[Oneshoot] Disease: Midnight Meeting


midnight

Title: Midnight Meeting

Author: @MeydaaWK

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

Genre: Sad, Romance

Rating: Teenager

Length: Oneshoot, Longshoot

Credit Poster: ApReeL Kwon

Backsound:

Previous:

¹st: Still Hurts

Happy Reading~

-oOo-

“Aku ingin… hubungan kita seperti orang lain. Seperti biasanya, bukan seperti ini.” Gumamku dalam desau angin yang terasa menusuk telinga.

“Maksudmu?” tanyanya dengan nada tidak sabar, bingung mungkin.

“Bertemu di waktu sebenarnya, berjalan-jalan bersama di mal, makan di kafe, menonton bioskop—”

Ia telah meletakkan jarinya di mulutku, memberi isyarat diam. Aku menurut, menghentikan ucapanku dan menatapnya ingin tahu, menunggu jawaban tepatnya.

“Apakah kau melupakan janji bertemu kita?”

Aku diam, agak sakit sebenarnya.

“Janji untuk tidak melakukan protes atau penyelewengan?”

Air mataku menggenang begitu saja.

“Aku hanya ingin—” aku menghentikan ucapanku, melihat wajahnya yang menatap ke arah lain. “Maaf, aku akan berusaha tidak mengungkit ini lagi.”

“Begitu lebih baik,” gumamnya pelan, “ayo kita berkeliling, Percy pasti sudah menunggu.”

Aku tersenyum, gandengan tangannya terasa begitu lembut dan menenangkan. Ia setengah menarikku menuju padang rumput di seberang, tempat Percy—kuda jantannya—menunggu kami.

“Nah, Percy, kita bertemu lagi.” Ujarku sambil tertawa, mengelus surainya yang bewarna cokelat gelap. “Kau tampak manis sekali,”

Kuda itu tampak tidak setuju, hampir mengamuk sebenarnya.

“Ayo kita kabur!” serunya sambil tertawa. “Ingat peraturannya, jangan pernah mengatakan ‘manis’ pada Percy, ia benar-benar jantan sekali.”

Aku ikut tertawa, duduk kelelahan di rumput ketika sesuatu yang basah dan lembek menjilati pipiku.

“Oh, Percy!” serunya, tertawa-tawa dan menghentikan lidah kudanya untuk menjilatiku. Aku agak jijik dan takut sebenarnya, namun bersamanya, segala perasaan enggan atau takut akan kabur begitu saja. Kau bisa memegang ucapanku.

-oOo-

Beberapa menit kemudian kami sudah berkeliling padang rumput yang sangat luas, naik-turun bukit melandai, menikmati angin malam yang sedikit menusuk namun tak terasa sama sekali ketika aku dalam peluknya, ringkikan Percy, dan suasana romantis malam yang sebenarnya terasa mengerikan.

Aku seolah-olah lupa dengan daratan, terbang tinggi tidak terarah. Benar-benar terombang-ambing oleh suatu perasaan bernama cinta. Menikmati dengan sepenuh hati, tidak mempersiapkan pelampung apabila suatu saat nanti jatuh berdebam dalam air. Aku tidak mempedulikan jam asrama yang sudah berdentang dua kali—tanda pukul dua pagi—sampai akhirnya Percy berhenti tiba-tiba dan ia merintih.

“Ada apa?!” seruku panik, berusaha menoleh ke belakang untuk menatap wajahnya.

“Ani, ani. Tidak apa-apa. Pee, ayo jalan.”

Aku mengernyitkan kening. Benar-benar bingung dengan sikapnya.

“Kyuhyun-ah… Kau… kenapa?” akhirnya pertanyaan itu muncul juga dari mulutku, meski sudah kutahan kuat-kuat. “Tolong, jangan berbohong lagi.”

Kali ini Percy langsung berhenti. Tidak mau bergerak lagi meskipun tangan Kyuhyun menepuk-nepuk bokongnya.

“Kau tidak percaya padaku lagi?!” tanyanya dengan nada keras dan sinis.

Aku menunduk, tidak mampu menatap matanya.

Tubuh Percy terguncang beberapa saat, kemudian Kyuhyun menarikku turun, sepertinya.

“Kyuhyun-ah..” suaraku habis. Aku tidak mengerti mengapa aku menjadi selemah ini sejak bertemu dengannya. Ialah pengendali perasaanku. Aku dapat tertawa riang detik ini, namun detik kemudian mungkin saja aku menangis tersedu-sedu. Tidak ada kata tidak mungkin jika aku bersamanya.

“Kau tidak percaya padaku?!”

Detik itu pula aku menangis, jatuh bersimpuh dan menutup wajahku dengan kedua tanganku. Menangis terisak.

Tuhan, mengapa sulit sekali? Mengapa sulit sekali meyakinkannya bahwa aku mempercayainya? Tidak peduli ia berlaku salah pun, aku yakin aku tetap akan masuk dalam bagiannya. Aku berani bersumpah untuk itu.

-oOo-

Perjalanan pulang, hanya dipenuhi oleh kediaman. Aku mendesah pelan, berharap kedinginan suasana kami terpecahkan oleh apa saja. Bahkan Percy hanya diam, tidak meringkik atau berhenti tiba-tiba.

Setidaknya aku ingin mendengarkan suaranya sebelum berpisah hari ini. Hampir saja air mataku menitik lagi.

Jam antik di asrama berdentang kembali, tiga kali. Aku menunduk, menggigit bibir. Semuanya akan berakhir, sepertinya. Sungguh aku tidak rela. Aku tidak ingin hubungan kami seperti ini. Aku ingin kami berpisah dengan senyuman, lalu bertemu tengah malam besok.

Percy berhenti secara otomatis ketika kami sampai di danau itu, danau belakang asrama. Percy kembali berguncang bersamaan ketika sebuah lengan membantuku turun.

Kami berdiri berhadapan, piyamaku kotor ketika aku bersimpuh tadi, dan pasti akan memanggil kecurigaan Yuri dan yang lain.

“Ghamsahamnida,” gumamku masih tetap menunduk. Beberapa detik aku terdiam, setengah menunggu jawabannya untuk mengatakan sesuatu seperti ‘besok bertemu lagi’, ‘aku menunggumu,’ atau bahkan kalimat permintaan maaf. Namun hanya hening sampai dua menit berikutnya.

Saat itu juga harapanku terhempas. Sakit sekali. Mungkin saja esok kami tidak akan bertemu kembali. Iyakah? Pertemuan tengah malam kami sejak dua bulan lalu akan berakhir sia-sia seperti ini? Hanya karena ia yang menyangka diriku tidak mempercayainya?

Aku membungkuk, kemudian berbalik, menahan tangisku sekuat tenaga. Ketika sampai di pintu belakang asrama, aku mengeluarkan senter dari tas dan membuka selot pintu. Menariknya kemudian mengaktifkan cahaya senter.

Gelap sekali di tangga ini, lampu-lampu memang dimatikan pada pukul Sembilan. Namun aku tidak peduli. Tubuhku terjatuh begitu saja diiringi air mataku.

Tidak tahu, otakku tidak dapat digunakan berpikir. Aku bahkan tidak peduli apabila aku mendapatkan detensi karena ketahuan keluar tengah malam—saat semua orang terlelap—dan menangis sendirian di tangga pintu belakang yang tidak terpakai.

Aku sungguh tidak peduli.

-oOo-

Paginya, aku bangun kesiangan sehingga Yuri dan Miyoung telah meninggalkanku ke kelas kami. Di asrama kami memang dilarang membangunkan satu sama lain, itu untuk melatih kedisiplinan. Namun hari ini aku bahkan tidak merasa takut apabila mendapat detensi karena telat bangun dan telat mengikuti sarapan bersama.

Bahkan aku tetap berjalan dengan pelan, tidak berderap di tangga seperti biasanya. Seolah-olah setengah jiwaku sudah kabur entah kemana. Tidak ada yang menyapaku, karena memang aku tidak memiliki teman kecuali Yuri dan Miyoung. Bahkan hubungan kami tidak sedekat ini.

Sejak masuk asrama, aku hanya mengenal Kyuhyun. Cho Kyuhyun yang berderap di atas kudanya dan menabrakku—hampir melindas juga—di tengah malam dua bulan lalu ketika kelompok dancer popular itu menghinaku habis-habisan.

Aku ingat sekali saat itu aku baru tinggal di asrama ini selama dua hari dan aku sudah mendapat perlakuan buruk oleh Kepala Sekolah dan teman-temanku sendiri. Dampak kedepresianku itu adalah berusaha kabur, beristirahat sejenak dari semuanya. Aku, anak orang miskin yang selalu dianggap tidak ada nekat bertanya pada penjaga kebun tentang danau di belakang asrama dan bagaimana cara menjangkaunya. Penjaga itu menjelaskan untuk melewati tangga belakang—tangga yang kujadikan melepas sakit hati itu kemarin—yang sudah tidak terpakai bertahun-tahun.

Saat itu tengah malam, sekitar pukul sebelas aku keluar dari kamar setelah mengenakan mantel biru tuaku, dan mencari-cari senter di koper tuaku, mengaduk-aduk semuanya. Kemudian akhirnya menemukan senter tua itu. Aku menali sneaker-ku cepat-cepat dan langsung berjalan keluar, berusaha tidak menimbulkan suara sepelan apapun. Telinga penjaga malam sangat sensitif dan hukuman mengeluyur malam-malam seperti ini diyakini empat kali lipat lebih berat daripada hukuman terlambat mengikuti makan bersama atau berlari di tangga.

Pintu beton tangga belakang itu sangat berat sehingga aku telah kehabisan tenaga ketika pintu itu terdorong membuka. Aku masuk, menutup pintu itu kembali, mengaktifkan senter dan berjalan turun.

Suasananya sangat mengerikan. Kelintingan tua yang digantung di dinding yang kulewati selalu berbunyi menyeramkan ketika mantelku berkibar, membuat angin. Sarang laba-laba dimana-mana, menghalangi langkahku dan jiwa penakutku membuatku terus meyakinkan diriku bahwa aku akan selamat.

Kemudian aku mencapai pintu keluar itu setelah terasa berjam-jam dalam lorong tangga itu. Aku membuka pintu itu, hanya ditutup selot besar yang sudah berkarat, aku mengeluarkan tenagaku untuk menariknya, agar pintu bisa terbuka.

dan akhirnya angin dingin menerpaku.

Aku bebas.

Entah mengapa rasanya aku begitu bahagia. Melupakan Ibuku yang sekarat di rumah sakit, Ayah yang terus membanting tulang dan terpaksa mengirimkanku disini untuk meringankan bebannya. Aku berlarian, berusaha mencapai danau yang tampak begitu menggoda. Aku berlari dengan mata tertutup ketika derap dan ringkikan kuda membuatku membuka mata begitu saja.

Menakutkan sekali ketika sebuah kuda yang sangat besar berdiri dengan kaki belakangnya berusaha mengerem lajunya yang tadinya sangat cepat. Dan kemudian—karena tidak sanggup mengerem—kaki depan kuda itu seolah mendorong tubuhku, membuatku terlempar satu setengah meter.

Rasanya sakit sekali, aku hanya memejamkan mataku dan berpikir tentang kesalahanku terhadap Ibu dan Ayahku. Seperti orang yang akan mati. Namun harapan-harapanku itu terputus ketika sebuah tangan mendarat di pundakku. Saat itu pula, segala sakitku tadi menguap tiba-tiba. Tangannya menyembuhkanku. Bahkan kakiku yang berdenyut sakitpun kembali seperti sedia kala.

“Kau baik saja?”

Aku membuka mata, napasku tersengal dan aku langsung terpana melihat pahatan wajahnya.

“CHOI SOOYOUNG!”

Teriakan itu membuat nostalgiaku hancur berkeping-keping seperti kaca yang dilempari batu. Di depanku sudah berdiri Ibu Park, dengan wajah merah menyala-nyala.

“Kau terlambat dua puluh menit dan enak-enak melamun di sini?!” serunya dengan amarah meluap-luap. “Kau itu hanya mengandalkan beasiswa disini, Nona!”

Oh, mengungkit masalah beasiswa orang miskin itu lagi. Aku hanya diam, menunduk, padahal dalam hatiku tumbuh kebencian itu. Kebencian terhadap asrama ini, kebencian terhadap semua penduduknya. rupanya, efek patah hati benar-benar berbahaya dan mempengaruhi psikis seseorang.

“Kau sudah melewatkan sarapanmu, Nona Choi! Apa kau masih ingin makan!?”

Tidak, aku sudah muak melihat wajahmu. Makanpun hanya akan membuat perutku mual.

“Tidak menjawab?! Kau ingin mendapatkan detensi?!”

Aku hanya diam, menggigit bibir. Mata siswi asrama itu terasa menusuk. Bahkan aku dapat melihat sepatu mahal Sunkyu dan kawan-kawannya. Aku yakin sekali mereka pasti sedang menuduhku bermacam-macam. Tapi toh, apa peduliku?! Semua urat rasa sakitku seakan sudah berhenti sejak aku berpisah dengan Kyuhyun kemarin malam.

“Kau tidak punya telinga, hah?”

“Maaf, Miss. Aku tidak punya waktu untuk mendengarkanmu.” Tekanku kemudian langsung bangkit menjauh, pergi menabrak bahu-bahu siswi itu dengan wajah dingin. Aku juga melayangkan lirikan tajamku untuk kelompok dancer itu.

Aku sungguh tidak peduli lagi pada hidupku setelah ini.

-oOo-

“CHO KYUHYUUUUN! CHO KYUHYUUUUUUUUUUUUUN!” teriakku dengan sisa-sisa suaraku setelah satu jam berteriak tanpa henti. Kembali aku berlari di atas padang rumput itu, berusaha mencari Kyuhyun, kemanapun itu. Aku sungguh-sungguh membutuhkannya sekarang.

Aku mohon, Tuhan. Sampaikan kepadanya aku membutuhkan dirinya sekarang. Tolong.

Air mataku masih menetes, berlarian kesana kemari, jatuh bangun beberapa kali. Meneriakkan namanya berulang kali, hingga akhirnya kakiku kelelahan dan jatuh berdebam begitu saja di atas sebuah kerikil, tidak, bahkan aku tidak merasakan sedikitpun rasa sakit itu. Mati rasa. Kebas.

Aku terdiam, menggigit bibir. Akhirnya menyerah dengan sepenuh rasa sakit itu. Baiklah, kuanggap ini sebuah kepastian. Pada kenyataannya Kyuhyun memang sudah mengakhiri semuanya. Ia memang tidak ingin bertemu kembali denganku.

Ternyata selama ini perasaanku bertepuk sebelah tangan.

Tuhan, mengapa rasa sakit itu terasa menusuk sekali? Mengapa aku bahkan tidak sanggup berdiri, berjalan menuju ke asrama, bertemu dengan Kepala Sekolah dan menunggu detensi dijatuhkan.

Aku memejamkan mata, menarik napas dalam, mengembuskannya. Tuhan, benarkah semuanya telah diselesaikan oleh Kyuhyun?

“Sooyoung-ah..”

Aku hanya merasa tubuhku seringan kapas. Begitu saja.

-oOo-

“Kau pingsan lama sekali,” ujar bayangan di depanku itu, aku tidak dapat melihatnya dengan jelas. Kepalaku sangat berat dan mataku terasa perih oleh cahaya yang masuk. “Berapa jam ya… sekitar delapan jam mungkin.”

“Bisakah kau diam?” gumamku setengah merintih. Setiap ucapannya membuat kepalaku berdengung.

“Ah, ya. Baiklah.”

Aku memejamkan mata lagi, menarik napas dalam dan menyangga kepalaku dengan tangan kanan, mempersiapkan untuk bangun. Tunggu… aku kenal suara ini, bukan? Aku mengenalnya.

Tunggu, ia…

“Kyuhyun?!” seruku begitu saja, melupakan denyutan di kepalaku ataupun rasa berat di mataku, berusaha menatap dengan tidak sabar. Butuh waktu beberapa detik sampai mataku dapat menyesuaikan cahaya an dengan mudah mengenali bayangan itu.

Aku diam, menahan luapan perasaan itu ketika mataku memandangnya, tepat di matanya. Seolah dunia terhenti dan waktu berhenti juga. Aku bahkan hanya menatapnya, tidak sanggup melakukan apapun selain melakukan itu.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya.

Tangisku pecah. Aku bahkan tidak memedulikan nada sumbang dalam suaraku, menangis terlalu lama benar-benar mempengaruhi suara seseorang. Aku yakin setelah ini aku akan pingsan kehabisan tenaga.

“Kukira… kukira.. hubungan kita sudah berakhir..” ujarku sambil menangis, menekan dadaku untuk meredakan buncah itu. “Aku mencarimu sejam itu, meneriakkan namamu dan menangis—hk—tapi aku tidak menemukanmu..”

Ia menyodorkan lengannya dan memelukku. Lengannya mengusap puncak kepalaku, terus-menerus membisikkan, “Tenanglah, aku berada disini. Jangan menangis. Hubungan kita tidak akan berakhir…”

-oOo-

“Tunggu sampai si Tua itu menjemputmu kemari dan memarahimu, memberi detensi mungkin.” Gurau Kyuhyun sambil menggandeng tanganku. Hari sudah menunjukkan pukul enam petang, aku sudah menghilang dari asrama selama itu. Benar-benar membahayakan diri sendiri. Namun, rasa takutku terkalahkan oleh perasaan bahagia ketika tahu bahwa Kyuhyun masih mempedulikan aku.

Tadi pagi, sekitar pukul delapan ia pergi ke balai asrama untuk menitipkan surat untukku. Tepat ketika aku dimarahi oleh Ibu Park. Kyuhyun juga bertanya kepada salah satu siswi disana dimana aku sekarang, dan salah satu dari mereka menjawab bahwa aku baru saja menentang guruku, dan sekarang berlari entah kemana.

Satu jam itu, ketika aku berlari mengelilingi padang, Kyuhyun sedang berkeliling di sekitar asrama. Mengira aku tidak akan pergi jauh dari asrama. Mungkin saja aku iseng ke perpustakaan.

“Hentikan, sepertinya itu rombongan dari asrama,” kataKyuhyun sambil menarik tanganku dalam genggamannya untuk berhenti sejenak. “Aku tidak bisa mengantarmu, jadi aku akan pergi sekarang.” Kyuhyun menatapku sebentar, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam saku mantelnya, terlihat seperti arang, ia mencoretkannya di pipiku, berkali-kali.

“Hei, apa yang kau lakukan?!” bisikku dengan penuh penekanan ketika ia tetap mencoret-coret pipiku. Ia mendongak, kemudian memberantaki rambutku.

“Kamuflase.” Jawabnya ketika rombongan itu tinggal lima meter dari kami. “Aku pergi, jaga dirimu baik-baik. Hari ini tidak usah bertemu, istirahatlah!” serunya kemudian berlari, menghilang.

“Choi Sooyoung?! Itu kau?!” terdengar suara khas Kepala Sekolah. Beberapa siswi mendekat.

Aku menunduk, menunjukkan ekspresi sedih.

“Darimana saja kau?!” tanya Miss Hwang, terdengar simpati dan penuh perhatian. “Wajahmu tidak kelihatan baik-baik saja.”

“Aku terjerembap di longsoran bukit disana,” ujarku berusaha terlihat kesakitan, kamuflase yang dimaksud Kyuhyun ternyata sangat penting. “Sepertinya aku pingsan selama berjam-jam, aku berusaha berjalan kembali ke asrama..”

“Ne, ne. Aku tahu, maafkan sikap Miss Park tadi pagi, kondisi psikisnya agak terganggu setelah Ibunya meninggal. Ayo kemari,”

-oOo-

“Wajahmu lebam.”

“Biarkan saja,” ujarku setengah tidak peduli. Aku hanya ingin sendirian di ruang kesehatan, tanpa gangguan siapapun supaya aku dapat mengenang Kyuhyun sesukaku.

“Seharusnya dokter memberinya krim penghilang. Bekasnya akan buruk sekali.”

“Yuri-ah, aku tahu kau berusaha peduli. Tapi kepalaku sakit sekali, bisakah kau mengikuti Miyoung saja?”

Tampaknya Yuri tidak tersinggung, ia mala berkata, “Ne. hati-hati, makan malammu akan dibawakan oleh Hyebin.”

“Ne.”

Pintu tertutup bersamaan hilangnya Yuri. Aku menghela napas lega dan menatap nyalang ke atas. Hari ini berjalan menyenangkan sekali, meskipun sekarang tulang-tulangku serasa akan patah jika kugerakkan sedikit saja. Tapi aku tidak memedulikannya jika teringat tentang ucapan Kyuhyun.

“Tenanglah, aku berada disini. Jangan menangis. Hubungan kita tidak akan berakhir…”

Seperti ada zat adiktif yang membuatku terus kecanduan dengan kalimat itu. Aku memutarnya di otakku, lagi, lagi, dan lagi. Dan kalimat itu dapat membuat senyumku mengembang.

“Sooyoung-ah, ini makan malammu. Makanlah dan tidur yang nyenyak. Besok kau harus mendapat kelas tambahan, ne?” jelas Hyebin dengan riang, namun ucapannya kuanggap angin lalu. Yang terdengar di telingaku hanyalah kalimat Kyuhyun itu.

-oOo-

“Tadi Minho kemari, mengajakku berjalan-jalan,” jelas Yuri sambil menyeruput kopinya. “Romantis sekali. Dia bilang dia mau menungguku sampai lulus,”

“Tadi Siwon Oppa juga kemari.” Kali ini Miyoung yang berkata, “dia tidak mau mengakui jika dia rindu padaku.”

Aku hanya menggerak-gerakkan sendok di tanganku. Kumohon berhentilah bercerita tentang kekasih kalian, itu sungguh mengingatkanku tentang pertemuanku dengan Kyuhyun yang sungguh tidak wajar. Aku tidak ingin mengungkit itu lagi ketika bersama Kyuhyun, sudah terlalu mengerti efeknya. Bisa-bisa hubungan aneh kami akan hancur begitu saja.

“Jadi—siapa pacarmu?!” tanya Yuri dan Miyoung berbarengan. Aku agak tersentak, sendok di tanganku terjatuh.

“Tidak ada.” Jawabku datar, meletakkan sendok kembali ke piring. Mood makanku sudah hilang entah kemana, dan aku malas mengungkit ini. Hubungan kami memang sangat tidak jelas. Kami bahkan tidak pernah mengatakan saling menyukai, berciuman pun belum pernah. Tapi aku tidak peduli, aku suka hubunganku yang ini. Aku menyukainya.

Itulah kenyataan terberat yang mau tidak mau harus kuakui. Aku tahu mungkin saja Kyuhyun hanya menganggapku teman.

Tapi adakah teman yang yang terlihat begitu spesifik seperti kami? Aku tidak tahu.

“Aku melihatmu dengan seorang lelaki kemarin,” ujar Miyoung dengan menyelidik. “Aku tahu kau bohong soal terjatuh itu.”

Aku memasang wajah datar.

“Aii, ternyata Sooyoung kita sudah memiliki pacar!”

“Kami tidak berpacaran.” Ujarku akhirnya, berat. “Sepertinya, tidak akan pernah.”

“Mengapa tidak pernah? Kau harus berusaha, Sooyoung-ah. Katakan perasaanmu yang sejujurnya kepada lelaki itu. Yang menembak Siwon Oppa siapa lagi jika bukan aku. Kau tahu kan dia kaku sekali.”

Aku tidak merasa termotivasi dengan ucapan Miyoung. Aku mengerti tipe seperti Kyuhyun iyu. Ia akan segera menjauh jika aku mengatakan aku menyukainya. Itulah alasan mengapa aku tidak bisa mengatakannya. Jika perasaannya sama denganku mungkin ia tidak akan pergi, namun jika tidak? Aku lebih memilih menyimpan perasaan ini daripada kehilangan dirinya.

-oOo-

Pintu jalan keluar berderak ketika aku membukanya. Sarung tangan yang kukenakan terasa membalut dengan erat. Uap putih transparan beterbangan di depan wajahku ketika aku menarik napas atau mengeluarkannya.

Mataku memandang ke depan, tepat pada seseorang yang telah berdiri di hadapanku, namun tidak menatap ke arahku. Perlahan aku berjalan ke arahnya, berniat untuk mengagetkannya.

“A—”

“Kau kedinginan?”

Sial, ia sudah menebak kedatanganku.

“Tidak begitu.” Bohong, aku kedinginan sekali. Namun bukannya itu akan terlihat seperti ‘kode’? Ah, abaikan saja. “Apa jadwal kita hari ini?”

“Berenang,” dengan telunjuk kanannya itu menunjuk ke arah danau yang tampak hitam seperti batu bara. “Atau berlayar. Aku punya perahu,”

“Itu konyol, Kyuhyun-ah.” Komentarku menahan tawa. “Udara tidak bagus, dan air danau pasti terasa seperti es.”

“Kita hanya berlayar, ingat?”

“Itu tetap konyol,”

“Ya sudah, aku mau berlayar sendirian.” Oh ya, Kyuhyun marah rupanya.

“Oh, baiklah. Tapi yakinkan aku bahwa kita akan selamat.”

“Tentu saja. Aku anak asli desa sini, jadi aku berkali-kali berlayar memutari danau. Atau bahkan di pelabuhan.”

“Bukan begitu. Maksudku adalah perahu itu,” aku menunjuk sampan di hadapan kami. “Tua, kayu rapuh, dan bewarna tidak meyakinkan. Kau ingin aku naik kesana?”

“Kau menghinaku!” ia cemberut, “meskipun sudah tua, perahu itu tetap kuat kok.”

“Aku tidak akan menemuimu lagi apabila perahu itu bocor atau malah tenggelam di tengah danau.” Ancamku, menyerah dan bersiap naik. “Kau yang dayung.”

“Siap, Majikan.”

Aku tertawa.

Angin malam langsung menyapa kami begitu perahu Kyuhyun berjalan. Aku merapatkan mantel dan syalku, bagaimanapun ini tetap dingin. Napasku terhenti ketika lengan Kyuhyun melingkari pinggangku, deru jantungku menggila dan aku takut ia akan mendengarnya.

“Kau masih kedinginan?” bisiknya, melepas lengannya dari pinggangku dan kembali mendayung. Aku agak menyesal sih mengapa ia melepasnya. Ini skinship kami yang kedua setelah berpelukan saat itu.

“Suatu saat nanti, aku pasti akan sangat merindukan ini.” Bisiknya di telingaku, bergetar dengan nada sedikit sumbang. “Sooyoung-ah, aku menyukaimu.”

Sepertinya napasku memang sudah terhenti.

“Tapi kau tahu, kita tidak pernah bisa bersama.” Ujarnya, membuat suasana di sekitarku menjadi buram, rasa dingin itu semakin menusuk mana kala ia melepas pelukannya. “Ada sesuatu tentangku, yang orang tidak pernah tahu, begitu juga kau. Dari awal, seharusnya ini tidak terjadi.” Ia meniup puncak kepalaku. “Seharusnya kau tidak usah keluar dari asrama, tidak perlu tertabrak oleh Percy dan bertemu denganku.”

Air mataku menggenang begitu saja.

“Aku tahu kau menyukaiku.” Jelasnya lagi, terdengar sarat getaran. “Jangan berpikir aku tidak memiliki perasaan yang sama, tapi kupikir, lebih baik kau menganggapku tidak membalas perasaanmu.”

Aku tidak tahu, yang aku inginkan hanya mati sekarang juga.

Byurr.

-oOo-

“Kau baik-baik saja, Choi Sooyoung?!”

Aku membuka mata, melihatnya di atasku dengan seluruh tubuh basah kuyup. Begitu juga aku.

“Kenapa kau melakukan hal bodoh seperti tadi?!”

Aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu apa yang ada di otakku. Yang aku tahu, aku hanya tidak ingin hidup dan menghadapi kenyataan. Aku tidak ingin ia mengatakan sesuatu kejujuran, yang kutahu hanya menyakitiku saja.

Dengan sisa-sisa kekuatanku setelah menceburkan diri di danau tadi, aku bangkit dan berdiri, memandangnya dengan tatapan terluka kemudian berjalan pergi. Tidak memedulikan senterku yang terjatuh, aku bahkan tidak pedui kegelapan di lorong tangga itu.

Yang kubutuhkan adalah air hangat supaya aku dapat berendam di dalamnya.

-oOo-

“Kau baik-baik saja, Choi Sooyoung?” Tanya Miss Hwang begitu melihatku di koridor sekolah. “Wajahmu sangat pucat.”

“Aku baik-baik saja, Miss.” Sahutku, merasa tidak berdaya di bawah rasa sakit hati ini. “Aku sungguh baik-baik saja.”

“Jika kau merasa sakit, tidak perlu mengikuti pelajaran dan pergi ke ruang kesehatan.”

Aku mengangguk, menunduk sebentar kemudian pergi.

Aku benar-benar menyesali tindakanku tadi pagi. Mengapa aku harus pergi meninggalkan Kyuhyun tanpa kejelasan? Bisa saja Kyuhyun mengartikan itu sebagai tanda ‘aku-akan-pergi’. Padahal bukan itu yang ingin kutunjukkan. Aku hanya ingin membuatnya sadar bahwa aku marah, sangat sangat marah oleh penjelasannya kemarin tentang kelanjutan hubungan kami.

Aku tidak apa-apa apabila tidak dapat menonton bioskop bersama di siang hari, yang penting jadwal bertemu tengah malam kami tetap ada. Sungguh, hanya itu harapanku. Aku hanya ingin kami tetap bertemu, berjalan-jalan dengan Percy. Aku bahkan rela berlayar dengan perahu bocor di danau, jika itu dengannya. Aku rela mati untuknya.

Sungguh, cinta ini begitu menyiksaku.

Mungkin ia benar, tidak seharusnya kami ditakdirkan bertemu. Pertemuan itu hanya akan menghasilkan rasa sakit saja.

Aku benar, kan?

Tolong katakan bahwa ia tetap menungguku.

Tengah malam nanti, aku akan tetap datang.

-oOo-

Harapan menemukannya terhempas begitu saja kala kakiku menapak di danau itu. Aku tidak menemukannya sedang menungguku; seperti biasa di akhir-akhir ini.

Ternyata ia memang tidak menungguku. Ia memang menganggapku meninggalkannya. Ia memang sudah tidak peduli lagi padaku. Mengapa rasanya sesak sekali? Air mataku tidak tertahan lagi, dan akhirnya aku menangis seperti anak kecil di depan danau itu. Di tempat kami biasa bertemu; bercanda, tertawa, bahkan menangis pun pernah.

Aku sungguh tidak ingin begini. Aku ingin hubungan kami kembali seperti biasa. Tidak peduli pada kenyataan kami tidak dapat bersama, meskipun aku tidak mengerti mengapa kami tidak bisa.

Oh Tuhan, ayolah. Berikan waktu untuk kami bersama. Aku ingin menatap wajahnya. Aku merindukannya. Aku sungguh-sungguh mencintainya, Tuhan. Bisakah kami tetap seperti sedia kala? Aku janji aku tidak akan egois memaksanya berkencan seperti layaknya pasangan. Aku tidak apa-apa jika kami hanya berteman.

Aku hanya ingin dia, Tuhan.

Bisakah kau mengirimnya?!

Tolong, aku begitu mencintainya. Aku begitu merindukannya.

Tuhan, kau dengar aku bukan?!

“CHO KYUHYUN! CHO KYUHYUUUN! Tolong kembalilah, tolong, aku ingin kita tetap bersama!! Tolong!” seruku sambil menangis, air mataku berleleran tanpa diminta. Aku tidak sanggup lagi, sungguh.

Tuhan, bisakah Kau memunculkan ia ketika aku tiba pada ujung kekuatanku? Bisakah? Rasanya aku ingin pingsan sekarang.

-oOo-

Aku mempersiapkan senterku, kemudian berjalan mengendap-endap seperti yang biasa kulakukan. Malam ini tidak begitu dingin, terkesan hangat malah. Jadi aku hanya mengenakan sweter kemudian jaket biasa, bukannya mantel tebal.

Tanganku agak bergetar ketika akan membuka pintu keluar, harap-harap cemas Kyuhyun akan ada di posisinya seperti biasa, merentangkan tangannya dan meminta maaf karena menghilang tiba-tiba. Kemudian mengatakan bahwa ia terpaksa menghilang kemarin karena ada urusan penting, bukannya berniat meninggalkanku selama-lamanya.

Perlahan aku menarik napas, menyiapkan mentalku jika aku tidak menemukan Kyuhyun, sama seperti sejak dua minggu yang lalu.

Angin langsung berderap begitu aku membuka pintu, kemudian napasku seolah terhenti dan jantungku mencelos ketika bayangan itu berada disana.

Kyuhyun telah pulang.

-oOo-

“Jangan mengira hubungan kita akan kembali seperti sedia kala.” Ujarnya lagi, membuat dadaku serasa sesak kembali. “Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal yang sepertinya penting untuk kau ketahui,”

“Apa?” suaraku bergetar oleh buncahan perasaan sakit dan rindu yang begitu menggila. Ia tidak memberiku sebuah pelukan penuh kehangatan dan malah terus menerus mengatakan bahwa ia tidak kembali karena aku.

Ya Tuhan, hubungan tidak jelas katanya? Seburuk itukah hubungan ini baginya? Padahal, bagiku, hubungan ini terasa lebih indah daripada tujuh belas tahun yang telah kulewati ini. Air mataku menggenang begitu saja, bahkan sebelum ia mengatakan apapun.

“Tidak seharusnya kita bertemu,”

“Bisakah kau mengatakan hal berbeda selain itu?” tanyaku dengan parau.

“Ada sesuatu hal, yang berbeda dari kita.” Jelasnya dengan suara berat. “Seperti layaknya perbedaan aku laki-laki dan kau perempuan. Sayangnya, perbedaan itu lebih jauh dari itu. Laki-laki dan pria masih memiliki kesamaan, mereka sama-sama manusia. Sedangkan kita, sungguh, sangat sangat berbeda.”

“Aku bukan golongan yang sama denganmu, entahlah aku harus menyebutnya apa di depanmu. Bukan, aku bukan sejenis vampire yang ada di kepalamu.” Ujarnya sambil tertawa, parau, “aku lebih berbahaya dari dua vampire apabila digabungkan.”

“Dan karena perbedaan itu, kita tidak bisa bersama.”

“Aku tidak peduli dengan perbedaan itu!” teriakku langsung, tersendat. “Aku tidak peduli kau hantu, vampire, werewolf, atau bahkan siluman!”

“Sayangnya, aku lebih-lebih menjijikkan daripada apa yang kau katakan tadi. Aku memang bukan hantu, tapi jiwaku seperti hantu, aku bukan vampire, namun aku menikmati darah, aku bukan werewolf, namun aku memiliki dua rupa seperti mereka, dan siluman… aku bukan..”

“Katakan kau apa!” seruku, setengah mati menahan desakan untuk ambruk sekarang juga. Aku merasa seperti Bella Swan yang tidak bisa bersatu dengan Edward Cullen-nya. Aku tidak bisa berubah menjadi vampire, seperti apa yang dilakukan Bella.

“Aku seorang Vacuo. Makhluk kosong yang hidup.” Jelasnya. “Dengarkan aku, pekerjaanku adalah menyedot jiwa-jiwa orang tidak bersalah. Atau lebih tepatnya mencuri jiwa mereka untuk keabadian diriku. Aku manusia abadi, Sooyoung-ah.”

Tangisku pecah.

“Dan kau pasti akan sangat kaget mendengar ini, jiwa seseorang yang harus kuambil paksa sekarang adalah kau. Kau, Sooyoung-ah.” Ia mengusap air mata. Matanya merah. “Kau tahu, aku lebih memilih menjadi seorang iblis ketimbang memakan jiwamu, membuatmu mati. Dan satu-satunya cara agar kau terhindar dariku adalah meninggalkanmu.”

“Kau tahu jalan cerita dari seorang Vacuo? Cara mereka menyedot jiwa orang yang telah ditakdirkan ia curi? Vacuo itu harus mendekatinya, membuat orang itu jatuh cinta kepadanya, kemudian setelah empat bulan Vacuo itu baru akan mengambil jiwanya. Tidak peduli rintihan orang itu, tidak peduli betapa sia-sia cinta orang itu untuknya. Kau bisa mengerti sekarang? Dari awal, semuanya telah salah Sooyoung-ah.”

“Tidak seharusnya aku mencintaimu. Tidak seharusnya kita menjalani hari-hari romantis itu, dari awal seharusnya aku sudah menjauh ketika aku menyadari aku menyukaimu. Tapi perasaan itu terlalu besar. Kerap kali aku berusaha tidak datang tengah malam dan mencari mangsa lain. Namun kakiku selalu tertarik kemari ketika tengah malam datang. Sejak saat itu, semuanya telah salah.”

“Kau menanyakan tentang mengapa kita tidak bisa kencan seperti pasangan umumnya. Vacuo dilarang untuk itu, mereka akan terbakar ketika melakukan hal-hal yang dilakukan pasangan pada umumnya. Aku tidak tahu mengapa itu bisa terjadi.”

“Ayah Ibuku sudah melarangku, bahkan mereka mengunci kamarku agar aku tidak bisa keluar menemuimu. Namun sekali lagi perasaan itu membawaku ke danau ini. Menemuimu.”

“Itulah perbedaannya. Seorang manusia tidak akan pernah bisa berubah menjadi Vacuo.”

“Itulah alasannya mengapa kita tidak bisa bersama.”

-oOo-

Sejak saat itu, tidak pernah ada lagi pertemuan tengah malam. Aku memang selalu mengunjungi danau di tengah malam. Namun tak pernah sekalipun aku menemukannya. Tak pernah sekalipun aku berada dalam pelukannya meskipun aku mengelilingi padang rumput itu berkali-kali, jatuh bangun. Ia mungkin tidak akan pernah datang, meskipun aku mati sekalipun.

Kehidupanku berjalan seperti biasa, seperti sebelum aku bertemu dengannya. Kosong, sepi, penuh kesedihan. Tak pernah lagi kutemukan senyumnya. Aku tetap mendengar curhatan-curhatan Miyoung dan Yuri tentang kekasih mereka masing-masing, dan saat itu rasa sepi itu kembali datang.

Aku mengerti posisinya, berusaha memahaminya meskipun rasanya berat sekali. Otakku terus mengirim pernyataan bahwa aku akan menemukan orang lain yang akan mengisi hatiku.

Namun hingga detik ini, hingga dua tahun berlalu—saat aku akan lulus dari asrama dan kembali ke kota, aku tak ppernah menemukan cinta itu.

Hatiku tetap kosong.

Dan pagi ini, aku akan mengucapkan selamat tinggal pada danau dan seluruh isinya, termasuk padanya secara tidak langsung. Aku tidak peduli apakah ia mendengarnya atau tidak, aku hanya ingin menyampaikan ucapan selamat tinggalku untuknya.

“Selamat pagi semuanya,” bisikku dengan senyuman bertengger di bibirku. “Tiga tahun berlalu dengan sangat cepat. Asal kau tahu, Kyuhyun-ah, aku tetap melewati pertemuan tengah malam itu, sendirian. Aku tetap menantimu, meskipun aku tahu kau tidak akan pernah memunculkan dirimu lagi. jujur saja, aku sangaaaaaaaaaaaaaaaaaat merindukanmu. Aku selalu memutar kenangan kita ketika  bersama, memikirkan hal indah tentang kebersamaan kita. Aku rindu kepada pelukanmu. Aku rindu berenang di danau dan demam setelahnya. Aku rindu kepada Percy.”

“Aku sungguh tidak tahu apakah sekarang kau bertemu dengan mangsamu yang lain, membunuhnya. Apakah kau berhasil melupakanku. Apakah kau membenciku. Apakah kau merindukanku.” Air mata itu telah mengalir deras.

“Hari ini, semua kenangan itu harus diakhiri, Kyuhyun-ah. Aku harus pergi dari sini. Aku harus meninggalkan pertemuan tengah malam. Aku harus meninggalkan kenangan kita bersama. Aku masih ingat tempat dimana kita bahagia, saat dimana kau merebut ciuman pertamaku, saat mantelmu sobek ketika kita meloncati tembok, aku sangat merindukan saat-saat—hk—itu. Aku tidak pernah menemukan dirimu lagi, Kyuhyun-ah.”

Aku mendongak, memandang langit dengan air mata bercucuran dan mata sembap.

“Aku selalu berharap Tuhan memberikan kesempatan untuk kita bersama. Namun aku berharap terlalu muluk, bukan? Kita mungkin hanya ditakdirkan untuk berakhir.”

“Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun. Benar-benar mencintaimu.”

Ponselku berbunyi, tanda aku harus pergi sekarang juga.

“Kuharap, kau dapat hidup bahagia, bertemu dengan cinta sejatimu, mungkin? Aku tidak tahu. Kuharap harimu berubah menjadi indah, itu harapanku. Aku juga berharap kau mau mengingatku sebagai seorang gadis spesial yang pernah mengisi hatimu, bukannya seorang mangsamu. Aku hanya ingin kau ingat bahwa aku adalah gadis yang kau ajak bertemu setiap tengah malam.” Air mataku semakin deras. “APA KAU SUDAH MELUPAKANKU?!”

Entah darimana, angin menerbangkan sehelai kertas.

Aku meraihnya, membuka lekukannya dan mendapati tulisan rapi disana.

Tidak, aku tidak pernah melupakanmu.

Tanpa kau tahu, aku selalu datang dan menatapmu dari jauh. Jangan mengira aku melupakan dirimu. Aku masih terus mengawasimu.

Aku mengirim mantra ruam untuk temanmu si Sunkyu itu. Itu akibatnya telah mengganggumu. 

Jaga dirimu baik-baik, Sooyoung-ah. Aku masih tetap mencintaimu.

Selamat kembali, kuharap kau dapat melupakanku.

 

Rupanya, segalanya memang harus diakhiri sekarang. Aku memasukkan kertas itu ke dalam saku, menyimpannya sebagai kenangan.

Aku berbalik, berlari meninggalkan danau itu dan bersiap kembali ke kota, melanjutkan sekolah dan mencari cinta sejati.

Karena cintaku sendiri, memintaku untuk pergi.

-F I N-

MWK’s Note:

Annyeonghaseyo~~

Saya kembali bareng project ff Disease nih. Gak selama yang kupikirkan ternyata😄

Awalnya, saya pikir ini bakal cuma ficlet. Dan ternyata… wuiih, panjang bener -_-

Idenya mirip-mirip sama novel Gillian Shield yang judulnya Immortal. Fantasy gitu. Bedanya, cowoknya di novel itu manusia abadi. Karena kesalahannya di masa lalu dia jadi harus menyerap jiwa-jiwa tidak bersalah agar tetap abadi. Dan si cewek, itu adalah pemegang kalung supaya si cowok tetap abadi. Untuk memiliki kalung itu, si cowok harus membunuh si cewek, dan tentu saja dia menolak. Tapi di end-nya tetep beda kok. Secara versi penulis terkenal sama penulis ff abal kek saya wkwk

Yaah, begitulah. Sebenarnya series gitu. Yang pertama Immortal, kedua Betrayal, yang ketiga Eternal. Saya baru punya yang Immortal sama Betrayal, Eternal belum😦

Duh, kenapa jadi curhat buku ne -_-“

Gimana? Ceritanya masih sedih kah? Atau gak sedih banget? Dari awal saya udah gak yakin ada yang mau baca ff ini engga. Secara agak melenceng gitu sama ide di otak saya.

Endnya aneh banget, kan? Iya pasti. Keseluruhan ceritanya juga aneh kok -_-“

Dan karena saya gak sabar ngepost jadilah ngepost malem-malem begini, kan judulnya Midnight jadi saya postnya juga midnight wkwk .

FF ketiga, belum punya ide wkwk ._. Jadi kemungkinan agak lama hihi.

Selamat berpuasa ne, mohon maaf lahir dan batin/?

Terima kasih sudah membaca, dan jangan lupa tinggalkan komentarmu ^^

138 thoughts on “[Oneshoot] Disease: Midnight Meeting

  1. Knapa ada kisah cinta sprti itu… Bahkan ini terlalu menyiksa k.2 belah pihakkkK,,,
    tntng mahluk sperti kyu ada g’ seeh sbener.A d.dunia ini…????!!

    Like

  2. mey,kok sad ending sih??tp bnran bgus bgt loh mey,aq kan sering bca novel terjemahan,dan in tuh stara ama novel trjemahan..
    Aq malah n’byangin merka jman victoria..
    Daebaaak..

    Like

  3. Whoa, ide ceritanx keren. Diksinx sih emang rada berat tp fellnx dapet bgt. Nambah pengetahuan, jadi tau ad mahluk sejenis Vacuo. Daebak, keep write and fighting.🙂

    Like

  4. bahasanya novel terjemahan bgt thor, tp aku paling gak mudeng kalau baca yg kayak bau-bau terjemahan, masih banyak ‘tanda tanya’ yang belum terjawab, berharap sih ada sequel^^

    Like

  5. ehh ini tritologi ? jadi ini yg kedua ? pantes di awal cerita aku ngga ngeh sama skali
    lha wong yg pertamanya aja blum di baca ,-
    seri pertama judulnya apa chingu ?

    oiyaa, joneun safitri imnida bisa panggil fitri atau pipit atau mpit
    tapi boleh jga panggil ms.park #colek leeteuk oppa😀, line 94
    bangapseumnida #bungkuk 90drajat

    Like

      1. oh novelnya yaa ? hehe mian chingu aku ngga tau #kudet

        aku suka ff” mu chingu🙂

        Like

  6. Berasa baca novel terjemahan..
    Diksinya rada berat. Tapi suka bgt! Bagus~
    kyuyoungnya harus pisah, karna kyu ga mau ambil jiwa soo😦
    di tunggu series slnjutnya

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s