[Chapter 5] My Fault


my-fault-coverbyvnjwoon

Tittle: My Fault

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

-Choi Siwon

-Victoria Song

Genre: Sad, Romance, Love Story

Rating: Teenager and PG

Length: Chaptered/Series/Section

Author Note:

Annyeong~

Mianhae Author baru post sekaraang, soalnya Author keabisan ide di tengah jalannya ff ini -__-

Ini jadi juga berkat Author baca banyak ff untuk pembelajaran (?) dan jadilah ini~

Mianhae karena chapter ini pendek, gak sampe 3000 kata. cuma 2. 868 kata ._. dan alurnya juga jadi gak karuan.

Untuk readers, mian Author gak bales komen kalian. Tapi Author baca kok ^^ Dan mian Author gak bisa bikin Sequel untuk Immortal Woundd-nya -__-

Check It Out!

Happy Reading~

___________________

Author’s POV

 

“Sooyoung-ah, ada seseorang yang mencarimu.” Kata Kim Ahjumma sambil melambai kepada Sooyoung.

Sooyoung mengangguk dan berjalan menuju ruang tamu. Disana sudah duduk Siwon di kursi tamu—yang sama dengan kemarin—dengan sangat tenang.

“Kenapa tiba-tiba datang?” Tanya Sooyoung sambil mengambil alih kursi di samping Siwon. Entah kenapa, rasa canggung Sooyoung menghilang seiring dengan ciuman itu. Sebenarnya, dia masih enggan mengakui bahwa itu memang benar-benar ciuman. Namun, dia tidak bisa memungkiri bahwa rasanya dia bahagia.

“Aku kebetulan lewat dan tidak ada pekerjaan, jadi sekalian saja menjemputmu. Kau mau ke kafe kan?”

“Benar. Kami sedang sarapan, apakah kau keberatan ikut sarapan disini?”

Siwon hanya tersenyum sekilas, dan itu Sooyoung anggap sebagai ya.

“Kajja masuk,” ajaknya dan setengah menyeret langkah Siwon. Mereka sampai di meja makan. “Perkenalkan semua, dia Choi Siwon, temanku.”

“Annyeong~ aku adalah pacar Sooyoung.” Sapa Siwon sambil membungkuk. Perkataannya barusan membuat Sooyoung langsung menginjak kakinya tanpa ampun.

“Oh, iya. Dia juga hakim yang seharusnya menceraikan kita.” Lanjut Sooyoung setelah memelototi Siwon hanya nyengir.

“Apa?! Bercerai?! Apa maksudnya Oppa?”

“Mmm, dan ya, Victoria. Aku bukan pembantumu.” Ujar Sooyoung dengan mantap dan tajam, “dan, aku adalah yeoja malang yang kausebut itu.”

“Apa maksudnya ini!” teriak Victoria marah. “Oppa! Cepat katakan itu semua bohong!”

Kyuhyun hanya menatap Sooyoung dengan dingin sebelum mengentakkan kursinya ke belakang dan berjalan pergi, diikuti Victoria setelah sebelumnya melempar pandangan tajam kepada Sooyoung.

“Nah, selesai sudah.” Ucap Sooyoung tenang seolah perlakuan Victoria dan Kyuhyun tidak pernah terjadi. “Akhirnya kita bisa makan dengan tenang,”

 

____________

Kyuhyun’s POV

 

“Aku tidak habis pikir tentang ini semua.” Ujar Victoria sambil berkacak pinggang. “Bisa-bisanya Oppa membohongiku bahwa dia adalah pembantu!”

“Aku memang menganggapnya begitu,” sahutku dingin. Sebenarnya, aku marah sekali dan amarahku akan semakin meledak jika aku harus berhadapan dengan Victoria yang begitu menyebalkan.

“Tapi dia tidak!”

Well, terserah kepadamu. Yang penting aku menganggapnya begitu. Memangnya kenapa?! Apakah ini membuatmu mati?!”

“Tapi Oppa masih menjadi suaminya sedangkan aku berdiri disini sebagai pacar Oppa!”

Aku terdiam beberapa saat. Sadar bahwa apa yang dikatakan Victoria memang benar. Rasanya lucu. Memang seharusnya dia marah. Lalu, kenapa rasanya aku begitu marah ketika Siwon mengakui bahwa dia adalah pacar Sooyoung?! Aku kan tahu itu tidak benar! Tapi tetap saja, rasanya amarah menguasai hatiku dengan cepat. Dan aku tidak tahu maksud dari itu apa. Mungkinkah aku memang cemburu kepadanya?! Mungkinkah aku tidak akan pernah bisa melupakan Sooyoung?!

Kenapa gadis itu begitu menarik di hadapan mataku?!

 

______________

 

Author POV

 

“Kau mau kemana?!” Tanya Kyuhyun dengan keras sambil menatap Sooyoung tajam.

“Apa urusanmu?!”

“Sampai sekarang, statusmu masih sebagai Nyonya Cho.”

“Lalu kau anggap apa Victoria-mu itu?” Tanya Sooyoung dengan sangat dingin. “Mainan? Atau, Nyonya Cho kedua?!”

“Jangan membantah!”

“Aku tidak membantah.” Ujar Sooyoung tenang. “Aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan. Kau tidak bisa menjawab kan? Bukannya kau sadar bahwa kau sama brengseknya dengan Appa-ku?!”

Sekarang, rasanya Sooyoung ingin menangis.

Tiba-tiba, Kyuhyun merasa seperti tersetrum listrik. Kaget dengan ucapan Sooyoung yang begitu menusuk.

“Kau tidak bisa menjawabnya, kan? Karena kau memang breng…sek!” seru Sooyoung lagi dan berjalan meninggalkan Kyuhyun begitu saja.

Dengan amarah meluap-luap, Sooyoung membuka pintu kamarnya dan membantingnya hingga menutup. Ia langsung menjatuhkan dirinya sendiri ke atas kasur dan menatap nyalang atap kamarnya yang tidak pernah berubah.

Sejujurnya, dia marah dengan kelakuannya sendiri. Dia merasa marah karena sikapnya yang tidak menunjukkan kelakuan baik. Dia merasa marah karena tidak bisa menahan amarahnya. Dan terakhir, dia kecewa karena—sampai sekarang—dia masih mencintai namja itu.

 

_____________

 

“Kau baru bertengkar dengan Kyuhyun, lagi?” Tanya Siwon sambil menatap Sooyoung yang tengah menunduk di hadapannya.

“Kau tahu itu benar.”

“Kau tahu kau bisa menceritakannya  kepadaku.”

Sooyoung terdiam. Tidak bisa mengelak lagi. Dia memang perlu bercerita kepada seseorang yang peduli padanya. Siapapun itu.

“Aku…” ujarnya sangat pelan, sampai-sampai Siwon harus memajukan sedikit badannya untuk dapat mendengar dengan jelas. “Aku tidak bisa membencinya…”

Siwon menghela napas. “Aku tidak memintamu untuk membencinya,” katanya dengan nada pelan yang menenangkan. “Aku hanya memintamu untuk berhenti mencintainya dengan sepenuh hati seperti ini. Karena ini toh hanya melukaimu saja.”

“Tapi, aku tidak bisa berhenti mencintainya.”

“Tidak semudah itu melupakan orang yang telah hidup bersamamu sekian lama.”

“Lima tahun aku hidup tanpa dia!”

“Maksudku, orang yang telah hidup dalam hatimu, bahkan sampai sekarang. Kau butuh waktu, kau tahu itu. Tidak ada cara instan untuk ini.”

“Kukira kau pantas menjadi psikolog,” kata Sooyoung sambil tersenyum. “Kau sangat pandai membaca isi pikiran orang.”

Well, aku juga mengira begitu. Ayolah, kita nikmati saja makan malam ini, dan bersenang-senang. Lupakan sejenak Kyuhyun-mu itu atau pacarnya yang genit itu. Cheers!”  tutur Siwon semangat sambil mengangkat gelasnya dengan ceria, Sooyoung mengikutinya dan mereka tertawa.

Oh, betapa Sooyoung menyukai ini.

Bukan salahnya kan jika dia menaruh perhatian yang lebih kepada Siwon yang telah begitu baik kepadanya?

Dan, semua orang tahu, tidak ada yang pantas untuk menyalahkan yeoja yang bahagia bersama namja lain.

 

___________________

 

“Kau membawanya kemana saja?! Kenapa baru pulang jam sekian?!” seru Kyuhyun sambil menatap Siwon dan Sooyoung tajam. Sementara Siwon atau Sooyoung sendiri masih tertawa-tawa tanpa memedulikan Kyuhyun.

“Aku bicara kepada kalian berdua!”

“Oh, kau peduli padaku?!” Tanya Sooyoung sambil menatap Kyuhyun—setengah menelengkan kepalanya seolah berbicara dengan orang yang bodoh.

“Kau masih tinggal di rumahku, Choi Sooyoung.”

“Oh, seakan-akan kau ingat itu saja!” seru Siwon sambil mengangkat sebelah bibirnya, menghasilkan sebuah senyum sinis yang membuat Kyuhyun ingin sekali menginjak-injaknya saat itu juga.

“Pergi dari rumah ini!” seru Kyuhyun akhirnya sambil menudingkan jari tengahnya kepada Siwon.

“Tanpa kau minta, Tuan. Youngie-ya, aku pulang dulu. Hati-hatilah menghadapi monster seperti dia.” Siwon tersenyum tenang kepada Sooyoung sebelum melambai kepada Kyuhyun dengan sikap acuh.

“Kau melakukan apa saja dengannya?!”

Sooyoung hanya diam, menatap Kyuhyun dalam diamnya yang begitu datar.

“Aku berbicara denganmu. Apa kau mabuk?”

“Tentu tidak.” Sahut Sooyoung setelah puas membuat Kyuhyun emosi. “Kami hanya makan malam yang… romantis. Bukannya kau juga sering melakukan itu dengan Victoria?!”

Tiba-tiba Kyuhyun merasa luapan rasa bersalah dan marah yang menjadi satu sampai tidak bisa berkata-kata.

“Berhenti mengurusiku, Kyuhyun-ssi. Dan, Siwon bilang, dia menunggumu untuk menggugat cerai aku.” Kata Sooyoung dengan penekanan di setiap katanya. Tapi, kali ini, dia sama sekali tidak merasa sakit ketika melakukan itu. Tidak seperti dahulu ketka batinnya terasa tercabik ketika meihat Kyuhyun dan Victoria.

Dengan langkah pelan, Sooyoung berjalan menjauhi Kyuhyun yang hanya mematung tanpa sanggup melakukan apapun.

 

___________

 

Sooyoung’s POV

Pagi-pagi sekali, aku sudah mendengar pertengkaran di kamar sebelah. Aku mendengar Victoria mengatakan sesuatu yang terdengar seperti makian, dan Kyuhyun membalasnya dengan menyuruh yeoja itu tutup mulut. Mereka berhenti sejenak, dan aku mendengar suara gedebukan. Aku menajamkan telingaku, dan terakhir, aku mendengar suara desahan.

Oh, shit! Bahkan selesai bertengkar, mereka tetap saja melakukan itu.

Aku memang tidak merasa sesakit dulu, tapi tetap saja ada rasa yang aneh ketika aku menyadari bahwa aku adalah bagian dari kehidupan Kyuhyun, lalu menyadari kenyataan bahwa kami bahkan tidur berpisah, tidak pernah berbicara mesra, ataupun berkencan. Yang kami lakukan selama ini hanya bertengkar, saling melengos satu sama lain, ataupun diam saja. Aku merasa seperti potongan puzzle yang tidak dia akui atau tidak dia butuhkan. Dan aku, sendirian, terombang-ambing dalam kesedihan berlarut-larut.

Kenapa pula aku memikirkannya?!

Aku bisa memikirkan hal yang lebih baik lagi seperti pergi makan bersama dengan Siwon, jalan-jalan, membeli baju, atau menemaninya dengan segudang permasalahan kliennya yang ingin bercerai. Siwon pernah bercerita kepadaku, dia pernah memiliki klien yang malah lebih memusingkan ketimbang aku. Klien itu—suami istri yang tidak akur—sangat memusingkan. Si suami ini bercerai segera, dan si istri bahkan tidak ingin berpisah. Akhirnya, karena lelah diberondong oleh ajakan bercerai suaminya, istri itu menangis dan berkata bahwa dia masih sangat mencintai namja itu.

Dan mereka tidak jadi bercerai.

Oh, betapa picisannya cerita itu!

Meskipun sebenarnya aku juga ingin menjadi si istri itu.

Satu yang membuatku sadar,

Aku tidak akan pernah lagi memaksa Kyuhyun untuk tidak menceraikan aku.

Tidak akan pernah.

______________

 

“Nyonya, kenapa tadi pagi saya melihat Tuan Cho berjalan bersama seorang yeoja? Mereka terlihat mesra sekali!” bisik seorang pelayanku dengan nada menggosip.

“Ah, mereka hanya sepupu.” sahutku berbohong. Jika aku mengatakan yang sejujurnya, bisa dipastikan seisi kafe akan gempar. Apalagi pelayan-pelayan yeoja itu semuanya tukang gossip. Meskipun, mereka tidak pernah membuatku kesal karena kenyataan itu.

“Tapi mereka terlihat mesra sekali.”

“Mereka sudah tidak bertemu sejak lama. Tidak apa-apa, kan bersikap baik dengan sepupu yang tidak pernah kaujumpai?”

“Ah, benar juga. Ya sudah, Nyonya, saya permisi.”

Mereka berhenti mengerubungiku.

Aku memilih duduk di salah satu kursi dan menatap dalam diam.

Selama ini, mungkin aku terlalu kuat untuk diam saja seperti ini. Aku tahu bahwa mungkin aku hanya penghalang saja dalam cinta antara Kyuhyun dan Victoria. Dan cepat atau lambat, Kyuhyun akan menyingkirkanku juga. Meski rasanya aku baik-baik saja, aku tahu bahwa aku akan terluka lagi. Bagaimanapun, benar apa yang dikatan Siwon, melupakan Kyuhyun perlu waktu lama. Dan aku tahu bahwa itu mungkin baru terjadi jika aku jatuh cinta kepada orang yang lain. Ibaratnya, jatuh cinta seperti cara instan untuk melupakan.

Namun, aku tidak tahu siapa yang pantas untuk kujatuh cintai.

 

____________

 

Sepertinya, Kyuhyun dan Victoria baru saja pulang berbelanja. Mereka membawa banyak sekali paper bag dan tas-tas kantong yang sangat besar. Aku heran kenapa Kyuhyun masih mempunyai uang setelah membeli barang-barang mahal seperti itu yang aku yakini sangat berkelas.

“Untukmu,” kata Kyuhyun sambil menyodorkan sebuah kantong besar bewarna putih yang tebal saat Victoria pergi. Lalu dia menjauh begitu saja.

Aku tidak tahu apa isinya, tapi kantong ini terasa berat. Jadi, aku berjalan menuju kamarku sendiri dan membuka kaitan kantong itu. Lalu mengeluarkan isinya.

Ada sebuah tas, dan dua kantong paper bag yang kecil lagi.

Aku memandangi tas itu. Lalu tersadar bahwa tas itu adalah hal yang sangat kuinginkan dulu, ketika aku masih berpacaran dengan Kyuhyun. Aku melihatnya di sebuah tabloid Amerika dalam forum Fashion. Saat itu, aku langsung menyukainya. Namun, melihat tabel harganya, aku sadar bahwa aku akan memilikinya nanti, kalau aku sudah berusia sekitar enam puluh tahun untuk menabung uang. Kyuhyun pernah menawarkan untuk membelikan itu, tapi aku menolak dengan alasan aku tidak menyukainya (yang jelas-jelas merupakan kebohongan). Dan sekarang, tas itu ada di hadapanku, milikku.

Aku tidak percaya bahwa Kyuhyun masih mengingat barang yang aku inginkan.

Apakah dia masih menyukaiku?

Apakah dia masih mempercayaiku setelah ini?

Apakah dia mengerti bahwa aku tidak seperti yang ada di pikirannya?

Entahlah, aku lelah.

Berhenti berpikir, Sooyoung-ah. Ingat, bahwa semua yang kau harapkan tidak akan menjadi kenyataan.

 

__________

Kyuhyun’s POV

 

Aku meletakkan barang-barang yang kubeli untuk Victoria di atas kasur dan menatap Victoria yang tengah menjajali gaun-gaun musim panas yang kubelikan untuknya sebagai ganti karena bertengkar dengannya tadi pagi.

“Oppa, apa kau melihat Louis Vuitton yang tadi kita beli?! Dan sepatu stiletto yang tadi kita  beli di butik Amerika itu?!”

Aku menatapnya malas. Ternyata dia mengingat merk tas dan sepatu yang telah kuberikan kepada Sooyoung tadi.

“Mungkin aku lupa membawanya,” ujarku berbohong. “Nanti kita bisa membeli itu lagi.”

“Louis  Vuitton selalu habis dalam seminggu! Dan itu dengan harga yang sangat mahal Oppa!”

Aku mengangkat bahu tidak peduli. Mana aku tahu kalau tas seperti itu saja selalu habis dalam seminggu? Dan harganya? Aku bahkan tidak pernah melihat label harga sebelum memasukkannya ke troli.

Victoria bergerak menghampiriku setelah memasukkan gaun bewarna blink-blink-nya ke dalam lemari dan mengobrak-abrik belanjaan.

Aku tidak peduli, dan aku lelah. Jadi aku memutuskan akan tidur saja.

 

______________

Author’s POV

 

“Sooyoung-ah, Siwon-ssi datang mencarimu,” kata Kim Ahjumma sambil tersenyum lebar.

“Ah, ne. gomawo Ahjumma.” Sahut Sooyoung, berjalan keluar dari dalam kamar dan melangkah menuju ruang tamu. Dia mendapati Siwon sudah duduk dengan tenang di atas sofa sambil memainkan ponselnya yang ber-merk.

“Annyeong~ Sooyoung-ssi,” sapanya dengan tenang.

“Ah, ne. annyeong~” ujar Sooyoung. “Ada apa kemari?”

“Ayo pergi makan,” ajak Siwon. “Dan mungkin refreshing.”

“Ah ya. Tentu. aku siap-siap dulu ya.”

Siwon mengangguk sekilas lalu membiarkan Sooyoung kembali masuk ke dalam ruang keluarga itu. Dia kembali menyibukkan dirinya sendiri dengan berkutat dengan ponselnya, mengecek agenda elektroniknya, lalu mengecek tanggal-tanggal yang terlihat sama itu.

Pintu terkuak, Siwon baru akan tersenyum, ketika menyadari bahwa orang yang kini ada di hadapannya bukan Sooyoung melainkan Kyuhyun.

“Kenapa kau kemari?!” Tanya Kyuhyun tegas dan tajam.

“Mengajak Sooyoung pergi.”

“Kau tidak berhak mengajak istri orang pergi begitu saja. Apalagi tanpa ijin suami orang itu.”

“Oh, jadi sekarang kau mengaku sebagai suami Sooyoung? Apakah seorang suami bermesraan dengan yeoja lain di hadapan istrinya?”

“Tutup mulutmu sebelum aku memukulmu.”

“Oh, ya? Apakah kau seberani itu?!”

“Kau pikir aku tidak berani kepadamu?!”

Sebelum semuanya berlanjut ke adu jotos, Sooyoung sudah kembali dan memandangi mereka berdua galak.

“Berhenti!” serunya dengan nada tinggi yang melengking. “Kyuhyun-ssi, kau, jangan pernah menggangguku lagi! Memangnya aku pernah mengganggumu dengan Victoria!? Dan ini—kukembalikan! Aku tidak membutuhkan ini!” lanjutnya sambil melemparkan kantong besar yang tadi diberikan Kyuhyun kepadanya, meskipun sebenarnya Sooyoung tidak rela mengembalikan barang yang sudah diinginkannya begitu lama dengan mudahnya seperti ini. Namun, dia tidak ingin disangka murahan—karena mau-mau saja menerima barang dari orang yang dibencinya dengan mudah—oleh Kyuhyun. Tidak akan pernah. “Kajja, Siwon-ah. Tinggalkan saja dia.”

Kemudian, mereka berdua sudah keluar dari dalam rumah itu. Berjalan menuju mobil Siwon yang terparkir rapi.

“Oppa, kenapa kau mengurusi mereka?! Biarkan saja, sesuka mereka!” seru Victoria sambil berkacak pinggang di hadapan Kyuhyun yang masih mematung.

“Ini tidak bisa dibiarkan,”

“Apa Oppa bilang?! Oppa, aku dan kau, kita bahagia. Jadi kita biarkan saja mereka berdua bahagia. Bukannya mereka tidak mengganggu kita? Jadi, sekarang kita tidak usah menganggu mereka.”

Kyuhyun hanya melengos dan berjalan meninggalkan Victoria begitu saja.

 

Kyuhyun’s POV

 

Aku tidak paham kepada diriku sendiri. Kenapa aku merasa marah kepada Sooyoung dan Siwon? Bukannya ini impas dengan apa yang aku lakukan? Kenapa aku ini!? Apakah efek-cemburu-buta sudah menguasaiku?! Well, itu menggelikan mengingat segala hal—ciuman, remasan—yang telah kulakukan dengan Victoria masih kulakukan sampai sekarang. Bukannya ini tidak salah?! Aku bisa melakukan itu, seharusnya Sooyoung dan Siwon juga bisa.

Tapi, kenapa hati dan otakku berpikir berbeda?

Sejak kapan aku kebingungan dengan diriku sendiri?

Bukannya aku masih memegang Ranking-Satu disini? Kenapa rasanya aku makin bodoh saja? Memahami diriku sendiri saja aku kebingungan.

Ini harus dihentikan.

Ponselku berbunyi dengan sangat keras, membuatku terhempas dari lamunan tanpa ujungku yang mengesalkan, dengan tangan kanan aku menyambar ponselku itu. Sebenarnya, itu ponsel couple. Milikku dan Victoria. Hanya saja, warna flip-nya berbeda.

“Kyuhyun-ssi, ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Kata Tuan Kim dengan tegas. Aku membayangkan laki-laki tua itu duduk di kursi, dengan wajah yang selalu kebingungan, dan ponsel di telinganya.

“Ada apa? Bicarakan saja disini.”

Karena lima tahun tidak bekerja, aku jadi terlihat bodoh di kantor dan lupa pada teknik-teknik licik yang selalu dimiliki oleh pebisnis andal. Beberapa kali investor-investor dari perusahaan besar terpaksa membatalkan perjanjian kami dengan alasan bahwa aku tidak becus menjaga perusahaan. Sudah beberapa kali ini Appa menegurku, memintaku bersungguh-sungguh bekerja dan bukannya menghabiskan uang. Tapi, rasanya nuraniku tertutup begitu saja. Aku bosan. Aku lelah. Dan aku marah.

Kenapa pula semuanya harus terjadi padaku? Kenapa rasanya lepas dari kungkungan kekcewaan, kebencian, bla bla, terasa sangat berat dan sulit?! Sedangkan, disana, seseorang yang seharusnya merasakan rasa sedih yang lebih besar ketimbang aku malah sedang bermesraan dengan namja lain.

Tidakkah dia mengerti bahwa aku masih mencintainya dan hanya menjadikan Victoria sebagai selingan saja?! Apakah sikapku terlalu keterlaluan padanya?

Tapi, aku tidak bisa membohongi bahwa aku memang merasa sangat kecewa dan sakit—dan trauma—ketika mendengar segala percakapannya dengan Eomma-nya dulu. Aku juga pernah mendengar dari salah satu sepupuku bahwa Eomma Sooyoung meninggal sehari setelah pernikahanku.

Aku tahu bagaimana rasanya ditinggal pergi orang yang kita sayangi. Namun, saat itu, aku malah mengatakan hal kejam kepada sepupuku itu dan menyuruhnya menyampaikan ucapanku itu kepada Sooyoung.

Bilang saja kepadanya, semoga dia bisa menikmati HARTA yang kuberikan itu! Itu karma dari segala niat busuknya!”

Sebenarnya, aku mengatakan hal yang lebih kejam dari pada itu. Namun, hanya ini yang kuingat. Aku tidak tahu apakah Sooyoung masih mengingatnya, atau tidak. Kemungkinan besar, tidak.

“Kyuhyun-ah, apakah kau masih disana?!”

Oh baiklah, aku kan memang sedang menelepon.

“Tentu.”

“Besok, Tuan dan Nyonya ingin bertemu anda dan istri anda, Cho Sooyoung. Itu saja.”

Klik.

Sambungan telepon mati dan perlu banyaak waktu sampai aku sadar hanya bunyi tut tut tut yang terdengar di telingaku.

Oke, pertama, hubunganku dengan Sooyoung tidak baik. Dua, aku dan dia dalam tahap pra-perceraian, jadi tidak mungkin aku mengajaknya untuk bertemu dengan kedua orang tuaku sedangkan mereka tidak tahu bahwa dia benci kepadaku. Tiga, aku sudah punya Victoria. Tidak mungkin aku mengajak Sooyoung pergi tanpa tidak diketahui olehnya. Dan, jika dia tahu, dia pasti memaksa ikut dan disana, dia akan membeberkan tentang betapa intimnya hubunganku dengannya. Dan aku yakin sekali, pasti orang tuaku akan terkejut. Dan besar kemungkinan bahwa Eomma-ku—yang setidaknya empat kali mengalami serangan jantung—akan mengalaminya kembali. Kemudian ayahku akan memarahiku dan menghapus namaku dari daftar anak keluarga Cho.

Lalu, berakhirlah segalanya.

“Oppa, kenapa melamun begitu?!” tanya Victoria tiba-tiba sambil menjinjing kantong yang kemarin kuberikan kepada Sooyoung. “Aku menemukan ini di ruang tamu, mungkin kita menjatuhkan ini kemarin.”

“Benar.” Sahutku, kemudian mengalihkan pandanganku darinya. Aku harus mengumpulkan kekuatan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Seandainya saja saat itu dia tidak menggodaku di klub, pastilah hubungan ini akan terjadi.

Benar, aku melakukan hubungan ‘itu’ dengannya di dua jam setelah aku bertemu dengannya.

“Vikky-ya, bagaimana kalau kau kembali ke London saja?!”

Memang jahat jika aku mencampakkannya setelah apa yang aku lakukan terhadapnya, namun aku tidak punya pilihan lain. Aku masih mencintai Sooyoung. Dan satu-satunya jalan agar dia mau kembali denganku hanyalah menyingkirkan Victoria dari hidupku.

Mianhaeyo, Victoria-ssi. Tapi, sampai sekarang, aku sama sekali tidak mencintaimu.

 

T B C

Aduh gimana? Ancur banget ya? Mian ne -__-

tapi meskipun jelek, tetep comment, like ya ^^

Ghamsahamnida udah read, comment, dan like ^6

Annyeong~

109 thoughts on “[Chapter 5] My Fault

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s