[Chapter Five/?] Disturbance


distur

Title: Disturbance

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

-Seo JoHyun

-Other Cast

Genre: Sad, Romance

Length: Chaptered, Series

Rating: Teenager and PG

Credit Poster: Fearimaway’s

Disclaimer:

Seluruh plot adalah milik Saya. Cast milik diri mereka masing-masing dan Entertaiment mereka. Saya hanya meminjam nama mereka untuk fanfiction ini. Apabila terdapat kesamaan jalan cerita, itu hanyalah kebetulan semata dan bukan karena saya memplagiat atau menjiplak. Kamu boleh membaca namun kamu harus meninggalkan komentar. Sider sangat tidak dihargai disini!

Happy Reading~

***

“Segalanya akan berakhir, cepat atau lambat.

Kita harus memilih, antara cinta atau kebencian.

Dan aku bimbang bahwa kau akan memilih cinta.” – Disturbance.

~*~*~

Langkahku kupercepat dan tanganku sedari tadi mengusap air mataku terus-menerus. Bahkan meskipun hatiku menyuruhku untuk tidak menangis, aku tetap menangis. Aku sudah terlalu sering sakit, namun belum pernah aku merasakan sakit yang seperti ini. Bahkan, ketika tahu bahwa orang tuaku meninggal pun tidak sesakit ini.

Rasanya menyakitkan ketika orang yang begitu kau cintai dan kau percayai menganggap dan menilaimu serendah itu. Meskipun aku menyukainya, aku tidak pernah berpikir untuk menyingkirkan Seohyun dengan cara sejahat itu. Terlintas niat itupun tidak. Dan aku benar-benar sakit dengan tuduhan kejam Kyuhyun itu. Kalaupun aku ingin menghancurkan hubungan mereka, aku bisa melakukan hal yang lebih parah dan fatal daripada ini.

Sekarang kakiku sangat sakit, high heels benar-benar menyiksa. Tapi aku tidak ingin berhenti dan membiarkan orang tahu bahwa aku sedang menangisi orang yang benar-benar membenciku. Beberapa meter setelahnya, rasanya kakiku akan remuk jika kupaksa berjalan jauh lagi, jadi aku melepasnya dan menenteng sepatu mahal itu dan membiarkan kakiku telanjang.

“Aghassi, anda baik-baik saja?” tanya resepsionis apartemen ketika aku masuk dengan wajah tidak karuan. Aku ingin sekali berbalik dan menyentaknya, namun rasanya yeoja itu terlalu baik untuk kusentak dengan cara memalukan—jadi aku hanya berjalan menjauh menunggu lift.

“Sooyoung-ah!”

Aku terpana dan mendongak, menyadari bahwa lift telah terbuka dan kini ada Karen di hadapanku. Yeoja itu tampak agak aneh.

“Mwoya? Kenapa kau bisa disini?”

“Aku mencarimu tadi,”

“Aku ada janji dengan seseorang. Dan sekarang baru pulang, ayo naik dan masuk ke apartemenku dulu.” Tawarku dan berjalan masuk.

“Siapa? Namja itu lagi?”

“Ne,”

“Sudah kuduga, namja itu memang agak tidak beres!”

“Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti letak ketidak beresannya.” Komentarku dan memencet tombol ‘enam’ di dalam lift yang segera naik ke atas.

“Namja itu.” Karen menghela napasnya dan menatapku. “Kau jatuh cinta padanya, kan?”

“Bagaimana bisa kau sampai pada pemikiran itu?” tanyaku dengan tajam, padahal hatiku bersorak mengatakan ‘ya’ terus menerus. “Dia adalah kakak angkatku, jadi tidak sepantasnya aku jatuh cinta padanya.” Well, tidak bisa dikatakan begitu mengingat keluarga Cho tidak mengangkatku; mereka hanya sekedar menampungku dan tidak apa-apa jika aku jatuh hati dengan Kyuhyun atau anak mereka yang lain—jika mereka punya.

“Dan kau melanggarnya. Kau jatuh cinta kepadanya.”

“Aniya. Kenapa kau terus-menerus mengatakan itu?” kali ini aku agak kesal juga. Padahal hatiku sudah berusaha melupakan dan memendam rasaku dalam-dalam, dan yeoja di depanku ini malah mengangkatnya menjadi pembicaraan kami.

“Dari dulu aku tidak pernah paham pemikiranmu. Sulit sekali ditebak. Padahal kau tahu aku benar, tapi kau membantahnya.”

“Geumanhae, Karen-ah.” Aku menarik napas dalam dan mengembuskannya. “Aku memang mencintainya, dan ia sama sekali tidak. Jadi berhenti mengatakan itu karena kau hanya membuka lukaku saja.”

Karen langsung diam dan memandangku meminta maaf. Aku mengangguk sekilas dan menunduk, berharap lift cepat sampai di lantai yang kami tuju dan aku bisa melepaskan kecanggungan kami ini.

“Terkadang aku berpikir bahwa Tuhan tidak adil karena memberimu kebahagiaan yang terlalu banyak. Tapi sekarang aku mengerti, terkadang ia juga mencabut kebahagiaanmu itu.”

“Apa maksudmu?” tanyaku, padahal aku mengerti dengan jelas apa maksudnya. Ia iri padaku—meskipun aku tidak tahu letak kelebihanku itu.

“Lupakan saja, ayo masuk.”

Aku bahkan tidak menyadari bahwa kami sekarang berada di depan apartemenku.

~*~*~

“Berhentilah, kumohon berhentilah.

Aku tidak ingin perasaanku semakin terlarut padamu..” – Disturbance.

~*~*~

Plak.

Satu tamparan telak yang belum pernah aku dapatkan kini menyentuh pipiku.

“Berhenti mengganggunya! Kau membuatku semakin terlihat jelek di hadapan Eomma!”

Aku sama sekali tidak mengacuhkannya. Bahkan membiarkan pipiku terasa kebas dan panas.

“Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu! Kenapa kau masih mengganggunya padahal kau tahu bahwa dia sudah menjadi milikku?”

“Milikmu?” aku memancingnya dengan tatapan dingin. “Kau bahkan tidak tahu apa-apa tentang hubungan kami, dan seenaknya mengatakan dia milikmu?”

Ia sudah bersiap-siap menamparku kembali ketika sebuah tangan memeganginya.

“Hentikan ini semua. Kau pulanglah, Seohyunnie. Aku perlu berbicara dengan Sooyoung.” Kata Kyuhyun dengan nada tegas, membuat gadis yang baru beberapa saat lalu menamparku mundur teratur.

“Aku memintamu untuk menyimpan semuanya dalam-dalam,” ia memulai pembicaraan dan memandang ke arah lain; bukan mataku. “Aku minta maaf karena membuatmu terkurung dalam masalah yang aku sebabkan, aku minta maaf. Tapi aku merasa bahwa ini tidak benar.”

Terakhir kali aku melihat kedewasaan di matanya adalah ketika ia memintaku untuk tidak membencinya setelah apa yang ia hilangkan dari tubuhku.

“Aku—aku merasa tidak mencintaimu. Dan aku mencintai Seohyunku. Maaf, karena tidak bertanggung jawab tentang itu..”

Air mataku menggenang begitu saja.

Ia menunduk kemudian mendongak kembali. “Aku yakin suatu saat nanti akan ada seorang namja yang akan menerimamu apa adanya, tanpa memedulikan tentang kepera—”

“Cukup.” Aku bahkan sudah menangis saat ini juga. “Apa kau pikir aku benar-benar mengganggu hubungan kalian dan akan menuntutmu untuk bertanggung jawab?! Apakah kau sadar bahwa aku tidak pernah melakukan itu semua? Dengar aku, apakah kau pernah melihatku memintamu menikahiku?”

“…..”

“Tidak, kan? Bahkan ketika aku hamilpun, aku tidak pernah meminta pertanggung jawabanmu. Bahkan aku rela pergi menjauh hanya supaya kau tidak masuk ke dalam lingkaran masalahku. Dan sekarang kau menuduhku telah berlaku jahat memisahkanmu? Pernahkan kau berpikir tentang perasaanku?”

“…”

“Tidak, tentu saja.” Aku menghela napas dan menunduk. “Keputusanku sudah bulat, lebih baik kita hidup tanpa saling kenal saja. Menjauhlah, karena aku memang akan menjauh. Berusahalah melupakan password apartemenku, karena kau bukan lagi bagian dari rumah itu. Dan karena aku memang tidak akan pernah berlagak mengenalimu. Kita hanya akan bertemu di Busan. Tapi tenang saja—jika kau datang, aku akan langsung pulang. Dan pernikahanmu, jangan pernah mengirim undangan itu. Simpan itu untuk dirimu sendiri. Jangan ingat aku, ingatlah bahwa Choi Sooyoung hanyalah bagian kenangan masa kecilmu yang sangat buruk. Karena tanpa kau minta, aku sudah melakukannya. Selamat tinggal.”

Berakhir.

Segalanya telah berakhir.

Cintaku yang telah tersimpan begitu lama, kandas begitu saja hari ini.

Bagaimanapun, konsekuensi dari ucapanku tadi adalah: aku benar-benar harus melupakannya dan berjalan maju.

~*~*~

“Terkadang aku menanyakan akhir kita, bahagiakah.. atau justru kebalikannya.

Namun kini aku mengerti, kita mungkin tidak ditakdirkan bersama.

Selamat tinggal…” – Disturbance.

~*~*~

“Kenapa kau melakukan itu? Kau tahu kau menyukainya,”

“Terkadang apa yang kita inginkan tidak bisa kita lakukan. Sama sepertiku, aku sama sekali tidak bisa melakukan apa yang sangat kuinginkan. Ingat tidak jika dia sudah memiliki pacar?”

“Masih pacar Sooyoung-ah, setidaknya kau punya jalan.”

“Mendekatinya hanya menyakitiku. Kau tahu?”

Karen terdiam dan memandangiku.

“Aku tidak tahu bahwa kisahmu akan serumit ini. Jika aku menjadi kau, aku pasti tidak tahu apa yang kuinginkan. Mungkin aku malah menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka.”

Kau tidak tahu, Karen-ah, aku juga sangat tergoda untuk menjadi penghancur hubungan mereka.

“Ya, mungkin.” Aku sendiri tidak yakin dengan diriku.

“Baiklah, mungkin mendengarkan radio bisa membuatmu sedikit—yah, bahagia.”

Aku bahkan tidak yakin jika aku bisa bahagia.

“Nah, tunggu sebentar. Biar kucari siarannya. Biasanya jam seperti ini aku mendengarkan—nah, ini dia!”

Aku memasang telingaku baik-baik dan menidurkan kepalaku di meja kantin; kepalaku pusing sekali dan aku lelah. Semalaman aku tidak bisa tidur dan hanya berguling-guling di atas kasurku sementara otakku terus-menerus mentransfer kenangan-kenangan tentangnya secara bergilir. Aku bimbang aku akan dapat melupakannya jika memoriku saja terus-menerus mengkhianatiku.

Selamat siang pendengar semua, jam berapa sekarang? Ah! Saatnya menerima curhatan pendengar! Ingat, segera telepon di nomor kami disini. Kami selalu siap mendengarkan! Oke, telepon sudah berdering!”

“Annyeonghaseyo… Ne? nama? Domisili?”

Sepertinya, penyiar itu baru saja mendapat telepon. Yah, setidaknya aku bisa sedikit terhibur dengan ini.

“Aaah… rahasia? Jadi pacarmu sedang mendengarkan sekarang?” tanya penyiar itu dengan nada menggoda, terdengar suara dehaman sebentar. Kemudian penelepon itu menjawab.

“Ani, dia bukan pacarku. Lagipula dia bukan tipe seseorang yang suka mendengar radio.”

Aku agak merasa familiar dengan suara itu. Tapi aku sendiri tidak dapat memastikan orang itu. Sepertinya hanya suara yang sama.

Ah begitu. Sepertinya agak rumit. Kau menyukainya, ya? Sudah lama?”

Ani, aku tidak tahu. Aku hanya bingung dengan hubunganku dengannya.”

Jadi kau tidak tahu bagaimana perasaanmu? Bisa kau jelaskan detail-detailnya? Siapa kira pendengar dapat menjawabnya..”

“Aku sudah memiliki pacar. Dan orang yang kumaksud adalah sahabatku. Ani, hubungan kami benar-benar tidak bisa disebut hubungan.”

“Jadi bagaimana? Kau menyukainya?”

“Aku merasa senang dan nyaman jika di sampingnya. Tapi sepertinya dia sudah terlanjut kesal denganku. Kami melakukan hubungan yang seharusnya tidak kami lakukan. Dan aku malah berniat menikahi pacarku..”

Tunggu, kenapa cerita orang itu agak terdengar seperti ceritaku? Bedanya, orang itu menyukai ‘wanita yang ia maksud’ sedangkan Kyuhyun tidak menyukaiku. Aku menghela napas, memfokuskan diriku sendiri untuk mendengarkan secara runtut.

“Dia hamil?” seru penyiar itu terdengar tidak percaya, sedangkan si penelepon itu tidak menjawab dan hanya diam.

Sepertinya kau benar-benar melakukan kesalahan,”

“Aku tidak berniat seperti itu! Aku hanya tidak tahu hatiku! Aku merasa nyaman dengannya, tapi aku tidak bisa membatalkan pertunangan begitu saja. Ini tidak mudah..”

“Ada saatnya untukmu berpikir lagi, mungkin seharusnya kau menjalani hari bersama wanita itu dan pikirkan baik-baik bagaimana perasaanmu..”

“Terima kasih. Aku akan benar-benar melakukannya.”

“Nah, sekarang, siapa namamu?”

“Namaku—a”

“Hentikan ini.” Tiba-tiba saja Karen menekan tombol ‘off’ dengan cepat dan membuatku tidak bisa mengetahui siapa namja itu. “Benar-benar mengesalkan, kenapa kita harus mendengarkan curhatan namja plin-plan itu?”

“Karen-ah!” aku sangat kesal dan mendelik padanya. “Apa yang kaulakukan?! Nyalakan kembali!”

“Apa sih maumu,” ia mendumel dan menyalakan radio kembali. Namun yang terdengar hanyalah lagu sedih yang mungkin di-request oleh namja tadi. Aku menghela napas kesal dan kembali menidurkan kepala, benar-benar berniat tidur.

~*~*~

Aku tidak percaya bahwa ia kembali menemuiku hari ini. Bahkan, kali ini ia sendirian; tanpa Kyuhyun. Yeoja itu memandangku datar dan menarikku masuk ke dalam restoran, ia sudah memesan kursi dan kami hanya perlu duduk.

Pelayan datang dan tanpa berbicara itu menulisi note pesanan itu dan mengangsurkannya kepadaku. Aku memikirkan minuman dan makanan yang benar-benar kuinginkan, namun karena tidak ada yang kuinginkan akhirnya aku memeilih limun dan spagetti saja. Kuharap mie dalam spagetti itu tidak benar-benar membuatku berantakan di hadapan ‘musuh’-ku ini.

Kami masih diam sampai pelayan itu meletakkan pesanan kami; ia menyesap jusnya dan aku meminum limunku. Saat aku akan menggulung makananku di garpu, ia berdeham. Dan secara refleks aku menghentikan pergerakan-makanku.

“Apakah aku menuntut terlalu banyak?”

Aku sama sekali tidak paham maksudnya. Bukankah selama ini aku tidak pernah bertemu dengan Kyuhyun? Jikapun kami bertemu, Kyuhyun selalu mengajaknya ikut. Benar-benar tidak masuk akal jika ia marah kepadaku.

“Dapdaphe.” (jawab aku)

“Mungkin,”

“Dia pacarku. Dan bahkan kami hampir bertunangan. Apa aku salah jika bersikap protektif?”

Aku mengangkat bahu.

“Aku bertanya padamu, Sooyoung-ssi.”

“Aku tidak punya jawaban untuk pertanyaanmu itu Seohyun-ssi. Jika kau ingin mendapat jawaban yang memuaskanmu, tanyakan itu kepada Kyuhyun sendiri atau psikolog jika perlu.”

“Aku tidak bisa mengatakan itu kepada Kyuhyun Oppa,”

“Sepertinya kau benar-benar tidak pernah mengertinya. Tiba-tiba aku menanyakan kelanjutan hubungan kalian.” Aku benar-benar kaget mendengar jawabanku yang tajam itu. “Maksudku—”

“KAU TIDAK TAHU BAGAIMANA AKU BERUSAHA!”

Aku agak tersentak mendengar bentakannya itu.

“Kau tidak tahu kan, bagaimana ia memanggilmu ketika kami tidur bersama. Bagaimana ia meneriakkan namamu ketika tiba di klimaksnya! Kau tidak tahu semua itu, Choi Sooyoung!”

Sekarang, aku benar-benar kaget. Kyuhyun? Menyebut namaku? Kukira ia tidak sudi melakukan itu.

“Aku sudah berusaha membuatnya melupakanmu! Tapi ia justru diam dan tampak bingung! Dan kemarin—kemarin..” aku melihat matanya mengair. “Dia bertanya padaku… apakah dia benar-benar mencintaiku. Dia tidak percaya kepada cintanya lagi, Sooyoung-ah!”

Aku menunduk. Merasa tidak kuasa menatap wajahnya. Bagaimana ini bisa seperti ini?! Aku terima jika Kyuhyun tidak memilihku; namun sekarang ia—secara tidak sengaja—menarikku dalam ‘benang’ urusan antara dirinya dan yeoja di hadapanku ini.

“Aku harus bagaimana, Sooyoung-ah?” tanyanya dengan suara yang sangat lirih. Aku yakin ia sama terlukanya denganku. Coba saja jika ia tahu bahwa aku juga pernah melakukan hubungan ‘itu’ dengan Kyuhyun.

“Aniyo, Seohyun-ssi.” Akhirnya aku menjawab. “Aku juga benar-benar tidak tahu. Mungkin.. dia hanya terbawa momen..”

Rasanya hatiku sakit mendengar ucapanku sendiri. Momen?! Bahkan aku mengharapkan bahwa ia memang membutuhkanku!

Terakhir, Seohyun mengusap air matanya dan bangkit, membuat mejanya berderak dan berjalan pergi setelah mengucapkan kalimatnya.

“Kalaupun aku harus merelakannya, aku benar-benar akan menghalanginya mendapatkanmu!”

Aku tidak tahu mengapa ia benar-benar membenciku.

~*~*~

“Kenapa tidak pulang bersama Kyuhyun saja?” tanya Eomma ketika aku masih sibuk menata kaus-kaus santai ke dalam lemari kamarku. “Dia pasti tidak keberatan.”

“Aniya, Eomma. Aku yakin Kyuhyun sedang sibuk. Mengurus pernikahannya, pestanya, dan mungkin meluruskan pekerjaannya. Menjadi direktur sangat sibuk,” tolakku dengan halus dan kini berbalik menuju tas tanganku. “Lagipula aku tidak ingin mengacaukan kencannya dengan Seohyun.” Aku tersenyum.

“Ei! Kau ini benar-benar!” Eomma berseru dan duduk di atas kasurku. “Mereka kan sudah bertemu setiap hari, jadi tidak apa-apa jika tidak bertemu.”

“Tetap saja tidak boleh,” aku kembali tersenyum dan menghempaskan tubuhku di atas kasur yang sama kemudian menggelayut manja. “Aku tidak apa-apa datang sendirian.”

“Aish, terserah kaulah. Ayo makan, Appa sudah menunggu.” Ujar Eomma sambil berbalik. Ia kemudian menutup pintu dengan perlahan dan terdengar suara langkah kaki menjauh.

Aku memandang atap dengan pandangan aneh, memutar bola mataku sinis kemudian mnenutup mukaku dengan bantal mungil yang sekiranya tidak terlalu berat, kadang-kadang pembicaraan dengan Eomma membuatku migrain. Bukan apa-apa, tetapi Eomma sering sekali mengungkit tentang namja dan Kyuhyun—aku harus bersyukur karena Eomma sama sekali tidak pernah membicarakan tentang kehamilanku dan hubunganku dengan Kyuhyun. Setidaknya, itu tidak membuatku sakit hati dan terkenang-kenang lagi.

“Sooyoungie!” aku mendengar Eomma berteriak, membuatku menurunkan bantal dari atas wajahku dan bangkit setelah sebelumnya menampung air keran dan menyiramkannya ke wajahku.

Eomma sedang menata piring ketika aku datang, ia langsung menarik kursi untukku dan menuangkan sup kimchi di dalam mangkuk bundar mungil di hadapanku. Aku meraih mangkuk bundar lainnya dan menyendok nasi, kemudian mengambil lauk dan mulai makan.

“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Appa sambil menelan minumannya. Ia sudah keriput, dan ia juga sudah tahu masalahku dengan Kyuhyun itu. Tampaknya, sekarang Appa sudah mulai menerimanya, dan aku bersyukur karena itu.

“Baik. Aku tidak pindah kok, hanya menjadi full-part di perusahaan editor itu.” Ujarku berusaha tenang, berbicara dengan Appa membuatku agak takut.

“Ah, bukannya itu terdengar menyenangkan? Nah, sebentar lagi Kyuhyun pasti datang.”

Aku tersedak potongan lobak dan terbatuk-batuk, Appa segera menyodorkan gelas air putihku dan aku menelan banyak-banyak.

“Wae? Kau tidak senang Kyuhyun kemari?” tanya Eomma.

“Ani, aku senang. Tapi kukira dia sedang sibuk.”

“Yah, dia juga bilang begitu.” Kata Eomma mengakui, kemudian menyendokkan kimchi ke dalam mulutnya, “tapi aku sudah memaksanya, dan dia bilang ya,”

“Apa dia tahu aku ada disini?”

“Tidak. Sepertinya,”

Aku mengeluh dalam hati dan melanjutkan acara makanku, memutuskan mencari cara agar bisa terhindar dari Kyuhyun. Apapun itu. Ah, mungkin aku mengeluh sakit saja.

“Eomma, makanan ini rasanya hambar di lidahku. Padahal biasanya masakan Eomma sangat lezat.” Aku memancing dan memasang wajah bingung. “Benar-benar aneh.”

“Oh, ya?” Eomma berseru dan mengecap-ngecap, mungkin ikut merasakannya. “Ani, rasanya biasa saja, kok. Kau pasti sakit, Sooyoungie.” Ia bangkit dan menaruh tangannya di dahiku. “Hangat, yaah, mungkin kau tidak bisa bertemu Kyuhyun hari ini. Setelah makan, minum obat dan tidurlah. Kau pasti kelelahan.”

Aku heran mengapa dahiku bisa terasa hangat, jangan-jangan aku memang sakit? Apakah menipu bisa membuat kita benar-benar sakit? Tapi apapun itu, aku merasa senang dan menelan makananku banyak-banyak; masakan Eomma masih seenak dulu.

“Aku mau tidur, Eomma, Appa.” Aku mengecup kening mereka masing-masing, memasang wajah sedihku, dan berjalan menuju ke kamar.

~*~*~

Ketika aku terbangun—aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan benar-benar tidur—yang kudengar pertama kali adalah klakson mobil. Aku bangkit dan melongok di jendelaku, berniat ingin melihat orang yang baru datang itu.

Kemudian aku langsung menyesal bangun.

Mengapa pula aku harus bangun ketika ‘ia’ datang? Kenapa ia tidak datang dari tadi saja, supaya aku tidak harus bertemu dengannya?! Aku mengeluh dalam hati dan kembali masuk ke dalam selimut dan memejamkan mata; berusaha untuk tidur lagi. Meskipun ini konyol, aku akan senang sekali jika aku bisa masuk dalam dunia mimpi lagi.

“Sooyoungie!”

Cepat-cepat aku bergaya tidur dan tidak bergerak seinci pun.

“Yah, masih tidur.” Aku mendengar suara menyesal Eomma, “mungkin kau akan bertemu dengannya nanti,”

Nanti? Enak saja! Aku sih sama sekali tidak mau dengannya! Yah, walaupun hatiku sebenarnya merindukannya. Aku segera menepis pikiranku dan berbalik mengkurap. Eomma bisa dengan mudah mendeteksi mata seseorang yang sedang tidur dan yang tidak, jadi mending aku mencari amannya saja.

Tunggu, sebenarnya aku ini terlihat seperti pengecut sekali. Pertama, menemuinya saja aku tak berani: tapi aku membela diri dengan mengatakan bahwa perjanjian kami adalah saling tidak-bertemu. Kedua, sekarang mungkin aku tidak bertemu dengannya, namun toh nanti tetap kami akan bertemu. Bagaimanapun. Tapi aku cukup senang melihatnya peduli padaku; ia datang ke kamarku, itu tandanya ia mencariku. Tidak peduli apa yang akan ia katakan, aku sudah cukup senang.

“Ayo kita pergi.” Aku mendengar Eomma berkata dan menutup pintu. Ketika terdengar pintu tertutup dan berbalik kembali, mengucek mataku yang terasa kering dan kemudian kaget sendiri ketika melihat ia masih berdiri di belakang pintu kamarku.

“Apa yang kau lakukan disini?!” bentakku kaget—yah, aku cukup pandai mengatur nada suaraku agar tidak terdengar kaget, padahal memang itu yang sebenarnya.

“Kau menghindariku.” Ujarnya dengan nada aneh yang terdengar seperti nada kecewanya. “Apakah aku bersalah?”

Sungguh, dulu pasti aku sudah memeluknya. Namun sekarang, itu tidak mungkin melakukannya. Melakukannya = membuka luka hatiku yang kini sudah terjahit seperempat. Aku menghela napas dan memandanginya datar, tidak bermaksud mengingatkannya tentang perjanjian kami waktu itu untuk saling-menjauh.

“Baiklah, aku sama sekali tidak setuju dengan perjanjianmu waktu itu.”

“Aku tidak bertanya. Aku juga tidak menerima jawaban tidak. Hanya ya,”

“Kau marah kepadaku?”

Ia masih bisa berkata begitu?! Apa ia tidak mengerti sakitnya ketika orang yang kau cintai—dan ayah dari anakmu pula—akan menikah sementara kau masih disini dan masih tetap mencintainya? Aku tidak habis pikir kenapa Eomma bisa mempunyai anak yang ketidak pekaannya bisa melebihi keledai sekalipun.

“Kenapa diam?”

“Aku tidak akan memberitahukannya. Cari tahu sendiri dengan otakmu, selesaikan itu. Itu PR-mu dariku.” Ujarku dengan dingin dan membuka pintu. “Sebelum kau mendapatkan jawabannya, jangan sekalipun mengusikku.” Lanjutku dan memandanginya. “Apa kau masih kurang paham?”

Ia berjalan keluar dengan wajah bingung, namun aku sama sekali tidak memedulikannya dan menutup pintu begitu saja. Selain agar ia tidak menyadari perubahan raut mukaku, juga agar ia mengerti betapa seriusnya aku sekarang.

Kuhempaskan tubuhku di kasur dan memutar bola mataku, hanya agar air mataku tidak tumpah sekarang juga. Rasanya sakit sekali. Sepertinya pilihanku hanya satu; memangkas dalam-dalam cinta itu.

-t o b e c o n t i n u e d-

MWK’s Note:

Fiuh, akhirnya post juga >w<

Beneran, chap ini sama sekali gak menjajikan dan aneh banget. Padahal aku udah usaha supaya permasalahannya agak ‘keluar’ dikit, tapi ternyata malah jadi gini -__-

Disturbance udah mau END lho, ada yang nunggukah? Hehe, walopun next chap mungkin lebih lama lagi ._.v Maaf ya sudah membuat menunggu ff gak karuan ini, dan malah munculnya ancur kayak begini😐

Hihi, udah tampakkah perasaan Kyuhyun ke Sooyoung? Yang tahu komen coba aoks😄

Jesamja akan segera dipost, cuma kurang ngedit cast, jadi mungkin beberapa hari setelag ini -_- maklum lagi capek banget mikir sekolah dan ff hutang. Tiga ff saya hutang semua deh *.*

Oke deh, cukup begini ya. Jangan lupa tinggalkan komentarmu, seperti disclaimer awal. Untuk yang belum mendapatkan password bisa kemari: here

Tinggalkan komentarmu dan Terima kasih \^o^/

245 thoughts on “[Chapter Five/?] Disturbance

  1. Kyuhyun galau , haaha
    iya kah waktu berhubungan am seo , kyu manggil nama sooyoung , cii kyuyun diem” mikirin sooyoung , kkk
    lebih sakitan mana hayo soo am seo?!
    pasti sooyoung lah , dy berlipat” ganda sakit nya😥
    berharap ada side story nya kyuhyun ^^

    Like

  2. Kbwat part ni bkin gemes bgt ma kyu oppa, ya ampun bner2 mnybalkan bgt , gk peka akn prasaan n penderitaan soo unnie deh , , , ok baca next part nya ,,,

    Like

  3. haha seo frustasi gegara kyu nyebut nama sooyoung bukan dia
    iyaa laah
    secara sooyoung cuma buat kyuhyun begitu pun sebalik nya
    tapi jujur di ending ff mu aku ngga pengen kyuyoung, kyu nya tega bgt selalu bikin soo nangis

    Like

  4. knp bru sdar klu kyu suka sama soo pas kyu udh brtunangan,kyu kyak g pnya dosa sama skali,ais. . .itu seohyun hrusny dy nyadar yg bkin rusak hbungan tch dy.

    Like

  5. kyu ngebingungin bgt,kata’e dia pcaran ama seo trus mw nikah jga tp kok paz lg klimaks kok inget’e ama soo..
    Pnasaran next part az deh..

    Like

  6. “Aku—aku merasa tidak mencintaimu. Dan aku mencintai Seohyunku. Maaf, karena tidak bertanggung jawab tentang itu..”
    ckckckc.. aku gk suka klimat itu.. ><
    lupakan Soo unniee,, tdk bisakah kw mlupkannya?? hehe

    Like

  7. MMmMm. .laki2 emang kayak gItU, MEReka kadang menjadi orang palin tolol di dunia. SoOEon hwaiting .

    Like

  8. Kyuppa tu sbnrny mw apa sh? Bngung deh.
    Jgn blang dy ska sm soo eon, kalo suka kok dy tega sh nyakitin soo.
    But wait, dri crta diatas ak nangkep kalo kyu neriakin nma soo pda saat klimaks.
    Jd seo dan kyu jg ngelakuin it?

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s