[Ficlet] That Pain


that-pain


Title: That Pain

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Cho Kyuhyun

-Choi Sooyoung

-Shim Changmin

Genre: Little Bit Sad.

Rating: Teenager and PG

Length: Ficlet (2509 words)

Focus: Cho Kyuhyun

Credit Poster: Yoospencer

Disclaimer: The Story and Plot are mine. All is mine, except the cast. The Cast is God’s mine and they Entertaiment. You can read, but you must leave a comment.

Happy Reading~

©MeydaaWK’s Present©

_______

 

“Aku tidak mencintaimu. Dan sampai kapanpun akan tetap begitu!”

Aku hanya diam, tetap dalam posisiku yang tadi. Berlutut di hadapannya.

“Kenapa kau begitu bodoh?! Sudah kubilang aku tidak menyukaimu! Bahkan aku jijik melihatmu!”

Aku tetap diam. Membiarkan ucapannya itu mengaduk-aduk hatiku dengan dalam. Ini memang pantas di dapat oleh orang sepertiku ini.

“KENAPA KAU TETAP DISINI?!”

“Aku baru pergi jika kau pergi.”

“Aish, jinjja. Aku benar-benar kesal padamu!” seru gadis itu sambil berjalan pergi setelah sebelumnya membuang cokelat yang kubeli tadi siang ke tanah. Membiarkannya hancur, seperti hatiku.

Mungkin seharusnya aku merasa menyesal karena begitu menyukai gadis egois sepertinya, namun kenyataannya aku malah merasa biasa saja. Kuanggap itu kendala dalam cinta. Dan ia… hmm, kuanggap sikap kasarnya itu adalah tanda bahwa lama-kelamaan ia akan menyukaiku.

∩∩∩

“Berhenti menyukainya. Aku pacarnya, dan aku benci jika kau mengejar-ngejar pacarku di depanku!” seru Changmin di hadapanku.

Aku menatapnya datar dan tersenyum miring.

“Kau yakin ia akan tetap di pihakmu?” tanyaku dengan ringan.

“Cho Kyuhyun—berhenti bersikap seolah-olah gadisku itu orang yang mudah berpaling!”

Aku diam dan berbalik pergi. Mungkin lebih baik jika aku berhenti mengurusinya.

“Changmin-a, biarkan saja ia. Ia itu gila!”

Ah, gadis yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga.

“Kumohon, Cho Kyuhyun, ini demi kebahagiaannya.” Pinta Changmin sambil menatapku memohon. Well, ia pikir aku semudah itu menyerah?!

“Sudah kubilang, Shim Changmin, aku akan tetap dalam posisi yang sama. Kau tahu ini hanya akan sia-sia saja,” komentarku dingin dan merapikan ranselku kemudian berjalan pergi.

∩∩∩

Mungkin benar.

Seharusnya aku sudah berhenti mencintai gadis itu sejak lama.

Mungkin sejak ia pertama kali menolakku.

Namun aku malah membiarkan diriku sendiri jatuh semakin dalam.

Mungkin ia benar, mencintainya hanyalah luka saja untukku.

∏∏∏

“CHO KYUHYUUUN! Sudah berapa kali kubilang, hentikan semua omong kosong ini! Kau membuatku muak!” seru gadis itu sambil melempar jaket rajutan yang kubuat dengan tanganku sendiri. Dan benda yang kubuat dengan cinta itu jatuh terinjak-injak oleh kakinya sendiri.

“Kau tidak menyukainya? Kenapa? Bukannya itu indah?”

“Tidak indah jika itu buatanmu!” jerit Sooyoung sambil menatapku tajam. Kemudian aku melihat bulir air matanya turun. “Kumohon, jauhi aku~ jangan ganggu hidupku lagi…”

Aku bukan manusia lagi jika aku tidak menjauhinya. Namun nyatanya, aku tetap dengan diriku yang dulu. Diriku yang mencintainya.

Aku bukan manusia lagi,

Aku psikopat.

∏∏∏

 “Ini peringatan terakhir untukmu, Cho Kyuhyun. Jika kau tak kunjung meninggalkannya, aku janji aku akan membuatmu menyesal melakukan ini kepadaku.”

“Aku sudah bilang ini percuma, Changmin-a, kau tahu aku tidak akan pernah meninggalkannya. Kau tahu aku akan tetap mencintainya meski ia terus-terusan meneriakiku atau menghinaku. Semuanya percuma.”

“Kau sudah tidak mencintainya, kau bahkan terobsesi olehnya!” seru Changmin dengan marah dan berlalu dari hadapanku.

Ia benar.

Aku memang terobsesi.

Namun aku tidak yakin diriku sendiri sanggup meninggalkan Sooyoung. Aku terlalu mencintainya, dan mustahil bagiku untuk tidak melihatnya.

∩∩∩

Aku terpaku memandangnya yang kini duduk di hadapanku.

Wajahnya menatapku dan itu cukup membuatku sedikit takjub.

Selama ini—selama aku dalam misi mengejar-ngejarnya—tidak sekalipun Sooyoung mau menatap mukaku, atau bahkan berdiri di depanku dengan rela. Ia akan berlari menjauh ketika melihatku, atau menyumpahiku.

“Kumohon, Cho Kyuhyun. Sebenarnya aku menyukaimu, tapi Changmin Oppa selalu melarangku. Kumohon~”

Aku diam dan memandangnya dengan mulut ternganga.

Apa ia bodoh?!

“Kau benar-benar menyukaiku?” suaraku tersumbat di leherku. Dan aku harus menyesap kopi di depanku untuk  melegakannya. Demi Tuhan, inilah yang aku nanti-nanti sejak tahun-tahun aku mengejarnya..  dan sekarang… benarkah ia mengatakannya?

“Kyuhyun-a, bagaimana? Apa tawaran menjadi pacarmu itu masih ada?”

“Tentu saja!” seruku dengan berlebihan sambil tersenyum lebar. “Aku masih sangat mencintaimu, Sooyoung-ie.”

Gadis itu tersenyum dan memelukku. Sungguh, ini pasti adalah hari terindah yang pernah adaa dalam kehidupanku selama sembilan belas tahun ini.

Memilikinya.

∩∩∩

“Kyuhyun-a, kau sudah datang!” seru yeojaku—sungguh, aku begitu gembira dapat memanggilnya begitu—sambil berlari mendekat. Tas selempangnya bergoyang mengikuti gerak tubuhnya yang cepat.

“Youngie-ya hati-hati.” Kataku cepat sambil menangkapnya yang meloncat ke pelukanku. Ia tertawa ketika aku meniup-niup lehernya yang tertutup oleh rambutnya yang panjang.

“Cho Kyuhyun, hari ini kau ingin mengajakku kemana? Berjalan-jalan? Shopping? Makan?”

“Semuanya.”

“Yak! Kau ini. Ayo kita berangkat,”

Aku menggandeng lengan Sooyoung dan menuntunnya ke mobilku yang terparkir di depan halaman. Aku sengaja membawa mobil untuk membuat Sooyoung nyaman bersamaku.  Keluarganya sangat kaya, dan ia pasti kurang nyaman jika aku menggunakan motorku untuk membawanya berkencan.

“Ya, Kyuhyun-a, kenapa diam saja? Kau tidak ingin pergi?”

“Sebenarnya, tidak.” Kataku bercanda dan mencubit pipinya. “Aku hanya mencoba mencari cara agar bisa berduaan denganmu,”

Sooyoung meringis lalu merengut.

“Sudah terlalu biasa!”

“Aku tidak ingin menjadi lain untukmu, Youngie. Tapi aku ingin menjadi terbaik.” Ucapku sambil menciujm pipinya yang terasa lembut di bibirku.

Ia diam beberapa detik sambil memandangku, kemudian tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke depan.

Aku memutuskan untuk fokus menyetir. Pasti terlihat menggelikan jika aku tidak fokus menyetir hanya karena di sampingku duduk seseorang yang begitu kupuja. Seseorang yang mengaku memujaku juga.

“Kau sudah makan?” tanyaku sambil menyalakan lampu sen.

“Tadi sudah, tapi sekarang lapar lagi…”

Aku mengacak rambutnya dan memutuskan akan membawanya makan dahulu sebelum berjalan-jalan.

“Kau ingin makan apa?”

“Makanan Jepang!” serunya semangat sambil tertawa.

“Baiklah, makanan Jepang..”

∩∩∩

“Oppa tidak makan?”

Aku mendongak, terlalu terkejut mendengarnya memanggilku seperti itu. Aku tersenyum senang dan menggeleng.

“Sebenarnya aku alergi ikan setengah matang seperti itu.” Kataku jujur dan menunjuk sushi di depannya.

“Kenapa tidak bilang? Seharusnya Oppa bilang supaya kita bisa pergi ke restoran lain..” ujar Sooyoung dan menggigit bibir atasnya. Sejak menjadi fans-nya, aku tahu bahwa kebiasaan itu akan ia lakukan jika ia  khawatir kepada orang lain.

“Ah, tidak. Jika kau senang, maka Oppa juga akan senang!” aku tersenyum dan merapikan rambutnya yang beberapa detik yang lalu kuacak-acak.

Sooyoung diam selama beberapa detik dan menggigit bibir bawahnya, menatapku dengan sedikit aneh.

Tunggu, bukannya jika ia menggigit bibir bawahnya…  berarti ia sedang kasihan dan menyesal?

“Gwenchana, Youngie-ya. Nanti Oppa akan mampir di toko roti dan membeli sesuatu untuk kita makan,”

“Ne~ terserah Oppa saja.”

∩∩∩

 

“Apa kau menyukai film-nya, Youngie?” tanyaku sambil menyuapkan sebutir popcorn ke dalam mulutnya.

“Itu menggelikan! Aku menyesal memilih film ini.” Katanya dan menguyah popcorn itu dengan aneh dan memandang kesal ke arah filmnya. “Lihat tokoh perempuan itu, seharusnya ia lebih pintar sedikit! Seharusnya ia melaw—”

“Sst, baiklah. Ayo kita pergi,” ajakku sambil menyeretnya.

“Tapi Oppa—Oppa tidak kesal padaku, kan? Kalau Oppa ingin menontonnya, aku temani. Tidak apa-apa.”

“Ah, tidak. Jika kau tidak suka, kenapa Oppa  harus suka? Ayo kita pergi.” Ujarku sambil menyeretnya keluar dari dalam bioskop.

“Tapi tadi Oppa bilang Oppa suka pemainnya.”

“Sudahlah. Ayo, sekarang kita pergi ke taman saja!”

Sooyoung menatapku beberapa detik, kemudian mengangguk dan ikut berjalan di sampingku.

∩∩∩

“Kau benci hujan? Kenapa aku tidak pernah mengetahuinya?”

“Tidak ada yang tahu itu. Kecuali aku dan Eomma.”

“Bahkan Changmin?”

Ia menoleh kepadaku dan tersenyum manis. Kemudian menatap ke depan dan menghela napas.

“Tidak. Changmin Oppa sangat menyukai hujan, dan ia memaksaku untuk ikut menyukainya. Padahal aku begitu membenci hal yang satu itu.”

“Kenapa kau terus bertahan dengannya?”

“Entahlah, apa ya… cinta?”

“Kau bilang kau menyukaiku?”

Sooyoung tertawa dan memasukkan tangannya ke saku mantelnya.

“Dingin, ya? Ayo masuk ke mobil.  Disana mungkin hangat,”

Aku menggandeng lengan Sooyoung masuk ke dalam mobil, sekalian menghindari curah hujan yang semakin banyak saja. Aku merasa sangat nyaman duduk dalam mobil yang sama dengan Sooyoung, makan bersama dengannya, minum kopi bersama, bahkan menonton bioskop bersama. Dan yaa… aku sudah menciumnya! Yah walaupun itu masih di pipi, setidaknya sudah ada kemajuan.

Namun, rasanya aneh.

Meskipun keanehan itu membahagiakanku.

∩∩∩

“Youngie-ya!” teriakku sambil berlari menyusul Sooyoung yang sedang berjalan terburu-buru sambil memegangi buku-bukunya yang terlihat berat. Gadis yang menurutku sempurna itu berbalik menatapku, melambai dan melemparkan senyumnya yang manis kepadaku.

Oh, indahnya dunia..

“Kau ingin kemana?” tanyaku dengan tata bahasa hancur. Ia menunjuk ruangan di depannya dan tersenyum kembali.

“Sini, kubawakan.” Ujarku dan merebut hampir seluruh buku teks yang ia bawa. “Psikolog?”

“Ah, itu bukan milik—”

Aku sudah membuka buku itu dan mendapati bahwa pemilik buku itu adalah:

“Shim Changmin..?”

“Changmin Oppa meninggalkannya di rumahku kemarin.”

“Kemarin bukannya Changmin mengikuti tesis?”

“Kemarinnya lagi. Kenapa dengan Oppa ini? Ada masalah?”

Bukan aku yang bermasalah, tapi kau, Sooyoung-a.

“Ah, tidak. Ayo kita letakkan ini.” Kataku sambil menutup buku Changmin itu dan menatanya di atas buku-buku teksnya yang lain.

“Letakkan disana saja, Oppa.” Katanya sambil menunjuk meja di pojok, yang kutahu adalah meja milik Kim Ssaem. “Guru psikologi? Kenapa kau berurusan dengan guru itu, Sooyoung-a?”

Gadis itu tampak gugup dan menggaruk tengkuknya.

“Aa—”

Aku tahu jika ia mengatakan kejujuran, ucapan jujurnya itu akan melukaiku. Jadi aku menggeleng dan meletakkan jariku di bibirnya.

“Tidak apa-apa. Itu bukan urusanku.” Kataku cepat kemudian menariknya keluar dari ruangan guru itu. “Kau ingin makan sesuatu?”

“Ani. Tadi aku sudah makan. Sebentar lagi aku ada kelas,” katanya sambil menatap arlojinya, kemudian membenarkan letak tasnya dan melambai kepadaku. “Daah, Oppa~”

Aku hanya diam. Sambil mengeluarkan sebuah kertas jadwal dari dalam sakuku.

Satu yang kutahu,

Hari ini Sooyoung sama sekali tidak memiliki kelas.

∩∩∩

To: Cho Youngie

Youngie, bagaimana jika kita jalan-jalan sebentar di mal? Hari ini kau kosong, kan?            

 

send.

Aku menatap ponselku dalam-dalam, menunggunya bergetar dan menuarakan nada dering yang kukhususkan untuk Sooyoung, pacarku. Namun benda mati itu hanya diam. Tidak mengeluarkan suara, bahkan getaran.

Aku meletakkannya kembali dan menatap foto Sooyoung di tembok kamarku dengan sedikit aneh. Kenapa rasanya kemarin ia begitu mudah kugapai? Sedangkan sekarang, ia begitu sulit dan menutup dirinya?

Apakah sebenarnya kemarin hanya mimpi? Pada kenyataannya, ia  sama sekali tidak menyukaiku? Atau bagaimana?

Aku lelah, pusing, dan panik.

Aku hanya tidak mau jika pada kenyataannya, ia tetap menganggapku seorang psikopat yang terobsesi memilikinya.

∩∩∩

“Youngie, kenapa kemarin tidak membalas SMS-ku?” tanyaku pada Sooyoung yang tengah duduk di taman sambil mendengarkan lagu dari i-Podnya. Tanpa memedulikanku.

“Eh, ada Oppa ternyata.” Katanya kemudian dan langsung melepas headset-nya dan memasukkan kabel itu ke dalam tasnya. “Wae, Oppa?”

“Kenapa kemarin tidak membalas pesan Oppa?”

“Oh, itu…” ia berhenti sebentar dan menelan minuman kalengnya itu. Kemudian meletakkan kalengnya di  antara pahanya. “Aku—kehabisan pulsa. Lupa membeli.”

Aku diam, menatapnya sekilas kemudian menunduk.

“Emm… Oppa,  bisa tidak menjagakan tasku sebentar? Aku ingin ke kamar kecil.”

“Oh, ne.”

Sooyoung melambai dan berjalan menjauh.

Aku menatap tasnya yang teronggok pasrah di sampingku. Kemudian—setelah melewati  perang batin—aku memutuskan untuk membuka ponselnya. Aku mengklik opsi menu dan membuka kotak pesan.

Ada beberapa percakapan. Aku membuka satu-persatu, kemudian tertegun melihat percakapan kedua.

Changmin.

Kemudian, aku tahu bahwa tidak mungkin kemarin Sooyoung tidak memiliki pulsa. Jika kenyataannya, ia berkirim pesan dengan Changmin.

Aku meletakkan ponselnya kembali ke dalam tasnya dan menghirup aroma kopi di tanganku. Membiarkan uap beraroma itu menusuk hidungku. Membiarkannya menyatu dengan rasa sakit yang begitu terasa dalam hatiku.

“Oppa! Sudah lama menunggu?” tanya Sooyoung sambil duduk di sampingku.

Tidak apa-apa, mungkin bertingkah laku seolah tidak terjadi apa-apa tidak apa-apa.

Aku menghela napas sakit, kemudian tersenyum pahit menatapnya.

Ia, dengan segala kelebihan maupun kekurangannya, tidak akan pernah dapat aku miliki.

∩∩∩

“Kita bertemu lagi, Cho Kyuhyun.” Kata Changmin sambil tersenyum menatapku. “Apa yang kau bawa itu?”

Aku menunduk, menatap bungkusan kantung berisi cincin untuk Sooyoung.

“Ah, perhiasaan untuk pacarku, ya?”

“Pacarmu? Apa maksudmu?”

“Berpura-pura bodoh? Aku yakin orang pintar sepertimu tahu bahwa semuanya hanya kebohongan semata. Sooyoung tidak pernah benar-benar mencintaimu. Ia masih tetap di pihakku.”

“Jadi..”

“Ya, ya, ya. Kau telah terjebak. Menyenangkan, bukan?”

Aku diam, meremas bungkusan itu. Menahan rasa sakit yang begitu nyata.

Kemudian aku tersadar bahwa kenyataannya, aku tidak akan pernah sanggup memilikinya..

Kenapa akku begitu bodoh tidak melihat kenyataan?

Kenapa aku seolah terbutakan oleh kebahagiaan palsu yang diberikan Sooyoung?

Kenapa ini justru sangat menyakitiku?

∩∩∩

“Cho Kyuhyun!”

Aku tidak ingin menoleh, benar-benar tidak ingin. Namun dengan bodohnya aku menoleh. Padahal aku tahu sekali siapa yang memanggilku barusan.

“Ayo kita bicara.” Ajaknya sambil menarik lenganku untuk duduk di bawah pohon. Setelah itu, ia hanya diam. Begitupun denganku. Aku merasa tidak punya sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya karena semuanya sudah begitu jelas bagiku.

Ia masih tetap diam. Aku mendengar ia menghela napasnya, kemudian membuang kaleng kopinya ke tempat sampah.

“Maaf.”

Aku menggigit bibirku menahan buncahan rasa sakit setelah kata itu keluar.

“Maafkan aku. Seharusnya aku tidak begitu.”

Aku tetap diam. Memutuskan untuk mendengarkan dan tidak menjawab.

“Changmin Oppa memaksaku melakukan itu. Ia bilang, ini satu-satunya cara agar kau cepat menjauh dariku. Agar kau berhenti mengejar-ngejarku padahal aku sudah menolakmu ratusan kali.”

Tetap sunyi.

“Aku… aku menyesal melakukan itu kepadamu. Kau… kau begitu baik..”

Konyol.

Mendengarnya mengatakan itu membuatku merasa seperti namja terlemah di dunia. Dan itu membuatku hampir mengeluarkan air mataku.

Hei, kau namja, Cho Kyuhyun!

“Tapi—maaf, aku tetap tidak menyukaimu.” Ia kembali menghela napas. “Maafkan aku, Kyuhyun-ah. Dan tolong berhenti mengejarku.”

“Aku sudah berhenti. Sejak kau mengatakan kau mencintaiku. Aku sudah berhenti.”

Rasanya berat sekali mengatakan itu. Aku belum berhenti sepenuhnya, namun aku akan memaksa diriku sendiri untuk berhenti. Berhenti mencintainya.

Sooyoung menoleh ke arahku dan tersenyum.

“Kau sudah mengetahuinya?”

“Sejak kau bilang ada kelas. Kau berbohong. Aku tahu itu.” Kataku parau, merasa bahwa air mata hampir mengalir lagi. Aku berdiri dan menggeleng-gelengkan kepalaku, kemudian kembali duduk. “Aku membencimu, Choi Sooyoung. Benar-benar membencimu.”

“A-apa maksudmu?” ia terbata.

Aku menoleh kepadanya, memasang wajah datar dan dingin.

“Saat kau begitu mencintai seseorang—rela diludahi olehnya, dihina olehnya, diinjak olehnya—sangat mencintai orang itu dan orang itu selalu menolakmu. Coba kau bayangkan itu kau, mengejar-ngejar Changmin.” Aku berhenti untuk menghela napas. “Kemudian, tiba-tiba orang yang kau cintai itu datang, mengatakan bahwa ia mencintaimu. Apa kau bahagia?”

Sooyoung menggigit bibirnya dan menunduk.

“Kau tahu pasti apa jawabannya. Kalian berkencan. Namun tiba-tiba kau sadar bahwa ini terlalu mudah. Dan lalu, akhirnya kau menyadari bahwa orang yang kau cintai itu… berbohong padamu. Semuanya. Cintanya, kebahagiaannya, kehidupannya. Saat kau begitu bahagia—saat kau merasa berada di puncak bahagia kehidupan—tiba-tiba kau sadar bahwa orang yang kaucintai itu, hanya berbohong. Omong kosong.”

“Maaf..”

“Kemudian, pacar orang itu datang dan mengatakan semuanya dengan kejam. Padahal, saat itu kau berencana melamarnya. Bagaimana perasaanmu?”

“Kau… berencana melamarku?”

“Oh, ya. Pemikiran bodoh, bukan? Melamar pacar orang lain. Aku mengerti semuanya. Dan karena itu, aku benar-benar menyesal mengenalmu, bahkan mencintaimu. Aku benar-benar… membencimu. Dan sampai kapanpun, mungkin aku akan tetap membencimu.”

Aku bangkit, mengeluarkan kotak cincin dan melemparkannya ke dalam danau. Membuat suara air terpecah.

“CHO KYUHYUN!”

Aku berbalik pergi.

∩∩∩

Sick when I realized that I love You.

Sick when I realized that You have both.

Sick when I realized you’re not for me.

Sick when I realized that everything was a lie..

 

Angel…

Is it appropriate for me to call You so?

Probably not.

Devil…

You are devil.

 

Because, now, I understand that You… I…

That You… and I are two different things, which I forced into one.

 

I love You.

Oh, No.

I Hate You.

 

[Sakit ketika aku menyadari bahwa aku mencintaimu.

Sakit ketika aku menyadari bahwa kau telah berdua.

Sakit ketika aku menyadari bahwa kau bukanlah untukku.

Sakit ketika aku menyadari bahwa semuanya bohong..

 

 

Malaikat..

Apakah tepat bagiku untuk memanggilmu begitu?

Mungkin tidak.

Iblis…

Kau adalah iblis.

 

Karena, sekarang, aku mengerti bahwa kau… aku…

Bahwa kau… dan aku adalah dua hal yang berbeda, yang kupaksa menjadi satu.

 

Aku mencintaimu.

Oh, tidak.

Aku membencimu.]

E N D

How? Kependekkan? Gak bagus?

Mian, soalnya aku bikin ini hari selasa, itu lho sesudah UN Inggris ._. Jadi kalo gak bagus maklumi aja, soalnya kan otak aku waktu itu lagi gak beres -__-”

Please leave your comment to make me happy (?)

i’m waiting ^^

 

 

78 thoughts on “[Ficlet] That Pain

  1. Keren thor, kali ini aku sedikit senang krn diceritanya kyupil yg menderita, biasanya tuch kan soo nya aja yg menderita. Mungkin ini adalah ff pembalasan atas apa yg telah kau perbuat pd soo, kyupil. ;> Mwahahahah……*ketawa setan*

    Like

  2. Andai ni ada As.y pasti tmbAh geregetan . .
    Duh, nyesek ngeliat soo keak gItu, ma kyupPa jahat bnget . .

    Like

  3. lagi baca part sedih, eh tiba2 part Kyuhyun di lagu “Promise You” yg dia nyanyi ‘tada aishiteru’ itu sedihhh bgttt :”

    kali ini kesel sama Soo eonni yg nyakitin kyu
    *Peluk Kyu

    Like

  4. Sumpah deh gak enak banget jadi kyu oppa.. Sabar ya chagi sini sama aku aja ^^ eaaa
    sequelnya aku tungguuu chingu..

    Like

  5. Hebaaaat keren keren keren hampir saya nangis dan ini bener bener kejam
    Oh my god disini gue benci banget sama soo !
    Kyu..😦
    Sumpah thor harus ada AS nya,kesian kyu😦

    Like

  6. kasihan kyu tp ga apalah coz biasa’a soo yg tersakiti sprti itu…buat sequel’a chingu buat kyuyoung bersatu

    Like

  7. ah.. kejamnya TT__TT awalnya udh seneng krn akhirnya soi mau nerima kyu walaupun emg terasa aneh krn tiba2, tp trnyata bener itu cuma pura2. kasian kyu… bikin sequel… X-(

    Like

  8. bagus kok eon. honestly, aku baru pertama bc ff eonni. kyuhyun pasti sedih bngt. changppa, udh oppa sm ak aja relain aja soo eunni sm kyuppa. arasseo?

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s