[Chapter 4/?] Disturbance


disturbance-by-meydaawk-re-do

Title: Disturbance

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

-Seo Johyun

Genre: Sad, Angst, Romance

Length: Chaptered/Section

Rating: Teenager

Credit Poster: Fearimaway

Disclaimer:

Seluruh jalan cerita dan penokohan adalah milik saya. Tokoh milih diri mereka masing-masing. Jika ada yang sama itu murni kebetulan dan bukan peniruan atau apa. Kamu dapat membaca tapi kamu juga berkewajiban memberi komentar.

***

Aku kembali menggigit apel yang sedari tadi berada dalam tanganku yang terasa lemas. Aku mengunyahnya tanpa semangat lalu menelannya, tetap dalam posisiku tadi. Lalu terdengar suara pintu terbuka dan muncullah dua orang yang benar-benar tidak kuharapkan sekarang.

“Maaf baru menjengukmu sekarang,”

Mendengar suaranya membuat hatiku seolah-olah terhujam begitu saja; nada suaranya terdengar sangat bahagia, seolah-olah menlihatku terbaring lemah disini membuatnya merasa senang.

“Aku membawakanmu ini, Sooyoung-ah.” Ujar gadis di sampingnya dengan senyum menawannya yang membuat laki-laki yang kucintai terkat dengannya sambil meletakkan parsel di atas meja pasien. “Kau ingin sesuatu?”

“Ah, tidak. Aku baru saja memakan ini,” tolakku sambil menunjukkan apelku yang masih banyak. “Kalian kemari naik apa?” sungguh, ini hanya basa-basi tidak penting yang membuatku sakit setengah mati. Seakan aku berdiri di depan pelaminan, dengan calon suamiku yang bermesraan dengan gadis lain.

“Mobil Kyuhyun Oppa. Kami bertemu di kantor tadi.” jelas Seohyun—membuatku mengernyit. “Hmm, posisimu dulu sekarang kududuki aku,”

Sakit, sakit ketika menyadari semuanya yang dulu pernah—dan hampir—menjadi milikku sekarang menjadi miliknya. Ia berhasil merebut segalanya yang membuatku bahagia. Aku tersenyum sekilas dan mengangguk, padahal dalam hatiku aku ingin sekali berseru: sialan kau! Tidak usah datang kemari lagi sekarang! Pergi kau! Dasar perebut!

“Sudah makan?” tanya Seohyun lagi. Ia tersenyum dan berkedip kepada Kyuhyun ketika namja itum memberikan sebuah kursi kepadanya. “Terima kasih,” bisiknya kepada Kyuhyun, lalu kembali menatap kepadaku.

“Kalian serasi sekali.” Ujarku dengan nada datar; kelihatan sekali jika ucapanku itu tidak benar adanya. “Kapan menikah?” ppabo! Ppabo!

“Belum tahu,” suara Kyuhyun terdengar semangat. “Mungkin secepatnya,”

Oh ya, secepatnya. Aku tersenyum mirng dan menggigit apelku lagi, kemudian membuang sisanya ke tempat sampah, padahal sebenarnya aku ingin melemparkannya ke kepala Kyuhyun untuk menyadarkannya bahwa aku—ibu dari calon anaknya yang kini telah raib—berada disini ketika ia mengatakan ‘akan menikah’.

“Kalian ingin ini?” tanyaku basa-basi sambil menunjuk kue kering yang dibawakan Eomma pagi tadi. “Tidak beracun, kok.” Aku tahu bahwa nada suaraku dan kalimat terakhirku barusan terdengar sangat sarkastik dan kejam. Namun ini sudah termasuk baik bagiku, karena toh pada kenyataannya aku ingin sekali mengangkat sesuatu berat—mungkin kasurku sekarang—dan menggempurkannya ke kepala mereka berdua, hingga mati mungkin?! Tidak, tidak. Aku bercanda.

“Sooyoung-ssi?”

Aku mendongak dengan gelagapan.

“Apa yang kau lamunkan?”

“Hmm.. aku berencana untuk menggem—” aku terhenti, mengapa aku mengatakan itu?! Astaga, pasti otakku telah terbentur sesuatu, atau mungkin terkontaminasi oleh kedatangan manusia menjengkelkan itu?!

Menggem apa?” tanya Kyuhyun dengan heran.

“Ah, tidak. Aku bicara melantur,”

“Sudah sore,” gumam Seohyun pelan, kemudian mendongak menatapku. “Aku dan Kyuhyun harus mendatangi pesta pertunangan keluarga Kim, Sang Hyun akan menikah.”

Aku menatapnya dengan pandangan datar, tidak tahu siapa Sang Hyun dan keluarga Kim itu. Lagipula itu tidak terdengar penting. Aku yakin Seohyun berbicara begitu hanya supaya aku iri padanya yang begitu bahagia, jangan-jangan ia dendam kepadaku gara-gara insiden es krim itu?

“Kau senang tinggal disini?” tanya Kyuhyun begitu saja dengan nada tinggal saja disini, disini menyenangkan seolah menyuruhku untuk tetap sakit dan tidak mengganggu pernikahannya yang sebentar lagi.

Tinggal?” ulangku dengan nada aneh. “Maksudmu, kau senang melihatku mendekam di rumah sakit?” sungguh, aku tidak menyukai nada suaraku yang menunjukkan isi hatiku dengan benar.

“Maaf, bukan begitu maksudku. Kau salah sangka,”

Aku memalingkan muka, merasa wajahku mulai memanas. Tidak akan kubiarkan mereka tahu bagaimana sakitnya hatiku sekarang.

“kami harus permisi,” ujar Seohyun menengahi dan langsung membungkuk, menarik Kyuhyun keluar dari ruangan rawatku dan berjalan pergi. Dan tiba-tiba rasa sakitku kembali menghujam, seolah-olah luka itu kembali terbuka, meskipun pada kenyataannya; luka itu akan dimulai sekarang.

~*~*~

“Kau sudah boleh keluar, Sooyoungie,” kata Eomma sambil tersenyum. Raut wajahnya berseri-seri, membuatku bersyukur melihatnya kehilangan ketegangannya.

“Ne,” ucapku, berusaha tidak terlihat sedih. Karena pada kenyataannya, aku ingin tetap seperti ini; tidak bertemu Kyuhyun, tidak melihat kemesraan mereka, bla-bla. Ketika aku menatap Eomma yang sedang memandangiku aneh, aku kembali berucap, “aku senang mendengar itu.”

“Kuharap juga begitu.” Gumam Eomma, kemudian melipat selimut tipis yang dijadikan selimut di sofa, memasukkannya ke dalam tas besar dan mengambili pakaianku di lemari. “Jangan banyak bergerak, kau masih belum sehat betul.”

“Uh-uh,” aku menggumam tidak jelas dan menarik keluar laptopku dari tasnya di meja. “Mungkin beberapa e-mail sudah masuk.”

“E-mail?”

“Pekerjaanku.” Aku bergumam sendiri dan memangku laptopku dalam pelukanku. Ketika selesai masuk ke dalam kotak masuk email, aku tercengang melihat e-mail tidak penting dari Kyuhyun. Dan ketika aku membukanya, aku menyadari bahwa aku memang bukan siapa-siapa untuknya lagi..

~*~*~

Ketika aku pulang sore ini, aku mendapati bahwa Eomma dan Appa mengadakan pesta kecil-kecilan, ada beberapa tetangga dekat yang hadir, dan itu cukup membuatku terhibur. Sayangnya, aku sadar bahwa tidak ada jejak Kyuhyun sama sekali, seolah-olah ia telah ditelan bumi dan tidak akan pernah muncul di hadapanku lagi.

Aku selalu berusaha hidup tidak menggantung, hidup dengan kekuatan dari diriku sendiri. Namun sejak aku mengenal Kyuhyun dan mencintainya, aku menyadari bahwa mandiri tidak akan menjadi sifatku lagi. Dan kali ini, kenyataannya aku memang merasa sendirian di antara tetangga kami yang lainnya.

“Sooyoungie?”

“Nde, Eomma?” aku berusaha tidak menampakkan wajah terkejutku. Karena jika aku memperlihatkannya, Eomma akan tahu bahwa pikiranku tidak disini.

“Kau baik-baik saja?”

Oh, ya. Padahal aku sudah sebisa mungkin menutupi itu. Tapi mungkin seorang Eomma memang sangat kuat firasatnya.

“Gwenchana. Memangnya ada apa?”

“Kau tampak tidak baik,” ujar Eomma kepadaku, namun pandangannya tertuju pada tetangga kami yang sedang berbincang di sudut ruangan. “Kau benar-benar sehat?”

“Ah, tentu saja.” Munafik.

“Baiklah, Kyuhyun bilang ia tidak bisa kemari karena sedang banyak pekerjaan.”

Aku mengangguk sekilas. Yakin sekali bahwa itu hanya alibi Kyuhyun saja, agar ia tidak perlu menghadiri acara pesta tidak penting ini—baginya—dan bisa berduaan dengan Seohyun saja.

“Terkadang pekerjaannya memang mengganggu. Ia sering absen tidak pulang ke rumah akhir-akhir ini. Padahal Eomma sering mengharapkannya menemani Appa di rumah ketika Eomma di rumah sakit,”

Aku agak tersentak mendengarnya. Pertama, aku tahu jelas bahwa perusahaan tidak menerima job baru sejak dua bulan lalu karena pemberhentian job yang dilakukan pemilik perusahaan; kedua, jelas sekali bahwa Kyuhyun membohongi Eomma. Dan itu benar-benar membuatku terkejut karena dulu Kyuhyun sama sekali tidak pernah berbohong.

“Eomma akan kesana sebentar, kalau kau lelah kau bisa masuk,”

“Aku pusing Eomma,” kataku beralasan berharap Eomma mempersilakanku masuk.

Eomma mengangguk sekilas yang kuartikan sebagai ia menyetujui ketidak hadiranku dalam pesta ini. Aku beringsut mundur dan menghilang di balik tirai pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah.

Kaki melangkah menuju kamar mandi yang terletak di samping kamarku—meraup air sefar dari keran dan menyiramkannya di wajahku sendiri. Setelah merasa agak segar, aku membuka laci meja dan mengambil karet kuncir yang kusimpan disana dan mulai menguncir kuda rambutku.

“Bukannya itu berlebihan?”

Aku terkejut dan berbalik, memandangi orang yang di belakangku dengan syok.

“Kau hanya keluar dari rumah sakit, itu saja, kan? Mengapa harus mengadakan pesta konyol itu?”

“Dan kau berbohong,” aku tidak tahu mengapa aku melakukan ini, atau mengatakan ini. Hanya ini yang terbersit dalam otakku yang masih kaget. “Tidak ada job di perusahaan, dan kau mengatakan sibuk kepada Eomma?”

Ia tampak tegang namun tetap diam.

“Kau berubah sekali,” ujarku dengan datar dan memandangnya dalam diam. “Sejak kau mengenalnya—”

“Jangan menyalahkan Seohyun!” serunya dengan keras, membuat aku mundur dengan cepat. “Ini murni diriku! Bukan dia!”

“Aku tidak menuduhnya.” Ujarku dengan agak gentar. “Aku hanya menduga,”

“Dugaanmu tidak benar, kalau begitu.”

“Aku harap juga begitu.” Aku mendesah dan berbalik akan pergi. “Ada baiknya kau kembali dengan dirimu yang dulu,”

“Itu bukan urusanmu.” Dingin.

Tiba-tiba saja ia melangkah mendekat, membuatku gelagapan setengah mati dan mendelik. Ia menyandarkan tubuhnya ke depan—ke tembok—dan menatapku dalam—atau begitu yang kupikirkan.

“Apa yang kau lak—”

Aku terpana ketika bibirnya sudah menyapu bibirku cepat.

~*~*~

“Ketika sebuah takdir memaksaku memilih,

mungkin aku akan memilih kematian daripada harus melihatmu berdiri dengannya.

Esok, di sebuah altar yang akan menghancurkan hatiku.”  – Disturbance.

~*~*~

“Lepaskan,” bentakku cepat ketika ia masih mengurungku. Tubuhku bergetar oleh emosi yang meluap-luap dan rasa sakit yang muncul ke permukaan. Aku mendelik dengan nafas menderu. “Kaukira, setelah kau menolakku seperti itu, kau akan tetap mendapatiku seperti dulu?!” lanjutku masih membentak dan menangkis tangannya lalu berjalan pergi dengan air mata hampir mengalir.

Aku berjalan cepat menuju kamarku, membuka pintu lalu menutupnya dengan keras dan menguncinya. Setelah itu, air mataku membuncah tidak tertahan lagi. Tanganku meremas rok pendekku dan berusaha menahan rasa sakitnya. Bagaimana mungkin ia melakukan ini setelah menyakiti hatiku?! Sebenarnya apa yang ada dalam pikirannya? Kenapa ia justru membuatku mengira bahwa ia memang peduli padaku?!

Oh Tuhan.

Aku kaget melihat aku masih bisa menangis setelah apa yang terjadi padaku. Trauma seharusnya membuat air mataku membatu.

Lelah. Lelah sekali hidup seperti ini. Aku benar-benar lelah menjadi seorang pemuja. Aku benar-benar ingin mengakhiri ini semua, namun rasanya berat. Ia sudah begitu menempel dalam otakku, hatiku, dan tubuhku. Ia akan selalu teringat dalam benakku, bahkan mungkin sampai aku mati.

Mungkin satu-satunya jalan yang bisa membawaku melupakannya adalah maut. Aku yakin jika kematian menghampiriku sekarang, kami akan berpisah dan hidup dengan baik. Yah, mungkin aku harus mempertanggung jawabkan dosaku di dunia, namun tidak apa-apa. Bersamanya hanya akan menambah daftar kesalahan-kesalahanku saja.

Perlahan aku bangkit dan menidurkan diriku sendiri di kasur dan memandang ke atas dengan nyalang. Mungkin sebentar lagi Tuhan akan mencabut nyawaku, dan membuatku melupakan segalanya yang pernah terjadi antara aku dan ia.

~*~*~

“Besok, kau harus bekerja di pusat. Kami membutuhkanmu,”

Aku mengangguk pada bosku di perusahaan editor, merasa senang karena setidaknya aku tidak akan terus menerus di rumah dan bertemu dengannya.

“Gajimu akan dinaikkan sepuluh persen. Mulai besok, kau menjadi editor tetap disini.” Ujar bosku lagi sambil tersenyum dan mengulurkan tangan—aku menyambutnya dan kami berjabatan. “Sampai disini pukul sembilan, pulang pukul lima sore.”

Aku mengangguk lagi dan tersenyum.

“Selamat bekerja!”

Dengan senang aku tersenyum, bangkit dan membungkuk sebentar kemudian berjalan meninggalkan ruangan bos itu.

“Sooyoung-ah!”

Aku menoleh dan mendapati Karen—temanku sewaktu kuliah dulu—berlari menghampiriku. Ia masih tetap cantik seperti dulu, rambutnya yang bewarna pirang emas terkuncir sembarangan dan pipinya tirus. Dulu aku benar-benar senang menganggapnya Barbie.

“Waah, kau akan bekerja disini, ya?” ia bertanya sambil tersenyum.

“Ne, kau harus menemaniku.” Aku tertawa, tahu sekali bahwa ia memang seorang yang seperti itu. “Kau tidak sedang sibuk?”

Ia tertawa dan melonggarkan otot-otonya kemudian menatapku. “Aku baru saja menyelesaikan sebuah novel,” katanya dan mengajakku duduk. “Menjadi editor mengerikan,”

Yah, dan itu kekurangannya; tidak pernah bersyukur atas apa yang dimilikinya.

“Mungkin kau harus menjajal pekerjaan baru,” ujarku menggumam dan mengeluarkan roti krim dari tasku, beruntung aku membeli dua. “Mau?”

Karen mengangguk dan menerima roti itu dan memakannya.

“Kita bertemu lagi besok?” tanyanya sambil menguyah.

“Yeah, sepertinya aku harus segera pulang.” Aku berkata sambil bangkit. “Selamat bertemu besok!”

Kemudian aku sudah berjalan tertatih di tangga perusahaan—lift memang ada, tapi menunggunya mengesalkan—dengan lelah. Mungkin seharusnya Tuhan memberiku kesabaran ekstra, kenapa aku malah terdengar seperti Karen?!

Ketika aku melangkahkan kaki ke luar perusahaan, aku melihat Kyuhyun sedang duduk dengan Seohyun di bawah tempat duduk berpayung kanopi dan tampak sedang kencan. Sebisa mungkin aku menghindar dan mencari tempat agar mereka tidak melihatku, walaupun aku tahu bahwa itu tidak akan terjadi karena toh tempatku sekarang tertutup rimbunnya tanaman kota.

Aku menghela napas dan duduk di trotoar sebentar dan mengelus kakiku yang tampaknya memar. Aku memang sudah biasa memakai high heels, namun tetap saja mengenakannya lama-lama akan membuat kakiku memerah dan itu sangat menyebalkan.

Setelah beberapa menit memijat kakiku, aku bangkit dan berjalan menuju halte, sangat menyesal karena kursi disana sudah terpakai semua dan tentu saja aku harus berdiri dengan sepatu berhak lima senti.

~*~*~

“Kini aku berdiri di antara dua pilihan, kenangan denganmu atau dirimu yang sesungguhnya.

Yang kini sudah tidak peduli lagi dengan hatiku.” – Disturbance.

 

~*~*~

“Eomma-ya, aku akan kembali tinggal di apartemenku,” kataku sambil memotong-motong daging sapi di dapur bersama Eomma. “Aku sudah mendapat pekerjaan dan bolak-balik kesini dan ke Seoul hanya menghabiskan uang.”

Eomma menatapku dan mengangguk.

“Ah, ghamsahamnida, Eomma.”

“Jangan mabuk tengah malam lagi,” perintah Eomma. “Itu benar-benar membahayakan bagi yeoja sepertimu,”

“Ne,” ujarku, agak merasa malu dengan kecelakaan waktu itu. Coba saja saat itu aku tidak mabuk dan menggila tanpa memedulikan janinku, mungkin sekarang aku masih memiliki bayi yang mungil. “Kyuhyun pulang?”

Eomma menoleh kepadaku. “Ani, dia bilang ada rapat dengan pemilik perusahaan.”

Berbohong lagi, bisikku dalam hati dan menunduk. “Eomma, kenapa Kyuhyun jadi sibuk sekali?”

“Kemarin dia bilang pada Eomma bahwa jabatannya naik satu pangkat, jadi lebih sibuk dari biasanya.” Jelas Eomma. “Terkadang Eomma juga tidak mengerti.”

Aku mengingat-ingat posisi terakhir Kyuhyun. Sepertinya posisinya tidak akan dapat naik lagi. Kecuali jika namja itu bekerja di perusahaan pusat, tapi itu tidak mungkin.

“Eomma.. Apa Eomma merasa ada yang aneh disini?”

“Berhenti bicara, Sooyoungie. Cepat bereskan wortelmu.”

Aku menunduk. Tahu bahwa sebenarnya Eomma juga menyimpan keraguan terhadap Kyuhyun, sama sepertiku. Tapi mungkin Eomma sedang tidak ingin membicarakannya, jadi aku kembali sibuk dengan wortelku tanpa berbicara lagi.

“Cukup, jangan banyak-banyak.” Kata Eomma ketika aku menumpahkan potongan mungil wortel ke dalam panci berisi air mendidih. “Kyuhyun tidak akan pulang hari ini.”

Aku tahu sekali bahwa Eomma kecewa, dan diam-diam aku beringsut mundur melihat kalender. Kemudian terpana menyadari bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Eomma. Aku mengeluh karena kelupaanku ini mengingat aku sama sekali tidak membeli kado ketika masih di Seoul.

“Eomma-ya, aku harus pergi sebentar. Nanti aku kembali,” ujarku setelah mengganti bajuku dengan celana jins panjang dan t-shirt bewarna biru muda yang kututupi dengan kardigan. Ketika sampai di luar rumah, aku segera mengeluarkan ponsel dan men-dial seseorang disana.

Yeoboseyo,”

“Annyeong, Kyuhyun-ah, hari ini Eomma berulang tahun—tidak bisakah kau pulang? Kau tahu Eomma pasti kecewa.”

Aku sedang sibuk.”

“Sibuk?” aku tertawa dengan keras. “Kau kira aku tidak mengenali musik di belakangku. Kelab, kan?!”

Tidak ada jawaban dari sana dan malah terdengar suara tut-tut menyebalkan yang akhirnya mengakhiri panggilanku itu. Aku menghela napas dan berhenti menghubunginya lalu berjalan menuju toko kue yang cukup dekat.

Aku merapatkan kardiganku dan menatap jalanan yang ramai. Udara tidak begitu hangat, namun juga tidak begitu dingin. Mataku menyapu lalu lintas padat, Busan sudah banyak berubah.

Sesampainya di toko katering itu, aku mengembuskan napas lega dan masuk. Setidaknya, pesta kecil yang akan kuadakan bisa membuat mood Eomma membaik sedikit.

~*~*~

“Soo, ada orang yang mencarimu.” Ujar Karen padaku ketika aku tengah duduk di depan mejaku dan membaca sebuah e-mail dari penulis langganan perusahaan kami. “Dia tampan,”

“Hah?” aku sampai menganga saking herannya. Tidak ada namja yang pernah berbicara lagi padaku sejak beberapa tahun yang lalu. Dan satu-satunya yang mungkin menghampiriku ini adalah, ani, namja itu bahkan sudah tidak peduli kepadaku.

“Sana cepat!” perintah Karen sambil bersedekap di hadapanku. Ia memang seorang diktator sejati. Aku bangkit setelah meyakinkan diriku sendiri bahwa pakaianku cukup rapi untuk menghampiri namja tak dikenal itu.

Ketika di waiting room, rasa penasaranku terjawab. Namja yang datang itu toh memang ia.

“Ada apa?” tanyaku berusaha terdengar normal sambil memandangnya yang duduk. “Kenapa tiba-tiba datang? Kapan kau tahu bahwa aku kembali bekerja?”

“Kau ingin aku menjawab yang mana?”

Aku menghela napas, memandangi wajahku di kaca ruangan dan kembali memandanginya.

“Semuanya,”

“Aku hanya memintamu untuk tidak ikut campur urusanku dengan Eomma. Dan aku tahu bahwa kau bekerja disini lewat ini,” ia mengangkat tangannya yang membawa kartu namaku di perusahaan ini.

“Dia juga Eommaku,” sahutku akhirnya setelah terdiam cukup lama. “Bagaimanapun, kau menyakiti hati Eommaku.”

“Dia bukan Eomma-mu! Kau tahu itu!”

Aku menarik napas, memandanginya tajam. “Kau memang tidak menganggapku adikmu, tapi aku menganggap Eomma-mu, sebagai Eomma-ku juga. Dan kau tidak akan bisa melarangnya,”

“Aku bisa. Aku bisa membuatmu terlihat jelek di mata Eomma-ku.”

Aku memutar bola mata, dan menatapnya kaget. Bagaimana mungkin ia mengatakan kalimat itu? Kenapa ia terdengar seolah-olah begitu membenciku dan berkeinginan membuat semua orang begitu juga?

“Aku tidak tahu bahwa pikiranmu sepicik itu. Dengar ya, Cho Kyuhyun, aku sangat menyesali mengapa keluarga Cho memiliki putra sejahat kau.” Dan kenangan tentang bayiku muncul begitu saja, rasanya mataku memanas. “Jangan pernah lupakan tentang bayiku, karena aku tidak akan pernah melupakan bagaimana rasanya.” Lanjutku dan berbalik pergi.

“Kita perlu bicara,”

Aku memijat kening dan berbalik. “Kurasa tidak, berbicara denganmu hanya membuatku muak.” Tandasku dingin dan langsung pergi.

“Dia ganteng,” kata Karen sewaktu aku masuk ke dalam ruangan. “Kenapa kau kelihatan tidak menyukainya?”

Ah tidak juga, bahkan aku menggilainya. Dan tentu saja itu tidak akan pernah kukatakan.

“Aku membencinya.”

But why?

“Aku tidak akan pernah memberitahumu tentang ini. Privasi—maaf.”

“Gwenchana.”

Bibirku terangkat begitu saja dan membentuk senyuman lalu kembali masuk ke dalam ruanganku dan melanjutkan tugasku.

~*~*~

“Bukannya aku sudah bilang kita tidak perlu bicara?”

“Ani, kita perlu.”

“Terserah kau, Cho Kyuhyun. Berkatalah sepuasmu,” ujarku dengan dingin dan memandangi sup buah di hadapanku. “Waktumu hanya sampai aku selesai makan.”

“Aku minta kau berhenti berusaha membuat Eomma membenci Seohyun. Aku tidak suka kau memojokkannya di depan Eomma. Jangan pernah berpikir bahwa aku tidak tahu kau sering meyakinkan Eomma bahwa aku berbohong.”

Aku mengangkat sendokku dan menyuapkan sup itu ke dalam mulutku; tidak berniat menjawab sama sekali.

“Aku benci jika kau berusaha terlihat baik di hadapan Eomma, padahal kau sama sekali tidak seperti—”

“Keumanhae, kau sudah terlalu banyak bicara.” Kataku. Aku mendongak dan memandangi wajahnya yang tampak frustasi itu. Aku benar-benar tidak pernah menyangka bahwa hubungan baik kami akan berakhir seperti ini. “Pertama, aku tidak pernah berusaha menjelekkan Seohyun di depan mata Eomma. Kedua, aku juga tidak pernah memojokkannya. Dan aku tidak akan pernah bertingkah sok manis di depan Eomma. Dia bahkan tahu banyak tentangku, melebihi kau. Dan siapa kau, tiba-tiba menyuruhku untuk menjauh dari keluargamu? Bahkan aku tidak pernah menganggapmu kakak.”

“Kau sangat tidak sopan,”

“Lalu kenapa? Apakah tidak sopan tidak pantas bahagia?”

“Aku benar-benar tidak habis pikir bagaimana kau bisa seegois ini.”

“Aku tidak habis pikir mengapa kau tega sekali mengatakan itu.” Ujarku dengan tajam. “Suatu saat nanti, kau akan mengerti.”

“Mengerti apa?”

Mengerti bahwa aku mencintaimu melebihinya.

“Kita tidak akan membicarakan ini sekarang,” kataku dengan nada misterius. “Aku hanya memintamu untuk berpikir sebelum berniat mencintainya lebih dalam.”  Lanjutku sambil membereskan barang-barangku dan beranjak pergi. “Lain kali, kuharap kau bertemu dengan gadis yang lebih baik.”

“Sooyoung-ssi, aku benar-benar tidak mengerti dirimu.”

Aku berhenti melangkah, menggigit bibirku yang gemetar dan menekan hatiku untuk tidak meledak saat itu juga.

“Aku juga tidak mengerti dirimu!” gagal, emosiku meluap begitu saja. “Apa yang ada dalam otakmu yang kau bilang jenius itu?! Aku mengenalmu sejak kita masih kecil, kecil sekali. Bahkan sebelum kita bisa mengerti mana yang benar dan yang salah. Aku tahu bagaimana kau, aku mengerti bagaimana sikapmu! Dan tiba-tiba kau mengenalnya! Kau berubah. Sadarkah kau? Kau jadi kasar sekali, dan sikapmu padaku benar-benar buruk!” aku menarik napas cepat dan menyadari bahwa air mataku telah mengalir. “Apakah kau sadar bahwa kau yang menghancurkan hidupku?”

T B C

MWK’s Note:

Annyeong~~ *kibar koran/?*

Fiuh, aku kambek lama sekali. Yah, salah satu penyebabnya adalah writer’s block yang sudah kuutarakan kemarin lewat postingaku/?

Dan penyebab kedua adalah gara2 aku yang tiba-tiba aktif didunia /? roleplayer waks. Maaf ya buat yang nungguin -_- keknya aku adalah author paling gak karuan😄

Oya kemarin ada yang bingung soal flashback tanpa peringatan. Maklum author yang suka cari sensasi😄

Untuk chap selanjutnya aku gak janji bakal cepet post. Mungkin minggu depan atau kalo mood-ku lagi bagus beberapa hari kemudian😄

Because It’s You chap 2-nya akan ku-post setelah Disturbance end >w<

Tinggalkan komentarmu, terima kasih ^^

238 thoughts on “[Chapter 4/?] Disturbance

  1. Aish rasanya aku mau ngutuk kyu oppa … dasar namja nyebeliiiiiiiiiiiiin … salut deh sama soo … aku harap ceritanya happy end aish gregetan banget deh sama part ini… izin baca next part ya mei … keep writing …

    Like

  2. Pengen jitak kyuhyun , kkkkk
    seohyun bawa penagruh jelek ke kyu nie -_-
    udda soo menghilang saja dr pandangan kyuhyun biar dy nyesel uda sia”in km :3

    Like

  3. kata-katanya keren banget thor🙂 next chapter dan jgn lama-lama klo udh di post bisa kasih tau aku😀 maaf baru bisa kasih komentar di chapter ini

    keep writing nee untuk author🙂
    selamat hari natal (MERRY CHRISTMAS!)

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s