[Chapter 8] My Fault


myfault

Title: My Fault

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

-Choi Siwon

Genre: Sad, Romance, Love Story

Rating: Teenager and PG

Length: Chaptered

Credit Poster: HANADYA

Author Note:

Annyeonghaseyo~

Mianhae saya baru post jam segini soalnya tadi pagi saya main xD

Adakah yang kangen? Kalo ada, sinisini aku kasih kembangtujuhrupa .__.

Langsung aja deh ya, tapi jgn salahkan saya kalo ini ancur abisss dan gak karuan -___- *emangdaridulukayakgitu*. Dan I’m sorry karena part ini sangat membosankan. Saya udah bisa nebak kalo komentnya pasti tambah sedikit ><

Langsung aja ya,

Check It Out!

Happy Reading~

__________________

Chapter 7~

Sooyoung mengangguk.

“Maukah kita mengulang semuanya dari awal?”

“Mianhae, tapi, kita tidak bisa bersama lagi. Semuanya berakhir, Oppa. Aku lelah dengan segalanya. Mulai sekarang, berhenti mencintaiku. Karena aku juga akan belajar melakukan itu. Selamat tinggal Oppa. Semoga hidupmu menyenangkan.”

“Soo!”

Terlambat, dia sudah melangkah pergi.

___________

Sooyoung’s POV

Sekuat tenaga kutahan air mataku agar tidak meluncur turun. Menyedihkan sekali aku ini. Menolak dengan alasan sudah tidak-cinta, tapi malah hampir menangis setelahnya. Aku bukannya sudah tidak ingin hidup bersama Kyuhyun lagi. Namun aku tahu bahwa hal itu tidak mungkin lagi. Aku terlalu buruk untuknya yang sempurna. Aku tidak seperti yang dipikirkannya. Dan dia kecewa kepadaku.

Aku tahu salah bahwa aku beranggapan bahwa aku bisa hidup tanpa Kyuhyun. Namun, lebih salah lagi jika aku berpikiran aku sama sekali tidak bersalah. Aku salah disini. Dan sampai kapanpun, aku tetap akan salah. Aku tidak berhak untuk marah kepada Kyuhyun, karena toh sudah haknya untuk meninggalkanku, berselingkuh, dan mendiamkanku.

Sudahlah. Aku lelah dengan semua ini. Aku lelah dengan segala kesalahan yang telah kuperbuat dan konsekuensinya yang menungguku.

Aku tahu bahwa aku tidak pantas untuk menelepon Siwon, namun aku melakukannya.

____________

“Jadi, kau berencana meninggalkannya?” tanya Siwon sambil memandangiku.

“Ya.” Kataku, merasa asing dengan diriku sendiri yang terlihat begitu mudah menyukai orang lain dan meninggalkan seseorang yang telah hidup abadi dalam hatiku.

“Kau tahu bukan seperti itu yang ada di dirimu.” Ujar Siwon dengan tenang. Sorot matanya terlihat teduh dan menenangkan. “Aku tidak memintamu untuk meninggalkannya ketika dia sudah berbaik hati meminta maaf padamu. Aku akan memintamu melupakannya jika dia masih memperlakukanmu secara buruk dan berhubungan dengan yeoja lain sementara kau masih terlalu mencintainya.”

“Tapi—aku takut…”

“Tidak ada yang perlu ditakutkan. Semuanya baik-baik saja jika kau berhasil mencari jalan yang baik dan paling tepat untukmu. Aku memang menyukaimu, tapi aku tidak akan membiarkanmu memilih jalan yang salah. Sekarang, mari kita lihat bagaimana hatimu.”

“Aku tidak tahu, Siwon-ssi. Aku benar-benar tidak tahu.”

“Kau akan berhasil mengetahuinya kapan-kapan. Sekarang, cobalah tinggal berpisah dengan Kyuhyun barang beberapa hari. Kau akan tahu bagaimana hatimu.”

“Gomawo. Jeongmal gomawo sarannya, Siwon-ssi.”

“Nde, cobalah itu, Sooyoung-ah. Lebih baik kau pergi sekarang. Bicarakan ini baik-baik dengan Kim Ahjumma dan mungkin Kyuhyun. Ini apartemenku yang tidak kupakai kau bisa menggunakannya.”

“Ng, tidak usah. Aku akan menyewa apartemen sendiri.”

“Kita  ini teman, Sooyoung-ssi. Karena aku temanmu, jadi, kupinjamkan apartemen itu. Dan kau harus menerimanya.”

Akhirnya aku mengangguk dan meraih kunci itu dari tangannya. Kemudian Siwon bangkit dan mengatakan sesuatu yang terdengar seperti ‘Urusan-Sibuk’ lalu pergi.

________

Author’s POV

 

“Kau mau kemana?” tanya Kyuhyun ketika melihat Sooyoung menarik kopernya sendiri. “Sooyoung-ah, kau mau kemana?”

“Biarkan aku pergi, Kyuhyun-ssi.” Ujar Sooyoung dengan sangat tenang dan terkesan dingin. “Kita perlu memikirkan hubungan kita.”

“Kita tidak perlu memikirkannya, kita perlu membicarakannya!”

“Kalau begitu, aku belum siap.”

“Baiklah, sampai kapan kau akan berpikir?”

“Sampai aku menghubungimu. Tapi, sepertinya kita akan bertemu karena kemarin Eommamu kembali meneleponku menyuruhku dan kau untuk pergi kesana. Jadi, kita akan pergi bersama?”

“Ya, besok kujemput.”

“Aniya. Aku yang akan kemari. Kim ahjumma masih tetap disini, jadi dia bisa memasakkanmu sementara aku pergi, Kyuhyun-ssi. Semoga harimu menyenangkan.”

Kemudian, gadis itu menyeret kopernya dan berjalan ke depan tempat dimana Siwon sudah menunggu dengan mobilnya. Siwon membantunya memasukkan kopernya ke dalam bagasi, masuk ke mobil, lalu menjalankannya.

“Ini tempatnya. Apa kau suka? Aku tidak pernah memakai ini sebelumnya,”

“Ini indah dan terlihat nyaman. Berapa sewanya?”

“Kau masih berpikir tentang uang Sooyoung-ah? Jangan bercanda. Sudah kubilang kita teman, dan sekarang aku sedang berusaha membantumu. Nah, aku masih sibuk, jadi kau silakan istirahat atau mungkin kau ingin memasak atau apapun, aku masih punya urusan lagi. Aku pergi, annyeong~”

Sooyoung hanya mengangguk sekilas dan memandangi sekeliling ruangan. Apartemen ini mengingatkannya pada Eomma-nya. Dulu dia juga tinggal di apartemen bersama Eommanya, sebelum Kyuhyun menikahinya. Sekarang, apartemen itu sudah dijual.

Kakinya melangkah menuju kopernya dan mengeluarkan semua isinya. Tak terkecuali tas ‘penuh-kenangan’ miliknya yang sudah lama tidak disentuh. Dalam tas itu, berisi banyak sekali kenangan dari hidupnya belakangan ini. Dan semuanya menyakitkan. Itulah sebabnya dia tidak pernah membukanya sejak lima tahun yang lalu. Dibiarkan semuanya menjadi kotor dan kusam di balik lindungan tas kain mungil itu. Dan kali ini, ia berusaha tabah dan membukanya.

Ada dua tumpuk foto dalam amplop yang ber-name-tag berbeda. Namun, membukanya sama menyakitkannya. Tangannya mengusap permukaan amplop putih kekreman yang kini ada di genggamannya. Lalu perlaha, dia membuka amplop ber-name-tag ‘Sweety-Date’.

Yang pertama adalah foto-fotonya dengan Kyuhyun ketika mereka masih berpacaran. Ada ketika ia duduk sendirian di taman keluarga Cho yang megah. Ada ketika mereka berdua berfoto dalam sebuah gondola. Romantis sekali.

Namun, ia merasa bahwa melihatnya hanyalah menorehkan luka yang semakin dalam saja.

Foto yang kedua adalah ketika ia berpelukan dengan Kyuhyun. Temannya—ia lupa siapa—yang usil memotretnya dan memberikan polaroidnya kepada Kyuhyun. Pelukan itu terjadi ketika mereka berpisah selama dua minggu karena Kyuhyun harus pergi berlibur bersama keluarganya. Dulu, hubungan mereka begitu erat hingga tidak bertemu sehari saja rasanya berbeda.

Air matanya mengalir lagi. Inilah sebabnya ia benci membuka tas kenangan ini. Ia tahu bahwa ini menyakitinya dan mengingatkannya tentang bagaimana mesranya hubungan mereka dulu.

Foto ketiga adalah ketika Kyuhyun sedang duduk menantinya di sebuah kafe, sementara ia belum datang dan malah memotret Kyuhyun diam-diam. Tangannya meraba tekstur foto kusam itu.berharap dia bisa menyentuhnya dengan nyata. Wajah disana terlihat sangat tampan dan polos. Jauh terlihat bahagia ketimbang sekarang.

Foto keempat adalah ketika Kyuhyun diwisuda. Kyuhyun memang menyuruh Sooyoung datang. Dalam foto itu, wajahnya tampak benar-benar tulus dan ceria dengan mengenakan setelan gaun pendek yang dibelikan Kyuhyun dua hari sebelumnya.

Dan selanjutnya.

Sooyoung kembali memasukkan amplop itu ke dalam tasnya seperti semula. Tidak membuka amplop satunya lagi. Amlop dimana di dalamnya terletak foto Pernikahan bahagia mereka. Foto dimana dia berdiri dengan gaun hitamnya, dengan niat busuk jauh di lubuk hatinya. Semakin ia mengingatnya, semakin deras pula air matanya mengalir.

Kini, air matanya sudah berubah dengan isakan keras. Sekarang ia tahu bahwa Siwon benar. Ia memang masih sangat mencintai Kyuhyun. Masih sangat mencintainya.

Namun, ia tidak sanggup lagi.

Ia tidak ingin hidup bahagia dengan Kyuhyun mengingat luka yang ia sebabkan sendiri.

Mulai sekarang, ia sudah mengambil keputusan.

____________

 

Dengan langkah cemas Kyuhyun bolak-balik memutari ruangan tamu itu. Kemarin ia lupa menanyakan kapan mereka bertemu sehingga sekarang ia harus berpusing-pusing memikirkan kapan Sooyoung tiba. Apa gadis itu tidak apa-apa? Atau dia sedang dalam subway kesini dan macet? Ah, entahlah…

Tiing tong!

Kyuhyun segera berjalan ke arah pintu dan menarik napas dalam sebelum membukanya. Sooyoung sudah berdiri di hadapannya dengan wajah tanpa dosa yang membuatnya sebal setengah mati. Satu setengah jam dia menunggu sejak jam tujuh dan gadis itu kesini dengan wajah polos tak berdosa.

“Ya, kenapa memandangiku seperti itu? Kau marah? Karena apa?” tanya Sooyoung bertubi-tubi sambil mendekap kedua lengannya di depan dada.

“Tentu saja. Kau tidak bilang kapan kau akan datang. Aku sudah menunggumu satu setengah jam!”

“Kau kan bisa bermain game atau apapun,”

Kyuhyun tertegun. Benar juga, kenapa ia malah mondar-mandir di ruang tamu dan meninggalkan PSP-nya yang berharga di kamar dengan mudah?!

“Lupakan. Ayo cepat kita pergi.” Ujar Kyuhyun akhirnya dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir rapi. “Ayo cepat naik. Kau tahu rumah ibuku satu jam perjalanan dari sini. Apalagi ini weekend. Kupastikan nanti macet.”

Sooyoung mengabaikan Kyuhyun dan langsung masuk dengan tenang. Kemudian, mobil itu berjalan pelan menyusuri jalanan ramai yang berdebu.

“Bagaimana tempat tinggal barumu?” tanya Kyuhyun ketika mobilnya berbelok dengan gesit ke sebuah jalan yang lebih besar. “Apa itu nyaman dan menyenangkan?”

“Ya. Disana indah.” Sahut Sooyoung, tanpa menyadari perubahan wajah Kyuhyun ketika mendengar ucapannya. Ucapan itu bisa berkonotasi sangat buruk. Dan entah kenapa Kyuhyun malah berpikiran bahwa Sooyoung merasa nyaman di rumah barunya karena disana tidak ada Kyuhyun.

“Wae?” tanya Sooyoung ketika Kyuhyun tidak mengatakan apa-apa lagi dan malah diam dan fokus dengan jalanan di depannya tanpa peduli dengan Sooyoung lagi.

“Wae, apa?”

“Kenapa kau diam?”

“Aku lelah berbicara,”

Sooyoung mengerutkan keningnya mendengar ucapan Kyuhyun. Tapi ia tidak tahu dimana letak kesalahannya. Jadi ia hanya diam selama beberapa menit dan memutuskan fokus pada jalan di hadapannya—sama seperti Kyuhyun.

Mobil itu hening.

Dari dulu—Kyuhyun dan Sooyoung tahu itu—bahwa mereka sama sekali tidak suka keheningan. Jadi karena Sooyoung tahu bahwa Kyuhyun marah—apapun alasannya—ia memutuskan menyalakan Radio Tape dalam mobil Kyuhyun. Kebetulan sekali lagu yang terputar adalah lagu lama kesukaan Sooyoung dan Kyuhyun.

“Aku heran lagu ini masih diputar. Kukira seluruh dunia sudah melupakannya.” Ujar Sooyoung sambil menyanyikan beberapa lirik lagu itu yang dihapalnya.

“Hng.”

“Apa kau masih menyukai lagu ini?”

“Hng,”

“Bisakah kau mengucapkan kata-kata selain ‘Hng’?”

“Hng,”

“Oh, baiklah. Apa sebab kemarahanmu?!”

Terkadang, Kyuhyun heran dengan ini. Sooyoung bisa saja berlaku bahwa mereka adalah pasangan bahagia di dunia, namun sedetik kemudian berubah menjadi seseorang yang dingin dan seolah-olah menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak memiliki hubungan apapun.

“Aku tidak marah.”

“Ya, kau marah. Dan kau tahu itu. Sekarang cepat, apa kesalahanku? Fatalkah?”

Ya, sangat fatal. Batin Kyuhyun, namun dia tidak bisa mengatakannya.

“Aku tidak marah. Dan bisakah kau diam? Aku tidak bisa berkonsentrasi.”

Padahal, Kyuhyun tahu bahwa itu hanya alasannya saja supaya Sooyoung tidak terus menginterogasinya dan membuatnya terpojok. Setelah penolakan kemarin, ia jadi lebih dingin dan tidak berbicara banyak—kecuali itu penting—kepada Sooyoung.

———

“Annyeonghaseyo, Eommonim, Abeonim~” sapa Sooyoung sambil membungkuk beberapa kali. “Maafkan kami karena datang terlambat.”

“Ah, gwenchana. Hari minggu memang selalu macet. Kajja masuk. Eomma sudah memasak banyak makanan untukmu, Sooyoung-ah.”

“Waah, gomawo Eomma..”

Eomma dan Appa Kyuhyun memang tahu kalau Sooyoung adalah ShikShin yang sangat parah dalam hal makan. Jadi setiap Sooyoung berkunjung ke rumah mereka, Eomma Kyuhyun selalu memasak banyak makanan. Dalam lima tahun belakangan ini, Sooyoung memang beberapa kali datang ke rumah ini. Bahkan, sebelum Kyuhyun kembali.

“Sudah lama kau tidak kemari, Sooyoung-ah, Kyuhyun-ah. Bagaimana kabar kalian?”

“Baik-baik saja, Eomma.” Sahut Kyuhyun sekalian mewakilkan Sooyoung.

“Baiklah, kajja  ke ruang tamu. Kalian pasti lapar.”

“Ah, tidak Eomma.” Ujar Sooyoung berbasa-basi sambil tertawa. Jarang sekali Kyuhyun melihat tawa Sooyoung yang tidak dibuat-dibuat begitu.

Mereka sampai di ruang makan, Eomma Kyuhyun segera menyuruh Sooyoung, Kyuhyun, dan Tuan Cho duduk. Di hadapan mereka sudah terhidang banyak makanan yang mampu membuat liur menetes. Nyonya Cho sangat pandai memasak. Bahkan, yang mengajari Sooyoung sehingga pandai memasak saja Nyonya Cho.

“Bagaimana hubungan kalian? Apakah baik-baik saja? Apakah Eomma akan segera menimang cucu?”

“Eomma!” seru Kyuhyun dengan pipi memerah. Sementara Sooyoung hanya tersenyum misterius dan sama seperti Kyuhyun, dengan pipi merah padam.

“Sebenarnya Eomma ingin sekali segera memiliki cucu, Kyuhyun-ah, Sooyoung-ah. Tidak bisakah kalian membuat Eomma lebih bahagia?” tanya Nyonya Cho sambil memasang wajah sendu.

“Ah, jangan begitu Eomma, aku jadi tidak enak.”

Mereka mengobrol—sesekali Tuan dan Nyonya Cho mengungkit-ungkit masalah bayi, dan itu langsung membuat mood Kyuhyun dan Sooyoung hancur.

____________

“Lain kali, sempatkan diri kalian kemari lagi.” Seru Nyonya Cho sambil melambaikan tangannya kepada Sooyoung dan Kyuhyun yang kini telah duduk di dalam mobil dengan nyaman.

“Ne, Eomma. Tentu saja.” Ujar Sooyoung sambil tersenyum ceria dan melambaikan tangannya.

“Kami pulang dulu, Eomma~”

“Ne, hati-hati, Kyu.”

“Annyeong Eomma, Appa~”

Kemudian, mobil itu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah besar asri itu.

“Nanti, turunkan aku di halte dekat kafe saja. Aku akan pulang sendiri.”

“Kau benar-benar tidak ingin memberitahuku dimana tempatmu tinggal?”

“Kau tahu, tidak.”

“Ok, baiklah.”

Sooyoung memutuskan akan tidur saja daripada semobil dengan Kyuhyun dalam diam—macet pula.

“Nanti, setelah sampai di kafe, segera bangunkan aku.”

Kyuhyun hanya mengangguk sekilas.

_______

“Sudah sampai. Kau akan turun atau ikut  aku?”

“Hoaahmm. Tentu saja turun. Gomawo Kyuhyun-ssi, aku akan pulang. Hati-hati.” Ujar Sooyoung dengan wajah malas dan membuka pintu mobil. Sedetik kemudian, udara panas menyesap ke dalam mobil yang semula lembap.

“Hati-hati. Jika masih mengantuk, ikut aku saja dulu.”

“Ah, tidak. Tidak perlu.” Tolak Sooyoung sambil melambaikan tangannya seolah tidak perduli. “Selamat tinggal, Kyuyun-ssi. Senang bertemu denganmu.”

Kyuhyun memandang bahu Sooyoung yang perlahan terlihat mengecil. Ada yang tidak beres ketika gadis itu mengatakan kata perpisahan mereka. Bukannya jika berpisah, orang biasa menggunakan kata ‘Annyeong’ atau ‘sampai jumpa’? tapi, kenapa justru gadis itu menggunakan kata ‘Selamat-tinggal’ seakan mereka tidak akan berjumpa kembali.

Ah, entahlah. Kyuhyun akhirnya memundurkan mobilnya dan kembali melajukannya ke rumahnya sendiri.

_____________

Tiba di apartemennya sendiri, Sooyoung melepas sepatunya dan meletakkannya di rak belakang pintu kemudian menggantinya dengan sandal bulu rumahan. Ia menyalakan lampu-lampu yang ada dalam apartemen ini. Memang ia tidak menyukai kegelapan, sedangkan apartemen itu terlihat sangat gelap.

Ia melangkah menuju dapur dan menuangkan segelas air putih untuk dirinya sendiri. Air dingin itu membasahi kerongkongannya yang terasa kering dan perih.

Ia berhasil menahan mulutnya untuk tidak mengatakan rencananya. Sooyoung tahu bahwa rencananya itu pasti akan membuat kegemparan yang lebih-lebih lagi. Namun ia sudah memutuskan. Dan tidak ada orang yang berhak menggugat keputusannya itu. Inilah Choi Sooyoung, gadis  dingin dengan seribu kekeras kepalaan yang terkadang membuat dirinya sendiri dalam masalah. Namun Sooyoung yakin kali ini masalah yang akan ditimbulkannya tidak sebesar yang ada di pikirannya yang berlebihan.

Langkah kakinya berjalan menuju kamarnya yang terlihat tidak terlalu rapi. Isi kopernya berserakan karena tadi ia membutuhkan sejam untuk mencari pakaian yang terlihat manis untuknya. Ia memutuskan memakai gaun yang kemarin dibelikan dengan sukarela oleh Kyuhyun. Ia juga membutuhkan waktu setengah jam untuk memoles wajahnya dengan krim dan bedak-bedak kecantikan. Namun tampaknya Kyuhyun tidak menyadari bahwa ia sengaja mempermak dirinya habis-habisan supaya terlihat cantik menawan di depannya. Dan itu membuatnya kecewa.

Sebelah tangannya memasukkan pakaian-pakaiannya yang berceceran kembali ke dalam koper, alu tangannya yang lain menyambar alat make-up-nya.

Selesai.

Sooyoung’s POV

 

Aku menyeret koperku keluar dari kamar dan menyambar handuk untuk mandi. Aku butuh udara  segar dan mungkin air segar karena kepalaku pusing dan rasanya sangat penat. Ini akan segera berakhir.

Selesai mandi, aku langsung memakai bedak tipis, mengganti jubah mandiku dengan celana jins panjang ketat dan kemeja putih serta mantel. Udara sedang dingin. Setelah semuanya selesai, aku mengeluarkan ponselku dari dalam tas dan menelepon taksi untuk menjemputku di depan bangunan apartemen.

Beberapa menit setelah berdiri sendirian di depan bangunan apartemen besar itu, akhirnya taksi yang kupesan datang. Sopirnya membantuku mengangkat koperku ke dalam bagasi sementara aku duduk di kursi dengan nyaman dan tidak tenang. Semoga saja aku bisa hidup bahagia setelah ini.

Taksi itu berjalan dengan kecepatan standar melewati jalanan Seoul yang ramai saja. Sebenarnya, ini belum terlalu malam, masih jam enam sore.

“Anda ingin pergi kemana, Aghassi?” tanya sopir itu sambil memandangiku dari kaca dasbor.

“Bandara,”

“Oh, ne.”

Taksi itu beberapa kali menyalip mobil-mobil yang berjalan dengan kecepatan rendah. Tiba-tiba aku merasa gugup dengan diriku sendiri. Aku takut jika aku akan mengalami hal yang tidak pernah kuperkirakan sebelum aku memikirkan rencana ini.

Akhirnya aku mengeluarkan ponselku dan mengetik SMS untuk Kyuhyun dan mungkin Siwon. Untuk Kyuhyun aku mengetik SMS: Datang ke apartemenku di Seoul Apartment, buka laci di ruang tamu. Paling atas. Dan silakan menanda tangani itu. Selamat tinggal.

Untuk Siwon: Ghamsahamnida, Siwon-ssi. Terima kasih atas segalanya yang dengan baik hati kau berikan padaku. Kunci apartemenmu, ada dalam apartemen. Jika kau bertemu Kyuhyun, ucapkan salam terima kasihku untuknya. Aku menyayangimu, Choi Sooyoung.

Send. Semuanya terkirim.

“Sudah sampai, Aghassi.” Ujar sopir itu sambil menatapku.

“Nde, ghamsahamnida, Ahjussi.” Kataku sambil menyodorkan beberapa lembar uang sebelum turun. Ahjussi itu membantuku mengeluarkan koper lalu masuk kembali masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba aku merasa kesendirian itu begitu menyakitiku. Ini adalah jalanku. Satu-satunya jalanku.

 

Author’s POV

 

Kyuhyun mengernyit mendengar ponselnya bergetar. Diraihnya ponsel itu dan semakin mengernyit melihat nama pengirim SMS itu. Jarang-jarang Sooyoung menghubunginya. Dan jika gadis itu menghubunginya, artinya ada sesuatu yang penting. Dengan segera Kyuhyun membuka SMS itu dan membaca baris demi baris pesan singkat itu.

Ada apa dengannya? Apakah terjadi sesuatu?

Tanpa berpikir lebih lama  Kyuhyun menyambar kunci mobil dan mantelnya lalu kembali masuk ke dalam mobilnya dan menuju ke alamat apartemen Sooyoung.

Sesampainya di depan apartemen mewah itu, Kyuhyun segera masuk ke dalam lift dan mencari letak apartemen itu. Ketika lift terbuka, Kyuhyun baru menyadari bahwa Siwon ada di hadapannya—sama tergesanya dengan dirinya.

Awalnya, Kyuhyun mengacuhkan Siwon dan memutuskan berjalan di belakangnya tanpa membuat Siwon sadar bahwa ia ada. Tapi, ketika melihat Siwon berbelok ke kamar yang alamatnya sama dengan yang dikirimkan Sooyoung, Kyuhyun baru sadar bahwa sepertinya Sooyoung memanggilnya, sekalian dengan Siwon.

“Apa yang kaulakukan disini?” tanya Siwon begitu melihat Kyuhyun masuk ke dalam apartemen miliknya itu.

“Aku? Seharusnya aku yang bertanya begitu,”

“Ini apartemenku.”

“Apa?! Jadi selama ini kau dan Sooyoung tinggal se-apartemen?!”

“Oh, tentu tidak.” Ujar Siwon, sadar bahwa sebenarnya ia ingin sekali mengatakan ‘ya’. “Aku meminjamkan apartemen ini untuknya. Untuk apa kau kemari?”

“Sooyoung mengirimiku SMS.”

Siwon mengernyit. Apa pula yang ada di pikiran gadis itu?

“Dimana laci pertama disini?!”

“Memangnya ada apa? Kenapa kau tahu laci itu?”

“Sudahlah, tunjukkan saja.”

“Sebenarnya kau kemari mencari apa? Apa kau menyandera Sooyoung?!” tanya Siwon sambil berusaha menghalangi langkah Kyuhyun.

“Untuk apa aku kemari kalau aku sudah berhasil menyanderanya?!”

“Baiklah. Bisa kau jelaskan apa yang terjadi padaku?”

“Maafkan aku. Tapi aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Sekarang, jawabannya hanyalah laci itu.”

Siwon mengangguk bingung, tapi tak urung menunjukkan tempat itu dan mengetikkan kodenya. Laci itu memang dilengkapi kode, dan sekarang Kyuhyun merasa berterima kasih kepada Siwon karena ia pasti tidak akan berhasil membuka kata kunci kode itu tanpanya.

Krek. Pintu laci itu terbuka dan menunjukkan setumpuk amplop-amplop bewarna yang membuat Siwon maupun Kyuhyun mengernyitkan dahi.

“Lihat, ada name tag-nya. Ini milikmu, berarti.” Ujar Siwon sambil menyodorkan amplop besar sekaligus tebal kepada Kyuhyun. Sementara ia sendiri hanya mendapat amplop kecil yang tipis.

Kyuhyun membuka amplopnya pelan dan melihat ada tiga buah amplop disana. Yang duanya sangat tebal, sementara yang satunya seukuran dengan surat biasa. Kyuhyun sengaja mengambil amplop yang kecil dan membukanya. Terlihat tulisan tangan rapi milik Sooyoung yang begitu dikenalnya.

“Apa?! Pergi?!” seru Kyuhyun tak percaya sambil menjatuhkan amplop surat itu. “Aku harus mengejarnya,”

“Apa?! Kyuhyun-ssi!?”

Tapi terlambat, Kyuhyun sudah menyambar surat yang jatuh itu dan berlari keluar dari apartemen itu. Siwon mengernyit tidak mengerti dan memutuskan melanjutkan surat yang Sooyoung tinggalkan untuknya.

Beberapa detik kemudian, ia sudah melakukan hal yang sama dengan Kyuhyun.

_____________

“Halo?! Halo?!”

Telepon gadis itu mati, dan ia tidak bisa menghubunginya. Dengan kesal Kyuhyun memukul setirnya dengan tangannya sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk menjaga agar mobilnya tetap berjalan stabil. Meski sebenarnya kecepatan mobil itu sama sekali tidak stabil.

Berkali-kali klakson tidak setuju orang-orang ditujukan untuknya. Namun Kyuhyun tidak peduli dan malah menambah kecepatan sehingga mobilnya berjalan dengan sangat cepat. Beruntung mobilnya itu berukuran kecil sehingga ia dapat menyalip-nyalip dengan baik dan tidak mengurangi kecepatan sedikitpun.

“Pesawatku berangkat jam delapan…”

Tulisan Sooyoung seolah bergema di kepalanya dan membuatnya memukul setir lagi. Diliriknya jam mungil di dasbornya. 19.54.

Tidak ada waktu lagi…

T B C

116 thoughts on “[Chapter 8] My Fault

  1. Author doyan bangetd dah mainin perasaan kita setelah nangis dipart sebelumnya skrg smkin penasaran dengna kelanjutan partnya
    Tpi kuharap smga kyu oppa bsa mencegah keberangkatan soo eunni

    Like

  2. maksudnya Soo itu apa sih ? Nyuruh Kyuhyun sama Siwon 22 nya datang di waktu yang bersamaan. Ngirim sms ke 22 nya, tapi kenapa ke Siwon ada ‘aku menyayangimu’ tapi ke Kyu ngga😦 curiga bakalan milih Siwon, atau malah 22 nya bakalan di tinggalin.hwaaa. Jangan😥

    Like

  3. Tegang nih..apakah kyu ketemu ma soo..sebenernya niat soo apa sih?kabur dri masalah??atau ngehindari kyu sma siwon?yah,ditunggu kelanjutannya..hwaiting thor!

    Like

  4. Waaah..makin greget neh ceritanya.. Ayo semangat kyuhyun kejar sooyoung..fighting..

    Makin seru ff nya thor, next yaah🙂

    Like

  5. Ya ampun soo kenapa harus pergi?
    Padahal kan kyu udah bilang kalo dia mau memulai dari awal lg,ya walaupun disini soo ngerasa salah. Tapi jgn pergi soo, ayo kyu 6 menit sampe bandara pasti bisa hwaiting!!!

    Like

  6. aigo aigo aigo palli palli palliyo……
    kejar ku, tsk Pabo!!!
    ckck(pegang kepala), makin rumit aja kisahnya
    kapan ketemu sama resolution nya? kaya nya masih konflik #aigoo
    apa yg melatar belakangi Soo ambil keputusan itu jika dia masih (sangat) mencintai Kyu

    next next next>>>>>

    Like

  7. author selalu bikin penasaran -_- hft
    Yak yak! Kyu cepat kejar!!!!!!! Maap baru coment. Abis onnya di hape. Kalo di computer sih pasti langsung coment. Daebak banget thor! nuansanya tegang gimana gitu.. Semoga author bisa bikin yang lebih tegang lagi. Oh iya, gimana kalo di munculin 1 orang lagi. Shim changmin misalnya. Aku kok pengen banget ngeliat kyu semenderita sooyoung waktu dia sama vict. Huhahaha *kejem* :3 #maapcomentkepanjanganthor

    Like

  8. Soo nya mgapa sihh nekad mahu pergi…
    padahal semuanya udah baikan kan….
    kasihan ku lihat Kyu oppa ditinggalin…..tapi rasakan juga ya….dulunya kan udah ninggalin Soo 5 tahun….hahaha

    Like

  9. semoga ada keajaiban the……
    sooonnie ga boleh nyaitin dirinya lagi. kesannya terlalu kejam, thor. kyuyoung udah sama2 terluka dan kecewa, jangan ditmabah makin galaulah, thor….hiks…..
    kyuyoung harus kembali bersama…….

    Like

  10. sooyoung eonnie benaran mw pergi ya?? andwee,
    kyuppa kan udah maafin soo eonnie jadi balikan lagi donk,
    semoga akhirnya kyuyoung bersatu,
    d tunggu lanjutannya🙂

    Like

  11. knp jd soo yg menurutku jd bodoh -__- disaat kyu udh membuka hati lg buat soo, skrg malah soo yg memilih pergi. kyu hrs cepet2 sebelum soo bener2 prgi!!! tunjukin klo dia emg beneran cinta bgt sm soo & gak mau pisah X-(

    Like

  12. ya ampun dah, doyan bgt nih author bikin reader penasaran kkeke, rumit bgt kisah mereka. Rujuk rempong, cerai ogah.. Kkeke nurut author aja dah😀 semangat thor, thanks..

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s