[Chapter 1] Blind


blind-2

Title: Blind

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-CHo Kyuhyun

-Other cast

Genre: Romance, Love Story

Rating: PG14

Length: Chaptered

Credit Poster: Sasphire@cafeposterart.wordpress.com

Author Note:

Annyeong~

Sebenarnya ini belum jadi, tapi aku memutuskan untuk ngepost aja. Daripada SPW sepi terus-menerus ._.

Aku liat kkomentar di oneshoot baru aku, dan hampir semua minta AS. tapi maaf aja, aku gak pinter bikin AS. Kalopun aku bikin, pasti ceritanya out of topics, dan itu pasti ngebikin ceritanya jadi tidak sesuai dengan storynya. karena itu, aku gak bisa bikin AS-nya >.<

Aku minta maaf kalo aku punya salah sama kamu semua, baik yang disengaja dan gak disengaja ^^

Langsung aja ya, jangan lupa untuk meninggalkan komentar kalian disini🙂

Check It Out!

Happy Reading~

©MeydaaWK’s Present

_________

“Ia tidak buta karena pembantaian itu, tapi ia tidak ingin melihat dan mensugestikan dirinya sendiri untuk tidak melihat. Berhasil, ia buta.”

“Tidak ada jalan untuk dapat melihat kembali?”

“Hanya ia yang dapat membuat dirinya kembali dapat melihat.”

“Apa yang harus aku lakukan agar ia dapat melihat kembali?”

“Buat ia ingin sekali melihat, benar-benar ingin, sampai akhirnya ia dapat melihat.”

____________

“Siapa kau?”

“Aku Cho Kyuhyun. Sekarang, siapa namamu?”

Gadis itu berusaha menatap Kyuhyun. Mencari sumber suara, namun yang dapat ia lihat hanyalah kegelapan. Seolah-olah teringat kejadian yang baru-baru ini terjadi, gadis itu kembali menangis dan meringkuk di sudut ranjang itu. “Aku tidak bisa menyebutkannya…” erang gadis itu di tengah tangisannya. “Mereka akan datang dan membunuhku jika aku mengatakannya. Tolong…”

“Ssstt, mereka tidak ada disini. Kau aman disini, bersamaku. Tenanglah,”

Dalam kegelapan pekat, gadis itu seolah melihat sebuah tangan bercahaya yang meraihnya, menenangkannya. Ia  kembali mendekap tubuhnya sendiri dengan erat dan ketakutan sementara bahunya berguncang naik-turun.

Kyuhyun yang melihat gadis itu begitu ketakutan menarik gadis itu dan mendekapnya di depan dadanya. Tangannya bergerak mengelus pundak dan rambut gadis itu. Tubuh gadis itu begitu  lemah, kecil, dan dingin di dalam dekapannya.

“Uljima. Mereka tidak akan kembali dan menakutimu. Tidak, jika aku ada di sampingmu.”

Beberapa menit kemudian, tangisan gadis itu berangsur-angsur terhenti.

“Gwenchana, sst. Uljima…” bisik Kyuhyun menenangkan sementara kedua lengannya masih mendekap tubuh gadis itu erat. Setelah gadis itu benar-benar tenang, ia melepaskan pelukannya. “Sekarang, siapa namamu? Jangan sebutkan margamu, hanya sebutkan bagaimana orang yang kaukenal memanggilmu.”

“Soo—Sooyoung.”

“Arraseo. Jadi, Sooyoung-ah, apa kau lapar?”

Gadis yang bernama Sooyoung itu mengangguk polos. Lalu kepalanya mendongak. Namun percuma saja, yang dapat ia lihat hanyalah kegelapan.

“Ne, tunggu disini. Aku akan memasak, dan mengunci pintu ini sehingga orang-orang itu tidak dapat mengganggumu. Arra?”

Sooyoung mengangguk sementara dia kembali mendekap lututnya dan menidurkan kepalanya disana.

Sebelum meninggalkan gadis itu, Kyuhyun menggenggam erat tangannya dan menepuk pundaknya, lalu berjalan pergi.

“Ia bukan monster, Sooyoung-ah. Ia baik.” Bisik Sooyoung kepada dirinya sendiri sementara tangannya meraba-raba bantal dan seprai yang ada di bawahnya. Matanya tidak dapat melihat apapun.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara klik tanda pintu terbuka. Sooyoung merasakan tubuhnya menegang, ketakutan.

“Sst, tenang, ini aku. Cho Kyuhyun.”

Tubuhnya kembali lemas setelah mendengar itu.

“Sekarang, ayo makan. Aku tidak begitu pandai memasak. Tapi mungkin ini cukup enak untukmu. Dan mm, tidak membunuhmu.”

“Jeongmal ghamsahamnida. Ghamsahamnida sudah membawaku keluar dari sana. Ghamsahamnida sudah menampungku… jeongmal.”

“Nde, arraseo. Sekarang, kau makan, ne?”

Sooyoung mengangguk. Kuncir rambutnya yang berantakan bergoyang.

“Bagaimana? Mashitta?”

“Ne~”

Kyuhyun tersenyum senang di hadapan gadis itu. Lalu tersadar bahwa gadis itu tidak pernah melihat wajahnya, dan senyumannya.

_________

“Bagaimana keadaanmu? Sudah merasa baik?”

“Nde. Disini menyenangkan.”

“Walaupun kau tidak dapat melihat?”

Sooyoung menoleh, namun sayang, ia menoleh ke arah yang salah. Kyuhyun berada di samping kirinya, dan ia menoleh ke samping kanan.

“Aku disini, Sooyoung-ah.” Ujar Kyuhyun lembut sambil menengokkan kepala Sooyoung ke arahnya. “Aku harus pergi bekerja hari ini. Tenang saja, aku akan mengunci pintu. Mereka tidak dapat menembus pintu baja. Lagipula, untuk masuk kesini harus menggunakan cap. Kau akan baik-baik saja.”

Sooyoung mengangguk, telinganya terasa berdengung sakit. Entah kenapa.

“Kau bisa bermain piano?” tanya Kyuhyun tiba-tiba membuat semangat gadis itu muncul. “Maksudku, apakah kau menghapal tuts-tutsnya dengan baik?”

“Dulu aku terbiasa bermain dengan mata tertutup.”

Kyuhyun mengangguk. Ia tahu bahwa puteri kecil milik keluarga Choi ini adalah seseorang yang sangat pandai bermain piano. Konsernya sudah terkenal sampai di luar negeri. Jadi bahkan gadis ini pernah berkeliling dunia sekalian menunjukkan pertunjukkannya. Sayang sekali, Kyuhyun tidak pernah melihat pertunjukkan gadis ini. Bahkan dia baru menyadari bahwa wajah gadis ini sangatlah rupawan.

“Ini pianonya. Sebelum aku pergi, bisakah kau memainkan sebuah lagu untukku?”

“Kau ingin lagu yang sedih, atau yang bahagia?”

Kyuhyun berpikir sejenak. “Sesuai dengan keadaanmu saat ini.” Katanya akhirnya.

Sooyoung tersenyum misterius, kemudian meletakkan sepuluh jarinya di atas tuts. Ia berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya.

Not demi not ia mainkan dengan sangat baik. Musik yang keluar dari piano besar itu begitu menyedihkan, kelam, dan sangat halus. Jemarinya bergerak pelan namun gesit, menyentuh tuts piano itu dengan sangat tenang. Kepalanya sesekali bergoyang, matanya terpejam dengan erat, dan tubuhnya terduduk lemah.

Kyuhyun tak percaya bahwa lagu yang dimainkan Sooyoung itu begitu indah dan menusuk. Lagu itu begitu terasa nyata dan sangat menikam. Sooyoung benar, begitulah perasaannya saat ini. Sedih, kelam, dan lemah. Begitulah kenyataannya.

Lagu itu terhenti. Gadis itu belum menyelesaikan permainannya, namun ia berhenti karena sekarang air matanya mengalir dengan deras.

“Kenapa semua ini terjadi padaku?” bisiknya sedih dengan jemari masih memainkan tuts-tuts piano. Namun kali ini yang terbentuk hanyalah nada indah yang tak beraturan. Suaranya seolah menyatu dengan nada itu, dan air matanya adalah penghidup nada itu. “Kenapa mereka membuat hidupku hancur seperti ini? Kenapa bahkan mereka tidak membunuhku sekalian? Kenapa mereka hanya membunuh kedua orang tuaku dan kakakku? Eomma, Appa, Unnie, bisakah kalian kemari dan membawaku bersama kalian?” kepalanya tertunduk begitu dalam. Rambutnya yang disisir halus oleh Kyuhyun—tadi pagi—menyentuh tuts-tuts piano itu dengan tidak beraturan.

“Ssst, mereka ingin kau tetap hidup. Jangan menangis seperti ini. Sepertinya kau tidak bisa kutinggal pergi. Sebentar, aku akan meminta cuti dulu. Kita akan berjalan-jalan.”

_____________

“Mianhae aku merepotkanmu.”

“Gwenchana. Sekarang, kau ingin kemana?”

“Aku tidak ingin pergi. Di luar tidak aman, mereka bisa menemukanku. Dan mereka bisa membunuhku.”

“Selama ada aku, itu tidak akan terjadi.”

“Mereka banyak, Kyuhyun. Kau tidak akan bisa menghadapinya.”

“Jangan mengingat mereka. Kau hanya boleh mengingat wajahku.”

“Aku tidak tahu bagaimana wajahmu,”

“Jika begitu, berusahalah untuk melihatku. Aku sangat ingin kau melihatku.”

“Aku juga.” Sahut Sooyoung dengan sedih. “Tapi kau dan aku tahu, itu tidak akan terjadi. Aku hanya akan membayangkan wajahmu saja.”

Kyuhyun tersenyum. Senyum getir dan bahagia menjadi satu.

“Apa warna rambutmu?”

“Cokelat. Sama seperti rambutmu.”

“Bagaimana matamu?”

“Cokelat, sedikit tidak terlalu besar.”

“Bagaimana alismu?”

“Tebal, naik ke atas.”

“Hidungmu? Mancungkah?”

“Ya,” Kyuhyun tertawa bersama Sooyoung.

“Sombong sekali,” ujar Sooyoung. “Bagaimana mulutmu?”

“Tidak terlalu tipis ataupun terlalu tebal.”

“Berapa tinggimu?”

“Sekitar seratus delapan puluhan.”

“Aku membayangkanmu sekarang.”

“Kudengar kau pandai melukis, bisakah kau melukiskan wajahku yang ada dalam pikiranmu itu? Untukku, hm?”

Sooyoung mengangguk. Sementara Kyuhyun langsung melesat ke ruang kerjanya dan kembali membawa sebuah kertas putih yang tidak terlalu besar dan sebuah pensil. Ia meletakkan kertas dan pensil itu di atas tangan Sooyoung.

“Baiklah, aku akan memulai sekarang. Tapi, bisakah kau membelakangiku sejenak?”

Kyuhyun mengangguk, memutar kursinya ke belakang.

Sooyoung berusaha membiasakan dirinya dengan pensil dan kertas yang ada di tangannya. Mengonsentrasikan pikirannya dan memutar otak berusaha menciptakan sosok ‘Kyuhyun’ dalam pikirannya yang hanya berisi kenangan-kenangan kelam yang baru-baru ini terjadi.

Setelah berhasil mengingat sosok ‘Kyuhyun’, ia mulai menggoreskan pensil lancip itu di atas kertas putih itu. Menggambar guratan-guratan wajah, rambut, mata, postur tubuh, bentuk hidung, mulut, senyum, dan terakhir gaya berpakaian. Tangannya bergerak meraba guratan pensil yang telah ia goreskan di atas kertas itu dan memikirkannya dengan tenang. Meskipun tidak dapat melihat, ia tahu bagaimana bentuk sketsanya. Semoga saja hasilnya sedikit mirip dengan Kyuhyun yang asli.

“Sudah selesai.” Katanya akhirnya, berusaha mencari radar ‘Kyuhyun’ yang ada di dekatnya. Pendengarannya meningkat pesat, karena hanya itu yang dapat ia andalkan agar dapat berkomunikasi dengan dunia dan bukannya terkungkung di dalamnya.

Dengan tangan kanannya Kyuhyun meraih kertas gambar itu dan memandangi sosok yang telah dihidupkan oleh Sooyoung di dalam pikirannya. Dengan napas terkejut Kyuhyun meraba sosok itu. Ia tidak tahu mengapa Sooyoung bisa tahu bagaimana wajahnya. Dan gadis itu membuat sketsa tentangnya yang sama persis.

Orang akan mengira bahwa gadis itu bisa melihat Kyuhyun ketika membuat sketsa wajah itu. Karena hasilnya sama persis dengan aslinya.

“Hebat. Sangat hebat, Sooyoung-ah. Sketsa buatanmu ini sama persis dengan diriku. Andai kau dapat melihat, kau pasti bisa tahu bagaimana kemiripannya.”

“Benarkah? Benarkah semirip itu?”

“Ya. Sangat mirip bahkan. Bagaimana kau tahu aku mempunya lipatan mata? Bagaimana kau tahu kalau bibirku sering sekali naik ke atas seperti ini? Apa kau bisa melihatku?! Ataupun kau pernah melihatku?!”

“Tidak, tidak. Itu semua tidak benar. Aku tidak tahu kenapa aku membayangkan dirimu dengan sikap dingin dan sinis—padahal kau teramat baik padaku. Aku tidak tahu kenapa aku memikirkan dirimu dengan sebuah lipatan mata yang menambah kesan serius di dirimu. Aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya. Aku bahkan tidak tahu bagaimana dirimu. Tapi pikiranku bekerja, dan aku membayangkanmu.”

“Kau sangat hebat.”

“Terima kasih.”

“Maukah kau menceritakan hal-hal indah yang pernah kaulalui?”

Sebenarnya, Kyuhyun meminta ini agar gadis itu berusaha untuk kembali mengingat. Kemarin, dokter berkata kepadanya bahwa—selain menderita kebutaan—gadis di depannya ini juga membentuk jaringan Otak Parut. Artinya, gadis ini berusaha melupakan segala kejadian yang pernah ia lalui dalam hidupnya dan menggantinya dengan hal yang terjadi baru-baru ini. Sehingga ini sangat berpengaruh terhadap kewarasan dan psikologi gadis itu, apalagi jika yang ada di dalam pikirannya hanyalah pembantaian yang baru terjadi  belakangan ini.

“Ada begitu banyak hal. Dan aku tidak tahu kenapa aku melupakan semuanya.”

Bingo! Dokter benar. Gadis di depannya ini benar-benar melupakan segalanya.

“Bisakah kau mengingat? Ketika kau… hmm, mengadakan pertunjukkan pertamamu?”

Sooyoung mengerutkan keningnya sejenak, kemudian meringis.

“Aku lupa bagaimana saat itu.”

“Apa saja yang kau ingat?”

Bukannya menjawab, air mata gadis itu malah mengalir dengan deras di pipinya.

“Aku tidak bisa mengingat segalanya, Kyuhyun-ah. Yang kuingat hanyalah mereka. Hanya mereka.” Bisiknya sambil berjongkok dan menidurkan dirinya sendiri di atas dekapan tangannya.

“Ssstt, tidak apa-apa. Jika kau tidak mengingat semuanya, itu tidak apa-apa. Ini semua bukanlah salahmu. Kau tahu kau tidak bisa menghindari ini.”

Kyuhyun menarik Sooyoung ke dalam pelukannya dan menenggelamkan kepalanya di puncak kepala gadis itu. Ia tidak sanggup melihat gadis itu menangis. Ia tidak sanggup membuat gadis itu mengingat segalanya. Ia tidak sanggup. Padahal, seharusnya itu yang ia lakukan.

_________

“Bagaimana? Apakah ia berhasil mengingat sesuatu? Atau tempat rahasia itu?” tanya salah satu rekan Kyuhyun, Heechul. “Apakah kau berhasil mendapatkan berita itu darinya?”

“Tidak. Ia tidak bisa menceritakannya, jika ia mulai mengingat, ia akan menangis.” Sahut Kyuhyun sambil membuka-buka berkas-berkas dengan tidak tenang. Ia harus meninggalkan Sooyoung pagi ini karena Ketua dalam kelompoknya menyuruhnya untuk datang. Dan ia tidak punya alasan untuk menolak.

“Cish, dasar gadis lemah!”

“Heechul Hyung, ia sedang trauma! Tidak bisakah kau memahami perasaannya?” seru Kyuhyun dengan keras. Ia tidak akan terima jika ada orang lain yang menghina Sooyoung. Siapapun itu.

“Oh, itu pasti sebab kenapa yeoja-yeoja selalu bersikap tertarik padamu.” Sindir Heechul.

“Apa maksud Hyung?”

“Kau begitu perhatian, Kyuhyun-ah. Ah, aku sering sekali mendengar gadis-gadis  itu menggosipkanmu.”

“Apa maksudmu?!”

“Sudahlah,” lerah Donghae yang duduk di antara mereka dan merasakan bahwa hawa ‘Api’ sudah  menguasai kedua rekannya itu. “Berhenti bertengkar membicarakannya. Benar kata Kyuhyun, Hyung,  gadis itu pasti sedang trauma. Bagaimanapun, pembantaian itu terlalu kejam untuk dilihat oleh seorang yeoja secara langsung.”

“Kudengar gadis itu sangat cantik.” Kata Heechul dengan sinis. “Pasti itu alasanmu mau menampungnya ya, Kyu?”

“Jaga ucapanmu. Atau aku akan meninjumu sekarang.” Ujar Kyuhyun dingin.

“Sudahlah, Hyung.” Ulang Donghae lagi, namun kali ini ia menyeret Heechul menjauh dari meja kerja itu.

____________

Gadis itu melangkah tertatih di sepanjang jalan sempit dalam rumah Kyuhyun. Ia sedang berusaha ‘mengenali’ setiap inchi rumah ini. Dengan pikirannya, ia melihat, dan dengan telinganya, ia memerhatikan. Ketika tersandung sebuah meja, Sooyoung menggigit bibirnya pelan dan berjongkok untuk sekedar mengusap kakinya yang sakit.

Sudah berjam-jam ia berputar di sekitar rumah ini.  Dan sekarang ia sudah hampir bisa membedakan mana ruang tamu, ruang keluarga, kamarnya, dapur, kamar mandi, dan almari tempat Kyuhyun meletakkan pakaiannya kemarin.

Sooyoung meraba benda di atas pantri dapur itu, berusaha mengenali satu-persatu benda yang tertata rapi di atasnya. Beberapa kali ia mengernyit ketika tidak tahu benda apa yang baru saja disentuhnya itu. Namun beberapa saat kemudian ia tersenyum, menyadari bahwa benda yang baru saja dipegangnya hanyalah sebuah tevlon yang dingin.

Selesai berkeliling, Sooyoung baru menyadari bahwa sudah beberapa jam Kyuhyun pergi. Ia tidak tahu tepatnya beberapa jam karena ia sendiri tidak dapat melihat cahaya matahari, ataupun jam dinding.

KLIK.

Sooyoung langsung menoleh mendengar suara itu. Ia tidak melihat siapapun—tentu saja—dan ia ketakutan setengah mati. Keringat dingin menetes di dahinya dan di lehernya. Ia langsung menunduk, meraba-raba dan berusaha mencari tempat persembunyian. Entah kenapa, ia yakin sekali bahwa ‘mereka’ kembali datang dan berniat membunuhnya.

“Sooyoung-ah, eoddiga? Ini aku, Kyuhyun.”

Ketakutannya menguap begitu saja. Sooyoung langsung keluar dari kolong—atau apapun itu karena ia tidak bisa melihatnya—dan berjalan tertatih.

“Tolong, jangan lakukan itu lagi…” katanya sambil meredakan napasnya yang tersengal.

“Kenapa?” tanya Kyuhyun heran, namun sedetik kemudian ia mengerti. “Gwenchana. Lain kali aku akan meneriakkan diriku ketika aku pulang. Kau tidak usah takut begitu.”

Sooyoung mengangguk.

“Apakah kau lapar?”

Ia kembali mengangguk.

“Ne~ Aku membawa makanan untukmu. Ini sangat lezat. Kau pasti menyukainya.” Cerocos Kyuhyun sambil membuka bungkusan yang ia bawa. Spageti carbonara, sandwich, dan hamburger.

“Ini untukmu,” katanya sambil meletakkan sepiring spageti di tangan Sooyoung. “Apa kau bisa memakannya? Ah, biar kusuapi. Kelihatannya kau masih sangat ketakutan. Maafkan aku, Sooyoung-ah.”

Kyuhyun mengambil piring itu dan menyuapkan segulung mie ke dalam mulut Sooyoung.

“Biar kutebak,” ucap gadis itu dengan riang. Ketakutannya sudah menguap entah kemana. “Kau membeli spageti ini di Dounhise House? Right?” tebaknya cepat.

“Waah, kau pasti sering kesana. Ya, memang ini kubeli dari sana.”

“Dulu, aku biasa pergi kesana bersama temanku, Lee Hyera. Tapi sekarang ia sudah meninggal,”

Kyuhyun merasakan dadanya berdegup. Tanpa sadar, Sooyoung mengatakan masa lalu yang ia bilang sudah dilupakannya.

“Kenapa ia bisa meninggal?”

“Dibantai.” Meski matanya tidak menunjukkan ekspresi apapun—karena memang itu tidak bisa—paras wajahnya terlihat sangat menyesal. “Andai saja aku tidak mengajaknya ke rumah.”

“Kau mau menceritakannya padaku?”

“Aku tidak bisa..” air mata kembali mengalir di pipinya. “Aku akan menceritakannya. Tapi tidak sekarang,”

“Ne. aku tahu itu. Tidak apa-apa. Sekarang, ayo kita lanjutkan makanmu.”

_________

“Kemarin…apa kau disini?” tanya Sooyoung sambil meraba bagian kosong kasur yang sekarang ditidurinya.

“Ne. kau kan bilang ini ditemani.” Sahut Kyuhyun sambil mengeluas rambut gadis itu. Itu reflek darinya. “Apa sekarang kau mau tidur sendirian?”

Gadis itu menggeleng. “Mereka akan datang kembali jika aku sendirian.” Bisiknya seolah-olah ‘mereka’ yang ditakutinya ada di hadapannya. “Bisakah kau menemaniku, Kyuhyun—berapa usiamu?”

“Dua tahun di atasmu,”

“Baiklah, kalau begitu, Oppa.”

Kyuhyun tersenyum tipis sambil memandangi wajah gadis itu. Dalam sosoknya yang belakangan ini terlihat sangat ketakutan dan trauma, ia mendapati wajah teduh Sooyoung, wajah gadis polos yang ceria. Namun keceriaannya akan berakhir. Berakhir jika ia memaksa gadis itu menceritakan segalanya.

“Kenapa Oppa diam saja? Oppa sudah tidur ya?”

“Aniya, Oppa menunggumu tidur.” Sahutnya dengan suara sepelan mungkin, sementara tangannya tidak berhenti mengelusi rambut panjang gadis itu.

“Bisakah Oppa menyanyikan sebuah lagu untukku? Aku tidak bisa tidur jika tidak mendengarkan lagu.”

“Jangan! Jangan! Apa salah kami?!”

“Kalian membuat kesabaran kami habis!”

Suara teriakan yang memekakkan telinga terdengar dengan suara rintihan, hampir bersatu. Pisau-pisau digoreskan dalam tubuh fana itu. Sementara teriakan-teriakan itu terhenti, ‘mereka’ menyalakan api dan menemukannya.

“Kau disini, rupanya.”

“JANGAN! JANGAN! JANGAN!”

“Sooyoung-ah, gwenchanayo?”

“Oppa, bisakah kau membuatku melupakan mereka?!”

Ini permintaannya, dan Kyuhyun tahu bahwa ia memang ingin menepatinya. Meskipun kenyataannya, hal itu tidaklah ada dalam rencananya…

___________

“Kau sangat tidak becus mengurusnya, Kyuhyun-ah!” bentak Heechul dengan emosi. “Kenapa kau tidak memaksanya saja agar kau tahu jelas dimana letak ruangan itu?!”

“Jangan mengatakan seperti itu, Heechul-ssi!” bentak Kyuhyun balik.

“Kau memang tidak becus, Kyuhyun-ah!”

“KAU TIDAK MENGERTI HEECHUL-SSI! Wanita berbeda dengan lelaki!! Mereka sangat rapuh!! Kau tidak bisa memaksanya seperti itu!”

“Oh, aku tahu. Kau baru akan melepaskannya setelah kau berhasil menidurinya, begitu?!”

“Jaga ucapanmu, Heechul-ssi!”

“Itu benar kan, Kyuhyun-ah?”

Duk. Sebuah tinju dari Kyuhyun kini bersarang di wajah Heechul yang meringis kesakitan.

“Oh, baiklah. Hanya karena seorang gadis lemah buta yang hampir kehilangan kewarasan, kau berani membantah dan meninjuku?! Apa kau ingin bertengkar denganku?!”

Duk.

“Jangan pernah mengatakan hal buruk tentang ia lagi. Dan jika aku sampai mendengarnya, aku akan segera melaporkan tindak kriminalmu dulu!”

“Baiklah, kau mengancamku. Kita lihat saja, kalau kau tidak bisa membuatnya bicara, aku yang akan membuatnya bicara.”

 

T B C

Hehe, pendek ya? Aku memang sengaja membuat chapter ini pendek untuk membuat kamu penasaran xD

Tapi… sadarkah kalian ada yang berbeda disini?

Ya, gaya bahasaku!

Aku merubahnya menjadi sedikit lebih formal lagi. Dan aku sudah membuat satu ff lagi–yang belum kujadikan sebuah fanfiction–yang menggunakan gaya bahasa informal meski masih ada dalam batasan xD

Oke, itulah present dariku. Doakan aku supaya bisa lulus dengan nilai baik dan masuk ke dalam sekolah yang kumau🙂

N. B: aku akan meng-post chapter selanjutnya setelah aku menyelesaikan UN-ku ^^

Ghamsahamnida~

111 thoughts on “[Chapter 1] Blind

  1. Soo eonni kenapa bisa buta ?!!

    Trus kyu sama heechul itu seorang polisi atau mereka dari sebuah organisasi gitu …..

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s