[Chapter 6] My Fault


my-fault-meydaawk-storyline

Title: My Fault

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

-Choi Siwon

-Victoria Song

-Han Ji Ah (Author keke~)

Genre: Sad, Romance, Love Story

Length: Chaptered/Section/Series

Rating: Teenager and PG

Credit Poster: by Leeyongmi

Author’s Note:

Annyeong~

Author cepet kan lanjutnya? *kedipkedip iya dong xD

Komennya menurun euy ._. jadi dikit. tapi gak papa deh. semoga aja SiDersnya cepetan tobat ^^

Mianhae kalo ini masih kurang panjang, ini udah hampir 3000 words lho xD makanya jangan jadi SiDers dan hargain Author dikit U.u

Check It Out!

Happy Reading~

________________

Chapter 5~

Memang jahat jika aku mencampakkannya setelah apa yang aku lakukan terhadapnya, namun aku tidak punya pilihan lain. Aku masih mencintai Sooyoung. Dan satu-satunya jalan agar dia mau kembali denganku hanyalah menyingkirkan Victoria dari hidupku.

Mianhaeyo, Victoria-ssi. Tapi, sampai sekarang, aku sama sekali tidak mencintaimu.

_____________

CHapter 6~

 

Sooyoung’s POV

 

Kami berjalan-jalan mengelilingi tempat-tempat terkenal di Seoul sampai kelelahan. Dan lapar. Jadi Siwon memutuskan mengajakku ke restoran yang sering dia kunjungi di tengah-tengah hiruk pikuk Seoul.

Kami sampai disana dalam lima belas menit. Benar apa kata Siwon, tempat ini memang bagus dan menarik. Restoran itu dibuat seperti seakan kita berada di dalam buah nanas—aku curiga jangan-jangan pemilik restoran ini adalah pecinta serial kartun Spongebob—yang terasa sangat dingin dengan banyak AC dimana-mana.

“Disini menyenangkan, kan?” Tanya Siwon sambil menyeretku duduk di salah satu kursi di pojok ruangan, dekat dengan sebuah kolam penuh ikan bewarna-warni.

“Benar. Aku heran tidak pernah melihatnya.”

“Ini baru dibangun setahun yang lalu.”

Oh, benar saja, aku jadi tidak pernah berjalan-jalan sejak ditinggalkan Kyuhyun. Waktuku habis untuk berbelanja di pasar, di rumahku sendiri untuk istirahat, dan di kafe. Namun sekarang, rasanya malas sekali untuk sekedar istirahat di rumahku. Rasanya aku tidak ingin pulang dan ingin tetap disini saja. Biarkan saja Kyuhyun marah-marah sendiri karena tidak ada orang yang bisa dia jadikan tempat kemarahannya—seperti yang terjadi belakangan ini.

“Kau ingin memesan apa?” tanya Siwon.

Aku tahu dia tahu bahwa aku melamun. Namun, sepertinya dia tidak keberatan dengan hal itu. Satu hal yang selalu kuinginkan dari diri namja, perhatian dan pengertian.

“Burger keju saja.”

Siwon menggumamkan sesuatu yang sepertinya terdengar ‘aku sama’ kepada pelayan itu, lalu menunjuk salah satu menu minuman dan mengatakan dua. Aku sedang tidak fokus, dan aku tidak mencoba untuk fokus.

“Kau memikirkan apa?”

Aku menoleh, kaget bahwa dia tahu aku sedang memikirkan sesuatu. Mungkinkah hakim—atau apapun sebutannya—seperti dirinya bisa seperhatian ini kepada seorang yeoja? Terlebih, dia mengenalku sebagai orang yang ingin bercerai. Aku tidak bermaksud percaya diri, tapi mungkinkah dia menaruh perhatian kepadaku?

Aku trauma mencintai. Dan sepertinya dia tahu itu. Itu terdengar sangat baik karena aku pasti tidak sanggup untuk mendengarkan kata-kata cinta dari mulutnya. Meskipun itu terdengar benar sekalipun.

“Tidak, hanya memikirkan sesuatu yang konyol.”

Aku tahu, memikirkan tentang ‘Cinta’ sama sekali bukan hal konyol. Tapi aku malas membincangkannya dengan Siwon. Aku sedang tidak ingin bicara mengenai Kyuhyun, Victoria, atau aku sendiri, atau dia.

Pelayan itu kembali datang dan meletakkan baki berisi dua buah piring mungil berisi burger keju dan dua gelas yang terlihat seperti cairan ungu dengan bola-bola permen mungil dan gelembung.

“Memang terlihat aneh, tapi ini enak.”

Aku mengangguk sekilas, meraih tisu dan menangkup burger itu ke dalam tisu itu dan menggigit kecil bagian sampingnya. Dia tidak mengada-ada, rasanya memang enak.

“Apa yang kaupikirkan?” tanya Siwon tiba-tiba sambil menatapku yang tengah menyeruput minumanku sendiri.

“Hanya tentang betapa lezatnya ini.” Sahutku sambil tertawa. “Kau?”

“Aku memikirkan, apakah kita sedang kencan atau apa.”

Oh Tuhan, aku tidak tahu apa yang kupikirkan atau apa yang harus kukatakan. Kepalaku berdenyut dengan cepat, membuat aku meringis.

“Kau tidak apa-apa?”

“Gwenchana. Jangan membicarakan itu lagi.”

Aku melihat sorot kecewa dari dalam mata tajam Siwon, namun aku merasa lelah dengan segalanya. Aku hanya merasa bahwa aku menyayangi Siwon. Namun aku tidak tahu apa itu bisa dikategorikan cinta atau tidak.

“Aku ingin pulang.” Kataku cepat. “Ayo kita pulang.”

 

______________

 

Untuk pertama kalinya, Siwon tidak mengantarkan aku masuk dengan alasan ada tugas mendadak. Aku tidak menuduhnya berbohong, karena aku melihatnya ditelepon oleh seseorang yang terdengar seperti bosnya (Apa hakim punya bos?).

Jadi aku masuk sendirian dan mendapati bahwa Victoria sedang berdiri di ruang tamu dengan air mata menetes-netes dan dengan dua koper besarnya yang bewarna putih dan… pink!

Sementara di sampingnya, berdiri Kyuhyun dengan wajah meminta maaf. Aku tidak tahu apa yang barusan terjadi, tapi aku tahu bahwa itu pasti tidak baik. Victoria sama sekali tidak menggubrisku dan terus berdiri di sana dan berteriak-teriak seperti orang gila. Apalagi dengan maskara dan make-up-nya yang luntur meluncur bersama dengan air matanya.

“Oppa! Kau berengsek!” serunya sekali lagi dengan penekanan yang sangat hebat.

Kyuhyun masih berdiri di situ, dengan posisi yang sama dan dengan ekspresi yang sama. Matanya memancarkan rasa bersalah. Aku tidak tahu apa yang barusan mereka lakukan. Apakah mereka putus dan Victoria memutuskan pergi?

“Jangan kekanak-kanakan, Vikky-ya. Aku hanya memintamu pergi.”

“Itu sama saja kau memutuskanku!”

Oh, benar. Sesuai dengan apa yang aku pikirkan. Aku beranjak meninggalkan mereka dan membuka kerai pembatas. Saat Victoria menarik lenganku kencang.

“Apa?!” seruku kaget dan merasa sakit karena kukunya yang tajam dan bewarna ungu menusuk kulit lenganku.

“Ini semua karenamu!”

Aku memandangnya dan Kyuhyun. Well, apa mereka putus karena aku? Aku bahkan tidak pernah mengganggu mereka. Aku juga tidak pernah ‘menabur’ garam di atas luka mereka. Jadi, apa salahku?

“Ya! Kau, jangan pernah berjalan sesentipun dari sini!”

Oh my God, ini bahkan terdengar seperti opera sabun dengan aku sebagai si Baik yang selalu disakiti, dan dengan Victoria sebagai si Jahat yang bermuka masam, dan Kyuhyun sebagai Pangeran yang kami perebutkan (aku sudah tidak merebutkannya sekarang. Jadi silakan saja kalau Victoria berniat merampasnya!).

Aku hanya diam disana selama beberapa detik, mendengarkan ketika seruan Victoria bercampur dengan isak tangisnya yang monoton. Sementara Kyuhyun hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, tetap dengan posisinya.

Lalu—well, ini mirip sekali dengan Telenovela—Victoria menggebrak pintu—yang memang sudah terbuka—lalu menarik koper-kopernya (berusaha tidak tersandung roda-roda mungil di bawahnya). Kyuhyun sama sekali tidak berniat membantu, dan malah mengeluarkan ponselnya. Belakangan, aku tahu bahwa dia menelepon taksi untuk mengantarkan Victoria ke bandara.

Apakah si Jahat itu akan pergi sekarang? Kenapa kedengarannya tidak se-mellow yang kupikirkan. Kukira, Kyuhyun akan bersimpuh di hadapan gadis itu dan menangis-nangis memintanya untuk tidak pergi, dan Victoria akan mengentakkan kaki—mungkin menendang—Kyuhyun agar melepaskan pegangannya.

Tapi, tidak.

Dan, bodohnya, kami masih dalam posisi yang sama selama beberapa menit ke depan.

“Apa yang kaupikirkan tentang ini?” tanya Kyuhyun tiba-tiba sambil menatapku.

“Kalian putus, dan dia tidak terima. Kenapa kau tidak mengejarnya?”

“Aku tidak mencintainya.”

“Oh, baiklah. Tentu saja kau sudah menemukan yang lain. Selamat malam.”

“Dan itu kau, Choi Sooyoung!”

Aku menoleh, menyipitkan mataku yang besar dan memandangnya sinis.

“Oh, ya? Bukannya itu terlihat sangat bodoh?”

“Tapi ini memang benar!”

Aku tahu dia serius akan hal ini. Tapi rasanya aku malas berbicara dengannya tentang ini, jadi aku hanya mengangkat bahu dan pergi.

Aku tidak peduli dengannya lagi. Biar saja dia merasakan sakitnya ketika dia mengatakan sesuatu yang buruk kepadaku dan meninggalkanku sendirian.

Itulah balasannya.

Oh, yah, apakah balas dendam akan terasa semenyenangkan ini?!

 

________________

 

 

Aku terbangun ketika mendengar suara gedebukan dan teriakan nyaring dari pintu depan. Itu suara perempuan, dan aku juga mendengar suara yang lainnya, sepertinya suara perempuan lain yang jauh lebih melengking.

Tanganku meraih jam weker di atas nakas dan memandanginya dengan tatapan terkejut. Kenapa aku tidak bangun pada waktu yang biasanya?! Pasti kafe sedang ramai-ramainya dan aku malah bermalas-malasan disini.

Memang, kunci kafe tidak hanya kubawa saja. Haera—salah satu pelayan kepercayaanku—memegang kunci yang satunya lagi. Jadi, aku aman-aman saja jika kesiangan begini.

Aku keluar dari kamarku setelah mandi dan menyisir rambut dan mengganti pakaianku. Rumah sangat ramai tidak seperti biasanya. Mungkin saudara atau sepupu Kyuhyun. Aku hapal suara Eun Gi, dan aku yakin mendengar dia berseru.

“Apa?! Mana mungkin Oppa?!”

Well, aku tidak paham apa yang menjadi masalahnya. Tapi aku yakin sekali itu ada hubungannya denganku. Eun Gi tidak pernah berpikir negatif (kecuali jika itu tentangku).

Aku keluar dan mendapati Kim Ahjumma sedang meletakkan baki-baki dan menata cemilan-cemilan dalam toples kaca.

“Oh, itu dia.” Kata Eun Gi lagi, dan aku tidak percaya bahwa dia tersenyum kepadaku. Namun, senyum itu berubah menjadi senyuman sinis yang menyadarkanku bahwa dia masih tetap membenciku. “Hebat, ya. Ternyata Kyuhyun Oppa tidak menceraikanmu!”

Oh, andai saja itu terjadi. Aku tidak akan ada disini dan hanya diam saja menanggapi sindiran telak Eun Gi yang tentu saja ditujukan kepadaku.

“Oh, ya. Itu keajaiban. Tapi, asal kau tahu, ini bukan kemauanku.” Sindirku balik. Ini rumah siapa, berani-beraninya dia menyindirku di daerah kekuasaanku. Lalu langsung berbalik pergi.

Eun Gi dan sepupu Kyuhyun lainnya memang sering ke rumah, dan Kim Ahjumma sudah sering bertemu mereka sehingga merasa baik-baik saja ketika mereka melemparkan sindiran ataupun hal-hal lain yang menyakitkan kepadaku. Tapi ini pertama kalinya mereka datang kemari dan melihat Kyuhyun. Aku heran kenapa Kyuhyun tidak memberitahu mereka pada hari awal dia kemari.

Ponselku berbunyi, dan aku kesulitan untuk mengeluarkan ponselku dari dalam celana jinsku. Apalagi sebelah tanganku yang lain sedang memegang kaleng berisi cocho crispy.

“Kubawakan,” kata Kyuhyun tiba-tiba. Aku tidak tahu dia datang dari mana. Tapi aku bersyukur dia mau bersikap baik denganku kali ini. Aku berhasil mengeluarkan ponselku, lalu mengambil kaleng itu dari Kyuhyun dan langsung berbalik. Oh God, bahkan aku tidak tahu kenapa aku merasa marah padanya. Padahal, bukan salahnya jika semua sepupunya membenciku (kecuali Eomma dan Appanya yang selalu menelepon minimal seminggu sekali). Tapi, itu kan bukan salahnya. Seharusnya yang salah itu aku. Dan hal baik ketika Kyuhyun kembali bersikap baik padaku.

Astaga, aku tidak tahu kenapa semuanya bisa menjadi serumit ini. Aku tidak tahu kenapa aku baik-baik saja, dan bukannya merasa gembira, ketika Victoria dan Kyuhyun putus. Aku tidak merasakan perasaan apapun. Sedih, senang, marah, kecewa, bla bla bla. Aku hanya merasa rileks karena tidak ada lagi orang yang menggangguku karena gaunnya yang rusak karena mesin cuciku. Atau botol make-up-nya yang hilang.

Aku tidak tahu mengapa.

Tapi aku takut, aku takut jika aku menyukai Siwon.

Aku tidak ingin menyukainya.

Bagaimanapun, aku yakin sekali bahwa aku masih mencintai Kyuhyun.

Tapi, Tuhan, bisakah kau memperjelas hatiku?!

 

_______________

 

 

Sooyoung’s POV

 

“Jadi, kau merasa baik-baik saja ketika mereka bertengkar?” tanya Siwon sambil menatapku.

“Ya, tidak sepenuhnya sih.” Sekarang, aku mulai ragu bahwa aku memang mencintai Kyuhyun. “Aku hanya merasa biasa saja. Biasa, bukan berarti baik-baik saja.”

“Itu artinya, kau mulai bisa melupakan Kyuhyun.”

Tidak mungkin. Aku tidak mungkin melupakannya bukan.

“Dan, kau bisa hidup bahagia kembali!” kali ini aku mendengar suara ceria dari namja itu. Tapi, aku tidak ingin.

Satu-satunya hal bahagiaku aalah ketika mengenal Kyuhyun, mencintainya, menikah dengannya—meskipun akhirnya aku harus ditinggalkan—dan bertemu dengannya kembali. Tidak mungkin bahwa aku melupakan Kebahagiaanku begitu saja. Aku tidak ingin hal itu terjadi.

Tidak.

Tuhan, aku ini kenapa? Apa otakku tertinggal di rumah? Dulu, aku selalu berusaha untuk melupakan Kyuhyun. Namun, sekarang aku malah tidak ingin melupakannya.

“Ada apa? Kenapa kau terlihat tidak senang?!”

“Aku tidak ingin melupakannya,” kataku dengan nada bimbang.

Siwon menatapku seolah aku adalah makhluk luar bumi yang mempunyai wajah super aneh dan jelek.

“Apa kau gila!? Bukannya ini yang kauinginkan?”

Uh-oh, aku tahu bahwa dia marah karena ini. Meskipun dia bukan siapa-siapaku, kecuali teman, tapi diaalah yang membuatku keluar dari segala masalahku rumit dan kembali bisa hidup rileks dan santai. Dan dia juga yang menarikku keluar dari lingkaran ‘Mencintai-Kyuhyun’. Dia yang melakukan semua usaha yang bisa dia lakukan untukku, tapi aku tidak bisa membiarkan dia berhasil membuatku melupakan Kyuhyun. Ini salah. Ini tidak benar.

“Aku akan membiarkanmu berpikir selama beberapa hari ke depan.” Katanya sambil mengentakkan kursinya ke belakang dan berjalan keluar dari kafeku.

Siwon benar. Dan aku tidak benar.

Sekarang, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

 

_________

Author’s POV

 

“Kau tidak pergi bersama Siwon?” tanya Kyuhyun ketika mendapati bahwa Sooyoung tengah duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi.

“Apa pedulimu.” Ujar Sooyoung dengan nada dingin sambil menyuapkan sebuah kue kering ke mulutnya dan tertawa melihat siaran di televisi itu.

Kyuhyun hanya mengedikkan bahu sambil berjalan kembali ke kamarnya. Namun, beberapa menit kemudian, dia kembali sambil meletakkan sebuah bantal dan matras, lalu menghamparkannya di lantai.

“Apa yang kaulakukan?” tanya Sooyoung, tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

“Di kamar terlalu sepi.”

“Oh, yang benar saja. Baru beberapa hari ini kau tidur sendirian.”

“Karena itu aku menjadi kesepian.”

Whatever.

Mereka kembali menonton televisi yang menayangkan tentang drama komedi romantis. Genre ini memang kesukaan Kyuhyun dan Sooyoung.

Saat drama itu selesai, Sooyoung mendapati bahwa Kyuhyun sudah tertidur di atas matrasnya yang lembut dan lunak. Dia tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa dia ingin melihat wajah Kyuhyun dari dekat, maka dia mengempaskan dirinya sendiri di atas matras yang sama dengan Kyuhyun dan menghadap namja itu.

 

Sooyoung’s POV

 

Selama beberapa menit, aku hanya memandangi Kyuhyun dalam diam. Betapa aku merindukannya. Selama ini, aku mengira aku baik-baik saja dan berhasil melupakan Kyuhyun. Namun, ketika melihat namja itu dalam jarak dekat seperti ini, aku merasa semuanya musnah. Aku kembali menjadi Choi Sooyoung yang dulu; yang selalu tunduk kepada pesona Kyuhyun dan tidak pernah berusaha membantah.

Aku mendapati bahwa ada dua kerutan samar di pipi dan dahi Kyuhyun. Namja itu memang sudah tidak begitu muda lagi, 29 tahun, namun, kerutan samar datang terlalu cepat. Pasti dia memikirkan sesuatu yang berat? Ataukah, itu terjadi karena perusahaannya? Atau, dia justru sedang berpikir tentang Victoria dan dirinya yang berada di ambang ‘putus’ yang begitu nyata. (Meski sebenarnya itu sudah terjadi).

Entah kenapa, aku kalah dengan dorongan kuat untuk menyentuh wajahnya yang putih dengan jemariku. Sedetik kemudian, jemariku sudah mengikuti gurat-gurat wajahnya yang tampak mendamaikan dan tenang.

Sekarang, aku sadar bahwa aku tidak sepenuhnya  sudah melupakan namja di depanku ini. Jika memang aku sudah melupakannya, tidak mungkin aku merasa jantungku berdetak lebih cepat seperti ini. Dan entah mengapa, ini mengingatkanku tentang Siwon. Tentang betapa jahatnya aku yang membuat semua usahanya untuk membuatku lupa pada Kyuhyun hancur berkeping-keping. Aku memang tidak mengharapkan ini terjadi. Namun, aku merasa inilah satu-satunya hal benar yang ada dalam hidupku.

Mencintainya. Membiarkan diriku kembali larut dalam kebahagiaanku bersama Kyuhyun. Membiarkanku kembali merasakan pelukan hangat dan arti dalam cinta. Membuatku mengerti bahwa kenyataannya, aku sama saja dengan aku yang dulu.

Aku tidak akan pernah melepaskan marga depanku lagi. Biarkan saja namaku menjadi Cho Sooyoung.

Karena aku bahagia.

 

__________

 

Aku bangun. Dan mendapati bahwa semuanya berubah. Aku merasa ini bukan kamarku dan mendapati bahwa aku tidur di samping Kyuhyun—di kamar pernikahan kami. Ini membuatku tidak percaya sama sekali. Dulu, betapa inginnya aku tidur disini, dengan Kyuhyun di sampingku. Dulu, betapa seringnya aku kemari, mengendusi setiap senti ruangan, berusaha mencari sisa-sisa aroma Kyuhyun yang mungkin tertinggal. Namun, semua aroma itu seolah menghilang bersama setiap kotoran yang telah disapu bersih dari kamar ini.

Awalnya, kukira aku masih bermimpi. Karena rasanya, hidupku terlalu buruk untuk ini.

Namun, ketika aku merasakan sebuah lengan melingkari pinggangku, aku yakin ini bukan mimpi.

“Kau sudah bangun?” tanyaku dengan suara parau pada sosok di hadapanku.

Dia melenguh dan mengulet perlahan.

Aku sadar bahwa posisi kami sangat intim, kami tidur bersama, dengan lengan kanannya di atas pinggangku, dan dengan wajah kami yang sedikit terlalu dekat.

“Kau memindahkanku kemari?”

“Mmm, ya.” Dia meringis tidak enak. Aku tahu—meski seberapa bencinya dia kepada orang—Kyuhyun akan tetap menghormati orang itu. Dan, kemungkinan besar, sekarang dia merasa tidak enak telah membawaku kemari, meski sebenarnya aku sendiri tidak merasa tidak enak.

“Baiklah, cukup.” Aku menggumam malas mendengar alasannya dan langsung turun dari kasur lalu berjalan keluar dari mobilnya. Kebetulan Kim Ahjumma lewat dan dia sekarang memandangiku yang keluar dari kamar Kyuhyun dengan penampilan acak-acakan.

Akhirnya setelah beberapa menit mematung, Kim Ahjumma tersenyum lebar dan berjalan pergi. Aku tidak tahu apa yang sekarang ada di pikiran Kim Ahjumma, tapi aku juga tidak ingin tahu itu.

 

_________

 

 

“Sooyoung-ah!”

Aku langsung menoleh dan mendapati seorang yeoja berjalan dengan cepat ke arahku. Rambutnya yang diekor kuda bergoyang kesana-kemari mengikuti gerakannya yang cepat.

Dia sampai di hadapanku dan butuh beberapa menit untukku sebelum menyadari bahwa dia adalah temanku semasa SMU dan kuliah itu.

“Jia-ya!” seruku dan memeluknya erat.

Kami berpelukan selama beberapa saat dan akhirnya duduk di salah satu bangku taman.

“Bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun Sunbae?” Tanyanya dengan semangat sambil memainkan ekor kudanya. “Aku dengar dia pergi ke London selama beberapa tahun. Apakah kau tidak merindukannya?”

Aku menatapnya terkejut. Bagaimana dia tahu begitu banyak tentangku? Aku saja tidak tahu apa-apa. Atau, itu karena saking terkenalnya Kyuhyun?

“Sebenarnya,” ungkapku jujur. “Hubungan kami tidak baik-baik saja,”

Dia tidak tampak terkejut. Hanya memandangiku saja.

“Aku tahu itu.” Ujarnya dengan tenang sambil menepuk-nepuk punggungku. “Aku datang ke rumah barumu selesai resepsi.”

“Kau mendengar pertengkaran kami?”

“Tidak begitu jelas.” Jia berkata dengan tidak nyaman. Dia melipat-lipat blazernya dan memandangiku tidak yakin. “Aku hanya mendengar bentakan—maaf—dan lalu aku melihat Kyuhyun Sunbae pergi dengan mobilnya. Aku memang tidak terlalu pintar, tapi aku tahu itu tandanya hubunganmu tidak terlalu baik.”

“…”

“Dengar, Sooyoung-ah. Tidak apa-apa mengatakan segalanya dengan jujur kepadaku. Kita sahabat, bukan? Aku tidak akan membocorkannya.”

Aku tidak tahu mengapa aku menceritakan segalanya dengan detail-detail kesedihan, keterpurukan, lalu hubungan kami sekarang, dan Victoria. Setelah beberapa menit bercerita—tepatnya menumpahkan emosiku—akhirnya aku selesai. Dan aku baru menyadari bahwa airmata sudah membasahi pipiku.

“Ini.” Katanya sambil menyodorkan sebuah tisu padaku. “Aku tidak menyangka hidupmu bisa sesedih ini.”

“Aku juga tidak.”

“Kau tidak mengatakan apa-apa ketika aku datang melayat ibumu.”

“Aku malu kepada diriku sendiri.”

“Baiklah. Gwenchana. Sekarang, dimana kau tinggal?”

“Masih sama seperti dulu.”

“Oh,” dia tampak terkejut. “Kau masih serumah dengan Kyuhyun Sunbae?”

“Kami belum resmi bercerai.”

“Dia tidak mencobanya lagi?”

“Tidak. Tapi aku tidak tahu apakah aku sanggup hidup sendirian.”

“Ya, benar. Hidup itu terkadang terlalu menyedihkan.” Dia tersenyum. “Semoga kau mendapat hidup yang lebih baik. Ini kartu namaku, ada nomor ponsel dan alamatku disana. Tinggal telepon aku jika kau membutuhkan sesuatu.”

Aku mengangguk. Kemudian Jia berkata bahwa dia harus kembali ke kantornya dan meninggalkanku sendirian di taman.

 

T B C

Hehe, gimana? Aneh ya? Mulai besok, Victoria udah gak ada lagi *yeeexD

Tetap tinggalkan komen kalian ya ^^

itu seperti oksigen di tengah gurun bagi Author *huekk

Ghamsahamnida udah baca, like/komen ^^

Annyeong~

96 thoughts on “[Chapter 6] My Fault

  1. aku baru komen disini .. maaf ya…
    ngebaca ff ini itu menebak” apakah berakhir bahagia atau sebaliknya…
    semoga happy ending (saya baru baca sampai part ini).
    hwaiting!!!!!

    Like

  2. yeee ahirnya ahjumma nya pergi, yes yes seneng😀
    soo ko kaya yang ragu gitu masih cinta sama kyu atau ngga. Jangan dong, jangan sampe ga cinta lagi, masa bakalan suka sama siwon, ngga ngga NGGA BOLEH !

    Like

  3. Nah kan kyu mulai nyadar! Gitu kek dari dulu haaah -_- sedikit celah untuk soo eon disini. Fighting soo eon! Next thor

    Like

  4. Aduh thor..
    Entah kenapa aku malah kepengennya, Kyuhyun hidup sendirian, terus SooWonnya menikah..

    Jadi kan balas dendam yang asik😀 *ReadersYangNyolot:D
    Good thor

    Like

  5. Akhirnya ada bahagia yang menghampiri…*bahasamu rima yaampun-..-*
    Ciee kyuhyun ngaku. Aku antara senyum gitu ama nyesek waktu Kyu blg gadis itu kau, Sooyoung.
    Pengen ketawa seneng tapi lagi terharu nyesek dihati. Aihh pinter banget bikin ff kamuuu:3
    Romantis yaa bangun pagi akhirnya Sooyoung bisa ngelihat Kyuhyun waktu buka mata:’)

    Like

  6. berhubung saya belum bca dari chapter pertama, jadi saya blm bisa memberikan tanggapan apa-apa.. Tapi untuk yang chapter 6 ini, ceritanya keren. Tata bahasanya juga bagus, gak asal-asalan.. Keep writing!!

    Like

  7. Yeee .. victoria udah gaada
    Kyuppa mau kembali tapi Soo unni ragu ..
    Ayo Kyuppa semangat, cayoo cayoo ..
    Ditunggu next partnya, thor🙂

    Like

  8. nah kyu,,,vict udah pergi,,jadi sekarang tugasmu adalah membuat hati soo eonni 100% jadi milikmu lagi dan yakinkan dia, sebelum siwon masuk ke hatinya lebih dalam….

    Like

  9. Akhirnya vic pergi jga………..
    Kyuppa berusaha dekatin soo eonni lgi……
    Di tunggu aza part 7 nya…..
    jng lma2 soal nya penasaran……
    ^_^

    Like

  10. Akhirnya vict pergi juga dari kehidupan kyu!😀
    siwon terlalu baik, tapi sepertinya kebaikan dan perhatian siwon tdk bisa merubah perasaan soo ke kyu!
    Apalagi kyu berusaha lagi untuk mendapatkan hati soo.. Well apapun yg trjadi, kyuyoung jjang! ^^

    Like

  11. yey akhir’a vic pergi…wah kaya’a kyuyoung kembali brsama tp kasihan ma siwon yg dah ngarepin soo sbner’a sih aku pngen bgt soowon coz kyu dah ga perjaka lg

    Like

  12. i’m come back to comment author… ^^ yippi
    prasaan aq kok seneng yah…. hatiku terbuka menerima kenyataan soo ma kyuppa/wonppa sama aja deh…xixi

    g seneng ah kependekan but so far aq puas jg kok… eh emg siwon hakim yah kerjanya??? prasaan di awal2 dy kerjanya jaksa/pengacara perceraian deh…
    lanjutttttttttttttttttttttttt thor……..to the next part… Gomawo

    Like

  13. Akhirnya si jalang itu pergi juga .
    Kyu berusaha buat ngedeketin soo lagi ne? Hadapi dulu rintangan yg ada hehe .
    Lanjutin yah,pengen liat usaha kyu hehe

    Like

  14. fiuh.. akhirnya vic menghilang. tinggal gmn caranya spya kyu bs dptin hati soo lagi. pengen bgt kyuyoung balikan & bs jalanin kehidupan rmh tangga romantis sampe pnya anak, kejadian yg shrsnya bs mereka lakuin slma 5 thn mereka berpisah dulu. trus singkirin jg kebimbangan hati soo ttg perasaannya ke siwon. bikin soo galau aja walaupun udh yakin sih soo msh cinta bgt sm kyu

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s