Hedgelife


hedge

Hedgelife written by bepimee

Casts

Jung Soo Jung f(x) || Kang Min Hyuk CNBlue

|| Genre School-Life, Romance, Fluff || Rating G & T || Length 3291 words ||

Summary

Aku ini seperti hedgehog, aku membutuhkanmu, tapi setiap kali berdekatan denganmu dan muncul kenyataan kalau kau menyukai perempuan lain, aku merasa sakit.

.

.

.

Senin, Februari; 17.

Berdekatan dengan Min Hyuk membuatnya tegang. Senyumnya, aromanya, bentuk rambutnya, pakaian yang dikenakannya, bahkan cara berjalannya. Soo Jung sendiri tahu, ia tidak bisa menghilangkan sikap tegangnya bahkan ketika laki-laki itu tidak menatap ke arahnya. Baginya, Min Hyuk adalah segalanya.

Namun juga bukan apa-apa.

Ini memang menyebalkan, di saat remaja lainnya bebas mengekpresikan diri, Soo Jung malah harus berkutat dengan perasaannya.

Jangan pikirkan.

Jangan jatuh.

Jangan rasakan.

***

Senin, Februari; 03.

“Jangan konyol begitu, ini bahkan hanya film.” Celetuk Min Hyuk ketika Soo Jung merapatkan dirinya semakin dekat, hampir tidak terlihat karena tertutup bahu laki-laki itu. “Lihat, sebentar lagi arwah gadis itu akan keluar dari—”

Ya, hentikan!” seru Soo Jung cepat-cepat sebelum Min Hyuk melanjutkan kalimatnya. “Dasar tidak keren! Menyebalkan!”

Sementara Soo Jung menggerutu panjang pendek, laki-laki itu justru tergelak.

“Benar-benar..” Soo Jung menggelengkan kepalanya kemudian bangkit berdiri—menyelamatkan harga dirinya yang selangit—ketika hantu dalam film yang sekarang sedang dilihatnya tampak dengan iringan musik yang membuatnya—“Kyaaaaaaaa!” dilanjutkan oleh tubuh Soo Jung yang sepenuhnya tenggelam dalam bahu bidang Min Hyuk.

Dan diiringi gelak tawa Min Hyuk.

“Astaga, rasanya jantungku mau copot..” keluh Soo Jung ketika film berakhir dan layar teve berganti dengan nama-nama pemain dalam film tadi. “Aih, benar-benar film terkutuk!” ia akan melanjutkan omelannya ketika mendapati Min Hyuk masih tertawa—bahkan dari lima menit yang lalu. “Apa yang kau tertawakan, ha?!”

Laki-laki itu jelas berusaha menahan tawanya; tapi matanya yang hampir hilang membuat Soo Jung segera tahu kebenarannya.

“Awas saja kau! Aku akan membawakanmu kodok! Yang super duper banyaaak!” seru Soo Jung sebelum menghentakkan kakinya, berjalan keluar dari kamar Min Hyuk.

“Hati-hati pulang Jung Soo Jung, bisa saja gadis tadi akan—”

Hentikaaaaaaaaaaaaaaaannn!”

Min Hyuk tergelak lagi.

***

Selasa, Februari; 18.

Ingin rasanya Soo Jung mengulang masa itu. Masa di mana ia dan Min Hyuk bebas melakukan apapun. Bebas menertawakan apapun. Bebas beraktifitas, apapun.

Sayangnya, tidak bisa.

Ini hanya masalah hati—sayangnya, masalah sepele ini benar-benar terlalu menyakitkan untuk disimpan sendiri. Soo Jung sendiri tahu itu, dan ia tidak bisa membohongi dirinya.

Ia harus pergi, jika ingin hatinya selamat.

Tapi, bagaimana? Bagaimana jika hatinya menuntut kembali ke arah haluannya? Bagaimana jika hatinya tak mau berpaling, dan terus kembali, kembali, dan kembali  tanpa henti?

Berapa kali ia harus membatin kalimat yang berawalan ‘sayangnya’?

Kini ia hanya bisa menatap, andai ia mengerti apa alasan di balik semua ini.

***

Rabu, Februari; 05.

“Berapa banyak cokelat yang kau dapat?!” seru Soo Jung begitu menginjakkan kakinya di kamar Min Hyuk. “Teman sekelasku Sung Jae dapat dua puluh kotak cokelat dalam waktu satu jam, keren, ‘kan?!”

“Biasa saja.” Sahut Min Hyuk sambil melemparkan tasnya sembarang. Kemudian ia berjalan menuju lemari.

“Biasa apanya? Ah, aku tahu. Kau hanya iri karena tidak mendapat cokelat, ‘kan?”

Min Hyuk mengangkat bahunya. “Lihat saja di ranselku.” Katanya.

Buru-buru Soo Jung menerjang ke arah kasur—tempat Min Hyuk melempar ranselnya tadi. Ia membuka ritsleting utamanya dan menganga begitu melihat tumpukan kotak cokelat berbagai ukuran di dalamnya.

“Surga cokelat!”

“Awas, aku mau ganti pakaian.” Kata Min Hyuk, jelas mengabaikan Soo Jung yang sekarang tengah menghitung jumlah cokelatnya.

Empat, tujuh, sepuluh, lima belas—tujuh belas!” mulut Soo Jung bergerak-gerak, kemudian tiba ketika hitungannya mencapai dua puluh satu, “Astaga! Kau mengalahkan Sung Jae, Kang Min Hyuk!” serunya kemudian menoleh ke arah Min Hyuk. “Yya! Apa kau tidak punya sopan santun sampai berganti pakaian di depan perempuan?!”

“Aku ‘kan sudah bilang akan ganti baju, kau sendiri yang tidak segera keluar.” Dengan santainya, Min Hyuk memasukkan lengan satunya ke kaus.

Ha, terus saja menyalahkanku.” Omel Soo Jung. “Kayak kau punya otot perut saja!”

Buru-buru Soo Jung keluar dari kamar Min Hyuk dan menutup pintunya.

Pipinya merah.

***

Selasa, Februari; 18.

Andai saja ia tidak tahu, andai saja Min Hyuk tak usah mengenalkannya, psati semuanya tidak akan serunyam ini.

Soo Jung jelas merindukan saat-saat menyenangkan yang dilaluinya bersama Min Hyuk dahulu, tapi setelah ia mengetahui kejelasan perasaannya sendiri, ia merasa ini tidaklah benar.

Berdekatan dengan Min Hyuk membuat ia kehilangan kendali.

Tapi jauh lebih buruk lagi, tidak berdekatan dengannya membuat hatinya hancur.

***

Jumat, Februari; 14.

“Pokoknya, kalau kau dapat cokelat lagi, pastikan aku dapat yang terbesar, terenak, dan termahal!” pesan Soo Jung sebelum mereka berpencar di gerbang sekolah—kelas mereka berbeda, tentu saja.

“Genap sepuluh kali kau mengatakannya!” seru Min Hyuk sambil tertawa.

Sial, Soo Jung malah melihat bibir Min Hyuk dan tiba-tiba ia ingin menciumnya. Astaga.

Ah, aku benci pada diriku.

“Pokoknya kau tidak boleh lupa!”seru Soo Jung lagi dan kali ini ia tidak mau menoleh, jantungnya sudah cukup sakit karena berdetak terlalu kencang tadi.

“Aku hampir melupakannya,” sahut Min Hyuk, suaranya agak menjauh tapi Soo Jung tetap tidak mau berbalik dan memilih mengeraskan suaranya.

“Awas saja kau!”

Tidak ada jawaban.

Ketika Soo Jung menoleh, Min Hyuk sudah lenyap.

Ia menekuk bibirnya dan menghela napas.

Ia harap perasaannya juga dapat lenyap secepat dan semudah itu.

***

Minggu, Februari; 09.

Ketika Soo Jung memasuki kafe, satu yang dilihatnya adalah bahwa meja tempatnya duduk dengan Min Hyuk—seperti biasanya—ketambahan satu kursi ekstra. Dari sini, Soo Jung hanya bisa melihat bahwa ada seorang gadis duduk di sana dengan rambut hitam pendek dan postur tubuh—ketika duduk—yang tegak.

Ia memikirkan siapa gadis itu, membuat perkiraan ‘Gadis di kelas Min Hyuk yang berpotensi menjadi pacar’. Tapi seingatnya, Min Hyuk tidak pernah bercerita apapun mengenai seorang gadis.

Soo Jung jadi penasaran dan ia melangkah cepat menuju meja itu. Dua langkah sebelum mencapai meja, ia melihat wajah seorang dari angkatan di atasnya.

“Mm, halo.” Sapa Soo Jung kaku. Ia tersenyum senormal mungkin pada gadis itu dan menatap Min Hyuk menyelidik.

“Hai, halo.” Gadis satu-angkatan-di atasnya itu menyapa dengan senyum berbinarnya. “Park Yeonji.”

Beberapa detik, Soo Jung mengira-ngira siapa gadis itu dan apa hubungannya dengan Min Hyuk alih-alih tersenyum dan menyebutkan namanya.

“Soo Jung-a.”

Suara Min Hyuk memecahkan konsentrasinya.

“O, yah, apa?” Soo Jung linglung. Tiba-tiba ia merasa pusing.

“Yeonji sedang berusaha berkenalan denganmu, dan kau melamun.”

Soo Jung benci ini, tapi ia menemukan nada ketidaksukaan dari suara Min Hyuk.

“Ah, iya, s-sunbaenim.”

Yeonji tertawa. “Jangan memanggilku begitu, aku merasa tidak nyaman. Panggil saja namaku,”

Soo Jung kemudian memandang ragu ke arah Min Hyuk, dan ia mendapati sesuatu dalam mata laki-laki itu.

“Permisi, aku butuh toilet, sekarang juga.” Ucap Soo Jung cepat-cepat dan meringis.

Nyatanya, yang ingin ia lakukan adalah pulang dan berharap ini adalah mimpi.

Soo Jung berbalik, “Oh, ya, namaku Jung Soo Jung.”

***

Rabu, Februari; 19.

Soo Jung tahu Min Hyuk tahu bahwa ia sedang menghindari laki-laki itu dengan tanpa alasan—sebenarnya ada, namun jelas Min Hyuk tidak akan ia beritahu. Bersyukurlah karena laki-laki itu terlalu cuek dengan keadaan—mengabaikan kenyataan bahwa tidak ada Soo Jung lagidi kehidupannya, entah sementara, atau selamanya.

Jujur saja, Soo Jung tidak ingin seperti ini. Ia merasa egois (karena telah membuat Min Hyuk kesepian, mungkin), namun kelihatannya Min Hyuk sama sekali tidak peduli apakah ia ada, maupun tiada. Itu cukup menyakitkan, Min Hyuk ternyata tidak menganggapnya spesial, atau lebih dari seorang teman.

Dan di sinilah Soo Jung, ia memakai teropongnya untuk memata-matai Min Hyuk. Laki-laki itu hanya sedang membaca buku dan memakan sereal, kelihatan sekali kalau ia bosan. Soo Jung jelas ingin pergi ke sana dan mengajaknya jalan-jalan, tapi kalau dipikir-pikir, mungkin saja Min Hyuk benci kepadanya.

“Kau sedang apa, Jung?”

Soo Jung hampir berteriak, namun ketika melihat Soo Yeon, buru-buru menyembunyikan teropongnya.

Ngapain kau berada di sini dalam kegelapan?”

“Ini kamarku, aku bebas melakukan apapun.” Kata Soo Jung, “Oh ya, kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu?”

“Jangan konyol, aku sudah sering melakukannya.” Sahut Soo Yeon. “Omong-omong, kau sedang melihat Min Hyuk, ya?”

Mati aku!

Ha? Melihat Min Hyuk? Tidak, aku hanya sedang malas belajar saja,”

“Lagipula aku tidak pernah melihatmu dan Min Hyuk bersama lagi.”

“Oh, itu. Min Hyuk hanya sedang sibuk, tahu ‘kan, sebentar lagi band-nya akan tampil di acara bazar sekolah. Dia mempersiapkan itu.”

“Tidak sesibuk itu, kok. Kemarin ia kemari. Menanyakanmu.”

Soo Jung melotot. “Kau serius? Min Hyuk? Jam berapa? Kenapa aku tidak melihatnya?”

Soo Yeon mengangkat bahu. “Kau sedang keluar, Jung.”

“Lalu kenapa unni tidak mengatakannya padaku?!”

Soo Yeon tampak menimbang-nimbang.

“Min Hyuk bilang, jangan katakan pada Soo Jung kalau aku mencarinya.”

Soo Jung mengaitkan alisnya dengan bingung. Ngapain Min Hyuk berkata seperti itu, ha? Lalu tiba-tiba wajahnya muram. Min Hyuk hanya tidak mau tampak peduli—karena sebenarnya ia tidak peduli pada Soo Jung.

“Ayo makan. Mum bilang sudah siap.”

“Oke.”

Tapi Soo Jung masih memandang jendela kamar Min Hyuk di seberang, tanpa teropongnya.

***

Senin, Februari; 10.

Ya, Jung, kenapa kau menjadi aneh begitu saat di kafe kemarin?!” seru Min Hyuk sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Soo Jung. Well, itu sudah biasa. Min Hyuk bahkan pernah tiduran di kasur Soo Jung, dan orang tua dan kakak Soo Jung tidak mengusirnya.

“A-apa?”

“Kau juga jadi gagap.”

Soo Jung menarik napasnya.

“Aku sedang tidak enak badan.”

“Tidak normal, mau cokelat?” tanya Min Hyuk sambil mengeluarkan cokelat dari saku jaketnya.

Soo Jung menyambut tawaran Min Hyuk dengan senang hati.

“Omong-omong, kau kenal Yeonji dari mana?”

“Kebetulan dia seorang vokalis band perempuan sekolah.” Kata Min Hyuk. “Dia keren.”

“Apa suaranya bagus sekali?”

“Yap.” Sahut Min Hyuk. “Super keren.”

Sebenarnya Soo Jung ingin menjawab, “Kalau dibandingkan dengan suaraku bagaimana?” tapi ia sudah bisa menebak apa jawaban Min Hyuk. Jadi ia menelannya dengan susah payah dan mengangguk-angguk.

“Jadi kau ke rumahku karena ini?”

“Ini apa?” tanya Min Hyuk. “Maksudmu memberimu cokelat?”

“Yup, dan juga bercerita tentang Park Yeonji.”

“Bukannya dia keren?”

Soo Jung mengangguk, agak ragu. Tangannya yang akan menyuapkan cokelat berhenti di udara.

“Kau… suka padanya?”

“Tidak tahu,” sahut Min Hyuk, menggeleng. “Menurutmu bagaimana?”

Menurutku, jangan jatuh cinta pada siapapun; kecuali aku.

“Itu pertanyaan yang konyol.”

“Memang iya, tapi aku tidak bisa memutuskan sendiri.” Min Hyuk mengangkat bahunya, menatap jam weker di nakas. “Sudah malam, jangan lupa belajar, Jung.”

Soo Jung hanya bisa memandang bahu laki-laki itu.

***

Kamis, Februari; 20.

Ketika melihat Min Hyuk tengah berdiri sendirian di halte, ingin rasanya Soo Jung melangkahkan kakinya ke sana, melambai, dan kemudian bebas mengobrol, seperti dulu. Laki-laki itu tampak keren dan dingin sekaligus, dan Soo Jung tidak berani.

Kemudian Min Hyuk menoleh, menatap tepat ke mata Soo Jung yang juga tengah memandangnya. Dengan canggung Soo Jung melambaikan tangannya dan tersenyum.

“Ke mana saja kau?” tanya Min Hyuk, tidak ada kecanggungan dalam suaranya. Soo Jung terselamatkan.

“Kukira kau sangat sibuk,” ujar Soo Jung, mengulang ucapannya pada Soo Yeon. “Tahu, ‘kan, kau akan tampil di bazar dan tentu kau harus berusaha sangat keras. Kupikir aku akan.. well, mengganggumu.”

Min Hyuk mengernyitkan dahinya.

“Apa? Bukankah kau sudah terlalu sering menggangguku? Kau bahkan menggangguku saat aku dihukum berdiri dengan satu kaki.”

Itu sebelum aku sadar aku suka padamu.

“Kau ini kenapa, sih? Tidak biasanya, lagipula kenapa kau tidak mampir ke rumahku lagi? Sudah berapa hari?”

Berapa hari ya? Soo Jung sendiri tidak menghitungnya. Sekarang ia hanya ingin menangis. Tentunya setelah mengungkapkan semuanya… tapi tentu saja ia tidak bisa. Tidak mau.

“Kenapa kau berdiri di sana?” Min Hyuk menepuk kursi di sampingnya. “Aku sudah memberimu tempat, nih.”

“Terima kasih.” Suara Soo Jung serak.

“Kau flu, ya?”

“Min Hyuk-a, boleh aku bertanya?”

Tentu saja, Soo Jung tidak akan menanyakan perasaan Min Hyuk padanya. Ia tidak seberani itu.

Min Hyuk menjawabnya melalui tatapannya.

“Apa kau.. yakin kalau kau benar-benar menyukai kakak kelas itu?” tanya Soo Jung pelan. ia memandangi sepatu kets Min Hyuk alih-alih orangnya langsung. “Maksudku, menyukainya sampai-sampai kau merasa… well, kehilangan kendali—yah, seperti itu.”

Min Hyuk berpikir sesaat. Kendaraan lalu-lalang di depannya, tapi ia sendiri tidak tahu. Mengalihkan pandangannya ke arah Soo Jung; gadis itu menatapnya dengan wajahnya yang.. tidak biasa. Entahlah.

“Kau tidak berniat menjawabnya, ya?” kata Soo Jung. “Baiklah, sepertinya aku sudah tahu jawabannya.”

“Apa jawabannya?”

Soo Jung menyandarkan kepalanya ke kursi halte dan menatap langit biru. Kenapa ia harus terjebak dalam keadaan seperti ini? Kakaknya, Soo Yeon, bisa dengan mudah mendapatkan apa yang diinginkannya—pacar, uang, pekerjaan—tapi kenapa ia tidak?

Itu karena Soo Yeon tidak jatuh cinta pada sahabat laki-lakinya sendiri, ketika sahabatnya itu jatuh cinta pada orang lain.

“Maaf, Min Hyuk-a.” Ujar Soo Jung, bibirnya bergetar dan ia tidak bisa berhenti menggerak-gerakkan tangannya. Hitungan ketiga, ia bangkit dan menyandang tasnya. “Aku pergi duluan, ya.”

Tapi Min Hyuk mengulurkan tangannya dan menahan langkah Soo Jung.

“Apa yang terjadi?” tanya Min Hyuk, mengeratkan pegangannya.

Ketika Soo Jung menoleh, Min Hyuk tersentak mendapati mata gadis itu berpendar oleh air mata. Pegangannya mengendur dan ia hampir menganga.

“Aku tidak bisa. Ada banyak sekali yang ingin kukatakan—tapi aku tidak mau. Aku tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi dan aku berpikir ini semua salah..” Soo Jung memberitahu. “Aku ini seperti hedgehog, aku membutuhkanmu, tapi setiap kali berdekatan denganmu dan muncul kenyataan kalau kau menyukai perempuan lain, aku merasa sakit. Tapi, tapi, tidak ada cara selain dekat denganmu. Kau tahu..

“Ini semua tidak benar dan ini harus diakhiri. Semakin hari aku merasa ini tidak cukup, aku menginginkan lebih—dan aku sendiri tahu itu tidak benar. Menurutmu kita hanya teman, tapi aku berpikir lain. Aku tidak ingin hubungan kita sebatas ini dan aku tahu kau akan membenciku ketika aku mengatakan ini—tapi benar, aku tidak mau menyangkalnya lagi; aku menyukaimu.”

Tangan Soo Jung dingin dalam genggamannya. Seharusnya Min Hyuk beranjak, untuk sekedar memeluk Soo Jung atau menenangkannya.

Soo Jung mendongak dan memandangi ketika tangannya lepas dari genggaman Min Hyuk—dan itu cukup. Ia berbalik kemudian berlari secepat mungkin.

Rasanya sakit setiap kakinya menapak tanah. Rasanya tidak normal.

Soo Jung harap Min Hyuk memahami ucapannya tadi. Semoga.

Tapi ia sendiri tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika harus bertemu dengan Min Hyuk.

***

Senin, Februari; 24.

“Apa Soo Jung ada di rumah?” tanya Min Hyuk, penuh harap.

“Dia sedang di perjalanan, mungkin. Kau tahu, ‘kan, Soo Jung itu seperti apa.” Sahut Soo Yeon. “Omong-omong, kenapa kau jadi mencarinya setiap saat begini? Kalian bertengkar, ya? Ckck,”

“Bukan begitu, nuna. Tidak ada apa-apa.” Kata Min Hyuk. “Hanya saja—bisakah kau meneleponku ketika Soo Jung pulang?”

“Urusan mudah.” Jawab Soo Yeon, menatap lurus ke depan rumah. Ada sebuah mobil yang masuk. “Min Hyuk-a, sepertinya itu Soo Jung.”

Berbarengan, Min Hyuk dan Soo Yeon menoleh, tepat ketika sosok Soo Jung keluar dari mobil.

Saat Soo Jung mendapati Min Hyuk, ia merasa setengah jiwanya terbang begitu saja. Padahal sudah susah-susah melupakannya.

“Hai, unni.. Min Hyuk.” Sapa Soo Jung, tersenyum. “Sejak kapan kau di sini, Hyuk?”

Min Hyuk jelas salah tingkah, ia menggaruk kepala bagian belakangnya dan tersenyum, ragu.

“Hm, Soo Jung? Bisa kita bicara sebentar?” kata Min Hyuk. “Di luar?” tambahnya kemudian, cepat, karena tahu Soo Jung akan segera mengatakan hal klise seperti; “Memangnya sekarang kita tidak sedang berbicara?

Soo Jung memandang ke arah Soo Yeon, meletakkan ranselnya di kaki kakaknya kemudian berbalik menatap Min Hyuk.

“Ayo. Kau ingin bicara di mana?”

Min Hyuk tidak menyangka Soo Jung akan mengiyakan saja ajakannya. Ia kira Soo Jung akan menghindarinya—apalagi setelah insiden empat hari yang lalu itu. Tapi Soo Jung memang bukan gadis kebanyakan. Ia menggandeng Soo Jung dan mengajaknya keluar dari gerbang kediaman Keluarga Jung itu.

***

Senin, Februari; 24.

Hening. Tidak ada satupun dari mereka yang bicara. Soo Jung memutuskan, karena Min Hyuk yang mengajaknya keluar untuk ‘bicara’ maka ia tidak akan memulai pembicaraan sebelum Min Hyuk.

“Kau tahu, Soo Jung-a, aku baru tahu apa itu hedgehog.” Min Hyuk memberitahu. “Well, kehidupan mereka agak menyedihkan.”

Soo Jung tersenyum sekilas.

“Awalnya aku tidak paham maksudmu.” Kata Min Hyuk. “Itu kedengaran asing dan aneh di telingaku. Karena, well, baru kali ini aku mendengar seorang perempuan menyatakan perasaannya kepad—” Min Hyuk cepat-cepat menghentikan ucapannya ketika melihat raut keruh Soo Jung. “Maksudku, aku senang mendengarnya—ya, begitulah.”

“Kau senang, tapi kau juga tahu kau tidak bisa menerimanya, ‘kan?” ucap Soo Jung, tersenyum kosong. “Well, tidak apa-apa. Ini salahku, sih. Tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Lihat, aku baik-baik saja, ‘kan? Sebaiknya besok aku kembali mengejar Myung Soo sunbaenim saja, seperti dulu.” Soo Jung tertawa.

“Jangan!” seru Min Hyuk cepat, sebelum Soo Jung sempat membuka mulutnya lagi. “Jangan mengejar Myung Soo, kubilang jangan.”

Soo Jung mengerutkan kening.

“Apa Myung Soo sunbaenim sudah punya pacar?” sebenarnya Soo Jung ingin menambahkan, ‘ah, aku patah hati untuk kedua kalinya’ namun tidak jadi karena takut membuat Min Hyuk merasa tidak enak lagi.

“Belum, sih. Aku tidak tahu. Tapi pokoknya jangan.”

Well, Kang Min Hyuk, kau ini aneh.”

“Tapi aku ingin mengatakan sesuatu.” Kata Min Hyuk, menarik napas seolah akan membacakan pidato. “Karena aku baru tahu hedgehog, aku tidak begitu paham maksudmu kemarin. Bisa kau mengulanginya?”

Senyum di wajah Soo Jung lenyap.

“Kenapa? Apa sesusah itu? Bagaimana kalau aku yang mengulanginya?”

Soo Jung mengalihkan pandangannya demi menahan air mata.

“Aku tahu ini juga tidak benar, aku memikirkan ini dan kemudian aku sadar,” Min Hyuk berhenti, mendekatkan bibirnya ke telinga Soo Jung. “Aku ini orang terbodoh di dunia, ya? Sampai-sampai aku baru sadar jika aku jatuh cinta padamu, sejak lama.”

Soo Jung menganga, sekaligus merasa geli ketika getaran suara Min Hyuk sampai di telinganya.

Min Hyuk nyengir.

“Sepertinya aku sudah tahu jawaban dari pertanyaanmu waktu itu. Kelihatannya jawaban kira-kiramu itu salah.” Kata Min Hyuk. “Kau ingat, kan, Soo Jung? Pertanyaanmu tentang Yeonji nuna? Aku tidak menyukainya. Aku hanya—”

“Intinya, apa kau mau bilang kalau kau menyukaiku?” sela Soo Jung secepat mungkin.

Min Hyuk menutup mulutnya. Kemudian membukanya. “Ya, kupikir begitu.”

Dan Soo Jung menciumnya.

***

Selasa, Februari; 25.

Gawat. Sepertinya karena tidur terlalu malam—setelah acara jalan-jalan, belanja, makan, dan berciuman bersama Min Hyuk—membuat Soo Jung lupa diri dan taraaa, ia bangun terlambat. Wekernya tidak berbunyi, mungkin ia lupa menyetelnya.

Soo Jung jelas tidak akan terbangun jika tidak ada cahaya matahari yang menyorotinya dengan kejam.

Tapi kemudian, setelah ia bisa melihat dengan jelas, ia tidak sendirian di kamarnya. Well, ngapain Soo Yeon duduk di kursi belajarnya pagi seperti ini? Apa ia tidak pergi kuliah?

“Sudah bangun, Putri Tidur?”

Soo Jung syok. Jelas-jelas itu suara Min Hyuk! Tapi kenapa laki-laki itu berada di sini dan bukannya sekolah?

“Wow, keren ya, kau baru bangun setelah lima belas menit kerainya kubuka.”

“Kenapa kau berada di sini?” Soo Jung mengulet dan menyandarkan kepalanya. “Ada yang tahu sekarang jam berapa?”

“Sekolah diliburkan,” Min Hyuk memberitahu. “Salah siapa tidak berangkat ke sekolah selama empat hari hanya dengan surat ijin mengatakan ‘pergi’?”

“Jangan konyol, aku pergi ke rumah Nenekku.” Sahut Soo Jung dan mengucek matanya. “Omong-omong aku masih penasaran kenapa kau ada di sini.”

“Jangan bilang kau amnesia.”

“Apa?”

“Kau ‘kan pacarku. Lagipula dari dulu orang tuamu tidak pernah melarangku masuk ke kamarmu, bahkan ketika mereka tahu kau sedang tidak sadarkan diri.”

“Ya ya ya, benar. Terserah saja.” Soo Jung mengambil kain bandana di nakas dan menali rambutnya ke belakang. “Tumben kau bisa bangun pagi. Ha!”

“Enak saja, setiap berangkat sekolah pun aku selalu bangun lebih pagi daripada kau.” Min Hyuk mencibir. “Kau tidak berniat mandi?”

Alih-alih mendengarkan Min Hyuk, Soo Jung memilih menyelusupkan dirinya ke dalam selimut tebalnya. Berniat tidur lagi meski senyuman kini bertengger di bibirnya—oh, fallin’ love.

Beberapa detik setelah tubuh Soo Jung menghilang—minus sekumpulan rambut cokelat panjangnya yang sudah terlepas dari kain bandana—kasur Soo Jung berderak dengan suara keras, dan kini, Min Hyuk sudah berada di dalam selimut yang sama dengan Soo Jung.

Yya! Apa yang kau lakukan?!” seru Soo Jung, suaranya seperti menggema dalam ketebalan selimut, serta suara kekehan Min Hyuk.

Selanjutnya, kasur berderak dan Soo Jung menjerit-jerit—tampaknya Min Hyuk mengeluarkan jurus andalannya; menggelitiki.

“Soo Jung, Mum sud—” Soo Yeon berhenti bicara demi melihat kasur yang berderak, gelak tawa, seprai berantakan, dan selimut yang hampir copot. “Astaga, apa yang kalian lakukan!”

Min Hyuk dan Soo Jung muncul dari dalam selimut, memasang wajah inosen.

“Hah, menyebalkan! Teruskan saja, terserah kalian!” seru Soo Yeon kesal, meski tidak sepenuhnya marah. Ia menutup pintu dan tersenyum.

Kasur Soo Jung masih berderak ribut dan kali ini selimutnya sudah benar-benar lepas.

Yayayaya! Aduh, aduh, oh tidak! Jangan rambutku! Noooooooooooooooooo!”

THE END

A/N:

Hohoho, aku gak nyangka bisa nyelesain ini dalam waktu dua hari setelah kena penyakit malas yang tak berunjung😄 Apalagi kalau bukan karena aku lagi demen banget sama HyukStal sampe-sampe rela review The Heirs khusus episode 14 (yayaya, tahu kan di sana banyak MinHyuk-Krystal  momennya) dan nyari momen mereka di youtube!!

Yaampun aku lagi tergila-gila banget. Sumpah deh kenapa mereka gak pacaran sekalian?!! Apalagi setelah adegan kissing mereka wohohohohoh aku gak kuat tulunggggggggggg!!

kiss

(Masyaallah, aku blushing sendiri lihat ini TT)

Dan lagi aku abis namatin (untuk kedua kalinya) novel hasil aku minjem di perpus, yaitu karyanya Meg Cabot yang How To Be Populer (aku juga kebayang-bayang sendiri, gimana kalo aku jadi Crazytop [read: Steph Landry] dan Wufan KW jadi Jasonnya?!?) dan karena jiwaku yang labil akhirnya aku maksa diriku buat bikin ini dan taraaaaaaaaaa yesyesyesyes akhirnya aku berhasil namatin satu cerita! wohohoho!

Belakangan juga tugas banyak banget. Susah banget pegang hp/pc buat online. Yang ada tugas muluu yaaaaaaa aku capek TT

Sudah cukup. Aku mau lanjutin liat fmv (masih Krystal Minhyuk) terus ganti jadwal (gak usah belajar dulu deh,hww) wkwkwk.

Semoga ada yang baca ff ini deh hehehe, thanks a lot!

Bye byeee~~~

(Ini aku kasih bonus pict hasil aku fanshipperin(?))

kryss

kryst

17 thoughts on “Hedgelife

  1. Aku ini seperti hedgehog, aku membutuhkanmu… dan juga aku membutuhkan kaka untuk menyembuhkan penyakit hyukstal couple tingkat akut ini.. aku suka banget sama mereka berdua, suka banget juga sama tulisan kaka^^ next dong ka.. pengen baca tulisan kaka yang lai juga nih hehehe^^

    Like

  2. Hah… Satu tahun udah berlalu tpi knpa baru nemu ff ini ?? Bner2 keren ., hhaa suka sma alur dan gaya bahasanya, santaii… Hhee ahh kpan yaa hyukstal ada d dunia nyata …

    Like

  3. Woah, sumpah ini keren
    Aku udah sering nemuin ff yang tema ceritanya udah biasa tapi bisa ditulis dengan bagus sehingga jd menarik
    Ff mu juga gitu, tapi ff ini lebih unik
    Aku gak tau deh mau komen apa lagi
    Yang jelas aku suka banget caramu milih kata, nentuin alur, nggambarin karakter
    Keren! Seribu jempol buat author
    eh ngomong2, aku masih gak ngerti soal hedgehog itu
    Itu hewan, kan? Tp emg nya dia kenapa smp Soojung mengumpamakan keadaannya seperti keadaan hedgehog?
    kayaknya kok si hedgehog ini malang bener hidupnya😦
    Terima kasih untuk ff yg super duper manis ini
    Semangat terus berkarya🙂

    Like

  4. wah.. suka sama ceritanya.. bener bener jadi kepengen kaya soojung.. enak tuh punya temen yg deket bgt, berubah jadi cinta yg berbalas.. kan kalo gitu kit udh kenal satu sama lain.. :3

    Like

  5. Muaaahahahah… Cerita lo gokil!!!
    Pengen punya hubungan kayak gitu, seandainya ini bukan Indonesia, bisa keluar masuk kamar tanpa diusir orang tua,haha…
    Dan punya kakak yang super duper pengertian banget, hah, envy!
    Btw, aku juga suka couple ini, suuuuukkaaa baaaangeet!!
    So, thanks udah bikin nih story ^^

    Like

    1. Haluuuu!
      Hahahaha kapan gitu di sini ada cowok macem Minhyuk yg karakternya di Heirs gituuu /mendamba/
      Makasih juga yaaaa udah baca ini heuheuuuuu :3

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s