[SongFict] I Can’t


i-cant-poster

Title: I Can’t

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

Rating: Teenager and Paren’s Guide

Genre: Sad, Romance

Length: SongFic

Credit Poster: KyuyoungCHILD

Backsound: 2PM – I Can’t (Klik here)

Disclaimer: This story is insprired by 2PM – I Can’t. But the story and plot is mine. The casts is God’s mine. You can read, but you must leave a comment. If not, you are silent reader who make me angry!

Check It Out!

Happy Reading~

~*~*~

Geudae olttaekkaji gidarilkke

Because I can’t forget your love

Nunmuri heureulgeot gata

Geudae saenggangan hamyeon

 

[Aku menunggumu sampai datang

Karena aku tak dapat melupakan cintaimu

Aku ingin menangis saat memikirkanmu]

Lagi, aku duduk disini, menantinya kembali. Hanya ditemani oleh i-Podku yang sudah lama dan headset yang akan membawaku ke dalam kenangan-kenangan lama yang sama sekali tidak ingin kukubur, meski seharusnya sudah kulupakan sejak ia pergi. Biasanya aku akan duduk disini sampai dua jam selanjutnya, atau sampai aku merasa lelah sendiri dan memutuskan pulang, namun hari ini, aku ingin mengenangnya.

Lagu sendu dari i-Podku mengalun dengan pelan memenuhi telingaku, membuatku terhanyut selama beberapa saat, memejamkan mataku yang terasa berat dan ngilu. Kepalaku bergoyang ke kanan pelan, mengiringi lagu-lagu yang kujadikan satu dalam folder playlist pilihanku ketika duduk menanti—dan mungkin mengenang—di tempat ini.

Terkadang, rasa lelah memang begitu mengganggu. Terkadang aku merasa bosan; bosan yang terkadang terasa sesak dan menyakitkan. Namun instingku mengatakan, bahwa suatu saat nanti, entah itu kapan, ia akan kembali.

Dan karena satu hal yang tak pernah dapat kuingkari,

aku tidak bisa melupakannya.

Terlebih lagi, melupakan cintanya.           

Galsurok gipeoman ga

I can’t stop thinking about your love.

 

[Seiring berjalannya waktu,

aku tetap tidak bisa berhenti memikirkan cintamu.]

 

Ini memang terasa berat, terlebih lagi, sudah beberapa tahun ini aku berada di pihak yang serba salah. Pertama, aku tidak bisa mengikutinya, karena pada kenyataannya, ia memang tidak pernah mengerti perasaanku ini. Kedua, aku tidak bisa melupakannya dan berpikir ke depan, karena aku tidak bisa berhenti memikirkannya dan cintanya, dan itu membuatku akan terus terjebak dalam keadaan tidak menyenangkan ini.

Aku menghela napas dan membuka mata, merasa cukup penantianku senja ini. Mungkin sudah saatnya mengakhiri omong kosong ini. Namun aku sendiri mengerti bahwa aku tidak bisa.

Tidak, aku akan bisa. Ini hanya membutuhkan waktu saja. Lain kali, aku akan benar-benar hidup dengan baik tanpa berpikir tentangnya. Ya, lain kali.

Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya, lalumelepas kaitan headphone di belakang telingaku, melipat kabelnya dan memasukkannya ke dalam tasku. Mungkin seiring berjalannya waktu, aku akan kembali baik-baik saja, dan melupakan cintanya dengan sukses. Namun bayangannya kembali menyadarkanku bahwa itu adalah omong kosong.

Ijeul su eobseul geot gata

Geudae modeun geot

Mideul su eopseul geot gata,

Geudae doraondamyeon

 

 

[Kufikir,

Aku tidak akan pernah melupakanmu.

Sayang, aku tidak dapat membayangkan saat kau kembali..]

 

Selesai memberesi barang-barangku, aku bangkit dan menghampiri sepedaku. Menaikinya, membawanya mengitari tempat-tempat kenanganku dengannya. Aku menghentikannya di sebuah café, turun dari sepeda dan menarik ransel mungilku ikut masuk denganku.

Mataku memilah-milah tempat duduk, meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak harus duduk di kursi yang sama dengan empat tahun yang lalu, namun hatiku bertaka, aku harus duduk di kursi yang sama. Aku menarik ranselku dan meletakkannya di meja yang sama.

“Anda ingin memesan apa?”tanya seorang pelayan yang sudah sering melayaniku. Sepertinya, pelayan itu tahu betul bagaimana aku, dan tentang apa yang kuinginkan. Aku hanya perlu mengangguk dan tersenyum sekilas—yang malah lebih mirip seringaian—untuk membuatnya sadar, bahwa aku memesan hal yang sama.

Setelah pelayan itu pergi, aku kembali merogoh ranselku, mencari sebuah album mungil yang selalu kubawa kemana-mana, selalu berada dalam tasku. Aku mendapatkannya, mengeluarkannya dan membukanya setelah menghela napas. Semuanya terlihat sama, tidak berubah sama sekali. Aku dan ia. Hanya saja, sekarang yang duduk disini adalah aku. Bukan kami lagi.

Memikirkannya dalam-dalam, aku mengerti bahwa aku memang tidak akan melupakannya. Kembali kutahan rasa sakitku dalam-dalam, meringis sebentar hanya untuk membuatnya sedikit mudah. Namun yang ada, aku tetap kesakitan.

Satu jalan yang bisa membuatku keluar dari semua ini.

Jalan yang tidak akan pernah dapat kulalui.

“Ini pesanan anda,” ujar pelayan itu saat meletakkan satu gelas caramel macchiato, dan satu gelas espresso, serta roti ceper yang disiram cokelat dingin dan butiran muisjes. Aku mengangguk sekilas, menata piring roti itu di tengah, dan meletakkan gelas tinggi espresso itu di seberang; itu kursinya, dan ini makanannya.

Sedetikpun, aku tidak pernah bisa melupakan apa yang ia lakukan, apa yang ia pedulikan, apa yang Ia sukai, dan apa yang ia benci. Aku tahu ia membenci muisjes yang tersebar dimana-mana, aku tahu ia berlari di minggu pagi, aku tahu ia menyukai kopi panas pahit seperti yang ada di seberangku, aku tahu ia peduli kepada kebersihan tempat kami makan dan kepada anak kecil yang lapar. Aku begitu tahu semuanya. Dan aku begitu berharap ia juga mengerti diriku, seperti aku mengertinya.

Namun rasanya sulit membayangkannya kembali ke dalam pelukanku. Rasanya hal itu begitu tidak mungkin sampai membayangkannya saja, aku tidak sanggup. Ia sudah menghilang sejak empat tahun yang lalu; tidak mengirim sedikitpun kabar, tidak memberitahukan keberadaannya, tidak memberi tanda bagiku, tidak memastikan bagaimana diriku, dan hubungan kami berjalan.

Ia raib. Dan aku orang bodoh yang tetap menunggunya meskipun sakit dan pedih. Aku yang selalu duduk di tempat yang sama, menantinya datang; aku yang selalu membelikan espresso kesukaannya, menunggunya minum; aku yang selalu berharap bahwa suatu saat nanti, ia akan kembali dan memelukku serta menjerit, “Aku akan menikahimu!”

Namun sepertinya hal yang kuharapkan itu akan sangat sulit terwujud. Apalagi dengan keadaannya yang tidak pernah aku ketahui. Ia dengan dirinya, dan aku dengan sakitnya. Mungkin sampai akhir nanti, aku akan tetap dengan rasa sakit hati dan luka, sementara ia mungkin akan berbahagia dengan apa yang ia lakukan, yang tidak aku ketahui.

Pelan, aku menyesap minumanku, menikmatinya pelan, berusaha merasakan kehadirannya. Berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa sekarang, ia berada di hadapanku. Untuk kali ini saja, biarkan aku mengkhayalkannya berada di hadapanku, kembali dalam pelukanku.

~*~*~

I can’t forget your love,

Eonjekkajirado nan

Geudae olttaekkaji

Gidarilkke

I can’t forget your love

Eonjekkajirado gidarilkke

 

[Aku tak dapat melupakan cintamu

Tak peduli berapa lama, aku akan menunggumu datang

Aku tak dapat melupakan cintamu,

Tak peduli berapa lama,

Aku akan tetap menunggu..

Karena aku tak dapat, tak dapat lupakan cintamu.]

 

“Sooyoungie!” teriak seseorang yang membuatku menoleh, aku baru saja keluar dari supermarket setelah berbelanja kebutuhan bulanan. Ketika aku menajamkan mata, aku akhirnya menyadari bahwa orang yang memanggilku tadi adalah Yeojin, sahabatku sejak SMP, meskipun sekarang kami tidak lagi dekat.

“Waeyo?” aku mendengar suaraku begitu lirih dan tak bertenaga, padahal aku sudah makan sekotak mie ramen dan kue kering.

“SMU kita akan mengadakan reuni.”

Ucapan itu seperti petir bagiku, aku tidak pernah ingin mengikuti acara itu. Dimana dulu, aku masih berada di sampingnya. Tidak sendirian seperti sekarang.

“Kau harus datang,” ujar Yeojin buru-buru melihat ekspresiku. “Ini perintah. Dan aku tidak menerima penolakan!” kemudian ia melmbai dan melenggang pergi meninggalkanku sendirian.

Aku menghela napas, memandangi uap putih yang menari-nari di udara karena napasku, kemudian menghilang. Uap itu sangat mirip dengannya, dapat kulihat, namun tidak pernah sudi untuk kusentuh. Aku tidak akan bisa datang, karena jika aku datang, aku tahu aku akan hancur. Melupakannya tidak semudah mengatakannya, ia selalu hadir dalam pikiranku, menari-nari disana, menarikku untuk tetap berpikir satu, ia. Namun ia begitu tidak dapat kuraih, ia tidak dapat kutarik dengan apapun. Ia tidak dapat kumengerti, karena yang ada dalam pikiranku hanyalah bagaimana ia dulu, dan bukan bagaimana ia sekarang.

Aku tahu bahwa sulit untuk berada di posisiku, namun tidak ada sesuatu yang dapat kulakukan selain ini. Aku akan bertahan, mungkin sampai nanti, sampai akhirnya aku menyadari bahwa mungkin saja ia telah melupakanku dan berbalik bersama yeoja lain.

Mungkin menunggu bisa menjadi sangat menyakitkan, namun aku telah mengerti. Aku sudah menunggu seumur hidupku, dan aku tidak ingin menghentikannya sekarang. Aku akan membiarkan penantianitu berakhir dengan seiring waktu, ataupun dengan maut. Meskipun sakit, setidaknya aku sudah berusaha.

Aku menarik kantong itu dan berjalan melewati rumah-rumah yang digunakan sebagai toko danbeberapa supermarket kecil. Kugigit bibirku pelan, menyadari bahwa dulu, kami pernah bersama disini.

~June, 2004~

 

“Masa kita harus menghabiskan malam hari libur dengan belanja?” sergahku dengan kesal. Kami sedang berjalan di sepanjang supermarket dengan troli yang didorongnya.

“Tidak apa-apa. Kau tidak tahu sih, di London sana, mereka malah berbelanja untuk berkencan. Bermanfaat, dan tidak mengeluyur tidak jelas di jalanan,”

Aku langsung diam mendengarnya, tetap mengerucutkan bibirku.

“Yaa, jangan marah..” ia kembali berkata dan mencubit pipiku. Aku masih tetap marah. “Nanti sepulang ini, kita beli samgyupsal dan chadolbaegi deh.”

“Jinjja?!” seruku semangat. Well, semua orang tahu bahwa aku adalah seorang shikshin yang benar-benar menggilai masakan. Jadi mendengar nama makanan saja akan membuat telingaku berdiri. “Jja! Cepat belanjanya!”

Ini yang kusuka darinya, ia selalu mengerti aku. Tidak peduli dalam keadaan apapun. Ia tetap peduli. Bahkan, ketika sakit dan aku sedang marah, ia datang ke rumahku dan membelikanku sebuket bunga mawar dan cokelat dalam kardus sedang. Meskipun kata-katanya sama sekali tidak romantis, aku menghargainya. Bagiku, ia selalu menganggap wanita sama dengan laki-laki. ia tidak pernah meremehkanku. Ia selalu menanyai pendapatku ketika akan mengambil keputusan. Dan aku benar-benar mencintainya.

Setelah selesai berbelanja, ia menarik lenganku keluar dari supermarket dan mengajakku naik motornya. Anehnya, ia sama sekali tidak membelokkan motornya ketika restoran samgyupsal yang biasa kami kunjungi terlewati.

Ia berhenti di apartemennya, dan menarikku secara paksa. Benar, aku merasa ada yang tidak beres hari ini, namun otakku tidak bisa menemukannya.

“Tunggu disini, biar aku membuka pintu.”

Aku mengangguk ragu, tanpa perlawanan. Kemudian ia membuka pintu dan..

“SURPRISE!”

Aku begitu kaget melihat teman-temanku dan Kyuhyun—baiklah, sudah saatnya aku membuka diri tentangnya. Namanya Cho Kyuhyun—sudah berdiri  disana dan membawa sebuah kue tart yang besarnya minta ampun.

Hari itu, aku menyadari bahwa cinta Cho Kyuhyun mungkin melebihi cintaku.

Kemudian, sehari setelahnya, ia meneleponku. Mengatakan bahwa aku harus baik-baik saja, agar aku tetap kuat, agar aku tetap sehat setelah melewati ulang tahunku yang ke-16, agar aku tetap ceria. Saat kutanya mengapa, ia hanya berkata sedang kurang kerjaan.

Lalu, aku menyadari bahwa itu ucapan perpisahannya.

Esoknya, ia menghilang.

Tidak pernah kuketahui lagi dimana ia.

~*~*~

 

Geudae saenggage jam mot deuneun bameul jisaeuda

Heureulgeot gateun nunmureul chamji motae gakkeum honja

I cried

Geudaereul geudae bakke eoumneum nayeotgie

 

[Sepanjang malam aku selalu memikirkanmu

Aku tak dapat menahan dan menghentikan air mataku.

Aku menangis

Kau satu-satunya yang ada di hidupku]

Aku kembali merapatkan sweter putih tipis yang kukenakan sekarang. Menghirup dalam-dalam aroma kopi panas yang kini ada di genggamanku. Aku meneguknya, tidak memedulikan rasa panas yang membakar. Beginilah kegiatan malam yang selalu kulewati, meminum kopi sendirian dan memandangi citylight Seoul di balkon.

Lelah.

Aku benar-benar lelah hidup seperti ini. Hidup, namun seperti mati. Mungkin lebih abaik aku koma saja, lagipula, sudah tidak ada orang yang akan peduli kepadaku.

Kuhela napas, lelah menerima flashback-flashback menyakitkan dalam memoriku, lelah menangisinya. Benar-benar lelah. Kembali kugosok lenganku, merasakan tekstur kain wol yang mendasarinya, kasar, seperti hatiku saat ini.

Sungguh, aku kesal sekali kepada diriku yang tidak bisa hidup tanpanya. Jika ia bisa, mengapa aku tidak?! Aku marah, marah kepadanya dan kepada diriku sendiri. Aku yang begitu bodoh masih menunggunya, aku yang begitu bodoh masih mengharapkan kedatangannya hanya untuk memastikan bagaimana hubungan kami, aku yang terlalu setia kepadanya yang sudah tidak kutahu bagaimana kabarnya, dan aku-aku yang lainnya. Sedangkan ia, begitu mudah meninggalkanku. Jika cintanya melebihi cintaku, mengapa ia tak kunjung kembali? Mengapa ia masih terus bersembunyi seperti tikus? Mengapa ia tidak menampakkan dirinya sekali saja—hanya untuk memberitahuku bahwa ia memang sudah berdua, atau apapun.

Atau… ia memang tidak pernah mencintaiku? Lalu bagaimana senyumannya? Palsukah?

Selalu begini. Otakku akan berputar mencari-cari alasan yang sekiranya dapat mengurai benang kusut tentangnya, dan pada akhirnya… aku akan menangis. Sungguh, aku tidak suka diriku yang lemah dan cengeng begini.

Aku bisa memaafkan diriku yang mbegitu bodoh mencintainya, tapi aku tidak bisa mengerti mengapa aku menangisinya. Dan kini, air mataku sudah mengalir, mungkin menetes dalam mug kopi yang berada di tanganku, mungkin juga membasahi celana jins selututku.

“Sooyoungie!”

Aku segera mengelap air mataku, menarik napas dalam dan menyesap kopi itu. Kamuflase, hanya sekedar meyakinkan orang yang memanggilku itu bahwa aku hanya sedang meminum kopi.

Ijeuryeogo haebonjeokdo eopseo

Naegen gachi eopneun iriraseo

Geudael tteollineun iri maeil naegeneun

Sumswineun geotmankkeum sojonghae

I can’t forget your love uh

Boy you know that I need your love, I need your everything, I need you back

Kidaril su isseo tillyou come back

Comeback to me…

 

[Aku bahkan tak pernah mencoba melupakanmu, itu adalah hal yang tak berguna

Memikirkanmu setiap itu penting bagiku, seperti bernapas

Aku tak bisa lupakan cintamu, lelaki, kau tau aku membutuhkan cintamu

Aku butuh segalanya, aku ingin kau kembali

Aku tak bisa menunggu sampai kau kembali

Kembali kepadaku..]

 

 

“Ne?” seruku sambil menoleh. Memandangi Yeojin yang sedang membawa tumpukan kertas-kertas yang tak kutahu isinya. “Mwoya?”

“Undangan reuni. Kau harus datang,” ujarnya menekankan dan meletakkan sebuah kertas bewarna biru muda di tanganku. “Aku akan membencimu jika kau tidak datang.”

Aku menghela napas. Yeojin tidak pernah main-main dengan ucapannya, tapi aku tidak mungkin datang. Aku tidak bisa membuat otakku mengingat kenangan-kenangan saat bersamanya, aku tidak sanggup untuk sekedar melihat taman sekolah kami, tempat semuanya berjalan sesuai dengan yang kuinginkan. Aku tidak bisa, karena mengingat itu hanya membuatku terluka.

“Aku harus membagikan ini kepada yang lain, annyeong!” teriak Yeojin sambil berlari dari balkon. Ia memang sudah sering pergi ke apartemenku ini, jadi ia sudah tahu password kamarku.

Pelan, tanganku menyibak kertas itu. Mulai membaca isinya. Besok, pukul sembilan. Aku tidak tahu, tapi entah mengapa rasanya sakit. Aku tidak sanggup meneruskan dan memilih menatap bulan dan bintang di langit, berusaha mencari pencerahan dalam kerlip bintang yang indah. Berusaha mengerti bagaimana seharusnya aku.

Namun tidak, bintang sama sekali tidak memberiku jawaban. Kerlipnya hanya membuatku teringat dengannya. Dengan ia, yang kini tidak pernah ada di sampingku lagi.

Hal terbodoh yang pernah ada adalah, aku tidak pernah mencoba melupakannya. Aku pernah mencoba sekali, dan gagal. Lalu hatiku memberontak untuk melupakan semuanya. Hatiku memaksa diriku untuk tetap menunggu dengan rasa sakit yang begitu mendalam. Meskipun sakit, kenyataannya sekarang aku menikmatinya.

Bagiku, kesakitan adalah hal paling nyata dalam kehidupanku selama menunggunya. Mungkin berbeda jika ia datang dan memelukku, itu terasa tidak nyata. Namun kesakitan adalah hal yang selama ini berada dalam pelukanku. Aku tidak apa-apa merasa sakit, karena pada kenyataannya, itu memanglah benar. Aku membenci ketika Tuhan memberiku sebuah kebahagiaan, kemudian mengambilnya kembali sebelum aku benar-benar dapat menikmatinya. Pada akhirnya, kesakitan itu akan kembali dan mungkin lebih parah daripada awalnya.

Itulah hal yang menjadikan aku seperti ini.

Aku, dengan diriku dan dengan kesakitanku.

Karena pada rasa sakit itu, aku menemukan diriku dan dirinya dalam keadaan nyata—senyata-nyatanya.

Aku meletakkan mug kopiku di lantai dan mendongak, memandangi sebuah bintang yang tampak menyendiri. Kerlipnya tidak secerah teman-temannya yang lain, namun entah mengapa aku lebih tertarik padanya. Ia yang tetap mengeluarkan cahanya meskipun tidak menarik pun, ia memang sendirian, namun bagiku, cahayanya tetap tidak mengalahkan yang lainnya.

Aku berharap menjadi seperti bintang itu.

Tidak terlalu mencolok, namun terlihat menarik bagi orang yang benar-benar menyukainya. Dan aku berdoa, semoga Kyuhyun menganggapku begitu.

Prelahan aku bangkit, mendorong kursi kayu yang kududuki ke pojok dan mengambil mug-ku kembali ke dalam. Aku meletakkan mug itu ke dalam bak cuci dan meraih sereal cokelat dari dalam lemari kemudian membawanya ke kamarku.

Ketika memasuki kamarku yang tidak rapi, aku meletakkan mangkuk sereal yang sudah kusiram dengan susu cokelat yang tidak terlalu manis ke atas nakas dan menyalakan lampu. Ketika sudah cerah, kakiku berjalan menuju mesin jukebox di pojok ruangan, aku memilih lagu sebentar kemudian menyalakannya.

Lagu berjudul I Can’t itu menggema di dalam kamarku yang tidak terlalu luas. Aku duduk di sofa dan mulai memakan sereal dan membaca koran harian. Kemudian, tanpa bisa dilarang, ingatanku kembali ke masa lalu.

~*~*~

–August, 2006—

Perlahan aku menyusuri lapangan taman yang sepi. Aku duduk di kursi dan memandang ke depan, teringat tentang ucapan temanku tadi.

“Sooyoungie,”

Aku menoleh, mendapati orang yang sedang kupikirkan berdiri di hadapanku. Aku tidak bisa menahan air mataku kembali dan menangis di hadapannya seperti anak kecil. Sementara ia tetap diam dan menatapku yang tampak syok. Aku ingat saat itu aku dalam posisi duduk dan ia berdiri, benar-benar posisi yang aneh. Namun entah mengapa kami melakukannya.

Selama beberapa saat aku menangis dalam pelukannya, menyurukkan kepalaku ke dadanya dan membiarkan air mataku mengalir dengan deras. Lalu, saat tangisku benar-benar reda, ia melepaskan pelukannya dan menyelimutkan jasnya di bahuku, kemudian mengatakan bahwa ia akan membeli minuman sebentar.

Aku diam beberapa saat, menghirup napas banyak-banyak, dan menatap nyalang apa yang ada di hadapanku. Kemudian tanganku merapatkan jas yang disurukkan Kyuhyun di bahuku dan menghirup aromanya dalam-dalam.

“Ini, jangan menangis lagi.” Katanya sambil menyodorkan es krim cokelat—kesukaanku. “Kau tidak cantik saat menangis. Maka, jangan menangis. Mereka akan senang jika kau menangis.”

Ia benar. Aku memang bodoh karena menangis. Mereka akan bahagia di atas rasa sedihku dan semakin senang mengolok-olokku. Mulai sekarang, aku tidak akan menangis.

Kami duduk disana selama satu jam dan hanya duduk, menikmati es krim kami yang bahkan sudah habis selama sepuluh menit. Ia hanya diam dan memandang ke depan, tanpa mengucap sepatah kata pun. Sementara aku tidak berniat membuka percakapan dan memilih ikut diam sepertinya.

“Suatu saat, mungkin kita akan merasa sangat bersedih.” Ujarnya tiba-tiba ketika waktu melewati tiga puluh menit. “Tapi… saat itu datang, kau tidak boleh menangis.”

“Aku tidak bisa,” ucapku membantah dan menatap kotak kertas bekas es krim di tanganku.

“Kalau begitu, kau harus berlatih mulai saat ini.”

“Aku tidak akan pernah bisa,”

“Dasar cengeng!” ia meledekku sambil memberantaki rambutku.

Aku tersenyum dan menjerit-jerit tidak terima.

Dan kini, aku mengerti.

Ia mengatakan itu untuk antisipasi supaya aku tidak terus-terusan menjadi sedih ketika ia pergi. Namun, aku tidak pernah berjanji, jadi tidak apa-apa melanggarnya.

Aku memang terus-menerus menangisinya.

~*~*~

Aku tidak ingin pergi. Namun Yeojin dan Jihye sudah datang dan memaksaku untuk datang. Menolak Yeojin ketika sendirian saja aku tidak sanggup, apalagi sekarang mereka berdua.  Jadi aku terpaksa berendam dan memakai setelan rok santai.

baju8
Sooyoung’s Dress

Setelah mengganti baju, dan tidak menemukan hair style yang sesuai untukku. Aku terpaksa menggelung rambutku ke atas, dan meninggalkan helai-helai rambut. Melihat pucatnya wajahku, Jihye mengambil bedak dari dalam tasnya dan memoles wajahku.

“Nah, yeppuda.” Ujar mereka berdua.

Aku tersenyum sekilas, merasa tidak nyaman dengan pujian mereka karena aku sama sekali tidak merasa begitu. Apalagi dengan kenyataan bahwa hatiku yang sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk, seperti kenangan-kenangan tentangnya yang menyerbu otakku secara tiba-tiba.

“Kajja kita berangkat!”

~*~*~

Kyuhyun’s POV

 

 

“Ya! Kau kemana saja selama ini?!” seru sahabatku dulu, Hyukjae sambil meninju bahuku main-main.

Aku hanya tersenyum sekilas, tidak menjawab apapun, dan malah berjalan ke arah tempat minuman. Udara sedang panas, dan minuman-minuman soda dingin ini begitu menggodaku. Aku mengambil segelas cola dan menengguknya hingga tersisa sedikit, Hyukjae sendiri duduk di sampingku dan memandangiku dari atas ke bawah.

“Kau kurus,” katanya sambil melambai genit pada teman-teman SMU perempuan kami dulu. Mereka balik melambai meski dengan wajah mengernyit.

“Apa pedulimu.” Sahutku dan memandangi bangunan sekolah sekitar, menatapi satu-persatu anggota reuni yang masuk dengan pakaian bewarna berbeda.

“Kyuhyun-ah!”

Aku berbalik dan memandangi seorang perempuan—aku lupa namanya—yang berlari kencang ke arahku.

“Nugu?” tanyaku sambil mengernyit.

“Cish, pelupa sekali!” cetus perempuan itu dan akhirnya membuat V-sign dan nyengir. “Aku Yeojin, Park Yeojin!” “Ah, iya. Kenapa kau berubah jauh sekali? Dulu kau gendut. Genduutt..” aku sengaja mencibirnya.

“Dasar!” seru Yeojin sambil berbalik. “Sebentar—dimana Jihye dan Sooyoung?”

Deg.

Jantungku bertalu secara tiba-tiba dan aku merasakan bahwa mataku melotot.

“Ah, itu dia!”

Aku menoleh, dan mendapati dua  orang gadis berdiri di seberangku. Jihye sudah berlari kemari dan menggampar Hyukjae sedangkan gadis satunya diam mematung dan memandangku dengan tatapan kaget dan bibir bergetar.

Refleks, aku meletakkan gelasku dan menyongsongnya.

Sekarang kami berdiri berhadap-hadapan, dan aku melihat matanya tergenangi oleh air mata. Dan tanganku sudah terulur memeluknya.

~*~*~

Sooyoung’s POV

 

 

Sekarang dadaku penuh oleh kenangan-kenangan itu ketika tangannya mendekapku. Rasanya seolah dunia berhenti berputar dan jam tidak berderik sama-sekali. Aku diam dalam pelukannya dan tanganku terkulai lemah di samping tubuhku sendiri. Air mataku mengalir secara tiba-tiba dan aku terisak dalam pelukannya, sama seperti dulu.

“Menangislah… Kau dengar aku? Menangislah..” bisiknya sambil mempererat pelukan kami.

Tangaku kini terangkat dan ikut mendekapnya. Bahkan dekapanku lebih erat darinya dan aku terus-menerus menangis. Kelenjar air mataku pasti bocor karena aku tidak berhenti menangis.

“Kau jahat..” bisikku dengan lemah sementara posisi kami masih tetap berpelukan. “Jahat sekali..”

“Maaf…”

Aku tidak tahu apa yang kami lakukan selanjutnya, karena yang kuingat aku memejamkan mata dan terus menangis dalam pelukannya, lalu tiba-tiba kami sudah duduk di kursi yang sengaja diadakan disini.

Selama bermenit-menit, aku masih menangis dan ia masih memelukku sambil menenangkanku. Ketika aku melepas pelukan, rasanya aneh. Seolah-olah aku baru saja bangun dari mimpi terburukku dan bertemu dengan orang yang hilang dalam mimpiku itu.

“Berhenti menangis… kau jelek saat menangis.”

Entah mengapa, ucapannya itu malah membuat tangisku meledak lagi. Aku pasti sudah bermimpi, pasti sebentar lagi aku bangun dan mendapati aku sedang tertidur sendirian di tengah-tengah pesta reuni ini.

“Kau merindukanku, hm?”

Aku mengerjapkan mata beberapa kali, dan mencubit lenganku sendiri.

“Aku pasti sedang bermimpi.” Gumamku.

“Ya! Jadi kau mengira aku ini hanya mimpi?!”

~*~*~

“Selama ini kau kemana?” tanyaku setelah lega menumpahkan amarahku padanya.

“Surprise,” ujarnya tanpa merasa bersalah. “Aku diam-diam mengikuti beasiswa di Jepang untuk menjadi Sarjana Arsitektur. Dan sekarang aku sudah mendapatkannya.”

“Konyol,” teriakku dengan kesal. “Kau tidak tahu ya seberapa takutnya aku ketika kau menghilang secara tiba-tiba?! Kau tidak tahu ya bagaimana aku menangis dan menunggumu setiap malam? Aku bahkan pergi ke Sungai Han setiap senja dan merenungi apa kesalahanku sehingga kau pergi…”

“Geumanhae. Aku hanya ingin menjadi yang terbaik untukmu. Sebenarnya aku seringkali ketakutan jika kau bertemu orang lain dan jatuh cinta, aku senang melihatmu masih menungguku.”

Aku mendengus dan merasa sangat bahagia. Bahkan aku merasa aneh dengan perasaan berbunga-bunga yang tiba-tiba menyerangku , mungkin karena aku sudah lupa bagaimana rasanya.

“Menikahlah denganku.”

Aku terperanjat.

“Aku sudah menunggu momen ini, kumohon.. menikahlah denganku.”

Dan kini, air mataku kembali mengalir.

“Sekarang… aku sudah siap menikahimu…”

Aku memeluknya, terisak dalam dekapannya lagi.

I can’t forget your love,

Eonjekkajirado nan

Geudae olttaekkaji

Gidarilkke

I can’t forget your love

Eonjekkajirado gidarilkke

E N D

Author Note:

Annyeong ^^

Gimana? Apakah menyentuh?😄

Aku lagi coba-coba gak ngepost ff ini di KSI, soalnya aku pengen liat berapa sih readers di blogku ini di antara 72 ribu bla-bla pengunung😄

Setelah membaca, kamu silakan beri komentar atau jejak ne? ^^

Ghamsahamnida~~

 

44 thoughts on “[SongFict] I Can’t

  1. hal paling menyebalkan di dunia ini adalah menunggu tdk semua org bs menunggu tp soo bs menunggu cintanya agar kembali. ceritanya keren thor

    Like

  2. sweet…sweet…sweet…
    dugaan awal q kyu ninggalin soo buat selamanya tpi untunglah mereka dipertemukan kembali,,,,
    alasan kyu konyol,,,,knpa sblumnya gak bilang ke soo???ckckckckck

    Like

  3. Sumpah ini bikin nyesek waktu awalnya
    kirain sad ending
    ulala trnyt happy ending
    AS dong thor wktu mrk nikah

    Like

  4. Daebbbakkkkk…tp menurutku ENDingnya g memuaskan dan gantung……..hmmm rupanya in g di post di KSI,mknya aq blm baca……ok dech dtggu karya ff laenya!!!!

    Like

  5. ff nya bagus feelnya dapet kirain kyu kemana ternyata kyu dapat beasiswa ke jepang jadi ninggalin soo sedih awalnya happy ending akhirnya….d tunggu ff2 yg lainya he he 🙂

    Like

  6. Thor feelnya dpat banget suka banget ihh
    Daebak thor *prok prok prok*😀
    Di tunggu karya yg lainnya

    Like

  7. akh… penantian yg berakhir bahagia… dr awal sempet bingung si kyu kmn & sempet mikir sih dia prgi kuliah & trnyata bener… untung soo gak move on dr perasaannya ke kyu TT__TT dtg2 lgsg diajak nikah😄 lgsg mau lah…

    Like

  8. aish kyuhyun yg aneh. tiba2 prgi aj, untung soo setia dan kuat!! huff happy end yeii q kira sad hehe bagus chingu😀

    Like

  9. sebelum gw baca.
    Gw liat endingnya dulu.
    Sad atw happy.
    Kalo sad langsung cap cup tutp,
    kalo happy gw langsung bca.
    Soalnya kalo OS,Ficlet,drabble buatan kamu kebanyakan sad ending thor.
    Dan aku pling ga suka ama namanya sad ending:/

    yaampun kiyu..
    Untg syoo setia,
    cba kalo ga.
    Seharusnya kalo lo mau kuliah kejepang kasih tau kek syoo.
    Kan kasian dia.
    Dia pikir lo punya cewek lain.
    Tpi dgn adanya itu,
    cinta mereka jdi lbh kuat.
    Takdir yg membuat mereka bersama lgi :^)

    nice ff.
    As mesti ada! ^^

    Like

  10. yippiee !!
    huhuhu, soo eonnie sabar banget yaw :3
    ahelah dasar kyuppa -_-

    keren ceritanya xD i love it❤

    semangat terus bikin FF ya author ^^

    Like

  11. huah….
    akhirnya mereka brsatu lagi…
    kyu oppa knp gak blng dulu coba ke soo eonni kalau dia dpet beasiswa…
    dasar kyu oppa…
    keren crtanya eonni…
    suka2…🙂

    Like

  12. Ow.. slama ini kyu pergi ke jepang, ternyata? Gt soo ga di kbarin dulu..? Smpai hmpir dpresi gt hdupnya soo😦
    untg aja endingnya kyu balik, dan lgsg ngelamar soo, lho! >.<
    kyuyoung destiny!😀

    Like

  13. Duhh kirain bakalan jadi sad ending abis kan pas awal-awalnya aja udah begitu tapi syukurlah ternyata happy ending sih hehe

    Like

  14. huaa sang-ah romantis ujungny tp g gtu jg x kyu pergi tnp pamit… klw khdupan nyata mn bs bgtu,yg ada dtg malah dibenci syukur2 cm dibenci msh bs suka lg nah klw nyatany cew ny dah pny pengganti driny/mlh dah jd suaminy. bs brabe hati nntny nyesel ja ujungny…iya g saeng??!!!
    but gomawo

    Like

  15. huaa sang-ah romantis ujungny tp g gtu jg x kyu pergi tnp pamit… klw khdupan nyata mn bs bgtu,yg ada dtg malah dibenci syukur2 cm dibenci msh bs suka lg nah klw nyatany cew ny dah pny pengganti driny/mlh dah jd suaminy. bs brabe hati nntny nyesel ja ujungny…iya g saeng??!!!
    but gomawo (*^﹏^*)
    ♥ⓚⓨⓤⓨⓞⓤⓝⓖ♥

    Like

  16. Aq kira bkalan sad ending..tp terxta happy end..aq slut ma kesetiaan soo…wah thor kyakx km hrus bkn as ne..pngen lhat lanjtan kisah cinta mreka…

    Like

  17. ceritanya bener2 menyentuh T_T jadi ikut merasakan gmn yg soo onnie alami dg setia nya menunggu kedatangan kyuppa. kyuppa knpa jg g ksh tau soo onnie klo dy di jepang… wlo bgt penantian soo onnie g sia2 krn kyuppa kmbli n melamarnya ^^
    dtunggu bt ff lainnya chingu

    Like

  18. ini menyentuh kok, gue ikutan galau juga==; kkk, thumbs up. after story ya, bkin pas wedding mereka~

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s