[4/4] Blind


blind

Title: Blind

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

-Other Cast

Genre: Sad, Romance, Little Bit Action

Length: Chaptered

Rating: Teenager

Credit Poster: Ayuieo

Disclaimer:

The story and Plot is mine. But, the casts is belong to theyself and God’s Mine. You can read, but you must leave a comment. If you not, you are a silent reader who make me angry!

Check It Out!

Happy Reading~

________________

“Oppa baru darimana? Tadi Eommonim datang dan memberikan ini. Menurut Oppa, ini apa? Apakah ini bagus?” tanya Sooyoung sambil mengangkat sebuah bungkusan di depan wajah Kyuhyun.

“Ah, tadi Oppa keluar sebentar. Coba Oppa—” ucapan Kyuhyun terhenti ketika melihat isi dari bungkusan itu. Lingerie. Ia benar-benar menatap ngeri pakaian itu sebelum memasukkannya ke dalam kantongnya kembali. Entah mengapa, namja itu benar-benar anti dengan pakaian seksi wanita. Dan ia benar-benar muak membayangkan Sooyoung memakai pakaian seperti itu.

“Eotthe? Aku belum mencoba—”

“Tidak ada yang akan memakai itu. Ini hanya kain-kain perca untuk tudungmu nanti. Tidak untuk dipakai.”

“Setahuku tudung pernikahan tidak dihasilkan dari kain perca..” gumam Sooyoung sambil mendongak. “Oppa yakin?tadi aku merasa bahwa itu bukan potongan kain.”

Stop it. Just believe me, okay? I don’t lie.”

“Hmm.. baiklah. Oppa simpan saja,” akhirnya gadis itu menyerah dan memutuskan memainkan piano di pojok ruangan. “Oppa, aku membuat nada baru, kau ingin mendengarnya?”

“Tentu. Ayo mainkan,”

Beberapa detik kemudian, nada indah itu sudah mengalun merdu di ruangan itu.

_______

“Jadi, kau yakin ingin mengambil gaun yang ini?” tanya Kyuhyunsambil meletakkan gaun itu di tangan Sooyoung.

Gadis itu hanya menunduk, meskipun matanya tidak mendapatkan seberkas petunjuk tentang gaun itu. Namun ia merasa bahwa gaun itu cantik dan nyaman.

“Ya, aku menyukainya.”

“Baiklah, Madame, aku membeli ini. Tolong sesuaikan dengan ukuran calon pengantinku ini. Jangan bertanya macam-macam padanya.” Ujar Kyuhyun buru-buru kepada Madame Quin—pemilik butik tempatnya sekarang. Kyuhyun tahu jelas bagaimana sikap Madame Quin yang selalu bertanya macam-macam kepada setiap pelanggannya.

“Ah, tentu saja.” Ujar Madame Quin sinis dan langsung tersenyum kepada Sooyoung. “Kajja Nyonya Cho yang baru~”

Beberapa menit kemudian, tirai tempat berganti itu terbuka. Menunjukkan dua orang di dalamnya. Sooyoung berdiri dengan ragu sambil menarik-narik gaun pernikahan itu.

“Waah, yeppuda…” puji Kyuhyun spontan, yang langsung disambut malu oleh gadis itu.

“Tentu saja, gaunku memang sangat cocok dipakai olehnya.”

“Aku benar-benar akan membelinya.”

___________

“Kau sangat cantik, Sooyoung-ah. Tidak salah Kyuhyun memilihmu.”

“Ghamsahamnida, Ahjumma.” Sahut Sooyoung sambil tersenyum manis. Ia telah selesai dirias, dan sekarang ia sedang duduk—menanti Kyuhyun selesai dirias.

“Gaunmu  juga sangat cantik. Madame Quin pasti bekerja keras.”

Sooyoung hanya tersenyuk sekilas, memegangi gaunnya yang tampak manis di tubuh jenjangnya.

tumblr_mfuhlxMQEp1qeywzjo1_400
Sooyoung’s at her wedding dress

“Nah, sekarang tinggal sepatu. Sebentar lagi pasti pelayan datang membawakan sepatumu itu.”

“Gomawo, Ahjumma.”

“Ah, kau ini. Mulai sekarang, kau menjadi anak Eomma—jadi kau harus memanggil Ahjumma dengan Eomma, ne?”

Sooyoung tersenyum. Merasa terharu dengan ucapan Eomma barunya sekarang. Dan itu mengingatkannya tentang Eomma-nya yang telah berpulang.

Eomma…

Aku akan menikah.

Percayakah Eomma jika aku baik-baik saja tanpa Eomma?

Bahkan kini aku punya Eomma yang juga baik kepadaku, seperti Eomma.

Eomma…

Seharusnya sekarang Eomma berdiri di depanku, mengatakan betapa cantiknya aku. Memujiku.

Tapi tidak apa-apa.

Aku yakin pasti Eomma melihatku dari atas sana, tersenyum, dan melambai kepadaku.

Baik-baiklah, Eomma.

Karena aku juga berusaha baik-baik saja…

“Sooyoung-ah, igae. Sepatumu. Biarkan Yeonji memasangkannya.”

shoes
Sooyoung’s Shoes

Gadis itu tersenyum dan membiarkan pelayan keluarga Cho—yang sekarang menjadi keluarganya juga—memasangkan sepatu pernikahannya di kakinya yang telanjang.

“Waah, yeppuda. Kau sangat cantik Sooyoung-ah.”

“Ghamsahamnida, Eomma…”

“Nah, sepertinya Kyuhyun sudah siap. Kajja kita keluar,”

Nyonya Cho menuntun Sooyoung keluar dari ruang rias perempuan yang masih ramai oleh pelayan yang bolak-balik menata ruangan.

kyuhyun_short_hair-7408
Kyuhyun’s Tuxedo

________

Musik sacral khusus pernikahan itu sudah didendangkan. Dan sekarang, Tuan Cho sedang berdiri bersisian dengan menantunya—Choi Sooyoung yang buta.

“Kau siap, Sooyoung-ah?”

“Nde, Abeonim.”

“Baiklah, semoga semuanya berjalan dengan lancar.”

“Nde, Abeonim. Aku juga mendoakannya seperti itu.”

“Kau gadis yang baik, Sooyoung-ah. Aku benar-benar tidak mengira keluargamu tega melakukan ini kepadamu. Tapi tidak apa-apa, jika keluargamu tidak melakukan ini, pasti Kyuhyun tidak akan menikahimu.”

Sooyoung tersenyum sedih. Kyuhyun memang berbohong tentang asal-usulnya kepada keluarganya. Namun entah mengapa sekarang ia menyesal telah meminta Kyuhyun begitu. Ia merasa tidak rela jika orang tua Kyuhyun—yang sekarang juga telah menjadi orang tuanya—mengira keluarganya sebegitu jahatnya.

“Ah, kenapa aku malah mengobrol denganmu, Sooyoung-ah.” Ucap Tuan Cho sambil tertawa. “Nah, dua detik lagi kita akan berjalan.”

Gadis manis dalam balutan gaun pengantin itu tersenyum, memejamkan matanya, mendoakan yang terbaik untuk pesta pernikahannya ini.

Eomma, Appa, Eonni..

Bahagiakah kalian melihatku berada disini?

Apa menurut kalian, Kyuhyun adalah namja yang akan menjadi takdirku?

Apa menurut kalian, aku akan hidup baik-baik saja dan bahagia mulai sekarang?

Jauh dari mereka yang telah begitu kejam kepada kita?

“Jja, Sooyoung-ah.” Suara Tuan Cho mewakilkan genggaman tangannya di tangan Sooyoung yang hangat.

Jika memang benar, bisakah Tuhan memberikan secercah cahaya kepadaku?

Sooyoung menarik nafas dalam, lalu mulai berjalan bersama Appa-nya. Mereka berjalan bersisian, diiringi oleh iringan musik yang terdengar mengharukan. Gadis itu berusaha menyeimbangkan jalannya agar tidak terjatuh karena sepatu high heels-nya dan gaunnya yang begitu menguntai.

Lalu sekelebat bayangan itu datang.

Sooyoung terperangah dan membelalakkan matanya dengan cepat. Refleks genggaman tangannya mengeras, kemudian ia terjatuh seperti sehelai kapas.

______

“SOOYOUNG-AH!” teriak Kyuhyun begitu melihat gadisnya terjatuh di tengah perjalanan menuju pelaminan. Sementara Tuan Cho menatap dengan kaget calon menantunya itu.

“Sooyoung-ah, gwenchana?! Waegeurae?”

Jari Sooyoung terangkat dan berhenti di pipi namja itu, mengelusnya perlahan, kemudian menangis terisak.

“Sooyoung-ah…” Bisik Kyuhyun sambil menarik yeoja itu ke pelukannya.

Tamu undangan berdiri menatap pemandangan yang tidak biasa itu, memandang dengan heran dan takjub.

“Sooyoung-ah, waegeurae?”

“Inikah wajah Oppa-ku? Inikah..?”

“Kau… bisa melihat, Sooyoung-ah?!”

Gadis itu mengangguk di antara tangisnya yang menderu.

_____

“Ini warna pink…”

“Cukup, Oppa~ aku masih ingat warna-warna itu,” potong Sooyoung sambil tersenyum ceria. “Tapi, omong-omong, wajah Oppa memang mirip dengan orang yang ada dalam pikiranku.”

“Sudah kubilang, bukan?” kyuhyun tersenyum jahil. “Aku tampan, bukan?”

Sooyoung tersenyum tidak rela dan meninju bahu Kyuhyun pelan.

“Ya, kalian, berhentilah bermesraan, sebentar lagi acara kedua akan dilaksanakan.”

Sooyoung dan Kyuhyun saling berpandangan, kemudian pelayan keluarga Cho—Park Yeojin—datang.

“Aghassi, anda harus berganti pakaian.” Ujar pelayan yang tidak terlalu tinggi itu.

“Ah, nde. Nanti kita bertemu lagi, Oppa~”

Kyuhyun tersenyum dan mengangguk, kemudian berjaan menuju ruang riasnya sendiri yang berbeda dengan Sooyoung.

Ia tidak pernah mengharapkan Sooyoung dapat melihat. Dapat berdiri di samping gadis itu adalah kebahagiaan yang cukup untuknya, meskipun terkadang ia menyesali tentang kebutaan gadis itu karena pembantaian yang dilakukan oleh orang yang juga masuk dalam komplotannya. Namun, sekarang gadis itu telah dapat melihat, dan itu sangat-sangat membahagiakan.

Beberapa menit kemudian, Kyuhyun melihat Sooyoung keluar dari ruang riasnya memakai gaun hitam pendek dan dengan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai. Kyuhyun tersenyum memandangi gadisnya yang tampak sangat manis.

Sooyoung's Gown and Hairstyle
Sooyoung’s Gown and Hairstyle
20100411040011_63279408
Kyuhyun’s Tuxedo

“Oppa, kenapa aku baru sadar bahwa gaun itu sangat pendek,” keluh gadis itu begitu Yeojin sudah meninggalkannya.

“Eomma yang memilihkannya. Tidak apa-apa, kita tidak akan lama kok.”

______

Pesta pernikahan itu dilakukan dalam tiga sesi, dan dalam sesi itu, Kyuhyun dan Sooyoung harus terus berganti pakaian. Yang terakhir ini adalah sesi pemotretan dengan kolega dan teman-teman keluarga Cho.

Sooyoung sendiri sudah siap dengan gaun bewarna violet muda yang tergerai panjang di tubuhnya yang jenjang. Ia membuat rambutnya bergelombang yang menjadikan rambutnya terlihat agak pendek.

l9027
Sooyoung’s Gown

“Kau sangat cantik,” puji Kyuhyun sambil membelai rambut gadis itu, yang membuat gadis itu tersipu malu.

“Hentikanlah,” kata Nyonya Cho tiba-tiba. “Berhenti memamerkan kemesraan dan membuat Eomma iri.”

Sooyoung tersenyum kepada Eomma-nya itu kemudian menunduk lagi, memandangi gaunnya yang menjuntai.

Resepsi akan dimulai sekitar lima belas menit lagi,dan ia harus memanfaatkan sisa waktunya untuk merapikan dirinya sendiri. Sooyoung memang sudah rapi, namun ia sendiri merasa belum rapi.

“Apa yang kau khawatirkan, Sooyoung-ah?” tanya Eomma Kyuhyun sambil memandang Sooyoung intens. “Semuanya baik-baik saja, kan?”

“Nde, semuanya baik-baik saja,” ulangnya dengan nada datar yang tidak pernah ia harapkan. “Eomma… apakah aku terlihat baik-baik saja?”

“Tentu, kau sangat cantik. Aku yakin ini adalah anugerah terbesar yang pernah mampir dalam hidup kita, kau bisa melihat kembali,”

“Nde, tentu saja. Aku senang Eommoni merasa begitu,”

“Tentu saja.” Sahut Nyonya Cho dengan nada gembira yang tidak dibuat-buat, “pada awalnya aku meremehkanmu, namun sekarang Eomma mengerti kenapa Kyuhyun begitu ingin memilihmu. Kau mendekati sempurna, Sooyoungie,”

“Ani, Eomma. Tidak seperti itu.” Sooyoung merendah, lalau memutuskan ini saat yang tepat untuk menjelaskan detail keluarganya secara jujur. “Sebenarnya, Eomma, keluargaku tidak meninggal sejak aku kecil,”

“Mwo?”

“Begini, beberapa bulan yang lalu… keluargaku dibantai..”

“M-mwo?” Nyonya Cho tampak sangat tidak percaya dan menatap Sooyoung ingin tahu. “Apa yang kau bicarakan? Bisa kau menjelaskannya?”

“Keluargaku pemilik Choi’s Musical and ART. Seseorang mengincar perusahannya,” sekarang, gadis itu merasakan sebuah belati menghujam dadanya dengan keras. Ucapannya barusan mengingatkannya kepada flashback tentang pembantaian keluarganya dan tentang traumanya yang kini mulai menghilang. “Mereka.. Mereka membantai keluargaku… di depan mataku.” Ia mengucapkan yang terakhir dengan sangat pelan dan menarik napas. “Mianhae, Eommoni, aku.. tidak bisa mengatakan yang sejujurnya kepada Eomma…”

“Gwenchana,” Nyonya Cho tampak syok, namun ia berusaha menutupinya. “Jangan merasa tidak enak seperti itu. Tidak apa-apa. Eomma mengerti,”

Sooyoung mendongak, dan kini matanya berkaca-kaca. Ia merasa bahagia—bahagia karena dirinya akhirnya menjadi bagian dari keluarga Cho yang benar-benar peduli padanya.

“Gwenchana… Eomma mengerti,”

Dan air matanya tidak dapat tertahan lagi.

______

“Kau lelah?” tanya Kyuhyun ketika mendapati gadisnya yang sedang memijat kakinya sendiri di lantai yang ditutupi karpet tebal. “Mereka membuatmu bingung ya?”

Sooyoung mendongak, memperlihatkan wajahnya yang masih terbalut make-up natural yang diberikan padanya dengan Cuma-Cuma dan tersenyum. “Ani, aku senang menyambut mereka,” ujarnya dengan santai dan menghela napas. “Mereka menyenangkan meski agak merepotkan.”

“Sudah tidak agak, tapi memang merepotkan.” Kyuhyun tertawa dan menarik Sooyoung berdiri. “Kau mandi dulu. Pelayan sudah menyiapkan air hangat dan sabun aromaterapi lavender, kesukaanmu.”

Sooyoung mengangguk, tersenyum, dan melepas sepatu violet-nya yang terasa mengecil di kakinya yang membengkak. Lalu ia memijat telapaknya sebentar sebelum menarik keluar sebuah jubah mandi dari lemari dan berjalan menuju kamar mandi. Sejenak, ia langsung kembali dan meringis di hadapan Kyuhyun.

“Ada apa?” tanya namja itu dengan tenang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. “Ada yang salah?”

“Aku tidak bisa membuka ini,” ujar Sooyoung lirih sambil meringis tidak enak. “Ritsletingnya ketat sekali,”

“Oh, baiklah.” Kyuhyun tertawa dan bangkit dari kasur pengantinnya dan berjalan menuju Sooyoung yang masih meringis. Ia menarik Sooyoung membelakanginya dan menatap punggung gadis itu yang tertutupi gaun tipis bewarna ungu muda itu. Kyuhyun meraba punggung gadis itu yang terbuka, menyadari bahwa lengannya hanya satu.

“Mmm… jangan menyentuhnya seperti itu..” gumam Sooyoung sangat pelan, “kau hanya perlu menurunkan ritsletingnya saja.”

“Dan melihat punggungmu telanjang tanpa melakukan sesuatu?”

Refleks gadis itu berbalik dan memandangi Kyuhyun dengan mata disipitkan.

“Mwoya? Memangnya itu salah ya?”

“Kukira sifat pervert-mu itu sudah menghilang waktu itu.” Ujar gadis itu dengan sangat tenang dan menyipitkan mata. “Ternyata, tidak.”

Kyuhyun tertawa. “Sudah, berbalik!” perintahnya, kembali mendorong gadis itu, dan kali ini benar-benar melepas ritsleting gaun itu tanpa melakukan apa-apa lagi. Ia membukanya sedikit, hanya sampai di punggung, tidak sampai di kaitan bra gadis itu yang agak ke bawah. “Sudah selesai, sana cepat mandi. Kau harus beristirahat, Nyonya Cho.”

Sooyoung mencibir dan melesat masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamar mereka. Namun karena tidak hati-hati dan lupa pada gaunnya yang menjuntai, ia jatuh berdebam membuat Kyuhyun tertawa terbahak.

“Ya! Tidak menolongku malah menertawakan!” gerutu Sooyoung sambil bangkit berdiri, menekan rasa malunya dalam-dalam dan merengut.

________

“Pagi ini cerah ya,” ujar Kyuhyun pelan sambil menoleh kepada Sooyoung yang tengah berbaring menatapnya. “Mungkin karena kau ada di sampingku.”

Sooyoung mencibir, namun tak urung pipinya memerah mendengar pujian Kyuhyun itu.

“Aku senang kau berada di sampingku,”

“Aku juga.”

“Dan aku minta maaf,”

Sooyoung menoleh kepada namja di sampingnya dengan pandangan bertanya.

“Seharusnya aku menikahimu sejak dulu, maaf karena aku lambat.”

Sooyoung terkekeh dengan gaya manis, yang benar-benar membuat Kyuhyun gemas.

“Ayo bangun,” ucap Sooyoung dengan nada memerintah dan menyibak selimut mereka.

Morning kiss? Itu harus ada mulai sekarang.”

Sooyoung kembali mencibir dan melempar bantal mungil ke wajah Kyuhyun yang hanya beberapa puluh senti darinya.

“Ayolaaah, aku sudah menikah, tapi bahkan belum pernah merasakan ciuman gadisku..”

“Sudah, kan? Di pernikahan?”

“Itu resmi,” protes Kyuhyun. “Tidak ada nafsu dalam ciuman itu.”

“Ya, ya, terserah kau saja.” Sooyoung mendekatkan wajahnya dan menunggu namja itu mengecup bibirnya, namun setelah beberapa detik memejamkan mata dan menunggu, ia tak kunjung merasakan sapuan bibir Kyuhyun di bibirnya. Akhirnya ia membuka mata dan memandang Kyuhyun yang sudah tidak ada di depannya, dan samar-samar ia mendengar suara tawa Kyuhyun di belakangnya.

“Kurang ajar!” gerutunya sendirian dan merasakan luapan keceriaan menyerbu tubuhnya. Ia menarik selimut dan melipatnya, merapikan bantal-bantal dan merapikan meja di sampingnya kemudian beranjak mandi.

______

“Aku tidak menyangka jika Eomma sudah pulang sejak tadi malam. Kukira ia akan menginap,” cerocos Sooyoung sambil meletakkan mangkuk-mangkuk berisi lauk pauk di meja makan tempat Kyuhyun sekarang duduk. “Lagipula, ia pasti sangat lelah.”

“Ibuku kuat,” komentar Kyuhyun sekenanya dan memilih menyibukkan diri dengan makanan di hadapannya. “Jadi tidak apa-apa.”

“Tentu tidak boleh.” Tandas Sooyoung sambil meletakkan gelas air putih di hadapan Kyuhyun dan menarik kursi untuknya sendiri. “Kita tidak boleh membiarkan Eomma kelelahan, ia kan sudah cukup tua.”

“Kau mengatakan Eomma tua? Ia masih cantik,”

“Tentu. Bukan begitu maksudku.”

“Aissh, sudahlah. Habiskan saja makananmu,”

Sooyoung menghela napasnya dan memandangi makanannya dengan wajah bosan. “Bisa tidak kita keluar sebentar?”

“Tidak. Kau harus habiskan makanmu,”

“Aku ingin jalan-jalan. Nanti aku makan setelah jalan-jalan,”

“Ti..Dak.”

“Padahal aku bosan sekali..”

“Maksudmu, kau bosan kepada nampyeonmu yang tampan ini? Tidak ada yang pernah mengatakan wajahku membosankan..”

“Kalau begitu aku yang pertama.”

“Cepat habiskan sarapanmu!” Kyuhyun menghardik sambil mendelik, namun yeoja di seberangnya itu malah tertawa-tawa. Karena kesal, akhirnya namja itu meraih sendok plastik yang kebetulan berada disana dan berdiri hanya untuk mengetukkan sendok itu di kepala Sooyoung.

“Ya!”

“Cepat!”

Dengan sebal Sooyoung menarik piringnya dan mulai menyendokkan makanannya ke dalam mulutnya yang mengerucut.

Selepas makan, mereka duduk di meja makan dengan wajah sama-sama masam.

“Kalau kita tetap seperti ini, yang ada kita hanya membuat satu sama lain kesal,” tutur Sooyoung akhirnya sambil meneguk segelas air putih dingin yang berada di hadapannya. “Aku sedang kesal, jadi lebih baik jangan menggangguku sampai nanti.” Lanjutnya sambil beranjak. Ia tidak pernah berharap bahwa pernikahannya yang baru sehari hanya akan berakhir hanya karena sikap mereka yang saling keras-kepala. Tapi ia sudah begitu kesal dengan namja yang kini berstatus sebagai suaminya itu. Namja itu tampaknya berhasil membuat emosinya meledak sekarang.

Dengan keras Sooyoung membanting pintu ruang perpustakaan, ia agak kaget melihat dirinya sendiri tidak tersesat dalam rumah sebesar ini dan dapat menemukan ruang perpustakaan yang kemarin dikatakan oleh Kyuhyun. Kyuhyun lagi. Entah kenapa, kepalanya kembali panas.

Langkah kakinya menuju ke dua buah sofa berhadapan dan satu meja mungil di tengahnya. Ia menyambar majalah sembarangan dan duduk di sofa itu, menikmati cahaya matahari yang sedang merayap menuju teriknya.

Ia mulai menikmati bacaannya ketika suara berdebam pintu terdengar. Dan saat gadis itu mendongak, ia mendapati Kyuhyun sudah ada di hadapannya dengan wajah penuh amarah.

“Apa?” tanyanya berusaha teidak terkontaminasi oleh kemarahan Kyuhyun yang tanpa tedeng aling-aling. Melihat namja itu tetap diam dengan wajah masih emosi, ia kembali berseru. “Kau kenapa?”

“Kita bercerai sekarang!”

Sooyoung begitu syok sampai tidak dapat menggerakkan seinci pun tubuhnya. Bahkan berkedip pun ia tidak sanggup.

“Kau begitu menyebalkan! Aku begitu menyesal menikahimu!”

Sekarang bahkan rasanya pasokan udara menipis dan ia tidak dapat bernapas.

“Nanti, kita bertemu di pengadilan.”

Blam. Namja itu sudah berjalan pergi.

Sedangkan Sooyoung mematung dengan wajah penuh air mata dan merah padam karena amarah dan sakit hati, sayangnya ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya hanya untuk sekedar membanting meja atau mengamuk di hadapan Kyuhyun. Tiba-tiba ia merasa menyesal telah dapat melihat.

Beberapa detik kemudian, saat akal sehat—dan nyawanya—sudah kembali normal, ia merasa sangat marah dan sedih secara tiba-tiba. Namun, apalah yang dapat ia lakukan?

“Cho Kyuhyun!” teriaknya frustasi sambil mengobrak-abrik majalah yang beberapa menit lalu ditatanya. Air matanya mengalir tanpa diminta, dan jujur itu membuatnya merasa sangat malu. Ia—yang merasa bahagia kemarin—tiba-tiba saja telah digugat keesokan harinya. Tiba-tiba ia mengerti.

Selama ini, Kyuhyun memang hanya menginginkan hartanya saja. Dan kini, namja itu sudah mendapatkan apa yang diinginkannya.

_______

“Apa yang kaulakukan?”

Gadis itu tetap diam, memasukkan pakaiannya secara sembarangan ke dalam kopernya yang terbuka lebar yang sudah terisi separuh. Kemudian ia menyambar alat make-up yang belum ia pakai dan memasukkannya, dan terakhir, menyambar mantel, sepatu dan memakainya.

“Aku bertanya padamu, apa yang kaulakukan?”

“Aku?” Sooyoung mendongak dan memandang Kyuhyun dengan tatapan sakit yang sangat datar. “Ini bukan urusanmu,”

“Nanti pasti kau mengerti,”

Sooyoung menunduk, menahan air mata yang hampir keluar lagi dan melanjutkan acara beres-beresnya. Ia menggigit bibirnya ketika melihat sandal rumah Kyuhyun melangkah pergi, dan ia menyadari bahwa semuanya akan selesai setelah ini.

Terakhir, Sooyoung menutup ritsleting tasnya—kemudian ingatannya terlempar ketika ia meminta Kyuhyun melepaskan ritsleting gaunnya. Secara refleks, ia memejamkan mata. Mendapati bahwa air mata sudah mengalir dengan sangat pelan dari kedua matanya yang tertutup. Mata yang dulu tidak berfungsi.

Aku masih mencintaimu.

Jika kau mendengarku.

Namun Sooyoung merasa bahwa ini semua hanyalah omong kosong. Pada awalnya, mungkin ia merasa tersanjung mendengar pujian Kyuhyun untuknya. Namun sekarang ia mengerti, semuanya adalah bullshit. Tiba-tiba ia merasakan dadanya sangat sesak.

“Ani, aniya, Choi Sooyoung. Tidak boleh menangis. Tidak apa-apa,” bisiknya kepada dirinya sendiri dan menepuk-nepuk celana jins gelapnya yang tidak kotor. Kemudian ia berjalan keluar dari kamar sambil menarik kopernya yang terasa berat.

Mungkin tidak seharusnya semua ini dimulai.

Mungkin seharusnya, dari awal, semua ini harus berakhir.

Ketika menuruni tangga, Sooyoung melihat ruang teve dan tamu dalam keadaan gelap gulita. Awalnya ia ingin menyalakannya, namun ia merasa bahwa ini bukan rumahnya lagi. Dan ia tidak punya andil apapun dalam hal disini.

Sekali lagi ia menarik napas. Merasa bahwa hidupnya seperti roda yang terus diputar-balikkan oleh Tuhan. Kemarin ia merasa sangat bahagia, dan sekarang kebalikannya. Dengan hati-hati Sooyoung menarik kopernya turun, merenguti karpet-karpet yang terus membuat roda kopernya tersandung. Ketika sampai di lantai bawah, Sooyoung kembali menghela napasnya. Merasa bahwa matanya tidak dapat melihat apapun, dan ia terpaksa menyalakan lampunya.

Ia meninggalkan kopernya di tangga dan berjalan dalam kegelapan menuju saklar. Ketika berhasil, ia mendesah lega, merasa bahwa ini mungkin terakhir kalinya ia melihat kedip lampu-lampu di rumah ini. Ia meraba tekstur sakelar itu, lalu memencetnya.

“SURPRISE!”

Hal pertama yang dilakukannya adalah, menganga dengan mata seakan keluar.

“SAENGIL CHUKKAE HAMNIDA! SAENGIL CHUKKAE HAMNIDA! SAENGIL CHUKKAE HAMNIDA, URI CHOI SOOYOUNGIE!”

Dan kini, hal kedua yang dilakukannya adalah menangis dengan tubuh bersimpuh.

“YA! CHO KYUHYUN! AKU BENAR-BENAR MEMBENCIMU!” serunya dengan air mata bahagia mengalir. Ia berjalan menuju Kyuhyun dan segera meninju bahunya main-main

“AKU BENAR-BENAR MEMBENCIMU!!” serunya lagi sambil menangis terisak.

Dan jelas, itu semua hanyalah omong kosong dari seseorang yang berulang tahun.

“Ya! Jangan menangis begitu, ku jelek!” goda Kyuhyun sambil membawa kue tart yang cukup besar dan menunggu Sooyoung meniupnya.

Make a wish!” seru Kyuhyun ssaat Sooyoung mendekatkan dirinya dengan kue itu yang hanya dibalas oleh seringain. Sooyoung menunduk dan mulai memejamkan matanya, kemudian membuka matanya dan—

Wussh..

Lilin itu sudah mati, dan diiringi tepuk tangan oleh Kyuhyun, orangtua Kyuhyun, Yeojin, dan pelayan-pelayan lainnya yang tidak ia kenal.

“Kau berdoa apa?” bisik Kyuhyun sambil meringis. “Tentangku ya?”

Sooyoung hanya tersenyum.

Tuhan, semoga sampai akhir.. kami akan tetap menjadi begini.

Buatlah aku, dengan segala kekuranganku, mampu menerima segala kekurangannya.

Dan buatlah ia, dengan segala kelebihannya, membimbingku untuk tetap disini,

bersamanya.

E N D

Author Notes:

Huahahaha, ancur banget kan? Padahal aku sudah mengerahkan seluruh otakdan pemikiran aku dan kutuangkan pada sehelai kertas di Ms. Word *alay*

Chapter terakhir ini, memang belum mengusut tentang dendam Heechul, Mr. Rudolph, dan pembantaian yang akan mengakhiri semuanya.

Rencananya, aku akan membuat After Story, tapi disitu tidak fokus pada KyuYoung. Bisa saja aku membuatnya hanya fokus dengan pergerakan Kyuhyun untuk mengusut semuanya. Gak pa-apakah?

Terima kasih sudah membaca fanfiction ini dari teaser, sampe akhir ^^ Dan terlebih, untuk Active Readers yang telah memberi komentar dan like serta ucapan selamat ultahku yang kemarin😄

Tetap, aku mengharapkan komentar kamu disini, untuk membuat aku semangat melanjutkan fanfiction yang kapan2 akan mengisi disini. Yah, DISTURBANCE. Aku akan meng-post-nya ketika ceritanya sudah selesai sampai akhir. Dan sekarang masih jadi Setengahnya huahuahua😄

Jadi kemungkinan, aku akan membuat selingan seperti oneshoot atau songfict ^^

terima kasih sudah membaca ini, silakan klik kolom komentara dan isi unek-unek kamu semua ^^

Silakan vote di bawah ne? ^^

Ghamsahamnida~~

124 thoughts on “[4/4] Blind

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s