Timore


timor

Timore written by Meydawk’s

Casts

|| Choi Soo-Young || Cho Kyu-Hyun ||

|| Genre Angst, Romance || Rating G || Length 1538 ||

Summary:

Ini terasa tidak benar dan menakutkan. Namun lidah Sooyoung kelu untuk mengakhirinya.

.

.

.

Berawal dari senyummu.  

 

Awal bertemu dengannya, ia tampak sangat menyenangkan. Melihatnya tersenyum membuat perutku geli dengan sensasi yang belum pernah kurasakan. Melihat sudut bibirnya terangkat dan matanya menyipit sedikit membuatku seolah ikut terserap ke dalam kebahagiaannya.

Hanya satu yang timbul dalam otakku ketika mataku tak bisa terhenti menatapinya.

Aku jatuh cinta.

Oh, Tuhan, aku jatuh cinta.

Dalam sehari, kata jatuh cinta terngiang-ngiang di otakku sampai rasanya lelah mengingatnya.

Jatuh cinta membuatku bodoh, tak berdaya, dan membuat syarafku agak lambat sedikit. Bagaimanapun, butuh tiga kali panggilan untuk membuatku menoleh, butuh empat kali penglihatan untuk menyadarkanku bahwa aku baru saja melihat orang yang kucari, dan butuh kesadaran penuh untukku bernafas, bisa-bisa aku lupa melakukannya, alhasil aku akan mati kehabisan nafas dan ditertawakan di penjuru sekolah.

.

.

“Namaku Kyuhyun, siapa namamu?” Dan kau tersenyum.

 

Tes Bahasa Inggris hari ini berjalan lancar sehingga aku punya banyak kesempatan untuk menyelinap ke perpustakaan dan mulai memata-matainya. Tentu saja niatku ke sana bukanlah untuk duduk sambil membaca buku, aku tidaklah sepolos itu.

Begitu masuk, aku melihatnya sedang duduk di bagian tengah dan tampak serius dengan laptop hitam yang terbuka. Rasanya aku ingin mengeluarkan ponsel dan memotretnya dalam ekspresi serius seperti itu. Tapi aku belum segila itu dan membiarkan pekik blitz dari ponselku membuat seluruh orang yang tengah serius membaca tersentak kaget dan memandangku.

Aku duduk di pojok, sepuluh langkah tepat di belakangnya sehingga aku bisa melihatnya, dari jauh.

Entah karena frekuensi memandangku yang terlalu sering, akhirnya ia menyadarinya dan menoleh ke arahku. Tepat ketika aku juga menatapnya. Jadilah kami bertatap-tatapan selama beberapa detik yang begitu berharga sekaligus memalukan dan kemudian ia tersenyum.

Tidak tahu karena dorongan apa, tiba-tiba ia berada di depanku dengan tangan terulur.

“Halo, namaku Kyuhyun. Siapa namamu?”

Aku begitu kaget karena mendengar suaranya. Memang bukan yang pertama, tapi setidaknya inilah pertama kalinya ia berbicara denganku. Harusnya aku mencatat jam, menit, dan detiknya sehingga akan mengingatkanku seumur hidup.

“H-halo, namaku Sooyoung.”

.

.

Aku, kau. Kita.

 

“Kalau kau kuajak kencan, kau akan menjawab apa?”

“Hah?”

Ia tersenyum dan pipinya memerah, entah karena cuaca atau karena perasaannya.

“Ya, ken-can. Mau tidak kau jika kuajak kencan?”

“Mmm, oke! A-ayo kita berkencan!”

Well, itulah jawaban ter-menjijikkan yang pernah keluar dari mulutku. Aku begitu malu dan tidak menyangka aku bahkan menjeritkannya. Lucu karena setelah jawaban menjijikkan itu keluar, ia justru tertawa dan mengacak-acak rambutku.

“Baiklah, jam dua. Tidak boleh ada yang telat.” Katanya kemudian berdeham. “Apa aku perlu menjemputmu?”

“Eh, t-tidak perlu. Kita bertemu saja di… kita akan b-berkencan di mana?”

“Eh, itu.. aku belum memikirkannya. Menurutmu, di mana?”

“Bagaimana kalau taman saja? Kelihatannya itu tempat yang bagus. Tambahan, udara di sana bagus.”

Ia mengangguk. “Oke, taman. Jam dua. Tidak boleh te-lat.”

Aku tersenyum dengan konyol.

.

.

Tapi kemudian, semuanya tidak manis lagi.

“Maaf, kupikir ini benar-benar konyol. Karena.. well, kau tahu aku sudah punya pacar. Tapi aku menyukaimu..”

Aku terbelalak. Baru kali ini aku tahu jika ia sudah memiliki seseorang yang lain. Kupikir ia masih single sepertiku. Ini terasa agak menyedihkan.

Tapi ia menyukaimu.

Ia menyukaiku.

“Benarkah? Kau menyukaiku..?

“Eh, ya…”

“Jadi kau ingin aku bagaimana?”

“Maaf karena ini begitu salah, tapi aku menyukaimu. Aku suka melihat senyummu, aku.. aku suka bersamamamu dan menghabiskan hari dengan membaca bersamamamu… aku…”

Aku menarik napas sebelum berkata, “Kau ingin aku jadi pacarmu?”

.

.

Tinggal memencet kolom ‘kirim’ maka pesanku akan sampai kepadamu. Namun, aku takut aku akan menghancurkan segalanya. Kau dan ia.

Ketika udara bertiup dengan kencang dan aku begitu kedinginan, keinginan terbesarku adalah mengirimkan sebuh pesan kepada Kyuhyun. Menanyakan apa kabarnya, menanyakan ia sedang melakukan apa.

Tanganku terangkat dan mengetik dengan kecepatan tak terhingga.

Hei. Apa kau kedinginan?

Selamat malam. Kau sedang apa?

Aku merindukanmu.

Namun jariku terhenti tepat setengah inci di atas kolom ‘send’. Nyaliku menciut ketika memikirkan konsekuensi yang akan kuhadapi apabila aku berani mengirimkannya.

Bagaimana jika Kyuhyun ternyata sedang pergi jalan-jalan dengan pacarnya?

Bagaimana jika pacarnya mengetahui bahwa kami berpacaran dan kemudian memutuskan Kyuhyun?

Bagaimana jika Kyuhyun marah kepadaku karena telah menghancurkan hubungannya?

Dan kemudian aku hanya merasa takut, bingung, dan.. kecewa.

Ini memang menyedihkan. Namun akan terasa lebih menyedihkan lagi jika Kyuhyun tidak menyukaiku, dan kemudian kami tidak bisa bersama. Sementara aku telah memupuk harapan yang terlalu tinggi untuk dihancurkan. Karena alasan ini pula aku bertahan.

.

.

Ketika aku melihatmu, yang ingin kulakukan adalah melambaikan tangan dan meneriakkan namamu. Namun aku terhenti. Karena kau tidak sendirian.

“Sooyoung, aku tidak bisa pergi bersamamu. Maaf, ya? Aku lupa aku ada janji dengan pacarku. Bye bye!” kata Yuri dengan buru-buru. Ia melemparkan kiss bye-nya yang membuatku tertawa.

Jadilah, karena Yuri tidak bisa mengantarku, aku pergi ke toko buku sendiri. Membeli buku fiksi baru sekaligus berjalan-jalan. Yah, sendirian.

Banyak buku baru yang masih berbau percetakan yang telah tertata rapi di setiap rak. Aku melihat-lihat, membaca sinopsisnya, kemudian memutuskan akan membelinya atau tidak. Banyak buku bagus yang terlihat menyedihkan.

Pada akhirnya, aku hanya mendapatkan empat buku—satu bercerita tentang patah hati, satu bercerita tentang kematian, satu bercerita tentang orang tua, dan yang terakhir bercerita tentang menjadi yang nomor dua. Well, kelihatannya yang terakhir mencerminkan diriku.

Ketika berdiri di kasir, meletakkan buku-buku di meja, seseorang yang terlihat seperti Kyuhyun—dan memang Kyuhyun—lewat di rak kedua yang bisa kulihat jelas di sini. Aku akan mengangkat tanganku dan meneriakkan namanya, tepat ketika seorang gadis menyerobot lengannya dan tertawa menunjuk sebuah rak.

Aku membatalkan niatku.

Semata-mata hanya karena aku takut membuat gadis itu curiga. Meski separuh hatiku mencelos, dan terluka.

.

.

Ketika aku begitu lelah dengan semuanya, aku hanya ingin menyerah dan mundur.

“Kyuhyun? Kau mau pergi makan malam bersama hari ini? Well, Ibuku tidak di rumah dan aku tidak tahu akan memasak apa, jadi.. kau mau tidak?” tanyaku dengan penuh harap.

“Maaf, Sooyoung, tapi aku  sudah ada janji dengan Yeonji. Maaf, ya? Lain kali aku pasti akan pergi denganmu. Tapi tidak sekarang.”

Hening beberapa detik.

“Ah, begitu. Baiklah, tidak apa-apa, aku mengerti.” Sahutku kemudian dan melambaikan tangan.

Padahal separuh hatiku terluka. Namun aku juga tahu aku tidak dapat melakukan apapun. Jika aku masih menyayangi Kyuhyun, maka sebaiknya perasaan cemburu ini kuhancurkan, sekarang juga.

.

.

Sendirian. Terluka. Aku. Ia.

Hari masih begitu cerah bahkan meski arloji menunjukkan pukul lima sore. Aku duduk menikmati angin yang semilir di depan rumah. Berusaha mengusir bosan dengan meniup-niup rambutku yang memanjang. Sedari tadi ponselku bergeming, padahal aku sedang menunggu panggilan atau pesan dari seseorang.

Sudah setengah jam sejak aku mengirimkan balasan pesanku untuk Kyuhyun, menanyakan apa kabarnya setelah dua hari tidak bertemu dan tidak saling mengirimkan pesan pula. Mungkin ia sedang berada di tempat dimana tidak mungkin mengeluarkan ponsel untuk sekedar membalas pesan seseorang yang tidak penting sepertiku.

Di saat seperti ini, aku hanya memikirkan betapa dosanya diriku ini. Aku ini begitu jahat dan hina. Namun tiada satupun yang dapat kulakukan untuk melepaskan dosa ini. Aku tak berani, aku tak mau.

Sembari menatap ke depan, aku hanya merasakan kecewa. Entah untuk apa, aku merasa tidak berdaya di bawah tekanan semua ini. Apa begitu salah untuk diriku mengharapkan seseorang yang berkata juga mengharapkanku?

Aku merasa sakit dan pusing, tapi tak kunjung menemukan jawaban untuk pertanyaan itu. Seolah aku buta dan tidak mampu menemukan apa solusinya.

.

.

Untuk kau, yang telah merobek hatiku.

Aku memasukkan ponsel ke dalam tasku dan mengembuskan napas. Uap bewarna putih transparan keluar dari mulutku, membumbung tinggi sebelum hilang. Sudah seminggu aku tidak bertemu dengan Kyuhyun, dan rencananya aku ingin bertemu dengannya hari ini. Berharap saja semoga ia segera datang.

Seorang pelayan menghampiriku dan meletakkan kertas nota di hadapanku. Aku mengisinya dengan setengah hati. Kemudian pelayan itu pergi.

“Maaf, aku terlambat.” Kata Kyuhyun dengan napas tersentak-sentak. Ia duduk dan meletakkan tangannya di meja. “Kau sudah memesan?”

“Sudah. Kau pesan muffin bukan?”

“Ya, itu juga oke,”

Aku mengangguk dan memandang ke samping. Aku kehilangan nyaliku untuk mengatakan apa yang seminggu ini mengganjal di hatiku. Rasanya tidak nyaman menyimpan sesuatu dan tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.

Pelayan kembali datang, meletakkan nampan berisi pesananku kemudian pergi lagi.

Aku juga ingin pergi, namun keinginan untuk tinggal dan berkata-kata menghentikanku.

“Ada yang ingin aku bicarakan.”

Ia mendongak. “Ya? Apa? Katakan saja,”

“Kenapa mematikan ponsel terus menerus?” tanyaku dengan pelan. “Aku berusaha menghubungimu sejak seminggu yang lalu, tapi tidak ada jawaban.”

“Itu.., kau mungkin menelepon saat aku tidak punya waktu untuk menjawab.”

“Lalu, setelah kau melihatnya, kenapa kau tidak balik meneleponku?”

“Maaf, Sooyoung, terkadang aku begitu lelah untuk melakukan hal seperti itu.”

“Tapi kau menelepon Yeonji, kan?”

Hening sesaat.

“Sooyoung, ada apa? Ada masalah?”

“Jawab saja, kau menghubungi Yeonji, kan?”

“Mmm, ya.”

Hatiku berdarah.

“Jadi begitu. Baiklah. Oke.” Aku kehilangan suaraku dan hanya mampu memandang ke samping.

“Kau kenapa?”

Dalam hatiku membentaknya, apa kau masih bisa bertanya ‘kenapa’ setelah apa yang kau lakukan?!

Tapi nyaliku ciut dan lagipula, aku tak punya hak untuk itu.

“Ini tidak lagi normal.” Gumamku. “Semuanya tidak lagi pada tempatnya.”

“Ya? Maksudmu?”

“Akui sajalah, Kyuhyun, sulit untukmu menemuiku, sulit untuk menyediakan waktu untukku. Tidak apa-apa, aku bisa menerima itu. Tidak usah memberi alasan yang muluk-muluk padaku jika kenyataannya itu tidak benar, bukan?”

Ia tidak menjawab.

“Mulai dari sekarang, aku membebaskanmu.”

“Hn?”

“Kita putus saja.”

Inilah keputusannya. Meski berat pada awalnya, dan hatiku terluka, tapi semuanya akan berjalan normal kembali. Meski membutuhkan banyak waktu untuk mengembalikan semua pada tempatnya. Meski bagaimanapun, akan selalu ada jalan untuk kembali. Sudah saatnya untuk menjadi diriku sendiri yang utuh, bukan menjadi milik seseorang namun hanya menjadi seorang bayangan.

Ketakutanku seolah terangkat seiring dengan langkah kakiku yang pergi menjauhi rumah makan itu.

Meski air mataku mengalir, meski rasanya berat mengambil kembali hati yang telah kuserahkan pada Kyuhyun; tapi aku pergi.

fin

.

.

Hallo!

Akhirnya setelah hiatus (atau hilang) di dunia per-ff-an saya balik lagi haha!  Sebenarnya ini ide yang udah pasaran banget, ditambah saya juga lagi nggak mood bikin, jadilah ini ff hancurnya masyaallah _-_

Ini apaan sih? Alay banget ini ff, dan diksinya nggak banget, lagian udah lama ngilang eh balik-balik ffnya ancurrrrrrrrrrrrr!! Mana idenya dapet dari lagu dangdut lagi WAKAKA LOL. Itu lho, lagu dangdut yang ada kata-kata ‘wedi karo bojomu’ itu yang udah ngasih saya ilham untuk bikin ini LOL

Lupakan asal usul ff ini, saya pengen curhat sebentar. Jadi gini, musim hujan bikin segalanya terhambat ya! Gara-gara hujan saya telat terus (halah, padahal emang bangun kesiangan) dan dihukum nyanyi sendirian terus awww😄

Sudahlah sudahlah, saya mau ngilang lagi, bye bye hihi!

Wanna leave a comment? 😉

65 thoughts on “Timore

  1. Keren thor tapi sayang sad ending -_- author kok hobi banget buat ff sad end kan kasihan kyuyoung, di dunia real gak bisa bersatu ehh di dunia ff juga –” sequel ya thor *puppy eyes* wkwk keep writing. Oh ya ditunggu oneshoot kyuyoung yang lainnya *but please happy ending ok* wkwkwkwk

    Like

  2. gregetan..
    sumpah kasihan lihat soo..
    feel nya dpt..
    soo minta putus?
    karna dia gk mau hati nya terluka lebih lama lagi?

    Like

  3. seriously, bikin potek >< tapi kalo gitu ya mending putus dah daripada jadi simpenan😦
    bagus banget kak, angst nya dapet. ditunggu ff lainnya yaaa😉 fighting

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s