[Chapter 7] My Fault


my-fault-coverbyvnjwoon

Title: My Fault

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-CHo Kyuhyun

-Choi Siwon

Genre: Sad, Romance, Love Story

Rating: Teenager and PG

Length: Chaptered/Series/Section

Backsound: SJ: Storm, In My Dream

Author Note:

Annyeonghaseyo~~

Berapa lama Author menghilang? I’m Sorry keke~

Padahal saya masih US, tapi nekat ngelanjutin ini dan bikin oneshoot *bocoranceritanya:)

Ini 3000 word lebih🙂 But, it’s still ber-typo and ugly xD

Komentarnya menurun, mungkin karena ceritanya jadi aneh, lebay, jelek ya? Yaah, saya sih maklum aja. pasti udah pada bosan ^^

Langsung aja, ne? Mian kalo ini mengecewakan~

Check It Out!

Happy Reading~

_____________

Chapter 6~

 “Ya, benar. Hidup itu terkadang terlalu menyedihkan.” Dia tersenyum. “Semoga kau mendapat hidup yang lebih baik. Ini kartu namaku, ada nomor ponsel dan alamatku disana. Tinggal telepon aku jika kau membutuhkan sesuatu.”

Aku mengangguk. Kemudian Jia berkata bahwa dia harus kembali ke kantornya dan meninggalkanku sendirian di taman.

Chapter 7~

Diam-diam, aku suka sekali ke taman ini. Taman yang menjadi tempatku kali pertama bertemu dengan Kyuhyun. Seperti yang sudah dikatakan Jia, Kyuhyun adalah sunbae-ku di SMU dan di universitas.

dulu, banyak sekali yeoja yang tergila-gila dan mengejar Kyuhyun sampai rela mati untuknya. Aku selalu berpikiran bahwa itu menggelikan, mati untuk seseorang yang kau cintai—yang jelas tidak balik mencintaimu—adalah hal paling menyedihkan. Namun sekarang aku percaya saja, karena sekarang aku juga merasakannya.

Aku dan Kyuhyun Sunbae tidak dekat. Bahkan tahu namaku pun dia tidak. Kami baru lumayan dekat ketika masuk universitas. Jarak umurku dengannya adalah tiga tahun, namun aku masuk ke kelas akselerasi sehingga jarak sekolah kami hanyalah dua tahun. Kebetulan, ketika aku menjadi Mahasiswi-Culun-Baru di universitas, sunbae yang mengospekku adalah Kyuhyun Sunbae dan temannya yang bernama Jessica Jung. Kyuhyun jarang sekali memberiku hukuman—well, dia tidak punya alasan untuk menghukumku karena aku tidak pernah membantah atau melupakan barang-barang yang seharusnya kubawa. Dia juga sangat baik. Tapi Jessica Sunbae tidak. Dia sering sekali terlihat mencari kekuranganku. Dia menemukannya di hari kedua.

Hari kedua Ospek, aku menderita demam sehingga tubuhku begitu lemah dan untuk berdiripun aku harus berpegangan pada tiang kuat-kuat. Karena saking sakitnya aku, aku melupakan pin tanda pengenalku (yang sebenarnya tidak begitu penting mengingat ada kertas karton berbentuk persegi yang digantungkan di leher yang jatuh di depan dada). Jessica Sunbae mengetahuinya, dan dia menghukumku berlari memutari lapangan tiga kali dan mencari tiga semut.

Aku lelah, dan merasa badanku bergetar sakit, jadi aku menggelengkan kepala dan meminta dispensasi. Namun dengan teganya Jessica—aku tidak sudi memanggilnya sunbae lagi setelah itu—memaksaku dan berkata bahwa aku adalah murid baru pembangkang yang centil. (sejak kapan aku berubah menjadi centil?!)

Jadi dengan terpaksa aku berlari, memegangi kepalaku dan menekannya. Sementara kesadaranku perlahan-lahan menghilang. Yang aku ingat, aku seolah berjalan di atas awan dengan tubuh yang seringan kapas. Dan kemudian segalanya gelap.

Saat aku bangun, aku menyadari aku ada di atas kasur di UKS, dengan Kyuhyun di sampingku. Dia tertidur. Kepalanya jatuh di atas selimut tebal yang menutupi tubuhku. Wajahnya seperti malaikat-tanpa-sayap yang sangat tampan dan menenangkan. Dadaku berpacu cepat. Dan aku khawatir hentakan jantungku akan membuat kasur ini bergoyang dengan cepat.

Namun, beberapa detik kemudian Kyuhyun bangun—ini masih membuatku bertanya-tanya apakah dia bangun karena merasa terganggu dengan detak jantungku, atau karena nalurinya yang menyuruhnya bangun. Kami bertatapan beberapa detik. Astaga! Itu kan hanya beberapa detik! Tapi efeknya mengerikan sekali.

Sejak saat itu, aku menjadi seorang: Kyuhyun’s Fanatic Fan.

Setiap hari, yang aku lakukan hanyalah menenteng digitalku kemana-mana, sambil memikirkan tentang Kyuhyun atau tentang dosen-dosen yang membuatku emosi. Namun, tentu saja yang pertama lebih sering terjadi.

Saking seringnya aku memotret foto Kyuhyun diam-diam, aku sampai harus mempunyai lima album BESAR tentangnya yang selalu tersimpan rapat di laci kamarku yang terkunci. Itupun masih kurang bagiku. Aku masih mengikuti Kyuhyun diam-diam, lantas memotretnya.

Dan, well, keberuntunganku berakhir. Waktu itu aku sedang sakit kepala dan otakku pasti terbentur karena aku memotret Kyuhyun ketika dia hanya satu meter di hadapanku. Alhasil, aku ketahuan. (Itu memalukan, butuh waktu berabad-abad untukku lupa pada perasaanku waktu itu).

Dengan santainya Kyuhyun menghampiriku, lalu merebut digital dari tanganku. Kukira dia akan marah besar dan menghapus semua fotonya dalam memori digital itu. Tapi ternyata dia mengangkatnya ke udara dan berpose tersenyum kemudian meng-klik tombol potret.

Dalam foto itu, aku terlihat seperti orang stres yang benar-benar terlihat kebingungan dengan kedua pipi merah. Aku bahkan menyimpan foto itu sampai sekarang. Ada di laci bagian tengah lemariku, tempatku menyimpan segala milikku yang ada hubungannya dengan Kyuhyun.

Sejak Tragedi-Foto itu, aku menjadi dekat dengan Kyuhyun. Kami sering pergi kemana-mana. Bahkan banyak mahasiswi yang mengira kami berpacaran. Kami tidak menanggapi itu dengan serius dan malah tertawa-tawa. Well, padahal itu memang yang aku harapkan.

Kemudian—setelah dua tahun aku menantinya dalam diam—akhirnya Kyuhyun mengaku bahwa dia menyukaiku (YESS!) dan kami berpacaran saat itu. Kemudian, tiga tahun kemudian pernikahan kami dilangsungkan.

Pada awal hubungan kami, banyak orang mengira bahwa Kyuhyun hanya mempermainkanku. Aku takut pada kenyataan itu. Namun, kenyataannya kami tetap baik-baik saja. Bahkan Kyuhyun bersikap lebih baik kepadaku.

Dan kemudian, tiba-tiba Eomma-ku mengatakan rencana itu dan membuat Kyuhyun marah. Lalu, dia membuangku sendirian.

Well, itu sangat menyedihkan. Dan aku benci kepada kenyataan itu.

_________

Ponselku berbunyi ketika aku berada di lorong dingin penuh sayuran dan daging beku di swalayan yang ramai. Aku merogoh sakuku, mengeluarkan ponsel hitamku itu sambil terus mendorong troli yang penuh dengan bahan makanan.

“Yeoboseyo,” sapaku, memandangi deretan makanan vegetarian. Aku bukan vegetarian, tapi aku suka teh herbal dan teh hijau.

Sooyoung-ah, ini Eommonim.” Kata orang di balik sana yang ternyata adalah Eomma Kyuhyun.

“Nde, Eomma. Wae?”

Besok, datanglah ke rumah Eomma bersama Kyuhyun. Jangan lupa ya. Kau datang pukul delapan pagi, ne?”

“Memangnya ada apa, Eomma?”

Sudah, pokoknya datang saja. Annyeong.”

Kemudian telepon itu mati. Aku tahu sekali bagaimana sikap Eomma Kyuhyun. Dia tidak pernah mau dibantah, jadi aku harus pergi kesana bersama Kyuhyun. Dan, aku tidak punya alasan yang lebih pantas untuk mengajak Kyuhyun. Dia pasti mengira bahwa aku sudah memaafkannya—meskipun itu memang benar. Aku tidak mau itu terjadi.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan memasukkan sekotak keripik ke dalam troli dan mendorongnya ke kasir. Setiap hari aku akan berbelanja begini lalu membawanya ke kafe.

Selesai membayar, aku segera keluar dan menunggu angkutan umum yang bisa membawaku ke kafe. Aku tidak punya mobil, dan tidak berniat untuk punya. Aku tidak pernah bisa menyetir, dan menyetir mobil sendiri pasti akan membahayakan bagiku.

Lima menit berlalu, dan bahkan aku masih berdiri disini dengan dua kantong besar berisi bahan makanan.

Tin.

Aku langsung menoleh mendengar suara klakson mobil itu. Dan aku langsung menyesali tindakanku itu karena seseorang dalam mobil itu adalah Kyuhyun. Aku memang merasa gengsi untuk sekedar berbicara baik-baik kepadanya. Biar saja dia yang memulainya.

“Masuklah. Kudengar angkutan berhenti beroperasi hari ini.”

Oh, ya? Bagaimana dia tahu? Lagipula, tadi aku berangkat kesini naik subway kok! Jadi tidak mungkin itu terjadi. Tapi aku takut juga jika harus menunggu bus disini. Apalagi mengingat tingkat kejahatan yang dua kali lipat lebih kejam di malam hari ketimbang di siang hari. Jadi, aku memutuskan untuk merendahkan harga diriku dan mengangkat belanjaanku ke dalam mobilnya. Kyuhyun membantuku mengangkat kantong yang lainnya dan memasukkannya ke kursi bagian belakang. Setelah itu, kami masuk ke dalam mobil lagi dan duduk.

Dari dulu, mobilnya tidak berubah sedikitpun. Masih sama persis dengan yang dulu. Bedanya, sekarang mobilnya berbau seperti parfum maskulin yang berkesan dingin. Dulu, mobilnya dipenuhi hiasan-hiasan nama kami. Seperti box tisu yang mempunyai arsiran KY di depannya; hiasan gantungan di kaca belakang mobil yang dibordir dengan tulisan ‘Kyu-Soo’ lalu gambar cinta, dan lain-lain. Dulu juga mobil ini berbau seperti cokelat dan permen. Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tapi bau itu membuatku betah berjam-jam di dalamnya. Dan sekarang, mobil ini tidak memiliki hiasan apapun. Hanya pewangi berbau maskulin yang mendasari.

“Apa kau setiap hari berbelanja disini?” tanyanya tiba-tiba membuatku hampir melonjak.

“Tentu saja.”

“Dan selalu naik bus?” aku mendengar suaranya terdengar mengejek.

“Aku tidak bisa mengendarai mobil dengan baik.”

“Bukannya dulu aku sudah mengajarimu?”

“Kau pikir latihan seminggu bisa membuatku bisa?!”

“Aku hanya berlatih selama lima hari.”

“Itu kan kau!”

“Oh, baiklah, aku tahu bahwa aku sangat pintar.”

Oh, shit, dia mengesalkan sekali! Aku berusaha tenang dan menatapnya mengejek.

“Oh, ya? Tidak ada orang pintar yang mau dibodohi oleh pacarnya sendiri.”

Dia mengernyit.

“Maksudku,” ulangku dengan penekanan yang kentara. “Bukannya kau tahu kalau Victoria memorotimu?”

Kukira, dia bakal menamparku dengan sangat keras saat itu juga. Tapi yang kudapatkan malah suara tawa.

“Oh, ya.” Dia tertawa sampai tidak berkonsentrasi menyetir. Aku tidak tahu dimana letak lucunya. “Anggap saja itu sebagai ganti rugi.”

Aku mulai memahami ini. Jadi, sebenarnya Kyuhyun tidak pernah menganggap Victoria sebagai pacar sungguhannya. Dan ‘uang’ yang banyak dikeluarkan Kyuhyun itu adalah ganti rugi atas ‘Her Body’.

“Maksudmu,” aku menelan ludah, merasa jahat sekali jika aku mengatakan ini. “Kau pacaran dengan Victoria karena…”

Bukannya aku ingin berbesar hati atau bagaimana. Tapi aku merasa bahwa dia masih mencintaiku dan masih ada jalan untukku mengisi hatinya.

“Benar.” Ujar Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari setir mobilnya.

Aku tidk tahu harus mengatakan apa. Terlalu banyak yang ingin kutanyakan kepada Kyuhyun, namun terlalu banyak juga hal yang seharusnya tidak aku tanyakan kepadanya.

Jadi, bermenit-menit kemudian, kami masih tetap diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

______________

Kyuhyun’s POV

 

Aku mengentakkan ponselku dengan keras di atas kasur. Barusan Eomma memaksaku untuk datang. Dan—seperti biasanya—dia menutup ponsel sebelum aku mengatakn sesuatu.

Mau tidak mau, aku harus datang ke rumah besok Minggu, bersama Sooyoung. Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan ini pada Sooyoung. (Aku membayangkan diriku berjalan menghampiri Sooyoung, kemudian mengatakan, “Soo—besok kita akan ke rumahku. Kita berangkat bersama, ne?” kemudian dia mengangguk dan aku akan memeluknya. Tidak mungkin-__-).

Dengan kesal, aku merasa bahwa titik terlemahku adalah meminta maaf kepada seorang yeoja. Itu tidak baik, aku tahu itu. Karena semua yeoja di dunia menginginkan seseorang yang romantis dan mudah meminta maaf atau membisikkan kata-kata sayang di telinga mereka. Tapi rasanya itu sangat sulit bagiku.

“Kyuhyun-ah, kau tidak makan?!” seru Sooyoung dengan suara cemprengnya dari depan pintu kamarku.

Entah mengapa tiba-tiba aku merasa sangat gugup.

“Ah, ya. Aku akan turun segera!” seruku balik sambil memandang bayanganku di kaca. Kemudian aku segera turun agar dia tidak berteriak-teriak lagi. Sepertinya—sejak Victoria  pergi—hubunganku dengan Sooyoung membaik, meski tidak bisa dikatakan sangat baik. Tapi setidaknya, ini permulaan yang cukup bagus.

Sooyoung dan Kim Ahjumma sudah duduk dan sedang menata meja makan. Terkadang, Sooyoung membuatku heran. Dia sudah berangkat pagi-pagi ke kafe, pulang sore, kemudian masih membantu Kim Ahjumma membersihkan dan menata rumah. Melihat sifatnya itu, membuatku membandingkannya dengan Victoria. Harus kuakui, Victoria tidak ada seperempatnya dari Sooyoung. Yang ada dalam yeoja itu hanyalah kemanjaannya serta betapa berlebihannya dia ketika berbelanja. Bahkan, ketika kami masih di London, kami berencana pergi ke pantai dan dia membawa lima baju ganti. Itu sangaaat berlebihan dan aku tidak suka dengan sikapnya itu. Sebaliknya, Sooyoung adalah yeoja yang sangat sederhana dan praktis. Meski dia tidak selalu melakukan perawatan—aku malah berpikiran bahwa dia sama sekali tidak melakukan itu—dia masih tetap cantik menarik dengan segala kepribadian dan kenaturalannya itu.

“Kenapa tidak makan?” tanya Sooyoung tiba-tiba sambil memandangiku.

“Ah, ya.”

Aku mengalihkan pandanganku darinya ke piringku. Sudah ada nasi dan lauk disana. Serta sup panas yang dipenuhi oleh sayuran. Aku tidak begitu suka sayuran, tapi jika Sooyoung mengolah sayurannya seperti ini, aku berubah menjadi seperti maniak-sayuran. Tapi jika dia tidak mengolah sayuran itu seperti ini, aku kembali berubah menjadi seseorang yang anti-sayuran.

“Kemarin Ibumu meneleponku.” Ujar Sooyoung tiba-tiba setelah Kim Ahjumma pamit pergi. “Dia menyuruh kita ke rumahnya.”

Aku kaget. Bagaimana Eomma melakukan hal memalukan seperti itu? Apa dia pikir hubunganku baik-baik saja dan kembali romantis seperti dulu? Meski hubungan kami menjadi lebih baik, aku sadar bahwa Sooyoung terlihat membentengi dirinya dariku. Aku ingin menyingkirkan benteng itu dan membuatnya kembali seperti dulu. Namun, aku juga sadar bahwa itu memerlukan waktu yang tidaklah cepat.

____________

“Soo, ayo kita pergi.” Ajakku sambil memandanginya yang tengahmembolak-balik halaman buku di hadapannya.

“Oh, pergi kemana?” dia tampak kaget.

“Jalan-jalan. Aku ingin membelikanmu sesuatu.”

“Tidak perlu.”

“Ya, itu perlu.” Aku memandanginya tajam, memintanya dengan sangat keras agar menerima ajakanku. Berhasil. Dia mengangguk dan berbalik menuju kamarnya. Beberapa menit kemudian, dia sudah keluar mengenakan pakaian yang lebih rapi dan sopan.

“Ini enaknya pergi denganmu,” cetusku spontan. “Jika aku pergi dengan Victoria, membutuhkan waktu berjam-jam untuk menunggunya.”

Wajah Sooyoung yang semula cerah menjadi lebih gelap dan senyumnya mengempis secara langsung. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa melakukan itu.

“Ayo pergi.” Ajakku dengan gugup sambil menggandeng tangannya keluar. Ini aneh. Sudah lima tahun lebih aku tidak memegang tangannya. Dan tiba-tiba aku merasa gugup.

Kami masuk ke dalam mobil dan dia secara spontan melepaskan genggamanku.

“Aku tidak bisa naik kalau kau terus menggenggamku.” Protesnya memahami wajah heranku. Aku tersenyum malu dan memilih untuk langsung naik saja dan mulai menjalankan mobil.

____________

Kami sampai di mal tempatku biasa berbelanja dengan Victoria. Sooyoung sepertinya takjub melihat banyaknya orang yang berlalu-lalang di hadapan kami. Aku tahu bahwa dia tidak pernah menginjak mal sekalipun sejak kutinggalkan. Salah seorang pelayan yang dekat dengannya pernah kutanyai dan dia menjelaskan semuanya. Dia mengira bahwa aku meninggalkan Sooyoung karena urusan pekerjaan. Itu menguntungkan bagiku karena setidaknya hanya Sooyoung dan keluargaku yang tahu betapa jahatnya aku padanya.

Sekarang, aku sama sekali tidak percaya pada kenyataan bahwa dia menikahiku hanya karena uang. Aku sedang mencari waktu yang tepat untuk meminta kejelasan darinya. Cepat atau lambat.

“Kau mau mulai darimana?” tanyaku membuyarkan lamunannya. Dari pengetahuanku tentangnya dulu—yang masih melekat kuat di otakku—sebenarnya Sooyoung suka berbelanja. Meskipun dia lebih pemilih, tidak seperti Victoria yang langsung menyambar apa yang menurutnya bagus tanpa menyadari betapa membosankannya gaun pilihannya itu.

“Aku sudah lama tidak kesini.” Ujarnya jujur, “aku hampir lupa dimana letak toko tempatku biasa berbelanja dulu.”

Rasa bersalah langsung menyelimutiku. Jika Sooyoung menikahiku karena uang, sudah pasti sekarang dia memiliki banyak koleksi gaun yangg dia borong ketika aku pergi. Nyatanya, dia malah mengatakan bahwa dia ‘Hampir-lupa-tempat-berbelanja’, itu menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak berbelanja. Itu sudah cukup membuatku semakin merasa bersalah.

“Baiklah, kita kesini.” Kataku akhirnya sambil menyeretnya berjalan ke toko pakaian terdekat. Aku yakin sekali merasakan tangannya kaku. Entah mengapa. Apa dia  masih menyukaiku?

“Tidak, tidak. Aku tidak ingin berbelanja apapun,” katanya sambil melepas genggaman tanganku. “Masih banyak hal yang lebih penting daripada pakaian.”

“Tapi aku akan membelikanmu.” Ujarku tetap memaksanya masuk.

Kami disambut oleh seorang pramuniaga berbaju soft-pink. Pramuniaga itu menghampiri kami dengan senyuman tulus di bibirnya.

“Selamat datang, anda membutuhkan bantuan?” tanyanya sambil tersenyum.

“Hmmm, kami mencari gaun untuk istri saya,” kataku tanpa basi-basi.

“Ah, ani…”

“Ya. Kami memang mencarinya.” Potongku segera.

Pramuniaga itu mengantarkan kami ke sebuah lorong pakaian yang sangat luas. Aku sudah sering kemari bersama Victoria.

“Disini adalah pakaian-pakaian mode terbaru. Jika anda membutuhkan bantuan, panggil saya saja.”

Aku menyeret Sooyoung berjalan dan mengambili beberapa pakaian yang menurutku cocok dikenakannya. Berdasarkan survei berbelanjaku bersama Victoria, aku tahu banyak pakaian yang sedang tren dan yang cocok untuk seorang yeoja. Alhasil, sudah ada setumpuk pakaian di lenganku.

“Ini terlalu banyak,” keluh Sooyoung ketika kusarankan dia untuk menjajalinya satu-persatu ke kamar pas. “Aku hanya membutuhkan beberapa potong pakaian, tapi tidak sebanyak ini.”

“Jangan banyak omong,” kataku lembut. Aku tahu sebenarnya dia suka dengan gaun-gaun disini. Dan ini sebenarnya perwujudan rasa bersalahku karena selingkuh dan meninggalkannya. Lenganku mendorongnya masuk ke kamar pas.

Beberapa menit kemudian, Sooyoung kembali keluar mengenakan gaun lipit sederhana bewarna hijau muda yang dipadu dengan blazer tipis bewarna putih. Gaun itu cocok sekali dengannya karena Sooyoung memiliki tubuh ideal, terlalu kurus malahan.

“Bagaimana? Aku kelihatan aneh ya?” tanyanya ragu melihatku hanya memandangnya saja.

“Ah, aniya. Ini cocok sekali. Sekarang, cepat coba gaun lainnya.”

Sooyoung merengut sebentar kemudian kembali masuk. Dia kembali keluar mengenakan rok manis yang berbentuk seperti kemeja selutut bewarna putih. Lengannya hanya sesiku dan ada sebuah sabuk super mungil di pinggangnya. Itu juga cocok. Aku heran kenapa semua pakaian pantas dikenakan oleh Sooyoung, tidak peduli kapan dan dimanapun. Apa jangan-jangan itu pandanganku saja? Atau, itu memang benar?

“Kita juga membeli itu,” kataku.

Kemudian Sooyoung kembali masuk dan keluar mengenakan gaun yang berbeda. Begitu terus-menerus. Aku heran karena aku tidak merasa bosan sedikitpun. Padahal biasanya ketika diajak berbelanja Victoria aku selalu merasa sangat mengantuk dan bosan. Tapi ini lain. Karena Sooyoung dan Victoria berbeda.

________

“Aku lelah, bisakah kita beristirahat sebentar?” tanya Sooyoung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan bersedekap.

“Oh, ya. Course.

Kami berjalan di sepanjang mal, berkeliling dari satu toko ke toko yang lain. Tanpa bosan. Sepertinya Sooyoung menikmatinya, aku juga sangat menikmatinya. Aku senang aku bisa membahagiakannya. Aku senang bisa membuatnya tersenyum, tertawa, dan bahagia, bukannya menangis seperti yang seringkali kubuat. Aku heran Sooyoung masih bisa tersenyum setelah apa yang kulakukan kepadanya.

Eommaku benar. Sooyoung bukan tipe seperti yang awalnya kutuduh. Dia baik, setia, dan dia terlalu sempurna untukku. Aku hanya ingin membuatnya merasa nyaman lagi denganku. Aku ingin membuatnya kembali menyukaiku dan meruntuhkan benteng yang ada di hatinya. Aku ingin dia kembali seperti dulu. Sooyoung-ku yang dulu. Yang selalu ada di belakangku, menyemangatiku. Tawanya, matanya, senyumnya, tubuhnya, pelukannya, wangi parfumnya, rambutnya, semuanya. Aku ingin memilikinya.

“Kau ingin memesan apa?” tanya Sooyoung.

Aku menyebutkan pesananku. Sooyoung juga. Lalu setelah pelayan itu pergi, aku memandanginya.

“Soo, mianhae. Jeongmal mianhaeyo.”

Dia mendongak. Memandangku dengan tatapan kosong yang seakan menusukku.

“Aku tahu aku bersalah. Sangat sangat bersalah karena tidak mempercayaimu yang istriku sendiri. Aku merasa sakit hati ketika mendengar Eommamu berkata seperti itu kepadamu. Dan aku marah, aku takut jika itu memang benar dan kau memang tidak mencintaiku dan malah mencintai uangku. Aku takut jika kau telah mendapatkan apa yang kaumau, kau akan meninggalkanku…”

Matanya mengabur, tergenangi oleh air mata.

“Sejujurnya—aku kecewa kepada diriku sendiri. Aku—aku merasa kau sangat jahat kepadaku. Saat itu, aku kacau. Dan aku pergi meninggalkanmu, pergi sejauh-jauhnya. Dan bertemu Victoria—”

“Cukup.” Katanya dengan tegas. “Yang pertama, bukan aku yang menginginkan uangmu. Eomma-ku yang memaksaku untuk melakukan itu. Aku kecewa kepada diriku sendiri dan Eomma-ku karena berpikiran sepicik itu pada hal-hal yang seharusnya penuh kesucian dan kejujuran. Aku—aku tidak berani untuk menolak apa yang diinginkan oleh Eommaku. Kau tahu, dia membesarkanku dari kecil ketika Appa-ku pergi. Aku tidak punya kekuatan untuk menolaknya. Aku—

“Lalu kau mendengar itu kemudian menuduhku melakukan hal sejahat itu. Aku merasa jijik dengan diriku sendiri. Aku memang jahat, kau berhak meninggalkanku, kau berhak membenciku. Namun ada satu hal yang sulit kumaafkan darimu, kau tidak percaya padaku. Pasangan yang saling tidak mempercayai hanya akan berjalan menuju ambang kehancuran. Dulu sebelum aku menikah denganmu, aku selalu berharap bahwa ketika hal ini terbongkar, kau akan menolak untuk mempercayai itu dan tetap ada di belakangku. Mendukungku. Namun, segalanya berkebalikan.”

Air mata menetes dari sudut matanya. Aku merasa terpukul. Dia benar, akulah yang paling bersalah disini.

“Kau meninggalkanku. Aku berusaha bangkit dan mencari jalan keluar dari semua ini. Aku, aku selalu berharap, suatu saat nanti Oppa akan datang kembali, menghampiriku dan memaafkanku. Tapi, sebaliknya, Oppa tidak datang sendirian.”

Oh Tuhan, dia memanggilku Oppa. Namun hatiku merasa sangat sesak dan sakit ketika segala perilakuku dia ucapkan dari mulutnya.

“Saat itu, aku berusaha untuk terus maju. Meski rasanya sakit melihat Oppa dengannya. Melihat Oppa bermesraan dengannya. Melihat Oppa terus bersamanya membuat air mataku mendesak keluar. Tapi aku tahu bahwa aku bukan siapa-siapa dan aku tidak berhak untuk merasa cemburu. Kemudian, Oppa meminta bercerai.”

“Aku sengaja bangun pagi, menyiapkan hatiku untuk menghadapi semuanya dengan hati yang kuat. Aku datang, menangis di depan pengadilan, sendirian. Oh, tidak. Ada Siwon disana. Dia menolongku. Dia benar-benar baik. Kemudian, kami menunggu Oppa selama dua jam. Dan kenyataannya, Oppa tidak datang.”

“Aku pulang, dengan hati yang lebih hancur. Ternyata Oppa lebih memilih Victoria ketimbang aku. Kemudian, aku sadar bahwa tidak seharusnya aku berdiam diri seperti ini.”

“Aku minta maaf,” kataku. “Aku minta maaf atas segalanya. Kau tahu, aku masih sangat-sangat mencintaimu. Aku jahat karena memanfaatkan Victoria untuk menutupi perasaanku terhadapmu. Aku hanya ingin membuatmu tahu bahwa aku kuat. Namun, kenyaannya, aku sama rapuhnya denganmu.”

“Mianhae, jeongmal mianhae. Maukah kau memaafkanku?”

Sooyoung mengangguk.

“Maukah kita mengulang semuanya dari awal?”

“Mianhae, tapi, kita tidak bisa bersama lagi. Semuanya berakhir, Oppa. Aku lelah dengan segalanya. Mulai sekarang, berhenti mencintaiku. Karena aku juga akan belajar melakukan itu. Selamat tinggal Oppa. Semoga hidupmu menyenangkan.”

“Soo!”

Terlambat, dia sudah melangkah pergi.

T B C

Oke, saya tahu ini ancur. Tolong jgn bash saya ._.

Terima kasih sudah membaca ff ancur ini😦 jangan lupa tinggalkan comentar ya? ThanKyu ^^

Ghamsahamnida ^^

Annyeong~

                         

135 thoughts on “[Chapter 7] My Fault

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s