[Ficlet/Drabble] Very Like U


image

Author: @meydoow

Cast: Do Kyungsoo and OC (Kim Yeojin)

Genre : Romance (weird, maybe?)

Length: Ficlet or Drabble?

Rating: Teenage.

A/N:

Pertama, aku minta maaf karena gak bisa (belum bisa) post fanfiction dalam jangka waktu lama. Dan pas aku post, aku malah bikin BUKAN Kyuyoung ataupun Sooyoung Pairing. Maaf readerdeul~~~
Sebenarnya aku udah bikin banyak draft (fanfic belum jadi) di PC. Itu banyak banget dan aku nggak bisa ngelanjutinnya. Dan aku bikin fict ini juga bukan di Pc tapi di hp, jadi maklum ya kalo terlalu banyak typo dan kependekan-_-

Oke, happy reading😉

.
.
.

Mesin kejujuran.
Aku tidak begitu memedulikannya sampai satu temanku (kau bisa memanggilnya Hyeri) ditanyai tentang siapa yang ia cintai.
Oh tidak.
Selama ini aku sudah berhasil menyembunyikan perasaan itu, yang sayangnya aku yakin akan terbuka begitu saja begitu aku duduk di depan mesin kejujuran itu dan ditanyai oleh Karen yang cantik dan muda.
Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Aku masih punya cukup harga diri, dan lagipula akan memalukan jika mereka semuanya tahu bahwa aku menyimpan perasaan pada seseorang, yang parahnya adalah teman sekelasku sendiri. Itu sangat sangat memalukan. Aku tidak bisa dan aku tidak mau.
“Jadi, apa kau mencintai Hyeri seperti Hyeri mencintaimu?” Tanya Karen dengan nada seperti mengharapkan, dan aku tahu perasaan Hyeri saat ini pastilah tidak menentu. Astaga.
Jonghyun tampak kebingungan, tidak dapat menjawab dan aku sadar bahwa pipinya merona. Sama merahnya seperti Hyeri.
Semuanya bersorak ketika Jonghyun tersenyum kepada Hyeri dan aku merasa ini tidak adil.
“Baiklah, sekarang urutanmu, Dae,” Karen berkata dengan senyum meremehkan, tahu bahwa kenyataannya Jung Daehyun tidak mencintai kekasihnya lagi dan terus berselingkuh di belakangnya. Masalahnya, pacar Daehyun juga berada disana, seperti menunggu.
Daehyun duduk di kursi kehormatan dengan wajah cool dan melemparkan senyumannya kepada pacarnya; yang tentu saja dibalas oleh gadis itu. Aku yakin bahwa nanti setelah mesin itu bekerja, tidak akan ada lagi senyuman dari pacar Daehyun untuknya. Aku serius.
“Kau pacaran sejak kapan?”
“Tahun kemarin…”
“Tanggal? Bulan?” Karen mulai tersenyum penuh kemenangan.
“Aku tidak akan menyebutkannya. Privasi.”
Mesin itu berbunyi seperti sirene dan hening. Wajah Daehyun dan pacarannya sudah tidak karuan.
“Baik, kau dengar sendiri. Mesin itu tidak percaya kau berkata jujur.” Karen memasang tampang mengesalkan.
“Aku tidak…”
Mesin itu kembali berbunyi, memotong ucapan Daehyun.
“Daehyun-ah, berkata jujur saja.” Ujar pacarnya dengan nada lesu.
“Aku… melupakan tanggalnya…” Daehyun menjawab dengan wajah tidak karuan sedangkan pacarnya menampilkan wajah seperti orang akan menangis.
“Baiklah. Skip. Naeri, jangan cengeng begitu.” Ujar Karen dengan kejam.
Oh ya, pacar Daehyun bernama Naeri.
“Apakah kau pernah mengkhianati pacarmu?”
Sepi.
Wajah Daehyun memerah, dan tampak seperti orang kesal.
“Apa aku harus menjawab itu? Please, itu tidak penting!”
“Itu penting, Daehyun. Kau hanya harus menjawab itu.”
“Aku tidak pernah selingkuh, aku setia!”
Mesin itu berbunyi. Kali ini dengan sangat kencang.
Aku yakin Naeri disana sudah menangis.
Oke, bagaimana perasaanmu jika pacarmu sendiri ketahuan tidak hanya mencintaimu? Oh tidak. Itu pasti sangat menyakitkan.
Semuanya hening.
“Katakan saja,” Karen berdeham.
“Apakah lebih dari lima kali?” Hyeri usil bertanya.
Daehyun menggeleng. Menjawab tidak dan mesin itu kembali berseru.
Tiba-tiba Naeri berjalan ke arah Daehyun, menamparnya, dan kemudian berteriak, “KAU GILA JUNG DAEHYUN! SERIUS, AKU MEMBENCIMU!!”
Daehyun meringis, berlari mengejar Naeri yang lebih duu berlari.
“Baiklah, sekarang giliranmu, Yeojin.”
Aku merasa seperti akan menangis.
Tidak ada suara ketika akhirnya aku duduk. Menunggu pertanyaan maut keluar dari mulut  Karen.
“Baiklah, kita mulai sekarang.” karen berkata, dan itu terasa seperti detik-detik menuju mautku. “Apa kau suka dipanggil Kim Yeojin yang tidak pernah punya pacar dan terlalu jenius?”
Aku tahu kata jenius itu memiliki arti lain.
“Ayo, jawab.”
Aku menggeleng. “Tentu saja tidak,” mataku melirik ke arah pojok, tempatnya duduk dan membaca buku.
Mesin itu bergeming.
Permulaan yang bagus.
“Apa kau menyukai dijadikan murid teladan oleh para guru?”
Aku tidak tahu, aku hanya merasa biasa saja.
Aku mengatakannya, dan mesin itu bergeming lagi. Baguslah. Setidaknya mereka tidak akan mengira aku munafik.
“Apa kau menyukai seseorang di kelas ini? Di sekolah ini?”
Duh, pertanyaan terberat. Bibirku bergetar dan aku merasa tanganku kaku hanya dalam hitungan detik sejak Karen mengatakannya.

Tik
Tok
Tik
Tok

Tidak. Oh Tuhan! Semua mata seisi kelas menatapku dan aku merasa napasku menyempit. Aku bisa mati.
Aku bisa mati.
“Kim Yeojin, kau menyukai seseorang?” Tanya Karen hati-hati.
Iya, aku menyukai seseoang.
Di kelas ini.
Sedang menatapku dengan pandangan… mencela?
“I-i-iya..”
Oke. Keluar. Setidaknya Karen tidak menanyakan “siapa laki-laki itu?”..
“Siapa?”
Oh tidak. Harapanku terbang dan hancur berkeping-keping. Aku merasa perutku jungkir balik dan itu tidak menyenangkan.
“Apa aku harus… menyebutkannya? Emm, itu kelihatan…”
“Ayolah. Jung Daehyun bahkan putus.”
“Aku menyukai…” aku memejamkan mata. “Karen Kang, kau serius aku harus menjawab ini?”
Semuanya menghela napas dengan kesal.
“Ayolah, aku sungguh penasaran.” Ujar Junmyeon sambil menatapku kosong.
“Seseorang… di… pojok sana… aku tidak mau.. menyebutkannya… tolong…”
“KAU MENYUKAI KIM JONGIN?”
“Astaga… tidak, tidak…” aku menutup mukaku. Malu, sungguh. “Bukan dia…”
Yah yah, salahku juga sih karena tidak menyebutkannya secara lengkap.
“Yeojin, kau menyukai Kyungsoo?” Bisik Hyeri sambil menatapku dengan pandangan tertarik.
Aku ingin menggeleng, namun jika begitu maka mesin kejujuran yang hanya berjarak enam senti di depanku akan berbunyi heboh.
“Kim Yeojin, kau menyukai Do Kyungsoo?”
Kyungsoo (astaga menyebutkan nama itu saja membuatku jungkir balik) menoleh ke arah kami, dan menampilkan wajah datar. Apakah ia mendengarnya? Apakah ia akan merasa jijik terhadapku? Apakah ia akan menjauh dan tidak mau menatapku lagi?
Aku memejamkan mata, rasanya ingin menangis.
“Kau serius?” Karen bertanya lagi dan membuatku sungguh kesal.
“Kalau aku menyukainya.. memangnya kenapa?” aku bertanya dengan (sok) berani.
“Jadi bagaimana?” Karen berseru kepada Kyungsso, yang hanya menatap datar tanpa menggeleng ataupun mengangguk.
Do Kyungsoo, sungguh, kau benar-benar menghancurkan hatiku.

.
.
.
.

Semuanya berjalan Seperti biasa. Tidak ada yang spesial. Sikap Kyungsoo tetap datar dan aku bersyukur Karen dan yang lain tidak mengungkit masalah ‘pernyataan cinta dari Kim Yeojin’ yang ternyata ditolak dengan sebegitu menyedihkannya. Yaaa, aku tentu tidak bisa memaksa Kyungsoo menjawab ya dan kami saling tersenyum seperti Jonghyun dan Hyeri tempo hari, meskipun sebenarnya aku sangat mengharapkan hal itu terjadi.
Apa yang bisa kulakukan untuk memperbaiki semuanya? Aku hanya tidak ingin Kyungsoo merasa aneh denganku. Aku hanya ingin kami tetap berteman dan bertingkah laku seperti biasanya. Oh tidak, harusnya ini kutujukan kepada diriku sendiri karena akulah yang tidak bisa bersikap biasa. Akulah yang selalu merona tanpa sebab yang jelas tiap kali ia berada di dekatku. Akulah yang selalu merasa hal aneh setiap kali melihat senyumnya, yang tentu saja bukan untukku.
Dan detik itu juga aku merasa sakit. Inikah yang dimaksud patah hati itu? Sekali aku jatuh cinta, dan itu tak terbalas.
Menyedihkan.
Aku tidak sadar bahwa aku menangis di jam matematika, kala guru Park berteriak-teriak tentang logaritma. Aku tidak sadar karena saat itu air mataku tidak mau berhenti bahkan ketika Jiyoo menegurku. Aku hanya sanggup menelungkup, terisak tertahan, dan kemudian bel berbunyi.
Aku masih tidak bisa berhenti menangis bahkan ketika guru Park akhirnya keluar kelas.
Bahkan ketika semua temanku menatapku aneh.
Kumohon, aku hanya merasa terluka.

.
.
.
.

Aku patah hati.
Itu sudah jelas sekali.
Aku berhenti melakukan hal yang sekiranya bisa membuatku dekat dengan Kyungsoo.
Aku pergi.
Astaga, hanya karena efek mesin kejujuran aku menjadi seperti ini. Setengah gila.
Aku hanya ingin menghapuskan segalanya. Sampai pada suatu siang, aku terjebak di kelas bersama Kyungsoo. Aku baru ingat jadwal piket kami sama dan teman yang lainnya pulang duluan. Aku tidak bisa ikut pulang duluan, tidak jika Kyungsoo sudah menahanku.
Sekarang kami hanya bisa berjalan kesana kemari di kelas tanpa berinteraksi.
Ia menghapus papan tulis, aku menyapu, ia mengelap kaca, dan aku menulis jurnal mengajar.
Serius, kami melakukannya tanpa bicara satu sama lain.
“Kyungsoo… waktu itu… maaf membuatmu malu.” Aku berkata tertahan.
“Ya, tidak apa-apa.”
Hening kembali.
Rasanya kembali sesak, aku mempercepat kerjaku.
“Yeojin.” Panggilnya tiba-tiba.
Aku menoleh, memasang wajah bingung dan merona dengan begitu saja.
“Aku juga menyukaimu.”

.
.
.

“A-apa? Aku tidak salah dengar…. kan? Tidak, maksudku, jangan memaksakan perasaanmu. Aku tidak apa-apa jika kau tidak menyukaiku. Serius…”
“Untuk apa aku melakukan itu?”
“Melakukan apa?”
“Berpura-pura menyukaimu. Aku tidak perlu melakukan itu, bukan?”
Benar juga. aku seharusnya sadar bahwa ini Do Kyungsoo. Meskipun ia manis, Kyungsoo bukanlah orang yang terlalu peduli kepada orang lain.
Jadi…
“Kau benar-benar menyukaiku? Maksudmu… perasaanku terbalas?”
Aku melihat untuk pertama kalinya pipi Kyungsoo memerah dan itu sangat manis. Ia berjalan ke arahku kemudian menciumku.
Ciuman pertamaku.
Ciuman pertamaku dengan pacar pertamaku.
Serius, ini terasa seperti mimpi.
Do Kyungsoo, aku sangat sangat menyukaimu.

                       -f i n-

2 thoughts on “[Ficlet/Drabble] Very Like U

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s