[Oneshoot] Loving You is A Mistake


loving-you-is-mistake

Title: Loving You Is A Mistake

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

-Kwon Yuri

Genre: Sad, Romance

Length: Oneshoot (4324 Words)

Rating: Teenager and PG

Genre: Little Bit Sad and Romance

Author Note:

Ok, aku sudah bilang bahwa aku akan mem-post Oneshoot baruku ini🙂 Dan sekarang, aku sudah menepatinya ^^

Pertama, aku harus mengucapkan terima kasih pada Sasphire yang sudah membuatkan cover untuk ff ini ^^

Kedua, aku juga harus berterima kasih untuk seluruh pengunjung dan pembaca aktif disini, karena tanpa-kalian aku gak akan bisa seperti ini ^^

Dan oke, terakhir, tentang ff-nya. Aku gak bikin ini terlalu sad atau Angst kok. Inget, LITTLE BIT SAD!

Ini mungkin post-an terakhir aku sebelum UN, aku harus membebaskan diriku sendiri untuk tidak membuat fanfiction lagi sementara hari H semakin dekat ;__;

Sebelumnya, tolong siapkan tisu dan mungkin cemilan karena ini mungkin Longshoot ~ xD

Check It Out!

Happy Reading~

___________________

 

“Apa kau lupa siapa dia?” seru Yuri padaku sambil melotot. “Apa kau tidak ingat berapa gadis yang menangis di hadapan kita hanya karena diputuskan olehnya?”

“Yuri-ya, bukan begitu maksudku.” Ujarku dengan bingung. “Aku bukannya ingin menjadi pacarnya, aku hanya ingin tahu kenapa ia melakukan ini. Itu saja. Janji, aku tidak akan jatuh cinta padanya.”

“Sudah banyak yang bilang begitu, Soo. Nyatanya mereka malah balik menyukainya. Lebih baik jangan mencobanya. Resikonya terlalu besar. Mencintainya adalah sebuah kesalahan.”

“Aku hanya ingin tahu kenapa ia melakukan itu. Aku tahu bahwa di balik sikap manisnya kepada seorang yeoja, ia menyimpan sesuatu yang membuatnya seperti ini. Aku tahu mungkin aku akan menyukainya, tapi tidak apa-apa karena aku juga tahu bahwa itu semua hanya akan membuatku terluka.”

“Sooyoung-ah, apa yang kau katakan? Apa kau sakit?”

“Aniya, gwenchanayo.” Kataku, kemudian membungkuk. “Aku harus segera pergi.”

Yuri hanya memandangiku heran dan mengerutkan keningnya dalam. Aku tahu bahwa hal yang akan kulakukan ini konyol. Aku berencana mendekati Cho Kyuhyun—salah seorang playboy di sekolahku. Banyak sekali yang telah menjadi korbannya. Bahkan Yuri pun pernah. Mungkin hanya segelintir siswi disini yang belum pernah menjadi pacarnya, termasuk aku.

Kemarin, ia mengirimiku SMS dan memintaku bertemu dengannya. Awalnya aku kaget melihat pesannya karena sebelumnya kami tidak saling menyapa ataupun tersenyum satu-sama-lain. Namun tiba-tiba ia memintaku bertemu. Dari survei Yuri, ia bilang bahwa ini hanya alasan untuk mendekatiku.

“Sudah lama menunggu?” tanyaku pada sosoknya di hadapanku.

Ia berbalik, memandangku dengan tatapan khas miliknya yang kini menyihirku.

“Tidak begitu lama.” Sahutnya sambil tersenyum. “Kau suka tempat ini?”

Sebenarnya, aku suka. Namun rasanya aku bakal terlihat seperti yeoja pengikutnya jika aku bilang benar.

“Aku sudah terlalu sering kemari. Terlalu sering membuat perasaan suka lama-kelamaan menghilang.” Jawabku panjang lebar, sambil memandangnya datar. Meski kenyataannya, jantungku seakan meledak oleh perasaan menggelenyar yang begitu terasa.

“Oh, benar. Itu juga yang kurasakan. Mau duduk?”

aku hanya mengangguk sekilas dan duduk di sampingnya.

“Bukannya menyenangkan duduk disini, memandang bunga-bunga dan pepohonan bersama orang yang kita sukai?” tanyanya memancing. Matanya memandangiku.

Aku mengangguk. “Sayangnya, mungkin itu tidak akan terjadi padaku.” ujarku dingin.

“Kau sedang tidak menyukai siapapun sekarang?”

“Majayo.”

“Aku sedang.”

Oh Tuhan, rasanya aku ingin meledak sekarang juga. Aku hanya menatapnya sekilas, sadar bahwa sedari tadi ia sama sekali tidak menatapku. Meskipun aku tahu bahwa ini termasuk dalam upayanya membuatku tertarik dan penasaran terhadapnya. Dan itu, memang benar.

“Oh, ya? Dengan siapa?”

“Kau.”

“Sangat jujur.” Kataku sambil meletakkan tanganku di atas paha. “Menurutmu, apa aku akan percaya itu?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu, kau salah.” Aku tertawa ringan dan menatapnya datar. “Bukannya aku sudah bilang bahwa aku sedang tidak menyukai siapapun?”

“Aku akan membuatmu menyukaiku.”

“Lalu?”

“Menjadikanmu pacarku.”

“Dan dicampakkan?”

Ia tertawa. Sungguh tawanya sangat ringan dan tenang. Dan dari samping, aku merasakan bahwa dekat dengannya adalah bahaya. Bahaya besar yang indah.

_________________

“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang pasti kau sukai.” Katanya sambil tersenyum.

“Aku kedinginan. Rasanya tidak nyaman mengenakan pakaian seperti ini. Bagaimana kalau aku mengganti pakaianku sebentar?” tanyaku, sambil memandangnya penuh harap. Aku baru saja pulang dari Pesta ulang tahun salah seorang temanku, dan ia tiba-tiba mengajak bertemu.

“Kita akan berbelanja.”

“Aku juga tidak membawa banyak uang,”

“Kubelikan.”

“Tidak.”

Kyuhyun memandangiku dengan tajam. Yuri pernah bilang padaku bahwa tatapan tajam namja itu bisa membuat seorang yeoja meleleh. Dan itu memang terjadi padaku, sayangnya aku terlalu pintar menutupinya.

“Baiklah, kuantar kau pulang.”

Dalam perjalanan, aku hanya diam dan menatap ke depan. Sementara ia menyetel radio di dalam mobilnya yang menyenandungkan lagu dari K. Will.

“Bukannya lagu ini indah?” tanyaku, memandanginya dan sedikit merapatkan jasku.

“Lebih indah kau.”

Oh, ya. Terus saja memujiku. Seakan aku percaya saja!

“Bagaimana kalau kita berpacaran?”

Aku memandanginya, memasang wajah raguku yang terbaik lalu menunduk. Aktingku benar-benar keren.

“Eotthe?”

Rasanya aku lupa pada semua wanti-wanti Yuri yang menyuruhku untuk tidak tenggelam dalam mata cokelatnya yang begitu menenangkan dan hangat. Namun, kenyataannya, aku sudah tenggelam.

“Baiklah.”

Dan sejak itu, aku membuka lubang buaya untukku sendiri.

 

_________

 

“Kalian sudah berpacaran?!” cecar Yuri sambil memandangku semangat. “Kau benar-benar tidak menyukainya kan?”

Aku menggeleng dan tersenyum. Kurapatkan mantelku dan membaca diktat yang ada di hadapanku.

“Kau benar-benar tidak mencintainya, kan?”

“Aku harap, tidak.”

“Lambat laun, kau akan menyukainya.”

“Mungkin.” Ujarku dengan lirih. Sakit rasanya ketika kau jatuh cinta kepada orang yang hanya akan menyakitimu saja. “Tapi aku sudah mempersiapkan diriku sendiri untuk sakit. Jadi mungkin aku akan lebih baik-baik saja daripada kau waktu itu.”

“Kau benar. Aku hancur saat itu.”

“Gwenchana. Aku juga akan begitu jika jadi kau.”

“Jika kau merasa ini terlalu menyakiti dan menekanmu, lepaskan dia dan hiduplah seperti dahulu,”

“Tidak, tidak.” Selaku sambil tertawa. “Tanpa aku melepaskanpun, aku yakin ia akan segera melepaskanku.”

“Kau tahu itu.” Ujar Yuri sambil menggenggam tanganku. “Sampai sekarang, rasanya masih sakit…”

“Aku yakin lambat laun kau akan kembali baik-baik saja.”

“Rasanya menyakitkan melihatnya terlihat baik-baik saja, sementara aku disini… dengan luka yang sangat dalam,”

“Uljima.” Kataku, tersenyum kepadanya yang terlihat sakit. “Aku tidak akan sering bertemu dengannya. Mungkin seminggu tiga kali.”

“Seperti berobat saja!”

Aku tertawa. Kemudian ponselku yang dalam modus silent bergetar kencang. Aku menatap benda itu, berusaha tidak membuat Yuri curiga. Cho Kyuhyun’s Calling.

Reject.

“Siapa?”

“Ah, hanya pesan. Itupun dari adikku.”

“Jinri jarang mengirim pesan padamu.”

“Hubungan kami membaik.”

Ponselku kembali bergetar. Kali ini sebuah pesan masuk.

“Siapa?”

“Entahlah,” ujarku jujur lalu mengambil ponselku itu. Ya, seperti tebakanku, pesan itu dari Kyuhyun.

Sender: Cho Kyuhyun

Eoddiya? Kenapa tidak mengangkat teleponku?

 

 

Delete.

“Apa itu penting? Siapa?” tanya Yuri lagi.

Aku memutuskan menjawab jujur. “Kyuhyun,” kataku sambil menon-aktifkan ponselku dan memasukkannya ke dalam tas, di antara tumpukan diktat-diktatku yang super tebal. “Tidak terlalu penting, hanya menanyakan dimana aku sekarang.”

“Menurutmu, apakah ia memasang GPS di tubuhmu?”

“Jangan konyol.” Kataku sambil tertawa. “Tentu saja tidak. Aku hanya tidak ingin diganggu.”

“Sooyoung-ah!”

Aku berbalik dan memandang orang di hadapanku kaget. Oh, well, mungkin saja namja itu benar-benar memasang GPS di diriku.

“Yuri-ya, aku akan pergi sebentar. Cepat masuk kelas, mungkin aku akan membolos.”

Yuri memasang wajah kosong yang menyedihkan, namun ia memberesi tasnya dan berjalan menuju kelas kami.

“Waeyo?” tanyaku sambil memandanginya datar.

“Kenapa tidak mengangkat teleponku?”

“Bukannya itu isi SMS-mu?”

“Kau menerimanya, kenapa tidak membalasnya?”

“Aku sedang membicarakan sesuatu yang penting dengan Yuri. Jadi aku tidak bisa mengangkat teleponmu. Apa kau lupa kalau kau pernah mencampakkannya?” sindirku.

Kyuhyun hanya mengangkat bahunya dan membenarkan letak ranselnya di punggungnya.

“Ayo kita pergi.”

“Aku ada kelas.”

Ia memandangiku tajam dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jinsnya. “Aku lupa kalau kau adalah murid terpintar di sini.” Sergahnya sambil tertawa mengejek.

Seharusnya aku membenci tingkahnya itu, tapi aku malah menjadi semakin menyukainya.

“Tentu saja kau lupa. Kau mau apa? Jika hanya berbicara tidak penting seperti ini, lebih baik aku masuk kelas saja.”

“Ayo kita makan.”

Aku menatap ke atas dan mengembuskan napas keras-keras.

“Hanya karena makan, kau menjemputku?” tanyaku sambil mencondongkan tubuhku dan menyipitkan mataku.

“Kita satu kampus.”

“Jarak per-fakultas jauh, Kyuhyun-ssi.”

“Oh, ayolah. Jangan banyak bicara.”

Aku membenahi letak tas sandangku, kemudian mengangguk. Kami berjalan seperti pasangan pada umumnya, ia memegangi lenganku erat dan jarak antar kami sangat sempit sehingga aku khawatir ia dapat mendengar detak jantungku.

“Kau berkeringat, waeyo?” tanyanya tiba-tiba sambil menghentikan langkahnya.

Oh, man, apakah ia tidak tahu bahwa berjalan beriringan bersamanya bisa berdampak bahaya bagiku?!

“Aku tidak tahu.” Sahutku yang tentu saja merupakan kebohongan. Aku menguasai diriku dengan baik. Sangat baik malahan. Sehingga aku sadar sekali apa yang terjadi denganku. Mungkin Yuri benar, tidak lama lagi aku akan menjadi pengikut Kyuhyun.

“Apa kau sakit?” tanya Kyuhyun lagi dan menarikku ke dekatnya.

“Tidak. Aku baik-baik saja.”

“Apa kau takut kepadaku?”

“Ya, aku takut aku jatuh cinta padamu.” Ujarku dan memandanginya dengan sedikit sedih. Menyakitkan memang ketika kita dilarang untuk mencintai orang yang memang sudah kita sukai.

Kyuhyun memandangiku dalam diamnya yang misterius. Kemudian setitik senyum mengembang di bibirnya yang indah. “Wae? Kenapa kau takut mencintaiku? Bukannya itu bagus?”

“Jangan berpura-pura.” Kataku dengan tenang. “Aku tahu niatmu di dalam otakmu yang cerdas itu, Cho Kyuhyun. Aku tahu bahwa sebentar lagi, kau akan mengirimkan pesan padaku yang berisi: ‘Aku bosan denganmu, kita putus.’ Dan karena itu, aku takut aku jatuh lebih dalam padamu.”

“Apa aku se-transparan itu?”

Aku menghela napasku. Bibirku bergetar. Ucapannya barusan, membuatku tersadar bahwa aku memang benar. Ia akan segera melepaskanku dengan kejam.

“Ya.” Kataku dengan bibir bergetar. “Tapi aku akan berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis saat itu tiba.”

____________________

Ia meletakkan baki pesananku di bagian mejaku dan meletakkan bakinya sendiri di bagian mejanya. Aku hanya memesan spagetti carbonara dan jus buah, sementara ia memesan jjajangmyun dan milkshake cokelat. Sejujurnya, ia terlihat seperti seseorang yang sudah terlalu sering berkencan seperti ini.

“Kapan?” tanyaku.

Kyuhyun memandangiku dengan bingung.

“Apanya?” tanyanya balik.

“Kapan kau akan mencampakkanku?”

Ia tertawa memperlihatkan gusinya yang sebenarnya indah. Kemudian menutup mulutnya kembali.

“Aku belum pernah mengencani gadis sejujur kau.” Katanya sambil menatap makannya. “Kau berbeda dari gadis-gadis yang pernah kukencani itu.”

“Itu karena mereka berpikiran bahwa sikap mereka bisa membuatmu tertarik dan memutuskan tinggal dengan mereka. Sedangkan aku tidak. Aku memutuskan bahwa sebentar lagi kau akan meninggalkanku. Jadi mungkin aku terlihat berbeda.”

“Kau benar.”

“Kenapa kau melakukan semua ini?”

“Maksudmu?”

“Menggaet banyak gadis, kemudian mencampakkannya, kemudian mencari lagi. Terus menerus. Apa kau tidak berpikir tentang karma?”

“Mmm, karma?”

Aku memejamkan mataku dan mengangguk.

“Aku tidak takut. Mungkin aku tidak akan pernah menikah.”

“Apakah… kau tidak tertarik terhadap semua gadis yang pernah menjadi pacarmu?”

“Tidak. Mereka begitu mudah ditebak.”

“Bisakah kau memberitahuku alasan dibalik itu semua?”

“Ini bukan urusanmu, Sooyoung-ah.”

Aku mengangguk, menahan air mataku yang hampir mengalir.

“Ada baiknya jika aku pergi sekarang,” kataku cepat dan memberesi tasku kemudian menyandangnya. “Aku kenyang.”

Ia hanya diam, tidak memedulikan diriku sama sekali.

Aku segera keluar dari kafe itu dan berjalan dengan santai di sepanjang jalan. Sebenarnya, aku merasa bahwa ini semua benar. Benar bahwa aku memang menyukainya, benar bahwa aku merasa nyaman bersamanya, benar bahwa itu hanya akan membuatku terluka, benar bahwa ia hanya menganggapku salah seorang yeoja yang ia datangi untuk sekedar bermain. Benar.

Aku menunduk, berusaha menahan air mataku yang semakin memaksa keluar. Ini menyedihkan. Aku memang sudah mewanti-wanti diriku agar tidak terlalu jatuh dalam dirinya, namun ini semua tetap tidak bisa dihindari. Ia begitu menarik seperti magnet. Ia begitu mudah membuat aku jatuh cinta kepadanya.

Sekarang, aku merasa takut. Aku takut jika akhirnya pesan darinya itu tiba. Benar-benar takut. Sangat takut sampai rasanya mual.

Aku hanya dapat meminta, semoga perasaanku ini tidak terlalu dalam.

______________

 

“Kau jatuh cinta padanya, Soo! Itu masalah besar!”

“Benar,” sahutku lirih sambil meremas ujung jaketku. “Aku memang menyukainya. Ia begitu menarik dengan segala perilaku dan gestur tubuhnya. Aku tidak tahu mengapa aku menyukainya.”

“Soo, tinggalkan dia sekarang. Atau kau akan berubah menjadi seperti aku.” Ujar Yuri dengan tajam. Ia seolah-olah meminta.

“Aku tidak bisa, Yul-ah. Tidak sebelum aku mengetahui alasan di balik semua itu.”

“Dan membuat dirimu sendiri hancur perlahan-lahan?”

“Itu resikoku. Aku hanya ingin tahu apa yang ada di balik dirinya yang begitu menjerat itu,”

“Soo, kau tahu dia berbahaya. A dangerous boy!”

“Aku tahu, Kwon Yuri. Aku mengerti. Tapi aku tidak bisa menghentikan langkahku sampai disini saja. Jika aku ingin berhenti, seharusnya aku tidak melanjutkan ini dari awal. Apa kau mengerti?”

“Kau konyol!” seru Yuri dengan keras sambil menyipitkan mata. “Dengarkan aku, Choi Sooyoung, apakah kau kira ia akan berbalik mencintaimu jika kau bertahan?”

Aku tidak tahu mengapa ia melakukan itu. Mengatakan hal-hal yang membuatku sakit. Ucapannya begitu menohok sampai rasanya kepalaku berputar dan air mataku hampir mengalir.

“Tidak, kan? Sekeras-kerasnya kau mencoba, kau tidak akan pernah bisa membuatnya jatuh cinta! Ia akan tetap menjadi dirinya yang penjahat yeoja, dan kau…” ia berhenti dan menunjukku dengan sangat jelas. “Akan terpuruk, dan mungkin bahkan lebih parah daripada aku.” Lanjutnya dengan segala penekanan yang ia bisa, kemudian berjalan meninggalkanku begitu saja.

kau tahu, Yul-ah, kau benar. Aku memang mengharapkannya jatuh cinta kepadaku.

Aku berbalik dan menunduk di bawah pohon itu dan menenggelamkan kepalaku di kedua tanganku yang kulebarkan. Menangis. Rasanya sakit sekali. Aku tahu bahwa apa yang dikatakan Yuri benar adanya. Namun rasanya sulit mengakui bahwa aku hanyalah permainannya yang entah ke-berapa. Aku memang berharap bahwa dengan segala sikapku yang kuanggap berbeda dari para gadis, Kyuhyun akan menyukaiku dan menghentikan semua kejahatannya terhadap gadis-gadis di kampus. Namun harapan itu terasa sangat menyakitkan.

Kenyataannya, aku hanyalah aku. Seorang yeoja biasa yang berharap bahwa diriku dapat menaklukannya. Sekarang, aku begitu mudah tertebak, begitu mudah…

________________

 

“Kenapa kau terus melamun?”

Aku mendongak, memasang wajah tanpa ekspresiku yang paling bagus kemudian hanya menggeleng. Sekarang, kami sedang duduk berhadapan di sebuah kafe biasa yang—kata Kyuhyun—biasa ia kunjungi.

“Matamu bengkak dan merah.” Katanya tanpa memedulikan ekspresiku yang menyiratkan ‘Diam-Kau’ yang terlihat begitu jelas.

“Bukan urusanmu.” Ucapku dingin sambil menyedot milkshake-ku yang masih penuh sementara kentang goreng yang kupesan hanya kumakan sedikit.

“Kau pacarku.”

“Kau akan segera mencampakkanku.” Balasku dengan tanpa menatapnya. Ia begitu mudah mengerti diriku. Ia begitu mudah menebak jalan pikiranku, dan kali ini aku tidak akan membiarkannya tahu bahwa aku menangis karena’nya’. Itu pasti akan membuatnya tertawa di balik segala rasa sakitku yang semakin menumpuk.

Ia tertawa singkat, kemudian memilih diam dan mengaduk-aduk minumannya. Mungkin sekarang ia sudah tahu betapa transparannya pikiranku. Meskipun aku berkata bahwa aku tidak jatuh cinta padanya dan berkata bahwa aku berbeda dengan semua gadis yang pernah dikencaninya, tetap saja aku memang seperti itu.

“Jika kau tahu aku berbahaya bagimu, kenapa kau menerimaku?”

“Aku…” menarik nafas sebentar. “Aku hanya ingin tahu mengapa kau melakukan semua ini,”

“Semua?” Kyuhyun menatapku dengan pandangan bertanya. Meski matanya yang cemerlang menampakkan cahaya mengejek.

“Maksudku, tidak hanya aku.” Ralatku cepat-cepat. “Maksudku adalah, semua yeoja yang pernah menjadi korbanmu. Semua yeoja yang menangis di luar sana, berharap bahwa Cho Kyuhyun meninggalkan hatinya untuknya,”

Getir. Memang.

“Apakah aku berhak memberitahu segalanya kepadamu?”

“Ya. Kuharap begitu.”

Kyuhyun tertawa dan menyandarkan tubuhnya di kursinya yang lunak dan menatapku, membuat jantungku berlompatan dan hampir jatuh. Sementara ia hanya tenang, dan masih mengeluarkan suara tawanya yang begitu merdu.

“Seorang yeoja.”

“Mwo?”

“Yeo-ja.” Ia mengejanya dan menghirup aroma minumannya. “Yeojaku sewaktu SMU.”

Aku mengernyitkan keningku, tidak mengerti maksudnya.

“Yeojaku, meninggalkanku sendirian tanpa sebab. Sampai sekarang.”

“Kau begitu mencintainya?”

“Aku meninggalkan hatiku padanya.”

Entah mengapa aku merasa bahwa ia berkata jujur dan perasaan kecewa menutupi hatiku. Ia tidak akan pernah mencintai orang lain, kecuali yeojanya itu.

“Kau masih mencintainya sampai sekarang? Bahkan semua yeoja yang kaukenal juga tidak bisa  membuatmu jatuh cinta?”

Pahit sekali mengerti bahwa usahaku—dan mungkin ribuan gadis disana—gagal total. Ia sudah meninggalkan hatinya pada genggaman yeoja itu, dan itu artinya, ia tidak akan mencintai orang lain kecuali yeoja itu.

“Aku tidak tahu mengapa. Tapi mereka membuatku bosan setengah mati.”

“Oh, benar. Membosankan.” Aku mengatakannya dengan air mata menggenang. Lalu menghela napas sebentar. “Kau—akan mencari gadis itu?”

“Tentu saja.”

Oh, Tuhan.. tidak tahukah bahwa itu membuat harapanku terhempas begitu saja. Rasanya sakit sekali saat mengetahui tidak ada harapan lagi untuknya mencintai aku. Namun entah mengapa rasanya sedikit melegakan, karena Kyuhyun bilang, yeoja itu tidak ada disini.

“Sebaiknya aku pulang dahulu.” Pamitku sambil memandangi milkshake-ku. “Kau akan membayar bonnya kan?”

Ia mengangguk dan menatap ke arah kasir. “Tunggu sebentar, ada yang ingin kubicarakan.”

Aku mengangguk dan kembali duduk.

“Kau sudah mengetahui alasannya kan?”

“Ya, balas dendam.”

Ia tertawa dan mengangguk. “Jadi—tidak apa-apa kan jika sekarang kita putus?”

Ya.”

Meskipun berusaha sekuat tenaga, air mataku tetap menggenang. Aku yakin Kyuhyun melihat itu. Aku kembali menarik tasku dan menyandangnya tanpa berkata apapun, mungkin, jika aku berkata, air mataku akan membuncah dan yang keluar dari mulutku hanyalah isak tangis saja. Aku tidak mau terlihat lemah di depannya. Tidak akan pernah mau.

“Aku pulang, terima kasih selama ini, Kyuhyun-ssi.” Kataku dengan suara parau kemudian beranjak pergi.

Ketika aku berhasil keluar dari kafe—tanpa menangis atau terjatuh saking sakitnya—air mataku meluncur begitu saja. Aku harus menahan diri agar tidak ambruk saat itu juga. Karena rasanya sangat sakit.

Seharusnya aku memang sudah mempersiapkan hatiku untuk ini. Aku tahu bahwa kemungkinannya hanya dua puluh lima persen untuknya berbalik menyukaiku, namun tidak bisakah ia ada untukku sedikit lebih lama lagi?

Kemudian, aku hanya merasakan bahwa lengan seseorang menarikku dan mendekapku. Awalnya aku ketakutan, namun aku kenal aroma ini dan memutuskan untuk diam dan memilih menangis dalam dekapannya.

Aku tidak tahu mengapa, namun rasa sakit yang kurasakan malah semakin menjadi-jadi ketika ia memelukku seperti ini.

Tuhan, bisakah kau membuatnya menarik kembali hatinya dari yeoja itu?

Jika bisa, kapankah itu terjadi?

____________

 

“Sudah lumayan lega?”

“Kenapa kau begitu baik padaku? Bisakah kau berlaku jahat seperti kau memperlakukan semua yeoja di sekolah? Apa kau tahu bahwa ini hanya akan semakin sakit?”

“Kau berbeda, Choi Sooyoung. Kau tahu itu.”

“Tidak,” bantahku dengan cepat. “Jika aku berbeda, aku tidak akan menangisimu seperti sekarang. Aku akan tetap kuat dan tidak menangis seperti sekarang.”

“Meskipun begitu, kau tetap berbeda.” Bisiknya sambil memandangiku.

“Aku hanya ingin bercerita padamu mengenai gadis itu.” Ujarnya kemudian setelah meletakkan gelas cokelat hangat yang ia bawa. Sekarang kami sedang berada di apartemennya yang sangat mewah dan besar. “Gadis itu sangat cantik dan sempurna. Ia mempunyai mata besar yang selalu berhasil menarikku untuk menatapnya. Rambutnya panjang bergelombang dan ia sangat sopan dan feminin. Aku bertemu dengannya sejak aku SMP. Ia adalah kakak kelasku. Marganya Choi.”

“Sama denganku,” kataku dengan nada mengambang dan memerhatikan wajahnya dalam-dalam.

“Ya. Aku sangat pemalu saat itu. Tapi ia bagai bintang, bersinar, indah, dan terang. Kemudian, tiba-tiba saja aku mengenalnya. Kami sering berjalan bersama, dan aku jatuh cinta kepadanya.”

Aku tersenyum getir. Merasa bahwa gadis itu pastilah sangat beruntung.

“Akhirnya, aku menyatakan cintaku padanya. Dan ia menerimaku. Kau tahu, Sooyoung-ah, rasanya begitu membahagiakan, seolah-olah itu adalah hari yang paling indah yang pernah ada dalam hidupku.”

“Kemudian, tiba-tiba ia menghilang. Tidak kembali sampai sekarang.”

“Itu pasti menyakitkan.”

“Ya, memang itu menyakitkan.”

“Sampai sekarang… kau masih menyimpan rasa kepada gadis itu?”

Kyuhyun menatapku dengan agak aneh. “Ya. Sampai sekarang. Itulah sebabnya aku selalu membuat seorang gadis menangis. Aku bahagia melakukan itu,”

“Kau jahat.”

“Memang. karena itu aku ingin kau tidak menangisiku lagi. Kembalilah menjadi seorang gadis yang ceria, aku janji tidak akan menampakkan diriku di depanmu lagi. Aku akan menghilang dan melakukan kejahatan yang sama kepada gadis-gadis lain yang dengan bodohnya mau kudekati.”

Aku tersenyum getir. Sangat sakit. Ia memintaku pergi, agar ia bisa melanjutkan kejahatannya. Ia tidak akan pernah menampakkan dirinya lagi. Dan aku… aku tidak akan pernah melihat wajah orang yang aku cintai itu lagi…

“Kau tahu, rasanya itu mustahil.” Bisikku dengan air mata mengalir di pipiku. “Aku mencintaimu. Dan aku akan berusaha untuk melihatmu. Meskipun itu sakit sekali.”

“Bodoh.”

Aku tertawa dalam tangisanku yang begitu nyata dan berusaha untuk menata kembali hatiku yang retak.

Mulai sekarang,

Hubungan kami terlepas dan esok… aku akan melihatnya bersama seorang yeoja lain…

______________

 

Yuri menolak bertemu denganku. Ia menghindariku dan duduk dengan gadis lain yang sama sekali tidak dekat dengannya. Ia teus-terusan menghindariku meski aku tahu bahwa ia memperhatikan mataku yang bengkak dan merah. Aku tahu ia merasa bahagia karena aku juga sama sakitnya dengannya. Bahkan mungkin lebih parah.

Saat istirahat, akhirnya aku mengirim pesan kepadanya.

To: Kwon Yuri

Yul-ah, kau benar. Aku sama terlukanya denganmu.

 

Aku tidak menunggu balasannya karena aku tahu itu tidak akan datang. Aku makan siang sendirian dan meratapi hidupku yang begitu sedih. Tapi aku menerimanya, karena toh semuanya pantas kudapatkan.

“Kau baru diputuskan?”

Aku mendongak dan begitu kaget ketika melihat Yuri berdiri  di depanku dengan senyumnya yang khas.

“Ya, kau tahu itu.” Sahutku dan tersenyum.

“Mianhae, karena aku mengatakan hal-hal menyakitkan itu kemarin. Sebenarnya aku melakukan itu  karena aku iri denganmu. Kau tahu aku masih menyukai Kyuhyun. Tapi sekarang, aku sadar bahwa mungkin aku bukan yang terbaik untuk namja itu.”

“Aku juga.”

“Kau berhasil mengetahui segalanya?”

Aku mengangguk, kemudian menggeleng.

_________________

 

Mataku melebar ketika melihatnya. Benar, sekarang bahkan dia sudah punya pasangan baru. Ia berjalan dengan salah seorang yeoja di kampus yang cantik dan manis. Mereka terlihat serasi dan aku berani bersumpah bahwa aku melihat gerlip cemerlang di mata Kyuhyun. Aku hanya dapat berharap semoga saja ia berhenti menyakiti para yeoja dan menjadi seperti dulu.

Namanya Choi Jung Hee. Aku baru tahu bahwa Kyuhyun adalah seorang maniak-Choi. Mungkin itu karena nama yeoja yang dicintainya adalah Choi.

Ia berjalan di depanku tanpa mengacuhkanku sama sekali. Seolah-olah aku adalah makhluk tak terlihat. Seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua. Sementara aku, hanya dapat memandanginya dan menelan rasa sakit itu bulat-bulat.

Aku masih mencintainya. Kebodohan yang sangat bodoh.

Karena… aku sudah terjerat oleh tali yang sudah kusiapkan untuk diriku sendiri…

__________

 

“Kau merindukannya?” tanyaku padanya dengan sedih.

“Ya, aku merindukannya.” Sahutnya dengan lebih sedih.

Entah mengapa, tiba-tiba saja ia mengetuk pintu rumahku dan berkata bahwa ia ingin bicara denganku.  Aku begitu kaget sampai rasanya ingin melompat.

“Lalu mengapa kau datang kepadaku? Kudengar kau baru menjalin hubungan dengan Jung Hee Sunbaenim.”

Ia menatapku dengan matanya yang sendu dan tersenyum.

“Kami sudah putus. Ia begitu mengaturku.”

“Bukannya itu terdengar sangat menyedihkan? Maksudku, kau baru berpacaran dengannya pagi itu, kemudian memutuskannya sore tadi.”

“Aku tidak peduli itu, Choi Sooyoung.” Dengusnya dengan cepat.

“Hmm, terserah padamu. Tapi tadi kau bilang kau ingin bercerita tentang yeoja itu. Cepat katakan,”

Sejujurnya, aku merasa bahagia dapat duduk berdekatan seperti itu dengan Kyuhyun. Dan mendapat predikat ‘Berbeda-Dari-Gadis-Lain’ dari Kyuhyun cukup membuatku bangga.

“Namanya… Choi Soojin—”

“C-Choi Soojin?” potongku dengan cepat sambil memutar posisi dudukku hingga menatapnya langsung.

“Nde, waegeurae?”

“Itu—terdengar seperti nama kakakku… yang sudah meninggal.” Ujarku dengan perasaan sedih. Ucapannya membuatku teringat dengan satu-satunya saudara yang kupunya, yang sekarang telah berpulang disana.

“Kakakmu?”

Aku mengangguk.

“Bisa kau memberitahu ciri-cirinya?”

“Ia cantik sekali, gadis feminin yang sangat sopan dan manis. Kakakku bukan orang serampangan seperti aku. Ia selalu berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu, kemudian, ketika berusia sembilan tahun, ia sakit. Sakit keras. Keluargaku tidak pernah memberitahukan padaku sakit Soojin Unnie. Ketika ia berusia tujuh belas, ia meninggal dunia…” aku menghentikan ucapanku dan mengelap air mataku yang mengalir. “Seharusnya aku tidak menangis.”

“Sooyoung-ah, mungkinkah kakakmu itu… adalah Choi Soojin, gadisku itu?”

Aku menatapnya dengan dalam, kemudian menggeleng.

“Aku tidak tahu bagaimana rupa gadismu itu.”

Kyuhyun mengeluarkan sebuah potret lama dalam saku jinsnya dan menunjukkan itu padaku. Dua wajah yang sama-sama kukenal. Wajahnya dengan kakakku. Kakakku…

“Kau kenal ia?” tanya Kyuhyun hati-hati.

Aku menunduk, berusaha meredam rasa sakit dalam dadaku. Penyebab Kyuhyun menyakitiku, menyakiti ribuan gadis di luar sana, adalah kakakku sendiri. Choi Soojin Unnie yang telah meninggal…

“Ia kakakku…”

Kami diam. Senyap. Aku dalam tangisku, dan Kyuhyun dalam rasa sakitnya—meskipun ia tidak menangis. Hanya diam dan memandangi potret itu.

“Aku tidak menduga akan seperti ini…” ujarku dengan air mata berleleran. “Aku mencintaimu, dan kau—mencintai Soojin Unnie.”

Kyuhyun hanya diam, tidak menjawabku sama sekali dan malah menarik potret itu dan memasukkannya kembali ke dalam saku.

“Ini tidak mungkin…” katanya sebelum pergi meninggalkanku sendirian.

Soojin Unnie, benarkah kau mengenalnya terlebih dahulu? Benarkah bahwa ia adalah laki-laki pertama yang membuatmu jatuh cinta? Laki-laki pertama dalam hidupmu, sekaligus laki-laki terakhir?

Bolehkah jika aku mencintainya?

 

 

______________

 

Sekarang, aku hanya dapat memandangnya.

Seolah-olah ia adalah kehidupan nyata, sementara aku hanyalah bayangan tak kasat mata.

Seolah-olah ia adalah seseorang yang tidak dapat kusentuh, seseorang dari dunia lain. Sementara aku, hanyalah seseorang yang hanya dapat memandangnya, tanpa dapat menyentuhnya, mendengar suaranya, atau bahkan melihat senyumnya untukku.

Ia menjauh.

Kesalahan kah jika aku membenarkan kenyataan bahwa gadis dalam potret itu adalah seseorang yang kini terbaring dalam perut bumi dan diam tak bergerak? Kesalahan kah jika aku membiarkannya mengetahui semua itu?

Tentu saja itu tidak salah. Aku hanya ingin membuatnya tersadar bahwa gadis yang telah meninggalkannya itu adalah seseorang yang kini hidup dalam dunia tak terlihat yang bahkan sangat halus.

Aku melihatnya berkali-kali hari ini. Ketika aku berangkat, makan di kafeteria, saat pulang, saat  mengambil buku milik Kim Ssaem di kantor, saat Yuri mengajakku ke Perpustakaan, dan saat aku membeli diktat baru untuk semester baru.

Aku melihatnya ketika ia berciuman dengan salah satu pacarnya yang baru, aku melihatnya ketika ia makan romantis berdua dengan gadis lain, aku melihatnya ketika ia mencubit pipi gadis barunya yang lain.

Dan, aku sakit karena itu.

Membiarkan perasaanku berlarut-larut, membiarkan hatiku semakin terinjak, membiarkan air mataku tergenang dalam sudut kesakitan dalam mataku, membiarkan diriku jatuh.

Aku masih mencintainya.

____________

 

Kali ini, aku memastikan mataku tak salah lihat. Ia berdiri di hadapan pintu rumahku dengan buket bunga  di tangannya. Aku berusaha keras untuk tidak ambruk saat itu juga. Karena melihatnya membuatku semakin merasa bahwa ia tidak dapat kumiliki untukku sendiri.

“Kau menjauh selama ini.” Ujarku ketika aku meletakkan dua buah gelas di meja tamu.

Ia melirikku, hanya sekedar lirikan. Namun efeknya sangat mengerikan. Kemudian ia meraih gelasnya dan meminumnya.

“Hanya seminggu.”

Seminggu tanpmu membuatku sakit. Tidakkah kau mengerti itu?

“Kau menungguku?” tanyanya sambil memandangiku.

“Kau ingin jawaban yang sejujurnya atau yang tidak?”

“Yang tidak.”

“Tidak.”

Ia tertawa dan menatapku.

“Untuk apa menungguku? Bukannya itu hanya menghabiskan waktumu saja?”

“Memang benar. Itu membuatku sakit.”

“Kau seharusnya belajar dari sahabatmu itu.”

“Maksudmu Kwon Yuri? Belajar apa?”

“Agar kau segera melupakanku.”

“Kau ingin aku melupakanmu?”

“Sebenarnya, tidak.”

Aku mengalihkan pandangan dan memutuskan untuk tidak menanggapi ucapannya.

“Aku minta maaf jika kemarin itu aku membuatmu marah.”

“Tidak.”

Aku menoleh dan memandang matanya sedih.

“Mulai saat ini, aku memutuskan akan hidup baik-baik. Kembali seperti dulu. Meminta maaf kepada semua yeoja yang pernah kusakiti.”

“Itu tindakan yang sangat kunanti,” ujarku bercanda.

“Dan memutuskan bahwa ada seorang yeoja yang menurutku pantas untukku.”

Deg. Aku memandanginya dengan mataku yang mengair.

“Kau ingin tahu siapa dia?”

Ingin. Tidak. Ingin. Tidak.

Cho Kyuhyun Choi Sooyoung.

Tidak.

Aku menggeleng.

“Wae?”

“Itu akan membuatku sakit. Apa kau tidak takut jika aku menghajar gadis itu?”

Ia tertawa.

“Mulai sekarang, hiduplah dengan baik. Ini untukmu.”

“Karena kau  merasa bersalah padaku?” tanyaku sambil tersenyum.

Kyuhyun hanya tertawa sekilas kemudian berjalan pergi.

Ia akhirnya menjadi seseorang dalam jalan yang dipilihnya, bahagia dengan gadis yang dipilihnya, dan aku…

Akan tetap hidup dalam bayanganku dalam Kyuhyun.

Aku meraih buket itu dan menghirup aromanya. Aroma bunga dan sedikit aroma Kyuhyun. Aku meletakkannya kemudian baru sadar bahwa ada sebuah kotak dalam buket itu. Aku mengambilnya dan membuka isinya.

Cincin.

Dan sebuah kertas.

Sooyoung-ah,

Boleh tidak jika aku menyerahkan hatiku padamu?!

Kalau boleh, segera telepon aku!😉

 

 

Aku terpana beberapa saat, memegangi dadaku yang terasa hangat oleh perasaan bahagia, kemudian segera mengambil ponselku. Menghubunginya.

Yeoboseyo?”

“YA! CHO KYUHYUN!!”

E N D

Oke, please, don’t bash me! *tutupinmuka*

Aku tahu ini termasuk karya yang gagal karena END-nya yang bener2 gak memuaskan dan menggantung. Tapi, kamu harus tetap meninggalkan jejak kamu disini ^^

Terima kasih sudah membaca~

150 thoughts on “[Oneshoot] Loving You is A Mistake

  1. saya kira soo eon nggak bakal jadian sama kyu ppa. ternyata tebakanku salah … ceritanya bgus thor , saya suka saya suka🙂

    Like

  2. Akhirnyaaa^^ Sooyoung sabar banget. Tp apa benar Kyuhyun bs berubah secepat itu ? Good story, thor…two-thumbs up for u🙂

    Like

  3. Omg ceritanya keren…
    Happy ending..yeeeeyyy..
    Sy reader baru disini..
    Ijin baca semua ff yg ada disini ya thor..
    Gomawo..

    Like

  4. Love this story ^0^

    Dr awal sampai akhir penasaran kyu bakal sma soo atau gak + gimana alur akhirnyyaaa^^

    Daebaaaak🙂

    Like

  5. Mirip sma nsib q it nsb.a soo eon chingu. .bedanya aq nyerah dan memilih untk melupakan. . Hehe :’) jadi sedih dan waw daebaaak! Ffnya, ,:D

    Like

  6. Ini jejakku : jejak
    Ini comentku : Kya!!! author, itu buat soo eonni??
    Wow… nggak terduga, kiranya bakal sad ending. DAEBAK!
    Wuah, berharap ada sequelnya…😀

    Like

  7. squel squel harus squel. Seru seru thor, ini pacarannya beda, saling dingin, tapi kalo dipikir pikir percakapannya romantis. Good job🙂

    Like

  8. sumpah kerenn!!! Gue Suka !! #tebarBunga
    Thor lu sukses bkin gue nangis , penasaran, marang , jengkel , Seneng (HappyEnding)
    DAEBAK!!

    Like

  9. aigoo..mian thor,,baru bisa komen,,soalnya kmrin fokus k UAN dulu….
    feelnya kerasa bgt……gk nyangka klo yeoja yang bikin kyu playboy itu soojin….
    awal-awalnya bikin nangis tpi akhirnya bikin ketawa….untung sookyu bersatu…

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s