Info and Fanfictions from MEYDASSI


ANNYEONG~~

Yaampun udah berapa lama saya nggak muncul bawa ff? Udah ada sebulan kaliyaa ==

Kali ini pun saya ga bawa ff-_- maaf yaa. Tapi bener deh, saya udah usaha bikin. Tapi gak pernah selesai sampai akhir. Makanya saya kumpulin semua ff saya yang kepending maupun yang emng gak niat saya kerjain lebih lanjut. ini Cuma beberapa ajasih. Aslinya sih lebih banyak lagi hehe -_-

Langsung aja deh ya.

1. LOLove

 lolove

Cast: Kris Wu and Sooyoung Choi

Genre: Romance

Rating: Teenager and General

Jika aku dipaksa menunggu satu jam lagi, aku yakin kopi di hadapanku sudah akan berubah menjadi es. Dan aku tidak bercanda. Sisi lain diriku sudah sangat kedinginan (bodohnya Starbucks mengalami kerusakan pemanas ruangan pada cuaca seperti ini), sedangkan sisi lain diriku masih ingin menunggu Kris.

Dan parahnya, aku menunggu seperti ini hanya karena pesan dari Kris yang berisi ‘aku naksir pada seseorang’. hey yeah, bukannya itu benar-benar sederhana?! Tapi tidak jika yang jatuh cinta adalah seorang Kris Wu. Lima tahun menjadi kakak perempuan palsu sekaligus temannya, tak sekalipun Kris pernah membicarakan tentang gadis yang ia taksir. Aku sering mengungkitnya, dan ia hanya menatapku dengan datar, sampai aku merasa sangat canggung. Dan aku benci merasa canggung. Jadi begitulah, tak sekalipun aku tahu bahwa kapan ia jatuh cinta.

“Nona, anda ingin menambah?” seorang pelayan kembali menghampiriku (untuk yang ketiga kalinya), kupikir ia melihat isi piringku yang telah kosong dari kue dan donat-donat itu.

“Tidak, nanti saja kalau temanku sudah datang.”

Si pelayan pergi dan aku menatap jam tanganku, uh oke, sudah satu jam aku menunggu. Aku sudah memesan kopi dua gelas, dan aku yakin perutku telah kembung. Kris Wu benar-benar menyebalkan rupanya.

Satu jam lebih empat belas menit, akhirnya Kris tiba. Wajahnya tenang dan santai, tidak tampak sedikitpun perasaan menyesal, dan aku benar-benar tidak menyukai itu.

“Hei kau! Kau sudah terlambat dua jam dan masih bisa santai seperti ini?!”

“Dua jam? Jangan berlebihan,”

Oh sialan, aku benar-benar benci padanya.

 

 

_oOo_

 

 

 

“Jadi sekarang katakan, siapa gadis itu?” tanyaku dengan nada sok datar.

“Mmm, apa?” dia mendongak, setelah sebelumnya menyeruput kopinya.

“Gadis itu.” Aku mengulang, “gadis yang katanya kautaksir.”

“Kenapa memangnya?”

Jika aku kurang sabar, pasti aku sudah mengangkat gelasku dan menggempurkannya ke kepalanya yang kurang sehat.

Mungkin dia melihat wajah geramku sehingga ia berkata, “Tidak tahu juga. Aku sudah lama mengenalnya tapi perasaan itu baru muncul sekarang. eh, tidak tahu juga.”

“Kedengarannya sangat tidak meyakinkan,” aku mendesah dan menatapnya serius. “Kalau aku jadi gadis itu, aku pasti sudah menyesal kenapa orang sepertimu bisa menyukaiku.”

Ttuk!

Aku meringis sambil memegangi keningku. Dengan kejamnya Kris memukulkan sendoknya—yang basah—di dahiku. Itu menjijikkan sekaligus sakit.

“Dasar menyebalkan,”

“Harusnya kau yakin dengan perasaanmu,” aku mencoba sok bijak. “Dengan itu perempuan akan percaya padamu.”

“Aku akan percaya jika yang mengatakannya bukan kau.” Katanya dengan sangat meremehkan. “Kau bahkan sama pecundangnya denganku.”

“Tidak bisa begitu! Meskipun aku belum pernah pacaran, tapi setidaknya aku pernah menyukai seseorang,” protesku dengan suara melengking, tanpa sadar membuka aib ‘tuna asmara’ milikku sendiri. Ah, bodoh!

Kris tertawa terbahak-bahak demi melihat wajah merah padamku, dan Demi Tuhan, aku merasa seperti telanjang di tengah-tengah pasar super ramai. Oh tidak.

 

 

_oOo_

 

Pagi berikutnya, aku masih belum mendapatkan apa-apa dari mulut Kris. Aku sudah bertanya bahkan memaksanya, namun ia hanya berdeham, dan mengatakan bahwa ia sibuk. Oke, rupanya ia benar-benar sedang menguji kesabaranku.

Hari ini aku sangat sibuk, banyak tugas dan tes yang harus kukerjakan dan kulewati. Namun aku mengorbankan waktu berhargaku untuk tidur, hanya karena Kris menelepon bahwa ia di kantin kampus sekarang.

Seharusnya sekarang aku sudah berada di bathup, berendam dan mendengarkan lagu dari i-pod, harusnya. Kenyataannya, aku malah duduk di kursi kantin di hadapan Kris Wu sambil menatap lelaki itu penuh harap.

Aku tahu diriku berlebihan sekali, apalagi dengan kenyataan Kris tak sekalipun menggubrisku. Ia hanya makan dan minum, sambil sesekali melihat ponselnya. Kupikir aku harus bertindak untuk membuat Kris tidak mengabaikanku lagi.

Aku berdeham.

Kris mendongak, tidak menatapku.

Aku batuk,

Kris masih sibuk dengan ponselnya.

Aku bersin,

Kris berseru, “Kau menularkan virus!”

Oh, sialan.

“Dengar aku,” ujarku dengan nada sadar, “aku butuh penjelasanmu sekarang. kau tahu, sebenarnya kau telah berdosa banyak.”

“Apa?”

“Pertama, membuat orang yang lebih tua darimu menderita penyakit penasaran, dan bahkan hampir mati karenanya. Kedua, orang itu adalah aku.”

“Memangnya kenapa jika itu kau?”

Aku tertawa, terdengar tidak begitu oke.

“Tidak usah bertanya lagi, se-ge-ra ja-wab.”

“Aku menyukainya, sudah?”

“Astaga, poin yang lain maksudku. Yang itu aku sudah tahu.” Aku memijat pelipis, pusing menghadapi es sepertinya.

“Poin apalagi? Yang terpenting ‘kan itu,”

“Tidak hanya itu.” Aku berdeham lagi. “Alasannya, boy, alasan kenapa kau menyukainya.”

“Hei, kau ini ingin tahu sekali.”

“Aku kakakmu, Kris Wu yang tampan.”

“Tapi kau bahkan kalah dewasa denganku, dan, ya, terima kasih sudah mengataiku tampan.”

“Sudahlah, katakan saja alasannya.” Aku malas, dan kepalaku mulai berdenyut.

“Dia tidak punya kelebihan, tapi kekurangannya banyak.” Ujar Kris sambil menerawang. “Dia tinggi, rambutnya bagus, dan matanya besar; meskipun saat tertawa akan—”

“Astaga, itu lucu sekali!” aku tertawa, “maksudku, kenapa bisa kau menyukai gadis yang tidak punya kelebihan? Boy, apa kau buta?”

Kris cemberut, dan demi apapun diam-diam aku merasa bahwa Kris tidak hanya tampan.

“Bukan begitu, dasar bodoh!” ia memaki dan berdeham, “sudahlah, jangan tanyakan apapun kepadaku. Aku benci padamu.” Kemudian ia mengangkat ranselnya dan berjalan pergi.

Oh, please, aku membuatnya marah, dan itu artinya aku tidak bisa mengorek-orek tentang gadis yang disukainya itu.

Masih ada masalah lain yang harus kupikirkan: aku tidak membawa mobil, sedangkan sekarang sudah sore, angkutan pasti akan sulit. Satu-satunya  jalan keluar sekarang adalah Kris dan bahkan ia sedang marah padaku.

“Ya, Kris! Beri aku tumpangan sebelum kau pulang!”

 

 

 

_oOo_

 

 

 

Ada tiga tugas yang belum kuselesaikan. Dan aku tidak sedang dalam mood untuk mengerjakannya. Temanku Jinah sudah pergi entah kemana sejak empat puluh menit yang lalu, sedangkan aku malah memilih untuk sekedar nongkrong di kantin.

Kantin sepi, dan aku bahagia karena itu. Tidak perlu berdesakan, dan pesanan bisa lebih cepat datang. Sepiring nasi goreng kimchi sudah ada di hadapanku dan jus alpukat sudah menanti di atas nampan.

Aku akan segera memakannya jika tugas merangkum novel tidak menggangguku. Aku cukup senang membaca, dan aku akan lebih senang lagi jika novel di tanganku sekarang ber-genre comedy. Tapi ini? Sad dan tragis? Apa aku gila?!

Ini kerjaan Mrs. Kim yang gemar menyiksa mahasiswa, tapi ini siksaan terburuk yang pernah ia berikan kepadaku. Benar saja, masa aku, Choi Sooyoung, orang yang paling anti dengan sad-romantic dipaksa membaca Shakespeare? Aku benar-benar tidak menyangka.

“Hei, Nuna!”

Aku mendongak, mendapati Oh Sehun—sepupu Kris—berjalan ke arahku sambil melambaikan tangan. Aku membalasnya.

“Sedang apa disini?”

“Kau tidak lihat?” aku menelengkan kepalaku dan menunjuk piringku. “Matamu normal, ‘kan?”

“Haish,”

Aku tertawa. “Kenapa kau tidak masuk kelas?” tanyaku dengan mulut penuh.

“Malas. Miss Kim terlalu banyak tugas.”

Aku mencibir.

“Eh, Nuna, tahu tidak kalau Kris Hyung naksir seseorang?”

Aku mengangguk, “Tapi dia tidak mau memberitahuku orang itu,”

“Sudah Nuna paksa?”

“Tanpa kau suruh pun aku tentu sudah memaksanya.”

Sehun tertawa, dan aku melanjutkan makan.

“Menurutmu, siapa gadis itu? Kau pernah memata-matainya?”

“Memata-matainya? Kedengarannya seperti penguntit,” Sehun bergumam dan aku berusaha menahan diriku untuk tidak menimpuknya dengan gumpalan tisu di dekatku.

“Maksudku, kau pernah melihat Kris dengan cewek atau tidak?”

“Tidak pernah. Tapi dulu dia pernah bilang dia suka melihat Jessica Nuna,”

Jessica? Bukannya dia dua tingkat di atas Kris? Kurasa lelaki itu mempunyai tipe gadis yang lebih tua darinya.

“Baiklah, Jessica ya..”

 

 

_oOo_

 

 

 

Kali ini, Kris sudah duduk santai di meja kafe saat aku sampai. Aku bersyukur, karena itu artinya tidak ada menunggu lagi.

“Jadi apa?”

“Apa?” aku mendongak, meletakkan tasku dan mengerutkan kening. Ranselku benar-benar berat, para dosen penyiksa itu memaksaku membawa dua tumpuk buku teks yang tebalnya bisa membuatmu pening.

“Alasan kenapa kau mengajakku bertemu,”

Oh ya, hanya Kris yang tidak cukup punya sopan santun untuk memanggilku ‘Nuna’ seperti yang lain. Luhan yang jarak lahirnya lebih sedikit dari Kris saja memanggilku Nuna dan selalu menunduk ketika bertemu denganku.

“Oh itu,” aku bergumam dan melambaikan tangan. “Biarkan aku memesan dulu, oke?”

Setelah pesananku datang—kafe sedang sepi sehingga pelayanan sangat baik—aku menarik napas dalam dan mencoba berkata, menjelaskan kepada Kris.

“Jessica Jung sudah punya pacar,” ujarku dengan nada bergumam, berusaha menabahkannya. Aku sendiri harap-harap cemas menunggu ekspresinya; apakah Robot sepertinya akan menangis? Menampilkan wajah syok? Atau..

“Lalu kenapa?”

“Hah?!” aku mendongak, dan mendapati bahwa wajah Kris masih sama seperti semenit yang lalu, sebelum aku mengatakan hal itu.

“Lalu apa hubungannya Jessica denganku?” tanyanya lagi, masih tampak acuh.

“Eh, kau kan.. naksir padanya,” ujarku, berusaha terdengar tidak terlalu memaksa. “Aku hanya ingin memberitahumu supaya kau tidak patah hati,”

Kris Wu sudah tertawa terbahak-bahak.

 

 

_oOo_

 

 

 

“Jadi jelaskan padaku, bagaimana bisa kau menarik kesimpulan bahwa aku naksir pada Jessica?”

Aku merutuk dalam hati, benar-benar sialan Sehun!

“Kata Sehun kau naksir Jessica,”

“Hei, aku hanya bilang tipeku seperti Jessica.”

“Iya, lalu bisa saja ‘kan kalau diam-diam kau naksir padanya,” aku masih memaksa, berusaha memikirkan jalan agar wajahku tidak hilang saking malunya. “Itu masuk akal.”

“Jadi kalau tipeku seperti aktris Korea Song Hye Kyo, berarti aku naksir padanya?”

“Itu tidak berlaku jika tipemu seperti aktris!” aku berseru, setengah kesal dan setengah malu. “Sudahlah, aku mau pulang! Dasar menyebalkan!”

Baru saja aku beranjak, Kris sudah berdeham dan berkata dengan santainya, “Padahal aku baru mau mengatakan siapa gadis yang kutaksir.”

Oh, sialan, Kris Wu memang moodbreaker sejati!

 

 

_oOo_

 

 

 

“Siapa dia, Kriiiiis?!” aku memohon dengan sangat memaksa dan tidak lupa menampilkan wajah memelasku, sudah setengah jam aku memaksanya dan ia masih bergeming dengan menyebalkannya.

“Bagaimana ya menjelaskannya,” ia berpangku tangan kemudian mengerutkan kening. “Tebak dulu, bagaimana?”

“Hei, aku sudah sibuk menebak-nebak selama tiga hari!”

“Kau terlalu ingin tahu sih.”

Sial.

“Bukan hanya aku, tapi semua orang yang kenal padamu pasti ingin tahu!”

“Apa aku sebegitu terkenalnya sampai—”

“Hentikan, katakan saja siapa dia.”

Kris berdeham. “Bagaimana mengatakannya ya.. pokoknya dia.. mm, lumayan dekat denganku. Satu kampus, dan dia.. tinggi. Rambutnya panjang bergelombang dan bewarna cokelat.” Jelasnya sambil menerawang.

Please, tipe seperti itu banyak di kampus kita bodoh! Lagipula banyak perempuan yang dekat denganmu, yang  punya rambut panjang bergelombang.” Aku mengeluh.

“Kalau begitu aku yakin kau tidak akan tahu siapa dia.”

“KENAPA KAU TIDAK MENGATAKAN NAMANYA SAJA?!” aku berseru dan gemparlah seisi kafe menatap kami. Aku sibuk menunjuk-nunjuk Kris, sedangkan Kris sibuk menenangkan para saksi mata yang menatap Kris dengan pandangan tidak suka. (Aku yakin mereka mengira kami punya hubungan dan Kris menyakitiku; oke, drama sekali).

“Aku tidak akan berhenti menjelaskannya kepada orang-orang itu bahwa kau tidak bersalah, kecuali kalau kau memberitahuku siapa nama gadis itu.” Aku memberi penawaran dan seulas senyum licik.

“…”

 

 

 

_oOo_

 

 

 

“Jadi, siapa perempuan tidak beruntung itu?”

“Maksudmu?”

“Perempuan tidak beruntung yang ditaksir manusia robot sepertimu.”

“Sialan,” maki Kris dengan pelan. “Coba kau pikir dulu, siapa tipe gadis seperti yang kusebutkan tadi,”

“Aku tidak bisa berpikir, please. Tugasku menumpuk di rumah.” Aku memohon, memasang wajah memelas. “Lagipula kau kan bilang akan memberitahunya.”

“Aku tidak bilang akan mengatakannya sekarang.”

Aku mendelik. “Kau harus mengatakannya sekarang, atau aku akan berteriak pada tetanggamu supaya—”

“Kau lupa ruangan disini kedap suara? Kau berteriak sekarang sampai nanti percuma saja, yang ada pita suaramu yang habis.”

Aku hampir menangis saking penasarannya.

 

 

 

_oOo_

 

 

 

“Kau benar-benar akan mengatakannya, ‘kan? Tidak ada alasan-alasan menjengkelkan lagi ‘kan?” aku memastikan, sambil tangan kananku memegang erat buku teks dan kanan kiriku menempelkan ponsel ke telinga. “Kau yakin? Aku tidak mau tertipu lagi,”

Oh ya, tebak aku sedang ngobrol dengan siapa, dan—YA—orang itu memang Kris Wu yang setengah gila.

“Kau serius? Aku benar-benar tidak yakin.” Aku mencatat tulisan Prof. Kim di papan tulis di depan. Yap, hanya murid teladan sepertikulah yang malah tidur ketika yang lain mencatat, dan hukumannya aku dipaksa membersihkan kelas Prof. Kim dan menulis catatan itu empat kali berturut-turut (tenang saja, aku akan memaksa Jinah, Sehun, dan Kris untuk melakukannya, hehe). “Ah, masa? Aku sudah kebal, Kris.”

Suara Kris di seberang terdengar geram dan aku mau tidak mau harus mengakhiri acara mencatatku sekarang juga.

“Oke, oke, jangan marah. Aku kesana segera.”

Kemudian, empat belas menit kemudian, aku sudah mengemudi menuju apartemen Kris. Oh ya, for your information, Kris tinggal sendirian di apartemennya. Memang tidak terlalu baik seorang gadis sepertiku berduaan dengan lelaki yang tidak memiliki hubungan darah di apartemen yang sepi. Tapi toh kupikir Kris bukan pria normal. Bukan ‘tidak normal’ dalam hal seperti gay atau apa, tapi ia tampak tidak peduli dengan gadis, sepertinya bahkan terta—

Ponselku berbunyi dan aku harus menghentikan pikiranku tentang Kris sekarang juga.

 

 

 

_oOo_

 

 

 

Ponselku bergetar terus menerus—aku sengaja men-senyapkannya agar konsentrasiku menyetir terganggu oleh teriakan Kris di setiap telepon. Dan sekarang Kris malah berbalik mengirim pesan singkat padaku, intinya sih sama saja; menyuruhku cepat. Memangnya ada apa, sih? Bukannya biasanya ia akan mengundur-undur waktu sebelum mengatakan semuanya dengan jelas, atau bahkan tidak jelas.

Lift terbuka dan aku menyusuri koridor apartemen daerah Kris, sepi sekali karena kebetulan koridor apartemen Kris adalah yang teratas, sehingga setiap apartemen memiliki satu ruang atap untuk pribadi, dan tentu saja biaya membelinya lebih mahal. Tapi kukira keluarga Wu bahkan rela-rela saja membelikan putra bungsunya itu lima apartemen sekaligus.

Aku memencet bel, rasanya aneh karena biasanya aku akan langsung memasukkan password dan masuk, tapi kali ini aku sedang sopan.

Lima detik kemudian Kris membuka pintu (ini yang membuatku tidak begitu suka memencet bel, aku harus menunggu beberapa saat).

“Tumben memencet bel, kukira siapa.” Katanya dengan nada mencibir, yang hanya kubalas dengan senyuman menyebalkan.

Aku langsung melepas sepatu dan memakai sandal kain yang disediakan, lalu masuk ke ruang utama.

“Jadi jelaskan padaku, siapa gadis yang kau maksud itu,” aku langsung mengatakan maksudku, tanpa bermaksud basa-basi.

“Ikut aku,” Kris tidak menjawab dan malah menarik tanganku menuju tangga mungil di sudut ruangan, mengajakku naik. Aku tidak tahu ada apa, tapi kupikir Kris Wu memang tidak begitu normal.

Begitu sampai di atap, Kris berbalik, menatapku dan meringis. Gelagatnya tidak enak.

“Ada apa?” tanyaku.

“Aku akan mengatakannya disini, sekali saja, bagaimana?”

Baiklah, aku akan menajamkan telingaku sekarang.

“Gadis itu jelek, tidak cantik, kerempeng, tapi sangat tinggi. Sudah kubilang rambutnya cokelat panjang bergelombang, dia tidak begitu senang memakai.. mm, sepatu hak tinggi,” Kris menjelaskan, terdengar tidak begitu lancar dan wajahnya gugup. Hey yeah, kupikir tipe Kris tidak sejelek itu. “Tapi yang terpenting aku menyukainya. Dia tampak tidak begitu dengan lelaki dan sepertinya itu menarik..”

“Stop, berhenti. Bukannya kau bilang akan mengatakan orangnya secara langsung?”

“Orang itu… kau, Sooyoung-ah.”

“HAH?!”

Iya, cuma segitu. Ngeselin banget kan? Oke stop. Lanjut deh.

2. RoleplayLove

Cast: Kyuhyun Cho and Sooyoung Choi

Genre: Romance

Rating: Teenager

roleplaylove-request-by

 

He has a girlfriend now!

Aku mengeluh tertahan. Dia.. benar-benar punya pacar? Tapi bagaimana dengan hubungan maya kami? Oh sial, kenapa rasanya sakit ya? Bukannya wajar jika lelaki seumurannya punya pacar? Lagipula aku toh tidak berhak mengganggunya. Siapa aku untuknya? Bisa saja dia hanya menganggapku sebagai alasan untuknya ‘ada’.

Oh sungguh, aku benar-benar tidak tahu. Rasanya seperti ada yang membebani hatiku. Rasanya juga aneh ketika ponselku berbunyi dan menampilkan kiriman ‘maya’-nya. Entahlah. Aku menarik napas dan membaca larik demi larik kirimannya. Rasanya menyebalkan sekali. Mengapa dia masih bisa mengirim ini semua sementara disana—mungkin saja—dia juga meng-copy-nya untuk kekasih aslinya?

Kenapa aku jadi sensitif seperti ini?

Hei, Choi Sooyoung! Siapa sih kau?!

Begini, kubacakan ya isi pesan mayanya itu.

 

Hei, marmut jelek! Sudah siang, segera makan! Atau mau kusuapi? Kalau iya, ayo kemari!

 

Mungkin terdengar biasa. Tapi bukannya itu ‘romantis’? seumur hidup aku belum pernah diingatkan makan oleh siapapun, kecuali orang tua atau teman-temanku. Tapi bukannya itu wajar?

Dan ini.. otak gadisku benar-benar merasa terharu. Meskipun hubungan kami hanya sekedar maya, palsu, dan tidak asli, aku toh tetap merasa bahagia dengan setiap pesannya atau apapun.

Lalu kenyataan dia punya pacar itu kembali menyeruak dalam otakku. Dia punya pacar.. astaga, bukannya ini aneh sekali? Aku tahu dia hanya menganggap hubungan kami hiburan—dalam pengertian sebenar-benarnya—dan bukannya menganggap serius seperti anggapan orang berpasangan layaknya. Tapi tetap saja kita menjalaninya dengan hati kan? Tidak mungkin aku menerima pernyataan sukanya apabila aku tidak menjalaninya dengan hati langsung.

Baiklah, mungkin kau tidak mengerti maksud dari apa yang kukatakan di atas. Begini, beberapa tahun yang lalu—setahun, tepatnya—aku membuat akun twitter lain. Bukan akun asliku, melainkan akun roleplayer.

Saat itu aku menjadi Choi Sulli dari girlband keluaran SM. Aku dekat dengan banyak orang, twin, teman, atau malah akun lelaki dari Entertaiment manapun. Dan tiba-tiba dia datang. Aku memang sudah sering bertemu dengan akun-akun yang memiliki pasangan atau couple dan kadang-kadang hati kecilku merasa iri. Mereka terlihat romantis sekali; saling bercanda, mengingatkan dan lain-lain. Namun aku tidak berniat untuk punya pasangan dulu, lagipula tidak ada yang dekat denganku melebihi teman.

Getar ponselku kembali menyadarkanku.

Oh, baiklah. Nostalgia roleplayer-ku beterbangan begitu saja. aku menatap ke ponsel dan kembali mendapati kiriman maya darinya.

 

Marmut, are you okay?

 

Baiklah, bukannya memanggil dengan panggilan ‘honey’ ‘yeobo’ atau ‘chagi, dia malah memanggilku dengan marmut. Tapi bukannya marmut itu cute? Entahlah, pokoknya aku senang dia memanggilku dengan hewan apapun, bahkan gajah sekalipun. Aku tahu bahwa itu panggilan sayang darinya. Aku benar kan?

Oh, lamunanku hancur begitu saja ketika pintu kamarku terbuka dengan derit yang tidak bisa dibilang ‘halus’.

“Halo, Choi Sooyoung!” seru temanku sekaligus tetanggaku, Yeonji. Dia bergegas masuk ke kamar dan mengempaskan dirinya di kasur, menghela napas ceria. “Bagaimana dengan pangeranmu itu?”

Dia sedang menanyakan pacar ‘maya’-ku itu.

“Kau tidak apa-apa, kan, mendengar dia punya pacar di dunia aslinya?”

“Oh, tentu saja. ini bukan apa-apa.”sahutku, berbohong sambil melambaikan tangan, sok acuh. “Dia bersikap sama kok.”

Yeonji terdiam, agaknya memikirkan itu baik-baik dan mendeteksi wajahku. Aku berusaha memasang wajah meyakinkan, berharap dia tidak bisa membaca gurat gelisah di mataku. Meskipun sikap pacarku itu masih sama, rasanya berbeda. Seperti ada yang membuatku enggan, padahal aku suka mendapat pesan itu.

“Cari pacar yang lain saja. atau deact. Kelihatannya kau tidak baik-baik saja.” saran Yeonji akhirnya, menatapku serius. “Kau tahu kadang-kadang aku menilai permainan peran itu dengan aneh. Bagaimana bisa kau hidup menjadi seorang artis pura-pura, bertingkah seperti artis itu, dekat dan banyak orang. Itu kan hanya dunia palsu, bagaimana bisa kita menganggapnya serius?! Walaupun aku telah berusaha untuk tidak peduli secara serius, nyatanya aku tetap peduli. Seperti ada magnet yang menarik perasaanku. Entahlah, aku tidak tahu.”

Dan perasaan itu… bisa jadi memang terbawa di dunia nyata.

“Pokoknya, aku harap kau  tidak patah hati. Itu hanya fake world! Atau bisa jadi malah fake feeling!”

Oh, sial. Ucapan Yeonji menusuk sekali. Aku menarik napas dalam, mendengarkan ponselku yang berdering dengan tidak sadar.

“Hei, itu ponselmu!”

Aku baru sadar dan menatap screen ponsel layar sentuh itu. Ada sebuah SMS—kali ini benar-benar SMS di dunia real-ku, bukan fake world itu lagi.

 

 

-oOo-

 

 

Aku menatap kiriman terbaru itu dengan terkejut dan berbunga-bunga. Hanya dengan karakter yang bisa jadi kurang dari 160 hatiku sudah terbang seperti ini. Kiriman itu dari Choi Minho palsu; alias kekasih mayaku.

 

Berpacaran di dunia real itu buruk. Mungkin perasaan suka itu lebih tulus di dunia palsu ini!

 

Itu artinya… dia lebih menganggap diriku daripada kekasih aslinya bukan? Iya, kan? Tolong katakan itu benar sehingga aku bisa terbang sekarang juga. Aku meng-klik tombol expand dan melihat ada beberapa balasan dari pengguna akun roleplayer lain. Membacanya dengan seksama kemudian tersenyum kembali.

Akun palsu Krystal Jung dari grup perempuan yang sama dengan Choi Sulli membalas: bisa jadi itu benar. Cinta di dunia asli itu belum tentu nyata sedangkan di dunia ini..

Ada dua balasan lagi namun hanya berisi kalimat tidak begitu penting yang artinya agak menyindir tentang hubungan antara Choi Minho palsu dengan Choi Sulli palsu alias; kami.

Tanganku bergerak menuju kolom ‘Interactions’ berharap mendapat kiriman baru dari Minho palsu itu. Apapun, pokoknya jika itu darinya, maka aku akan senang sekali. Rasanya aku sudah benar-benar melupakan kenyataan bahwa dia sudah punya pacar. Lagipula menurutku dia agak meragukan cinta kekasih aslinya itu. Aku benar, bukan?

Hatiku melolong ketika tidak mendapatkan kiriman dari Minho; apapun dan malah mendapatkan mention dari teman-temanku. Mood-ku sudah hancur, jadi aku segera keluar dari twitter. Mungkin membaca buku akan mengembalikan mood.

 

 

-oOo-

 

 

Baiklah, aku tidak bisa menghentikan otakku untuk tidak mengingat awal pertemuan kami di dunia maya itu. Memang sedikit aneh dan tidak romantis; aku mengakui itu. Lagipula aku memahami sikapnya—yang katanya sendiri—tidak romantis. Terlebih karena aku bukan orang yang sangat menikmati keromantisan, dalam bentuk apapun.

Dulu sekali aku sudah mengenalnya, sebagai teman tetapi. Tapi kemudian dia menghilang, tidak pernah menampakkan kiriman terbarunya di timeline-ku lagi. lambat laun aku melupakannya dengan mudah. Hingga suatu saat aku iseng membuka direct message. Melihat-lihat kiriman pesan rahasiaku dengan teman-teman. Dan saat itu aku melihat kiriman pesannya denganku. Aku ingat dulu dia menjadi akun Suho dari EXO-K. Dan saat aku melihatnya saat itu ia sudah berubah menjadi Minho SHInee.

Karena sifat isengku yang tidak kunjung hilang, aku mengklik username-nya, kemudian mengirim kiriman untuknya.

 

New chara, eum? Jangan lupa makan-makan!😄

 

Bahkan keesokan harinya aku sudah melupakan kirimanku itu untuknya.

Selang beberapa hari, tiga hari jika tidak salah, dia baru membalas. Dan begitulah, obrolan kami berlanjut. Terkadang membutuhkan waktu sehari atau bahkan dua hari untuknya membalas, tapi toh aku biasa saja karena bahkan perasaan itu belum muncul.

Aku bahkan tidak tahu bahwa aku menyukainya sampai aku sadar bahwa alasanku untuk tetap membuka jejaring twitter adalah dirinya. Aku yang langsung tersenyum bahagia begitu melihat kirimannya di Interactions milikku, dan aku yang langsung putus semangat ketika tidak ada namanya di timeline. Aku bahkan seringkali mengklik username-nya dan mulai men-stalk, mengikuti apapun. Bahkan aku selalu mengecek setiap percakapannya dengan akun roleplayer perempuan lain.

Ini memang sangat aneh. Beruntung saja dia tidak pernah melupakanku, dia selalu membalas setiap kirimanku untuknya meski dengan waktu yang sangat terlambat sekalipun. Kukira, dia juga bersikap perhatian padaku. Maksudku, melihat percakapannya dengan akun lain, dia tidak pernah menanyakan ‘sedang apa?’ atau ‘sudah makan?’ atau apapun. Sedangkan denganku.. mungkin itu hanya kebetulan atau itu memang kenyataan, aku tidak tahu. Yang terpenting, aku senang mengobrol dengannya, meski lewat dunia maya sekalipun.

Sampai akhirnya kami setuju untuk mengobrol sampai malam, besok sekolah libur sehingga tidak apa-apa jika kami bangun kesiangan. Kami berbicara banyak, bahkan ketika limit kami tetap mengobrol di direct message. Aku mulai sadar akan perasaan itu.

Yeonji bahkan sering menyindirku bahwa aku memang menyukainya. Tapi aku toh masih meremehkannya. Lagipula bagaimana kami bisa saling menyukai apabila wajah dan sifat asli saja kami tidak tahu?! Mungkin saja kami terbawa momen, mungkin saja kami hanyalah merasa  nyaman satu sama lain, merasa cocok tapi sebagai sahabat, bukan sebagai pasangan.

Hingga dia menghilang selama seminggu.

Hari pertama masih berjalan agak normal. Aku memang merindukannya, berkali-kali aku mengecek profilnya, berharap mendapatkan kiriman terbarunya. Berkali-kali aku mengecek direct message, berharap mendapat balasan atas obrolan kami yang belum selesai kemarin. Namun tentu saja itu tidak ada.

Hari kedua, program online-ku agak berkurang sedikit. Aku masih melakukan apa yang kulakukan kemarin, men-stalk. Terus melakukan itu berulang-ulang. Bahkan saat belajar di sekolah pun otakku terpikir dirinya.

Hari ketiga, aku tidak sadar jika aku memanjatkan doa kepada Tuhan agar dia kembali. Hei, itu baru hari ketiga dan semuanya sudah amburadul. Aku sudah kehilangan semangat untuk sekedar mengklik kata kunci berupa twitter, meski program men-stalk dirinya masih terus kulakukan.

Hari keempat, aku menyadari bahwa dari awal perasaanku salah. Mungkin aku yang terlalu berlebihan menanggapinya, bisa saja ia hanya menganggapku sebagai teman online jika ia kesepian. Sedangkan aku yang terus memupuk harapan tidak masuk akal itu. Semuanya mulai tidak karuan dan bahkan aku tidak sadar aku menangis. Sungguhan, aku menangisi seseorang yang wajahnya pun tidak kuketahui!

Hari kelima, aku memutuskan untuk berani menanyakan dirinya pada akun lain yang sering terlihat mengobrol dengannya. Mereka bukannya menjawab malah mengatakan aku ada apa-apa dengannya. Dan aku langsung malu. Akhirnya rencana menanyakan itu berguguran.

Hari keenam, aku nekat menanyakannya kembali. Sayangnya orang yang kutanyai kemarin menjawab tidak tahu. Mood-ku jelek sekali. Aku sering marah-marah di sekolah atau di rumah. Bahkan aku membanting ponselku yang menyebabkan layarnya retak. Benar-benar menyebalkan.

Hari ketujuh. Yeonji memberiku saran agar mempertanyakan perasaan itu baik-baik terhadap hatiku sendiri. Aku memang tidak punya pilihan lain. Yeonji bilang mungkin leave atau deact bisa jadi jalan terbaik. Setidaknya otakku tidak akan mengingat tentang si Minho palsu itu lagi. setengah hatiku mengatakan ya dan menyetujui usul itu, dan setengah hatiku menolak keras-keras. Berteriak pada otakku bahwa mungkin saja dia akan kembali dan dia sibuk di dunia real-nya. Tapi entahlah, kepalaku terlalu penat untuk memikirkan itu. Akhirnya aku memutuskan akan menunggunya sehari lagi, jika dia tidak datang, maka aku tidak memiliki pilihan selain meninggalkan dunia palsu dan dirinya itu. Sungguh, berkali-kali aku berhalusinasi mendengar ponselku  berbunyi atau tanda ‘1 New Interactions’ di layar monitor. Namun itu semua bukan dari dirinya.

Dan sehari itu hampir terlewati, sembilan menit lagi akan menunjukkan pukul dua belas malam, dan itu artinya hari akan segera berganti. Masalahnya, hari itu adalah hari yang menentukan leave atau tidaknya diriku. Jantungku mulai berdetak tidak karuan. Browser di laptop-ku menampilkan empat tab; profilnya, profilku sendiri, timeline, dan terakhir interactions. Lihat? Bahkan aku memfokuskan diri hanya ke twitter saja, bukannya ke website resmi SM untuk melihat kabar terbaru artisnya atau apapun. Siapa tahu akan ada konser dalam waktu dekat.

Ponselku berbunyi nyaring sekali saat itu, aku ingat diriku menghela napas kesal dan berjalan meraih ponselku yang terletak di atas nakas samping kasurku, sekitar dua meter dari meja belajar yang kugunakan online sekarang. ternyata itu pekerjaan iseng Yeonji. Dia tahu aku memutuskan akan leave jika hari ini Minho palsu itu tidak kunjung kembali.

“Yeoboseyo?!” tanyaku agak kesal, menekan bantal di pahaku.

Hei, Soo, masih menunggunya?”

“Ya, ya, tentu saja.”

Dia datang?”

“Tidak.”

Tragis sekali.

Kau dengar aku? Kau tidak harus leave jika kau tidak mau. Kau boleh tetap online tapi jangan pernah mengharap akan mendapat balasannya—”

“Kau tahu? Itu sangat tidak mungkin,” ujarku dengan lemas. “Jadi aku tidak punya pilihan lain. Sudahlah, aku harus menutup ini.”

Sebelum mendapat balasan apapun dari Yeonji aku sudah menutupnya, mendekap ponsel Eomma-ku—ingat? Ponselku sendiri rusak kubanting—ke dada dan menarik napas dalam. Padahal aku tidak pernah mengetahui nama si Minho palsu itu, dan alamat rumahnya. Apapun tentang real dirinya aku tidak tahu. Sungguh.

Kuletakkan kembali ponselku dan berjalan menuju meja belajar, bersiap menghadapi hal terburuk itu. Aku menatap beker di nakas, sudah pukul sebelas lebih lima puluh enam menit. Sepertinya aku memang harus meninggalkan dunia itu.

Aku menarik kursi meja belajar ke belakang dan mencari posisi paling pas, lalu menghadapke layar. Hei, ‘9 New Interactions’? siapa yang mengirimiku mention malam-malam begini? Banyak pula! Setahuku aku sudah jarang membuat kiriman apapun yang sekiranya dapat dibalas.

Dan harapan itu sungguh bersinar. Tanganku gemetar ketika menggerakkan cursor itu menuju kolom itu. Menarik napas dalam. Dan langsung menjerit keras ketika melihat avatar orang yang mengirimiku mention itu. Aku berteriak dan bertepuk tangan; sudah seperti orang gila saja. tapi perasaan itu begitu membahagiakan, aku bahkan mencubit tanganku sendiri untuk meyakinkan bahwa dia benar-benar kembali, bukannya hanya halusinasiku saja.

Setelah merasa sedikit tenang, aku kembali duduk dan memfokuskan diri. Lima mention pertama adalah balasan untuk kirimanku untuknya, sedangkan yang keenam… tunggu, picture? Memangnya dia mengirim gambar apa?

Aku menekan rasa penasaranku dan mengklik tombol ‘view photo’  kemudian menunggu gambar memproses sebentar dan kemudian…

Bruk. Aku sukses terjatuh dari kursi.

Hei, astaga, apa sih maksudnya? Mengirim picture Minho sedang membuat Love Sign? Itu dapat membuat kepercayaan diriku meningkat. Tapi bagaimana? Bagaimana jika maksudnya bukan seperti yang kutangkap?! Aku benar-benar tidak mengerti. Setelah beberapa menit berpikir, aku memutuskan berpura-pura tidak mengerti saja.

 

Apa maksudmu?

 

Mention selanjutnya darinya:

 

Bagaimana?

 

Hei, kau tidak online?

 

Yaah, padahal aku sudah memberanikan diri mengirim itu.

 

Tanganku bergerak cepat membalas satu persatu, gemetar dan keringat dingin mengalir begitu saja di pelipisku. Tuhan, apa maksudnya? Sungguh, otakku benar-benar buntu. Bagaimana jika dia hanya bercanda? Itu pasti akan sangat menyakitiku.

Satu Interactions baru, aku membukanya cepat.

 

Masa kau tidak memahami itu?!

 

Aku membalas, tidak.

Kemudian dia mengirim lagi, intinya dia mengatakan bahwa dia menyukaiku. Dan dia memberikan hatinya padaku, lalu bertanya apa aku mau menerimanya.

Dan begitulah, hari itu perasaan bahagiaku membuncah begitu saja.

 

 

-oOo-

 

 

“Sudah kau tanyakan tentang pacar aslinya itu?” tanya Yeonji begitu aku meletakkan ranselku di bangku.

“Tidak, aku tidak berani. Kesannya aku akan terlalu mencampuri urusan real-nya.”

“Hei, tapi kau pacarnya! Masa tidak sadar sih?”

“Itu hanya dunia roleplayer. Palsu, fake. Tidak seharusnya perasaan itu nyata.” Sahutku, lemas. Aku menempelkan kepalaku di meja, memejamkan mata. Semalam aku tidak bisa tidur karena sibuk memikirkan Minho palsu itu.

Tunggu, kenapa aku tidak minta nomor ponselnya saja? setidaknya aku bisa menanyakan masalah pacar asli itu lewat SMS. Aku segera mengeluarkan ponsel, mengakses twitter lewat browser ponselku, menunggu loading sejenak, kemudian segera mengklik kolom search dan mengetik username-nya.

Aku membuka direct message, tampaklah beberapa percakapan kami beberapa jam yang lalu. Aku belum membalas yang terakhir itu. Tidak mood, malas, dan bingung mau menjawab apa. Ragu jemariku mengetikkan kalimat itu, lumayan singkat untuk seseorang gadis yang menanyakan nomor ponsel seseorang.

Aku mengklik tombol panah—tanda direct message—itu akan dikirim. Kemudian menunggu dengan hati berdebar. Bagaimana jika dia ternyata tidak berminat untuk mengirimkan nomornya dan malah menganggapku mencampuri urusannya? Ash, sungguh, otakku kosong dan aku ingin sekali menghapus pesan yang kukirimkan itu.

Getar ponselku menyadarkanku, dan aku menahan napas begitu saja ketika melihat tanda pesan di bagian atas ponselku—tanda notification. Aku mengkliknya, menunggu proses, dan tersenyum begitu saja melihat sederet nomor disana dan tambahan tulisan: mengapa meminta tiba-tiba?

Nyaris saja aku bertepuk tangan, namun aku langsung menghentikan aksi itu sebelum orang-orang menganggapku gila. Aku mengetikkan balasan, hanya mengatakan tidak apa-apa. Lalu segera menyalin nomor itu di buku telepon ponselku, dan langsung mengirim pesan baru untuknya.

 

Hai. Ini aku ^^

 

Beberapa menit kemudian baru terdapat balasan. Mungkin akan kubuat daftar saja mengingat ini akan menghabiskan waktu. Jadi kira-kira begini;

 

Minho: ya ya, aku tahu. Ada apa?

Aku: tidak apa-apa sebenarnya. Hei, boleh kutahu namamu?

 

Susah sekali bersikap pasif dalam keadaan seperti ini. Tidak enak kan memanggilnya dengan Minho-ah begitu? Aku malah membayangkan Choi Minho asli, dan bukan dirinya.

 

Minho: Kyuhyun. Cho Kyuhyun.

Aku: Cho ya? Baiklah.

Kyuhyun (aku mengeditnya langsung): kau sendiri?

Aku: Choi Sooyoung.

 

 

-oOo-

 

 

Dan ya, begitulah. Aku banyak berbicara dengannya—dan hei, kami cocok!—dia mengiyakan kalau dia memang punya pacar, dan meminta maaf karena tidak memberitahukannya kepadaku setelah hubungan kami berubah agak sedikit serius.

Tapi memangnya kenapa? Kenyataannya hubungan kami tidak seintens itu. Kenyataannya kan ia tidak menyukaiku secara real, meskipun aku memang menyukainya.

Kemarin Kyuhyun bilang, besok pacarnya ulang tahun. Rasanya agak aneh karena meskipun aku tidak tahu wajahnya, aku toh menyukainya. Jadi bukan salahku kan jika sikapku berubah galak secara tiba-tiba?

Aku tidak membalas. Bahkan aku mematikan ponselku agar tidak terganggu dengan kirimannya atau pesannya. Ini aneh, karena aku bukan tipe orang yang akan mematikan ponsel karena hal sepele. Sepele? Iyakah? Sepertinya aku tidak menganggapnya begitu.

Yeojin marah karena aku bahkan masih berkirim pesan–

Stop! Selesai! Ngga ada ide lagi wkwk. Okesip, lanjuut!

3. Be Your Girl

Cast: Kyuhyun Cho and Sooyoung Choi

Genre: Romance

Rating: Teenager

“Tampaknya kau benar-benar tidak pernah menghargai usahanya.” Gadis itu berusaha membujuk agar si lelaki di sampingnya tidak jadi membuang surat ketikan yang dibungkus dalam amplop hitam itu. “Coba kau pikirkan perasaannya.”

Si lelaki acuh, tidak mendengarkan bujukan si gadis dan tetap memasukkan amplop surat itu ke dalam tong sampah.

Tunggu sampai karma itu datang padamu, Kyuhyun-ah.”

“Hei, kau mau pulang tidak?!” seru si lelaki bernama Kyuhyun itu, tampak tidak sabar.

“Oh, baiklah.” Ujar si gadis, mau tidak mau bergegas menyusul Kyuhyun, meski kakinya membutuhkan beberapa menit untuk menyejajarkan posisi mereka.

“Sudah berapa banyak surat dalam amplop itu kau buang?” tanya Sooyoung—nama gadis itu—dengan nada berat. “Kau tidak tahu kan bagaimana usaha si pembuat surat. Ia pasti memikirkan hal yang akan ditulisnya dengan sungguh-sungguh. Dan kau… membuangnya?”

“Oh, ayolah Sooyoung-ah. Surat seperti itu tidak akan membuatku diterima di YG High School, kan? Nyatanya aku tetap masuk ke SM.”

Sooyoung menghela napas, lelah membujuk Kyuhyun yang tampaknya sudah kebal terhadap bujukan, bahkan bujukan sahabatnya sendiri.

“Ada banyak hal yang harus kulakukan, aku harus pergi segera.”

“Tidak berniat mampir ke Shine?”

Gelengan Kyuhyun menyadarkannya bahwa laki-laki itu benar tidak membutuhkannya.

 

 

-oOo-

 

 

“Ada banyak siswi yang tidak diterima. Beruntung sekali murid bodoh sepertimu bisa masuk.”

Oh sungguh, jika yang mengatakannya bukan si Manusia Es Kyuhyun, ia pasti akan merasa sangat sakit hati. Tapi berhubung yang mengatakannya memang Kyuhyun, jadi ia hanya diam dan mengangguk saja. Percuma saja membantah atau menolak, Kyuhyun akan selalu menang di setiap perang mulut.

“Apalagi suaramu tidak sebagus Jessica atau bahkan Yuri, kau benar-benar akan jadi murid gagal disini.”

Sooyoung hanya menghela napas, membiarkan ocehan Kyuhyun menyakiti telinganya yang sudah merah sedari tadi.

“Dan kecantikanmu—astaga, aku meragukannya sekali.”

Masih sabar.

“Tinggi badanmu itu tidak ideal, kau jadi seperti tiang. Kurus, ketinggian, kulit kecokelatan. Aku ragu kau akan didebutkan sebagai solois atau dancer tunggal. Paling untung juga dijadikan office girl disini atau kalau tidak jadi pengajar.”

Oh, baiklah. Kesabaran Sooyoung sedang diuji rupanya.

“Kau tahu kan gaji pengajar disini? Sangat murah, tidak ada seperempatnya dari artis yang baru debut pun.”

“Astaga, kau seperti meramal nasibku saja.” Jawab Sooyoung akhirnya, pengang. Ia berusaha menekan emosinya, membiarkan mulut berbisa di depannya meletup-letup. Asal mulut itu tidak menyentuh pembicaraan itu.

“Dan kau ingat, kan? Sejak kakakmu meninggal kau jadi seperti parasit di rumahmu.”

Kyuhyun sudah menyentuhnya. Kemarahan Sooyoung sudah di ubun-ubun, dan karena ia tidak bisa beradu mulut dengan Kyuhyun—ia pasti kalah—maka tangannya lah yang bergerak menampar pipi lelaki tampan itu. Telak.

Tangan si lelaki memegang pipinya yang terasa panas.

“Kalaupun aku jadi parasit, lebih baik aku yang tidak sembarangan mengatai orang-orang. Lihat saja sampai karma mendatangimu. Suatu saat nanti orangtuamu akan bangkrut dan kau akan miskin bahkan sebelum kau jadi soloist, dan bisa saja kau hanya akan jadi sampah disini.” Ujarnya kejam, tidak peduli lagi. kemudian gadis itu buru-buru pergi sebelum mulut lelaki itu mengeluarkan suara yang kira-kira akan menyakitinya lagi.

 

 

-oOo-

 

 

Ponsel jaman dulunya kembali berbunyi, nyaring sekali. Sooyoung kebingungan bagaimana membuat pandangan orang menjauhi dirinya. Dengan sekali sentak ia akhirnya membanting ponsel itu. Dan sekali sentak itu nada dering yang terdengar mati.

“Kau tidak merubah ponselmu?” tanya seseorang, Sooyoung sudah hapal siapa dia. Jadi ia hanya mengedikkan bahu, meremas seragam SM kebangaannya erat-erat untuk menahan emosi.

“Aah, aku baru ingat kalau kau semiskin dulu. Tidak ada perkembangan sama sekali, hm?”

Apa pantas mulut orang seperti itu disebut sahabat? Sooyoung memang pernah menganggapnya. Dua tahun ia disiksa oleh batinnya sendiri yang hendak memberontak agar ia menghabisi Kyuhyun saat itu juga. Tapi ia tidak bisa, kehidupan keluarganya terletak di tangannya. Jika ia berani sekali saja membuat Kyuhyun marah, ia akan segera mendapat tamparan atau bahkan pukulan telak dari Ayahnya.

Bersyukurlah karena kemarin—saat ia menampar Kyuhyun—lelaki itu tidak mengatakannya kepada orangtuanya dan hanya menggemborkannya pada sahabatnya sendiri.

Buru-buru Sooyoung menelan kuah supnya, menyabarkan hatinya agar tidak gelap mata dan melempar mangkuk berisi mie ramyun itu ke muka seseorang yang lagi-lagi mem-bully-nya.

“Aku sudah selesai. Selamat menikmati.” Tukasnya buru-buru sambil meraih tasnya, menyandangnya dan buru-buru pergi.

Langkah kaki Sooyoung menyusuri taman, dan matanya terfokus. Tiba-tiba saja ia melihat bayangan amplop hitam yang begitu dikenalnya di tong sampah. Ia menarik napas dalam dan meraih amplop itu, memasukannya ke dalam tasnya kemudian berjalan pulang.

 

 

-oOo-

 

 

“Tuan Kyuhyun minta ditemani, sana pergi!” Ibunya menghardik, “jika kau menolak, aku terpaksa mengeluarkanmu dari sekolah dan membuatmu bekerja sebagai pembantu di rumah Keluarga Cho.”

Sooyoung menghela napas, meletakkan pensilnya yang baru ia gunakan, mengambil kardigannya dan memakainya. Lalu langkahnya keluar dari rumah mungilnya, menuju gerbang besar nan tinggi itu.

“Ah, kau, Soo. Sana masuk, tumben sekali Kyuhyun memanggilmu.” Ujar Nyonya Cho, tersenyum ramah. Sayangnya senyum itu tidak bisa membuat Sooyoung semangat, ia hanya tersenyum sekilas kemudian melanjutkan jalannya menuju kamar Tuan Cho Kyuhyun yang Terhormat.

Ia memencet tombol bel, benar-benar menyebalkan sekali rumah ini. Setiap ruangan kamar memiliki bel yang tersambung dengan interkom. Biasanya penghuni kamar itu tidak mengaktifkannya di siang hari. Tapi bukannya lelaki penghuni kamar ini tidak ‘biasa’?

“Duduk saja disana. kau memencet bel pun aku tetap tidak membukanya.” Sahut Kyuhyun di dalam interkom, membuat gadis itu menghela napas penuh emosi. Oh Tuhan, sabarkan aku, batinnya.

“Apa aku boleh pulang sebentar untuk mengambil buku?” tanyanya dengan penuh harap.

Satu detik..

Lima detik..

Satu menit..

Dua menit..

“Tidak.”

“Baiklah, terserah saja.” Gadis itu menunduk, mempersiapkan mentalnya dimarahi Kim Songsaenim besok.

Oh baiklah sepertinya Kyuhyun sengaja menaikkan suhu AC di koridor tempatnya ‘menemani’ sekarang. Kardigannya tidak menolong banyak. Rasanya seperti duduk di antara es. Oh ya, apalagi dengan keadaannya.

“Apa aku boleh mengambil jaket sebentar? Disini rasanya dingin sekali.” Sooyoung berharap mendapat anggukan, atau jika boleh Kyuhyun mengurangi tingkat dingin di koridor.

Tidak ada jawaban.

Tiba-tiba saja ia menyesal pernah mengirim surat itu.

 

 

-oOo-

 

 

Hari ini Sooyoung sakit lagi. badannya panas sekali. Bisa lebih parah apabila Nyonya Cho tidak naik ke lantai tiga dan melewati koridor yang sudah berubah menjadi gurun es.

Sooyoung tidak dapat masuk sekolah dan ia bersyukur karena itu. Setidaknya ia tidak perlu menghadapi amarah Kim Songsaenim perihal PR-nya itu. Dan bahkan, ia juga bersyukur karena tidak perlu bertemu atau menerima hina dan caci maki orang yang menyebabkannya seperti ini. Setidaknya selama sehari.

Ia memejamkan matanya dan menikmati uap hangat yang mengambang di udara. Ibunya terpaksa mengaktifkan satu-satunya penghangat ruangan yang mereka miliki. Biaya mengaktifkannya lumayan banyak dan tentu saja orangtuanya memutuskan memakainya kadang-kadang saja. Karena ia sedang sakit—serta paksaan Nyonya Cho untuk menyalakan penghangat—Ibunya terpaksa menyalakannya.

“Seenaknya saja kau beristirahat sementara orang-orang yang lebih pintar daripadamu bekerja keras memahami pelajaran. Kau itu sudah tidak pandai, pemalas pula.”

Sooyoung membuka matanya malas, menatap Kyuhyun sekilas kemudian memandangi tangannya yang sangat pucat.

“Kuharap kau tidak buta, Kyuhyun-ssi.”

 

Stooppp~~~ Mampet sekarang -_-

Lanjut~~

4. If It You

Cast: Choi Sooyoung and Oh Sehun

Genre: Romance

Rating: Teenager

            Single itu terkadang menyenangkan, terkadang juga menyedihkan. Dan ada kalanya dua perasaan itu menjadi satu. Meskipun diam-diam aku mengakui bahwa menyedihkannya lebih sering. Aku tidak mau menjadi munafik dengan berteriak ‘Single itu penuh kebahagiaan!’ kesana kemari walaupun kenyataannya tidak seperti itu.

Mungkin single  yang paling menyedihkan adalah aku. Di umurku yang baru dua puluh empat tahun—itu masih terhitung muda, kan?—kedua orang tuaku sudah terus menggangguku untuk segera mencari pacar, dan menjadikannya pendamping hidup kemudian  memiliki anak dan mereka akan menimang cucu. Apa mereka pikir mencari pacar itu semudah membalik telapak tangan? Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran mereka.

Tidak hanya itu, teman semasa SMU-ku juga terus menggodaku, mengatakan bahwa aku tidak laku. Hell, sebenarnya itu menyakitkan juga. Apalagi ketika melihat mereka sudah menggendong buah hati mereka sendiri sementara aku malah sibuk mengurus pekerjaanku.

Masalah pekerjaan, kupikir aku cukup beruntung. Di usiaku yang masih cukup muda—oke, kupikir kau akan mulai protes karena kenyataannya aku tidak semuda itu—aku sudah menduduki salah satu ruangan penting di perusahaan Desain Grafis. Aku menyukai pekerjaanku dan begitu mencintainya. Apa karena itu sulit sekali untukku mendapatkan pacar? Aku tidak tahu.

Dan hari ini, seperti biasanya, aku kembali disibukkan oleh tumpukan desain yang harus kuselesaikan maksimal dua hari. Ya, benar, dua hari. Tidak ada yang namanya hari santai disini. Selalu saja diisi dengan tugas menumpuk, seperti murid saja.

Keberuntungan, karena sebentar lagi perusahaan akan memasukkan pegawai baru di bagianku dan tentu saja itu akan meringankan beban. Berharaplah bahwa orang baru itu cukup pintar dan tangkas supaya aku dapat memberinya banyak tugas, dan mempersedikit bagianku tentu saja, hihi.

“Sooyoung-ah, kau kelihatan seperti orang gila saja, tertawa sendirian.” Cibir Miyoung sambil mengerutkan sebelah matanya. Dan itu kelihatan aneh sekali karena matanya malah kelihatan seperti terpejam.

Aku membenahi posisi dudukku, membuka aplikasi desain, dan mulai mengerjakan tugasku. Aku harus menyelesaikan separuhnya sekarang jika tidak ingin lembur.

“Kudengar, pegawai baru itu masih sangat muda,”

“Iya. Kata Shinyoung dia juga tampan, waaah.”

“Hei, kalian membicarakan siapa?” seru Miyoung dan membuat Hyeri dan Miran berhenti berbisik-bisik.

“Itu, pegawai baru yang akan masuk disini.” Jelas Miran dan menjilat bibirnya seolah-olah sedang menikmati makanan. “Katanya, dia sangat tampan.”

Aku berdeham.

Miyoung menatapku sirik, kemudian ia kembali ke posisi awalnya.

Sampai dimana tadi? Ah ya, single itu juga cobaan hidup.

 

 

-oOo-

 

 

 

Aku tidak pernah menyangka jika pegawai baru itu sesuai dengan kriteria yang dikatakan Hyeri atau Miran kemarin. Yap, benar. Laki-laki itu sangat tampan, dan.. muda. Opsi terakhir itu benar-benar berat dan membuatku memilih untuk tidak berharap banyak.

Bayangkan saja, di usianya yang masih dua puluh tahun, ia sudah menyabet gelar master dan dengan mudah masuk ke dalam perusahaan. Dengan posisi yang sama persis denganku—bahkan sedikit di atasku—yang dengan usaha keras dan dua tahun bekerja baru bisa dicapai.

Dan masalah kenapa aku tidak banyak berharap… please, laki-laki yang lebih muda? Mereka tidak dewasa dan dengan mudahnya menggantungkan hubungan atau malah memberikan harapan palsu. Lagipula jika ditilik dari gerak-geriknya, pegawai baru itu sudah memiliki kekasih, atau mungkin tunangan.

Cukup. Aku harus menghentikan pikiranku sekarang dan mulai bekerja. Pukul empat nanti aku ada jam ‘mengunjungi’ rumah orang tuaku, dan ya, kau benar, aku sangat membenci itu. Mendengarkan ocehan Eomma dan ceramah Appa benar-benar memberatkanku. Terlebih lagi dengan jarak perusahaan dengan rumah orang tuaku itu. Harus dijangkau dengan naik dua angkutan jika beruntung, atau tiga jika tidak.

Selesai. Aku melemaskan otot-otot tubuh, dan mau tidak mau mataku melirik ke arah meja baru yang didesain khusus untuk pegawai baru bermarga Oh itu. Ah iya, aku lupa belum menanyakan nama lengkapnya pada si Ratu Gosip Hwang Miyoung.

“Sudah selesai?” tanya Yuri sambil menatapku.

“Sudah, sepertinya aku akan langsung pulang.” Kataku, membayangkan masakan Eomma yang menguarkan aroma sedap. Yap, perutku benar-benar tidak mau menunggu. “Jessica kemana?”

“Pulang sebentar, nanti juga kembali lagi. Belanja katanya.”

Jessica memang sudah menikah, makanya pekerjaan dan belanjaan bulanannya bertambah. Apalagi dengan putrinya yang baru berumur setahun itu. Ah, diam-diam aku iri dengannya.

“Aku pulang dulu ya.” Kataku keras-keras sambil menenteng tas tanganku dan menguap. “Bye-bye.”

 

 

-oOo-

 

 

Aku yakin kau pasti menyesal,”

“Menyesal kenapa?” tanyaku, menempelkan ponsel di telinga dan menikmati angin malam.

Tadi sore, dia mengajak semua orang di ruangan kantor kita makan bersama. Untuk pengenalan katanya.”

“Lalu?”

Semuanya berbincang banyak hal. Oh Sehun itu tipikal seperti apa menurutmu?

Aku berpikir sejenak, “Bagaimana kalau arogan, dingin, dan cuek?” aku menjawab dengan nada bertanya.

Salah besar. Dia orang yang menyenangkan sekali. Umurnya masih dua puluh tahun dan dia sudah menggaet banyak hati perempuan sepertinya.”

“Lalu?”

Dia menyenangkan sekali, gentle, perhatian dan lucu. Dia banyak bergurau. Sayang sekali dia bilang dia suka  gadis yang lebih muda.”

Aku tersedak dengan tidak indahnya. Ukh, benar ‘kan? Bahkan sebelum aku suka dengannya, aku sudah dibuat patah hati.. astaga, bicara apa aku ini?

Ada apa? Ah! Sudah kuduga, kau suka padanya dan begitu menyesal karena dia tidak suka gadis yang lebih tua..”

Shut up!” aku tahu ucapanku terdengar sangat kasar, tapi jika tidak begitu Miyoung tidak akan berhenti mengoceh. “Jadi katakan inti pembicaraan yang ingin kau sampaikan.”

Oke, bahwa aku patah hati karena jelas-jelas aku tidak bisa mengencani Oh Sehun itu.”

What…” aku menggumam dan mencibir. “Jelas-jelas kau suka dengannya.”

Seisi kantor suka padanya.

“Uh-huh? Serius?” aku bertanya dengan nada meremehkan.

Yap, benar sekali! Eh sudah dulu ya, pasangan blind date-ku sudah datang.”

Astaga, aku tidak habis pikir mengapa Hwang Miyoung tidak pernah kapok mengikuti acara konyol seperti blind date atau semacamnya. Ia masih terus menggantungkan harapannya pada salah satu agensi yang mengadakan kencan-kencan seperti itu. Yang benar saja! bagaimana kalau seseorang yang menjadi teman kencanmu—dan kebetulan naksir padamu—adalah orang tua dengan gigi geraham palsu dan kulit keriput? Aku lebih memilih menjadi single seumur hidup jika begitu.

“Choi Sooyoung! Bukakan pintunya!” Eomma berseru dari dalam, yang sejujurnya mengagetkanku. Ha? Bukakan pintu? Bukannya Eomma berada di dalam rumah? Pertanyaanku terjawab ketika bel rumah tradisional—oke, suara ting tong bukannya terdengar begitu standard dan kampungan?

Aku segera berjalan menuju pintu setelah menuruni lima anak tangga dan membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci.

“Ya, siap—” aku menganga. Benar, me-nga-nga. Di hadapanku kini ada kembaran si pegawai baru (atau mungkin itu memang dia?) sedang membawa baki berisi kue-kue basah dan dengan senyum di wajahnya.

“Eh, kau?” seperti aku, si Tuan Oh itu juga tampak kaget dan bingung sekaligus.

“Bukannya aku yang harusnya bertanya?” aku menjawab linglung. “Sedang apa kau disini.., dan membawa kue?”

“Ah, itu. Keluargaku baru saja pindah kemarin, dan tentu saja sebagai anak aku kemari.”

“Ya, oh oke.” Aku memasang wajah bingung. “Tapi… Miyoung bilang tadi sore kalian makan bersama.”

“Maaf, sepertinya harus ada peralatan disini.” Ia nyengir. “Bukan Cuma kami, tapi semua orang, kecuali kau.”

Oh, baiklah. Ia tidak perlu mengatakan ‘kecuali kau’  dengan senyumnya. Itu membuatku merasa seperti tidak ada artinya.

“Dan mengapa kau bisa sampai disini secepat itu?”

“Mobil,” katanya, terdengar seperti gumaman tidak jelas. “Kau bisa mencapai suatu daerah yang jauh dengan mobil, lebih cepat.”

Aku baru menyadari bahwa ia masih membawa baki itu, memakai T-shirt warna abu-abu, dan celana training seakan ia sedang berolahraga. Tapi itu tidak menutupi kenyataan bahwa Oh Sehun memang seseorang yang keren.

“Sooyoung-ah, siapa yang datang?” seru Eomma dengan keras dan langkah kakinya di tangga terdengar menggema, berani tebakan, sekarang ia sedang menuruni tangga dengan sikap penasaran yang berlebihan. “Oh, apa aku mengenalmu?” tanyanya dengan kaget ketika mendapati seseorang yang sedang berbicara denganku. (Hey yeah, aku yakin Eomma sedang memancing si Tuan Oh agar memperkenalkan dirinya.)

“Sepertinya tidak.” Ujar si Tuan Oh dan tersenyum dengan keren, “keluarga kami baru pindah kemarin. Dan maaf, ini ada kue sekadarnya, buatan Eomma sendiri.”

“Aaah, tidak perlu repot-repot begitu. Ayo masuk, dasar Sooyoung, tidak mempersilakan tamu masuk dan malah membiarkannya berdiri di depan pintu.”

Aku nyengir, dan yakin bahwa pipiku memerah sekarang.

“Tidak, tidak. Ini sudah malam, mungkin kapan-kapan kami sekeluarga berkunjung sekalian.”

Astaganaga, aku tidak percaya. Sungguh deh. Dari tampilan luarnya, ia tidak terlihat seperti seseorang yang bakal begitu peduli dengan keluarganya (malahan kupikir ia sudah tidak punya keluarga), tapi tidak. Jika Miyoung mendengar ini, ia bisa mati berdiri saking gemasnya. Aku berani taruhan untuk itu.

 

 

-oOo-

 

 

“Serius kau?!” Miyoung dan Yuri memekik bersamaan ketika kuceritakan pertemuan tidak terdugaku dengan si Tuan Oh.

“Aku tidak percaya dia melakukan itu. Astaga, dia maniiiisss sekali!” pekik Miyoung tertahan. “Ah, aku jadi semakin patah hati.”

“Sooyoung-ah, lain kali kalau kau pulang, ajak aku, oke?!”

Aku mencibir. Dasar! Biasanya kalau kuajak pulang, mereka memberi alasan macam-macam yang tidak masuk akal, dan lihat sekarang. hanya karena Oh Sehun yang keren mereka malah memintaku mengajaknya.

“Jadi nih,” Miyoung berdeham, memulai wawancara live seperti reporter (amatir tentu saja). “Rumah kalian dekat? Kira-kira berapa jaraknya?”

“Sekitar enam meter,”

“Bagaimana rumahnya?” kali ini Yuri yang bicara.

“Dua tingkat. Atau mungkin tiga, entahlah.”

“Bagaimana tampilan rumahnya?”

Aku mengernyit. “Rapi, dan kelihatan oke. Desainnya juga keren.”

“Apa warna catnya?”

Aku makin mengernyit. “Campuran antara biru langit dan hijau muda.”

“Dimana letak kamar—”

Stop!”  pekikku dengan kesal. “Aku sama tidak tahunya dengan kalian. Jadi berhenti bertanya dan biarkan aku makan, oke?”

 

 

-oOo-

 

 

Apa aku harus menyesal karena menceritakan tentang pertemuan-tak-terdugaku dengan si pegawai baru? Sepertinya aku memang harus menyesali itu ketika suara cempreng Miyoung dan Yuri beradu di gendang telingaku (jika mereka berteriak lagi tepat di telingaku, aku yakin saat itu juga aku akan kehilangan indera pendengaran).

Mereka masih sibuk menanyai tentang beragam hal, yang juga tidak kuketahui. Mereka pikir dengan hanya sekali bertemu, dan kenyataan bahwa Oh Sehun tetangga baruku, artinya aku akan tahu semua tentang laki-laki itu? Yang benar saja! aku bahkan sama tidak tahunya seperti mereka. lagipula, kenapa aku harus diributkan oleh urusan Oh Sehun itu? Apa karena Miyoung dan Yuri naksir padanya, maka aku harus tau semua tentang laki-laki itu? Sungguhan, aku benar-benar tidak menyangka kalau mereka berdua bisa sebegini gilanya, apalagi mengingat si Tuan Oh sudah memberi tanda-tanda kalau dia tidak suka perempuan yang lebih tua.

Yah, yah, mungkin Yuri dan Miyoung tidak bisa membiarkan pesona Oh Sehun menghilang begitu saja. mereka akan berlomba-lomba mendapatkan perhatian.

Berhenti deh, tugasku masih banyak, dan jika mau bersantai di akhir pekan, itu artinya aku harus lembur hari ini.

Hhhh.

 

 

-oOo-

 

 

“Soo, kau pulang kapan?”

“Pulang kemana? Biasanya juga pulang jam lima, kan?”

“Bukan itu maksudku.” Miyoung menekuk wajahnya menjadi seratus. “Pulang ke rumah orang tuamu.”

Aku meringis. “Oh, itu. akhir pekan mungkin.”

“Mungkin?” Miyoung menyelidik.

 

And… finally otak saya buntu lagi hikhiks :”””

Terpaksa ini stop dijalan lagi-_-

Lanjut dah.

5. Fairy Without Wings

Cast: Kim Junmyeon and Choi Sooyoung

Genre: Romance

Rating: Teenager

Belum pernah Kim Junmyeon merasakan yang seperti ini.

Rasa kagum berlebihan yang terjadi hanya karena perempuan itu memberikan tempat duduknya kepada seorang wanita tua yang tampak kesulitan berdiri. Perempuan itu rela kembali berdiri dan berdesakan dengan orang yang tidak mendapat kursi dalam subway itu.

Junmyeon tidak bisa mengalihkan matanya dari sosok perempuan itu. Tinggi, berkulit tidak terlalu putih, dan sangat manis di matanya. Apakah perempuan itu jelmaan bidadari? Lalu Junmyeon tersadar, seharusnya ia memberikan kursinya untuk perempuan itu, sejak tadi seharusnya.

Namun begitu Junmyeon berniat berdiri, subway itu terhenti dan perempuan itu turun. Astaga, malang sekali nasibnya. Lebih malang lagi ketika kursinya direbut secara tiba-tiba oleh seorang anak kecil.

Ya, ya, terserah saja.

 

 

-oOo-

 

 

Selanjutnya yang selalu Junmyeon lakukan adalah naik subway dan harap-harap cemas menanti perempuan itu. Perempuan yang dijulukinya Fairy Without Wings. Konyol. Junmyeon sadar bahwa jika teman satu gengnya tahu bahwa ia menyukai seorang perempuan di subway, mereka akan menertawai Junmyeon; tanpa ampun.

Subway berjalan seperti biasanya, dan ia masih menanti angkutan itu berhenti, dan perempuan berambut panjang itu naik, menebar senyumnya kepada orang tidak kenal dan mencari tempat duduk, atau berdiri. Kesempatan bagus jika perempuan itu tidak mendapat kursi, maka Junmyeon bisa sekalian mencari perhatian dengan memberikan kursinya. Bukannya seharusnya seorang gentleman sepertinya mengalah kepada perempuan? Junmyeon tersenyum dengan riangnya.

Namun, sampai halte pemberhentian terakhir, perempuan itu tidak memunculkan batang hidungnya.

Oh, nasib sial.

Junmyeon meringis dalam hati dan turun dari subway. Sebenarnya pemberhentiannya sudah terlewat dua halte, dan itu artinya ia harus naik subway lain.

Itu semua rela Junmyeon lakukan untuk Fairy Without Wings-nya itu.

 

 

-oOo-

 

 

“Kenapa belakangan ini kau selalu terlambat? Dan kenapa kau tidak naik mobilmu saja?” tanya Luhan, dengan wajah penasaran.

“Misi yang sampai sekarang belum tercapai.” Junmyeon menjawab pasrah, pandangan matanya penuh harap karena—sekali lagi—ia tidak menemukan perempuan itu naik subway yang sama dengannya. “Misi yang sangat penting sekali.”

“Apa?”

Junmyeon tidak mau menyebutkannya sebelum ia benar-benar berkenalan secara langsung dengan perempuan itu. Ia mengedikkan bahu dan berjalan mendahului Luhan.

“Ya, ya! Kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Simpan itu untuk nanti, Xiao Lu.” Junmyeon berkata acuh. “Sial, aku sudah terlambat lima belas menit.”

Kemudian Junmyeon membelok dan menaiki tangga menuju kelasnya di lantai dua, meninggalkan Luhan yang tampak kesal sekali.

 

 

-oOo-

 

 

“Jadi kau tidak mau memberiku tumpangan untuk pulang?” Junmyeon bertanya, tidak percaya ketika Wufan berkata ‘Aku harus pergi ke bla-bla..’ lima detik yang lalu.

“Maaf, hari ini aku harus menjemput adikku. Dia sudah marah-marah sejak tadi. Aku pergi.” Kemudian mobil Wufan melesat dengan indahnya meninggalkan Junmyeon. Betapa ia membenci ini!

“Yang benar saja, masa aku harus pulang dengan subway juga?” gerutu Junmyeon pelan, kemudian memutuskan diam saja ketika mata orang-orang yang ada disana tertuju ke arahnya dan lebih parah lagi; memandang Junmyeon seolah ia pesakitan gila.

Dan Junmyeon tidak punya pilihan selain berjalan kaki menuju halte dan menunggu subway tiba, masuk ke dalamnya dan besar kemungkinan bahwa kepalanya akan sakit karena desakan orang-orang.

Junmyeon benar-benar naik subway.

Xi Luhan tidak akan percaya ini.

Subway berjalan tersendat, Junmyeon mendapat tempat duduk; untungnya. Kali ini subway berjalan cepat, melewati pemberhentian, berhenti sejenak, kemudian berjalan lagi. Begitulah seterusnya, sampai subway berhenti di satu halte dan banyak orang masuk ke dalam subway  itu.

Seorang perempuan masuk, dengan wajah lelah namun senyum tetap tersenyum. Dan Junmyeon merasa udara menyesak, matanya buram, dan seolah-olah dunia terhenti ketika gadis itu berjalan pelan—tetap berpegangan—dan kemudian berhenti di depannya. Junmyeon merasa dunianya jungkir balik hanya dengan senyuman manis perempuan itu.

Oh, astaga.

Junmyeon bisa mati disini.

“Ehm, Nona—kau bisa duduk disini,” ujar Junmyeon terbata, berdiri dan menunjuk bangkunya.

Perempuan itu, Fairy Without Wings-nya tersenyum dengan kikuk, “Tapi aku masih sanggup berdiri—”

“Tidak, tidak bisa begitu. Kau harus duduk, Nona. Aku akan berdiri. Cepat, sebelum kursinya diambil orang lain.” Junmyeon berkata seperti itu sambil separuh hatinya menutupi kursi, agar tidak diambil orang lain tentu saja.

Perempuan itu tersenyum kemudian menduduki kursi itu. Dan Junmyeon merasakan seperti berjuta kupu-kupu terbang di perutnya.

Ia bisa jantungan di sini.

 

“Ehm… Nona, bb-boleh tahu namamu?”

 

STOPPPPP!!!

Itu adalah beberapa ff saya yang nggak bisa saya lanjutin, karena:

a) Kehabisan ide di tengah jalan
b) Males ngelanjutin

c) Terlalu sibuk sampai nggak bisa bikin ff/ngelanjutin. 

Yayaaa, ternyata jadi murid SMA itu payah banget yah. Sibuk sana sibuk sini. Ulangan sana ulangan sini. Remed sana remed sini. Aduh capeknyaa~~

Masih kebayang pas jaman SMP, enak sering jam kosong dan bisa refreshing setiap minggu. Nah ini! Hari minggu aja tugas masih numpuk hhhhh -_-

Liat nih sampe blog saya sendiri kosong melompong. Jarang ngedit tampilan lagi, apalagi ngisi blog hikshiks :((

Yah, saya harap kalian maklum ya hehe.

Oh ya, ada yang punya ide buat ngelanjutin ff nggantung saya di atas? Bagi yang mau aja ya hehe, bisa langsung kirim ke eleventabsurd@gmail.com

Nanti saya bakalan post disini, itung-itung ngisi blog hehe-_-

Okedeh mau lanjut online, babaaaaaaaaaaaaaaaaay~~~ :*

N.b: SAYA GANTI UNEM TWITTER: @MEYDASSI MAAF YA KESASAR PAS MINTA PASSWORD ._.V

MEYDASSI-

 

 

 

 

 

18 thoughts on “Info and Fanfictions from MEYDASSI

  1. Baca yang roleplayer love kok berasa sooyoungnya jadi aku ya haha xD lucu ya padahal kenal dari dumay tapi bisa sampe jatuh cinta beneran #azeek xD dilanjut dong thor jebal. Yang be your girl juga , kyu kok jahat banget sama syoung? Pasti ada alasannya kan? Next ditunggu.

    Like

  2. Haduh aku geregetan ama yg ” be your girl ”
    kyu km kebangetan, kasian soo nya..😦
    mesti d lanjutin thor yg ini…
    Tega bgt s kyu.. Ugh..

    Haduh author, pdhal ff2 nya daebak2,seru2,plus keren2 cmuaa lho…🙂

    Like

  3. ff nya seru thor dilanjutin aja!!! terutama yang soo-kris ma kyuyoung yang be your girl di sana kyuhyun oppa jahat banget ma soo onnie , ga tega ngeliat soo onnie di gituin ma kyu oppa . kyu oppa harus dpt balesannya …..mungkin jatuh cinta ma soo onnie tpi soo onnie dah terlanjur benci , jadi soo onnie ga balas perasaan kyu oppa# maaf komen nya kebanyakan

    Like

  4. ff kamu bagus bnget ya🙂
    kamu ada idea yg bagus tapi sayang bnget gak dilanjutin😦
    kapan2 kamu free bisa gak buatin salah satu ffnya..bikin oneshoot aja..

    Like

  5. hahaha, ffnya gantung semua… sabar ya chingu, kita semua sebagai pelajar sekaligus author ff pastinya mengalami masa-masa sulit (sibuk tugas) kayak gitu, tapi kembali ke diri masing-masing aja.
    kita nya mau atau enggak.
    contoh aku, udah kelas 2 sma masih aja bandel dengan nyolong jam bikin pr buat bikin ff, tapi jangan ditiru ya… hahaha xD
    ngomong-ngomong kamu jadi suka bikin ff Soo-exo ya, haha, kenapa?
    tapi kalo mau bikin lagi, bikinin sookris ya, yang sweet (?)
    ups, maaf jadi nyampah gini, komen aku gak mutu banget.

    Like

    1. iya emang ngeselin banget pas mood bikin ff eh malah banyak tugas-_-
      soo-exo? iya, lagi males bikin kyuyoung -,,- garagara keseringan baca ffnya hangukffinfo😄
      iya nggapapa makasih udah komen ^^

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s