[Oneshoot] Disease: Still Hurts


still-hurts

Title: Still Hurts

Author: @MeydaaWK

Casts:

-Cho Kyuhyun

-Choi Sooyoung

Genre: Sad, Romance, Love Story

Rating: Teenager and Parent Guidance

Length: Oneshoot

Credit Poster: Fearimaway @ssoopuding.wp.com

Backsound:

Happy Reading~

-oOo-

Bagaimana ketika aku membuka mata, Kau sudah tiada?

***

Lagi-lagi ia memandangi tanah merah itu, merasa napasnya terhenti ketika matanya menangkap tulisan dalam sebuah nisan. Hampir menangis ketika kakinya bersentuhkan dengan tanah itu, dingin dan lembap.

Ia sudah berusaha untuk menahan tangisnya, namun ia tidak dapat menahannya lagi sekarang. Semuanya telah berlalu dengan cepat, namun ia masih belum sanggup untuk menerimanya. Untuk memahami bahwa ini adalah takdir yang telah ditentukan Tuhan untuk setiap manusia.

Bukankah kita bisa mengubahnya?!

Ia teringat pada selaan seseorang yang ia cintai ketika ia mengatakan tentang nasib, takdir, dan kehidupan. Dan ia akan segera menyela dengan, “Kalaupun bisa, itu pasti sangat sulit”. Dan seseorang yang ia cintai itu balik membalas.

Memangnya kau sendiri pernah melakukannya? Kau bahkan tidak tahu rasanya!

Ia jatuh tergugu, menangis sendirian di hadapan makam. Benar, ia memang tidak tahu rasanya. Ia tidak pernah tahu rasanya semenyesakkan ini. Terlebih lagi, ia lah penyebab semuanya terjadi.

Matanya memburam, lelah menahan tangis dan kini membiarkan air matanya mengalir. Ia terlalu lelah, Tuhan. Bisakan ia membiarkan otaknya memutar kenangan masa lalu itu?

Seolah suara menjawab, “Bisa.”

***

Angin musim dingin bertiup dengan cepat, membuat seorang lelaki merapatkan mantelnya dan kembali memandang nyalang ke depan, ke arah matahari terbit. Kepalanya penuh dengan pemikiran alasan-alasan mengapa ia harus menunggu seperti ini.

Tidak ada yang tahu jawabannya, dan lelaki itu hanya diam dan terpekur, sesekali merapatkan mantel dan meremas bagian bawah mantelnya menahan dingin. Sarung tangan bewarna gelapnya sama sekali tidak menolong, ia bahkan masih merasa kedinginan.

Mulutnya merutuk lagi karena seseorang yang ia tunggu tidak kunjung datang. Apalagi ponsel dalam kantung jaketnya—ia memakai jaket di balik mantelnya—kehabisan baterai beberapa menit yang lalu. Ketika ia baru saja tiba.

Lelaki itu buru-buru menghela napas ketika dilihatnya seseorang berlari ke arahnya; mantel merahnya berkibar dengan cepat. Dan lelaki itu langsung tersenyum ketika menyadari bahwa orang itulah yang ditunggunya sejak setengah jam lalu.

“Mianhamnida, aku terlambat lagi…” ujar gadis itu dan menghela napasnya yang tersengal. “Apa kau kedinginan? Oh maaaf, aku benar-benar minta maaf. Tadi mobil Pamanku kehabisan bahan bakar ketika tiba di persimpangan sana..”

“Gwenchana.” Sela lelaki itu dengan tenang ketika gadis di depannya akan membuka mulut lagi. “Sungguh tidak apa-apa. Ayo kita langsung saja,” ia menggenggam gadis itu dan megajaknya berjalan.

“Benar tidak apa-apa? Kau pasti sudah menunggu lama. Wajahmu pucat.”

“Astaga, aku ini laki-laki.” Lelaki itu tertawa memperlihatkan giginya yang tertata rapi dan sedap dipandang. Gadis itu tertawa riang, mengayunkan gandengannya dengan laki-laki itu. Berjalan dengan senyum menyihirnya, lelaki itu ikut tertawa, ikut mengayunkan gandengan dan mempercepat jalannya. “Ayo, kita harus cepat. Sudah terlambat sepuluh menit.”

“Yaah, aku kehilangan hidangan pembuka..” tampaknya gadis itu menyesal karena tidak dapat menikmati sup jagung buatan restoran itu. “Padahal rasanya enak sekali…”

“Sudah, nanti biar kupesankan lagi.”

“Jinjja?!”

“Hmm.”

Gadis itu kembali tersenyum, apalagi ketika melihat restoran mewah itu sudah berada di hadapannya.

Dan kini mereka sudah duduk berhadapan di kursi eksklusif di restoran itu. Di hadapan mereka sudah terletak dua mangkuk berisi sup jagung dan jus anti-gendut.

“Sungguh, rasanya enak sekali.”

Lelaki itu tertawa, hendak membuka mulut namun menutupnya lagi, tidak jadi. Pasti ia akan merusak kebahagiaan gadisnya itu.

Beberapa menit kemudian, sebuah troli penuh makanan sudah tiba. Dua pelayan itu mengambil mangkuk sup dan jus anti itu dan meletakkannya di bagian paling bawah troli, sedangkan yang satunya meletakkan hidangan utama di meja, mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti “Selamat Menikmati” kemudian mendorong troli pergi.

***

“Sudah lama sekali ya kita tidak berjalan-jalan seperti ini. Sejak kau diangkat jadi agen resmi.” Gadis itu tertawa, berjalan pelan menyusuri padang bunga yang sedikit tertimbun salju. Hanya mereka yang bodoh berjalan-jalan ketika cuaca sedang buruk seperti ini. Tapi bagaimana lagi, mereka sungguh tidak punya waktu untuk bersantai. Si lelaki sibuk dengan agennya yang terus-menerus mendapat klien baru, sedangkan si gadis sibuk menunggu si lelaki punya waktu untuknya.

“Maafkan aku.” Ujar si lelaki, terdengar tulus.

“Tidak apa-apa.” Sergah si gadis buru-buru. “Itu kan pekerjaanmu. Aku akan tetap menunggumu kok.”

“Tidak peduli dengan Ayahmu yang—”

“Tidak.” Sela gadis itu. “Aku tetap menunggumu, kau dengar.”

Lelaki itu tertawa, merasa sangat bersyukur memiliki seorang gadis yang begitu menerimanya dan bahkan tidak pernah protes meski ia jarang menyediakan waktu untuknya.

“Kau tidak berniat pulang?”

“Ani, aku bilang pada Paman dan Ayah bahwa aku pergi menginap di rumah Bibi Issa.”

“Kau tidak takut ketahuan?”

Gadis itu tertawa dan mengedik. “Ayah dan Paman benci pada Bibi Issa, mereka selalu bungkam ketika aku mengatakan akan bertemu atau menginap di rumahnya. Kau lihat? Bahkan Paman menurunkanku disini bukannya langsung di rumah Bibi.”

“Pintar.” Puji lelaki itu dan tertawa. “Lalu kau akan menginap dimana?”

“Emmh, tidak tahu ya.” Gadis itu menggaruk tengkuknya. “Bagaimana jika aku tinggal di apartemenmu sampai besok? Tidak apa-apa, ya?”

Lelaki itu tertawa, mengangguk riang.

***

Jari-jari gadis itu lentik menekan tombol-tombol password di apartemen lelakinya. Sedangkan si lelaki menunggu sampai pintu apartemennya terbuka, sengaja membiarkan gadisnya yang membuka pintu.

“Mmm, sepertinya aku sedikit lupa dengan kata sandinya..,” ujar gadis itu malu, meringis tidak enak dan mundur selangkah. “Sebaiknya kau saja…”

Pecahlah tawa lelaki itu, membuat gadisnya merengut dan mengentakkan kaki di lantai.

“Makanya jangan sombong, haha..”

Gadis itu semakin merengut.

Lelaki itu menghentikan tawanya, kemudian menekan tombol-tombol berupa angka itu. Kemudian pintu terbuka dan lelaki itu berbalik, “Ingat, kata sandinya adalah tahun, bulan, dan tanggal kita bersama.”

Gadis itu meringis malu, kemudian mengikuti langkah kaki si lelaki masuk.

“Sudah lama sekali aku tidak kemari.” Ujar si gadis, menggosok tangannya sendiri dan menatap seisi ruangan yang tampak kosong. “Sedikit berubah,”

“Apanya?”

“Tidak ada rak peninggalan ibumu itu.”

“Rak itu rusak, Sayang.” Ujar si lelaki, menyodorkan segelas cokelat panas, menyesap miliknya sendiri. “Aku mengeluarkannya dari apartemen sekitar dua bulan yang lalu.”

Ya, dan selama itu pula mereka tidak saling bertemu. Hanya saling mengirimkan kabar lewat SMS, e-mail, atau telepon. Yang paling sering sih SMS. Si lelaki jarang menghadapi komputer untuk membuka atau mengirim e-mail. Sedangkan si gadis, yah kerjaannya hanya menunggu pesan dan kabar dari si lelaki.

Meskipun begitu, keduanya tahu bahwa mereka tidak akan pernah mengecewakan satu sama lain. Mereka akan tetap setia meskipun jarak itu terbentang luas sekali. Apalagi dengan adanya agen resmi; pekerjaan si lelaki.

“Duduklah.” Ujar si lelaki, ia sendiri sudah memegang remote dan menekan tombol power. “Aku sering sekali susah tidur. Biasanya aku merutuki itu, tapi sekarang tidak lagi.”

“Mengapa?”

“Jika aku mudah tidur, maka malam ini akan sia-sia. Kau tahu, butuh waktu tiga bulan sehingga Mr. Wilson menyuruhku pulang dan beristirahat seperti ini. Hanya tiga hari, kau tahu.”

Si gadis tersenyum, menggeleng seolah mengatakan ‘tidak apa-apa’. Meski dirinya sendiri terkadang memikirkan agar si lelaki keluar saja dari agennya itu. Mereka sudah tidak pernah bertemu, yah walaupun masih berkirim kabar, ia tetap merasa tidak puas.

“Kau tidak merindukanku, hm?”

Gadis itu menoleh, sorot matanyapenuh rasa rindu dan cinta. Dan sekejap saja lelaki itu tahu bahwa mereka saling merindukan. Ciuman itupun tidak terelakkan lagi.

***

Ketika gadis itu terbangun, ia sudah sendirian di ranjang si lelaki. Mereka memang tidur bersama, namun si lelaki tidak pernah sama sekali menyentuhnya. Hubungan intim mereka hanya sekedar berciuman dan saling peluk. Lelaki itu menghormati gadis itu, dan begitu juga sebaliknya.

Si gadis pelan terbangun, menatap wajahnya di cermin yang tergantung di tembok. Meringis kecil ketika melihat lingkaran mata panda di matanya. Kembali teringat tadi malam ia tidur pada pukul empat.

Oh tunggu. Sekarang pukul berapa? Gadis itu nyaris melupakan waktu, dan matanya menangkap jarum jam mungil terletak pada pukul sepuluh siang. Sial, ia malah bangun telat seperti ini. Gadis itu berjalan menuju kamar mandi dalam kamar si lelaki, memandang wajahnya di cermin wastafel dan menampung air kemudian menyiramkan di wajahnya sendiri. Setelah merasa agak segar, ia bangkit keluar, menyadari bahwa ia hanya memakai kemeja dan hotpants. Tapi ia tidak peduli, tetap berjalan keluar.

“Kenapa tidak membangunkanku?” tanya si gadis kepada si lelaki yang sedang meletakkan baki-baki berisi makanan di meja makan mungil miliknya. “Kau kan tidak perlu memasa—”

Jari lelaki itu sudah tertempel dengan manis di bibirnya.

“Tidak, tidak. Kau pasti sangat lelah. Lagipula tidak setiap hari aku memasakanmu bukan?”

“Hari ini kedua ya? Lusa kau sudah harus kembali?” tanya gadis itu. Nada suaranya terdengar terluka dan si lelaki langsung merasa terpukul.

“Tidak apa-apa, Sayang. Aku akan bekerja keras agar Mr. Wilson memberiku waktu lebih banyak untuk bersantai seperti ini.”

“Tidak bisa.” Ujar si gadis, membesarkan hatinya sendiri dan tersenyum manis. “Penjahat itu tidak bisa menunggumu. Aku bisa menunggumu, sampai kau keluar dari agen itu dan menjadi orang kantornya saja,”

Lelaki itu tersenyum, mengelus rambut panjang si gadis, mencium pipinya kemudian menariknya duduk di kursi kayu.

“Tidak usah bicara, makan saja.”

“Tidak beracun kan?”

“Ya, aku membubuhkannya racun.”

Mata gadis itu membulat, tidak paham.

“Racun agar kau semakin mencintaiku.”

Gadis itu tertawa, memukul bahu si lelaki kemudian menyendokkan nasi ke piringnya sendiri. Bersiap makan.

***

“Aku bangga sekali memiliki kekasih sepertimu.” Ucap si gadis tiba-tiba, agak mengagetkan sih.

“Kenapa?”

“Menumpas penjahat, sibuk, tapi masih sempat-sempatnya perhatian denganku.” Jelas si gadis tulus. “Aku benar-benar bahagia bisa bersamamu.”

“Tidak, Sayang. Aku yang lebih bahagia.” Potong si lelaki, menerawang. “Jika tidak ada kau, jelas sekali aku tidak akan duduk disini. Aku akan terlalu sibuk dengan agen dan hidup sendiri selamanya.”

“Memangnya kau tidak bisa jatuh cinta?”

“Jika itu bukan denganmu, rasanya pasti sulit.”

“Takdir baik sekali mau mempertemukan kita.”

“Ya.”

“Tapi bisa saja salah satu dari kita berusaha merubahnya. Seperti contohnya, membelokkannya.”

“Seperti mobil?”

Gadis itu tertawa, memutuskan untuk diam saja, lagipula udara sedang tidak terlalu dingin di siang seperti ini.

“Aku tidak pernah memikirkan untuk meninggalkanmu. Bagaimana denganmu?”

“Terlebih lagi aku.”

“Besok siang… bisakah aku bertemu denganmu?”

Mata gadis itu membulat, “Tentu saja bisa. Kau tahu kau bisa menemuiku kapan saja.”

“Bahkan nanti jika Ayahmu sudah mengetahui semuanya?”

“Aku akan kabur,” gadis itu tampak bersungguh-sungguh. “Aku yakin saat itu akan tiba. Saat aku akan meninggalkan Ayah yang keras kepala. Lagipula ia tidak mencintaiku seperti kau mencintaiku.”

“…”

“Ia hanya mempertahankan aku karena aku adalah putri dari Ibu, sesederhana itu. Jika aku bukan putri Ibu, mana sudi ia mengasuhku hingga besar.”

“Ssst. Tidak usah bersedih begitu. Aku selalu disini, jangan lupakan itu. Itulah poin terpenting.”

Mata gadis itu berkaca-kaca, merasa rasa pedih itu terbuka lagi. jika bukan karena lelaki di hadapannya ini, ia tahu ia sudah mengakhiri hidupnya dari dulu.

“Besok kita bertemu? Di kafe?”

Gadis itu mengangguk.

“Hari ini kau tidak bekerja di toko?” tanya lelaki itu, mengatupkan rahang ketika melihat gadis itu mengusap matanya. Secara langsung ia merasa bersalah. Memang bukan ia penyebab rasa sakit gadis itu. Namun ia adalah kekasihnya, seseorang yang seharusnya dapat menghiburnya. Bukannya membuatnya menangis seperti ini.

“Paman bilang aku tidak perlu pergi jika Bibi tidak mengijinkan. Aku malah senang. Belakangan ini putra keluarga Kim sering sekali datang ke toko, hanya karena ingin bertemu denganku.”

“Siapa?” lelaki itu menatap gadisnya serius, “maksudku… apakah ia menggangumu?”

“Ani, tidak mengganggu kok.lagipula kau tahu aku tidak akan pernah bisa membalas perasaannya itu.”

“Baik, sepertinya kau harus pulang sekarang. Siapkan diri untuk besok~”

“Ne.” Ujar gadis itu, tersenyum riang.

Dan entah mengapa, lelaki itu bahagia sekali melihat senyum itu. Senyum yang baru bisa dilihatnya sekali dalam tiga bulan.

***

Pagi-pagi, gadis itu sudah bangun. Dengan riang mencari gaunnya yang terbaik, mencari aksesori yang bagus, kemudian terburu-buru ke kamar mandi. Berendam air sabun selama setengah jam, keramas dua kali, membilas tubuhnya, kemudian memakai gaun biru terbagusnya itu dan memasang kalung emas putih mungil—pemberian lelaki itu empat bulan yang lalu.

Gadis itu mengaca, merasa wajahnya membentuk cekungan. Ia terlihat sangat kurus, padahal banyak makan. Yah, mungkin itu adalah takdirnya. Gadis itu menaburkan bedak di wajahnya yang tidak terlalu putih, meratakannya, memberi pewarna pink di pipinya, tidak terlalu banyak, hanya untuk membuat wajahnya tidak terlalu pucat, kemudian ia memoles lipgloss di bibirnya yang merah.

Selesai, ia sudah sangat cocok dengan pakaiannya itu.

Matanya menatap jam dinding di kamarnya, pukul delapan; padahal ia baru akan dijemput pukul sembilan.

***

Pagi-pagi, lelaki itu sudah bangun. Dengan riang ia mencari kemeja terbaiknya, mencari jas yang bagus, kemudian terburu-buru ke kamar mandi. Berendam selama lima belas menit, keramas, membilas tubuhnya, kemudian memakai kemeja biru muda itu, dan memakai blazer putihnya; tidak jadi memakai jasnya karena sama sekali tidak pantas dengan kemejanya.

Lelaki itu mengaca, merasa wajahnya membentuk cekungan. Ia sama kurusnya, pekerjaannya di agen membuat tubuhnya mengurus secara tiba-tiba. Lelaki itu menyisir rambutnya.

Selesai, ia terlihat keren dengan pakaiannya.

Matanya menatap jam dinding di kamarnya, pukul setengah delapan; padahal ia baru akan menjemput pukul sembilan.

***

“Kau mau kemana?”

“Aku? Apa Ayah masih peduli kepadaku?” suara gadis itu terdengar dingin, matanya menatap arloji berbentuk gelangnya; masih pukul setengah sembilan.

Ayahnya terdiam, sama sekali tidak menjawab dan malah berbalik pergi, membuat mata gadis itu berkaca-kaca. Ia benar, Ayahnya bahkan tidak pernah perduli padanya. Jika bukan karena wasiat Ibunya.

Tuhan, adilkah semuanya? Adilkah ia, yang telah kehilangan Ibunya bahkan sejak sehelai rambutpun belum tumbuh di kepalanya, ia yang telah merasa tidak diharapkan sejak umurnya baru setahun. Ia yang dari kecil telah mengerti, bahwa ia memang tidak pernah diharapkan.

“Ayah—”panggilnya dengan suara parau, serak, “tidak apa-apa jika kau tidak peduli denganku. Tidak apa-apa jika kenyataannya Ayah terus menyalahkanku karena Ibu meninggal karena memberikan jantungnya padaku, tidak apa-apa jika Ayah memang membenciku, terus menerus menganggapku tidak ada. Aku menerimanya. Tapi ketika saat itu datang, Ayah akan tahu pentingnya aku bagi Ayah—” tersengal, air mata gadis itu telah mengalir. “Cukup. Ayah akan tahu dengan sendirinya. Aku pergi.”

Gadis itu pergi, dengan air mata mengalir.

***

“Sayang, kau baik-baik saja?”

Mereka kini duduk behadapan di kafe langganan mereka, dengan dua cangkir kopi panas di sisi masing-masing. Si gadis sibuk dengan pikirannya, sedangkan si lelaki sibuk menebak-nebak, apa yang ada di pikiran gadisnya itu.

“Ya, aku baik-baik saja.” Benar, kan? Ia baik-baik saja? Ia sudah terlalu sering tersakiti oleh sikap Ayahnya, dan sekarang mengapa ia terus memikirkannya? “Maaf, aku merusak waktu kita. Aku akan ke toilet sebentar.” Lanjutnya, membuat lelaki itu mengangguk, mengiyakan.

Kini si gadis sudah berdiri di depan cermin wastafel, ia masih terlihat cantik; sebenarnya. Namun matanya menyorotkan  kekecewaan dan luka, dan ia tidak bisa menghilangkan itu. Ia tidak bisa menyiram wajahnya begitu saja, bedaknya akan langsung luntur, namun ia melakukannya. Ia hanya perlu kesegaran saja, tidak apa-apa tidak tampil cantik. Entah mengapa tangannya tergerak mengeluarkan ponsel dari tas sandangnya, menarik napas dalam kemudian menekan dial dua; nomor telepon Ayahnya. Tidak peduli pada kekecewaannya yang meluap begitu saja.

Ia tidak tahu mengapa ia tidak bisa merasa nyaman dengan kehadiran kekasihnya itu. Biasanya ia akan baik-baik saja dan tetap riang, meskipun habis bertengkar dengan Ayahnya sekaligus.

“Yeoboseyo?”

Suara Ayahnya mengangetkan gadis itu, ia tergegap kemudian kembali menghela napas.

“Ayah, maafkan aku.” Bisiknya parau. “Maafkan aku yang membuat Ibu pergi meninggalkan Ayah. Aku egois sekali membiarkan diriku hidup, namun Ibu pergi jauh. Maafkan aku yang membuat kehidupan bahagia Ayah dulu hancur. Aku membuat Ayah kehilangan Ibu—satu-satunya wanita yang Paman bilang paling penting bagi Ayah. Aku tahu aku tidak ada harganya dibandingkan dengan Ibu. Aku seperti kerikil sementara Ibu seperti berlian. Maafkan aku yang selalu bertingkah tidak sopan di depan Ayah. Aku yang tidak sekalipun membuat Ayah bangga.. Sungguh maafkan aku—” tersendat, air matanya sudah mengalir begitu saja, “—aku tahu Ayah tidak akan pernah bisa memaafkanku. Aku minta maaf. Hanya itu yang dapat aku lakukan untuk Ayah. Maafkan aku, sungguh maafkan aku.”

Klik. Telepon itu sudah terputus. Dan gadis itu yang memutusnya.

***

Panik, itulah yang dirasakan lelaki itu. Hidangan pembuka sudah dihidangkan, namun si gadis tak kunjung datang. Sedari tadi ia sudah berusaha menghubungi ponsel si gadis namun selalu terdengar nada sibuk. Ia ingin menyusul, namun rasanya tak sopan.

Ia mengetuk-ketukkan jarinya di meja kaca itu, menarik napas dan menghelanya. Ditatapnya kue tart di hadapannya. Benar, hari ini adalah ulang tahun si gadis, dan hari ini ia berencana melamar si gadis. Lelaki itu telah meletakkan cincin emas bertabur berlian itu dalam kue itu. Dan sekarang ia harap-harap cemas menunggu si gadis.

Benarkah gadisnya itu tega meninggalkannya tanpa alasan begini? Tegakah ia?

Telepon genggamnya berbunyi, buru-buru lelaki itu mengeluarkannya. Terpana ketika melihat siapa yang menelepon, Agent’s High. Ada apa? Kenapa tiba-tiba menghubunginya seperti ini?

Lelaki itu mengangkat teleponnya, berdeham berusaha menormalkan suaranya. Belum sempat ia mengatakan ‘halo’ atau ‘selamat pagi’, ketua agennya itu sudah berseru-seru.

“Ya! Akan diadakan penggerebekan di kafe Summerize, sekarang juga! Lupakan jalan-jalanmu dan lakukan tugasmu! Unit sedang dalam perjalanan kesana—”

Lelaki itu merasa telinganya tidak mendengar apapun, dan tangannya yang menggenggam ponsel itu begitu ringan untuk jatuh, hampir saja ponselnya itu jatuh.

Summerize; itu adalah nama kafe dimana ia sekarang berada.

***

Baru saja gadis itu membuka pintu kamar mandi ketika lelakinya sudah ada di hadapannya, dengan tampang super panik dan pucat. Sebelum gadis itu sempat menanyakan apapun, lelaki itu sudah menyeretnya menuju pintu belakang, secepat yang ia bisa.

“Ada—”

“Jangan bicara! Kumohon jangan!” potong lelaki itu, berseru dengan panik. Kemudian langkahnya langsung terhenti ketika dua orang lelaki berbadan besar sudah berada di hadapannya, memasang wajah penuh penghinaan.

“Sayang, siapa dia?”

“Ah, berkencan di hari Minggu, Komandan?” tanya salah satu pria itu, terdengar meremehkan sekali di telinga lelaki itu. “Apa kau tidak berpikir bahwa kami—para mafia—akan berhenti di hari Minggu? Beristirahat?”

Sialan, batin si lelaki dengan takut. Refleks, ia menggenggam tangan gadisnya kuat, kuat sekali seolah tidak ingin melepaskannya lagi. Rasa panik itu semakin menyerang kala salah satu dari pria itu mengeluarkan pistol dari balik jaket bewarna gelapnya. Andai saja di tangannya kini ada senjata laras panjang atau pendek sekalipun, ia tidak akan merasa setakut ini.

Telinga lelaki itu mendengar hela nafas si gadis, terdengar sangat berat. Dan penuh ketakutan sepertinya.

“Siapa namamu, Manis?” tanya salah satu pria itu, berjalan mendekati gadisnya, sedangkan pistolnya tetap teracung kepada si lelaki.

Gadis itu bungkam. Tidak menjawab.

“Ah, kau ingin pacarmu ini mati? Kau tidak ingin membuka mulut rupanya.”

“JANGAN BUNUH DIA!” ucapan itu terdengar tegas dan kuat sekali. Andai saja siapapun mendengarnya, niscaya wajah mereka akan pucat ketakutan mendengar ketegasan dari mata dan suara gadis itu.

Sebaliknya, dua pria itu malah terkekeh, tidak mengabaikan seruan ancaman dari si gadis. Sementara si lelaki tidak mengatakan apapun, hanya menunggu sampai agennya datang dan memberinya senjata. Tangannya sudah gatal sekali ingin menekan pelatuk dan mengarahkan moncong senjatanya ke muka dua pria itu.

“YA! Disini!” seru si lelaki ketika melihat salah satu anggota agennya datang, kebingungan menatap ke kanan dan ke kiri, panik.

“Kau berani!” tampaknya dua pria itu geram sekali, mereka sudah siap siaga, bahkan moncong pistol salah satu pria itu sudah sempurna terarah pada tubuh lelaki itu. Sementara gadis di sampingnya, berharap Tuhan menolong mereka, berdoa apa saja, apapun yang bisa membuat mereka berdua selamat.

Mata gadis itu awas siaga menatapi dua pria itu.

“AWAS!” salah satu agen si lelaki itu berteriak. Bertepatan dengan suara ‘dorr’ mematikan. Bertepatan dengan sebuah peluru yang terbang, menuju ke arah musuh dan dengan tenang ‘menyelinap’ di antara daging liat itu.

Senyap, dua pria itu telah melarikan diri.

***

Kau benar.

Lelaki itu memang aku. Lelaki bodoh bernama Cho Kyuhyun.

Dan gadis itu adalah satu-satunya kekasihku. Choi Sooyoung.

Kau mengira aku yang terkena peluru itu, bukan?

Salah besar.

Ketika salah satu pria itu menarik pelatuknya, Sooyoung meloncat, menarik lenganku menjauh, dan membiarkan dirinya menjadi tameng peluru-ku. Ia telah memberikan nyawanya untukku. Ia mengorbankannya untukku.

Seharusnya ia tidak menyelamatkanku. Seharusnya ia membiarkan diriku mati terkena peluru itu. Namun ia melakukan itu.

Air mataku sudah kering menangisinya. Aku bahkan masih ingat ucapan terakhirnya kala ia meregang nyawa.

Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku bahagia bisa melakukan ini untukmu, hiduplah dengan baik. Jangan membahayakan dirimu sendiri.”

Terbatuk, darah keluar dari dalam mulutnya, mengalir di sudut bibirnya; aku menyekanya.

“Kau dengar aku, aku sangat mencintaimu.”

Ia tersenyum, tragis sekali.

“Katakan pada Ayah, aku mencintainya.”

Mataku kembali basah. Ia, ia rela memberikan nyawanya untukku. Ia melakukan itu. Ia melakukan itu.

Ya Tuhan, aku terlalu sering membuatnya menunggu, aku terlalu sering membuatnya kecewa. Dan sekarang? Ia menyerahkan nyawanya untuk diriku, ia memberikanku secercah cahaya untuk tetap hidup, sementara dirinya? Tidak, Tuhan.

Adilkah semua ini?! Aku yang menjadi incaran para mafia itu, lalu mengapa Sooyoung yang harus menanggung sakitnya? Mengapa harus ia?

Sekali lagi, aku menangis tergugu di makamnya.

***

Kini gadis itu sudah berada di pelukannya, kaku. Tubuhnya dingin sekali. Lelaki itu sangat berharap ia dapat menggantikan tempat gadis itu sekarang.

Si lelaki sibuk berteriak kepada supir ambulan, menyuruhnya berjalan cepat. Namun apalah dayanya, si gadis meregang nyawanya enam meter sebelum rumah sakit.

Hari itu, semuanya telah selesai. Semuanya berakhir dengan sangat pahit, menyedihkan.

Lelaki itu sibuk menangis, sibuk mengguncangkan tubuh si gadis, sibuk berteriak memaki, sibuk membangun tembok dendam untuk kedua pria itu, sibuk. Namun apalah dayanya, semuanya terlalu terlambat. Ia telah kehilangan separuh hatinya; gadis itu.

Sore itu, ia membawa pulang mayat kekasihnya itu ke rumahnya, rumah Ayah gadis itu.

Seluruh agennya yang datang hanya diam ketika pintu kayu itu terbuka, memperlihatkan seorang pria paruh baya, yang tampak sangat terkejut ketika melihat peti mati di depannya.

“Siapa… dia?” tanya pria paruh baya itu, dengan wajah tidak menentu.

Sementara si lelaki membisu, air matanya bahkan telah mengalir begitu saja; tidak berhenti sejak perawat rumah sakit memandikannya dan memasukkannya ke dalam peti kayu itu.

“Apakah dia… putriku?”

Berat sekali lelaki itu mengangguk, seolah jika ia bergerak, tubuhnya akan hancur berkeping-keping—tapi mungkin ia akan bahagia, setidaknya ia dapat bertemu dengan kekasihnya yang kini entah dimana.

Lelaki itu bahkan hanya mematung ketika pria tua itu jatuh pingsan.

***

Dan kini, aku—lelaki bodoh itu—sedang berjongkok di makam gadis itu. Gadisku; Choi Sooyoungku. Ani, jika ia masih hidup sekarang, mungkin ia akan menjadi Nyonya Cho.

Tapi mengapa?

Mengapa aku tidak pernah merasakan kebahagiaan itu lebih lama? Mengapa Engkau tega membawanya pergi bahkan sebelum aku menyisipkan cincin di jemarinya? Mengapa Engkau tega merengkuhnya sebelum aku melihatnya dalam setelan gaun pernikahan yang sama dengan tuksedo masa depanku? Mengapa? Mengapa ini terjadi kepada ‘kami’?

Ia bahkan selalu tersakiti dengan keadaan kami, kami yang tidak pernah bertemu, kami yang hanya dapat berkirim pesan sehari sekali, menelepon seminggu sekali, mengirim e-mail sebulan sekali, dan lebih parah; saling bertemu tiga bulan tiga kali. Bukannya itu sangat menyakitkan untuk pasangan labil seperti kami? Dan kami berhasil melewatinya. Ia dan aku tetap saling percaya. Lalu mengapa? Mengapa Engkau bahkan mengambilnya?

Apakah aku tidak pantas untuk memilikinya?

Apakah aku tidak setingkat untuk berdiri di sampingnya, dengan pastur di hadapan kami?

Apakah aku tidak boleh memiliki keluarga kecil yang bahagia bersamanya?

Mengapa, Tuhan?

Sampai detik ini, aku tak henti menyimpan dendam untuk dua pria itu, dua pria yang tega membunuh orang yang begitu kucintai. Orang yang membuatku berjongkok disini, menatap timbunan tanah dan menggalinya.

Jika aku memang tidak dapat memiliki jiwa dan raga Sooyoung lagi, maka aku sudah puas memiliki raganya. Berdoalah semoga mayat Sooyoung masih dalam keadaan utuh.

Pelan tanganku mengayunkan sekop, mulai menggali, lama, ketika sebuah peti sudah nampak. Tertatih aku menariknya, berusaha mengeluarkannya, mengangkatnya kemudian membuka peti itu. Di sana, di dalam peti itu, gadis itu masih ‘sama’.

Aku menarik kepalanya, mencium bibirnya yang sangat dingin kemudian mendekapnya.

Mulai detik ini, kau tidak sendirian lagi Cho Sooyoung, aku selalu ada di sampingmu.

Aku mengeluarkan pistol dari dalam saku mantelku, mengarahkannya tepat di kepalaku.

Dor!

***

–EPILOG—

(25/06/12) Seorang pria [26 th/Cho Kyuhyun] ditemukan tewas di daerah Perkuburan Seoul, di atas mayat seorang yang diduga kekasihnya yang telah meninggal dua minggu lalu akibat aksi mafia Jepang di Seoul.

Keluarga pria itu tidak mau menjelaskan apapun. Hanya mengatakan bahwa putranya itu agak depresi setelah ditinggal kekasihnya yang bernama Choi Sooyoung itu.

Kyuhyun meninggal diakibatkan sebuah pistol laras pendek, diduga pria itu kalap dan membunuh dirinya sendiri setelah menggali makam kekasihnya.

Salah satu anggota agen Pembasmi Mafia sekaligus teman baik Kyuhyun berkata, “Sejak Sooyoung mati, Kyuhyun berubah. Dia bahkan sudah menghabisi dua mafia yang menembak mati Sooyoung dan berjanji akan menemani Sooyoung. Kukira ia hanya bercanda, namun ternyata Kyuhyun memang benar-benar membunuh dirinya sendiri di atas mayat Sooyoung—”

***

Kau bilang cinta itu selamanya? Kau salah, Sayang.

-F I N-

MWK’s Note:

Annyeonghaseyo~

Duh, akhirnya saya berkesempatan ngepost ff disini lagi setelah beberapa hari ngilang hihi. Saya punya kabar bahagia dan sedih nih. Mau tahu? Kepo ih :p

Kabar sedihnya, otak saya kembali dirundung Writer’s Block. Gapunya ide buat ngeanjut Because It’s You. Kalo nanti saya masih gaada ide, mungkin terpaksa akan di-stopped. Alias, tidak akan dilanjutkan kembali. Ngelanjutnya kapan-kapan kalo ada ide /geplaked/

Kabar gembiranya, saya diterima di SMA yang saya inginkan! Horeee /nyalain kembang api/ /dorr/ Yah meskipun belom daftar ulang karena kemevetan waktu dan ijazah yang baru tadi keluarnya hikseeu :”

Terus kenapa kambek bareng oneshoot baru, Thor?

Mmm, gatau ya. Ide ff ini mah udah garing banget. Udah banyak ff kayak gini. Saya sih dapet idenya waktu lagi cuci piring /ketahuan ngebabu dirumah/. Dan ide Kyuhyun jadi psycopath? Gaktau –v Waktu lagi ngetik, tiba-tiba dapet ide ngebuat Kyuhyun ikutan mati gitu heuu yaudeh deh jadi kayak gini ._.v

Disturbance ada After Storynya gak, Thor? Terus Mana AS-nya Blind?

Aduh maaf maaf maaf /sujud/ Buat Disturbance, dari awal saya mah gak pernah punya niatan buat bikin AS. Jadi maaf aja yang minta As, saya tidak bisa membuatnyaaa T.T
Terus Blind, saya udah pernah coba bikin, cuma jadi satu halaman Ms. Word, terus idenya kaborr semua. Jadi deh, saya gabisa bikin itu T.T

Jadi intinya saya gak menyediakan AS! Untuk ff ini juga begitu –v

Gitu aja ya saya mau nonton abang pacar saya /tunjuk wufan/ bubyeee~~

Tinggalkan komentarmu! ^^

138 thoughts on “[Oneshoot] Disease: Still Hurts

  1. Lagi-lagi nangis gara” nih ff..
    Awalnya aku bingung tentang kata ‘Disease’
    Ternyata itu project ff toh /manggut-manggut/
    Ditunggu ff Disease yg lain yaa~
    Dua ff itu udh berhasil buat aku nangis.
    Moga aja yg ketiga juga, soalnya akhir” ini pengen banget nangis. Cuma bingung mau nangis krna ap *eh?* baca ff sad? Susah jg, paling” cuma nyesek.

    Like

  2. ngak garing kok, ini keren banget, apalagi penulisan dan pengungkapannya *apadeh, terus feelnya jga dapet. Hwaiting

    Like

  3. ternyata gitu…. ternyata gitu cerita cinta mereka… hiks!
    kenapa begitu mirirs… huweee…
    setiap baca ff kamu entah kenapa kedapatan yang sad ending mulu (?) /abaikan

    Like

  4. Soo nyelamatin kyu, smpai dia yg hrus mti..😐
    Dan kyu jg iktn mti, krna ga bsa hdup kLo ga ad soo? Miris😦

    Like

  5. selamat ya chingu udah jadi anak sma skrg,,di sma yg diinginkan pula,,chuka chuka,,hehhee

    woaaaa
    kenapa harus bunuh diri kyu nya
    cinta nya tulus seh
    tapi nyesek bacanya
    hiks
    smoga ketemu di dunia selanjutnya ya

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s