[Chapter 2] Disturbance


disturbance-by-meydaawk-re-do

Title: Disturbance

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

-Seo Joo Hyun

-Other

Genre: Sad, Romance, Love Story

Rating: Teenager

Length: Chaptered, Series

Credit Poster: MissFishyJazz@myfishyworld.wp

BackSound: Sad Song

Check It Out!

Happy Reading~

~*~*~

Sekali lagi aku menatap bayanganku di cermin. Terlihat normal dan aku sekali. Celana jins panjang bewarna gelap, rambut digulung ke atas, tank top putih yang kututupi dengan sweter bewarna biru gelap.

Aku menarik keluar sepatu flatshoes dari rak, memasangnya, menyambar tas sandang kecil biasa dan langsung melesat keluar. Hari ini adalah hari pertemuan keluarga yang biasa kami lakukan setiap akhir bulan.

Maksudku, hari pertemuan dengan keluarga Kyuhyun.

Baiklah, kuakui bahwa aku adalah seorang yeoja yang bahkan tidak memiliki keluarga satupun. Mereka semua meninggal, entah karena apa. Yang ada, orang tuaku kecelakaan ketika  umurku baru tiga belas, dan dengan baiknya keluarga Cho menampungku. Itulah sebabnya aku menjadi sangat dekat dengan keluarganya dan dengan Kyuhyun.

Mereka menganggapku seperti putri mereka sendiri—seperti mereka menganggap Kyuhyun—namun Eomma tidak berpikiran bahwa aku dan Kyuhyun adalah saudara. Eomma sering menggoda Kyuhyun dan aku, bahwa kami saling menyukai, bahwa kami terlihat pantas bersama, dan lain-lain, yang selalu dianggap Kyuhyun angin lalu yang sebaliknya kuanggap cahaya di ujung terowongan gelap.

Benar, aku begitu menyukai Kyuhyun sampai-sampai membayangkan suatu saat aku akan menikah dengannya. Meskipun aku tahu sekarang itu hanyalah mimpi.

Parahnya lagi, aku memberikan tubuhku untuk seorang namja—yang menganggapku sahabatnya—yang kini telah berdua, sedangkan ia tetap datang untuk berhubungan seks denganku. Kupikir dari dulu ia hanya menganggapku sebagai Sex Slave, bukan sahabat. Tapi meskipun begitu, itu tetap tidak bisa memadamkan cintaku yang telah terlanjur membara.

Namun kemarin, ia bilang bahwa ia sudah tidak sendiri.

Ia punya Seohyun,

dan aku hanya memiliki tubuhku—yang telah beberapa kali bersatu dengannya—dan kenangan-kenangan indah yang tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya kepadaku.

~*~*~

“Kuakui, aku memang cemburu.

Setiap kali kudengar namanya kau sebut.

Namun ku tak pernah bisa, melakukan apa yang seharusnya kulakukan,

Karena memang.. kau bukan milikku..”Disturbance [Keris Patih –  Kejujuran Hati].

~*~*~

Aku lupa jika Kyuhyun telah membatalkan meeting dengan pemilik Perusahaan Desain terbaik. Dan kini, ia datang. Datang ketika aku dalam tahap membencinya. Dan parahnya lagi, ia datang bersama calon istrinya—sungguh, aku benci menganggapnya begitu.

“Waah, ramai sekali,” kataku sok semangat sambil menyindir Kyuhyun dan pacarnya itu.

“Ne, Sooyoung-ssi.” Sahut Seohyun sambil tersenyum. Di depannya sudah ada es krim cokelat kesukaanku. Tunggu..

“Eomma!” seruku kepada Eomma yang tengah mengambil mangkuk tambahan. “Mana es krim cokelatku?!” lanjutku begitu Seohyun menyuapkan sendok es krimnya—yang seharusnya menjadi es krimku ke mulutnya.

“Ada apa?” tanya Eomma, lalu tampak terkejut melihat Seohyun memakan porsi es krim milikku. “Nona… kau boleh memakan semuanya, tapi jangan es krim itu..” katanya tidak enak.

Haha, tebak! Aku yakin sekali Eomma tidak tahu siapa yeoja yang hampir menjadi menantunya itu. Aku jadi heran mengapa Kyuhyun sudah melamarnya padahal orang tuanya belum tentu setuju. Dan masalah es krim, memang sudah wajar jika Eomma akan menyiapkan seporsi es krim cokelat untukku—karena itu adalah kesukaanku. Dan kini yeoja tidak dikenal—haha, aku senang sekali menyebutnya begitu—memakannya tanpa bilang dulu.

“M-mian, Eomma, Sooyoung-ssi.. tapi aku tidak..”

“Aku yang memberikannya kepada Seohyun!” seru Kyuhyun tiba-tiba, ia menatapku dingin lalu melemparkan pandangannya kepada Eomma. “Lagipula calon istriku ini juga suka es krim cokelat!”

Calon istri calon istri calon istri calon istri calon istri calon istri calon istri calon istri

Kata itu berdenyut-denyut di otakku, seperti bola basket yang dipendatkan di otakku.

“Kyuhyun-ah!” pekik Eomma sambil melotot. “Kau tidak bisa memanggil gadis itu begitu!”

Brak, kursi yang tadi diduduki Seohyun terdorong ke belakang dan ‘penghuni’ kursi tadi sudah berlari keluar.

“Tunggu di mobil, Seo-ya!” teriak Kyuhyun kemudian memandang kejam padaku dan pada Eomma. “Aku benar-benar tidak habis pikir pada Eomma dan kau!” serunya sambil mendelik. “Itu kan hanya es krim! Es krim sialan! Aku tidak habis pikir kenapa kau—Choi Sooyoung—yang mendapat gelar cum laude bertingkah sialan seperti itu! Dan Eomma! Sooyoung sudah terlalu sering makan es krim itu, kenapa Eomma tidak membiarkan Seohyun makan itu untuk sekali ini saja?! Aku menyesalkan kenapa kau harus ditampung keluargaku, Choi Sooyoung.”

Deg.

Aku tertegun dengan pandangan kosong dan tubuh tiba-tiba mengkaku, memandang Kyuhyun dengan tirai air mata.

PLAK.

“BICARA APA KAU, CHO KYUHYUN! MANA SOPAN SANTUNMU?! HANYA KARENA YEOJA ITU KAU BERSIKAP SEPERTI ITU KEPADA SOOYOUNG?!”

Aku mengalihkan pandanganku dari Kyuhyun dan Eomma, dengan bibir bergetar dan air mata yang perlahan mengalir. Aku berbalik pergi, berlari menjauh dari meja makan, berlari menjauh dari rumah.

“Sooyoung-ah!”

~*~*~

“Kenapa aku senaif itu mengira kau akan memilihku?

Kenapa aku justru melakukan sesuatu yang hanya akan menyakitiku saja?

Oh Tuhan, kenapa aku melakukan semua itu?” – Disturbance.

~*~*~

Dengan sedih aku mendudukkan diriku sendiri di kursi taman dan menyembunyikan wajahku disana. Mengeluarkan tangisanku disana. Mengeluarkan isi hatiku yang sakit dan terasa pedih. Kyuhyun benar. Memang aku bukan siapa-siapa dalam keluarganya, memang pada kenyataannya aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pacarnya itu.

Kenapa aku berpikiran jika Kyuhyun akan memilihku—seorang yeoja yang tinggal bersamanya selama sepuluh tahun—dibandingkan memilih pacarnya yang mungkin saja baru ia kenal. Aku tahu Kyuhyun, aku tahu ia adalah tipe orang yang mudah terpukau dan jatuh cinta kepada seseorang yang belum tentu tepat untuknya. Sudah sering ia berkata padaku bahwa ia menyukai seorang yeoja karena bakat dan sikap yeoja itu, namun seminggu kemudian ia akan patah hati dan berkata bahwa yeoja yang disukainya itu tidak seperti yang ia harapkan.

Dan sekarang, aku malah berpikiran bahwa aku sama seperti mereka. Yeoja yang tidak ia harapkan.

Kuusap air mataku dengan lengan sweterku yang terasa hangat dan menggigit bibirku agar air mataku tidak kembali mengalir. Aku pandai mengendalikan diri, jika aku tidak pandai, mungkin sekarang semua orang—termasuk Kyuhyun—sudah mengetahui bahwa aku mencintai namja yang tinggal serumah denganku, yang bernama Cho Kyuhyun.

Kembali kuusap air mataku dan memejamkan mataku sejenak. Mungkin jika aku tidak melihat, semuanya akan terasa lumayan baik. Kemudian ketika aku membuka mata, aku melihat mobil Kyuhyun melewati taman dengan kecepatan yang lumayan.

Aku terhenyak, memandang kosong mobil itu. Memandang kosong jendela yang terbuka itu. Memandang kosong seorang yeoja dan namja di dalamnya. Memandangnya, terus memandangnya, sampai sebutir air mata kembali mengalir.

Dulu, aku yang duduk di sampingnya. Aku yang memilih lagu di tape dalam mobilnya. Aku yang bercanda dengannya, aku yang tertawa di sampingnya, aku… dan aku..

Tapi sekarang tidak lagi, aku berada disini, dengan sebuah kursi dingin dan sebuah meja. Dan di sampingnya, duduk seorang yeoja yang begitu ia cintai.

~*~*~

Inilah hatiku, bisakah kau tau sekarang? Haruskah kukatakan aku mencintaimu? Apakah kau tau yang kurasakan setiap hari melihatmu?

Jika kau hanya ada untukku,

Maukah kau berada di sisiku?” – Disturbance [SISTAR – Saying I Love You].

~*~*~

Aku menghela napas pelan ketika melihat tumpukkan e-mail di depanku. Ada lima novel yang harus kuedit dan kukirimkan ke penerbit yang menjadi tumpuan sampinganku. Aku memang memiliki pekerjaan sampingan sebagai editor novel. Dan aku telah mengirimkan surat pengunduran diri di situs online perusahaan Kyuhyun.

Aku tidak mau lagi menemuinya. Aku membencinya. Dan aku telah berjanji kepada diriku sendiri untuk selalu mengecek interkom ketika ada bel berdentang. Aku tidak mau melihatnya kembali, meskipun itu hanya bayangan sekalipun.

Lalu tiba-tiba aku merasakan perutku mual dan seakan-akan makanan yang telah kumakan naik ke atas dan meminta paksa untuk dikeluarkan. Aku memegangi perutku, mengernyit heran, tapi tak urung berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkannya. Tidak ada. Bahkan aku tidak memuntahkan apapun.

Ada apa ini? Kenapa rasanya janggal sekali?!

Aku memandangi perutku, berniat kembali ke kamar untuk mengambil minyak gosok ketika serangan mual itu kembali datang. Aku menunduk di wastafel, mengeluarkan apapun yang bisa kukeluarkan. Sialnya, yang keluar hanyalah ludahku saja.

Aku duduk di atas kloset dan memandang tampias wajahku di wastafel. Pucat, dan terlihat menyedihkan. Aku memang lembur semalam, tapi efeknya tidak pernah separah ini. Serangan itu kembali datang dan aku kembali menunduk di wastafel itu.

Oh Tuhan, apa yang sedang terjadi kepadaku?!

~*~*~

“Bagaimana sekarang?

Ketika aku mencoba untuk pergi darimu, aku malah memiliki alasan kuat untuk tetap berada di sampingmu.

Tuhan, bagaimana ini?” – Disturbance.

 

 

~*~*~

Aku memandangi test pack itu dengan syok.

Baiklah, ini kesalahanku sendiri.

Aku yang tidak meminum obat yang telah disarankan Kyuhyun. Aku yang naif mengira aku tidak dalam masa subur saat itu. Tapi sungguh, aku memang tidak dalam masa suburku. Lalu mengapa hal ini bisa terjadi?!

Sungguh, ini kesalahan besar yang entah mengapa membuatku sangat ketakutan. Aku yang tidak memiliki keluarga—kecuali keluarga Cho yang baik—tiba-tiba memiliki bayi dalam perutnya.

Aku menggigil dan memeluk tubuhku yang hanya dibalut kimono mandi, memandang test pack yang menunjukkan tulisan ‘positif’ itu. Hampir menangis ketika tersadar semuanya bukan mimpi. Aku mengguncangkan tubuhku dengan keras, berusaha membuat otakku sadar bahwa semua masalah ada solusinya, namun yang ada dalam otakku hanyalah mengambil pisau lalu menusukkannya ke jantungku.

Namun aku takut. Aku tidak ingin menjadi orang-orang yang dibenci Tuhan. Orang-orang yang tidak cukup bersyukur diberi hidup yang lebih lama lagi. Aku tahu diluar sana banyak orang yang hanya diberi sedikit waktu di dunia yang menginginkan hidup lebih lama lagi. Dan aku tidak ingin dikenang sebagai seorang yeoja berengsek yang memilih bunuh diri ketimbang hidup dan menjadi seorang ibu.

Oh Tuhan, aku takut.

Aku harus bagaimana?!

Aku tahu bahwa Kyuhyun akan memarahiku dan menolak bertanggung jawab jika aku mengatakan tentang bayi kami yang kini ada dalam perutku. Aku takut jika ia akan membenciku, menyumpahi bayiku, dan memaksaku untuk melakukan aborsi. Aku tidak akan pernah mau. Aku akan lebih memilih dipermalukan orang-orang daripada mengaborsi bayiku sendiri.

Kembali kutarik nafas dalam, dan aku memutuskan akan mempertahankan bayi ini. Bagaimanapun keadaannya, aku akan tetap bertahan untuknya, untuk bayiku dan Kyuhyun.

~*~*~

 

“Bagaimana caranya agar kau mengerti bahwa satu-satunya lampu untukku hidup adalah kau?

Bagaimana caranya agar aku tahu bahwa kenyataannya,

Lampumu itu bukanlah aku.

Melainkan dirinya..” – Disturbance.

~*~*~

Bel apartemenku kembali berbunyi, membuatku merasa was-was. Namun bukannya langsung membukanya—seperti yang kulakukan selama tiga tahun ini—aku malah berbalik untuk melihat ke interkom. Sekedar memastikan siapa yang ada di luar apartemenku sekarang ini.

“Eomma?!” seruku begitu melihat seorang wanita paruh baya berdiri dengan wajah ceria.

“Ne, ini Eomma Sooyoung-a.” suara Eomma terdengar redup karena speaker.

Aku segera berlari ke meja rias, mengecek penampilanku—cukup oke: hotpants bewarna biru, dan kaus gombrong bewarna kuning serta rambut tergerai berantakan. Tidak terlalu bagus, tapi terlihat cukup baik-baik saja—lalu langsung berlari menuju pintu.

“Kenapa Eomma tidak menelepon dulu jika mau kemari? Aku kan bisa menjemput Eomma.” Cetusku sambil meraih semangka yang dibawa Eomma. “Lagipula, kenapa repot-repot membawa buah ini? Pasti sangat berat,”

“Ah, sudahlah, Sooyoung-ah. Eomma kuat kok.”

“Eomma kenapa kemari tiba-tiba?” tanyaku sambil membuka kulkas mungil yang berada di ruang tamu.

“Ah, kemarin keadaan tidak baik-baik saja.” Desah Eomma sambil tersenyum menerima jus dari tanganku. “Eomma merasa itu pasti berat bagimu. Tenang saja, Eomma bahagia bisa menampungmu. Maafkan Kyuhyun, ne?”

Aku mengangguk ragu—itu hanya akting, nyatanya, aku tidak pernah memaafkan Kyuhyun.

“Terkadang Eomma berpikir tentang masa depan kalian berdua. Kyuhyun yang pemarah dan keras kepala, dan kau yang dingin dan tidak pedulian. Bagaimana saat kalian menempuh kehidupan baru?”

Aku menunduk, meremas tangan Eomma yang kugenggam.

Eomma menghela napas. “Eomma kira, hubungan kalian cukup baik. Tapi sekarang sepertinya tidak. Eomma berpikir bahwa sikap Kyuhyun memang keterlaluan. Eomma tidak mengira ia akan berkata begitu kepadamu.”

Aku menggigit bibirku, menahan air mataku. Ya, Eomma benar. Jika saja yeoja itu tidak datang, pasti hubunganku dan Kyuhyun akan tetap baik-baik saja.

“Eomma… berpikir, bahwa sepertinya memang lebih baik jika kita biarkan Kyuhyun menikah dengan yeoja itu. Setidaknya, kekeras kepalaannya akan berkurang sedikit,”

Andwae, Eomma! Andwae! Jangan biarkan Kyuhyun menikah dengan yeoja itu! Andwae Eomma~!

“Appa juga sudah setuju, rencananya Eomma akan mendatangi apartemen Kyuhyun dan mengutarakan segalanya. Lagipula, sepertinya Kyuhyun dan Seojoo itu saling mencintai.”

“Maksud Eomma, Seohyun?”

“Ah, ne. Seohyun.”

Aku menunduk, merasa seolah hatiku ditumpuki sebuah batu yang sangat berat. Aku menahan air mataku kuat agar tidak mengalir. Eomma dan Appa sudah memberikan persetujuannya untuk Kyuhyun menikah dengan Seohyun,

lalu bagaimana dengan hatiku?

~*~*~

“Aku tidak akan meminta banyak, aku hanya akan meminta padamu,

Untuk tidak membenciku ketika kau tahu bahwa aku..

mencintaimu dengan segenap hatiku..” – Disturbance.

~*~*~

From: Cho Kyuhyun

Kau mengundurkan diri?

 

Delete.

Aku mengembuskan napas sedih dan berpegangan pada sandaran sofa, dengan tangan kanan memegang segelas soju. Aku meletakkan ponselku itu dan membenamkan wajahku di bantal, membiarkan air mataku perlahan mengalir, membasahi pipiku.

Siaran drama di teve tidak membuatku mendongakkan kepalaku, membiarkan air mataku semakin banyak mengalir. Aku tahu ini jahat sekali, aku stres ketika dalam perutku hidup seorang nyawa yang menggantungkan sari makannya kepadaku.

Kembali kutenggak soju itu, kali ini aku menenggaknya langsung dari botolnya. Membiarkan minuman keras itu mengaliri kerongkonganku, membiarkan rasa sakitku sedikit menguap.

Eomma…

Appa..

Kenapa aku berdiri dalam pilihan yang sulit ini?

 

Kenapa kalian tak membawaku pergi juga ketika kalian pergi?

Aku menghela napasku dan meletakkan botol soju itu di bawah dan meraih ponselku kembali. Kutekan speed dial Kyuhyun. Meneleponnya.

Sungguh, ketika aku sadar nanti, aku yakin sekali jika aku akan menyesali tindakanku ini.

~*~*~

“Kau mungkin akan tetap baik-baik saja ketika aku pergi, kau mungkin akan tetap dapat bernapas dengan baik.

Sedangkan aku..

Aku akan tetap terkungkung dalam rasa sedih yang tidak tertahankan.

Hingga suatu saat nanti, aku akan sadar bahwa aku hanyalah seorang Disturber..” – Disturbance.

~*~*~

“APA INI, SOOYOUNG-AH?!”

Aku terbangun ketika mendengar teriakan itu, dengan kepala berdenyut keras. Memandangi Kyuhyun—ya, Kyuhyun. Aku memanggilnya datang semalam, kemudian menangis di bahunya tanpa ia tahu apa penyebab aku menangis sekarang—yang berdiri di hadapanku sambil mengacungkan sesuatu di hadapanku.

Aku menajamkan mataku. Kemudian tersentak kaget dan memandangnya takut.

“Ini benar-benar milikmu, Choi Sooyoung?!”

Aku menunduk, meremas bagian bawah selimut tebalku, berusaha menyembunyikan ketakutanku.

Ia menarik kepalaku hingga mendongak memandangnya kemudian mengacungkan test pack itu di hadapanku.

“Aku bertanya sekali lagi. Ini.. benar.. benar… punyamu?”

Aku kembali menunduk, menyadari bahwa tetes-tetes air mata mengalir di pipiku dengan deras.

“Kau.. benar-benar hamil?”

Aku semakin terisak, air mataku membanjir dan aku hanya bisa duduk di atas tempat tidur.

“Kau hamil anakku?!”

Tuhan.. cabut nyawaku sekarang.

“Kau tidak meminum pil itu?! Apa kau memang merencanakan ini dari awal?! Kau tidak meminum obatmu supaya kau dapat menghancurkan hubunganku?!”

Ucapannya itu membuatku merasa seolah-olah aku adalah pelacur penghancur hubungan orang. Tanganku bergerak mengelap air mataku lalu dengan beraninya aku mendongak.

“Ani, aku tidak meminta pertanggung jawabanmu. Aku akan mengasuh bayiku sendiri. Aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai anakmu. dia hanya anakku. Kau, pergilah dengan orang yang kau cintai itu. GA!” teriakku tegas. Meski setelah itu aku menggigit bibirku kuat-kuat,  menahan isakanku.

Tuhan, mengapa rasanya begitu berat untuk hidup sendiri dengan anakku ini?

Tuhan, jawab aku, benar kan jika aku memutuskan akan mengasuhnya sendiri semampuku?!

 

 

~*~*~

“Sekarang, segalanya telah berakhir.

Kau dengannya, dan aku dengan hatiku dan perasaanku yang telah tercacah.” – Disturbance.

~*~*~

Dengan sedih kupandangi dokter di hadapanku kini.

“Kandungan Nyonya sangat lemah, mungkin anda harus benar-benar berhati-hati menjaganya. Hindari alkohol, dan makanan yang tidak sehat, jangan beraktivitas terlalu sering dan jangan membbuat anda stres.”

“Nde, Uisa. Saya akan mencoba menepatinya.” Sahutku pelan, di saat seperti ini, biasanya ada seorang suami yang mendampingin istrinya. Mencoba menguatkannya, membantunya, memperhatikannya. Namun aku… aku malah sendirian, benar-benar sendirian..

“Itu memang harus anda lakukan. Tapi semoga saja bayi nyonya cukup kuat.” Ujar dokter itu dengan senyumannya. “Dimana suami Nyonya? Apa Nyonya pergi kesini sendirian?”

“Aniya, saya tidak sendirian. Suami saya menunggu di bawah, saya memang melarangnya untuk masuk. Ia agak—alergi bau rumah sakit,” tuturku dengan ssenyuman palsu. “Terima kasih, Uisa. Saya permisi.” Lanjutku sambil berjalan limbung, menggenggam tasku erat-erat lalu membungkuk, kemudian berjalan keluar dari ruang praktek.

Sungguh, aku begitu lelah sekarang. Dan kenyataan bahwa kandunganku lemah membuatku semakin sedih. Aku yang dalam keadaan tidak baik, juga kandunganku. Kami sama-sama tidak baik-baik saja. Aku menghela napas dan membuangnya pelan, berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit yang dilalui oleh pasangan suami-istri berbahagia. Ini membuatku sangat iri karena bahkan kebahagiaanku tidak ada setengahnya dari kebahagiaan mereka.

Kulangkahkan kakiku ke trotoar dengan pandangan kosong. Kupandang perutku yang masih rata, agak takjub mengingat ada sebuah nyawa di dalam sana. Jika aku mati, bayiku juga akan mati. Kenapa aku tidak berpikir untuk melakukan ini saja?

Aku menghela napasku, berhenti berjalan dan memejamkan mataku. Ketika aku membuka mata, aku baru menyadari bahwa jalan ramai dengan mobil-mobil. Aku kembali mengembuskan napas, lalu mulai turun ke jalanan.

Tunggu! Apa yang aku lakukan?! Ini sama saja dengan aku bunuh diri!

Aku mengembuskan napasku dan berjalan mundur.

~*~*~

“Eomma sudah menyampaikannya kepada Kyuhyun?” tanyaku sambil menyesap kopi dari Starbuck yang baru kupesan beberapa menit yang lalu.

Eomma mendongak dan tersenyum, “Belum. Eomma dan Appa sudah memutuskan untuk mengatakannya tepat pada tanggal ulang tahun Kyuhyun. Itu mungkin hadiah yang indah,” tutur Eomma.

Aku mendongak, meletakkan cangkirku dan menarik nafas dalam. “Ah, ya. Kyuhyun pasti menyukainya.” Jawabku meyakinkan.

“Kapan kau akan menyusul Kyuhyun, Sooyoung-ah? Dulu Eomma pernah berpikir ingin menjodohkan kalian, tapi sepertinya sekarang itu tidak mungkin. Kyuhyun sudah dengan calonnya dan kupikir juga kalian tidak saling menyukai.”

Senyumku menguncup. Aku menunduk, mengambil kue dalam piring dan memakannya dalam diam.

“Sooyoung-ah? Gwenchana?”

“Gwenchana.”

“Kalau begitu jawab Eomma.”

“Aku… Aku mungkin tidak akan menikah, Eomma.”

“Tidak menikah?! Omong kosong,” Eomma tertawa. “Selera humormu memang bagus, Sooyoung-ah.”

Aku tidak bercanda, Eomma. Sungguh. Aku memang tidak akan pernah menikah.

Tapi aku tersenyum, mengelabui Eomma.

~*~*~

Tanganku bergerak mengetikkan keyword di Google. Mencari nama yang bagus untuk bayiku nanti. Aku memang belum mengetahui jenis kelamin bayiku, namun setidaknya aku akan mencarinya. Aku akan mencari dua nama, satu untuk perempuan, dan satu untuk laki-laki. Jika bayiku laki-laki, aku akan memakai nama laki-laki itu, dan begitu sebaliknya.

Tidak, tidak.

Mungkin menyatukan namaku dengan Kyuhyun terdengar cukup baik.

Aku meringis ketika menyadari bahwa itu tidak mungkin kulakukan. Kyuhyun pasti tidak setuju dan akan menolak mentah-mentah. Tidak. Tapi aku tidak punya ide selain itu. Jadi aku mulai merangkum nama-nama gabungan antara aku dan Kyuhyun.

Gyu Young. Soo Hyun. Hyun Young. Hyun Soo. Gyu Soo.

Semuanya cantik, menurutku.

Aku tersenyum, meraba perutku yang masih rata, lalu menutup laptopku.

Daripada memikirkan nama, mungkin lebih baik aku tidur untuk menyegarkan pikiranku.

T B C

Author Note:

Oke, aku tahu kalo part ini gaje banget ._. Aneh dan jelek. Padahal nih ya, aku uah mikir keras buat bikin jalan cerita yang sekiranya bisa menjelaskan bagaimana plot dan karakter tokohnya, yah tapi gak berhasil sama-sekali karena jadinya malah kayak gini U,U

Kemarin komentarnya banyak banget yang bilang pendek, sedikit, bla-bla, yang kemarin udah panjang kok say, tapi mungkin kebanyakan quotenya makanya jadi dikit ^^

Part ini mungkin lebih panjang (2945 words) dan quotenya lebih dikit. Tapi mungkin alurnya agak melenceng (?)

Betewe, kemarin yang minta pw banyak banget ._. sampe 100-an lebih. Mungkin 150-an. Sampe2 nih ya pas itu kan aku kegiatan, dan hapeku di tas, nah pas buka sampe rumah… gilee, yang SMS ada 50 orang ndiri -_- dan semuanya minta pw ._.

Hapeku touch-screen, bayangin capeknya? -_- mungkin balasan buatku  karena protect yah .-.

Ehem, ehem, dan aku kaget lho waktu sadar yang komentar gak setimpal dengan yang SMS/inbox/mention aku. Aku catetin loh, jadi aku tahu banget siapa yang aktif dan siapa yang kebalikannya. Ada sekitar lima belas-an yang gak komen. Dan secara langsung, orang itu GAK AKAN PERNAH AKU KASIH PW! Liat aja ya *kejeem*

Aku sih maklum kalo jadi sider pas storynya gak di-protect, tapi ini diprotect bo! Berarti kan authornya tahu siapa yang minta! Aduh duh, nekat banget ya ntu sider ._. btw ini kayaknya AN terbanyak deh. *O* Udah aja deh ya…

Tinggalkan komentarmu ^^

Ghamsahamnidaaa~

300 thoughts on “[Chapter 2] Disturbance

  1. Yak kyu oppa jahatnya …. aish aku dapet banget feelnya .. walaupun belum bag part 1 aku langsung ngerti lah jalan ceritanya … aish jinjja si kyu oppa bikin gregetan dah …. aku izin next part ya mei … keep writing. .. kyuyoung jjang …

    Like

  2. bagus banget.. Kyu perannya jahat banget. Ugh kasian mamih, aku koment di part ini tapi kagak tau part sebelumnya, mohon bals tweet aku + follback thor. Pliiisss…🙂

    Like

  3. Aduuhh sedih bangett baca.y, bgmnaa nasib soo slnjut.y,,kyu tegaa bangtt sihh kamuu,,berani.y mlkukan tpii tdkk berniat sdkitpun untukk bertanggung jawab.
    #cerita.y baguss bngett mskipun tdk bca part1 coz di pw,jdilah lgsg ke part2 and koment di part inii

    Like

  4. Aku gak baca chapter 1 nya ya karena di pw, so aku comment di chapter 2 aja ya.
    Ceritanya keren, menarik. Aku kau mau baca chapter selanjutnya, nice ff

    Like

  5. Kyu jahat, kata2nya tajem banget thor. Semoa soo kuat yaa
    Authorr, aku bacanya loncat nihhh
    Chapter 1 nya di protect huaaaaa
    Minta pwnya dong thorr, gomawoo

    Like

  6. kyu ngeselin bgt sumpah
    lg ngapain seo dateng ke hidup kyu segala
    bikin sebel aja
    soo eonni yg tabah yaa
    mending eon cari namja lain aja, siwon opp misal🙂

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s