[Ficlet] When That Day Arrives


alone-girl-rain-street-Favim.com-119814_large

When That Day Arrives || @MeydaaWK || Starring with Choi Sooyoung and Cho Kyuhyun || Sad and Romance || Ficlet || Teenager || Happy Reading~~ ||

***

“Kau tidak pernah mengerti aku!” bentaknya sambil menatapku tajam. “Dan kau masih ingin mempertahankanku?”

Terdiam. Mulutku terlalu kering untuk membuka dan berkata. Sedangkan mataku mengabur memandangnya.

“Sekarang kau tidak bisa berbicara apapun, kan?”

Bahkan, ucapannya itu benar-benar menyakitkan, aku tidak berkutik dan hanya memandangnya nanar.

“Mulai sekarang, hubungan kita berakhir.”

Dan semuanya terasa gelap.

***

Memandanginya.

Terus-menerus memandanginya dan membuat hatiku kembali sakit. Ia berdiri disana sedangkan aku disini. Kami berbeda sekarang. Ia dalam pihak yang benar dan aku tentu saja, pihal yang salah.

Sebesar apapun usahaku untuk mempertahankannya, aku bimbang itu akan berhasil. Ia begitu kuat dengan pesonanya, sedangkan aku hanya dengan keberuntungan dapat bersamanya.

Air mataku kembali mengembun dan itu sungguh memalukan. Tidak seharusnya aku memandanginya seperti ini, tidak dengan kenyataan ia bukan lagi milikku. Namun aku tetap tidak bisa tidak mengalihkan pandanganku. Bertepatan ketika ia menatap ke seberang; ke arahku.

Ia bahkan tidak repot-repot tersenyum atau apa. Hanya melengos dan kembali mengalihkan wajah, membuatku cepat-cepat menyeka air mata, berpura-pura air mata itu adalah keringat yang menetes.

Merasa sudah di ujung kesakitan, aku bangkit dan berjalan menuju kasir, mengedip-kedipkan mata hanya agar air mataku tidak menetes sekarang. Memalukan.

Aku sampai di depan kasir bertepatan dengan kedatangannya, yang membuatku merasa lebih terpukul. Ia hanya berdiri di depanku, tidak menoleh atau sekedar menyapa. Jika aku diminta untuk merelakannya, aku mungkin akan melakukannya. Namun tidak seperti ini, jelas sekali kami terlihat seperti mantan-pasangan yang putus secara tidak baik-baik. Atau lebih parah lagi jika ada orang mengira salah satu dari kami berselingkuh.

Aku masih melamun saat ia selesai membayar dan berjalan melewatiku begitu saja. Kemudian suara pelayan itu menyadarkanku, aku langsung tergegap dan mengeluarkan uang dari dompet kemudian berjalan pergi setelah melirik sekilas ke arahnya.

Ia gembira, tertawa bersama teman-temannya dan salah seorang perempuan yang katanya sedang dekat dengannya. Dekat, bahkan sebelum hubungan kami berakhir. Aku ketakutan jika ia memang mengakhiri hubungannya denganku hanya karena yeoja itu, dan bukan karena alasan yang kemarin diutarakannya. Namun, entah itu alasan apapun, kami memang sudah berhenti bersama.

***

Siang sudah terlewati dan matahari sudah turun, kegelapan menerpa begitu saja. Membuatku kesulitan melihat di antara rimbunnya pohon. Lagipula aku yang bodoh karena meninggalkan senterku di loker sekolah begitu saja. Padahal setiap hari—setelah segalanya berakhir—aku terus pergi kemari dan tanpa bantuan senter, semuanya tidak akan terlihat indah.

Aku tiba pada ujung dan meletakkan ranselku begitu saja di tanah dan memandang ke depan. Citylight Seoul sangat cerah dan itu benar-benar indah dilihat dari atas bukit seperti ini. Inilah kebiasaanku—maksudku, kebiasaan kami sebelum kami berpisah. Menatap lampu dari atas sini, menatap bangunan yang terasa aman, menatap lalu lalang kendaraan dan suara mesin yang terus menderu. Begitu saja, duduk diam disini, saling menyandar, saling tersenyum satu sama lain, saling menggenggam, lalu saat waktu habis, kami akan melambai dengan senyuman bertengger di bibir.

Namun sepertinya momen indah itu tidak akan terulang kembali setelah apa yang terjadi terhadap hubungan kami. Aku yang tidak memiliki konsekuensi kuat dan dirinya yang memaksa lepas dari pelukku. Dan semuanya telah terjadi. Kami hidup dengan jalan masing-masing. Persatuan kami lepas begitu saja dan tidak akan ada lagi tali yang akan menyatukan kami.

Pelan aku mengeluarkan sekotak cokelat krispi dari dalam ranselku ketika suara gemerisik membuatku refleks menarik ranselku dan bersembunyi di sebuah pohon besar. Cahaya remang-remang sedikit menolong pandangan mataku yang terasa gelap.

Kemudian seseorang itu duduk dan aku sangat memahami posisi duduk itu.

Ya, benar. Itu ia. Seseorang yang kuharapkan.

Aku tetap berjongkok di belakangnya, merasakan hatiku perlahan memanas dengan sendirinya. Ia tetap duduk disana beberapa detik, kemudian berdiri dan meregangkan otot-otot lengannya. Aku tidak dapat melihat sejelas itu. Kemudian jemarinya masuk ke dalam saku celana jinsnya dan mengeluarkan ponsel.

Dan aku menyumpah mataku sendiri ketika melihat gantungan ponsel yang bergoyang di tangannya.

Gantungan yang sama dengan milikku, gantungan yang menjadi bukti bahwa kami memang pernah bersama.

Air mataku mengalir begitu saja dan aku sama sekali tidak dapat menghentikannya, terus memandangi sosoknya dan membiarkan air mata semakin deras mengalir. Aku tetap memandanginya, ketika akhirnya ia menempelkan ponsel itu ke telinganya, mengatakan sesuatu yang terdengar seperti petir bagiku. Membuat langit terlihat sangat gelap dan membuat mataku memandang kesakitan. Tertunduk lalu terduduk, masih memegang ponselnya, kemudian aku yakin melihat bahunya naik turun.

“K-Kyuhyun O-Oppa..” aku tidak dapat menghentikan diriku yang keluar dari tempat persembunyianku begitu saja. Mendatanginya dengan air mata mengalir deras. “Mengapa tidak pernah bicara jujur kepadaku?”

Dan ia terpana menatapku, aku melihatnya: air matanya.

Kami menangis bersama semalaman disana.

***

Aku tidak pernah membencinya, meskipun ia berkali-kali mengatakan padaku untuk segera menjauh dan pergi, sebelum segalanya terlalu terlambat dan akulah yang akan menyesal nantinya. Namun aku tidak bisa membiarkan diriku melakukan apa yang ia inginkan. Aku tidak akan pernah mengulang hal bodoh dengan tidak mempercayainya.

Hari ini, aku bertekad mempersiapkan diri untuk mulai kehilangan dirinya yang sebenarnya. Lalu membiarkan hari-hari selanjutnya berjalan, berusaha membuat diriku mulai membencinya.

Aku telah berusaha, dan akan tidak apa-apa jika semuanya tidak berjalan seperti yang aku harapkan.

***

“Kumohon, berhentilah. Pergi menjauh dan tidak menatapku lagi.”

Aku menunduk, sakit rasanya mendengar ucapan penuh keputus-asaannya itu. Setengah meringis berusaha menahan tangis. Namun aku tidak akan menangis: tidak jika aku berada di sampingnya. Seharusnya aku lebih kuat daripada itu.

“Kyuhyun Oppa, terserah kau memintaku pergi. Pada kenyataannya toh aku tidak akan pernah pergi lagi.” Tuturku dengan pahit, menyadari bahwa aku tidak akan sekuat itu jika ia membalas menyuruhku pergi.

“Bodoh.”

“Aku memang bodoh,”

Lagi-lagi kami tertawa getir, dan aku yakin airmataku sudah menetes begitu saja tanpa dapat kutahan. Sudah terlalu banyak hari bahagia yang kami lewati, dan aku tidak ingin melewatkan sehari tanpanya. Bahkan aku rela membolos demi menemaninya, kemana saja.

“Sooyoung-ah, maukah kau berjanji kepadaku?”

“Ne?” aku mendongak setelah mengusap air mataku dengan punggung tangan, tidak akan menampilkan kesedihanku lagi.

“Berjanjilah jangan menangis ketika saat itu datang.”

Dan tangisku membuncah, tanganku memeluknya, menangis dalam pelukannya, terus menerus menangis. Menjerit kepada Tuhan mengapa Ia tega memisahkan kami dengan caara yang seperti ini. Tidak apa-apa jika ia berselingkuh, tidak apa-apa jika aku masih dapat melihatnya, meskipun tidak sanggup menggapainya.

“Kubilang jangan menangis, kenapa kau malah menangis sekarang?” ia tersenyum getir sedangkan aku melihat air matanya menggenang.

“Oppa—berjanjilah kepadaku, untuk hidup lebih baik setelah saat itu datang. Hiduplah dengan baik disana. Karena aku juga akan berusaha. Kau dengar aku?”

“Ya, tentu saja. Dan kau juga harus melakukannya.”

***

Hingga akhirnya, hari itu datang.

Aku mematung di hadapannya, maksudku di hadapan jasadnya yang terdiam, kaku. Bahkan lidahku terlalu kelu untuk mengatakan sesuatu, hanya air mataku yang terus mengalir. Isakan pun tak keluar dari mulutku yang terkatup rapat.

Seolah sesuatu telah merusak sarafku sehingga hanya mataku yang dapat merasakan, sementara organ lainnya tak lagi berfungsi.

Aku berdiri disana, sampai setengah jam selanjutnya, kemudian langsung menghambur dalam pelukannya yang dingin. Ia tidak lagi disana, ia telah pergi. Ke tempat yang sudah-sudah. Dan aku tidak bisa menghentikan jeritanku dan tangisanku mengingat bahwa sosok yang sangat sangat kucintai sudah tidak ada disini lagi.

Berkali-kali kugoncangkan tubuhnya, berusaha keras membangunkannya. Berusaha keras membuatnya sadar. Berteriak menyebut namanya, berteriak memanggilnya, berteriak kesakitan, berteriak, sampai segalanya berubah gelap.

***

Kini aku berada di hadapannya, di tempat persemayaman terakhirnya. Menangis terisak, meremas kemeja hitamku sendiri, tertunduk-tunduk menangis. Eomma bahkan tak sanggup menenangkanku. Tidak ada seseorang yang bisa menenangkanku.

Tidak ada, kecuali ia.

Hujan turun ketika aku bersimpuh di atas tanah basah itu, mengiringi air mataku yang tidak kunjung berhenti.

Hari ini, aku melanggar janjiku untuk tetap kuat berdiri.

Aku melanggar janjiku kepadanya.

***

Namanya Cho Kyuhyun.

Kami saling mengenal sejak empat tahun yang lalu, kemudian berpacaran tiga tahun setelahnya. Kemudian putus bulan lalu, dan kembali dua minggu yang lalu.

Namanya Cho Kyuhyun, dan ia menderita kanker otak stadium empat.

Namanya Cho Kyuhyun, dan ia satu-satunya orang bodoh yang meminta putus dari orang yang ia  cintai, hanya karena tidak ingin orang itu tersakiti lebih banyak.

Namanya Cho Kyuhyun, dan ia adalah seseorang kini telah kembali dalam pelukan-Nya yang menenangkan.

Namanya Cho Kyuhyun, dan ia satu-satunya orang yang pernah membuatku begitu dalam mencintai.

Namanya Cho Kyuhyun, dan ia seseorang yang kubenci karena telah terlalu banyak menyakitiku.

Terlalu banyak.

Banya sekali.

Namanya Cho Kyuhyun–

-FIN-

MWK’s Note:

Annyeonghaseyo~~

Lama tak jumpa kekek, aku bawa ficlet lagi nih. Ceritanya pasti ancur dah ;_;

Aku gatau kenapa aku bikin ini dan darimana ide cerita sebenarnya waks, agak ngawur juga sh -__-

Tinggalkan komentarmu, terima kasih ^^

97 thoughts on “[Ficlet] When That Day Arrives

  1. Sukses bikin nyesek.. T,T
    Ranngkaian Kata-katanya bagus + pas.
    Walo ad sdikit typo tapi tak mengurangi kesedihan yg melandaku pas baca nih ff..
    Gila, feelnya bner” dapet.. Smpe skrg aja masih nyesek.. ToT
    Eonni emang bener” bagus buat ff Sad!
    Kayaknya eonni lebih baik bikin ff sad aja (tp jangan sad ending trz) dr pda ff genre comedy..
    Ditunggu karya lainnya + part kelanjutannya disturbance, ne?😀

    Like

  2. Daebaakk!!

    Walaupun sad ending mulu.. Tapi kau berhasil membuat emosiku terguncah chingu.. -_-‘ hiks TT_TT lanjut thor daebak!!

    Like

  3. Huhu ni ficlet bkin nangis ja chingu.. (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)
    Feelx dpt bgt + sad ending *huwaa*
    Gk bsa blg ap’ lgi chingu, you’re awesome TT_TT
    U make Indonesia banjir (?)
    Btw kok chingu sneng bgt bkin ff sad si?? ‘_’)/
    *need answer!*
    Next ff ditungguu,klw bsa jgn yg nyesek” lgi yaa :*
    Hwaiting! (ง’̀-‘́)ง

    Like

  4. thor, aku nangis loh bacanya😦 . thor, skali2 buat ff yang comedy dong jgn yg sad terus ya walaupun aku slalu mnikmati ff author .

    Like

  5. Huhuhu
    Kok sad ending siiiih?
    Tapi tetep keren ff nya
    Walau awalnya kurang ngerti

    DAEBAK!!!!
    Buat ff nya yang lain
    HWAITHING ya chinguuuuu

    Like

  6. rangkaian kata-katamu bagus banget,eon. sumpah \\//
    feelnya dapet banget.
    nice ff eon😉 ditunggu kelanjutan disturbance nya yaa

    Like

  7. OMG.
    Sempet bingung di awal ga jelas ini ceritanya gmna? Ga ngerti.
    Tiba-tiba.. Jggeerr..
    Sad end. Walaupun ga banyak tp banget banget menyentuhnya astaga thoorr T,T😥 huuuaaa..
    Feelnya kena banget parah. Keren thor keren.

    Like

  8. author yg ini emng ccok bawain ff dgn genre sad nya! T.T dan lihat lihat! Apa ini? Feel nya sellu aja dpt😦 bahkan di ff disturbance aja feel nya kena bgt T.T
    ohh~

    okelah next ff! oiy ditunggu ff disturb nya onnie , sprti biasa feel nya hrs sllu dpt. oke oke🙂
    Hwaiting ne😀

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s