[Oneshoot] I Promise That Is You


meydaa-38

Title: I Promise That Is You

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Xi Luhan

Genre: Romance, Little Bit Sad

Rating: Teenager

Length: Oneshoot

Credit Poster: Fearimaway@ssoopuding.wp.com

Disclaimer: Keseluruhan cerita adalah milikku. Cast adalah milik Tuhan dan Entertaiment mereka. Aku hanya meminjam nama mereka untuk fanfiction ini. Kamu dapat membaca, tapi kamu harus meninggalkan komentar. Apapun itu! Aku benar-benar tidak menghargai Silent Reader!

Check It Out!

Happy Reading~

~*~*~

Lagi. Mengesalkan sekali mendapati gadis itu bahkan tidak pernah menuruti apa yang ia inginkan. Mengatakan ‘tidak apa-apa’ terus-menerus dan menipu diri sendiri bahwa dirinya baik-baik saja, padahal pada kenyataannya, itu toh tidak benar.

Dan sekarang, gadis itu hanya dapat terkapar di ranjang seperti biasanya ketika kelelahan bekerja. dan tidak bisa melihat gadis itu benar-benar menyiksa. Ia bahkan mengeluh kesal sekarang. Memang benar-benar menyebalkan memiliki pacar yang susah diberitahu seperti pacarnya itu. Apalagi dengan umurnya yang beberapa bulan lebih tua darinya. Baiklah, gadis itu bahkan dua bulan di atasnya—namun pemikirannya bahkan di bawahnya.

Sekali lagi, ia menghela napasnya dan merapikan laptopnya yang masih dalam modus menyala. Ia mematikannya dan memasukkannya kembali ke dalam ranselnya, menata meja yang tadi digunakannya kemudian bangkit mengganti pakaian. Ia keluar beberapa menit setelahnya dan telah mengenakan jins panjang gelap dan T-shirt bewarna biru muda biasa, lalu langsung keluar dari kamar apartemennya.

Selama beberapa menit ia hanya duduk di atas motornya dan mengendalikannya menuju ke rumah kekasihnya yang ‘bandel’ itu. Setelah sampai, ia menatap bayangannya di spion, merasa sudah cukup rapi ia langsung turun dan menekan bel rumah gadis itu.

Pintu terbuka, menampilkan sesosok gadis dengan rol rambut di kepalanya, masker wajah dan piama kebesaran di tubuhnya.

“Kenapa kau tidak bisa istirahat sebentar, saja?” tanyanya dengan nada memohon. “Ini toh demi dirimu sendiri.”

“Masuklah,” sepertinya gadis itu tidak begitu memedulikan ocehannya tadi. “Walaupun sakit, aku toh tetap harus tampil cantik besok.”

“Kau masih berniat mengikuti itu?” sungguh, sekarang rasanya ia ingin sekali menggoncangkan tubuh gadisnya itu hanya untuk membuatnya sadar bahwa ia sedang sakit, dan orang sakit hanya membutuhkan istirahat; bukan kamera dan wartawan yang terlalu banyak bertanya.

“Luhannie,” rajuk gadisnya itu dan memasang wajah memohon. “Aku tidak bisa begitu saja—”

“Ya, Sooyoungie!” bentaknya dengan keras, “berapa kali harus kubilang?”

“Baiklah, baiklah,” ucap gadis bernama Sooyoung itu menyerah. “Aku akan menelepon Yeojin sebentar,”

Sementara ia—namja bernama Luhan yang baru saja membentak kekasihnya sendiri—menenangkan emosinya dengan menarik napas dalam. Bagaimanapun, menghadapi kekukuhan gadisnya itu benar-benar menghabiskan tenaga.

“Untukmu. Sepertinya kau harus mengikuti les kesabaran supaya tidak cepat marah. Beruntung kau punya wajah cute yang membuatmu dikejar-kejar ribuan gadis itu, jika tidak pasti wajahmu sepuluh tahun lebih tua!” komentar gadis itu dengan tanpa bersalah dan menyadari bahwa penyebab namja di depannya marah adalah dirinya sendiri. Gadis itu meletakkan sekotak jus jeruk dan dua buah gelas ramping tinggi di depan Luhan dan menuangkan isinya.

“Dan kau seharusnya menginstropeksi dirimu sendiri dan dimana letak kesalahanmu.”

“Kau hanya cemas. Aku toh sudah besar, ingat tidak? Seharusnya kau itu memanggilku Nuna dan bukannya Sooyoung-Sooyoung seenak jidatmu sendiri!”

“Ya! Tidak ada namja yang memanggil pacarnya sendiri dengan Nuna!” memang, ‘Masalah-Umur’ ini sangat sering menganggu Luhan. Apalagi dengan gadisnya itu yang terus-menerus mengungkit itu. Sampai-sampai ia merutuk dirinya sendiri kenapa lahir dua bulan lebih lama dan bukan dua bulan sebelum gadisnya itu.

“Kau bisa menciptakannya. Semua fansmu di luar sana pasti langsung menirumu.”

Whatever!”  kali ini ia sudah cukup kesal. “Tapi kenapa kau tidak tidur saja? Kenapa malah memilik memakai masker menggelikan itu?”

“Aku hanya ingin cantik, Xi Luhanku sayang.” Jawab Sooyoung dengan ngawur.

“Kau sudah cantik tanpa melakukan ini.” Meskipun dingin, kadang-kadang Luhan bersikap romantis jika dibutuhkan, seperti saat ini. “Cepat tidur. Kau sangat butuh istirahat.”

“Ya, tapi punggungku sakit.”

Luhan mendesah pelan, mengikuti langkah gadis di depannya itu dengan tenang tanpa berusaha mensejajarinya. “Kau membersihkan rumahmu sendiri?” tanyanya ketika melihat rumah dalam keadaan rapi dan sangat bersih.

“Yap, Bibi tidak akan kemari dua hari nanti, jadi aku membersihkannya. Karena itu aku jadi sakit.”

Lagi-lagi Luhan mendesah. Tahu sekali bahwa Sooyoung hanya berkata bohong. Gadis itu tidak sakit karena itu, melainkan karena pertengkarannya dengan aktris lainnya. Luhan mendapat berita itu dari sekretarisnya yang kebetulan adalah fans berat dari Choi Sooyoung. Seharusnya Sooyoung tidak melakukan itu. Pasangan kekasih tidak saling menyembunyikan perasaan dan hal-hal vital seperti ini, pasangan kekasih seharusnya bersikap lebih terbuka.

“Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?” tanya Sooyoung ketika melihat Luhan memandangi pintu kamarnya dengan pandangan kosong. “Masuklah, kau sudah sering masuk ke kamarku, kan?”

Luhan nyengir, memang ia sudah sering masuk—bahkan tidur—dalam kamar itu. Setiap hari liburnya dan hari libur Sooyoung, ia akan masuk ke dalam kamar gadis itu dan selalu menemukan Sooyoung dalam keadaan tidur, dan ia akan berusaha membangunkannya dengan sekuat tenaga. Ia juga pernah tidur dengan Sooyoung—tidak melakukan apa-apa, hanya tidur. Namun keesokan harinya ia harus rela mendapat serangat bantal dan guling yang maha dahsyat.

“Ah, tentu saja,” Luhan berkelit dan menatap gadis itu.

“Aigoo, punggungku sakit sekali~” rintih Sooyoung sambil menelentangkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size miliknya.

“Baiklah, kau tidur, dan aku akan memijat punggungmu sebentar.”

Sooyoung tersenyum penuh kemenangan dan membuat tubuhnya berbalik.

“Waah, Luhannie, seharusnya kau berpindah profesi menjadi tukang pijat saja. Pijatanmu enak sekali,” ujar Sooyoung bercanda.

“Jinjja!” seru Luhan berpura-pura kesal, padahal senyumnya bertengger di bibirnya.

“Apa kau akan menginap disini?”

“Hm?” Luhan berpikir sejenak, “apa kau pikir itu perlu?”

“Yah, mungkin. Tapi bukannya besok kau ada rapat dengan pemilik saham perusahaan?”

“Jangan membicarakan perusahaan. Perusahaan membuatku gila.”

“Yah, dunia artis juga membuatku migrain. Seharusnya kita tidak usah bekerja saja.” Sooyoung nyengir. “Eh, Luhannie, suaramu kan bagus, dan kemarin kau menari di hadapanku, jadi kenapa kau tidak menjadi trainee saja? Lagipula usiamu kan tidak tua… tetapi sangat tua!”

“Ya! Kalau aku tua, kau mau disebut apa? Nenek?”

Sooyoung merengut dan melempar bantal.

“Lagipula, kedengarannya cukup asyik saja. Jangan cemburu ya jika aku mempunyai banyak fangirl di luar sana dan mereka akan sangat cantik dan sek—”

Sebuah bantal terbang telah berhasil menghentikan ucapan Luhan secara langsung.

“Jangan mimpi! Secara langsung, aku akan menjadi haters-mu.”

“Jahat sekali,” gumam Luhan. Jarinya menekan bagian punggung Sooyoung yang menyebabkan gadis itu menjerit kesakitan. “Disini?”

“Ya, sakit sekali. Yeoja itu benar-benar ganas dan tidak ber—”

“Ha! Ketahuan!” seru Luhan semangat. “Kau sakit bukan karena kelelahan, kan? Tapi karena bertengkar dengan artis siapa, itu?”

Sooyoung menunduk, yah Luhan benar.

“Aku hanya tidak ingin mengganggu konsentrasi bekerjamu.”

“Apa kau lupa kalau aku ini namja multi-talent? Kau meremehkan aku, Choi Sooyoung?”

“Aniya, aku hanya merasa bahwa hal ini akan membuatmu khawatir dan merisaukan semuanya.” Ujar Sooyoung dengan nada menyesal. Ia benar-benar tidak menyangka Luhan akan tahu itu.

“Aku tidak apa-apa jika kau mengatakannya secara langsung. Rasanya akan berbeda jika aku mendengarnya dari mulut orang lain dan bukan mulutmu sendiri.” Tutur Luhan tegas. “Jika seperti ini, aku malah mengira diriku tidak ada apa-apanya di matamu.”

“Geumanhae.” Bisik Sooyoung dan bangkit, memandangi Luhan dengan pandangan mata berkaca-kaca. “Maafkan aku karena tidak bisa mempercayaimu. Aku sungguh menyesal melakukan ini. Lain kali aku tidak akan berbohong.”

Tangan Luhan terulur dan mendekap gadis itu. Merasa bahwa Sooyoung melemah dalam pelukannya, ia semakin merapatkan pelukannya dan mengusap rambut panjang gadis itu.

“Gwenchana. Lain kali jangan lakukan ini lagi. Cepat berbaring, sekarang sepertinya aku akan tidur di kamarmu.” Tandas Luhan dan melepas pelukannya. “Selamat malam. Mimpi indah!”

~*~*~

Esoknya ketika Sooyoung terbangun, ia mendapati dirinya sendirian di kamar dan melihat sebuah baki berisi mangkuk bubur hangat—mungkin tadi ketika Luhan meletakkannya panas—dan segelas susu yang sama hangatnya. Ia bangkit dan memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri, kemudian menyadari bahwa ada sebuah kertas di atas baki itu juga.

Selamat pagi.

Bagaimana? Apakah kau sudah baik? Aku sudah memasakkanmu makanan, memang tidak begitu enak, tapi yang penting itu tidak beracun, hehe. Oh ya, kau jelek sekali ketika tidur. Mulutmu menganga seperti kuda nil dan kakimu tidak henti-hentinya mengenai wajahku, aku sampai kesulitan tidur -_-

Sebaiknya ketika bangun kau menyisir rambutmu dulu. Semalam kau lupa melepas rolnya dan mungkin sekarang rambutmu sudah keriting haha.

Makan yang banyak dan habiskan. Jika tidak, AWAS!

P.S: aku tidak menemukan kertas dimanapun. Jadi aku menyobeknya di buku harianmu, aku sudah membacanya lho!

Sooyoung mendesah, agak terhibur juga membacanya. Kemudian ia bangkit menuju kamar mandi untuk mandi.

Beberapa menit kemudian, ia sudah keluar mengenakan pakaian santainya: kaus putih kedodoran dan hotpants bewarna hitam. Ia menguncir rambutnya yang menggelombang dan mulai memakan ketika telepon rumahnya berkedip tanda sebuah panggilan masuk.

“Sooyoung-ah!” terdengar teriakan manajernya, Han Yeojin yang mengesalkan.

“Ne!” serunya balik. Malas mengangkat teleponnya, lagipula mereka masih dapat berbicara meskipun harus berteriak begini.

“Ya, Sooyoung-ah! Angkat teleponnya supaya aku tidak perlu berteriak-teriak!”

“Biarkan saja, aku sedang malas!”

“Ya!”

Sooyoung mengerutkan bibirnya dan bangkit meraih telepon rumahnya itu.

“Ada apa?”

“Cepatlah datang. Kita akan segera berakhir jika kau tidak datang.”

“Apa maksudmu?” tanya Sooyoung sambil menarik kursi plastik yang langsung ia duduki.

“Mereka… Si Tua Kim. Jika kau tidak datang, kau akan digantikan oleh aktris lainnya.”

Sooyoung geram sekali. Bagaimana mungkin Si Tua Kim itu melakukan ini padanya?! Dasar plin-plan! Seandainya saja bukan Si Tua Kim yang memiliki acara TV itu, ia pasti senang-senang saja menjadi salah satu aktris disana. Tapi Si Kim itu… jinjja!

“Ayolah, Sooyoung-ah. Ini satu-satunya kesempatan  kita untuk membuat si es itu sadar diri! Jika tidak, ia akan terus-menerus mencoba merendahkanmu!”

Oh Ya Tuhan, apalagi dengan aktris es yang selama ini selalu menjadi tandingannya. Sooyoung benar-benar tidak habis pikir bagaimana ini bisa terjadi.

“Sooyoung-ah? Kau masih disana?”

Tapi bagaimana? Jika ia datang, pasti Luhan akan mengamuk dan membentaknya lagi. Kemarin saja namja itu sudah marah-marah karena ia memaksakan diri untuk berangkat. Tapi ini satu-satunya kesempatan…

“Soo?”

Oh, ayolah. Otak, ayo berpikir. Temukan satu ide untuk menghadapi semua ini…

Baiklah, mungkin ia memang seharusnya berangkat. Ya, ia akan berangkat. Tidak apa-apa jika Luhan marah, tidak apa-apa jika Luhan mengamuk dan membentaknya lagi. Ia akan mengatakan yang sejujurnya dan berusaha meredam amarah Luhan, mungkin ia akan berpikir hal-hal yang bisa membuat Luhan kehilangan sedikit amarahnya.

Ya, keputusan sudah ia ambil.

Dan sekarang ia benar-benar ketakutan.

“Nde, baiklah.”

~*~*~

Lagi-lagi Luhan menghela napas. Apa penjelasannya kemarin belum jelas juga? Gadis itu benar-benar! Luhan tidak habis pikir, bagaimana Sooyoung tetap memaksakan tubuhnya yang lemah dan sakit untuk mengikuti acara Konferensi Pers itu.

Darimana ia tahu?

Ah, sekretarisnya adalah fans berat dari pacarnya itu. Dan beberapa menit yang lalu sekretarisnya itu memberitahunya bahwa ada Sooyoung Choi di acara TV terkenal. Awalnya Luhan tidak percaya; tentu saja. Ia hanya menyangka acara itu pasti ditayangkan secara tidak langsung, namun persepsinya itu langsung berguguran seperti daun di musim gugur ketika melihat tulisan ‘LIVE’ besar di bagian atas TV.

Luhan meremas stempel cap yang masih berada dalam genggamannya. Ia benar-benar kesal sekarang. Tangannya langsung menyambar telepon genggamnya yang masih berada dalam jarak tarikannya. Luhan mengklik speed-dial satu lalu menunggu panggilannya tersambung.

Yeoboseyo?”

“Ne.” sahut Luhan dengan sok semangat. “Kau tidak berangkat kerja, kan?”

Terdengar jeda sedikit, dan Luhan yakin Sooyoung sedang berusaha menjauh dari keramaian agar ia tidak curiga. Yang benar saja!

“Tentu saja. Kau kan yang kemarin menyuruhku tidak berangkat,” ujar Sooyoung dengan nada datar.

Luhan mendesah, “Sepertinya kita perlu bicara. Jam makan siang, aku akan ke rumahmu dan kita akan makan di kafe seperti biasa.” Tuturnya kemudian langsung menutup telepon bahkan sebelum Sooyoung menjawab.

~*~*~

“Yeojin-ah! Jam makan siang nanti aku harus segera pulang! Luhan mengajakku bertemu.”

Yeojin menoleh dan memandangi Sooyoung, lalu mengangguk.

“Annyeong, Yeojin-ssi, annyeong, Sooyoung-ssi.” Ujar seorang yeoja yang disebut Sooyoung sebagai ‘yeoja es’ tadi.

“Oh, Annyeong, Jessica-ssi.” Sapa Sooyoung balik sementara Yeojin berpura-pura tidak mendengar dan langsung berjalan pergi, membuat Sooyoung kesal setengah mati.

“Kau ingin minum? Kukira berbicara di depan kamera selama dua jam bisa membuat seseorang haus.” Tandas Jessica yang terdengar seperti sindiran di telinga Sooyoung.

“Aniya, aku sama sekali tidak haus. Kukira kau yang seharusnya haus. Kulihat tadi kau banyak berbicara dengan pemilik acara TV dan produser-produser drama. Mm, berniat mendahuluiku?” sindir Sooyoung sambil menatap Jessica tajam.

Jessica tampak agak malu, namun ia berhasil menutupinya. Yeoja itu tersenyum sekilas, sama sekali tidak melupakan wajah datar dan dinginnya itu, yang membuat Sooyoung jengkel.

“Yah, sepertinya aktris baru sepertiku harus berusaha dengan keras dan bertingkah agak licik.”

Sooyoung terbatuk, namun tak urung tersenyum. Setidaknya Jessica bukan seseorang yang munafik yang berpura-pura bersikap baik di balik topeng kejahatannya.

“Jessica Jung!” seru seseorang yang langsung membuat Jessica menoleh, kembali menampakkan senyumannya kepada produser yang tampaknya tertarik dengannya itu.

“Aku akan kembali nanti, Sooyoung-ssi. Kuharap kau menikmati permainan ini.”

Shit! Sooyoung memekik dalam hati dan melirik arlojinya: sudah pukul dua belas. Sepertinya ia harus ijin secepat mungkin sekarang.

~*~*~

Pertama yang dilihat Luhan setelah mengetuk pintu rumah Sooyoung adalah wajah pacarnya itu dalam keadaan bangun tidur. Benar-benar, sepertinya pacarnya itu sangat-sangat pandai berakting. Bahkan Luhan mendapati bahwa rambut Sooyoung—yang dalam acara TV tadi tertata rapi dan dikeriting sedikit—dalam keadaan awut-awutan dan tidak beraturan. Ia lupa Yeojin juga seorang stylist bagi Sooyoung.

“Wah, kau datang terlalu cepat. Aku bahkan belum mandi.” Ujar Sooyoung dan menguap. “Atau aku yang terlalu lambat?”

Luhan mengangkat bahu, berusaha mencari-cari satu kesalahan dalam diri Sooyoung. Maksudnya, seperti make-up yang tertinggal mungkin? Atau apapun. Ia kembali mendongak ketika tidak menemukan apapun, kemudian matanya menangkap ketika Sooyoung mengangsurkan jemarinya ke dalam saku piamanya: cincin.

Luhan tersenyum sekilas, mengikuti Sooyoung yang tampak gugup masuk ke dalam rumah.

“Kau tunggu disini, aku akan mandi sebentar.” Kata Sooyoung dan langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Luhan sendirian dengan segelas jus jeruk di hadapannya.

~*~*~

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Sooyoung begitu pesanan mereka datang.

“Makan dulu.” Perintah Luhan, dan langsung menarik jusnya. Ia diam sebentar, memandangi Sooyoung yang tanpa disuruh pun sudah menikmati makanannya.

Selesai makan, Sooyoung langsung meletakkan sendoknya dan meminum jusnya dengan pelan, kemudian kembali meletakkannya. Sebagai aktris, memang menjengkelkan sekali. Apalagi ia harus selalu memakai penyamarannya setiap keluar dengan Luhan seperti ini.

“Kukira kita sudah bisa berbicara sekarang.”

“Yah, baiklah.” Kata Luhan dengan nada mengambang. “Kupikir, kau datang ke acara itu.”

“Apa?” tanya Sooyoung memastikan.

“Konferensi Pers dan pesta,” ujar Luhan dan memandang Sooyoung acuh. “Kau lupa pada janjimu sendiri.”

Pelan, Sooyoung menelan ludahnya sendiri dan menggoyangkan kakinya sendiri dengan gugup. Sepertinya Luhan tahu terlalu banyak.

“Bukankah kemarin kau tahu rasanya sakit? Kukira aku percaya padamu jika kau sakit karena kelelahan merapikan rumah? Itu konyol, Choi Sooyoung.”

Duh, Sooyoung menelan ludahnya kembali dan menunduk. Jika Luhan menyebut nama lengkapnya, itu artinya namja itu memang sedang marah.

“Aku akan menerimanya jika kau mempunyai alasan yang memuaskanku dan cukup penting.”

Baiklah. Sooyoung menarik napas dalam dan memandang Luhan.

“Aku memang punya masalah penting,” tuturnya dengan nada datar. “Jika aku tidak datang, seseorang akan menggantikanku dalam drama baruku. Aku dan Yeojin sama sekali tidak menerima itu. Jadi aku datang. Itu murni dari pikiranku sendiri.”

Luhan menarik napas dan memandangi Sooyoung.

“Apa kau tidak mengerti juga? Kau sedang sakit, Choi Sooyoung. Seberapa sering aku datang ke rumahmu dan menyaksikan bahwa kau hanya terkapar di kasur dengan temperatur tubuh tidak normal? Aku sudah sangat sering, Choi Sooyoung. Dan melihatmu memaksakan dirimu lebih lagi, membuatku benar-benar menyesal tidak bisa melarangmu.”

“Tapi aku—”

“Waktumu berbicara sudah habis, Sooyoung-ssi. Mulai sekarang, aku yang akan berbicara.”

Oh, Tuhan. Bahkan Luhan memanggilnya dengan ‘-ssi’. Itu menyakitkan sekali.

“Seharusnya kau bersyukur karena tidak mengikuti drama itu. Kau tahu kau bermain dengan siapa, kan? Kris Wu, apakah kau lupabetapa playboy-nya dia? Aku takut kau akan sakit lagi jika bertemu dengannya. Seharusnya kau bersyukur karena produser itu akan menggantikanmu. Dan aku juga bersyukur karena itu.

“Sooyoung-ssi, kuharap kau mengerti betapa khawatirnya aku ketika kau sakit. Apa kau lupa ketika aku datang tengah malam hanya karena kau hampir mati kelaparan? Apa kau lupa ketika aku datang di tengah badai salju ketika kau demam tinggi dan tidak bisa bangun? Kau tidak tahu kan seperti apa rasa kekhawatiranku? Aku benar-benar berusaha menjadi dewasa untuk mengimbangi sikap kekanakanmu. Aku benar-benar berusaha untuk tetap ada di tengah jadwalku yang padat. Aku benar-benar… apa kau tahu itu?”

Sooyoung menunduk, merasakan air matanya mengalir di balik kacamata hitamnya.

“Kumohon, sekali ini saja, Sooyoungie—maukah kau membatalkan drama itu?” kini Luhan menggenggam tangan Sooyoung dengan erat, memohon dengan sangat. Sebenarnya bukan karena itu saja Luhan melarang Sooyoung mengikuti drama itu, namun juga karena Kris Wu itu. Dulu sebelum Luhan mengenal Sooyoung, gadis itu pernah berpacaran dan dicampakkan secara kejam oleh Kris. Dan Luhan datang ketika Sooyoung bahkan masih sangat mencintai Kris.

Kau tahu apa alasannya?

Ya, karena Luhan takut Sooyoung akan berbalik mencintai Kris lagi. Luhan yakin sekali di lubuk hati gadis itu, pasti masih ada secuil asa untuk Kris, dan ia benar-benar akan kalah jika dibandingkan dengan namja itu.

“Maukah kau, Sooyoungie?”

Sooyoung mendongak.

“Maaf, aku tidak bisa. Jika kau tidak dapat menerima itu, mari kita putus.”

~*~*~

“Tuan, ada Nona Choi Sooyoung di televisi. Dia akan bermain bersama Kris Wu di drama terbarunya—”

“Hentikan, Chanrin-ssi. Fokus saja dengan pekerjaanmu.” Ujar Luhan dengan dingin dan kembali menanda-tangani berkas-berkas di hadapannya. Mengacuhkan Chanrin. Sementara sekretarisnya itu memandangi Luhan dengan aneh, tidak biasanya bosnya itu bertingkah seperti ini.

“Ada apa lagi?” tanya Luhan dengan galak, membuat Chanrin buru-buru mundur sambil menggerutu. Bagaimana dengan bosnya itu? Padahal biasanya Luhan langsung semangat ketika Chanrin mengatakan Sooyoung ada dalam TV.

Luhan menarik napas dalam dan meregangkan otot-ototnya yang kaku dan menguap. Sudah beberapa jam ia duduk di ruangannya, bahkan ia melewatkan jam makan siang dengan menghadapi berkas-berkas itu. Sekarang, rasanya tulangnya akan putus jika ia tetap memaksakan diri. Lagipula, perutnya lapar.

Luhan segera bangkit keluar dan menitip pesan pada Chanrin bahwa ia sedang tidak enak badan dan memutuskan pulang. Ia berjalan sendirian dan berdiri menunggu lift datang, kemudian masuk dan memencet tombol lantai dasar. Sementara menunggu lift sampai, ia merogoh saku celana panjangnya dan menarik keluar ponselnya. Berharap mendapat sebuah pesan penyesalan dari Sooyoung, yah meskipun pada akhirnya ia mengerti bahwa itu tidak mungkin tejadi.

Pintu lift terbuka, dan keramaian secara langsung menyambutnya. Ada beberapa pegawai yang tersenyum kepadanya, yang ia balas dengan senyuman tipis.

Setelah masuk ke dalam mobilnya, akhirnya Luhan sadar bahwa dirinya bertingkah seperti mayat hidup atau zombie sejak kemarin. Luhan benar-benar kecewa dengan pemikiran Sooyoung dalam masalah mereka berdua ini. Kenapa Sooyoung tidak pernah mengerti jalan pikirannya? Kenapa perempuan itu bahkan tidak pernah mencoba mengerti dirinya? Padahal Luhan sendiri berusaha keras mengerti yeoja itu. Ia bahkan menanyakan hal-hal yang disukai perempuan pada Chanrin dan Eommanya. Kenapa Sooyoung tidak bisa melakukan itu?

Luhan menarik napas dalam, mengembuskannya, lalu mulai menggerakkan mobilnya keluar dari pelataran parkir.

Jika Sooyoung bisa mengatakan dan menjalaninya dengan mudah, kenapa ia tidak?

~*~*~

“Sooyoung-ah! Aktingmu bagus sekali! Dan Kris-ah, kau juga! Kalian benar-benar meresapi karakter masing-masing. Tapi Sooyoung-ah, seharusnya pada bagian kau menampar Kris, kau menangis. Tapi tidak apa-apa, ini sudah cukup bagus!”

“Ghamsahamnida~” Sooyoung dan Kris menjawab bersama-sama dan menunduk.

“Ehm, Sooyoung-ssi? Kau ada acara setelah ini?”

Sooyoung menoleh kepada Kris dengan pandangan kosong. Ia benar-benar tidak mood mengikuti syuting ini. Beruntung, syuting kali ini adalah adegan dimana Sooyoung menemukan pacarnya—Kris—sedang berselingkuh, dan hubungan mereka hancur. Yah, setidaknya keadaan tokoh yang dimainkannya saat ini sama dengan keadaannya.

“Sooyoung-ssi?”

“O-oh, ne. ani, tidak ada.”

“Mau minum kopi bersama?”

~*~*~

“Bukannya menyenangkan kita bisa bertemu lagi?” tanya Kris sambil menyesap kopinya dengan pelan. “Aku langsung menerima tawaran syuting itu ketika tahu bahwa pemain yeojanya adalah kau.”

Sooyoung hanya mengangguk sekilas,. Benar-benar tidak mood berbicara seperti ini. Apalagi dengan keadaan sakitnya, dan ditambah dengan patah hatinya..

Ah, benar. Ia benar-benar menyesal telah meminta putus dari Luhan. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa namja itu akan mengatakan ‘ya, baiklah’ seperti yang dikatakan Luhan kemarin. Ia benar-benar tidak habis pikir kenapa mulutnya dengan tega mengatakan itu. Sooyoung tahu Luhan kecewa, dan bahkan namja itu memaksa mengantarkan Sooyoung dulu sampai di rumah, kemudian baru pergi.

“Ehm, Sooyoung-ah? Apakah kau baik-baik saja?”

“Kris-ssi, kepalaku pusing, sepertinya aku akan pulang saja. Maaf,. Aku pergi~” ujar Sooyoung buru-buru dan langsung bangkit.

~*~*~

Perlahan kakinya menyusuri taman kota yang menjadi tempat pribadinya dengan Sooyoung. Hanya segelintir orang yang bermain disana, dan salah satunya adalah Luhan. Luhan sendiri hanya melamun dan membiarkan kakinya melangkah kesana-kemari, berjalan melewati kenangankenangannya bersama Sooyoung. Rasanya masih baru sekali, dan ini benar-benar tidak nyaman.

Luhan tidak terbiasa sendiri, hubungannya dengan Sooyoung bahkan telah terjalin setahu lebih lima bulan, dan sekarang tidak ada Sooyoung di sampingnya. Ia benar-benar merasa aneh.

Matanya menemukan kursi kayu yang biasa ia duduki dengan Sooyoung ketika bermain kemari dan ketika memakan es krim. Ia langsung duduk dan memandang ke depan dengan agak sedih. Ingatanya terbang begitu saja, dan ini rasanya benar-benar menyakitkan.

“Maaf, boleh aku duduk disini?” tanya seseorang tiba-tiba, membuat Luhan yang sedari tadi duduk membelakangi menoleh, kemudian keduanya terperanjat.

~*~*~

“Yeojin-ah, aku akan pergi ke taman sebentar. Kau pulang saja duluan, biar nanti aku naik bus saja.” Ujar Sooyoung sambil menunjuk taman dengan dagunya. Mobil itu berhenti tepat di samping taman.

“Hati-hati, jangan sampai menarik perhatian.” Kata Yeojin sambil tersenyum, kemudian mengepalkan tangannya dan mengangkatnya. “Fighting!”

Sooyoung tersenyum sekilas kemudian melepas sabuk pengamannya dan berjalan keluar. Entah kenapa, langkah kakinya menuntunnya untuk duduk disana: di tempat kenangannya bersama—siapa lagi?

Berkali-kali Sooyoung memetik bunga-bunga cantik yang tumbuh secara ilegal di atas rerumputan liar. Ia tersenyum, mengingat ketika dulu Luhan membuatkannya sebuah mahkota dari dedaunan mungil dan bunga-bunga seperti ini.

Ia tiba di sebuah kursi yang biasa ia duduki dengan Luhan, matanya menangkap seorang namja lain yang tengah duduk membelakanginya sambil bersandar. Sooyoung mengernyit: namja itu bahkan masih memakai seragam kerja berupa jas. Sooyoung sama sekali tidak mengenali namja yang membelakanginya ini, bagaimana mungkin ia mengenalinya jika namja itu bahkan tidak menampakkan wajahnya?

“Maaf, boleh aku duduk disini?”

Namja itu menoleh, memandang tepat di mata Sooyoung, lantas keduanya terpana.

~*~*~

“Maaf, mungkin tidak seharusnya aku duduk disini,” ujar Sooyoung dengan kaku ketika mengenali namja itu, namja yang sudah berhari-hari berhenti mengisi hatinya, meskipun bayangannya masih tetap melekat erat dalam otaknya.

“Apakah aku melarangmu?” tanya Luhan, memandang wajah Sooyoung dengan datar. Hal yang membuat Sooyoung mengira bahwa namja itu telah berhasil melupakan dirinya.

“Memang tidak.” Kata Sooyoung dengan gugup, kemudian melambaikan tangannya. “Ah, bicara apa aku ini.”

“Kau tidak berbicara ngawur.” Kata Luhan dengan nada datar dan menatap ke depan. “Aku kebetulan berada disini. Rasanya aneh melihatmu disini juga,”

Sooyoung menunduk, merasakan sakit di hatinya semakin menjadi kala melihat Luhan dalam keadaan baik-baik saja: bukan terluka sepertinya. Ia memang bodoh, dan ini terasa lucu sekali. Bukannya kemarin dirinya sendiri yang meminta putus? Kenapa sekarang rasanya ia tidak terima melihat Luhan baik-baik saja? Ah, otaknya pasti terbentur sesuatu.

“Hmm…,” gumam Sooyoung pelan dan meremas sedikit kelopak bunga yang tadi dipetiknya. “Sekarang seharusnya kau memanggilku Nuna.”

Luhan mengangkat sudut bibirnya pelan. “Tapi aku tidak mau.”

“Bicara apa kau ini! Sungguh tidak sopan kepada orang yang lebih tua!”

Ah, perkataan Sooyoung membuat Luhan sedikit sedih. Bagaimana mungkin ia memanggil seseorang yang masih sangat dicintainya dengan Nuna? Ia bahkan ingin sekali menghapus jarak umur itu.

“Maafkan aku.” Ujar Luhan pelan tanpa menatap Sooyoung sama sekali. Pandangannya datar sekali.

“Untuk? Bukannya aku yang seharusnya meminta maaf? Aku berbicara agak kasar kemarin.”

“Kemarin?” tanya Luhan, menoleh menghadap Sooyoung. “Itu bahkan sudah seminggu yang lalu.”

Sooyoung meneguk ludahnya. “Aku—menyesal mengatakannya.” Ujarnya dengan sedih. “Tidak seharusnya aku mengatakan itu. Kau berniat baik, dan aku menghancurkannya begitu saja. Aku bahkan tidak memedulikan perasaanmu.”

Luhan tersenyum, tipis. “Ini semua kesalahanku. Aku yang terlalu memaksamu untuk berhenti dalam dunia aktris itu. Aku benar-benar tidak menyukai ketika kau harus melakukan adegan skinship, apalagi jika namjanya adalah seseorang yang dulu sangat kau cintai.” Tuturnya. “Aku memikirkannya dalam-dalam, dan sadar bahwa aku terlalu paranoid.”

“Kau cemburu?”

“Itu terdengar kekanakan,”

“Ya! Perasaan cemburu itu wajar!”

“Tapi kau jelek, kenapa aku cemburu kepadamu?” ejek Luhan dan memasang wajah mengesalkan yang membuat Sooyoung menjitaknya. “Dasar Nuna galak!”

“Biarkan, Dongsaengku yang jelek~”

“Jadi… Bagaimana? Kita tetap putus seperti ini? Atau kembali seperti dulu?”

“Aku berpikir untuk tidak kembali,” ucap Sooyoung, yang membuat Luhan langsung diam. “Maksudku, tidak kembali ke Kris. Itu kan yang kau pikirkan?”

Ttuk!

“Ya!”

“Baiklah, kita kembali?”

Sooyoung mengangguk dan tersenyum.

Kemudian, tanpa diketahui siapa yang memulai, bibir mereka sudah menempel satu sama-lain..

E N D

Author Notes:

Annyeong~ *kibar bendera*

Waaah ini SooHan fiction pertamaku, rasanya neh waktu bikin ini.Kenapa? Soalnya aku udah terlalu seringbikin KyuYoung fict keke~

Ancur banget, kan? padahal aku udah berusaha bikin ff ini romantis dikiit aja, yah meskipun aku menganggap ffku yang paling romantis adalah ini. Kenapa aku gak bikin KyuYoung? Yaah, karena mudah aja ngebayangin Luhan dengan sisi romantisnya yang benar-benar menggoda, dan feelnya mudah dapett banget😄 Sedangkan Kyuhyun? Susah, dari wajahnya aja udah kentara dia tipe cowok dingin yang gak romantis. Itu yang membuatku bikin SooHan.

Gitu aja deh ya, buat yang baca, tolong tinggalin komentar kalia ^^

Ghamsahamnidaa~

42 thoughts on “[Oneshoot] I Promise That Is You

  1. jinja ?
    neomu neomu daebakkk thorrr b^^d
    pingin ASnya dong thor jebalyo *puppy eyes#faileda

    pingin baca ff pairing SooHan lagi ^^
    Keep Writing ^^9
    HWAITING ^^9

    Like

  2. ARGGGHH!! Aku envy banget!! Entahlah, setiap baca FF yang main castnya Lulu gege pasti envy ama yeojanya. apa mungkin karena bias aku Lulu gege ya?
    Soo eonni, biarkan aku saja yang menggantikanmu waktu adegan itu, Cha Jebal!#plak.
    Soo untuk Kyu aja. Luhan untuk aku. eotthe?#dirajang author.
    Btw, ff ini Jjang! Aku pengen banget punya namja kayak Luhan. Hwaiting!!!!!

    Like

  3. manisnya percintaan ala soohan, hihihi….
    sooyoungie harusnya beruntung banget punya pacar yang perhatian gitu, eh malah minta putus lagi, ckckc…
    tapi untunglah mereka nggak bisa hidup tanpa satu sama lain, balikan lagi deh!
    weet ending! i love it!

    Like

  4. Iihh endingnya imut :3
    sooyoungie denger tuh kata luhan !
    Jangan terlalu maksain diri kkk~
    keren thor😀 lucu :3
    keep writing😀

    Like

  5. Siapapun pairing ny asal yeoja ny sooeon gk mslh thor…..
    Tp, emg rda aneh. Krn gk biasa mbaca pairing soohan.

    Like

  6. Kupikir soo eon bakalan kg mau balikan eh malah😀 haha nice story thor, akhirnya ketawa juga… Baca ff ini, momentnya lucu aku suka *apaansih-.-* ditunggu ff lainya😀

    Like

  7. Iih susah banget loh cari ff yg pairingnya soo eon itu luhan oppa🙂
    Tapi daebak, aku kebayang muka cute + unyu nya luhan oppa pas baca nih ff :*

    Like

  8. Daebak thor😀😀
    SooHan romantis juga ye *3*
    hemm, iyasih ya Kyuhyun mukanya kan muka orang ngajak kelahi (?)

    Like it🙂 ditunggu FF yang lain yuhuuu~

    Like

    1. aq pgn request pairing soowon dunx… ide critany pkokny marriage life klw siwon slingkuh dgn yeoja lain tp ttp pura2 bae ke soo dy sadar klw slama ni slh stlh ngehamilin yeoja slingkuhanny itu. mrk akhrny cerai n ujungny dibuat happy ending.

      Like

      1. jadi kayak nikah dipaksa gitu? masih belum jelas ._.
        tapi maaf ya, aku susah ngebayangin Siwon jadi bad boy ._. dia tipenya cowok setia😄

        Like

  9. ffnya daebak. Tp bner deh, aku ngebayanginnya kyuyoung. Luhan trlalu cute kali ya. Haha. Cause I’m knight so, bkin ff kyuyoung lagi yaaaa.

    Like

  10. Yeay soohan balikan! \(´▽`)/
    Feelnya dpt thor..
    Kasian luhannya😦
    Soo sama sica berantem ya?😮
    Ditunggu ff soo-pairing lainnya ya hehe

    Like

  11. Ћǝ…”=))
    =D=)) ћǝ…=D
    < ћǝ…” =))
    _/\_ ” ћǝ…”:D….
    Keren ff nya,
    Tapi bacanya juga rada aneh…
    Karena memang biasanya eonnie buat ff kyuyoungkan???
    Tapi ga ppa aku tetap suka kok

    Buat ff lainnya HWAITHING EONNIE!!!!😉

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s