That Sick Hope


thatsickway

Author: @meydawn (Aku ganti unem lagi, uhuk!)

Cast:

-Choi Sooyoung

-Cho Kyuhyun

-Other Cast

Genre: Sad, Romance

Rating: Teenager

Length: 2.429 words

Disclaimer:

Sekarang, hanya ada kau dan dia, dan bukannya ‘kita’. Penyesalan memang tiada arti.

***

Sampai sekarang, aku bahkan tidak pernah menyadari bahwa ada seseorang yang diam-diam menyukaiku. Karena rasanya aneh saja. Coba bayangkan, selama tujuh belas tahun aku hidup dan jatuh cinta kepada beberapa cowok, dan keseluruhan cowok-cowok itu tidak ada yang memandang balik ke arahku; artinya cintaku bertepuk sebelah tangan. Dan itu menyedihkan.

Tapi sekarang, ada seorang cowok naksir kepadaku.

Ketika Yujin mengatakan itu padaku, aku hanya menjawab dengan cibiran dan tambahan kata, “Dasar pembohong kakap!” dengan kasar. Dan ketika Yujin menambahkan bahwa dia serius, bahwa cowok itu benar-benar naksir kepadaku, aku menghela napas dan melambaikan tangan lalu berlalu.

Bukankah kau bisa menyadari betapa tidak percayanya diriku akan diriku sendiri?! Maksudku, ketika seseorang benci kepadaku, aku bisa mempercayainya seratus persen. Tapi jika ada seorang teman (Yujin) yang mengatakan bahwa seorang cowok (Kyuhyun) suka padaku, aku tidak akan pernah mempercayainya.

Itu saja. Mungkin karakter aneh itu muncul karena aku terlalu sering patah hati akan cowok-cowok di luar sana, dan karena sejak seorang laki-laki yang kutaksir memberiku harapan palsu. Dan sekarang kebalikannya, ada Kyuhyun yang suka padaku!!!!

***

Tentu saja aku menolaknya.

Menolak Kyuhyun, maksudku. Apa lagi? Aku tidak menolaknya tanpa berpikir terlebih dulu, aku memikirkannya matang-matang dan menyadari bahwa aku tidak bisa. Kyuhyun terasa begitu aneh bagiku. Tingginya hanya beberapa senti lebih tinggi daripada aku, ia suka pelajaran matematika (ini benar-benar memuakkan karena aku bahkan benci sekali dengan pelajaran itu), ia memang memiliki wajah keren dan kepintaran yang pasti didambakan oleh banyak orang di dunia. Tapi ketika memandangnya, aku tahu bahwa—tentu saja—aku tidak bisa menerimanya.

Lagi pula, cara pendekatannya membuatku agak jijik. Dia terlalu agresif dan perduli. Bahkan, ia mengatakan kepada teman-temannya bahwa aku adalah pacarnya. Dan itu semua cukup. Selain menolaknya, aku juga mulai benci kepadanya.

Contohnya, tiba-tiba saja dia punya nomor telepon genggamku dan mengirimiku pesan kapanpun dia mau. Saat aku membalas, dia akan membalas lamaaaaaaaaa sekali sehingga aku bahkan sudah lupa kami membicarakan apa. Tidak hanya itu, dia bukan tipe anak laki-laki cool yang menarik, karena dia selalu tidak lupa membubuhkan emoticon apa saja dalam setiap pesannya. Contoh lainnya, ketika aku sedang berargumen dengannya di SMS, dia akan dengan mudah menyerah dengan mengirimkan pesan sejenis “Oke, Sayang, aku menyerah :*” atau ketika aku menanyakan dia sedang apa—ini kulakukan untuk formalitas saja, karena dia menanyakan hal yang sama beberapa saat yang lalu—dia akan membalas dengan “Sedang memikirkan kapan aku bisa menyatakan perasaanku kepadamu :)” bleurghhhh, aku merasa benar-benar jijik dan itu berefek pada pesan-pesannya yang masuk tong sampah.

Tapi begitulah, karena dia keren dan pintar, aku tetap merasa harus membalas pesannya. Misalnya saja aku memanfaatkan dirinya untuk bertanya apakah ada PR hari ini, apakah ada tugas, dan bla-bla. Tapi hari-hari aku membalas pesannya adalah hari-hari sebelum aku menolaknya. Apa kalian berpikir bahwa aku memberikan harapan palsu kepadanya? Big no no.

Setelah empat kali dia menyatakan perasaannya, akhirnya aku benar-benar merasa marah dan jijik. Lebih-lebih ketika tiba-tiba saja dia sudah sekelas denganku di sekolah padahal dulunya dia ada di kelas sebelah, dia beralasan “Kelas sebelah tidak menarik, aku lebih suka di kelas ini.” Dan segera saja siulan-siulan menyebalkan terdengar. Aku mulai merasa bahwa akan lebih menyenangkan membenamkan diri di tanah selamanya ketimbang menghadapi anak laki-laki bernama Kyuhyun itu.

Yujin dan Yeonji—kembar menyebalkan yang notabene adalah sahabatku—selalu saja menggangguku dengan pernyataan seperti; “Hei, Sooyoung, coba lihat ke arah sebelas!” atau “Kyuhyun, Sooyoung mencarimu!” atau “Wow! Wajah Sooyoung dan Kyuhyun mirip! Ini pasti pertanda kalian berjodoh!”

Ironis sekali karena ketika seorang anak laki-laki menyukaiku, aku justru ingin mengubur diri selamanya.

***

Aku terlalu banyak mengeluh di sini. Ya, tentu saja. Apa lagi yang harus kulakukan di buku harian abstrak singkat ini selain mengeluh? Aku bahkan tidak membubuhkan tanggal, kejadian dengan lengkap, bla-bla. Mungkin aku menulis ini untuk mengingatkanku nanti, setelah dewasa, kisah paling aneh dalam sejarah ketika seorang anak laki-laki menyukaiku.

Satu bulan yang lalu, ketika aku dan Kyuhyun masih berkirim pesan—hush, jangan katakan ini kepada si kembar karena mereka bakal menyerangku setelah ini—aku ingat merasa ragu dengan keputusanku untuk menolak pernyataan cintanya. Maksudku, bukankah ini seperti kesempatan agar aku dapat merasakan—hm—kisah cinta yang pertama? Ingat tidak pepatah yang mengatakan perempuan lebih bertahan dengan seseorang yang mencintainya, daripada seseorang yang dicintainya? Aku berpikir tentang itu dalam-dalam dan merasa bahwa aku konyol. Aku berharap Kyuhyun tidak mencintaiku saja daripada dia mencintaiku dan aku terlalu bingung untuk mengambil keputusan. Tapi setelah kejadian dia memberitahukan pada teman-temannya bahwa aku pacarnya, dan temannya itu mengomentariku (“Lihat tubuhnya! Kerempeng dan bahkan dia tidak punya benjolan!” dan “Serius itu dia cewek yang kautaksir? Apa sih kelebihannya dibanding bla-bla..?” dan “Dia tidak punya sisi manis atau cantik sama sekali.” Dan “Apa kau menderita katarak yang tidak terdeteksi?”—diam-diam aku merasa sakit hati dengan komentar-komentar mereka, terlebih yang terakhir) aku mulai berpikir bahwa aku tidak suka pada Kyuhyun, aku benci dan jijik kepadanya!

Jadi begitulah, aku menolaknya dengan sangat yakin. Aku ingat apa yang kukatakan kepadanya saat pulang sekolah,

“Maafkan aku, Kyuhyun. Tapi benarkah kau menyukaiku?” aku menunggu sebentar menunggu jawabannya, dan dia mengangguk lantas tersenyum. “Tapi aku harus menekankan satu hal, maaf sekali karena aku tidak suka melihat tingkahmu. Dengar, kita bukan apa-apa. Aku tidak memiliki perasaan sama sekali kepadamu, dan kesalahan terbesarmu adalah membuatku memiliki perasaan itu. Kau bertingkah menyebalkan, menyedihkan, dan menjadi sok. Aku benci itu. Sekali lagi maafkan aku, tapi itulah jawabanku atas segala pertanyaanmu. Kuharap itu cukup membuatmu berhenti, karena jika kau tidak, aku akan semakin membencimu.”

Sebelum aku pergi, aku kembali menatap ke arahnya, “Oh, dan satu lagi, menurutku kau akan jadi teman yang menyenangkan.” Aku mengatakannya hanya karena supaya aku tidak kedengaran begitu kejam dan dingin. Aku bahkan mengerling dan tersenyum kepadanya sebelum aku pergi. Tapi ketika di rumah dan aku mempraktekkan senyuman dan kerlinganku, aku malah melihat diriku seperti menarik mataku terlalu tinggi dan bibirku menjadi tidak beraturan. Jadi kesimpulannya, aku pasti kelihatan menjengkelkan dan jelek sekali ketika melakukan kerling dan senyuman itu.

Dan berakhirlah semuanya. Aku agak sedih juga ketika Kyuhyun berhenti menggangguku dengan pesan-pesannya dan dia kembali pindah kelas. Sekarang, si kembar tidak punya alasan sama sekali untuk menggangguku, karena jelas sekali Kyuhyun sudah kehilangan perasaannya.

Kyuhyun kehilangan perasaannya. Dan aku merasa jatuh.

Ini kedengaran—atau kelihatan—aneh sekali karena tiba-tiba saja aku merasa ini bukan diriku. Aku menjadi aneh dan benci kepada diriku yang plin-plan dan seringkali tidak jelas. Namun aku merasa diriku terlalu berlebihan kali ini.

Bagaimana mungkin aku merasa bahwa Kyuhyun tiba-tiba terlihat lebih tampan, lebih menyenangkan, lebih keren, dan lebih-lebih lainnya? Tapi itu memang terjadi kok. Entah itu karena penyakit katarak yang tidak terdeteksi, atau karena itu hanya ada dalam otakku saja. Tapi benar kok. Aku benar-benar melihat Kyuhyun dengan versinya yang baru. Dia jelas berhenti melakukan hal-hal yang kuanggap menjijikkan, seperti saat setelah aku memutuskannya. Dia membuat kiriman di jejaring sosialnya, dengan menempatkan kalimat-kalimat sok puitis menyedihkan dan emoticon-emoticon itu, dan aku tahu pasti bahwa kiriman itu ditujukan kepadaKU! Tapi begitulah, sekarang bahkan kau tidak bisa menemukan akun jejaring sosialnya di manapun, karena dia sendiri sudah menutup akunnya. Itu terasa agak menyedihkan juga.

Tapi biarkan aku berpikir tentang perubahan perasaanku ini.

***

Menurut saudaraku yang psikolog/psikiater, aku bukan mengalami pergeseran/perubahan. Aku hanya mengalami pemantapan perasaan. Jadi begini, awalnya aku agak ragu mengatakan tentang yang kualami, tapi aku meyakinkan diriku sendiri dan akhirnya menceritakannya. Tapi tentu saja aku tidak menggunakan diriku sendiri sebagai tokoh di ceritaku.

“Kyuhyun menyukai Yujin, tapi entah kenapa Yujin merasa jijik dengannya dan dia benci. Dan begitulah..”

Yah, itu tindakan yang sangat pengecut dan bodoh. Tapi aku tidak mau aibku terbuka dan aku akan dikenal dengan sebutan plin-plan.

Kembali ke topik, jadi maksud dari kata “pemantapan” itu adalah dimana, saat pertama kali mengetahui Kyuhyun menyukaiku, sebenarnya aku tidak sepenuhnya tidak suka dengan cowok itu. Ada perasaan sejenis tertarik kepadanya.

“Tapi kenapa Yujin merasa jijik dengannya?” tanyaku, ingat, aku menggunakan Yujin untuk menggantikan diriku. Jadi versi aslinya—yang seharusnya kusampaikan—adalah, “Tapi kenapa AKU merasa jijik dengannya?”

Saudaraku itu mendesah. “Anak muda sekarang benar-benar labil dan menghargai rasa gengsi tanpa menyadarinya. Jadi sebenarnya Yujin menyukai Kyuhyun tapi dia terlalu malu untuk mengatakannya karena kau tahu, kan, dia sudah terlanjur mengatakan kejelekan-kejelekan tentang Kyuhyun di hadapan banyak orang.”

“Maksudmu, jika Yujin menerima Kyuhyun, seperti Yujin menjilat ludahnya sendiri?” selaku.

“Ya, seperti itulah.” Katanya. “Gengsi itu mengalahkan segalanya. Dan gengsi itu membawa kita ke dalam kehancuran. Kondisi emosional Yujin pasti sedang kacau saat itu sehingga dia tidak pernah menyadari bahwa dia juga menyukai Kyuhyun.”

“Tunggu sebentar, ini benar-benar memusingkan.”

“Memang seperti itu.”

“Tapi… bagaimana mungkin Yujin suka pada cowok yang tidak cocok dengannya?”

“Ingat, Sooyoung. Kyuhyun adalah cowok pertama yang menyatakan cintanya kepada Yujin dan tanpa malu mengakui bahwa Yujin adalah pacarnya meski cewek itu punya banyak kekurangan. Diam-diam tapi aku yakin itu benar, Yujin merasa tersanjung. Dan rasa ketersanjungan itu membawanya—pelan-pelan—ke dalam rasa suka.”

“Tapi… bukannya perasaan tersanjung atau mengagumi itu sejenis? Biasanya, kan, perasaan mengagumi itu tidak bisa diartikan rasa suka.”

“Oh, tentu saja tidak. Jika Yujin mengarahkan rasa tersanjungnya ke bagian kagum, dia tidak akan merasakan kehancuran seperti sekarang ini. Jadi, jelas pasti dia mengarahkan perasaan itu ke rasa suka.”

Berikutnya, aku ingin muntah karena semua yang dikatakan saudaraku benar. Bahwa akulah yang terlalu gengsi untuk mengakui perasaanku. Dan gengsi membawaku ke dalam kehancuran. Itu benar.

“Dan Sooyoung?” tanya saudaraku, “ini belum terlalu terlambat, kok. Kau masih bisa memperbaikinya.”

Aku ternganga, dan ketika kakakku itu mengerling, aku tahu bahwa dia tahu. Penyamaranku ketahuan.

“Dan satu lagi, ingat selalu ini,” katanya lagi dengan tegas. “Gengsi membawamu ke kehancuran, kesedihan, kebodohan. Sedangkan bersikap mau menerima dan jujur akan membawamu ke kebahagiaan. Jangan takut seperti itu. Ada kok orang yang merasa gengsi karena menyukai orang yang lima belas tahun lebih tua daripadanya. Tapi rasanya membahagiakan ketika mereka akhirnya berpacaran. Dan gengsi itu lenyap seketika.”

Itu kedengaran menyedihkan. Tapi itu benar.

Dan semuanya memang belum terlambat, aku harap begitu.

***

Tapi tentu saja aku salah. Seperti yang biasa kulakukan.

Salah. Salah. Salah. Salah. Salah. Salah. Salah. Salah. Salah. Salah. Salah.

Semuanya sudah terlambat. Dan aku tidak bisa memperbaikinya.

Esoknya, aku tahu dari Yeonji bahwa kemarin, Yujin menyatakan perasaannya pada Kyuhyun.

Aku merasa seperti hilang kendali dan kebingungan.

“Tapi… bagaimana mungkin?” tanyaku dengan lesu.

Yeonji menarik napasnya. “Jadi begini, sudah dari dulu Yujin naksir pada Kyuhyun. Bahkan sebelum Kyuhyun menyatakan cintanya padamu. Dan kau tahulah, Yujin terluka, tapi dia berkata padaku bahwa tidak apa-apa jika itu membuat kalian bahagia. Tapi kau menolaknya, sehingga Yujin merasa ini adalah saat yang tepat. Dan dia menyatakan perasaannya.”

Aku ternganga.

“Kyuhyun bilang, mungkin dia belum terlalu siap untuk ini. Tapi dia mau mencoba. Dan Yujin merasa sangat gembira. Mereka jadian.”

Aku merasa seperti mengambang dan tidak tentu arah. Aku bahkan masih diam ketika Yeonji menyelesaikan ceritanya.

“Hei, Soo? Kau tidak apa-apa, kan?”

“Oh, tentu saja, aku tidak apa-apa. Aku senang sekali!” tapi aku merasakan hampa pada ucapanku itu. Ucapan itu lebih seperti rasa sedihku yang terlalu menumpuk.

Aku tidak berbicara apapun dengan si kembar hari ini. Menghindar adalah keputusan yang benar sepertinya, karena aku tidak siap mendengar cerita-cerita bahagia nan menyedihkan dari mulut Yujin.

Benar-benar menyedihkan.

Jadi ini akhirnya, kataku kepada diri sendiri. Ketika aku menyadari aku punya perasaan yang sama, dan aku siap, tiba-tiba orang yang dulunya menyukaiku malah berbalik, pacaran dengan sahabatku sendiri. Ini memang menyakitkan dan kedengaran bodoh, tapi inilah hidup.

Karena alasan bahwa aku bertumbuh menjadi dewasa dan rasional, aku memutuskan sudah saatnya aku mengakhiri tulisan ini. Tulisan tentang seorang anak laki-laki yang dulunya mencintaiku.

Baiklah, aku akan menutupnya. Tapi sebelum melakukan itu, aku akan membubuhkan sehelai potret wajah Kyuhyun dan menempelnya di sana. Eh, maaf, sepertinya tidak hanya sehelai potret itu. Aku mem-print-out pesan Kyuhyun yang berisi pernyataan cintanya kepadaku dulu yang ternyata masih kusimpan.

Sekarang aku memberi lem pada belakang helai foto itu.

Nah, sudah.

Tiba-tiba saja air mataku mengalir.

Sekarang saatnya menutup ini.

Aku menutupnya.

***

AKU MEMBUKANYA KEMBALI!!!!

Sudah lewat bertahun-tahun sejak aku menutup buku ini. Dan sekarang aku menulis di sini kembali karena kemarin, di reuni SMA, aku bertemu dengannya lagi.

Kyuhyun tidak banyak berubah. Dia masih terlihat keren dan pintar seperti dulu. Dia bekerja di perkantoran Seoul dan sedang cuti karena istrinya akan melahirkan. Ya, benar, tidak salah, istrinya.

Kyuhyun dan Yujin menikah dan sekarang Yujin akan melahirkan putra mereka yang pertama. Menyedihkan mengingat aku belum pernah membuka hati kepada orang selain Kyuhyun.

“Hai, halo,” sapa  Kyuhyun sambil menenteng mantelnya. “Apa kabar?”

“Oh, hai,” aku merasa kikuk. “Baik, bagaimana kabarmu?” aku menyodorkan tangan dan dia menjabatnya, dan aku melihat cincin di sana.

“Oh, kau sudah menikah,” gumamku dengan nada yang aneh. “Dengan Yujini? Bagaimana kabarnya?”

Perlu kauketahui saja, setelah insiden Kyuhyun pacaran dengan Yujin, ayahku mendapat kabar bahwa dia dipindah tugaskan dari Seoul ke Busan, dan ibuku harus mengikutinya, tentu saja. Itulah alasan mengapa aku tidak tahu apa-apa mengenai kehidupan teman-teman semasa SMA-ku. Awal pindah, aku masih sering berkirim SMS dengan si kembar atau temanku yang lain, tapi lama kelamaan mereka lupa kepadaku. Dan lagi pula, aku punya banyak teman baru di Busan yang sama menyenangkannya ketimbang dengan si kembar.

Jadi intinya, aku kehilangan kontak dengan semua orang di SMA-ku.

Bersyukurlah karena tiba-tiba saja aku bertemu dengan sekelasku dulu, Mina, yang mengabarkan bahwa sekolah kami akan mengadakan reuni. Dan mereka ingin mengundangku, namun kehilangan aksesku.

Well, that’s all.

Sekarang aku berdiri di Seoul dan di reuni itu—ini kelihatan konyol, karena sekarang, saat aku menulis ini, aku sedang duduk di hotel tempatku menginap—dan bertemu dengan teman-temanku. Mereka banyak berubah.

“Yunji? Tentu saja dia baik, tapi kehamilannya kelihatannya agak menyiksanya.”

“Pasti menyenangkan menjadi ibu.” Kataku dengan konyol. “Eh, wow,”

“Dan Sooyoung?”

“Ya?”

“Senang rasanya melihatmu lagi.”

Aku mengangguk dan tersenyum.

Dan begitulah kisah orang pertama yang menyatakan perasaannya kepadaku. Dia bahagia sedangkan aku berusaha membenahi hatiku kembali karena rasanya masih menyakitkan meski tidak semenyakitkan dulu.

“Hei, Kyuhyun,” panggilku. “Sampaikan salamku kepada Yujin ya! Dan, oh, kepada calon bayimu juga. Dari Bibi Sooyoung begitu, ya?!” teriakku dan melambai.

Well, meski reuni ini berjalan agak menyedihkan, aku tetap harus bersyukur karena mulai sekarang aku bisa lebih menentukan masa depanku. Artinya, aku bisa menyalurkan cintaku ke jalan yang benar. Haha.

Sekarang aku harus menutup buku ini kembali, dan mungkin membakarnya sekalian.

Tapi sebelumnya, aku akan menempelkan foto-fotoku dengan teman-teman lamaku, dan Kyuhyun juga.

Selesai.

Aku menutupnya lagi.

Dan mungkin tidak akan membukanya kembali.

Oh, dan aku menangis sekarang.

Rasanya menyedihkan dan pahit karena aku bahkan masih menyimpan perasaan kepadanya. Karena bahkan sahabatku sendiri telah berhasil mengalihkan perhatiannya dariku. Tapi aku meyakinkan diriku sendiri; ini bukan akhir, ini adalah awal. Yah, kuharap begitu.

Aku menutupnya.

A/N:

Selamat malam!!!!

Sebenarnya aku gatau kamu bacanya pas malem atau siang, sore, pagi, hehe. Tapi berhubung aku postnya malem minggu, aku ngasih selamat malam aja ya!

Maaf karena sekarang aku jarang banget online, post ff, atau cuma ngurusin blog. Maklumin aja, kemarin-kemarin ga ada internet di rumah -,- Dan aku males ngetik dari HP hiks. Dan Horeeeeeeeeeee, akhirnya aku post juga setelah tersesat bareng tugas-tugas dari guru-guru di SMA :””””

Ini ff gaje banget ya. Ini Sooyoung juga semacem plin-plan gitu ya wqwq, tapi kadang-kadang ada juga kok yang ngalamin kayak gini🙂

Eh, MAAF AKU BIKIN SAD-END/GANTUNG-END lagi!!! Ga ada ide buat bikin ini happy ending. Lagian aku juga males ngedit-ngedit lagi .-.

Kayaknya aku bakal ngilang lagi setelah ‘membenahi’ blog ini. Mau UAS, bo!! Kayaknya baru aja selesai UTS, udah main UAS aja-__-

FIGHTING FOR ME!!!!!!!!!!!!!!!!!

THANKS FOR READ HEHE, ALL MY LOVE IS FOR YOU, MY READER (HALAH!)

BUBYEEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!

68 thoughts on “That Sick Hope

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s