[Chapter 2] Blind


blind-2

Title: Blind

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

-Kim Heechul

Genre: Little Bit Action, Romance

Rating: Teenager and PG

Length: Chaptered

Credit Poster: Sasphire@cafeposterart.wordpress.com

Previous Part: Teaser | Chapter 1

Disclaimer: The Story is mine, Plot is mine, but the cast is God’s mine and they Entertaiment. You can read, but you must leave a comment ^^

Check It Out!

Happy Reading~

©MeydaaWK’s Present©

______

Chapter 1:

“Jangan pernah mengatakan hal buruk tentang ia lagi. Dan jika aku sampai mendengarnya, aku akan segera melaporkan tindak kriminalmu dulu!”

“Baiklah, kau mengancamku. Kita lihat saja, kalau kau tidak bisa membuatnya bicara, aku yang akan membuatnya bicara.”

Chapter 2:

“Noonaku bilang ia akan kemari,”

“Mwo? Kau punya Noona?”

“Ya. Sudah lima tahun ia tinggal di Washington D.C. kuharap kau senang bertemu dengannya,”

“Tentu saja. Semoga saja ia baik kepadaku.”

“Noonaku bilang, ia menyukaimu.”

“Ia belum pernah bertemu denganku. Dan kurasa aku tidak akan tahu bagaimana wajahnya.”

“Ssst, aku tidak bisa membiarkan dirimu sendirian disini ketika aku bekerja. Kau tidak dapat melihat, dan mereka bisa dengan mudah—” Kyuhyun menghentikan ucapannya dan memandang wajah Sooyoung yang terlihat syok.

“K-kau bilang aku aman disini, Oppa.” Erangnya nyaris tidak terdengar sementara air matanya mengalir lembut. “Aku.. aku takut, Oppa.”

“Ani, aniya. Mereka tetap tidak bisa masuk kesini. Ada aku. Aku hanya khawatir kepadamu. Apa kau merasa baik-baik saja?” tanya Kyuhyun berusaha mengalihkan pembicaraan. Sorot mata gadis itu begitu terlihat sedih dan itu membuatnya marah kepada dirinya sendiri karena membuat gadis itu merasa sakit lagi.

“Awalnya—awalnya aku merasa baik-baik saja, tapi sejak Oppa mengatakan itu—aku takut, Oppa.” Bisiknya dengan air mata bercucuran. Entah sejak kapan dia kembali mendekap dirinya sendiri dan menidurkan kepalanya—itulah posisi favoritnya ketika dia merasa sangat sedih dan ketakutan.

Entah refleks dari mana, Kyuhyun sudah menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Memeluknya erat, meresapi aroma sabun gadis itu, meresapi aroma yang tidak bisa ia jelaskan yang menguar dari tubuh lemah itu.

“Mianhata, jeongmal…” bisiknya kembali. “Oppa janji, kau akan tetap disini. Dalam keadaan baik-baik saja. Mereka hanya dapat melihatmu, tapi mereka tidak akan pernah menyentuhmu.”

Sooyoung mendongak. Dan secara langsung pandangan matanya mengarah ke mata Kyuhyun yang sedang menatapnya—meskipun ia tidak bisa melihat mata cokelat namja itu. Lambat, Kyuhyun memajukan kepalanya, memejamkan matanya, dan menyentuh bibir gadis itu dengan bibirnya. Ia tidak melakukan apapun. Lumatan, decakan, atau apapun yang biasa dilakukan ketika seseorang berciuman. Ia tidak tahu apakah hal ini masuk dalam ciuman, atau tidak sama sekali.

“Maaf.” Ujar Kyuhyun sambil memandangi Sooyoung yang hanya menunduk. “Aku tidak akan melakukannya lagi.”

“Gwenchana,” bisiknya dan tersenyum. Matanya tergenangi oleh air mata yang terlihat mengabur. “Itu tidak menyakitiku.”

“Kalau begitu, itu menyakitiku.” Batin Kyuhyun, namun ia tentu saja tidak mengatakan itu dan menarik Sooyoung berdiri. “Kau harus istirahat. Kau ketakutan, dan kau pasti lelah menangis. Mulai sekarang, jangan menangis lagi. Kau harus kuat. Kuat. Mengerti, Choi Sooyoung?”

“Choi Sooyoung?! Dimana kau?! Haha, ayo cepat kemari! Apa kau tak ingin melihat ibumu? Ayahmu? Kakakmu yang molek ini? Atau, kau ingin kami… mmm, habisi sendirian?”

Ia tidak dapat melakukan apa-apa. Hanya diam dengan tubuh bergetar dan air mata mengalir deras. Ia melihat segalanya. Begitu jelas, nyata, dan menyakitkan.

“Ayolah, Choi Sooyoung. Cepat kemari,”

“TIDAK!”

“Sooyoung-ah? Waeyo?”

“Oppa~” panggilnya, dengan air mata mengalir deras. “Aku tidak bisa menahan air mataku. Jangan marah padaku. Tapi kumohon, jangan panggil aku dengan nama itu..”

“A-aniya, tidak lagi. Mulai sekarang, aku akan memanggilmu Cho Sooyoung. Bagaimana?”

Sooyoung tidak melakukan apapun. Mengangguk pun tidak. Ia terlalu takut untuk melakukan apapun. Ditambah dengan kilasan-kilasan balik tentang ‘kejadian’ yang membuatnya seperti ini.

“Itu terdengar lebih baik, right?”

Sooyoung—mau-tidak mau—mengangguk sekilas. lalu kembali membenamkan kepalanya ke dada Kyuhyun yang hanya tertutupi sebuah kemeja seperti yang dipakai ketika berangkat bekerja.

“Aku akan mandi dulu, apa kau sudah mandi?” tanya Kyuhyun.

Sooyoung hanya mengangguk sekilas. belakangan ini ia menciptakan bayangan tentang kamar mandi. Menghapalkan letak sabun, sikat gigi, sampo, dan perlengkapan lain. Dan sekarang ia sudah berhasil. Kemarin—ketika ia dalam keadaan yang sangat syok dan tidak tahu bagaimana rumah ini—Kyuhyun hanya membersihkan kulit lengannya, wajahnya, rambutnya, dan kakinya. Itupun hanya sampai selutut.

“Aku ada dalam kamar mandi di kamar ini. Jangan takut, arra?”

“Arraseo.” Sahut gadis itu, meraba-raba sekelilingnya. Ia merasakan ketika kehangatan dan kelembutan selimut ketika menyentuhnya. Ia bangkit dari duduknya dan berusaha mengangkat dirinya sendiri—yang sangat lemas—dan menidurkan dirinya sendiri ke atas kasur yang sudah seminggu ia tinggali. Entah mengapa, ia tidak merasa ketakutan sama sekali. Padahal ia tahu, Kyuhyun namja, dan ia adalah yeoja. Namun ia tahu bahwa Kyuhyun tidak akan pernah menyakitinya. Ia akan tetap menjadi namja baik untuknya.

__________

Kyuhyun terbangun ketika merasakan napas halus di dadanya. Perlahan ia membuka matanya, mendapati bahwa gadis itu tengah memeluk tubuhnya—namun tidak melingkarkan tangannya di pinggang Kyuhyun, hanya sekedar merapatkan tubuhnya di dada namja itu.

Ia mensejajarkan kepalanya dengan kepala Sooyoung dan memandangi wajah teduh gadis itu dalam diam. Sudah ia katakan sebelumnya, gadis itu memiliki wajah seperti malaikat ketika tertidur seperti ini. Matanya menenangkan, meski tidak pernah ada cahaya yang dapat ia tangkap, dan terlihat sangat dalam, meskipun mata itu hanya diam, hanya sebagai penghias semata. Tidak pernah berguna lagi. Mati. Berakhir.

Kyuhyun menggigit bibirnya sedih. Kenapa bisa ia berurusan dengan semua ini? Rasanya ingin sekali ia melepas ‘tugas’-nya sekarang juga. Ia tidak akan sanggup lagi. Ia tidak sanggup melihat ketika mata diam itu mengeluarkan cairannya dan membuatnya terasa tertohok.

“Oppa~” rintih Sooyoung tiba-tiba, membuat Kyuhyun sedikit tersentak. Kemudian ia tersadar bahwa gadis di depannya ini tidak akan melihat apa yang baru saja dilakukannya. “Oppa~ jangan tinggalkan aku…. Mereka mendekatiku…. Ah!”

“Sooyoung-ah, gwenchanayo?”

Kyuhyun melihat dengan jelas ketika sebuah air mata menetes menuruni pipi gadis itu. Tanpa sadar ia kembali memeluknya, berusaha menenangkannya, mengelus pundaknya dengan sayang.

“Gwenchana, Sooyoung-ah. Mereka tidak akan pernah bisa menyentuhmu.”

Namun gadis itu hanya diam, hanya napasnya menjadi teratur kembali. Kyuhyun mengulet sebentar, merapikan riap-riap rambut nakal gadis itu ke belakang telinganya, kemudian menyelimuti erat tubuhnya. Ia sendiri beranjak bangun, turun dari kasurnya.

Pukul empat pagi.

Kyuhyun beranjak menuju ruang kerjanya yang terkunci rapat. Sudah beberapa hari ia tidak masuk ke dalam. Kyuhyun mendekatkan matanya ke alat pendeteksi, membuat sebuah cahaya merah lalu pintu itu terbuka.

Ia melangkah masuk, menguap sekali, dan memandangi ‘hiasan-hiasan’ yang ditempelkannya sebulan yang lalu di dindingnya. Inilah alasannya kenapa ia senang Sooyoung buta, karena gadis itu tidak akan pernah melihat ‘hiasan’ itu. Sampai kapanpun. Dilangkahkan kakinya ke belakang meja. Ada sebuah polaroid yang besar disana. Ia begitu mengenal gadis itu.

Klik.

“Yeoboseyo Kyuhyun-ah, apa kau sudah melakukannya? Aku hanya ingin mendapatkan berita itu. Kemudian segera mengambilnya dan aku akan membayarmu. Itu saja. Jadi cepat laksanakan perintahku.”

Layar telepon modern itu mati dan hanya mengedip-ngedipkan warna merah tanda ada sebuah pesan suara masuk. Selalu seperti ini. Tiba-tiba saja Kyuhyun ingin segera menghancurkan benda itu. Namun, janjinya dan ‘bayaran’-nya membuatnya mengurungkan rencananya itu. Meskipun ia begitu ingin melakukan itu.

____________

Dengan langkah lebar dan malas khas-nya, Kyuhyun berjalan memasuki lift yang akan naik. Andai saja jika satu-satunya rekan yeoja yang dimilikinya tidak menahan lift itu, ia pasti harus menunggu beberapa menit lagi untuk naik.

“Aku sudah lama tidak melihatmu disini.” Kata yeoja itu sambil mendekap sebuah berkas cokelat di depan dadanya dan tersenyum kepada Kyuhyun.

“Aku memiliki banyak urusan, Ji Woo-ya.”

“Ah, pasti tentang Keluarga Choi itu. Mereka sangat merepotkan, ya?”

“Tidak begitu.”

“Akui sajalah, Kyuhyun-ssi.”

“Itu kenyataannya.” Jangan berusaha ikut campur urusanku Ji Woo-ssi. Aku bahkan menikmati saat-saat aku bersama ‘orang’ yang kau bilang merepotkan itu.

“Kau terlalu baik, Kyuhyun-ssi. Kau turun di lantai berapa?”

“Teratas.”

“Mr. Rudolph?”

“Kau tahu itu.”

Yeoja bernama Ji Woo itu memutuskan diam dan mengecek dokumen yang dibawanya.

“Aku harap kau bisa menyelesaikan kasus itu dengan baik, Kyuhyun-ssi.”

“Me too.”

“Aku permisi,” kata Ji Woo dengan tenang, bertepatan ketika pintu baja lift itu terbuka dan yeoja itu keluar dari kotak besi itu.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari luar dan memilih menatap arloji Rolex yang terpasang rapi di tangannya. Masih ada lima menit. Mr. Rudolph hanya akan menerima orang yang datang tepat waktu. Tidak terlalu cepat, ataupun terlalu lama.

Lift berhenti dan membuka. Dengan enggan Kyuhyun merapikan berkas yang ia bawa, menatap wajahnya di lantai yang terasa sebersih kaca. Ia tiba di depan sebuah ruangan terkunci seperti lift. Butuh benda khusus untuk dapat masuk. Beruntung Kyuhyun tidak lupa membawa itu.

Tangannya merogoh sakunya dan menunjukkan sebuah lambang yang sangat mungil itu di alat pendeteksi. Beberapa detik kemudian, lantai di bawahnya berjalan turun seperti lift dan sampailah ia di depan sebuah alat pendeteksi lagi. Ini yang membuat Kyuhyun benci ketika harus berhadapan  dengan Mr. Rudolph di ruangannya sendiri.

Setelah melewati beberapa alat pendeteksi, akhirnya Kyuhyun dapat masuk dan duduk di hadapan laki-laki paruh baya itu.

“Senang bertemu denganmu, Cho Kyuhyun. Kau datang tepat waktu.”

“Tidak usah berbasa-basi.”

“Uh-oh, baiklah. Kalau itu maumu.” Ujar Mr. Rudolph dengan tampang mengejek. “Kau tidak lupa perjanjian kita, kan?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, aku mendengar dari Heechul bahwa kau bahkan belum memulai dari awal.” Kini, nada bicara Mr. Rudolph berubah seperti monster. “Aku ingin urusan ini cepat selesai, Kyuhyun-ssi.”

“Aku harus melakukan pendekatan untuk membuatnya mudah mengatakan segalanya.”

“Oohh, well, maksudmu, kau ingin menipunya?!”

Ucapan Mr. Rudolph membuat Kyuhyun merasa terpojok. Seolah-olah ia adalah dalang dari segalanya dan bukannya laki-laki tua yang ada di hadapannya ini.

“Ia tidak semudah yang kau pikirkan.” Ujar Kyuhyun dingin. Sekarang rasanya ia ingin menonjok wajah Mr. Rudolph yang seenaknya sendiri. “Kau ingin membuatnya terluka jika aku mengoreknya sekarang?!”

“Oh, masa bodoh dengan gadis itu. Kalau bisa, setelah mengetahui tempat itu, bunuh saja ia!”

“Aku tidak melakukan tindak pembunuhan, Mr. kalau kau lupa.” Kata Kyuhyun dengan sangat dingin. “Itu bukan bagianku.”

“Aku memintamu, Cho Kyuhyun.” Sindir Mr. Rudolph sambil memajukan tubuhnya sehingga ia dapat melihat wajah Kyuhyun semakin jelas. “Apa kau begitu bebal sampai tidak menyadari apa yang kukatakan?! Bukannya kau terkenal sangat pintar di bidangmu!?”

“Anda pikir,” kata Kyuhyun lamat-lamat, memasang wajah dinginnya yang paling dingin, “saya peduli?” kemudian, setelah mengatakan itu Kyuhyun berjalan keluar dari ruangan laki-laki terjahat di dunia itu.

___________

“Kemana Heechul Hyung?” tanya Kyuhyun kepada Donghae yang sedang meneliti sebuah wajah.

“Ia tidak datang hari ini.”

“Ini aneh,” ujar Kyuhyun sambil meletakkan sebuah berkas licin di atas mejanya yang penuh dengan potret seseorang—yang tentu saja sekarang sudah meninggal—tumpukan berkas-berkas penting, dan lain-lain. “Ia selalu datang.”

“Entahlah.” Sahut Donghae sambil meletakkan foto yang ada di genggamannya. “Kau sudah menyelesaikan tugas yang satu itu?”

“Belum. Aku tidak bisa memaksanya mengatakan itu. Ia tidak pernah mengungkit itu.”

Donghae memutar kursinya sehingga dapat berhadapan dengan Kyuhyun. “Mr. Rudolph tidak suka terlalu lama, Kyuhyun-ah. You know it.”

“Yes, I know. But I hate to make a girl cry because of me.”

Donghae menghela napasnya. “Ada baiknya jika kau mempercepat ini karena aku yakin beberapa saat lagi Mr. Rudolph akan berubah menjadi monster.”

Entah refleks darimana, tiba-tiba Kyuhyun merasa ada yang tidak ‘beres’ disini. Segera ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana dan memencet kontak panggil Heechul.

“The number you are calling—”

“Shit.” Ujar Kyuhyun emosi sambil menyambar kunci mobilnya dan berlari ke sepanjang koridor di gedung itu.

_____________

“CEPAT KATAKAN DIMANA KELUARGAMU MENYIMPAN ITU!” bentak seorang namja kepada gadis yang menangis di depannya. “ATAU, KAU INGIN AKU MEMBUNUHMU SEKALIAN? SEPERTI MEREKA MEMBUNUH KELUARGAMU!?”

Gadis itu berusaha menggeleng. Ia takut, takut setengah mati. Kyuhyun bohong, mereka bisa dengan mudah masuk ke rumahnya dan menemukannya. Ia menekuk lututnya, berusaha tetap kuat dan tidak mengatakan apa yang diminta mereka.

“AYO CEPAT KATAKAN!!”

“Oppa~ jebaal..” bisik gadis itu kepada dirinya sendiri.

Plak.

Sebua tamparan itu terkena pipi gadis itu—Choi Sooyoung—yang mengakibatkan pipi itu memerah dengan sangat cepat. Tangisannya semakin menjadi. Ia tidak bisa melakukan apapun, ia tidak bisa mengenali ruangan ini sehingga ia tidak dapat mengambil sesuatu untuk membunuh namja di depannya ini. Namun ia tidak akan pernah ingin melihat lagi. Ia bersyukur ia buta karena ia sama sekali tidak ingin melihat rupa wajah mereka.

“HEI! KAU BODOH, IDIOT, ATAU BISU?! CEPAT KATAKAN!! ATAU AKU AKAN MENGELUARKAN MAYAT KELUARGAMU DAN MENCACAHNYA?!”

“Eomma, Appa, tolong aku. Jebaal~”

“APA YANG KAULAKUKAN!” bentak seseorang tiba-tiba. Namun Sooyoung mengenali suara itu. Tiba-tiba rasa takutnya sedikit demi sedikit menguap dan ia hanya merasa sedih atas  keadaan ini.

Tiba-tiba Sooyoung merasakan bahwa sebuah tangan memasangkan headphone di telinganya, menyetel lagu keras-keras membuat telinganya pengang. Komunikasinya terhapus. Ia tidak dapat mendengar apapun dari peristiwa itu.

_____________

“Gwenchana?” tanya Kyuhyun kepada gadis itu, mengelusi rambutnya yang kusut. “Mianhae, mianhae, jeongmal mianhae, Sooyoung-ah.”

Sebaliknya, gadis itu tidak mengatakan apa-apa dan hanya memeluk namja itu erat.

“Gwenchana, Sooyoung-ah. Aku berjanji, ia tidak akan bisa masuk kesini lagi. Kau akan aman disini.”

Sooyoung masih tidak menjawab dan hanya diam, memandang kosong ke  depan, meskipun yang ia tangkap hanyalah gelap. Air matanya sudah berhenti mengalir, namun ia masih dalam posisinya itu.

“Oppa~” panggilnya dengan lemah. “Bisakah kau mengatakan yang sejujurnya kepadaku?”

“Apa maksudmu, Soo?”

“Apakah Oppa mengetahui kenapa mereka masih ingin mengejarku?”

Kyuhyun menghela napas lega. Lalu ia menggeleng sambil berkata, “Aniya. Oppa juga tidak tahu. Kau pasti lelah, sekarang, cepat tidur. Apa kau lapar?”

Sooyoung menggeleng, bangkit dari duduknya di lantai dan meraba-raba sekitar. Ketika namja jahat itu datang, ia sedang memainkan piano di ruang keluarga. Dan tiba-tiba semuanya terjadi. Takut, ia sangat ketakutan. Namun sekarang ia memilih untuk bersahabat dengan kegelapan. Karena kegelapan hanyalah satu-satunya jalan agar ia terhindar dari segalanya.

Sama seperti ketika ia meminta dirinya sendiri untuk tidak melihat.

___________

“Annyeong, jeoneun Cho Ahra imnida.”

Sooyoung merasakan sebuah tangan kecil yang halus menggenggam dan menjabat tangannya erat. Ia merasa bahwa kakak Kyuhyun sangat baik. Dan ia mulai membayangkan bagaimana sosok wajah yang tidak dilihatnya itu.

“Noona, aku mempunyai urusan. Bisakah kau menemani Sooyoung?”

“Tentu saja.”

“Sooyoung-ah, mereka tidak akan bisa masuk kesini. Kau tenang saja, segalanya akan baik-baik saja. Aku akan memantaumu. Arraseo?”

“Nde, Oppa.”

“Annyeong~”

Beberapa detik kemudian Sooyoung dan Ahra sama-sama terdiam.

“Sudah berapa lama kau tinggal disini?” tanya Ahra sambil memandangi Sooyoung. Meskipun ia tahu yang dipandangi tidak akan menyadari itu.

“Mungkin.. dua minggu,”

“Kumohon, pergilah darinya. Untuk dirimu sendiri.”

“Apa maksud, Eonnie?”

“Aku memintamu, Choi Sooyoung. Aku memintamu untuk pergi dari sini. Kau tahu kau tidak mengenalnya. Kau juga tahu bahwa kau tidak pernah tahu bagaimana dirinya. Kau tidak tahu apapun darinya. Kau juga tidak tahu apa yang  ia rencanakan denganmu. Apa ia berniat jahat, atau tidak.”

“Saya tidak mengerti maksud anda.” Ujar Sooyoung, rasanya ia ingin menangis saat ini juga. Perkataan Noona Kyuhyun tepat sekali. Ia benar. Bahwa dirinya sendiri tidak tahu orang seperti apa Kyuhyun itu.

“Dengar, Choi Sooyoung, ia menampungmu karena ia menginginkan aset berharga keluargamu.”

____________

“Aku pulang~”

“Dimana Noonaku, Sooyoung-ah?” tanya Kyuhyun kepada Sooyoung yang tengah duduk di atas sebuah kursi sambil memandang ke depan. Meski tidak ada yang ia pandangi.

“Apa diriku sebuta itu?”

“Apa maksudmu, Sooyoung-ah? Apakah kau baik-baik saja?”

“Apakah aku begitu buta?”

“Sooyoung-ah, gwenchana? Apa mereka datang lagi? Dimana Noona-ku?”

“Jawab aku, Kyuhyun-ssi. Apa aku begitu buta dalam segala hal?! Bahkan untuk mengetahui dirimu saja aku buta?”

“Sooyoung-ah, kau tidak begitu. Dengar aku, semuanya akan baik-baik saja.”

“Tidak usah mengatakan hal-hal yang berkebalikan dengan segalanya. Dengar aku, Kyuhyun-ssi, kau sama seperti mereka kan?! Menginginkan aset keluargaku dan berencana merampasnya dari tanganku? Gwenchana, Kyuhyun-ssi, aku akan mengatakannya. Semua surat-surat, uang, harta benda berharga, semuanya terkumpul di rumah di daerah Gwangju. Di sebuah pondok tua—”

“Berhenti mengatakannya, Sooyoung-ssi.” Potong Kyuhyun dengan dingin. “Aku tidak peduli dengan hartamu itu.”

“Haha, ini sangat lucu. Jelas-jelas segalanya benar.” Ujar Sooyoung dengan sangat dingin dan tajam. Sebenarnya, ia ingin menangis saat ini juga. Rasanya menyakitkan sekali. Ia.. dikhianati orang yang ia percayai. Benar-benar ia percayai.

_____________

“Sooyoung-ah, eoddiga?!” seru Kyuhyun sambil mengelilingi seluruh isi rumah. Kosong, gadis itu seolah tertelan bumi. Kyuhyun tergagap setelah teringat pertanyaan gadis  itu kemarin, ia kembali memutari apartemennya sendiri, berteriak-teriak memanggil gadis itu. Namun, tetap saja, tidak ada siapapun disana, kecualinya dirinya sendiri.

Setelah beberapa menit berkeliling, ia akhirnya meyakinkan dirinya sendiri bahwa Sooyoung keluar dari rumah ini sendirian, tanpa mereka yang selalu ingin menyerangnya. Kyuhyun segera menyambar mantelnya dan memakai sepatunya lalu keluar dari apartemennya. Ia menaiki lift, namun lift itu masih berada di lantai teratas dan akhirnya ia memutuskan menaiki tangga saja.

Kyuhyun menerobos orang-orang yang masih dalam balutan pakaian kerja formal dengan wajah suntuk. Ia memutar di sekitar gedung itu beberapa kali dan akhirnya keluar dari gedung mewah itu.

“Sooyoung-ah?! Eoddiga?!” serunya ketika melewati gang-gang sempit dan gelap. Ia takut dan gugup. Bisa saja ada orang jahat yang menyerang—dan memanfaatkannya serta melukainya—gadis buta seperti Sooyoung. Pemikiran itu semakin membuat Kyuhyun gelap mata.

Setengah jam mencari, berputar-putar di setiap jalan yang berada dekat dengan apartemennya, Kyuhyun masih tidak menemukan Sooyoung. Ia lelah dan ketakutan. Kyuhyun menghela napasnya dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. Menghubungi Donghae, karena hanya namja itu yang memihak kepadanya dan memiliki otak waras.

“Yeoboseyo?”

“Donghae-ssi, apakah Mr. Rudolph sudah mendapat gadis itu?”

“Sebentar.” Terdengar suara telepon diletakkan. “Tidak, Kyu. Mr. Rudolph masih menyerahkan tugas itu kepadamu.”

Klik. Kyuhyun mematikan ponselnya dan kembali mengantongi ponselnya itu kemudian berjalan lunglai menuju parkiran. Jika Sooyoung tidak ia temukan di sekitar sini, maka ia akan mencarinya sedikit lebih jauh. Dan mungkin melaporkan pada polisi jika sampai besok ia tidak berhasil menemukan Sooyoung.

Mobil sport keluaran terbaru milik Kyuhyun sudah berada di jalanan yang gelap. Kyuhyun sama sekali tidak berkonsentrasi menyetir, ia terus melirik ke kanan dan kiri. Berharap menemukan sosok gadis itu disana. Namun yang ia temui hanyalah kegelapan.

“Sooyoung-ah? Apakah kau baik-baik saja?”

____

Gadis itu akhirnya terbangun. Ia merasa ada yang salah disini. Tadi malam ia ingat ia duduk di kursi taman yang dingin dan keras, dan tiba-tiba saja sekarang ia sudah tidur di sebuah kasur yang lunak dan berpegas. Mungkinkah mereka berhasil menangkapnya? Atau justru Kyuhyun mencarinya (tidak mungkin kan namja itu melewatkan kesempatan memiliki hartanya?!)

“Kau sudah bangun?” suara serak dan besar Kyuhyun menyadarkannya kembali.

“Untuk apa mencariku? Membawaku kemari? Apakah kurang penjelasanku tentang penyimpanan itu? Bukannya setelah kau mendapatkannya kau akan membuangku?”

“Sooyoung-ah, kau tahu aku tidak begitu.”

“Ya, jangan pernah berusaha membohongiku. Aku cukup tahu semuanya.”

“Kau tidak tahu! Kau tidak tahu jika aku sampai keluar dari anggota penjahat sialan itu karena kau! Kau tidak tahu jika aku memutuskan untuk tidak terlibat dalam mereka!”

Gadis itu hanya membuang muka dan mendecih. “Jangan banyak bicara. Itu membuatku pusing.” Ujarnya dengan sangat dingin.

“Choi Sooyoung—dengar aku, aku menyukaimu! Aku mencintaimu! Dan aku tidak ingin kau pergi menjauh dariku! Kau tidak tahu betapa kalutnya aku mencarimu! Apakah ini semua kurang untukmu?!”

Sooyoung terdiam. Ucapan Kyuhyun barusan membuatnya melambung. Benarkah itu semua benar? Tapi kenapa ia masih ragu? Ada apa dengannya?! Apakah ia tidak akan pernah mempercayai orang lagi?

“Kau pernah mengkhianatiku sekali, dan itu cukup untukku, untuk menyadari semua ucapanmu hanyalah omong kosong, meskipun itu berarti untukku.” Tuturnya akhirnya sambil membalikkan badannya memunggungi Kyuhyun.

“Terkadang, aku yakin sekali aku tidak pantas untuk mencintaimu. Tapi aku sadar bahwa itu memang benar.” Ucap Kyuhyun lirih, sangat lirih. Tapi mungkin ia lupa bahwa gadis di hadapannya buta, dan orang buta memiliki pendengaran yang sangat tajam.

Setetes air mata mengalir dari bola mata yang mati itu dengan sangat perlahan.

Aku takut. Aku takut kepada perasaanku sendiri. Aku tidak ingin bergantung kepadamu. Aku ingin menjadi kuat. Aku takut jika akhirnya kau akan meninggalkanku sendirian. Mengkhianatiku, sekali lagi. Dan aku tak bisa memungkiri bahwa aku tidak bisa menutupi ketakutanku itu.

_________

“Aku akan pergi belanja sebentar. Berhati-hatilah, aku akan mengunci pintu.” Ujar namja itu kepada seorang yeoja  yang tengah menatap pemandangan dari jendela. meski bola mata itu hanya diam, tidak bergerak, dan tidak bisa menangkap keindahan yang terpancar di depannya.

Terdengar suara ketukan langkah kaki di lantai yang dingin kemudian diiringi oleh suara kunci diputar. Gadis itu menghela napas, menidurkan kepalanya sendiri di atas jendela yang terbuka lebar. Ia hanya dapat merasakan angin lembut yang menerpa pipinya dan wajahnya dan udara hangat yang memancar. Ia memejamkan matanya dan membiarkan dirinya hanyut dalam angin. Membiarkan beban itu menghilang sebentar, sekejap saja.

Kali ini, kembali terdengar langkah kaki. Namun, entah mengapa, Sooyoung tahu bahwa itu bukan Kyuhyun. Ia mulai merasakan ketakutan yang sebenarnya tidak begitu beralasan. Dengan cepat ia bangkit dan merangkak kemana saja, asal mereka tidak dapat menemukannya.

“Tidak usah menghindar lagi, aku sudah melihatmu, Nona.” Ujar salah seorang namja.

Sooyoung merasakan dadanya membuncah oleh rasa takut dan kecewa. Kemana Kyuhyun ketika mereka hampir menangkapnya seperti ini?! Apa jangan-jangan Kyuhyun sengaja pergi supaya mereka bebas menyiksanya?!

“Sekarang, cepat katakan dimana keluargamu menyimpan harta itu!”

Ia hanya diam. Tidak sanggup berkata. Namun, kali ini ia juga memutuskan bahwa ia akan membuka hatinya lebar-lebar dan tidak akan mengatakan letak aset keluarga yang diincar oleh mereka itu. Ia tidak akan pernah memberitahu harta keluarganya kepada orang-orang jahat, orang-orang yang dengan kejam membantai keluarganya di hadapan matanya sendiri. Tidak akan pernah.

“Apa kau bisu, Nona?!”

Ia tetap diam, hanya duduk dan mencari sumber suara, mengingat suara itu dalam-dalam. Menancapkannya di dalam memorinya dan memutuskan bahwa ia tidak akan melepaskan orang itu. Selamanya.

“Jawab aku!”

“Kau kira aku bodoh?! Silakan saja jika kau ingin membunuhku, aku tidak perduli. Aku—satu-satunya keluarga Choi yang tersisa—tidak akan pernah memberitahukan letak aset itu kepada orang busuk seperti kalian semua!” ujarnya lantang. Ia sudah memutuskan, bahwa ia memilih mati daripada membiarkan kerja keras Nenek Moyangnya dan Ayahnya selama berpuluh-puluh tahun menjadi milik orang-orang seperti mereka.

“Tuan, Kyuhyun sudah kembali.” Kata seseorang dari mereka yang terdengar seperti orang ketakutan.

“Shit. Baiklah, culik dia.”

Yang ia rasakan hanyalah sebuah sapu tangan basah membekap mulutnya, kemudian, ia merasa tubuhnya benar-benar ringan.

T B C

How? ( ˘ з˘ )♬♪

Hehe, akhirnya aku comeback xD

Ada yang kelas 9 disini? gimana UN-nya? Bikin geregetan, atau biasa aja? Kalo bagiku sih, gampang…

Gampang soalnya! Jawabnya sih zzz (‾˛‾”)ƪ(˘-˘) ▸

Oke deh, jangan lupa tinggalkan komentarmu! (~‾ ▽‾)~

111 thoughts on “[Chapter 2] Blind

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s