[Chapter 9] My Fault


myfault

Title: My Fault

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-CHo Kyuhyun

Genre: Romance

Rating: Teenager

Length: Series

Credit Poster: HANADYA

Author Note:

Annyeong~

Saya comeback sangat lama lamaaaa sekali… ._. UN tinggal 19 hari lagi coy, HARUS HIATUS huaaaa ><

Saya minta maaf kalo chapter ini aneh, jelek, dan END-nya kurang memuaskan ._. Saya membuat ini dalam tekanan Departemen Pendidikan yang terus menghantui saya dengan B. Inggrisnya yang ngajak mringis, MTK-nya yang bikin saya going crazy bareng Minhyuk, Dan IPA-nya yang bikin saya berkali-kali kejedot  pintu dan botak -___-

Oke deh, jangan bash saya, salahkan saya bla-bla kalau kenyatannya ini jelek abiss ><

Gak ada AS! Inget itu! *siapayangmauminta*. Ntar Blind-nya Author post setelah Author dipinang oleh Minhyuk. Bercanda, ntar kalo saya ada waktu luang xD

Check It Out!

Happy Reading~

______________________

Chapter 8~

 “Pesawatku berangkat jam delapan…”

Tulisan Sooyoung seolah bergema di kepalanya dan membuatnya memukul setir lagi. Diliriknya jam mungil di dasbornya. 19.54.

Tidak ada waktu lagi…

CHapter 9~

“Nona, anda harus memasang sabuk pengaman sekarang. Pesawat hampir terbang.”

“Ya.” Ujar gadis itu dan akhirnya memasang sabuknya dengan tangan. Sementara pandangannya menatap ke jendela. Berharap melihat Kyuhyun disana, melambaikan tangannya meminta untuk tidak pergi. Namun, yang ia temui hanyalah kekosongan.

Gadis itu menutupi wajahnya dengan tangannya, berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya sekarang. Di perpisahannya sekarang, ia tidak ingin terlihat sedih. Karena ini pilihannya..

“Pesawat akan segera lepas landas, diharap penumpang mengecek sabuk pengaman dan memastikan itu sudah terpasang dengan baik.”

Pramugari-pramugari berjejer sambil menatap sabuk pengaman yang dikenakan para penumpang.

Lalu, dalam hitungan detik, pesawat itu melaju dengan kecepatan tinggi.

________

“Pesawat yang anda maksud baru saja lepas landas, Tuan.” Kata seorang satpam Bandara sambil menatap Kyuhyun dari atas ke bawah. “Apa anda tertinggal?”

“A-aniya,” tiba-tiba Kyuhyun merasakan dadanya sesak. Semudah ini Sooyoung meninggalkannya, pergi ke Jepang, jauh darinya. Dan ia akan tetap disini, hidup dalam bayangan gadis itu. “Terima kasih,”

“Dimana Sooyoung?!” tanya Siwon begitu melihat Kyuhyun berjalan ke arahnya dengan lesu.

“Pesawatnya sudah berangkat. Sepuluh detik yang lalu.” Sahutnya, berusaha menutupi sakit hatinya dengan bersikap dingin. “Aku pulang dulu, Siwon-ssi. Terma kasih selama ini kau sudah menemani Sooyoung ketika aku menjauh darinya. Terima kasih, dan maafkan aku.” Tuturnya lagi lalu berjalan menjauhi Siwon.

Tangannya terasa gemetar ketika berusaha mengeluarkan kunci mobil dari sakunya sendiri. Ia merasa sedih, marah, kecewa, takut, dan perasaan lain yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Seolah-olah hidup lima tahun tanpa gadis itu belum  cukup, kini gadis  itu kembali meninggalkannya. Apakah akhirnya, semua orang yang ia cintai akan meninggalkannya? Kenapa semua ini terjadi kepadanya? Bukankah ia sudah berusaha memperbaiki sikapnya kepada Sooyoung? Bukannya ia terus-menerus memanjatkan doa kepada Tuhan agar membuat hubungannya kembali baik? Beberapa jam lalu ia duduk dalam satu meja bersama Sooyoung dan orangtuanya, beberapa jam lalu ia duduk dalam satu mobil dengan Sooyoung, beberapa menit yang lalu gadis itu mengirimkan pesan, dan sekarang.. gadis itu sudah tidak ada disini lagi. Pergi, entah kemana.

Emosi itu menggelegak dalam diri Kyuhyun begitu cepat. Hanya dalam satu kedipan mata, Kyuhyun merasa bahwa Tuhan tidak adil kepadanya. Bahwa Tuhan jahat kepadanya. Dan bahwa-bahwa yang lain. Ia merasa bahwa ia sudah berusaha, berdoa, berpasrah, namun yang ia dapatkan hanyalah rasa sakit yang sama. Bahkan, mungkin ini lebih sakit daripada ketika ia mendengar pembicaraan Sooyoung dengan Eommanya.

Gadis itu meninggalkannya. Dan itu sudah cukup untuknya tahu bahwa ia tidak dibutuhkan lagi disini. Entah mengapa, ini terasa menyedihkan bagi seorang namja sepertinya. Baru-baru ini ia yang memutuskan hubungan dengan seorang yeoja, meninggalkannya, dan lain-lain, dan sekarang semuanya seolah berbalik kepadanya. Tiba-tiba ia mengerti kenapa seseorang berusaha mati-matian menjaga pasangannya, menjaga cinta mereka, dan tidak rela untuk melepaskannya. Dan itulah yang terjadi padanya. Namun sayangnya, ia tidak pernah diberi kesempatan untuk mempertahankannya. Ia hanya mendapati kenyataan bahwa  orang yang seharusnya ia pertahankan, sudah meninggalkannya.

Akhirnya, air matanya mengalir begitu saja. Dadanya terasa sesak dan sakit. Ia tidak mengerti kenapa Sooyoung meninggalkannya. Ia sudah meminta maaf dan memutuskan Victoria, kembali menjadi seorang Cho Kyuhyun baik yang romantis, ia sudah meminta gadis itu kembali padanya. Dan ia tahu bahwa Sooyoung masih mencintainya. But why? Kenapa gadis itu memilih meninggalkannya? Adakah seseorang disana—di tempat tujuan Sooyoung pergi—yang membuat gadis itu meninggalkannya? Jika memang ada, siapa? Setahunya, Sooyoung tidak punya siapa-siapa. Ibunya sudah meninggal, dan Bibinya juga sudah. Hanya ada Appanya, tapi laki-laki paruh baya itu bahkan tidak mempedulikannya.

Pandangan matanya yang basah mengarah ke amplop di lantai mobil. Ia mengambilnya dan membukanya perlahan-lahan. Ada dua buah amplop yang tebal. Kyuhyun membukanya dan mendapati bahwa isi amplop itu hanyalah foto-foto dari jaman mereka berpacaran sampai saat mereka menikah. Ia juga mendapati bahwa Sooyoung sering sekali memotretnya diam-diam seperti ini. Kyuhyun tersenyum getir dan menggigit bibirnya.

Sakit, Sooyoung-ah. Sakit sekali. Bisakah kita mengulang dari awal? Jika tidak, bisakah kau membuatku sadar letak kesalahanku? Aku ingin sekali kita seperti dulu.

Sooyoung-ah, bisakah kau melihat hatiku? Apa kau tidak kunjung mengerti bahwa yang aku cinta adalah kau. KAU. Kenapa kau malah begini? Apakah mencintaiku hanya akan membuatmu terluka?

Bisakah kau kembali dan bersamaku,  dan kita akan memperbaiki semuanya?

Ternyata, ada sebuah amplop lagi. Ia membuka isinya dan mendapati bahwa ada surat perceraian disana. Tiga kolom tanda tangan sudah terisi. Dan hampir sama dengan Sooyoung dulu ketika menerima kertas perceraian itu, hanya satu kolom tanda tangan yang tersisa. Kolom miliknya.

Dan, jika kita memang tidak dapat bersatu, bisakah aku melihatmu dan mencintaimu, meskipun aku tahu bahwa perasaan itu tidak akan terbalas?

________

“Benarkah Sooyoung pergi?”

“Eomma, jangan mengulangnya lagi. Kumohon,”

Bahkan sekarang, rasanya Kyuhyun ingin menangis lagi. Namun rasanya pasti memalukan ketika ia duduk di hadapan Eommanya dan menangis. Ia namja, dan seorang namja tidak melakukan hal cengeng seperti itu.

“Tapi, Kyu-ah, kalian terlihat baik-baik saja kemarin. Kenapa semuanya bisa serumit ini?”

“Ia membenciku, Eomma. Ia benar-benar membenciku sampai tega meninggalkanku.”

“Kyu-ya, bisakah kau menceritakan semuanya—dari awal sampai akhir—kepada Eomma? Eomma tahu bahwa Sooyoung bukan tipe orang yang tidak bertanggung jawab seperti itu. Pasti ada yang salah disini.”

Awalnya, Kyuhyun merasa tidak yakin akan menceritakan perselingkuhannya di depan Eomma-nya. Namun rupanya sudah tidak ada yang bisa ia tutupi sekarang. Jika ia ingin tahu dimana letak kesalahannya, ia akan membuka semuanya. Sampai tidak bersisa.

“Aku—aku pulang ke Korea, tidak sendiri, Eomma.” Tuturnya mengawali. “Eomma benar, aku sangat egois karena menganggap hanya aku pihak tersakiti disini. Aku meninggalkannya, dan kembali bersama seorang yeoja. Aku tahu Sooyoung terluka, namun aku tetap pada pendirianku untuk mencari cinta lain. Aku memintanya datang ke pengadilan untuk bercerai, namun aku justru tidak datang.. Victoria menghalangiku. Eomma tahu, saat itu bahkan aku masih mencintai Sooyoung. Namun aku merasa bahwa ia tak pantas untuk kucintai. Saat itu aku merasa sangat sombong dan menganggap bahwa perbuatan Sooyoung adalah perbuatan terlaknat. Tapi aku tidak melihat diriku sendiri. Kemudian, tiba-tiba seorang namja datang ke keluarga kami. Namanya Choi Siwon. Sebenarnya ia hakim yang bertugas untuk menceraikan kami, dan ialah yang akhirnya menjadi tempat Sooyoung berbagi. Mereka terlihat bahagia bersama. Kemudian aku sadar bahwa aku masih sangat mencintainya dan merasa marah ketika mereka pulang malam tanpa aku tahu baru darimana mereka. Aku memutuskan bahwa aku masih sangat mencintainya dan mengakhiri hubunganku dengan Victoria. Aku berusaha kembali menggapai dirinya. Terkadang, Sooyoung terlihat bahagia bersamaku, terkadang ia terlihat membuka dirinya lagi di depanku, namun terkadang ia membuat harapanku terhempas begitu saja. Ia kembali menjauhiku, Eomma. Aku selalu berusaha membuatnya merasa nyaman dengan diriku setelah apa yang aku lakukan padanya. Aku terus memintanya untuk kembali..”

“Geuman, geumanhae, Kyuhyun-ah. Eomma mengerti. Itulah alasan Sooyoung meninggalkanmu. Mungkin. Tapi jika ia ingin kabur karena masalah itu, kenapa ia tak pergi saat itu juga dan malah saat sudah kembali berbaikan seperti ini?”

“Darimana Eomma tahu kalau kami berbaikan?”

“Eomma tahu bahwa Sooyoung tidak berakting sama sekali ketika makan disini. Ia menjadi dirinya sendiri, begitu juga kau. Itu artinya, ia tidak menemui masalah apapun denganmu. Jika ia memang marah, ia pasti bersikap sedikit dingin kepadamu.”

Kyuhyun menunduk. Ucapan Eomma-nya benar sekali. Jika Sooyoung marah kepadanya, seharusnya ia tidak menganggapnya sama sekali sejak dulu, dan bukannya beberapa hari ini.

“Sekarang, apa kau tahu kemana Sooyoung pergi?”

Dengan enggan Kyuhyun menggeleng. Entah kenapa ia merasa bahwa dirinya terlihat seperti seseorang yang sama sekali tidak perhatian terhadap istrinya sendiri.

“Kita tidak punya jalan selain menunggunya kalau begitu.”

Dan kali ini, Kyuhyun yakin bahwa Eomma-nya sangat benar. Mungkin ia akan menunggu selamanya karena bisa saja Sooyoung menetap disana, menikah dengan orang lain, menjadi seorang ibu, dan melupakan dirinya.

Gwenchana, Kyuhyun-ah. Mungkin ini adalah salah satu balasan untukmu karena meninggalkannya.

____________

“Apakah ia meneleponmu? Mengirim e-mail atau apapun?” tanya Kyuhyun penuh harap kepada Siwon yang sedang duduk di hadapannya sambil menyantap pesanannya.

“Mianhae, Kyu. Aku belum mengecek e-mail sejak seminggu yang lalu. Aku begitu sibuk mengurus pernikahanku.”

Kyuhyun berusaha menenangkan emosinya yang meluap-luap. Sudah enam bulan Sooyoung meninggalkannya, tanpa kabar, apapun. Dan ia hanya bergantung oleh namja di depannya ini—yang bahkan lupa rasanya ketika dirinya sendiri menyukai yeoja yang sekarang pergi tanpa kabar. Bukan tidak mungkin Sooyoung akan menghubungi Siwon karena Kyuhyun yakin bagaimanapun mereka pernah menjadi sangat dekat. Bahkan, mungkin lebih dekat daripada hubungan Kyuhyun dengan Sooyoung sendiri.

“Kyuhyun-ah, mianhae. Aku harus mengurus gedung, lain kali, aku akan meluangkan waktu untuk mengecek e-mail.” Ujar Siwon beberapa detik kemudian sambil berjalan pergi. Dan kini, hanya Kyuhyun sendirian di meja itu.

Sooyoung-ah, eoddiga? Kenapa meninggalkanku begitu lama? Apa kau marah kepadaku? Apa alasannya?

______________

z“Aku merindukanmu, Soo~” bisik namja itu kepada sebuah pigura mungil berisi foto pernikahannya dengan Sooyoung. “Eoddiya? Kenapa pergi begitu lama? Apakah ini semua terlalu menyakitimu sampai kau tidak ingin kembali kepadaku?”

“Aku berusaha menjadi baik kembali, Youngie-ya. Karena aku mencintaimu. Bisakah kau melihatku?”

“Bisakah kau kembali kemari dan memelukku?”

“Bisakah kau berada disini hanya untuk mengucapkan hal-hal menyenangkan?”

“Tidak apa-apa jika kau ingin berpisah, jika ini adalah jalan terbaik untukmu. Aku akan mengorbankan diriku sendiri—hatiku—kepadamu. Aku rela jika itu bisa membuatmu kembali menjadi Choi Sooyoung yang dulu.”

“Tidak apa-apa jika kau ingin melepas marga ‘Cho’ dari dirimu.”

“Tidak apa-apa..”

“Meski itu membuatku terluka.”

____________

“Sooyoung belum mengabarimu, Kyu?”

Kyuhyun menggeleng lemah. Sepertinya, benar-benar tidak ada harapan lagi untuknya dan Sooyoung bersama. Ia bahkan tidak tahu kemana tujuan Sooyoung saat pergi, dan dimana ia tinggal. Ia benar-benar tidak tahu dimana Sooyoung, sedang apakah dia, dan apakah dia baik-baik saja. Ia lelah. Benar-benar lelah.

“Apa Sooyoung benar-benar tidak punya sahabat disini? Atau keluarga? Bisa saja dia mengabari kerabatnya di Seoul tentang tujuannya.”

“Percuma, Eomma~” sahut Kyuhyun lemah. Energinya seolah tersedot habis. “Sooyoung tidak memiliki siapapun di Seoul. Ada seorang Ahjumma yang dekat dengan Sooyoung, tapi seperti aku, dia juga tidak tahu.”

“Sabarlah, Kyu-ah. Jika kalian berjodoh, semuanya akan baik-baik saja. Dengarkan Eomma, arraseo?”

Kyuhyun hanya mengangguk. Meski sebenarnya ia merasa takut jika Sooyoung memang bukan jodoh-nya.

____________

“Kyuhyun Sunbae? Bagaimana anda bisa disini?!” tanya Jia kaget, tiba-tiba saja Kyuhyun adadi café-nya siang ini. Padahal café-nya itu cukup jauh dari Seoul.

“Jangan berbasa-basi—siapa namamu? Han Ji Ah? Majayo?”

“Nde, majayo.”

“Apakah kau tahu dimana Sooyoung sekarang?!”

Jia meremas bajunya dengan erat. Eotthoke? Ia memang tahu kemana Sooyoung pergi. Lagipula sekarang bahkan Sooyoung tinggal di rumahnya yang berada di Jepang. Masalahnya adalah, Sooyoung melarangnya memberitahukan itu kepada siapapun.

“Jiah-ssi, apakah kau tidak mengetahuinya?”

“M-ma-majayo. Aku tidak tahu dimana Sooyoung sekarang.”

“Tolonglah, bisakah kau memberitahuku? Aku benar-benar membutuhkannya sekarang. Jebal~”

Jia kelabakan sendiri ketika melihat Kyuhyun bersimpuh di depannya dengan mata merah hampir menangis sambil mengatakan tolong dan tolong terus menerus.

“Arraseo. Aku mengetahuinya.”

“Bisakah kau menunjukkannya padaku?!” pinta Kyuhyun dengan wajah memelas.

“Tapi Sunbae harus berjanji padaku, jangan pernah menyakiti Sooyoung lagi. Jika Sunbae berani membuatnya menangis lagi, saya berjanji akan melabrak anda. Arraseo?”

“Nde~ aku akan berusaha untuk tidak menyakiti Sooyoung.”

“Baiklah, sekarang ia tinggal di Jepang. Ini alamatnya, ini hanya sebuah apartemen biasa. Dan kalau Sooyoung marah, jangan bilang kalau kau tahu ini dariku.”

“Arra. Ghamsahamnida Jia-ya.”

“Cheonmaneyo, Kyuhyun Sunbae.”

____________

“Untuk apa Oppa mengejar gadis itu?! Bukannya menguntungkan jika Sooyoung itu pergi?!” seru Eun Gi ketika melihat Kyuhyun memasukkan beberapa potong pakaian dan mantel tebal karena sekarang sedang musim dingin.

“Jaga ucapanmu, Gi-ya.”

“Tapi Oppa, Oppa sendiri yang bilang kalau Oppa membencinya!”

“Rupanya kau tidak mengerti ini, Gi-ya. Jangan halangi aku. Sekarang, bisakah kau membantuku menelepon ibuku dan mengatakan ini semua?”

“Aku tidak mengerti!” cetus Eun Gi. “Oppa~ apa dia mengguna-guna Oppa?”

“Jangan khayal, Cho Eun Gi.”

“Terserah Oppa saja, aku tidak peduli dengan Oppa dan aku tidak mau menolong Oppa.”

Kyuhyun hanya memandang sepupu manjanya yang berjalan menjauh dari rumahnya itu. Setelah menarik ritsleting koper mungil itu ia mengeluarkan ponselnya dan meng-klik phone contact ibunya.

Yeoboseyo, waeyo Kyu-yah?”

“Eomma, aku akan pergi menyusul Sooyoung ke Jepang.”

“Mwo? Majayo? Eomma tidak salah dengar kan?”

“Aniya, aku akan bersiap-siap sekarang. Aku tutup dulu ne, Eomma?”

Sebelum ibunya sempat menjawab, Kyuhyun sudah mematikan sambungan telepon itu.

_____________

“Ada seseorang yang mencarimu, Choi Sooyoung,” kata pemilik apartemennya—yang juga orang Korea yang pindah ke Jepang.

“Mwo? Nuguya, Ahjumma?”

“Ahjumma tidak tahu.”

Sooyoung mengerutkan keningnya sebentar, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Ketika membukanya, ia langsung terlonjak ke belakang dengan nafas tersengal.

“Kaget bertemu denganku?”

____________

“Bagaimana kau bisa sampai disini?”

“Oh tentu saja karena koneksiku yang luas. Dengan mudah aku menemukanmu.”

“Jangan bercanda, Kyuhyun-ah.”

“Kau biasanya memanggilku Oppa. Aku baru akan menjawabnya jika kau memanggilku Oppa.”

“Ya!”

Kyuhyun hanya tersenyum sambil menunggu. Sementara gadis di depannya—yang sampai sekarang masih berstatus sebagai istrinya—tampak gelagapan.

“Baiklah, darimana kau tahu jika aku ada disini, Tuan Cho Kyuhyun?”

“Aku memintamu memanggilku Oppa, bukan ‘Tuan’.”

“Oh baiklah, sekarang jawab aku Oppa.”

Good! Aku mengetahuinya karena ikatan batin!”

“Ya! Jangan bercanda!”

“Aku tidak bercanda kok,” kata Kyuhyun dengan santai. “Lalu, sekarang sesi dimana aku yang bertanya padamu. Kenapa kau menjauh dariku? Ini sudah tujuh bulan, Youngie-ya.”

“Sejak kapan Oppa kembali memanggilku ‘Youngie’?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan. Sekarang, jawab aku.”

“Aku—aku..” Sooyoung seolah kehilangan suaranya. Rasanya ia terlalu gembira sampai ia tidak bisa tenang. “Aku merasa.. jika Oppa terlalu baik padaku, Oppa kecewa kepadaku. Dan aku merasa aku memang jahat sekali untuk berada di samping—”

“Ssst, kau tahu itu semua tidak benar.” Potong Kyuhyun sambil menggenggam tangan gadis itu erat. Seolah meyakinkan gadis itu bahwa apa yang ia katakan adalah benar. “Aku mencintaimu. Dan itu cukup untuk menyingkirkan segala kelemahan, kesalahan, bla-bla. Arraseo, Youngie-ya?”

“Oppa~” bisik Sooyoung sambil memeluk namja di depannya itu. Ia merasa bahagia, benar-benar bahagia sampai  rasanya tidak sanggup bernapas. Padahal, sejak berbulan-bulan yang lalu, ia memutuskan bahwa ia tidak pantas bahagia. Dan mengubur segala harapan agar Kyuhyun kembali menemukannya. Air matanya perlahan menetes.

“Uljima, Youngie-ya. Oppa disini..”

“Apakah bumonim Oppa marah kepadaku karena meninggalkan Oppa seperti ini?”

“Tentu saja tidak. Mereka menantimu kembali, Soo~”

“Saranghae, Oppa.”

“Na-do.”

“Sekarang, ayo kita kembali.”

“Kembali kemana?”

“Seoul.”

“Tidak bisa..”

“Waeyo, Oppa?”

“Aku tidak akan kembali ke Seoul sebelum pergi jalan-jalan denganmu!”

“Cih, dasar~!”

___________

“Jadi, menurut Oppa ini adalah pesta pernikahan kedua kita setelah kehancuran hubungan kita saat itu?” tanya Sooyoung sambil menatap nampyeonnya yang sedang membawa kotak cincin dari beledu.

“Majayo~”

“Sebenarnya ini tidak perlu.”

“Gwenchana~ aku senang melakukan ini. Karena setelah ini, rasanya sah-sah saja melakukan ‘bulan-madu’.”

“Yadong.”

“Kau cinta kan?!”

“Tidak!”

“Hehe, pipimu memerah!”

“Oppa! Kalau kau menggangguku sekali lagi, aku akan membawa Oppa ke pengadilan!”

“Nde nde, tapi lucu sekali menggodamu Youngie-ya~”

“OPPA~!”

_____________

 

Sooyoung’s POV

 

GREP.

Aku terbangun dengan keringat membasahi sekujur tubuhku. Oh tidak. Aku bermimpi buruk. Mimpi yang sangat buruk. Dengan nafas tersengal, aku menatap kalender di meja belajarku. Lalu berbalik menatap jam beker.

Masih pagi. Namun aku sudah ketakutan  sekali. Sekujur tubuhku bergetar sehingga rasanya menyakitkan. Aku meremas ujung selimutku sendiri.

Kenapa mimpiku begitu terlihat nyata dan menyakitkan?!

“Sooyoung-ah, ayo cepat bangun! Bangun dan mulai harimu!” seru Eomma dari depan pintu kamarku.

Tunggu~ benarkah Eomma masih hidup?!

“Eomma~! Jeongmal boghosipoyo~”

“Apa-apaan kau Choi Sooyoung! Sekarang cepat mandi dan kita akan pergi ke rumah pacarmu itu!”

Aku menurut, melepaskan pelukanku, air mataku meleleh begitu saja tanpa kuminta.

_______________

“Kau sangat cantik, Youngie-ya~”

Aku terhenyak. Kenapa semuanya begitu mirip dengan cerita dalam mimpiku?! Apakah segalanya akan terbongkar juga?

“Gomawo, Oppa~”

Aku menatap diriku di kaca. Wajahku terlihat sama persis dengan ketika aku mengaca dalam mimpiku. Oh Tuhan~ aku takut.

“Kenapa kau segugup itu, Soo? Tenang saja, semuanya akan berjalan seperti rencana kita. Ayah dan ibuku telah mendesain gereja itu dengan warna hitam putih, jadi tidak akan ada—”

“Yang merasa aneh denganku dan kita.” Lanjutku, merasa bahwa aku sudah tahu dari segalanya. Ucapannya sama saja dengan yang ada dalam mimpiku. Rasanya kakiku basah dan lemas.

“Ah ya. Darimana kau tahu?”

Aku diam saja dan menunduk.

“Oppa, jika ada sesuatu yang salah disini, tolong.. percaya padaku.” Bisikku, aku hampir menangis jika tak ingat kalau aku harus mengulang make-up dari awal.

“Nde, Oppa akan percaya padamu~”

Senyum itu.. senyum yang begitu kurindukan. Senyum yang dalam mimpiku selalu kuharapkan.

_________

“Bukannya makanannya enak-enak? Kenapa kau mengambil untuk mencicipi sedikit?” tanya Kyuhyun Oppa sambil memandangiku yang sudah berganti baju dengan gaun selutut bewarna putih, dan Kyuhyun Oppa memakai jas hitam.

Aku menggeleng lemah.

“Annyeong, Kyuhyun-ah~” sapa seseorang membuatku mendongak.

Deg.

“Sooyoung-ah, ini adalah temanku—hakim di Pengadilan Seoul—namanya Choi Siwon. Dan ini adalah temanku di London, Victoria Song.”

Tiba-tiba kakiku lemas begitu saja, bertepatan ketika ibuku datang tergopoh-gopoh dengan senyuman palsu di bibirnya.

“Kajja Sooyoung-ah, ada sesuatu yang ingin Eomma bicarakan denganmu.” Ujarnya dengan senyum dingin seperti robot.

“TIDAK!!”

 

E N D

 

121 thoughts on “[Chapter 9] My Fault

  1. !Sebenernya pas part 1 udah firasat kalo itu cuma mimpi, tapi pas baca part part seterusnya jadi gk kepikiran kalo itu mimpi, good job eonn!

    Like

  2. Hyaa, jadi itu mimpi? Tapi seperti/? nyata,
    Kyaa, jangan sampai terulang terus kejadian kek dimimpi (hadooh, ngomong apa gue-_-)
    Yah, aku mau mengubek page ini lagi, nyari yang sad kek gini:3
    Minta izinnya ya eonni, paypay *ngacir

    Like

  3. aiisssshhh jinja, trnyata cma mimpi…
    haduh kirain beneran..,
    keputusan yg tepat “TIDAK”.
    Hehehe… daebak thor ceritanya !!

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s