In Yours (Domatophobia)


inyo

Title: In Yours (Domatophobia)

Author: @meydoow

Cast:

-Summer Choi (or Sooyoung)

-Kim Jongin

Genre: Romance

Rating: Teenager

Length: 2.756 word(s)

A/N:

Just want to say sorry…

I’m so sorry.

 -oOo

Lagi-lagi Kim Jongin menghela napasnya. Merasakan ketika kepalanya berdenyut tidak beraturan, dan sejujurnya itu sangat menyakitkan.

Ia tahu persis kenapa penyakit pusing dan stres itu belakangan ini menghantuinya. Profesinya dan kenangan masa lalu—ia benci mengakui ini, tapi kenangan itu baru terjadi sekitar dua bulan yang lalu—itu memiliki andil dalam hal ini.

Kim Jongin tidak pernah menyangka bahwa pekerjaannya akan seberat ini. Semakin hari ia semakin mudah lelah dan stres. Dan itu jelas mengganggu kinerjanya. Ia ingat amarah Ibunya kemarin, sebenarnya Ibunya memiliki mulut selancip bulu landak, dan jelas-jelas setiap ucapan yang dikeluarkan Ibunya menyakitinya terlalu banyak. Bagaimanapun seorang Kim Jongin tak pernah mengharapkan pekerjaannya sekarang.

Dokter. Menolong banyak orang. Membantu orang-orang sembuh dalam penyakitnya, atau tidak sembuh. Itu tergantung seberapa parah penyakit orang tersebut. Belakangan ini ia semakin stres ketika mendapati keluhan-keluhan para pasiennya mengenai pelayanannya, mereka bilang mereka tidak lagi menemukan senyuman seorang Kim Jongin, yang sesungguhnya menjadi alasan kenapa mereka berobat ke tempat dokter muda itu. Yang benar saja! jujur saja, Jongin merasa dirinya tidak menjalankan pekerjaannya dengan benar.

Lama kelamaan ia sadar, ini semua bukan hanya kebenciannya terhadap profesinya. Ini disebabkan masa lalunya itu.

Pintu berkeriut terbuka, membuat Jongin agak tersentak, dan sebuah kepala berambut panjang (Jongin kira itu Sadako—konyol) muncul dengan senyumnya yang cukup manis.

“Hai, Dokter.” Sapa gadis itu dengan ceria, “bagaimana pagi Anda?”

“Buruk,”

“Aaah, kau masih tidak menyukai pekerjaanmu?” tanya gadis itu dengan tidak sopan. “Aku juga tidak menyukai pekerjaanku.”

“Kau tidak punya pekerjaan.”

Gadis di depannya tersenyum.

“Hari ini… kau pulang ke rumah siapa?”

Gadis itu mengangkat bahu, “Ke hotel. Hanya semalam.” Ujarnya dengan acuh. “Ibumu tidak kemari lagi?”

“Sudah, tadi. Hanya mengecek sebentar.”

“Menyenangkan sekali ya punya ibu yang perhatian seperti itu.”

Jongin tersenyum setengah, merasa bahwa ucapan gadis di depannya yang bernama Summer itu adalah bentuk sindiran dari ‘Anak Mami’.

“Jam makan siang sudah akan terlewat,” gadis bernama Summer itu menilik jam di dinding, “apa kau mau keluar makan siang di Meriz?”

Sulit untuk Jongin menolak. Jadi biarlah.

Ia mengangguk.

 

 

-oOo-

 

 

“Apa kau merasa ini aneh?” tanya Jongin dan matanya memandang ke arah luar.

“Aneh bagaimana?” membutuhkan waktu dua detik untuk Summer menjawab karena tadi mulutnya penuh oleh nasi.

“Kau hanya pasienku.”

Gadis itu terdiam, memasang wajah datar dengan kedua alis naik. “Memangnya kenapa? Apa ada peraturan bahwa seorang dokter tidak boleh punya teman yang notabene adalah pasiennya?” tanyanya dengan nada meremehkan.

“Harusnya kau sedikit menghormatiku.”

“Oh, jadi kau mau dihormati?” tanya Summer sambil mengangkat tangannya dan hormat seolah-olah di depannya adalah bendera Kenegaraan.

Jongin mendecih, namun tak urung ia tersenyum juga. Jalan bersama Summer kadang-kadang menyenangkan.

“Mau kuceritakan tadi malam, saat aku kebingungan mau tidur dimana?”

Jongin mengangguk.

“Baiklah, begini,” Summer menarik napas dalam. “Karena tidak bisa pulang ke rumah, akhirnya aku menelepon semua teman kuliahku. Yang perempuan tentu saja. Aku menanyakan rumah mereka dan aku mengunjunginya, kemudian aku merasa ketakutan ketika melihat rumah itu sudah pernah kukunjungi, jadi aku mencari rumah mereka sampai pukul dua belas malam, dan karena tersadar bahwa rumah mereka sudah pernah kukunjungi semua, akhirnya aku pergi ke hotel dan tidur. Menghabiskan uang.”

“Ayahmu?”

“Aku tidak punya Ayah.”

Jongin mengerutkan kening. “Tuan Choi Jung Nam bukan Ayahmu?” tanyanya, sama sekali tidak menyadari sinisme dalam nada bicara Summer.

Ex-Dad.”

“Aku tidak pernah mendengarnya.”

“Sekarang kau mendengarnya.” Tampaknya Summer tidak menyukai pembicaraan ini jadi ia membelokkannya. “Sudah telat lima menit, kau tidak berniat pulang?”

 

 

-oOo-

 

 

Lagi-lagi stres itu melanda Jongin. Kali ini ketika ponselnya berbunyi dan ia menyadari bahwa itu telepon dari Ayahnya. Ia tidak suka mendapat telepon ketika sedang mengemudi. Tapi jelas saja, ia tidak bisa me-reject panggilan Ayahnya sendiri.

“Halo,” Jongin memasang wajah datar. “Aku sedang di perjalanan. Ya, Ayah? Tenang saja, aku tidak baru kemana-mana. Ya, tidak ada yang sulit. Oke. Ayah aku mau—”

Tut.

Jongin memejamkan mata dan mendongak, sangat menyadari bahwa itu bisa mencelakakannya. Dan kenangan itu kembali berkelebat.

 

Ya, Kai! Mengemudilah dengan benar, aku tidak mau terjadi apa-apa pada kita hanya karena kau sibuk memandangiku!” tertawa.

“Kau yang sibuk memandangiku!” ikut tertawa.

“Mana bisa seperti itu! Eh, lihat, sexy dance kita masuk trending di majalah,”

 

Sexy dance.

Tarian yang menggoda.

Tarian yang seksi.

Tariannya bersama kekasihnya, ex-nya.

Tariannya yang dulu sangat menyenangkan, dan kini hanya menghasilkan luka saja.

Kim Jongin tidak boleh seperti ini. Kim Jongin harus konsisten. Jongin menarik napas, dan mengembuskannya. Ia membelokkan mobilnya tanpa menyalakan tombol sen, dan tidak mempedulikan klakson dari mobil orang-orang yang hampir menabrak-nya.

 

 

 

-oOo-

 

 

Asap putih itu mengembus perlahan dari mulutnya. Sekarang ia sama sekali tidak memedulikan profesinya yang sangat formal, yang tidak menganjurkan untuknya merokok, seperti sekarang. tapi Kim Jongin terlalu tidak peduli. Ia hanya ingin otaknya tenang sebentar, meski itu artinya ia harus berbelanja baju dan mengganti pakaiannya untuk menghindari bau rokok menguar dari pakaiannya, dan itu akan berakibat amarah Ayahnya.

Berita yang ia lihat dari majalah itu benar-benar menyakitinya. Padahal toh berita itu sudah terbit sejak dua minggu yang lalu, dan Jongin baru melihatnya sekarang. betapa telat dirinya itu.

Semua ini membuatnya sakit. Ia membutuhkan banyak kafein untuk sekedar meringankan bebannya. Atau mungkin cokelat. Ya, seperti yang dianjurkan Summer beberapa hari lalu.

Lalu Jongin ingat perkataan Summer tadi sebelum mereka berpisah, telepon aku saja jika kau membutuhkanku. Dan Jongin memang sedang membutuhkan Summer sekarang. untuk mengatakan hal-hal konyol, atau melakukannya, terserahlah. Yang penting Jongin bisa sekedar tersenyum.

Dengan mudah Jongin menginjak rokoknya, membiarkan benda laknat—yang dulu pernah begitu Jongin candui—itu remuk, sementara asapnya terbang di atasnya, kemudian menghilang.

 

 

-oOo-

 

 

Summer terlambat. Awalnya Jongin benci itu, ia tipe seseorang yang cinta ketepatan. Namun kebencian itu menguap begitu saja ketika melihat Summer berlari-lari sepanjang stand untuk menghampirinya yang tengah duduk di koridor akhir stand makanan itu.

“Maaf aku terlambat.” Ujar Summer dengan napas tidak teratur. “Tadi aku ketiduran di kereta menuju ke sini.”

Kemarahan Jongin semakin menguap ketika melihat mata Summer merah dan lingkaran mata panda bewarna hitam melingkari matanya.

“Tidak apa-apa.” Jongin tersenyum dan menarik napas.

Summer melakukannya juga. “Jadi, ini seperti undangan kencan mendadak?” tanyanya dengan nada bercanda, seolah mengerti bahwa Jongin sedang dalam mood yang buruk.

“Tidak juga. Mungkin lebih tepatnya makan bersama.”

“Dasar tidak romantis! Seharusnya kau mengatakan ya saja!”

Jongin tertawa.

“Kau merokok? Baumu seperti Paman Penjaga Kereta tadi.”

Jongin memasang raut muka agak panik.

“Dan wajahmu seperti Paman tadi ketika aku bertanya apakah dia habis merokok.” Summer tertawa ringan, “tenang saja. tidak usah khawatir begitu. Aku tidak akan membocorkannya, Kim.”

“Aku tidak suka dengan margaku.” Jongin membenci dirinya ketika sifat lamanya—yang berusaha ia kubur bersama masa lalunya—kembali. Seorang dokter tidak boleh mengatakan hal-hal yang terdengar negatif seperti itu. Namun dengan Summer, seorang Kim Jongin bebas melakukan apapun.

“Harusnya kau menggantinya saja.”

“Dasar gila!”

Mereka tertawa.

 

 

-oOo-

 

 

Seperti yang pernah Jongin bilang, Summer hanya salah satu pasiennya. Bukan pasien sebenarnya karena Jongin sama sekali tidak membantu penyembuhan gadis itu. Ya, karena kenyataannya Summer tidak menderita penyakit dalam, seperti objek profesi Jongin.

Mungkin harusnya Summer pergi ke psikiater, bukannya dokter sepertinya. Tapi Jongin pikir seorang Summer memang sangat gila, maka ia tidak kaget mengapa gadis itu melakukan itu.

Jongin ingat dirinya sedang kesal ketika pintu terbuka dengan tiba-tiba, dan tanpa mengetuk. Ketika itu Jongin sedang membaca novel, dan Summer tiba-tiba masuk dengan percaya dirinya; kemudian mengatakan keluhannya.

Awalnya Jongin sangat kesal, apalagi karena intinya, Summer memiliki sebuah phobia yang sangat aneh; phobia terhadap rumah, atau biasa disebut Domatophobia. Tapi tidak seperti penderita umumnya—jika penyakit itu bisa dikatakan umum—Summer hanya takut kepada rumah yang telah dikunjunginya. Artinya, ia tidak takut terhadap rumah yang baru, yang belum pernah ia masuki. Dan setelah memasukinya, esoknya Summer akan ketakutan ketika melihat rumah itu.

Sebenarnya, menurut Jongin, itu kekurangan yang sangat janggal. Bisa saja penderita phobia itu stres, namun Summer tidak. Semangat hidupnya tinggi dan ia selalu tampak bahagia.

Sejak pertemuan menjengkelkan itu (di rumah sakit), Summer selalu mengunjungi Jongin. Awalnya Jongin tidak suka, namun kemudian ia merasa bahwa itu menguntungkannya.

 

Dan Jongin tidak pernah tahu mengapa ia menganggap bertemu Summer adalah sebuah anugerah.

 

 

-oOo-

 

 

“Kau, mengapa berpakaian seperti itu?” tanya Jongin aneh ketika melihat Summer—yang biasanya memakai jins panjang—kini merubah penampilan dengan mengenakan hotpants dan kaus kedodoran, serta sepatu sneakers.

“Sepertinya kau tahu pakaian untuk apa ini.”

Sebenarnya Jongin tahu. Ia hanya tidak ingin mengatakannya.

Summer tidak begitu memedulikan Jongin dan memilih berjalan menuju tape dan menyalakannya. Lagu hip-hop milik-entahlah-siapa mengalun dan gadis itu mulai mengayun-ayunkan tubuhnya dengan semangat.

Jongin tidak percaya bahwa Summer bisa menari. Ia pikir gadis super-tinggi itu bertubuh kaku, namun ketika melihat gadis itu menari dengan begitu lincahnya, ia menyadari semuanya salah. Lebih salah lagi ketika ia merasakan getaran di kakinya. Ia selalu seperti ini ketika ia begitu ingin menari.

Menari adalah hidupnya.

Profesinya.

Kekasihnya.

Alasan mengapa seorang Clarise mau menjadi kekasihnya.

Alasan mengapa ia memiliki sebutan ‘Kai’.

Dan ia dipaksa keluarganya untuk meninggalkan profesinya itu. Untuk menjadi dokter.

.

.

Kim Jongin melepaskan ketenarannya di New York. Ia berhenti menari. Jongin mengatakannya pada Clarise, dan entah karena alasan apa, Clarise memutuskan cintanya.

Jongin kehilangan dua hal penting dalam hidupnya. Clarise and DANCE.

Dan ia tidak bisa menahan keinginannya untuk menari sekarang. ketika musik terdengar dari tape di sudut ruangan dan ketika Summer mengayun-ayunkan tubuhnya.

“Ayo, Kai, menarilah.”

Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai—

Ia merindukan nama itu.

Kim Jongin sangat ingin kembali menjadi Kai Kim, dancer tampan dari Korea Selatan, yang tampil menarik dengan keluwesan dan wajah dinginnya.

Kim Jongin ingin Clarise kembali menatapnya. Meski keinginan menjadikan gadis itu kekasihnya lagi sudah pudar.

Ia ingin menari.

 

Dan begitulah, Kai Kim menari. Bertepatan ketika musik yang tadinya ceria berganti menjadi musik yang mengalun lembut, halus. Ia menari dengan keluwesan yang membuatnya terkenal.

Diam-diam Summer tersenyum, membiarkan ketika Kai tampak hidup dengan musik dan tariannya.

 

 

-oOo-

 

 

“Darimana kau tahu bahwa aku Kai Kim? Tidak ada satupun orang yang tahu bahwa Kim Jongin adalah Kai.”

“Aku fans setiamu. Tentu saja aku hapal wajahmu, bahkan jika kau menggunakan masker.”

“Tidak, bukan seperti itu.” Jongin mendongak. “Aku berubah banyak.”

Summer tersenyum. “Terkadang, perubahan itu semakin menonjolkan ciri-cirimu yang asli. Aku masih bisa mengingatmu. Dan jujur saja, NY juga merindukanmu.”

“Aku tidak bisa kembali,” Kai menunduk.

“Kau mengkhawatirkan Clarise? Man, perempuan seperti dia harusnya dibasmi.” Summer berkata dengan tenang. “Aku menerornya dengan puluhan e-mail omong kosong, dan ratusan surat kaleng. Ia melaporkannya pada polisi.”

Jongin membelalak. “Kau ketahuan?” tanyanya dengan nada kaget yang tidak dibuat-buat.

“Pada saat penyelidikan, aku sudah kembali ke Korea. Aman.”

“Dasar gila!”

“Itu tidak gila, seorang fansgirl akan melakukannya ketika menyadari idolanya disakiti oleh perempuan seperti dia.”

“Bagaimana wajah Clarise saat mendapati surat kaleng itu? Kau menulis apa?”

Wajah Summer merona, dan Jongin sama sekali tidak tahu kenapa pipi gadis itu bewarna seperti tomat.

“Dia marah, dan ketakutan. Aku tahu banyak tentang aibnya.”

“Aibnya? Apa maksudnya?”

“Clarise tidak terkenal dengan usahanya sendiri.” Summer memasang wajah datar dan menatap Jongin. “Kau sudah menjadi pacarnya setahun, dan tidak tahu fakta itu?”

Jujur saja, Jongin tidak tahu; dan tidak mau tahu. Ia terlalu buta oleh cintanya kepada perempuan sialan itu.

“Jangan menampilkan wajah seperti itu. Kalau Clarise melihatnya, dia bakal merasa sangat bangga.”

“Memangnya kenapa dengan wajahku?”

“Kau terlihat seperti pemuja nomor satu C dalam hidupnya. C untuk Clarise.”

Kim Jongin memang memujanya, Summer Choi. Kim Jongin atau Kai—memang melakukan hal bodoh itu.

Dan Jongin merasa sangat menyesal mengapa ia harus mencintai perempuan seperti Clarise. Yang—lewat Summer—ia ketahui bahwa Clarise memanfaatkan ketenaran Jongin untuk membuatnya ikut terkenal.

Tunggulah maut menjemputmu dan membawamu ke Neraka, Clarise Wilson!

 

 

-oOo-

 

 

“Kau yakin aku bisa menginap di rumahmu?” tanya Summer ketika Jongin menyalakan lampu sennya, kemudian membelok.

“Ya, tentu bisa. Ayah dan Ibuku sedang pergi.”

Jujur saja—setelah ketahuan bahwa ia adalah fans Jongin—ia merasa agak canggung. Lebih canggung lagi ketika Jongin menawari Summer tinggal di rumahnya untuk semalam ketika ia bingung akan tidur dimana. Tentu saja itu semua karena phobia-nya yang tidak masuk akal.

Summer tidak akan berpikiran aneh. Iya, ia akan tetap berpikiran lurus. Oh Tuhan. Tapi otaknya mulai berhenti ketika mobil Jongin memasuki pekarangan rumahnya, rumah lelaki itu. Dan sungguh, Summer merasakan keringat dingin mengalir dan seolah-olah hanya ada kegelapan di sekitarnya.

Mesin mobil terhenti, namun Summer bahkan tidak menyadari bahwa Jongin sudah menarik pintu mobil, akan keluar.

“Summer? Kau baik-baik saja?”

Tidak, tidak. Ia tidak baik-baik saja. kenangan itu berputar dengan sangat cepat dan itu sungguh menyakitinya.

 

 “Aku tidak akan mengulanginya, Ibu! Tolong jangan..”

“Ibu, ampun, maaf, maafkan aku, maaf. Tidak!”

“Apa Ibu tidak sayang padaku?”

“Apa Ibu tidak ingin aku kembali ke rumah ini?”

“Apakah aku harus pergi?”

 

Jongin tidak tahu apa yang terjadi terhadap Summer. Gadis itu mulai merasa takut dan tidak berdaya.

“Tolong… jangan… bawa… aku… ke… rumah it-itu.”

Summer pingsan.

 

 

-oOo-

 

 

Entah mengapa, Jongin merasa khawatir. Ia tidak bisa tidur semalaman, dan jantungnya berdegup dengan kencang ketika Summer tidak kunjung bangun padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.

Jongin membolos hari ini, ia tidak peduli dengan amarah Ibunya yang sudah menantinya. Ia hanya butuh gadis ini bangun.

Suhu tubuhnya stabil, dan bahkan gadis itu tidak demam. Ia normal, seperti biasanya. Jongin merasa takut, sungguh. Dan ia mengenali rasa takut ini.

.

.

Rasa takut yang juga menimpanya ketika Clarise kecelakaan, empat bulan setelah ia menjadi kekasihnya.

.

.

Kim Jongin menyadari bahwa ia telah jatuh cinta kepada Summer.

 

 

-oOo-

 

 

“Akhirnya kau bangun juga.” Jongin menghela napas lega ketika melihat Summer kini telah berdiri di dapur, dengan buah-buahan segar di tangan kanannya.

“Memangnya kenapa? Aku senang pingsan,” Summer menjawab, seolah-olah tragedi pingsannya Summer ketika berada di pekarangan rumah Keluarga Kim adalah hal yang normal terjadi.

Ya, Jongin tahu Summer senang pingsan. Itu akan membuat gadis itu beristirasshat tanpa merasa ketakutan karena berada di tempat atau rumah yang pernah ia kunjungi. Tapi bukan berarti itu hal biasa, karena bagaimanapun Summer pingsan setelah melihat rumah Jongin, dan tambahan kalimat yang mengisyaratkan agar Jongin tak membawa gadis itu masuk ke rumahnya.

“Apa yang terjadi?” Jongin sedang tidak ingin berbasa-basi. Ia langsung menanyakannya dan menatap Summer yang tengah meneguk isi gelasnya.

“Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit kaget. Rumahmu sangat bagus, dan kelihatan kuno.”

Jongin tahu bagaimana ciri-ciri orang berbohong. Dan ia jelas melihatnya dari diri Summer yang tangannya gemetar membawa gelas.

“Katakan yang sejujurnya.”

“Aku jujur, aku tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja. aku hanya kelelahan dan terlalu stres—”

“Tidak, kau mencoba berbohong.”

“Rumahmu, aku pernah kesana.”

“Kapan? Apa kau sudah mengenalku saat itu?”

“Aku penghuninya, sebelum kau tinggal disana.”

Jongin tampak kaget, “Apa? Tapi Ibuku bilang rumah itu miliknya sejak ia kecil.” Jelasnya, tampak kaget.

“Ibumu.. adalah Ibuku juga.” Berat ketika Summer mengatakannya, karena pada kenyataannya, ia mulai memupuk tembok kebencian terhadap Ibunya sendiri. “Apa dia pernah bercerita tentang keluarganya yang dulu?”

Jongin berpikir. Summer lebih tua empat tahun darinya. Dan ya… Ibu kandungnya sudah meninggal sejak ia balita. Tapi… mana mungkin?

“Dia menyebabkan banyak hal di hidupku, merubahnya, dan membuatku sakit setiap harinya.”

“Maksudmu?”

“Dia penyebab phobia-ku.”

“Bisa kau jelaskan..?” Jongin sendiri tampak tak yakin ketika mengatakannya.

Summer hanya diam. “Sudahlah, lupakan, itu hanya masa lalu.”

Namun Jongin terlalu banyak mengerti. Seorang Summer Choi tentu tidak lahir dengan phobia-nya. Dan tiba-tiba ia merasa ikut menyesal.

“Summer-ah, boleh kutahu nama aslimu?”

“Untuk apa? Aku sudah mengubur nama asliku. Selamanya.”

Jongin juga berpikir seperti itu.

“Aku hanya tidak ingin mengungkit hal itu lagi. kau tahu, kenangan itu sebenarnya menyakitkan juga.”

 

 

-oOo-

 

 

Sampai kemudian, Jongin sadar bahwa sekarang ia sedang bemesraan dengan Summer. Ini aneh karena bahkan mereka hanyalah dokter dan pasien. Dan konyol. Tapi peduli apa, selama Jongin merasa nyaman dengan Summer—dan sebaliknya—maka tidak ada alasan penghalang mengapa mereka tidak harus bersama.

Sekarang mereka sedang duduk di kantin rumah sakit—oke, ini bukan kencan yang romantis yang diinginkan keduanya. Tapi Summer tampak tidak peduli, karena begitulah tabiatnya.

Dan tentang bermesraan.., apa itu berarti mereka pacaran sekarang? Jongin agak meragukan itu melihat tingkah Summer yang kelihatan biasa saja. hubungan pasien-dokter itu mengalihkan banyak hal sepertinya.

“Lihat ini!” seru Summer tiba-tiba, mendorong meja ke depan membuat gelas jus Jongin bergetar. “Clarise pacaran dengan Junke!”

“Mereka pacaran?” setahu Jongin, Junke tidak se-terkenal Clarise bahkan sebelum Clarise bermesraan dengannya.

“Aku tidak begitu peduli.” Jongin mengucapkannya dengan datar, sementara Summer memandangnya ingin tahu, “kupikir aku harus mengaku sekarang.”

“Mengaku apa?”

“Mmm, ini konyol. Dan maafkan aku karena tidak bisa membuatnya kedengaran romantis sedikit saja. Aku menyukaimu. Ya, begitulah.”

Summer menganga. “Apa maksudmu?”

“Ya, begitulah.”

“Tidak, tidak, bukan begitu. Maksudmu, kau benar-benar menyukaiku? Aku tidak menyangka!”

Harusnya Jongin tidak mengatakan perasaannya di Rumah Sakit, karena Summer Choi akan melakukan hal-hal konyol.

Seperti yang dilakukannya sekarang.

Serius.

Jongin tiba-tiba menyesal.

Ugh.

 

 f i n 

Okey, so sorry because this fict is very…

and i have very bad day. and week maybe.

so sorry again.

6 thoughts on “In Yours (Domatophobia)

  1. sukaaaaa tapi tapi tapi…
    mereka gak sodaraan kan?
    humm, karakter kai di sini beda dari biasanya.
    biasanya dia kan… *uhuk* badboy *uhuk*
    dan summernya berasa lebih muda, padahal lebih tua empat taun waks >,<
    udah ah, komen aku gaje banget

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s