[Chapter 3] Disturbance


disturbance-by-meydaawk-re-do

Title: Disturbance

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

-Seo Joo Hyun

Genre: Sad, Romance

Rating: Teenager

Length: Chaptered

Backsound:

Disclaimer: Keseluruhan cerita dan plot adalah milikku. Tokoh milik Tuhan mereka masing-masing, aku hanya meminjamnama mereka untuk fanfiction ini. Jika ada kesamaan, mungkin hanya kebetulan semata dan bukan aku yang memplagiat. Kamu boleh membaca, tapi kamu harus meninggalkan komentar. Aku benar-benar tidak menghargai Silent Reader!

Credit Poster:Fearimaway or KyuYoungCHILD

Check It Out!

Happy Reading~

~*~*~

“Keajaiban ketika aku menyadari bahwa kau tidak hanya peduli dengannya,

namun padaku juga. Bisakah ini berjalan selamanya?” – Disturbance.

~*~*~

Ting!

Aku memandang ke arah laptopku yang masih dalam modus menyala, mendekatinya dan memuka chat yang baru saja masuk.

 

GaemGyu: Kau! Kau mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas! Dan kau mengganti nomormu?!

Aku tertegun. Memandang chat itu dengan sedih. Ternyata ia peduli padaku.. yah, walaupun kepeduliaannya padaku tidak sebesar kepeduliannya kepada Seohyun, itu tetap membuat hatiku berdesir bahagia.

Kemudian aku tersadar bahwa mungkin saja ia melakukannya karena disuruh oleh Eomma, atau Seohyun. Hal itu membuatku terhempas jatuh.

 

Summerie: Ya.

Now, Summerie is sign out.

Bodoh. Jujur aku tidak ingin bersikap menjauh seperti ini. Namun aku tidak punya pilihan lain. Jika aku tetap dekat dengannya, aku yakin aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Dan itu akan berefek mengerikan.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan mematikan laptop secara manual, yang aku yakin tidak akan berefek apa-apa, kemudian berjalan menuju dapur, mencari makanan dan susu untuk kesehatan bayiku.

~*~*~

“Kandungan Nyonya membaik. Tidak selemah seperti yang kemarin, anda harus sering-sering membuat diri anda bahagia, karena itu mempunya efek baik kepada bayi anda.”

“Nde, Uisa.”

“Sekarang anda harus banyak mengonsumsi makanan sehat dan susu pertumbuhan bayi. Hanya itu saran dari saya, dan tolong jangan banyak beraktivitas, lebih baik anda menghabiskan waktu dengan tidur, makan, dan jalan-jalan sebentar untuk refreshing.”

“Nde.”

“Nah, sekarang anda boleh pulang.”

Aku tersenyum, membungkuk sebentar dan berjalan keluar dari ruang praktek itu. Tapi sebelumnya aku tersenyum dan mengelus perutku yang mulai menggembung, bayiku sehat. Terima kasih Tuhan..

“Sooyoungie?!”

Aku tersentak dan berbalik, memandang wajah orang yang paling tidak ingin kulihat sekarang. Wajah itu..

“Eomma~”

“Untuk apa kau kemari?!” ia bertanya, lalu pandangannya turun menuju perutku. “Kau…?”

Aku menunduk, perlahan air mataku mengalir.

~*~*~

“Kau benar-benar hamil, Sooyoung-ah?!” seru Eomma membuat hatiku seakan diinjak-injak. Pedih sekali. “Jinjja?” kali ini suaranya begitu lirih dan sarat penyesalan. Mungkin Eomma merasa malu memiliki anak sepertiku.

“Eomma~” aku merintih sambil memeluk tubuh wanita paruh baya itu. Memeluknya dengan erat, melepaskan air mataku. Tidak, aku tidak ingin menahannya lagi. Cukup sudah pertahananku sekarang.

“Siapa ayahnya, Sooyoungie? Siapa?” kini aku melihat air mata mengalir di pipi Eomma. Aku semakin erat memeluknya, menumpahkan segala rasa sakit hatiku di bahu seorang Eomma yang peduli kepadaku. Ani, mungkin satu-satunya yang peduli.

Setelah beberapa menit menangis, aku merasa lelah dan melepaskan pelukanku.

“Katakan, Sooyoungie, siapa yang menghamilimu?”

Aku tersendat, lalu hanya dapat menunduk. Tidak mungkin jika aku mengatakan bahwa ayah dari bayiku ini adalah seorang namja yang begitu kami—aku dan Eomma—cintai yang tidak akan mau mengakui bayi ini.

“Aku… tidak akan mengatakannya Eomma.”

“Dia tidak mau bertanggung jawab?”

“Dia berengsek,” aku tersenyum lalu menggigit bibirku.

“Tapi seharusnya ia—”

“Aku tidak mau menikah dengan laki-laki berengsek, Eomma. Jangan paksa aku.”

“Baiklah, dia memang berengsek!”

Aku tersenyum, menyadari bahwa Eomma menyumpahi anak kandungnya sendiri.

~*~*~

“Mungkin inilah akhirnya,

Kau bahagia bersamanya, meninggalkanku,

Sedangkan aku masih tetap menggilaimu..” ­– Disturbance.

~*~*~

Sejak mengatakannya kepada Eomma, bebanku terangkat sedikit. Eomma berkata bahwa tidak apa-apa jika aku mengandung di luar nikah, tanpa menikah pula. Dan Eomma juga bilang bahwa ia tidak akan membiarkanku menikah dengan laki-laki yang salah. Itu membuatku merasa bahwa aku masih ada orang yang mencintaiku, meskipun orang yang kucintai justru tidak melakukan hal itu.

Dan hari ini  Eomma terpaksa pulang ke Busan karena tiba-tiba saja Appa sakit. Awalnya aku ingin datang, namun Eomma menolaknya karena sebuah alasan yang tak pernah kuketahui. Belakangan, aku baru tahu penyebab itu. Eomma takut Appa akan murka kepadaku. Dan sungguh, itu membuatku merasa bahwa Eomma adalah wanita penyayang terbaik di dunia.

Lagi-lagi aku melamun. Aku tersadar dan langsung mengaktifkan kembali laptopku yang dalam modus screen saver. Aku membuka e-mail dan mulai membaca novel-novel yang harus kuedit. Setidaknya cerita dalam novel itu menarik sehingga aku tidak bosan.

Ting!

Aku mengernyitkan dahiku bingung dan membuka kolom chat.

GaemGyu: Kau kenapa? Apa kau… baik-baik saja? Seohyun mengkhawatirkanmu.

Aku mengembuskan napas, merasa sakit itu kembali menyerangku secara tiba-tiba. Aku meraih cangkir cokelat panasku dan menyesapnya pelan, tidak tahu harus membalas chat itu atau tidak. Aku menghela napas, meletakkan cangkir pada tempatnya dan meletakkan jari-jariku di atas keyboard yang terasa hangat.

Summerie: Ya. Gwenchana.

 

Ah, aku sungguh kesal kepada diriku yang selalu bersikap dingin kepada Kyuhyun. Tapi aku tidak mau membuka kembali luka yang sekarang berusaha kupendam. Tidak. Aku tidak ingin merusak hubungan orang lain walaupun pada kenyataannya, aku sungguh ingin melakukan itu.

GaemGyu: Kau sedang apa? Apa bayimu dan kau.. baik-baik saja?

 

Bayimu bayimu bayimu bayimu bayimu bayimu bayimu bayimu bayimu bayimu bayimu

Jika ia mengakui bayiku, ia pasti menyebut bayi ini sebagai: anakku. Tapi tidak, ia mengatakan: bayimu. Artinya, bayi dalam perutku kini adalah hanya bayiku. Bukan bayinya. Aku mencengkeram kausku, menggigit bibirku yang bergetar, dan memejamkan mataku. Air mataku mengalir begitu saja.

Kenapa aku terus-terusan menangis?! Kenapa aku berubah secengeng ini?!

Oh Tuhan, aku tidak boleh begini.

Ini konsekuensiku karena menjalin hubungan laknat seperti itu dengan Kyuhyun…

Lalu mengapa aku tidak bisa berhenti menggilainya?!

Summerie: Bukannya kau menginginkan aku dan bayiku menyingkir? Tidak usah pedulikan aku. Dan jangan datang ke pertemuan keluarga lagi. Kau boleh datang minggu kedua. Tapi tidak dengan minggu pertama.

 

Sarkastik.

Sungguh, tanganku menekan tombol keyboard begitu saja, tanpa memedulikan efeknya pada hatiku. Sebenarnya ini sangat menyakitkan. Seakan-akan aku mengatakan bahwa aku membencinya dan aku tidak ingin menemuinya lagi, padahal dalam hatiku berlainan.

Aku mencintainya.

Aku mengakui itu. Dan bagaimanapun usahaku, mungkin aku akan tetap mencintainya.

Suara ting! Nyaring tanda ada chat baru masuk menyadarkanku dari lamunanku sendiri. Aku menajamkan mataku, berusaha menghilangkan tirai air mata yang mulai nampak.

GaemGyu: Mereka orang tuaku.

Summerie: Apa peduliku?

GaemGyu: Aku benar-benar menyesali sikapmu ini.

Summerie: Seandainya kau tahu hatiku, kau pasti tidak akan menyesalkannya.

GaemGyu: Apa?! Apa isi hatimu?

 

Now, Summerie is sign out.

Aku menutup laptopku dan mengeluh sedih. Kenapa aku ini?! Kenapa aku terus bertindak pengecut? Kenapa aku selalu pergi sebelum masalah terselesaikan? Aku tahu bahwa mungkin masalah ini tidak akan terselesaikan, namun setidaknya aku harus maju menghadapinya, bukannya seperti bermain petak umpet begini.

Tidak, aku akan menghadapinya.

Now, Summerie is online.

GaemGyu: Kenapa kau terlihat seperti menghindariku?

 

Aku berpikir sebentar. Apa aku harus menjawab jujur? Atau kebalikannya?

Summerie: Ah ya. Aku memang menghindarimu.

Summerie: Jangan ganggu aku. Pekerjaanku menumpuk.

Ini adalah Penutupan-Diri yang terselubung. Aku yakin aku tidak akan terlihat pengecut. Aku mungkin akan menjadi cukup baik dan pemberani di hadapan Kyuhyun. Setidaknya, aku akan terlihat seperti Choi Sooyoung yang sedang mengacuhkan seseorang.

~*~*~

“Berantakan sekali,” komentar Eomma ketika baru masuk ke dalam apartemenku. “Baiklah, Eomma akan lembur membersihkannya.”

“Lupakan saja, Eomma,” kataku sambil menyesap kopi yang baru beberapa menit lalu kubeli di lobi bawah. “Hari ini kita jalan-jalan saja!”

“Kau yakin?”

Oh baiklah. Eomma selalu mengira aku tidak baik-baik saja, padahal kebalikannya, aku baik. Yah setidaknya kesehatanku oke, meskipun hatiku tidak bisa dibilang baik-baik saja. Eomma begitu peduli padaku, bahkan demi aku ia rela membohongi Appa. Ia bagaikan pahlawanku.

Mungkin aku malah lebih menyayangi Eomma—yang notabene adalah ibu tiriku—daripada menyayangi Eomma kandungku yang telah berpulang.

Terkadang, aku memang merindukan Eomma dan Appa. Namun aku selalu berhasil tersenyum, meski pada kenyataannya aku sudah lupa bagaimana wajah Eomma dan Appa kandungku.

~*~*~

Aku terduduk begitu saja. Kaget mendapati Eomma berhasil membobol password Ms. Word-ku, yang selalu gagal di bobol oleh Kyuhyun atau teman kerjaku yang memiliki gelar sarjana. Dan sekarang… Eomma…

“Sooyoungie—” Eomma tersendat dan menarik bahuku, memandangku dengan wajah panik dan tegangnya yang begitu nyata. “Ini semua benar?”

Dan air mataku membuncah begitu saja, aku kembali menangis terisak-isak sambil memeluk Eomma.

“Sooyoungie~” kali ini suara Eomma terdengar merintih. Tubuhnya dalam pelukanku meleas dan aku merasakan bahuku basah. “Bagaimana mungkin ini terjadi?!”

“Aku tidak tahu, Eomma.. tidak tahu,” jawabku dengan serak.

“Kau seperti ini dan Kyuhyun malah merencanakan pernikahannya dengan yeoja lain? Jinjja!”

Aku tahu Eomma tidak benar-benar berkata seperti itu. Ia hanya menenangkan dirinya saja, ia hanya berusaha menyadarkan dirinya bahwa ini benar-benar terjadi—bukannya mimpi.

“Eomma—Eomma benar-benar tidak menyangka Kyuhyun tega melakukan ini! Eomma benar-benar akan melabraknya!”

Andwae, Eomma. Andwae!” seruku cepat-cepat. “Tidak akan ada yang bertanggung jawab, tidak apa-apa. Tidak apa-apa,” aku menggeleng dengan air mata terus mengalir. “Aku bisa mengasuh bayiku sendiri, tanpa ayah. Tidak apa-apa, Eomma..”

“Aniya,” Eomma bangkit. “Beri waktu untuk Eomma berpikir,”

Kemudian Eomma berjalan pergi, meninggalkanku bersama setumpuk hasil belanjaan kami seharian ini.

~*~*~

Aku kembali mengoleskan losion di kulit tanganku, ketika suara ting! Keras dari laptopku terdengar. Aku menggeser pelan posisi dudukku, menghadap laptopku dengan datar.

GaemGyu: kita bertemu di kafe hari ini. Hanya berdua.

Aku memandang layar itu takjub, sudah beberapa bulan ini ia tidak lagi mengirimiku pesan chat ataupun berusaha menghubungiku. Ia seolah-olah berhenti. Dan sekarang, kenapa tiba-tiba ia mengajak kami bertemu?

Summerie: kafe? Aku tidak ingin kesana, terlalu ramai.

GaemGyu: kalau begitu di taman.

Dingin. Aku tahu bagaimana Kyuhyun itu. Ia mengirimkan pesannya itu dengan dingin dan tanpa nada. Dan aku mulai takut, aku takut jika ada sesuatu yang vital yang ingin ia bicatakan denganku.

~*~*~

Kyuhyun sudah datang ketika aku tiba. Ia duduk membelakangiku sehingga ia tidak tahu aku datang. Well, aku bersyukur karena ia tidak perlu melihat perutku yang membuncit. Ketika aku tinggal dua langkah di belakangnya, aku baru melihat botol bir di tangannya.

“Kau mabuk?!” tanyaku spontan membuatnya menoleh. Satu yang dapat kusimpulkan, ia terlihat begitu tegang dan mengerikan. “Ada apa?”

“Kau melanggar ucapanmu sendiri,” katanya dengan tekanan yang sangat menusuk. “Kau mengatakannya kepada Eomma,”

Aku tidak memahami ucapannya. Kemudian aku paham maksudnya. Jadi aku hanya diam saja dan mendengarkannya sampai selesai.

Ia bangkit dan berbalik, bau bir menyeruak dari bibirnya dan itu membuatku semakin ketakutan.

“KAU MENGHANCURKAN SEGALANYA! TIDAKKAH KAU TAHU ITU?! AKU DIPAKSA BERTANGGUNG JAWAB!”

Aku syok, dan hanya dapat memandanginya.

“Kau sengaja kan melakukan ini? Kau marah kepadaku dan Seohyun sehingga berpura-pura terlihat menyedihkan kepada Eomma dan mengatakan kenyataannya?!”

“Aku tidak pernah mengatakannya.” Kataku dingin dan bersedekap, walaupun pada kenyataannya, aku sungguh ingin menangis kesakitan. Ucapannya seolah-olah menyiratkan bahwa aku ada hanya untuk merusak hubungannya dengan Seohyun.

“Gugurkan ia. Aku tidak peduli lagi. Aku sama sekali tidak ingin menyakiti hati Seohyun dengan ini.”

Aku tertegun, begitu kaget mendengar ucapannya yang terlihat seperti petir di siang hari. Aku diam selama beberapa detik, kemudian kesadaran itu datang begitu saja.

“Tidak.” Tolakku dengan cepat. “Aku tidak peduli denganmu, dengar aku, aku akan menghilang, kau tidak perlu bertanggung jawab karena aku juga tidak ingin memiliki suami berengsek sepertimu. Aku pergi,” tuturku penuh tekanan dan langsung beranjak pergi, padahal rasanya sakit sekali.

Setelah beberapa langkah menjauh dari Kyuhyun—dan setelah meyakinkan diriku sendiri bahwa ia tidak peduli padaku dan tidak mengejarku—air mataku berjatuhan begitu saja. Aku terisak sambil berjalan, memegangi perutku yang terasa berat. Aku mengusap air mataku terus-menerus, lagi dan lagi, tanpa henti. Meski air mataku pun begitu.

Sulit sekali bernapas, dan rasanya aku ingin menjatuhkan diri saat itu juga. Mungkin diam selama beberapa saat akan membuatku sedikit membaik, meski pada kenyataannya, aku tidak akan pernah bisa baik-baik saja.

~*~*~

“Tiba-tiba aku menyadari bahwa kau adalah kesalahan.

Kau dapat menghancurkan hatiku sekarang,

Namun tidak nanti.” – Disturbance.

~*~*~

Kembali kutenggak bir yang kini berada dalam genggamanku. Aku tidak peduli efeknya nanti. Aku hanya ingin menghilangkan keteganganku sedikit saja, dan satu-satunya jalan adalah meminum alkohol seperti ini.

Aku mengangkat botol bir dan mengacungkannya kepada bartender; tanda meminta tambah.

“Sepertinya anda sudah terlalu banyak minum.” Ujar bartender itu, aku lupa siapa namanya padahal name tag di kausnya terlihat sangat besar saat itu.

“Apa sih yang kaupikirkan?!” seruku dengan bahasa Inggris yang kacau. “Kau hanya perlu menuangkan anggur merah di gelasku, dan aku akan membayar!”

“Anda sudah terlalu mabuk, Nyonya.” Ujar bartender itu sambil mengaduk-aduk minuman di depannya. “Silakan membayar dan pergilah,”

Kemudian aku hanya ingat bahwa bartender itu mengantarku keluar dari kelab yang begitu ramai kemudian mengatakan sesuatu yang terdengar seperti menyuruhku hati-hati, jika perlu sekalian meminta jemput saudaraku.

Aku tentu saja tidak memedulikannya, dan malah mengacuhkannya.

Kemudian, yang dapat kuingat hanyalah cahaya lampu dari sebuah truk menyinariku.

~*~*~

Kesalahanku adalah satu, aku tidak memikirkan kandunganku ketika pergi dalam keadaan mabuk. Semuanya terjadi begitu saja, aku tidak bisa meminta Tuhan mengundurkan waktu hanya untukku. Dan aku tiba pada kenyataan bahwa aku keguguran.

Bayiku meninggal ketika aku masih tidak sadarkan diri.

Pagi ini aku terbangun dengan kepala berdenyut dan perut terasa sakit bukan main. Aku merasa kaget diriku tertidur di sebuah kasur pasien yang biasa kulihat di dalam drama yang sering tampil di teve. Dan yang membuatku lebih terkejut adalah, diriku sendiri yang kini ada di atasnya.

Eomma datang sepuluh detik setelah aku sadar, ia langsung menangis dan memelukku, kemudian mengatakan bahwa aku gagal menjadi seorang ibu. Aku begitu kaget sampai berjengit ke belakang dan memandangi Eomma dengan kosong, kemudian menangis dalam pelukannya.

Aku… gagal menjadi seorang wanita yang memiliki anak.

Aku membunuh bayi kembarku, bayiku dan Kyuhyun.

~*~*~

Kyuhyun sama sekali tidak menjengukku, hingga sampai dua minggu setelahnya. Aku memang tidak mengharapkan ia datang, namun setidaknya ia bisa menitipkan salam kepada Eomma yang selalu pulang ketika sore hanya untuk mandi kemudian kembali datang menemaniku. Appa tidak bisa datang terlalu sering karena pekerjaan menantinya, dan aku memaklumi itu. Namun sekalipun aku begitu mengharapkan kedatangannya, ia tidak pernah datang.

Lalu aku menyadari bahwa sekarang Kyuhyun tengah mempersiapkan pernikahannya dengan Seohyun. Padahal ia tahu bahwa aku kini berada dalam guncangan karena kehilangan calon bayiku yang tidak pernah kulihat.

Satu yang dapat kusimpulkan sekarang; ia bahagia ketika mendengar aku keguguran.

“Sooyoungie,” panggil Eomma tiba-tiba sambil meletakkan buah apel yang sudah dikupasnya. “Makan ini. Eomma akan pulang sebentar untuk mandi.”

Aku mengangguk sekilas, menerima apel itu dan menggigitnya kecil. Pahit sekali rasanya. Mungkin ini akibat lidah orang sakit, namun kini rasa sakitku bertambah menjadi semakin besar. Rasanya seolah-olah jatuh dalam jurang dan kemudian menyadari bahwa orang yang selama ini kupercayai  tidak lebih dari seorang pengecut yang bersikap sok jagoan.

Aku merasa sendirian saat ini—memang benar, aku memang sendirian. Namun kesendirian yang kulalui ini terasa begitu nyata. Aku paham perubahan sikap Eomma dan Kyuhyun kepadaku. Aku tahu bahwa Eomma pasti lebih memihak Kyuhyun daripada memihakku yang bukan siapa-siapanya. Namun setidaknya, aku tidak akan mengajukan tuntutan yang kutahu akan melukai diriku sendiri. Apalagi sekarang bukti bahwa aku berhubungan dengan Kyuhyun sudah raib, karena kesalahanku.

Aku tidak tahu mengapa aku memikirkan semua ini, benar-benar tidak tahu. Dan ketidaktahuan ini membuat kepalaku berdenyut prning. Aku membayangkan diriku kembali menjadi Choi Sooyoung yang dulu, namun aku tidak dapat membayangkan diriku yang tidak mengenal Kyuhyun dan tidak mencintainya. Aku tidak bisa berpikir, kepalaku sesak oleh rasa sakit hatiku dan kepasrahanku. Dan ingatanku mengabur kembali ke dulu dengan begitu saja.

~*~*~

“Kau tidak memakai ini?!” seru Kyuhyun sambil mengacungkan gaun super-pendek yang dibelikan Yeon Ji kemarin.

“Ani, terlalu terbuka.” Ujarku sambil menata kembali pakaian-pakaian yang tadi kuberantaki hanya untuk mencari sepotong gaun yang cocok kukenakan malam ini.

“Gwenchana, semua orang juga memakai pakaian terbuka,”

“Tidak denganku.”

Saat itu kami sedang berada dalam kamarku. Aku yang sedang mencari gaun dan Kyuhyun yang sedang menungguku untuk pergi ke prom bersama.

“Ah ya sudahlah. Cepatlah, setengah jam lagi prom dimulai.”

Aku hanya menganggumk sekilas, duduk di sofa dan memijat keningku; kurang setengah jm dan aku belum berhasil menemukan gaun yang sesuai. Sepertinya aku tidak akan ikut lagi.

“Aku tidak bisa ikut,” ujarku terdengar merintih. “Tidak ada yang cocok denganku,” lanjutku sambil mengangkat dua gaun; yang satu terlalu pendek dan yang satu terlalu panjang dan menjuntai.

Kyuhyun tampak frustasi menatapku, kemudian ia tersenyum dan berlari keluar dari kamarku, lalu kembali membawa gunting. Ia menarik gaun yang terlalu panjang dari tanganku dan memperhatikannya dengan seksama, kemudian mulai ‘bekerja’.

Aku ingat diriku yang berteriak-teriak kaget melihat Kyuhyun menggunting gaun itu hingga sepaha; ia memotong terlalu pendek. Aku sudah kelelahan menjerit ketika Kyuhyun akhirnya memberikan gaun itu kepadaku.

“Nah, setidaknya ini lebih baik. Potongannya  seperti tren sekarang!”

Aku menjitaknya dan mencibir. “Kesalahan kau buat tren! Tren apanya!” bentakku dan mematut diriku di cermin. Lumayan sih, gaun menjuntai itu berubah menjadi gaun pendek bewarna hitam dengan juntaian kain di belakangnya.

 pem

“Cepat keluar! Aku mau ganti,” seruku kepadanya yang langsung berjalan keluar. Setelah memastikan ia benar-benar keluar, aku kembali mematut diriku di depan cermin, lalu mulai mengganti pakaianku dengan gaun itu.

Selesai.

Aku kembali menatap bayanganku; gaunku agak terbuka dan udara sedang dingin, jadi pilihan terbaik adalah memakai mantel super-tebal. Dan aku tidak bisa menguncir rambutku karena gaun ini akan terlihat jelek jika rambutku terkuncir, jadi aku terpaksa mengambil alat pengeriting dan mulai beraksi dengan rambutku. Hasilnya, rambut bergelombang yang tampak pas dengan gaunku.  Aku berjalan menuju rak sepatu dan memilah-milah sepatu disana, hanya ada tiga high heels, yang pertama bewarna cokelat; tidak cocok. Yang kedua bewarna hitam bermodel stiletto, baiklah, mungkin pilihanku hanyalah stiletto ini.

Aku mengoleskan losion pelembap dan berharap masih memiliki waktu untuk berdandan sebentar..

“Ayo cepat!”

Uh-oh, sepertinya aku harus puas dengan olesan bedak saja.

~*~*~

Tiba di prom, aku baru menyadaribahwa siswa kelas lanjut juga ikut. Mereka berdandan seronok tanpa memedulikan udara yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri. Kyuhyun sudah menghilang entah kemana dan aku hanya dapat duduk di dekat bar dan memandang orang-orang yang tengah menari kesana kemari. Lalu aku sadar bahwa ini bukan prom sekolah—ini diadakan oleh kakak kelas super kaya yang pernah menjadi pacar Kyuhyun; dan aku benar-benar menyesal telah ikut.

“Kau tidak menari?!” seru Yeo Jin sambil tertawa-tawa bersama pasangannya, kukira ia bertanya padaku, tapi melihatnya yang kini berada di tengah dance circle membuatku meragukan itu.

Aku tidak bisa minum ataupun makan: disini hanya ada alkohol dan beef dan olahan daging lainnya. Aku tidak begitu menyukai beef, apalagi dengan daging setengah matang seperti yang dihidangkan bartender.

Menit-menit selanjutnya hanya kuisi dengan duduk dan menyambungkan ponselku dengan internet, menunggu tersambung, kemudian sibuk sendiri. Aku sangat menyesal tidak membawa novel baruku, setidaknya aku bisa menunggu ini selesai sambil membaca. Kemudian, ada seorang namja menghampiriku. Aku lupa siapa namanya dan dari kelas apa ia—lalu belakangan Yeo Jin memberitahuku bahwa namja yang menghampiriku adalah Shim Changmin yang notabene adalah preman sekolah.

Namja itu menanyakan namaku, alamatku, dan hal-hal yang sekiranya cukup penting itu. Ia tidak berhenti sampai seorang yeoja yang terkenal di sekolahan—yeoja yang sama yang mengadakan pesta ini—menghampiri kami. ia memperkenalkan dirinya sebagai Lee Min Hyun. Aku sama sekali tidak pernah mendengar nama itu, sampai aku menyadari bahwa Kyuhyun pernah menulis nama yeoja itu di pantai ketika kami berlibur; dan entah mengapa, aku merasa sesak.

“Kalian sudah lama mengobrol?” tanya Min Hyun Sunbae saat itu sambil menggandeng lengan Changmin erat, tiba-tiba saja aku mengerti kenapa Kyuhyun begitu membenci Sunbae yang satu itu.aku yakin sekali bahwa kandasnya hubungan mereka bukan karena tidak apa-apa, melainkan karena yeoja terkenal di depanku kini adalah seorang playgirl yang benar-benar memesona.

Aku hanya diam; menunggu Changmin menjawab saat itu. Namun tidak ada jawaban sama sekali dari mulutnya, dan itu membuatku sadar ada yang tidak benar saat ini.

Rasa takut dan aneh itu mulai menderaku, apalagi ketika Min Hyun Sunbae—sungguh, aku begitu membencinya sampai rasanya tidak sudi menyebut orang itu sunbae—tersenyum dan berkedip kepada Changmin, kemudian menarikku di Dance circle. Aku ingin menolak saat itu, tapi yeoja itu sudah menarikku tanpa memedulikan bantahanku, ia terus menarikku sampai aku sadar bahwa di sekelilingku hanyalah orang-orang yang memakai gaun terbuka dan jas resmi.

“Semuanya!” teriak Min Hyun sambil memandangku sinis. “Lihat gadis cantik disini!”

Aku diam selama beberapa saat, namun pada akhirnya aku paham bahwa gadis cantik yang dimaksudkannya adalah aku.

“Nah, gadis ini berusaha merebut perhatian Changmin dariku!” lanjut Min Hyun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Apa kalian berpikir bahwa gadis ini lebih cantik daripada aku?!”

Terdengar seruan-seruan tidak dalam berbagai kalimat yang diteriakkan orang-orang sialan itu.

“Ah, lalu apa yang harus kita lakukan padanya?!” aku mendengar nada permintaan sekaligus diktator dalam suaranya, yang membuat diriku merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ia.

“Pukul!”

“Siksa!”

“Bunuh jika perlu!”

“Permalukan!”

Aku menunduk mendengar seruan itu, kemudian tiba-tiba saja sebuah tangan menarikku; Kyuhyun.

“Hentikan omong kosongmu, Min Hyun-ssi.” Ujar Kyuhyun dengan tegas dan lantang. “Kau pikir aku tidak tahu dengan siapa kemarin kau berjalan-jalan? Hmm, apa orang itu ada disini?!”

Min Hyun yang kubenci itu diam saja dan menyipitkan matanya penuh amarah. “Apa maksudmu, Cho Kyuhyun?!” serunya dengan kasar.

“Kau berselingkuh kan?”

Aku melihat Min Hyun langsung diam dan memandangku dan Kyuhyun sebal, aku mengerti bahwa ia merasa sangat dipermalukan di pesta yang ia selenggarakan sendiri. Kemudian, satu yang kuingat adalah Kyuhyun menarikku keluar dari kelab ini dan membawaku jalanan.

Malam itu, aku kehilangan sesuatu yang telah lama  kupertahankan.

T B C

Author Note:

Annyeong~~

Akhirnya aku post juga chapter 3-nya. Adakah yang menunggu? Komen yaw buat yang nunggu *modus*😄

Chapter ini emang belum menjelaskan semuanya dan KyuYoung momennya juga gak ada -_- Oh ya, beberapa part lagi Disturbance END lho *heboh*

Okeh, makasih ya buat reader yang masih nunggu ini dan selalu memberi komentarnya ^^Aku sayang kalian *-_-*

Udah panjang, kan? Ini sepuluh halaman dengan 3000 words lebih lo😄

Tinggalkan komentarmu^^

Ghamsahamnida~

254 thoughts on “[Chapter 3] Disturbance

  1. Wkwk iya panjang mei … aish aku makin kesel sama kyu oppa -_- … dia kok neppeun banget yaa … kasian kan soo Eonnie nya sampe kecelakaan gitu dia tetap ga peduli …. aish seperti biasa ff mei kereen dah… izin baca next part ya … keep writing

    Like

  2. aku heran,kenapa komentarku tak pernah bisa terkirim.. Padhal. Aku gg mau di anggap siders. Meski part1 nya aku gg dapt baca coz do protect.

    Like

  3. Beneran itu kyuhyun benci am youngie ???!
    padahal dlu ngelindungi soo bangett , kenapa tiba”:/
    kasian bener ihh sooyoung😥
    mana namja yg lain yg nemenin sooyoung ??!

    Like

  4. Ya ampun kyupa bner2 mnyebalkan bgt …
    Knpa soo unnie harus kguguran kasian bgt , smga aja kyu nyesel n akhirnya cinta ma soo unnie …
    Ff nya kerennn n nyesek bgt bcanya , daebakk

    Like

  5. pengennya sih sooyoung jangan dibikin keguguran thor.

    tp ceritanya menarik sekali, gaya bahasa dan penulisannya juga bagus. membuat saya merasa rugi kalo sampe ada kata atau kalimat yang terlewat dibaca. biasanya saya kalo baca ff suka diloncat2, kadang cuma dibaca awal sama ending aja.
    ff kamu keren sekali thor, ff pertama yang bikin saya nangis bombay

    Like

  6. bneran mey kamu bkin aq benci sejadi2’e ama kyu d ff ini,kyu jhat bgt di saat soo lg terpuruk dia malah snang2 nyiapin pernikahan ama seo,dasar napeun namja..

    Like

  7. aduhhh sooyoung nyebelinn kenapa hamil malah mabuk sihh, tuh jadi keguguran kan. hufft kasian sekali hidupmu. ahhh nyesek bacanya.. hufg

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s