[Oneshot] Old Memories


hhhj

 Old Memories written by

bepimee (@meydawk)

Casts

Yoo Ah-Ra Hello Venus || Do Kyung-Soo EXO

|| Genre Life, Romance, Fluff || Rating G & T || Length 7431 words ||

Summary

Kenangan itu telah usang, tapi bahkan Ara masih mengenangnya.

Warning: Long post.

.

.

.

Malam itu badai.

Angin besar bertiup dengan kasar, mengguncang pepohonan di luar sana, dan membuat ranting pohon itu menggesek jendelanya—mengakibatkan suara yang membuat sakit kepala, dan ketakutan yang tak beralasan.

Bibi Song sedang tertidur, dan Ara tentu tidak berani membangunkannya. Apalagi mengingat bibinya itu sudah sangat kelelahan. Meskipun ia anak kecil, bukan berarti ia tidak mengetahui keadaan orang terdekatnya. Jadi karena kasihan pada Bibi Song, Ara memutuskan melenyapkan diri di bawah selimutnya. Topi kain lembutnya terletak di nakas, dan tangannya tidak sampai untuk menjangkaunya. Padahal, saat ketakutan seperti ini biasanya Ara akan memeluk topi itu erat-erat, tapi tidak memakainya.

Kemudian terdengar pintu berderak. Ara terperanjat seketika. Otaknya tiba-tiba mengingat cerita-cerita temannya mengenai hantu inilah, hantu itulah, dan itu membuatnya berpikiran buruk. Apakah mungkin Chucky? Atau boneka dalam film Dead Silence? Secara refleks, ia menoleh pada bibinya, dan well, bibinya masih belum bangun.

Pintu terbuka dan Ara menahan napas demi melihat ‘siapa’ yang tega membuatnya ketakutan setengah mati seperti ini.

“Ara?” sosok temannya Kyungsoo kemudian terlihat, dan Ara mengutuknya setengah mati, meskipun dalam hati. Kyungsoo menghampiri ranjangnya, anak itu memakai topi kain seperti milik Ara, hanya berbeda motif dan warna saja.

“Kyung.. Soo?”

“Benar. Ini aku.” Sahut Kyungsoo, membuat Ara yakin jika yang mendatanginya memang benar-benar Kyungsoo asli, dan bukannya perwujudan siluman. “Mau melihat sesuatu yang indah?”

“Apa?”

“Ikut saja. Ayo, bergegas. Nanti seorang perawat menangkap kita.”

Buru-buru Ara turun dari ranjangnya, berlari secepat kilat mengikuti Kyungsoo yang menggandeng tangannya. Tangan Kyungsoo terasa berkeringat, namun Ara tidak peduli itu. entahlah.

Beberapa saat mereka berlari, kemudian berhenti ketika tiba di ruang tunggu, tempat di mana sebuah akuarium besar terletak. Semua ruangan gelap, dan bahkan Ara tidak merasa takut, sama sekali tidak. Dua lampu tiga warna dalam akuarium menyala, menciptakan seperti bayangan di lantai, seperti aurora. Ara terperangah dibuatnya. Ditambah lagi, ikan-ikan bermacam warna berenang di dalamnya. Mereka tampak semakin menakjubkan.

“Bagaimana?” tanya Kyungsoo. “Aku baru menyadari ini ketika perawat mengantarku ke kamar mandi, beberapa jam yang lalu.”

“Ibumu tidak menginap?” Ara bergumam sambil masih menatap akuarium itu, takjub.

Kyungsoo merengut. “Aku tidak tahu kenapa Ibu tidak mau menemaniku. Tapi Yura nuna bilang dia hanya sedang sibuk.” Katanya memberitahu. “Aku benci kesibukan.”

Ara kemudian menyadari sesuatu.

“Mm, Kyungsoo? Kapan operasimu dilakukan?”

“Yura nuna bilang, aku bisa melakukannya besok jika keadaanku memungkinkan.” Kata Kyungsoo dan tersenyum senang. “Aku sudah membayangkan akan keluar dari sini, dapat memanjangkan rambut tanpa harus memakai topi ini lagi. Serta bermain bola.”

Ara tidak menemukan kesenangan dalam bermain bola. Tapi ia juga senang membayangkan dirinya bisa memanjangkan rambut seperti rambut perawatnya. Namun operasinya… Ara pernah mendengar seseorang berbisik di taman bermain, bahwa penyakit yang ia atau Kyungsoo derita adalah penyakit berbahaya. Karena itu, penyembuhannya pun sulit. Ara masih kecil, tapi ia tahu bagaimana rasanya dioperasi.

Dan terkadang—bahkan bisa disebut kebanyakan dalam kasusnya—operasi ini gagal. Lalu orang itu meninggal.

Ara memalingkan wajahnya dari Kyungsoo ketika matanya menjadi pedih, ia menatap satu ikan dalam akuarium. Ikan yang tampak lemas, mungkin sakit.

“Ei, Ara, coba kau lihat dia.” Seru Kyungsoo heboh sambil melihat ikan yang lemas tadi. “Matanya hanya satu! Dan ekornya juga rusak.. dan lihat! Tubuhnya berdarah. Kasihan sekali.”

Ara jadi ingin menangis karena membayangkan Kyungsoo juga akan menjadi seperti si ikan itu. Ara sendiri sudah menjalani dua kali operasi, dan rasanya tidak pernah menyenangkan. Operasi selalu membuat tubuhnya penuh luka, dan sakitnya lamaaa sekali.

“Kyungsoo, coba dengar aku.” Ujar Ara setelah beberapa detik memandang sedih ikan tadi. “Kau janji akan menemuiku setelah operasi, kan?”

“Yap!” Kyungsoo jelas belum pernah melewati operasi, karena bahkan anak laki-laki itu tampak ceria ketika membicarakannya. “Karena nanti aku akan sehat, sebagai tanda berteman, aku memberikanmu topiku.” Ia melepas topi kain lembutnya yang bergambar Batman dan memberikannya pada Ara.

Kemudian seorang perawat melihat mereka.

“Kyungsoo! Ara! Sejak kapan kalian di sana?!”

***

Tapi, Kyungsoo tak pernah datang.

Sekalipun. Tak pernah.

Aku tahu jadwal dimulai dan berakhirnya operasi Kyungsoo, dari Perawat Im. Dia bilang, seharusnya beberapa hari setelah operasi—jika operasinya berjalan lancar—Kyungsoo akan kembali seperti sedia kala. Mungkin agak lemas, tapi anak itu pasti sudah sadar dan dapat tersenyum ceria kembali.

Jadi, empat hari berikutnya aku pergi ke ruangnya.

Di sana kosong.

Bibi Song membantuku menanyakannya pada Yura unni, dokter favorit Kyungsoo. Aku tidak bisa mendengar mereka karena Yura unni mengajak bibiku masuk dalam ruangan, dan meninggalkan duduk di kursi mendatar yang panjang. Kemudian, ketika Bibi Song keluar, ia tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya menarikku dan tersenyum, sama seperti sikap biasanya.

Tapi tentu saja aku tidak berhenti, aku mencecarnya. Bertanya apa yang terjadi pada Kyungsoo. Mengapa ia tidak mendatangiku seperti yang ia janjikan, dengan sebelah tangan menggenggam topi kain lembut milik Kyungsoo yang tersimpan dalam saku celanaku.

“Yura unni bilang Kyungsoo baik-baik saja. Operasinya berjalan menyenangkan.” Bibi Song memberitahu dan aku tahu ia jujur. Pada saat itu, aku senang mendengarnya. “Tapi keluarganya sangat sibuk, sehingga setelah Kyungsoo baikkan, mereka langsung membawanya pulang.”

“Kenapa… Kyungsoo.. tidak.. memberitahuku?” tanyaku. “Kok dia mengingkari janjinya sendiri..” saat itu aku ingat, aku menangis.

Tapi toh, itu sudah empat belas tahun yang lalu. Sudah terlalu lama untuk diulang kembali. Ibaratnya, kenangan itu sudah terlalu usang, bahkan untuk diingat. Hanya saja, otakkulah yang tidak mau berhenti. Aku terus mengingatnya, berpikir bagaimana keadaan Kyungsoo sekarang. Aku khawatir apabila yang dikatakan Yura unni tidaklah benar, dan berpikir bahwa sebenarnya operasi Kyungsoo gagal, dan ajal menjemputnya, tapi mungkin pikiran itu lebih baik daripada sekarang ini.

Aku Yoo Ara. Leukimia menghinggapiku ketika berumur empat tahun, tapi setidaknya kanker itu belum terlalu parah sehingga aku masih dapat hidup sampai sekarang. Aku dua puluh dua. Sudah terlalu tua untuk mengingat kenangan di rumah sakit itu. Tapi bahkan sampai sekarang, aku masih menyimpan topi itu.

Topi pelindung rambut agar tidak rontok dan berjatuhan. Topi kain lembut yang bisa ditekuk-tekuk. Topi usang yang berbau Kyungsoo. Topi milik Kyungsoo.

***

“Senyum, Ara! Senyum!” seseorang berteriak kepadaku, tapi aku tidak terlalu peduli pada teriakannya itu. Memangnya aku peduli apa aku terlihat cantik di potret pernikahan temanku atau tidak?

“Ayolah, Ara. Tersenyumlah. Aku tahu kau benci gaunmu, tapi masa kau tidak mau membuat sahabatmu ini terlihat senang dalam potretnya? Bagaimana komentar anakku kelak ketika melihat potret itu dan berpikir, ‘wah kenapa wajah Ibu terlihat buruk sekali? Apa jangan-jangan dia tidak menyukai Ayah?’” kata Alice sambil merengut ke arahku.

“Oke, baiklah.” Sahutku. Terpaksa tersenyum dalam balutan kain tebal bewarna biru berbercak kuning—benar, gaun ini menjijikkan—yang mengekspos bagian pundak. Aku tahu aku tidak terlihat baik dalam pakaian seperti ini. Jika bukan karena Alice, aku jelas tidak akan pernah berdiri di  sini dengan pakaian sampah seperti ini.

Sesi pemotretan selesai. Mulutku kering dan aku butuh minum karena terus-terusan meringis dengan konyol.

“Alice, kau tidak menyediakan minuman untuk tamu ekslusif?” tanyaku sambil menatap seisi ruang tengah Keluarga Song—oke, Bibi Song adalah Ibu Alice—yang disulap menjadi ruang pemotretan karena memiliki background yang dinilai paling berkelas dan tidak terlihat seperti ‘amatir’.

“Ambil saja sendiri di dapur. Kayak kau belum pernah masuk ke sini saja.” cetus Alice, kemudian kembali tersenyum, kali ini dengan model menyamping. “Oh ya, Ara, jangan pergi dulu seusai pesta, ya. Ada seseorang yang ingin kukenalkan padamu.”

“Lupakan saja!” sergahku dari pembatas ruang tengah dengan bagian ruang terdalam, atau dapur. Terserah.

***

Pesta Alice lumayan. Maksudku, tidak terlalu membosankan karena aku benci segala jenis pesta. Nah, kau bisa mengambil kesimpulan bahwa aku termasuk tipe antisosial. Di sini banyak teman lamaku dan juga tetangga, sehingga tidak membuatku mati kutu ketika Alice sibuk dengan kenalannya yang lain.

Sejak sejam yang lalu, aku sibuk bolak-balik ke sana kemari, hanya untuk menyerbu makanan mewah dan minumannya. Itulah satu-satunya keuntungan mengikuti pesta. Kau bisa makan sepuasnya, tanpa harus membayar. Kecuali apabila mempelai perempuannya adalah orang terpelit sedunia.

“Coba kuhitung, kau pasti sudah minum milkshake ini paling tidak tujuh kali.” Kata Alice. Aku kaget melihat dia tiba-tiba di sampingku. “Dan kukis itu.. hm, delapan?”

“Ralat. Sembilan.” Kataku. “Bersyukurlah karena masakannya enak, sehingga aku tidak perlu khawatir mati bosan di sini.”

Alice jelas mengacuhkanku karena dia malah melambaikan tangannya yang dilapisi oleh sarung tangan. “Aku ke sana dulu, oke? Berhenti makan atau gaun yang kubelikan itu akan meledak dalam hitungan ketiga.” Katanya dan tersaruk gaunnya ketika berjalan ke bagian pojok.

Aku mengangkat bahu. Merasa konyol karena pesta masih ramai saja, padahal aku sudah merindukan kasurku setengah mati. Aku mengambil kukis cokelat sekali lagi dan melemparkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari seseorang yang kukenal yang juga sedang sendirian.

“Kau mencari siapa?” tanya Alice lagi, aku kaget dia bisa berjalan dari pojok sana ke pojok sini dalam waktu kurang dari dua menit. Hebat. “Semua orang sedang sibuk dengan pasangannya. Apalagi sebentar lagi akan ada acara dansa.”

“Dansa!” aku berseru dengan shock. “Sepertinya kau lupa kalau ini bukan tahun 90-an lagi.”

“Al, kau tidak berniat berdansa dengan suamimu?” tanya Nara pada Alice. Kemudian ia menoleh kepadaku. “Ara! Kau pasti takjub sekali melihat yang ini. Tahu, tidak, laki-laki itu memakai kemeja putih dan celana bahan hitam! Coba kau sendiri yang lihat! Aku tidak pernah menyangka kalau suami Alice punya teman yang semacam itu!”

“Apa yang kau katakan?” tanyaku, berpura-pura tidak paham padahal aku tahu apa yang dibicarakan seorang Nara. Tentu saja, laki-laki. “Tata bahasamu hancur sekali. Ibumu akan kecewa mendengar kau mengatakan ini. Juga kalimat terakhirmu. Sadar tidak kalau arti katanya bisa memiliki konotasi yang sangat tidak bagus?”

“Yoo Ara! Kenapa kau senang sekali menghancurkan kesenanganku?! Memangnya kenapa kalau Ibuku adalah seorang.. bla.. bla..”

“Hentikan itu, girls.” Kata temanku Yeonji. Dia tahu benar bagaimana ketidaksukaanku pada tema gosip dan laki-laki. “Sebentar lagi pesta akan selesai. Kalian tidak berniat mengambil makanan?”

***

Sekarang pestanya sudah selesai. Alice berada di tengah kami, sekarang ia memakai rok terusan mewah berlipit. Rambutnya tidak lagi tertutupi tudung dan itu membuatku lega, karena melihat tudung pernikahan membuat perasaanku aneh. Memang masih ada segelintir orang di sini, dan makanannya pun masih banyak.

“Ara, apakah kau penasaran laki-laki seperti apa yang rencananya akan kujodohkan padamu?!” kata Alice, seolah-olah dia adalah peramal yang tahu segalanya tentang masa depanku.

Aku mengedik, setengah tidak peduli. Biasanya, laki-laki yang ‘dibawakan’ Alice untukku selalu berada di bawah standar normal. Maksudku, mereka benar-benar tipe yang akan membuat orang sepertiku sakit kepala. Jadi, sudah jelas jawabannya.

“Aku yakin kau pasti terkejut karena yang satu ini benar-benar tidak bisa kaulewatkan begitu saja.” Alice memberitahu. Sekedar informasi, itu pula yang dikatakannya setiap kali akan mengenalkan seseorang kepadaku. Alice terobsesi memilihkan seseorang yang pas untukku. “Aku benar-benar bisa merasakan chemistry antara kau dan laki-laki ini.”

Aku mendengus. “Chemistry apa, aku bahkan tidak pernah bertemu dengan laki-laki yang kaumaksud itu. Oh, dan jangan kecewa apabila aku tidak berpikiran sama denganmu.”

“Alice, kau masih tidak menyerah mengenalkan semua laki-laki yang kau pikir pas untuk Ara? Apa kau serius?” tanya Nara, ia percaya bahwa aku akan mendapatkan jodohku, kira-kira dua puluh tahun kemudian, ketika ia dan yang lain sudah menimang cucu.

“Alice hanya gila.” Kata Yeonji sambil tertawa. “Tapi omong-omong, Nara, laki-laki yang—”

Ucapan Yeonji terhenti kala Alice melambai kepada seseorang (aku tidak melihatnya), dan sepertinya orang itu berjalan kemari. Tapi aku tidak tahu mengapa mereka semua diam.

“Dia ada di sini!” aku membaca raut muka Nara. Ia terlihat seperti baru saja mendapat lamaran dari orang tertampan dan terkaya di seluruh dunia.

“Halo.” Kata sebuah suara laki-laki yang berat.

Aku menoleh, mengikuti pandangan Yeonji dan Nara yang tertuju pada laki-laki itu. Karena laki-laki itu membelakangiku, aku jadi tidak bisa jelas melihat wajahnya. Ia bertukar sapa dengan Alice (yang heboh mengenalkan laki-laki itu pada Yeonji dan Nara yang tampak antusias). Mereka berbicara beberapa detik, melupakan seseorang yang terbelakangi di sini, dan menanggapi kenyataan bahwa aku super-penasaran akan wajah laki-laki ini.

“Oh, maaf, dan ini Ara. Yoo Ara,” kata Alice sambil berbalik, begitu mengingatku. Well, membutuhkan waktu semenit. Laki-laki itu juga berbalik.

Tapi aku kenal wajah itu.

Aku kenal mata itu.

Aku kenal hidung itu.

Aku bahkan kenal sususan gigi itu.

Aku kenal semuanya, yang seharusnya sudah kulupa sejak lama.

Dan seperti orang idiot, aku hanya diam dan menatapnya dengan pandangan kosong. Otakku mengirimkan impuls, dia masih hidup, Tuhan. Dia. Masih. Hidup.

Terakhir, aku hanya merasa bahwa rokku mengibas terlalu keras, karena aku sudah berlari keluar dari gedung.

***

Pagi ini, aku tidak bisa bangun dari kasurku. Bukan, bukan karena bertemu dengan seseorang yang kuyakini adalah Kyungsoo; tapi karena kakiku memar ketika kemarin aku berlari memakai high heels dari gedung resepsi Alice ke rumahku, yang kira-kira jauhnya sekitar tiga kilometer.

Aku memang gila.

Lagipula, aku terlalu malas untuk bangun pada hari Minggu. Tahu, ‘kan, saatnya istirahat. Meskipun kemudian aku sadar bahwa ini bukan hari Minggu. Teleponku berbunyi sekitar dua belas kali, yang kuyakini dari Alice, Nara, atau Yeonji. Jelas untuk menanyakan sikapku kemarin. Bersyukurlah karena Alice pasti masih sibuk dengan keberangkatannya ke Jeju—awalnya ia memaksa pergi ke Hawaii, tapi semua orang menolaknya dan kurasa dia kalah—sehingga tidak datang kemari untuk memaksaku bercerita.

Aku mengecek weker dan menyadari bahwa sudah dua belas jam aku tertidur. Dan sekarang sudah pukul sebelas. Aku pasti akan dikenai sanksi karena membolos kerja tanpa keterangan.

“Yoo Ara!” Ibuku berteriak, langkah kakinya menggema di penjuru ruangan. “Ada Alice dan Nara di sini!”

Aku menghela napas, kemudian menyusupkan diriku sendiri dalam selimut tebal.

***

“Jadi, jelaskan padaku kenapa kau melakukannya kemarin.” Ucap Nara dengan nada memerintah.

“Apa yang harus kujelaskan? Tidak ada apa-apa. Aku hanya terlalu syok, karena seperti yang kaubilang, dia memang tampan dan sangat tipeku.” Sahutku. “Tapi ini sungguhan lho,”

“Itu tidak terdengar seperti kau.” Cetus Alice dan menggoyang-goyangkan badanku. “Ayolah, bersikap jujur, untuk kali ini saja. Kau bahkan tidak bersikap seperti itu waktu kau bertemu dengan artis favoritmu.”

Aku ingat, Alice masih berumur enam tahun ketika aku dirawat secara intensif di rumah sakit. Lagipula, aku tahu jika ia benci rumah sakit, sehingga tak sekalipun dia mengunjungiku. Aku bertemu dengannya setelah operasiku berjalan lancar dan aku baikkan. Intinya, mustahil jika Alice tahu siapa Kyungsoo.

“Dia terlihat seperti malaikat.” Aku masih berusaha mengeluarkan kebohongan. “Sungguh, aku serius! Kau boleh menamparku kalau aku bohong.”

“Dia memang terlihat seperti itu sih..” gumam Nara, ia menopang dagu dan mengangguk-angguk. “Berhubung semalam kau pergi begitu saja, kau jadi tidak sempat berkenalan dengannya.”

“Ayo dong, katakan siapa namanya..” kataku setengah memohon, well, ini kulakukan untuk meyakinkan Alice dan Nara. “Sebentar lagi aku akan pecah berkeping-keping karena kau tidak juga mengatakan yang sebenarnya..”

“Namanya Do Kyungsoo. Kau tahu Penerbit DO? Itu milik keluarganya, dan sebagai kejelasan, itu milik Kyungsoo juga.”

Aku terdiam. Itu memang Kyungsoo.

***

“Kau benar-benar tidak berencana meninggalkan bilikmu dan pergi bersama kami?” temanku Sujin menawariku untuk yang terakhir kali, dan hanya kubalas dengan gelengan.

“Oke, pergi dulu ya!” seru temanku yang lainnya, Dabin, sambil melambai.

Sekarang ruang kantorku sepi, hanya ada aku dan Clarise—pemilik perusahaan editor ini—yang berada dalam ruangan pribadinya. Sebenarnya aku sudah merampungkan tugasku dan sudah siap mengirimkannya ke bagian layout untuk dicetak, tapi biarkan saja, toh sekarang waktu makan siang dan aku bebas melakukan apapun dengan komputerku.

Jadi pertama-tama, aku membuka e-mail dan mengecek apakah temanku atau saudaraku atau keluargaku menghubungiku. Hanya ada beberapa e-mail dari teman semasa SMU-ku, mengatakan kalau dia butuh bantuanku dalam skripsinya—oh, well, rupanya dia belum lulus kuliah juga.

Pintu ruangan pribadi Clarise terbuka dan dia keluar, tampak senang dan bersemangat.

“Arie, kau seharusnya mendengar kabar menyenangkan ini.” katanya. Well, karena dia orang Eropa, ia dengan seenaknya merubah namaku. Dan aku tidak bisa membantah ini karena dia adalah bosku dan aku takut dipecat. “Akhirnya akan ada pertemuan penting dengan penerbit terkenal!”

Aku tidak menemukan sesuatu yang kedengaran begitu hebat. Maksudku, bukannya perusahaan editor ini sering diundang pertemuan penting dengan penerbit terkenal?

“Lalu?” tanyaku, kedengaran agak konyol karena aku seolah tenggelam dalam bilikku. “Bukannya kemarin juga ada penerbit terkenal di sini?”

“Jangan konyol, Yo Arie,” selain mengganti nama panggilanku, dia juga merubah margaku. “Ini penerbit terkenal sungguhan! Setelah nama kita tercantum dalam kolom kerjasama, kita akan melambung—wush!—dan terkenal! Bukannya itu keren?”

“Apa gajiku akan naik setelah itu?”

Clarise melempar pandangan kesalnya padaku. “Kau ini memang tidak asyik!” sungutnya. “Omong-omong, kenapa kau tidak berangkat kemarin? Tanpa keterangan pula!”

“Oh, maaf, sahabat sekaligus saudaraku menikah dan aku terlalu lelah setelah berdiri kurang lebih enam jam penuh dalam pernikahannya.”

“Lain kali jangan melakukan itu lagi.” ujar Clarise dengan penuh wibawa. “Entahlah, tapi banyak sekali penulis yang lebih mempercayakan novelnya padamu. Dan itu bukan berarti aku akan menaikkan gajimu.”

Aku meringis. Clarise memang bukan tipe yang bisa diajak bercanda kapanpun.

***

“Penerbit DO akan bekerja sama dengan perusahaan editormu?! Apa kau gila?!” teriak Nara begitu aku menceritakan apa yang dikatakan oleh Clarise. “Kau ‘kan tahu itu penerbitan milik Do Kyungsoo!”

Ups, aku lupa sama sekali pada hal itu. Bukan berarti aku sudah tidak peduli pada Kyungsoo, aku hanya lupa sebentar.

“Menurutmu, apa Kyungsoo yang akan pergi ke kantormu itu?” tanya Nara antusias. Padahal dulu ia begitu menentangku untuk masuk ke perusahaan  editor itu, “Itu konyol, Yoo Ara!” katanya berulang-ulang, tapi kuacuhkan. “Dan Ara, jangan bersikap konyol lagi dengan berlari seperti kemarin itu.”

“Aku juga tidak tahu.” Jawabku. “Akan kuusahakan,”

Nara menopang dagunya dan tampak berpikir. “Kalau kau bertemu dengan Kyungsoo, maukah kau menanyakan namanya dan meminta maaf karena tingkahmu kemarin? Karena menurutku laki-laki benci perempuan yang jahat,”

“Jadi menurutmu tindakanku kemarin itu jahat, ya? Aku ‘kan hanya shock.”

“Tapi kalau aku jadi Kyungsoo, aku pasti akan membencimu setengah mati.” Kata Nara. “Bersyukurlah karena Kyungsoo adalah tipe laki-laki pemaaf. Dia bahkan tampak baik-baik saja setelah kau pergi.

Oh, begitu. Aku mengangguk-angguk sambil mengetik di laptop-ku. Kemudian selera humorku muncul.

“Padahal aku setengah berharap dia akan benci kepadaku.” Ujarku, berpura-pura seolah putus asa. Nara tipe sahabat yang akan ikut prihatin melihat temannya sedih. “Tahu ‘kan, benci bisa jadi cinta. Aku ingin dia menyukaiku.”

Nara menepuk pundakku, menyabarkanku. “Tidak masalah, jangan melakukan hal bodoh lagi, oke? Kau pasti mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya, lagipula kau kan belum pernah kenal dengannya. Benar, ‘kan?”

Aku mengangguk saja, setengah menahan tawa.

***

Esoknya, setumpuk kertas-kertas surat sudah berada di atas mejaku dalam keadaan mengenaskan. Maksudku, Clarise pasti terlalu malas membacanya sehingga hanya menyerahkannya ke mejaku, untuk kubaca. Di antaranya ada beberapa penulis yang menyatakan dukungannya kepada pihak kami, ada beberapa perusahaan yang menawarkan kerja sama, dan yang terakhir—yang membuatku merasa agak senang—surat niaga dari DO Publishing yang mengatakan rapat diadakan jam dua, kemudian pada bagian bawah tertera tanda tangan bos mereka, Do Kyungsoo.

Agak sedih membacanya. Well, Kyungsoo bersikap begitu biasa. Apa ia lupa kepadaku? Seingatku, aku tidak mengalami banyak perubahan. Well, rambutku sekarang memang panjang. Dan jelas aku lebih tinggi daripada delapan belas tahun yang lalu. Tapi seharusnya ia tetap mengenaliku. Kecuali jika dia mengalami kepikunan dini.

“Apa isi surat-surat itu? Aku memiliki banyak sekali pekerjaan sehingga terpaksa meletakkan surat itu di mejamu. Sementara kau membacanya, aku bisa mendengar pernyataan langsungnya darimu.” Clarise memberitahu dan meringis.

“Sudah selesai kubaca. Surat pertama dari perusahaan penerbitan baru yang mengajak kita utuk bekerja sama, yang kedua—”

“Katakan yang paling penting saja, Arie. Aku tidak punya banyak waktu untuk hal itu.”

“Kalau begitu, DO Publishing.” Kataku. “Hm-mm, mengundangmu untuk menghadiri rapat jam dua, siang ini.”

Clarise tampak ceria setelah aku selesai bicara. “Aku pasti akan datang!” serunya. “Kau tahu, Arie, pemilik penerbitan itu sangat tampan dan masih muda. Kira-kira dua tahun lebih muda daripada aku.”

Ah, jadi itulah penyebab Clarise begitu tertarik pada DO Publishing. Seperti teman-temanku saja, dan… apakah aku juga?

***

Sekali lagi aku menatap diriku di cermin. Aku tampak lumayan dengan blazer krem dan celana denim bewarna pudar. Sengaja kukuncir rambutku karena hari ini sangat panas, dan aku benci ketika keringat membuat rambutku menempel pada bagian leher belakang.

Setelah merasa benar-benar siap—astaga, aku tak percaya ini, apakah aku berdandan untuk Kyungsoo?!—aku keluar dari rumahku dan naik taksi.

Clarise sudah menantiku begitu aku sampai di depan gedung DO Publishing. Dia mengenakan kemeja putih dan rok ketat serta high heels. Rambut panjang bergelombangnya tergerai, dan aku turut berduka karena aku tahu bagaimana panasnya Seoul hari ini.

Kami masuk dalam gedung dengan Clarise di depan, tentu saja, memangnya aku tahu seluk-beluk tempat ini? Lagipula, ini adalah kunjungan perdanaku. Perusahaan penerbit ini besar sekali, itu berarti keluarga Do Kyungsoo sangat kaya. Tapi aku ingat, Bibi Song pernah bilang kepadaku bahwa Ibu Kyungsoo adalah seorang aktris terkenal. Meski aku tak pernah mengetahui siapa ia.

“Arie, cepat masuk!” kata Clarise, ia sudah mendorong pintu besar itu sehingga terbuka sedikit. “Jangan melamun terus. Ini kesempatan besar kita!”

***

Rapat berjalan membosankan bagi Clarise, apalagi bagiku. Ternyata, pemilik perusahaan ini sendiri—alias Kyungsoo—sedang mengikuti rapat lain yang lebih penting, dan itu membuat semangat Clarise turun.

Begitu kami selesai, Clarise langsung menyeretku keluar, menyelusuri koridor-koridor dengan cepat.

“Menyebalkan sekali, padahal aku sudah memakai pakaian dan riasan favoritku, tapi apa yang kuterima?!” cetusnya sebal.

Aku terkikik dengan pelan, takut membuat Clarise makin kesal. Salah siapa berdandan seperti itu tanpa kepastian akan bertemu dengan orang spesial. Apa? Spesial? Apakah aku serius mengatakannya? Kalau ada Alice di sini, ia pasti akan menggumam, “Itu tidak kedengaran seperti kau.” seolah-olah dia bisa memprediksi apa yang ada di pikiranku. Tapi tunggu dulu, semua yang dikatakan Alice tentangku selalu benar. Dia tahu saat aku berbohong, ketakutan, atau sedih. Dia tahu semuanya.. dan ini membuat perasaanku aneh.

Apa dia tahu perasaanku… pada Kyungsoo?

Aneh rasanya memikirkan bahwa Alice—sahabat sekaligus sepupuku—yang jarang bersikap serius kepadaku tahu bahwa aku memiliki perasaan khusus kepada seseorang.

Kemudian, tiba-tiba saja seseorang memegang kepalaku dan mendorongnya untuk menunduk—kuduga itu pasti Clarise. Aku tidak tahu untuk apa kami menunduk, tapi saat mataku mengarah ke depan, sepatu-sepatu hitam—kecuali satu orang di depan yang mengenakan sepatu cokelat kasual—lewat di hadapan kami, kemudian berhenti.

“Kau dari Cheers Editor, ya, ‘kan?” tanya seseorang. Kadang-kadang aku malu mendengarkan seseorang menyebutkan nama perusahaan tempatku bekerja. Kedengarannya begitu kekanakan.

Aku masih menunduk dengan konyol sampai Clarise bicara. Aku mendongak dan mendapati seseorang—oke, laki-laki yang kukira adalah Kyungsoo—berdiri di hadapan kami, dan dia sedang menatapku. Well, bukan berarti aku terlalu percaya diri atau bagaimana, tapi matanya memang mengarah ke padaku.

“Oh, dan ini salah satu pegawaiku, pegawai terbaikku.” Clarise masih terus bicara, kemudian ia melirikku.

Butuh beberapa detik untuk membuka mulut dan menemukan suaraku. “Yoo Ara.”

Kyungsoo masih memandangiku, dan aku tahu melalui matanya, bahwa ia mengenaliku. Seperti yang seharusnya.

***

Malamnya, aku duduk di kursi belajarku dan memikirkan ini. Hari aku banyak berpikir, bahkan hal sepele pun aku pikirkan. Kalau kemampuan membaca mata memang benar, seharusnya Kyungsoo tidak bersikap seolah-olah ia tidak mengenalku. Ia bahkan hanya mengangguk, menyebutkan namanya di depanku pun tidak.

Seharian ini, Clarise berbicara mengenai Kyungsoo terus menerus. Di mobilnya, di ruangannya, di kafe, bahkan ketika aku akan pulang. Agak menyebalkan sih, tapi aku jelas tidak punya pilihan lain.

Aku mendapat banyak informasi tentang Kyungsoo. Bahwa ia pandai dalam matematika, Ibunya yang sudah meninggal (oh! Aku baru tahu), ia suka memasak, ia suka mencampurkan warna hitam dan putih, ia benci muisjes bertebaran di pantri dapurnya, ia benci ketika seseorang yang ia sayang terlalu sibuk dan—a

Clarise melupakan sesuatu. Apa Kyungsoo punya pacar?

***

“Jadi, bagaimana menurutmu? Apa kau sudah bertemu dengan Kyungsoo?” tanya Alice di telepon. “Bukannya dia teman yang menyenangkan? Maksudku, teman dalam tanda kutip.”

“Lupakan saja, Al.” Ujarku. “Sibukkan dirimu dengan honey moon-mu dan jangan meneleponku di pagi buta! Itu menyebalkan.”

“Cobalah bangun pagi, Yoo,”  kata Alice. “Mendengar nada suaramu, kau pasti sedang penasaran setengah mati pada Kyungsoo, kan?”

“Tidak sepenuhnya benar. Tapi lumayan.”

“Ara, apa kau tahu betapa tajirnya dia?!” seru Alice. “Kau tidak bisa memasukkannya ke dalam kelompok lumayanmu, kau harus memasukkannya dalam level expert.”

“Sepertinya kau kebanyakan bermain game.” Ujarku. “Tapi perusahaan miliknya akan bekerjasama dengan perusahaan tempatku.”

“Kau serius?! Kau pasti punya banyak waktu dengannya, ‘kan? Cobalah bawa kabar bagus untukku.”

“Misalnya apa?” aku memikirkan sesuatu yang konyol. “Seperti ‘Hai, Alice, tadi pagi aku bertemu dengan Kyungsoo dan aku pura-pura jatuh supaya dia menolongku, dan ternyata dia menggendongku ala bridal dan membawaku ke rumah sakit dengan romantis?!’ Kedengarannya bagus, tidak?”

“Ara, sudah cukup.” Kata Alice, dia kedengaran lelah. “Pergi ke dapur dan ambil es batu. Kau perlu mengompres dirimu sendiri.”

“Nah, kau sendiri tahu aku tidak mungkin membawa kabar yang kau inginkan itu.” kataku. “Berkenalan dengannya saja sudah cukup. Oh, kalau-kalau kau senang, kemarin aku bertemu dengannya di perusahaan dan mengenalkan diriku. Paling tidak, dia sudah tahu namaku, bukan?”

Yap, meskipun aku tidak bilang itu perkembangan.”

“Memangnya apa itu perkembangan? Misalnya?”

“Misalnya, Kyungsoo meminta nomor ponselmu dan kalian saling berkirim pesan seharian penuh.” Nada suara Alice seakan-akan sedang berbicara dengan anak idiot. “Kira-kira seperti itu.”

“Kalau begitu.. aku tidak mungkin mendapat perkembangan, kan?” aku tertawa, agak miris juga sebenarnya.

“Jangan bersikap pesimis begitu.” Kata Alice, kemudian terdengar suara suaminya memanggil, “Oh, aku pergi dulu, ya.”

Kemudian karena aku telanjur bangun, aku memutuskan pergi lari sebentar. Rutinitas itu biasanya kulakukan setiap Minggu, tapi beberapa minggu ini aku menjadi terlalu sibuk dari biasanya.

Jadi aku keluar dari rumah.

***

“Mau?”

Aku mendongak, dan kemudian terpana ketika melihat Kyungsoo—ya! Benar!—sedang menyodorkan botol mineralnya ke arahku.

“Aku akan beli lagi, jadi ambillah.” Katanya lagi dan masih menyodorkan botolnya. Aku masih diam, karena terlalu kaget juga karena… seseorang yang memberikan botol mineralnya untukku adalah Kyungsoo.

Karena aku tidak kunjung mengambilnya, Kyungsoo menjejalkan botol itu ke tanganku kemudian berbalik. Parahnya, aku masih diam saja meski sudah tidak ada seseorang di hadapanku, dan itu konyol. Sekaligus memalukan.

Aku memandangi botol tersebut. Aku tidak percaya apa yang terjadi, bahkan aku masih mengira bahwa ini mimpi, sampai kemudian Kyungsoo muncul kembali ke hadapanku, dengan botol lain di tangannya.

“Kau bahkan tidak berniat mengucapkan terima kasih padaku?” tanyanya.

“Terima kasih.” Ujarku dengan kaku. “Kenapa kau tiba-tiba muncul dan mengagetkanku? Aku akan terkena serangan jantung. Lagipula, aku bahkan tidak tahu siapa namamu.” Tentu saja aku bohong. Bohong besar.

Sebaliknya, Kyungsoo tersenyum dan menelan airnya. Ia mendongak menatap langit.

“Kau pasti tahu siapa aku.” Katanya, menatapku dengan senyumnya yang membuatku seolah mencair.

“Aku tidak percaya kau masih mengingatku.” Balasku. “Kalau kau mengenalku, kau tidak akan bersikap seperti itu, di pesta atau di kantormu kemarin.”

“Jadi kau marah karena aku berpura-pura tidak mengenalmu?”

Aku diam. Tiba-tiba dorongan perasaan ingin menangis datang. Well, meskipun aku tipe antisosial yang biasanya berhati keras, aku termasuk cengeng.

“Kalau begitu berpura-puralah terus. Jangan pedulikan aku.”

“Kenapa aku harus melakukan itu?” tanyanya, kedengaran terkejut. Aku tidak mau menatap mukanya.

“Karena kau sudah melakukannya sejak awal. Lanjutkan saja.” kataku, berbalik dan berencana akan pergi.

“Hei, kau benar-benar marah, ya?”

Tiba-tiba ia merangkulku dan menarikku kembali. Ia tersenyum dengan lucu dan aku merasa delapan belas tahun itu tidak ada artinya dibanding sekarang.

“Aku kan hanya bercanda. Selera humormu benar-benar buruk,” katanya. “Kau sudah sarapan, belum?”

“Kau mau mentraktirku?”

“Yap, kalau kau mau, tapi.”

Aku tersenyum, kemudian merasa bahwa aku ini seperti anak kecil—bahagia ketika ditawari sesuatu yang gratis. Tapi tentu saja, bukan itu yang membuatku tersenyum. Sesuatu yang lain, yang lebih spesial tentu saja.

“Tidak akan ada yang menolak sesuatu yang gratis.”

***

Jadi, sekarang aku duduk di suatu kedai favorit Kyungsoo, sementara di hadapanku ada sup dan nasi yang masih mengepulkan asap. Kau boleh mengatai bahwa aku masih bermimpi, dan nanti aku akan bangun sendirian di kamarku, dan bahwa sebenarnya tidak pernah ada sup ayam di mangkukku.

Tapi ini nyata. Aku sudah mencubit diriku sendiri berkali-kali dan ternyata sakit. Jadi begitulah.

“Selamat makan!” kataku, menarik mangkukku mendekat serta mempersiapkan sendok. Kami bicara banyak hal di perjalanan tadi, ternyata Kyungsoo tidak berubah sama sekali. Maksudku, mungkin ia bertambah tinggi dan tampan, tapi perilakunya serta cara bicaranya sama sekali tidak berubah. Dan jujur saja, itu sesuatu yang melegakan karena terkadang perubahan yang terjadi bukanlah sesuatu yang benar-benar kuinginkan.

Kyungsoo tertawa, ia sendiri mulai menyantap makanannya.

Beberapa menit, kami selesai dan Kyungsoo membayar semuanya—aku sudah protes tadi, mengatakan bahwa gratis di sini maksudnya adalah aku membayar separuh dan ia separuhnya lagi, tapi Kyungsoo hanya melambaikan tangannya dan mengeluarkan dompet. Bukan berarti aku mau menjadi seorang yang dangkal dan materialistis.

“Kau mau pulang sekarang?” tanya Kyungsoo. Kami duduk di bawah pohon yang besar. Cukup untuk menutupi kami.

“Tunggu.” Kataku. “Kyungsoo, ada yang ingin kubicarakan.”

Kyungsoo menatapku, dan aku suka tatapan itu. Sungguh.

“Apakah… kau benar-benar Kyungsoo di rumah sakit dulu?” aku tahu ini konyol, tapi tidak ada salahnya untuk memastikan.

Kyungsoo mengangguk dan tersenyum.

“Apa operasimu berjalan… lancar?”

Ia mengangguk kembali.

“Lalu… lalu kenapa kau pergi bahkan… kau mengingkari janjimu?”

Ia terdiam.

“Ara, ada banyak sekali hal. Banyak sekali.” Katanya dengan nada seperti yang biasanya ibuku gunakan untuk mengatakan ‘Aku tidak mau kau mengungkitnya lagi.’

“Seperti apa misalnya?” tanyaku. “Kau tahu, Kyungsoo, aku harus tahu mengenai ini.”

“Aku akan menceritakannya di pertemuan ketiga kita.” Kyungsoo bangkit dan tersenyum. Dan aku memandang bahunya yang menghilang.

***

“Kau serius kau bertemu dia ketika lari pagi?!” seru Nara di telingaku. “Astaga, Ara, kau seharusnya tidak duduk diam seperti ini! Cari sesuatu yang bisa mempercantik dirimu, dan pergilah kantor Kyungsoo!”

“Lalu aku harus melakukan apa di sana?!” tanyaku. “Jangan bertindak seperti idiot Nara. Kau tahu, itu bahkan hanya pertemuan tak terduga. Dia hanya memberiku botol mineralnya dan sudah. Berakhir.” Aku merutuk dalam hati, sekaligus bersyukur karena belum sempat menceritakan acara sarapanku dengan Kyungsoo.

“Ta-tapi…” Nara bergumam, ia kehilangan kendali dirinya, seperti biasa. “Maafkan aku, aku hanya terlalu syok karena temanku yang tidak pernah menyukai laki-laki akhirnya mendapat kencannya yang pertama..”

Aku menjitaknya. “Jangan berlebihan begitu. Tidak ada apapun di antara kami.” Sergahku.

Nara menaikkan alisnya. Dia pandai membuat tampang menyebalkan. “Tapi kau suka padanya, kan.” Katanya. Ia kemudian menatapku dari atas ke bawah, “Sepertinya ada yang perlu makeover besar-besaran di sini.”

“Lupakan saja, Kwon Nara.” Aku memberitahu. “Tidak akan ada yang berubah, oke? Bahkan, menurutku Kyungsoo sudah punya pacar dan tidak ada harapan lagi untukku.”

Seperti yang kubilang, Nara tipe teman yang akan mudah terseret perasaan temannya itu. Jadi, detik berikutnya ia seolah lupa pembicaraan kami tadi, dan menatapku kasihan. Meskipun menyebalkan, itu toh masih lebih baik daripada me-makeover diriku dengan kemampuannya.

***

“Maksudmu, aku harus mengantarkan ini sendirian ke kantor itu?” aku mengulangi perintah yang baru semenit yang lalu dijabarkan oleh Clarise. “Bukannya kau yang jadi fans bos mereka itu? kenapa tidak kau saja yang ke sana?”

“Ayolah, Arie. Kau tahu aku sibuk. Lagipula, tidak ada kepastian bahwa Kyungsoo yang akan menyambutku. Sama seperti kemarin.” Katanya.

“Demi Tuhan, Clarise, aku bahkan tidak tahu di mana ruangan utama tempat Kyungsoo atau orang kepercayaannya berada. Di gedung sebesar itu maksudku!” kataku. “Bagaimana kalau aku tersesat?”

“Jangan konyol.” Clarise mengibaskan tangannya di hadapanku. “Layanan resepsionis di sana sangat bagus.”

Aku ingin menyergah lagi. Tapi sudahlah, tidak ada yang bisa mengalahkan argumen Clarise jika dia sudah memutuskan. Dengan terpaksa aku meraih tumpukan berkas itu dan membawanya di depan dada.

“Jangan memberiku pekerjaan apapun hari ini.” kataku dengan nada dingin. Kemudian pergi keluar dari gedung. Segera saja, udara panas serta debu tak terharapkan menerpaku. Saat-saat seperti ini, aku begitu merindukan AC ruangan kantorku yang meskipun sering ngadat, tetapi masih lebih lumayan daripada ini.

Karena aku tahu tidak ada layanan angkutan yang bisa membawaku langsung ke DO Publishing, jadi aku memilih taksi yang kebetulan lewat. Di dalam, AC kembali memancar dan aku benar-benar menikmatinya, meskipun dalam hati masih menyumpahi Clarise. Lihat saja! kalau-kalau aku bertemu dengan Kyungsoo, aku pasti akan mengiming-iminginya dan membuatnya iri setengah mati!

***

“Intinya, aku perlu bertemu dengan orang yang namanya tertulis di sini.” Kataku lagi dengan tegas sambil menunjukkan sebuah kertas di mana sebuah cap serta tanda tangan terbubuh di situ. “Coba perhatikan baik-baik, apa aku terlihat seperti pemalsu cap atau tanda tangan?!”

“Tidak,” sahut seseorang di belakang meja resepsionis. “Baiklah, ruangan A23, di lantai empat. Kuharap kau tidak tersesat.”

Aku tahu perempuan itu benci kepadaku, menilik cara bicaranya ketika mengucapkan ‘tersesat’ seolah-olah ia memang mengharapkan itu terjadi. Tapi aku hanya mengangguk dan berlalu. Layanan bagus apa, aku justru dihina seperti ini. haa!

“Hai,”

Aku tersentak, berbalik, dan mendapati Kyungsoo ada di hadapanku dan tersenyum. Dia mengenakan setelan jasnya, rambutnya ditata rapi (meski tidak bisa dikatakan klimis), dan sepatu kets. Benar-benar menyenangkan mengetahui bahwa Kyungsoo bukan orang tipe A yang begitu serius.

“Oh, hai, Kyungsoo.” Kataku, melambai dengan sangat aneh. “Clarise memaksaku untuk memberikan ini kepadamu.” lanjutku, menyodorkan folder yang diberikan Clarise tadi.

“Memaksa?” Kyungsoo menerima berkas yang kuberikan.

“Yap, aku memiliki begitu banyak pekerjaan, sedangkan ada beberapa rekanku yang tidak melakukan apapun.” Jelasku. Kemudian sadar bahwa aku terlalu banyak bicara. “Tapi bukan berarti aku—”

Well, tidak apa-apa. Berhubung sekarang jam makan siang dan aku berniat pergi makan, kau mau ikut?”

“Tentu!” sahutku, lalu menutup mulut karena sadar bahwa aku menjawab terlalu cepat dan bersemangat.

***

Lima belas menit berikutnya, aku berada di apartemen Kyungsoo dan tengah memandangi laki-laki itu memasak. Aku serius, aku benar-benar di apartemennya dan akan makan masakannya! Clarise pasti akan mati terguncang setelah ini.

Bau nasi goreng tercium sampai di depanku. Ternyata Kyungsoo sudah selesai dengan panci masakannya dan sedang meletakkannya ke mesin pencuci piring.

“Terima kasih,” kataku dengan gugup ketika Kyungsoo mengangsurkan sepiring penuh nasi goreng berselimut telur. “Kau tahu, kau tidak perlu repot-repot memasak seperti ini. kita bisa pergi ke luar,”

“Tidak.” Katanya. “Masakan di luar sudah terlalu biasa. Aku ingin kau menganggap ini spesial.”

Aku membeku. Spesial? Benarkah ia ingin membuatku menganggap seperti itu? Aku tahu aku mungkin terlalu banyak berharap. Tapi spesial jelas sesuatu yang… well, intim, kan?

“Spesial? Apa maksudmu?”

Tapi Kyungsoo hanya tersenyum. “Selamat makan.”

“Selamat makan.”

***

“Kau. Makan. Berdua. Dengannya. Dan. Dia. Mengatakan. Dia. Ingin. Membuatmu. Menganggap. Makan. Siang. Bersama. Itu. spesial?!”

Aku menjauhkan ponselku dari telinga.

Well, Alice, ini tidak akan seperti yang kaupikirkan. Kami hanya bertemu—”

“Ini jelas jauh dari yang kupikirkan!” seru Alice dengan bersemangat. “Astaga, Ara, aku tidak menyangka kau bisa membuat perkembangan sekeren ini!”

“Ya, Alice, tapi…”

“Kau hebat! Kau bahkan bisa membuat laki-laki seperti Kyungsoo mengajakmu makan bersama dan membawamu ke apartemennya! Dan dia juga memasakkanmu!”

“Astaga, Alice. Dengarkan dulu.” Ujarku. “Dia melakukannya… karena dia kenal aku. Jangan menyela dulu. Maksudku, dia pernah mengenalku dan dia mengingatku sebagai.. yap, teman lama. Teman kecil yang hampir terlupakan. Kira-kira begitulah. Dia hanya merasa kasihan kepadaku karena kau tahu aku begitu—”

“Apa yang sedang kau katakan, Ara? Kau kenal dia?”

“Oh, baiklah. Dia teman kecilku. Kau tahu, ‘kan, kanker. Rumah sakit anak. Khusus perawatan kanker.”

“Jadi… sebentar,”

Tiba-tiba Ibuku memanggil dari lantai bawah.

“Kau dengar itu? Ibuku memanggilku. Dah, Alice.”

***

Keesokannya, aku baru ingat aku lupa menanyakan perihal kepergian Kyungsoo dulu itu. Dan aku menyesal setengah mati karena aku tahu aku tidak akan bisa bertemu Kyungsoo tanpa alasan. Lagipula aku tidak punya nomor ponselnya. Dan aku terlalu malu untuk menemui Kyungsoo.

Kemudian ponselku berbunyi dan muncul sederet nomor tak bernama. Awalnya aku berniat tidak mengangkatnya, tahu, ‘kan, penipuan melalui alat komunikasi seperti ini. Tapi setelah deringan kelima, akhirnya aku mengangkatnya.

“Halo,” kataku.

“Hai.” Sahut seseorang di sana, suaranya terdengar familiar. “Ini Kyungsoo. Maaf meneleponmu tiba-tiba seperti ini.”

“Tidak apa-apa.” Kataku. “Ada masalah apa?”

“Kau berada di mana sekarang?”

Aku ingin berbohong—maksudku, mengatakan aku di kamar bukannya terlalu memperlihatkan bahwa aku sedang kebosanan setengah mati? Tapi toh akhirnya aku mengatakannya, di kamar maksudku.

“Bagus, berarti kau sedang tidak ada acara, bukan?”

“Ada.” Jawabku. “Nongkrong di kamar sambil menelepon bisa disebut acara, bukan?”

Aku mendengar Kyungsoo mendecak. “Kalau begitu, siapkan dirimu dalam… setengah jam? Aku akan menjemputmu.”

“Ap-ap—”

Telepon sudah diputus. Well, aku tidak salah dengar, kan? Bahkan Kyungsoo tidak tahu rumahku dan dia tidak bertanya. Bisa saja dia hanya main-main. Tapi aku tetap mencari pakaian dan memperbaiki penampilan. Kemudian aku baru sadar aku tidak tahu apa yang akan kami lakukan. Kalau pesta, tidak mungkin ‘kan kalau aku memakai celana denim dan kemeja? Dan kalaupun hanya makan malam biasa, menyedihkan kalau aku memakai gaun. Jadi karena aku terlalu frustasi—awalnya aku ingin menanyakan ini pada Alice, tapi aku tahu dia akan overreacting dan membuatku kebosanan setengah mati dengan ceramahnya—aku memilih mengenakan rok terusan lengan pendek, dan flatshoes.

Tepat setengah jam kemudian, Ibuku berteriak dari lantai bawah mengatakan ada seseorang mencariku. Well, bisa kau bayangkan betapa bersemangatnya diriku sampai berlari dari lantai atas ke bawah.

Dan itu, merusak rambutku, serius.

***

Tapi ternyata, kenyataannya jauh dari yang kuharapkan.

Yang ada di pikiranku, Kyungsoo akan datang sendirian, mengenakan pakaian santai dan membiarkan rambutnya seperti biasa, kemudian mengenakan ketsnya. Well, mengenai pakaian, dia memang melakukan itu. tapi…

Oppa, apa menurutmu aku bisa memasukkan saus di sini?” seru seorang gadis yang tadi dikenalkan Kyungsoo sebagai Yoonjo, gadis yang dikenalnya dengan sangat baik. Yap, sangat baik.

“Jangan macam-macam pada adonan itu, Yoon-a.” Sahut Kyungsoo, dia masih sibuk dengan talenan dan pisaunya.

Dan aku? Aku hanya duduk di pantry, memandang keduanya yang sibuk dengan kegiatannya. Yoonjo memang terlihat mengacaukan segalanya, tapi Kyungsoo bahkan tidak memarahinya atau apa. Dia hanya mengatakan ‘Jangan macam-macam’ tetapi tidak mengambil tindakan apapun.

“Mmm, apakah ada yang bisa kulakukan di sini?” tanyaku untuk kedua kalinya. Aku beranjak dari kursiku, tetapi Kyungsoo langsung menggeleng dan tersenyum.

“Yoonjo saja cukup.” Katanya.

“Apapun? Aku akan merasa sangat tidak enak melihat kalian sibuk, tetapi aku hanya diam, dan begitulah.” Jelasku. “Kalau sekedar mencuci sayuran atau memotongnya, aku bisa.”

Kyungsoo memandangku dan tersenyum. “Tidak, Ara. Sekali tidak, tetap tidak.”

Oppa, aku membubuhkan terlalu banyak garam dalam kuahnya. Apa yang harus kulakukan?!” sela Yoonjo.

Kemudian perhatian Kyungsoo seratus persen teralih dariku. Ia mulai sibuk bicara pada Yoonjo—mengenai bahwa Yoonjo tidak bisa terus-menerus menghancurkan adonan yang ia buat, bahwa kelebihan sepercik garam saja bisa menghancurkan rasa makanan—dan mengajari gadis itu memotong sosis sapi dengan benar.

Dan otomatis, dia melupakan aku.

***

“Ara, sebaiknya kau tidak makan sebanyak itu. kau bahkan tidak membantu Oppa masak sama sekali.” Celoteh Yoonjo ketika Kyungsoo mengangsurkan piring penuh piza ke hadapanku. Kami duduk melingkar di ruang makan apartemen Kyungsoo.

“Lupakan itu, Ara.”

Tapi aku tidak bisa. Nafsu makanku lenyap begitu saja, dan bahkan piza sosis di hadapanku tidak bisa membuat mood-ku naik. Aku ingin mengatakan, “Well, tentu saja, Yoonjo. Aku memang tidak akan banyak makan. Kalau boleh, aku bahkan tidak akan memakannya.” Tapi aku terlalu takut menunjukkan sisi burukku di hadapan Kyungsoo. Jadi untuk menjaga kehormatan, aku memotong secuil dan memasukkannya ke dalam mulutku. Rasanya hambar bercampur pahit di mulutku, dan itu mungkin karena aku patah hati.

Kyungsoo bahkan tidak mau menerima bantuanku. Sepertinya ia benar-benar tidak menyukaiku, dan mungkin ia terpaksa mengajakku ke sini, sekedar menunjukkan bahwa ia punya pacar (aku benar, ‘kan? Tidak mungkin Kyungsoo membiarkan Yoonjo menghancurkan masakannya jika gadis itu tidak berarti apa-apa). Tapi memangnya apa hakku? Semakin aku memikirkannya, rasanya semakin tidak adil.

Lama kelamaan, yang kurasakan dari piza ini hanyalah asin, dan ketika Kyungsoo tersentak menatapku, aku tahu bahwa piza di mulutku ini terlanjur tercampur oleh air mata.

“Ara, kau kenap—”

Aku buru-buru bangkit. “Maaf, aku harus pergi sekarang. Bukan berarti piza-nya tidak enak. Rasanya benar-benar hebat tapi.. tapi aku harus pergi. Maafkan aku.” Aku memberitahu dan kemudian menyambar tasku. Pergi.

Tapi hatiku tertinggal di sana.

***

Aku sakit.

Entah karena apa. Tapi aku memang sakit. Tubuhku sangat panas dan kepalaku berkunang-kunang. Aku tidak bisa melihat dengan jelas, bahkan untuk makan pun aku kesulitan.

“Apa sih yang kaulakukan semalam sehingga sakit begini?!” tanya Alice sambil mengompresku. Ya, dia memang sudah pulang dari bulan madunya dan mendapati bahwa aku sedang terbaring sakit di kamarku. “Kau pergi ke mana?”

Kalau kuberitahu, Alice pasti akan bertanya macam-macam. Dan aku sedang tidak dalam mood untuk itu.

“Tidak melakukan apa-apa.” Sahutku dengan mata terpejam. “Hanya makan.”

“Apa matamu baik-baik saja?” sergahnya. Aku tahu ia sedang meneliti mataku. “Kau kelihatan seperti habis kena tonjok.”

Penyebabnya adalah menangis semalaman dan tidak tidur. Ditambah lagi, angin di luar dingin.

Kemudian, sampailah pada saat Alice meminjam ponselku untuk menelepon Ibuku.

“Kau pergi bersama siapa semalam?” tanyanya. “Di log terbaru ada nama Kyungsoo. Dia bersamamu?”

Aku sudah merasa cukup baikan, karena sudah makan dan istirahat sejenak. Tapi tetap saja, menjawab yang sejujurnya masih terasa menyedihkan.

“Ara?”

Aku duduk dan bersandar. “Kau tahu, Alice. Kukira dia mengajakku kencan.” Jelasku. “Kencan sungguhan, maksudku. Aku benar-benar berharap sesuatu yang menakjubkan dan menyenangkan terjadi kemarin, tapi nyatanya…”

“Nyatanya apa?”

“Kyungsoo punya pacar, Alice.”

“Tidak. Aku tahu itu tidak benar. Woo Bin bilang dia tidak pernah berpacaran. Dan saat ini pun tidak.”

“Tapi iya. Dia membawa gadis kemarin.” Kataku, dan air mata mulai mengalir dengan menyedihkannya. “Dia bersama gadis itu. Dia mengajakku makan hanya karena ingin menunjukkan gadis itu! Dia bahkan membiarkan Yoonjo menghancurkan masakannya! Dia membiarkan Yoonjo merusak segalanya dan menyindirku terus-menerus!”

“Oke, cukup, Ara.” Kata Alice. Dia tidak terdengar panik atau bagaimana. “Kau hanya butuh tidur, oke? Aku akan membicarakannya dengan Nara dan yang lain. Istirahat saja.”

***

“Itu menyedihkan, Ara!” seru Yeonji untuk kedua kalinya dalam lima menit. “Kau tidak seharusnya menang—”

“Aku sendiri tidak sadar kalau aku menangis.” Kataku, membela diri. “Lagipula, sekali-kali menangis kan tidak apa-apa.”

“Tapi kau menangis di depan Kyungsoo!” seru Yeonji lagi. “Maksudku, melihat betapa cengengnya kau, mungkin saja dia akan segera mundur teratur.”

“Itu akan lebih bagus lagi. Aku tidak perlu berharap terlalu banyak lagi.”

Nara tiba-tiba memelukku. “Ara..” bisiknya. “Semuanya akan baik-baik saja.”

Saat Nara memelukku begitu, aku hanya ingin menangis. Padahal, biasanya saat Nara bersikap keibuan aku akan menatapnya sirik. Sekarang?

“Aku patah hati..” kataku sambil menangis. “Bahkan sebelum semuanya dimulai…”

“Hentikan tangisanmu, jangan konyol. Itu hanya laki-laki.” Kata Nara. “Sekarang, mau pergi belanja?”

***

Aku sudah baikan keesokan harinya sehingga bisa berangkat bekerja seperti biasanya. Clarise akan mengamuk apabila aku tidak berangkat dua hari tanpa keterangan. Ketika aku sampai di kantor, ada sesuatu yang tidak normal. Maksudku…

Ada Kyungsoo di sini.

Segera saja, udara menjadi semakin sedikit dan aku agak kesulitan bernapas.

“Ara, kenapa kau tidak hadir kemarin? Tanpa keterangan lagi.” kata Clarise, menyambutku dengan semburan mematikannya. “Alasan apa lagi? Sepupumu mengadakan pernikahan lagi dan kau kelelahan berdiri—”

Aku menoleh ke arah Kyungsoo dengan panik. Melalui mata Kyungsoo, aku tahu dia tahu bahwa aku tidak berangkat kerja setelah pesta yang kemarin itu. Sejak aku berlari seperti kelinci ketakutan setelah melihat Kyungsoo.

“Aku sakit.” Kataku pada Alice. “Bahkan sampai sekarang masih.”

Harusnya kau menelepon ke sini.” Kata Clarise sambil tertawa. Ia pasti ingin citranya tampak baik di hadapan Kyungsoo. “Aku mengkhawatirkanmu, kau tahu.”

Diam-diam aku mencibir.

“Oke, lain kali kupastikan aku akan menelepon.” Balasku. “Kalau begitu.. aku ke bilikku dulu.”

Tapi sebelum aku berbalik, seseorang mencekal lenganku dan menarikku pergi.

Dan orang itu Kyungsoo.

***

“Jadi katakan kepadaku, kau kenapa.” Kata Kyungsoo lagi, memaksaku. “Kau menangis tiba-tiba ketika makan masakanku, dan kemudian pergi dengan tiba-tiba juga. Kau tahu, aku panik, aku berlari mengejarmu tapi kau sudah menghilang.”

Aku memalingkan wajah. Aku tidak tahu harus menjawab jujur atau tidak. Aku terlalu panik dan tiba-tiba merasa pusing.

“Ara..”

“Aku yakin kau tidak ingin  mendengarnya, Kyungsoo. Jadi jangan paksa aku.” Kataku, memalingkan wajahku.

“Sesuatu apa yang tidak ingin kudengar darimu, hm?”

Kyungsoo menarik bahuku sehingga sekarang aku menghadapnya. Dan tiba-tiba, aku yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan hubungan kami. Bahwa sebenarnya aku,

menyukai Kyungsoo.

Aku tersentak ketika kenyataan itu terasa sangat benar dan aku yakin akan diriku. Selalu ada alasan mengapa aku tak pernah melupakannya, sementara bagian otakku yang lain mudah sekali melupakan sesuatu. Dan ternyata…

“Kyungsoo, kau yakin kau tidak akan menyesal mendengar ini?”

Kyungsoo tampak bingung, namun ia mengangguk yakin.

“Kalau begitu… bagaimana kalau aku bilang, aku—

Stop. Aku yang akan bilang.”

Aku memandangnya dengan bingung. Apa yang akan dikatakan Kyungsoo kepadaku?

“Ara, aku menyukaimu.” Katanya. “Kau tahu, selalu ada alasan mengapa aku selalu mengajakmu bermain ketika di rumah sakit dulu, padahal kau sendiri tahu aku bukan tipe anak kecil yang mudah berbaur. Tapi aku memaksakan diriku untuk, yaah, begitu. Mengunjungimu setiap hari, menemanimu, bahkan menunjukkan hal-hal yang kalau kuingat sekarang pasti hal yang konyol.”

Aku tertegun menatapnya.

“Kau tahu, setelah operasi, Ibuku tiba-tiba ikut sakit. Sakit parah. Rumah sakit tempat kita, tidak bisa menanganinya. Jadi Ibu dilarikan ke Amerika. Untuk pengobatan itu. Dan, orang tuaku terburu-buru. Aku bahkan tidak sempat berkunjung ke kamar rawatmu. Dan itu, seperti sesuatu yang menyedihkan.”

Ada banyak sekali kata yang ingin kukatakan. Aku membuka mulut, kemudian menutupnya lagi karena terlalu bingung kata apa yang akan kuucapkan.

“Dan aku… kembali untukmu.”

Aku menangis, dan yang kuinginkan hanyalah memeluk Kyungsoo, mengatakan bahwa aku juga sama sepertinya.

“Ara? Apa kau baik-baik saja?”

Aku menghamburkan diriku ke dalam pelukan Kyungsoo. Menangis di bahu laki-laki itu adalah sesuatu yang menurutku sangat keren, dan Kyungsoo tidak menolak. Ia malah balas memelukku dan mengusap rambutku dengan pelan.

“Kalau kubilang aku cinta padamu, kau mau bilang apa?” bisiknya lagi.

“Mau jadi pacarku?” kataku dan tersenyum dengan konyol.

oOo

 

“Oh, ya, Kyungsoo, jadi jelaskan kenapa kau membiarkan Yoonjo mengobrak-abrik masakanmu sedang kau melarangku melakukannya juga?”

“Eh, itu..” Kyungsoo tampak salah tingkah. “Kau tahu kan aku tidak suka diganggu. Dan, bagiku seseorang yang mmm, spesial, itu… hanya boleh menikmati masakanku… tapi tidak boleh ikut bekerja.”

Aku tertawa.

“Kalau begitu, kau menganggapku orang yang spesial, benar?”

“Yap. Untuk itu..” Kyungsoo berhenti dan mencium dahiku. “Mau menikah denganku?”

“Tentu!”

Aku tertawa dan Kyungsoo juga. Ini memang konyol, tapi beginilah cinta yang kuharapkan.

f i n

A/N:

Halo semua!

Aku bakal makasih banget kalau ada yang baca ini sampe selese HAHA. Gak tahu juga kenapa kok ini bisa jadi sepanjang ini, padahal aku bikinnya males-malesan dan karena panjangnya pula aku juga rada bingung, ini mau kupost jadi twoshoot atau tetep oneshoot ya? Tapi karena aku juga males banget buat buka wordpress, akhirnya aku jadiin oneshot aja😄

Oh, ya, aku emang make pen name bepimee tapi kan bakal aneh kalo kamu manggil aku bep/pi/me jadi,

just call me Meyda oke.

Butuh review dan kritik kamu banget. Jangan sungkan-sungkan klik comment box yap! Hehe.

Thanks! See U Soon❤

6 thoughts on “[Oneshot] Old Memories

  1. Halo, Mey😄 aku balik ke blog kamu lagi haha
    Kamu sebenernya anak siapa, sih? Kok bisa bikin ff sekeren ini? Kok bisa bikin ff sebagus ini? Kok bisa bikin ff semanis ini? /oke, gak nyante haha/
    Aku suka ff ini aaa.-. Adegan sedihnya pas manisnya juga pas, kaya bumbu masakan Kyungsoo yang serba pas /apalah ini/
    Tapi aku rada aneh deh, kok sususan gigi? Apa itu typo? Harusnya kan susunan gigi.
    Intinya, aku padamu Mey *jiwa alay bangkit*
    Keep writing, ya^^

    Like

    1. Halooo! Aduuhhh maaf baru bales sekarang :” (gara-garanya lagi baca ulang fic di library terus liat komentar hehet). Ahh seneng deh kamu balik balik lagi ke sini lanjutkan yEa (maksa)😄

      Enggak, aku cuman anak bapak sama ibu hehet bukan anaknya papi sooman (lah) ah udah abaikan saja.

      Waaaaaa makasih sangat :3 Dulu aku bikinnya separuhseparuh, semacam udah ah ga mau dilanjut eh tetep kelanjut juga (maka itu diksinya amburadul dan typo everywhere) tapi aku seneng serius baca komen kamu hikshiks >,< Aku padamu jugaaakkk❤

      Like

  2. Daebak >< aku suka ffmu chingu~ wah setelah sekian lama ga baca ff eh skrg baca ff dan keren~~ good job author-nim~

    Like

  3. meyda.. eh ngomong2 gapapa manggil gini?._. aku ai 96lines salam kenal ^^ baru nemu ff ini pas lagi browsing ff yoo ara dan aku baca.. dan bagus banget.. aku melting sendiri.. aku suka banget karakter ara yang agak sinis tapi terus terang/? gitu >,< udah gitu ama kyungsoo… kyaaa/?
    adengan paling aku suka pas ara lagi ngobrol ama nara/alice.. terus wakru kyungsoo sama ara nyatain perasaan masing2… aduh banyak banget-_-
    ff-mu ini bagus banget, cara ngegambarin karakternya juga bagus, kalimatnya mudah dipahami.. pokoknya overall bagus deh ^^
    eh ada satu pertanyaan, jadi yoonjo itu siapa?._.
    keep writing ^^

    Like

    1. Halo kak Ai! (btw aku 99line jadi gapapa kan kalo aku manggil kaka? hehe) ga apa-apa banget, aku malah seneng akhirnya ada yang manggil aku wkwk
      jadi postingan di blogku keluar di google ya, gak nyang😄
      wah waah thankyou deh kak >< padahal ini kan romantis gagal dan jatuhnya jadi semacam alay gitu -_- tapi seneng deh akhirnya ada yg baca ini wkwkw
      aduh aku lupa belum jelasin yoonjo ya? .-. jadi yoonjo itu semacam sepupunya kyungsoo yang manja gitu(?) ya, pokoknya sejenis itulah😄
      Thankyou lagi kak! Mampir sini-sini lagi yaa😄 /promote nih/

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s