

“Baiklah.”

Kita berpisah. Kau tahu, aku merasa sakit secara tiba-tiba. Kau benar, aku memang tidak menyukai kalian bersama. Aku memang tidak pernah menyukainya. Benar-benar tidak pernah.

 

-Immortal Wound-

“Aku tidak tahu apalagi yang harus aku lakukan. Dia menyembunyikan semuanya di belakangku.” Ujarmu dengan sangat sedih. “Dia menanggung semuanya di belakangku. Aku bodoh sekali karena tidak memahami gelagatnya. Dia pasti sering sekali merasa sakit.”

Aku menatapmu saat itu. Berusaha mengerti setiap ucapan sedihmu yang seperti sembilu bagiku. Itu menunjukkan bahwa kau begitu mencintainya, mungkin lebih besar daripada rasa cintaku kepadamu. Namun, hal itu semakin menyakitiku karena aku tahu bahwa peluangku untuk memiliku tidak akan ada sama sekali.

“Sampai sekarang, tidak ada pendonor yang cocok.”

“Tidak ada orang yang ingin mendonorkan jantungnya. Mereka pasti memilih untuk tetap hidup.”

“Tapi aku benar-benar mencintainya.”

Kau tahu, itu bukan ucapan, itu belati. Belati yang langsung mencabikku.

“Sudahkah kau berusaha mengecek ke rumah sakit? Siapa tahu ada seseorang yang rela mati untuk Joohyun?”

Pahit mengatakan bahwa kau terlihat sangat menyedihkan. Seolah-olah—hanya karena Joohyun yang memiliki jantung lemah—kau kehilangan segala semangatmu dan hanya dapat menatap kosong ke depan.

Kau tahu aku lelah sekali. Aku marah kepada diriku sendiri yang merasa bahagia di atas kesedihanmu. Aku kesal kepadamu yang tidak menganggapku orang penting dalam hidupmu sekali saja.

“Aku harus pulang, aku ingin menemani  Joohyun.”

“Aku ikut.”

Kau tahu, yang kuingat hanya kau mengabaikan aku, masuk ke dalam mobilmu dalam diam, menungguku masuk, lalu menjalankan pergi dengan sikap sangat dingin. Seolah-olah dia sakit karena aku, bukan karena dirinya sendiri.

Kita sampai di rumah sakit yang dihuni dia. Kau merasa sangat sedih melihat keadaannya yang sangat menyedihkan. Dan karena kau tidak dapat melakukan apapun untuknya. Namun, aku juga sama sepertimu. Aku tidak sanggup melakukan apapun.

 

-Immortal Wound-

Kita bertemu lagi. Kali ini, tiba-tiba saja kau mengajakku makan di restoran Jepang yang sudah lama tidak kita kukunjungi. Sesampainya disana, aku melihatmu dalan keadaan yang sangat buruk. Rambutmu acak-acakan, matamu terlihat merah, dan setelan jasmu terlihat kusut.

“Ada apa?” Tanyaku sambil meletakkan tas sandangku di atas bantalan mungil.

“Aku hanya ingin meminta sesuatu kepadamu. Apa kau mau mengabulkannya?” tanyamu sambil memandangiku penuh harap.

“Apa?”

Aku tahu sesuatu yang kau minta itu mungkin buruk bagiku. Namun, aku tidak  sanggup sama sekali untuk berkata tidak disini.

“Kau mau mengabulkannya atau tidak?!”

Aku mengangguk.

Kau menghela napas. Lama sekali, sebelum akhirnya mengatakannya.

“Maukah kau mendonorkan jantungmu untuk Joohyun?”

Kau tahu, aku sampai harus meremas blazerku erat-erat. Berusaha memahami semuanya. Kenapa kau meminta itu padaku? Kau tahu aku tidak mungkin melakukannya.

Tapi dari wajahmu yang penuh pengharapan, aku tahu kau serius.

 

-Immortal Wound-

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Sekali ini, aku ingin melihat keadaan dia tanpamu. Aku hanya ingin berbicara padanya, itu saja. Jadi, pagi ini, aku bangun dari segala keterpurukanku dan pergi ke rumah sakit.

Dia terlihat menyedihkan—bahkan lebih menyedihkan daripada kemarin—dengan rambut panjang acak-acakan, wajah pucat, dan tubuh yang sangat lemah. Aku harus bersyukur masih bisa berbicara dengannya.

“Apa kau merasa sedih?”

“Aku sedih harus meninggalkan Kyuhyun Oppa. Tapi, tidak apa-apa dengan sakitku kini.”

“Kau tahu Kyuhyun dan Kyu Joo membutuhkanmu.”

“Unnie, kau tahu tidak ada pendonor jantung.”

Aku menunduk. Merasa seolah-olah hidup dan mati dia ada di pundakku.

Dan aku, akhirnya, memutuskan sebuah hal BESAR yang mungkin akan kusesali nanti.

 

-Immortal Wound-

28 APRIL. SUNDAY. DEATH DAY SOOYOUNG CHOI.

-Immortal Wound-

One day before Heart Transplant Surgery:

Choi Sooyoung telah menulis sebuah surat untuk Cho Kyuhyun dan istrinya: Cho Joohyun.

[Letter from Choi Sooyoung to Cho Kyuhyun]

Dears Cho Kyuhyun—my bestfriend, and My First Love

Menyedihkan ketika tahu bahwa kau berharap aku mendonorkan jantungku kepada Joohyun. Selama ini, kau pasti tidak tahu bahwa aku sangat mencintaimu dan aku iri dengan kehidupanmu.

Kau pasti tidak tahu semua rahasia terdalamku.

Bagaimana aku menyembunyikan tangisan dari balik senyuman tulusku untukmu,

Bagaimana aku menahan diri untuk tidak berteriak menyatakan perasaanku kepadamu yang akan merusak segala pertemanan kita yang telah terjalin selama ini.

Bagaimana aku menangis di belakangmu,

Bagaimana aku menahan semuanya sendirian.

Bagaimana aku berteman dengan segala luka yang kaubuat.

Bagaimana aku menahan diri untuk tidak mencakar wajah Joohyun ketika kau menikah.

Aku sengaja menulis ini untukmu, untuk mengungkapkan bahwa aku masih mencintaimu, sekarang, kemarin, besok, selamanya. Tidak peduli bahwa kau memiliki Joohyun dan Kyu Joo yang mencintaimu.

Tapi, tenang saja, aku tidak akan mengganggumu lagi.

Karena aku bahagia jika kau bahagia.

Terima kasih atas selama ini.

Choi Sooyoung.

[Letter from Choi Sooyoung to Cho Joohyun]

Dears Cho Joohyun, wife off My Bestfriend,

Hanya satu yang dapat aku katakan,

SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU!

SEHATLAH!

DAN, TOLONG JAGA Kyu Joo untukku J

 

First Love, Forever Love….

E N D

Hehe, gimana?

Ancur-ancuran kan?

Yang dapet feelnya angkat kaki ya xD

Ghamsahamnida udah baca, like, dan comment ^^ ‘

Annyeong~

 

107 thoughts on “[Oneshoot] Immortal Wound

  1. APA? sumpah ni cerita feelnya dapet banget.
    enak banget tuh omongan si kyuhyun. walaupun si kyu adalah biasku, tapi di cerita ini benci sangat. euhhhh gondok
    donorin aja jantungmu itu kyu, napa harus minta sama sooyoung eonni.
    kagak rela, kurang asem si kyu nyuruh berkorban (mati) sama soo eon, lah? harusnya situ yang berkorban.. ishhhhhhhhhhhhhhh kesel bangetttttttttttt joohyun (-_-“)
    author mah tega ih..

    Like

  2. parah bgt si kyu, secara ngga langsung nyuruh soo mati
    benci bgt sama mereka berdua di ff ini
    kalo bini nya sakit jantung, cari kek pendonor yg laen ato kyu kan CINTA MATI sama bini nya, napa ngga dia aja yg mati
    ihh aku kesel sama author nya tpi cerita mu bagus cuma yaa gitu
    au ahh baper gue jadi nya :3

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s