[Vignette] Your Fanatic


vey

Your Fanatic

written by bepimee(@meydawk)

Casts

OC || Kim Taehyung BTS

Length 2473 words || Genre Romance, School-Life || Rating Teenager or General

Summary

Bagaimana kalau aku yang menjadi fans fanatikmu?

.

.

“Jadi kau menyukaiku?”

Aku tersentak kaget, berbalik, dan mendapati Taehyung-lah yang barusan mengatakan sesuatu yang konyol begitu. Apa katanya? Aku? Menyukainya?

“Bagaimana bisa kau menyimpulkan hal itu?” tanyaku balik dan memandangnya dengan sorot wajah penuh cacian.

“Surat ini,” ia melambai-lambaikan sebuah kertas yang terlipat dengan pola aneh yang ajaib, “mengatakan seperti itu.”

“Kau mengira aku pengirim surat itu?!” aku tergelak. “Kurasa kau sakit, Taehyung.”

Taehyung memandangku menyelidik, dan aku membalasnya galak.

“Oke, kali ini aku menyerah.” Katanya. “Mau ke kantin?”

“Traktir?”

Taehyung berpikir sejenak, kemudian, “Oke.”

Duniapun tahu, aku tak akan menolak traktiran Taehyung.


Kala aku masuk ke kamar Taehyung, ada setumpuk surat di nakasnya dan bungkusan-bungkusan kado di bawahnya. Tidak rapi sama sekali. Mungkin Taehyung melemparnya begitu saja karena terlalu lelah setelah latihan koreografi selama berjam-jam di aula sekolah.

Aku duduk di kursi kayu ringan yang berada di dekat pintu. Ruangan ini begitu dingin, pasti Taehyung lupa mematikan AC lagi. Tapi, barusan aku seperti mendengar suara air. Taehyung berada di rumahnya?

Buru-buru aku bangkit dan berniat untuk segera keluar dari kamar Taehyung—secepatnya! Sayang, kakiku tersangkut di kursi yang tadi kududuki, dan alhasil, menimbulkan suara gedubrakan.

“Siapa di sana?”

Gawat, mendengar suara Taehyung membuatku semakin gugup. Buru-buru kuletakkan kertas yang tadi kubawa, di antara tumpukkan surat-surat dari penggemar Taehyung dan langsung keluar.

Setidaknya, kali ini aku selamat.


“Tahu, tidak, kemarin sore ada seorang fans fanatik masuk ke kamarku!” suara Taehyung yang pada awalnya berniat berbisik, namun jatuhnya malah menjerit membuat seisi kantin menatap kami. Oh, maaf, sepertinya hanya Taehyung saja.

Aku menahan tawa melihat raut muka Taehyung yang serba salah, menggaruk dan menundukkan kepalanya. Well, jangan sampai Taehyung tahu ini, tapi aku berpikir bahwa Taehyung sungguh manis. Tidak seperti imej yang diperlihatkannya ketika bersama grupnya itu.

“Bodoh.” Ucapku dan tersenyum, entah mengapa.

“Tapi memang iya, kemarin ada orang di dalam kamarku ketika aku mandi! Mengerikan sekali!”

Aku baru menyadari ini.

“Eh, sore? Wow, fans macam apa itu.” kataku, berusaha tampak normal. Orang yang dimaksud Taehyung itu, aku, bukan?

“Untung sekali dia tidak pergi ke kamar mandi dan mengintipmu sedang mandi. Hi hi,”

“Tsk, otakmu sungguh..”

Aku terkikik dan tanpa sengaja menatap arloji di tangan Taehyung.

“Sudah setengah sembilan. Bukannya kau harus latihan?”

“Yep, benar. Pergi dulu, ya.”

Aku melambai dan tertawa. Kemudian ketika Taehyung telah menghilang, aku merasa makanan di hadapanku tak lagi nikmat.


“Hyujin, enak sekali yang punya sahabat seperti Taehyung.” Kata Seryung untuk keempat kalinya. “Dan kau bahkan jadi tetangganya.”

“Dan kelihatannya dia juga sangat menyenangkan.” Tambah Yoora, “aku juga ingin makan sebangku dengannya.”

“Well, tapi kau harus rela dikirimi surat kaleng setiap hari. Dan menemukan kaca jendela kamarmu pecah di pagi hari, serta melihat wajah paling jelekmu terpampang di mading dengan ukuran maksimum.”

“Itu pengecualian.” Sergah Seryung. “Itu keren kok,”

“Kau terkenal.”

Aku mengangkat bahuku dan mulai menggigiti bolpoinku. Coba Taehyung di sini, ia akan memukul tanganku—dan membuat

bolpoinku menyenggol bibirku dengan kasar, dan itu sungguh sakit.

Bel berdering sekali dan aku segera membereskan tasku.

“Pergi dulu, ya.”


“Aku menemukan surat teror!”

Sore hari, begitu aku membuka mata setelah tidur siang, Taehyung sudah berada di hadapanku sambil mengacung-acungkan amplop yang masih dilipat dengan pola aneh dan ajaib.

Aku menguap, dengan enggan bangkit dan memandangi surat itu tanpa minat.

“Lalu apa?”

“Surat teror! Aku punya antis!”

Aku tertawa terbahak-bahak dengan parau.

“Kenapa kau tertawa?”

“Karena itu konyol. Kau hanya menerima surat, kan? Apa kau tidak pernah melihat lokerku?”

“Memangnya kenapa dengan lokermu?”

“Aku punya banyak sekali antis, padahal aku bukan artis atau masuk ke dalam ekstrakurikuler terkenal seperti kau, dan juga, aku sama sekali tidak cantik atau menarik seperti Miyoung di kelas unggulan.”

“Kau.. punya antis? Kok bisa?”

“Karena aku dekat denganmu, para fansgirl-mu di sana sangat cemburu kepadaku. Itu konyol, bukan?”

Taehyung terdiam, berpikir dan menatapku, “Kenapa kau tidak menjauh dariku?”

Kenapa?

Aku terdiam. Berkedip. Menggigit bibir.

Aku tahu jawabannya, tetapi aku tak ingin menjawab.

Aku mendekatkan kepalaku ke kepala Taehyun dan memasang muka horror.

“Karena aku adalah haters-mu, dan aku akan memotretmu dalam keadaan telanjang dan menyebarkannya!”

Kemudian aku tergelak melihat muka serius Taehyung.


Aku mengetikkan kalimat-kalimat yang berada di otakku dengan cepat, seolah aku akan segera lupa kalimat itu jika tidak segera mengkopinya ke lembar words. Langit siang terlihat tidak menarik sama sekali, dan aku kehabisan ide.

Apa yang akan kutulis? Aku bahkan tidak memiliki petunjuk apapun. Sebenarnya, aku bukan tipe orang yang mudah berkata-kata, dan karena itu, menuangkan ide dalam otakku tentu bukanlah hal yang mudah.

Sekali lagi, aku menopang dagu, menatap komputerku dengan kesal. Sebentar lagi sore dan aku yakin aku tidak akan mendapat kesempatan meletakkan lembar hasil kerjaku diam-diam di kamar Taehyung. Ayolah, berpikir, berpikir!

Muncul sebaris kalimat di otakku, tapi aku tidak begitu yakin benar-benar ingin menuliskannya, karena kalimat itu terdengar seperti diriku sekali, dan aku takut ketahuan.

Pengecut. Aku menarik napas dan memandang jendelaku untuk beribu-ribu kalinya sejak aku tinggal di kamar ini. Biasanya aku yang menghina para fansgirl Taehyung yang dengan sikap pengecutnya, hanya berani mengirimkan surat, bukannya mengatakannya langsung.

Tapi, sekarang aku bahkan menjadi bagian antara mereka. Memalukan memang. Taehyung pasti akan tergelak dan menunjukku dengan tampang menghina. Itulah salah satu alasan mengapa aku tak akan pernah berani menunjukkan diriku yang sebenarnya—diriku yang mengirimkan surat itu, maksudku.

Karena tak kunjung mendapatkan ide, aku tidak melanjutkannya dan langsung mem-printout-nya. Kemudian buru-buru melipatnya, sama seperti yang kemarin-kemarin dan bergegas pergi ke rumah Taehyung yang berada dua rumah di samping rumahku.


“Kau yakin kau bisa?” tanyaku sekali lagi, memastikan apa Taehyung benar-benar kuat menjalani latihan hari ini, mengingat wajahnya yang super pucat dan ucapan ibunya tadi pagi—yang memintaku menemani Taehyung kemanapun dia pergi, karena keadaan sakitnya yang tiba-tiba itu. “Jangan memaksakan diri, kalau kau merasa tidak sanggup lebih baik makan roti saja bersamaku.” Aku mengacungkan empat bungkus roti basah.

“Sudahlah, lupakan saja. Jangan dengarkan ibuku. Aku baik-baik saja.”

Aku menatapnya prihatin—well, tidak juga sih—dan berpikir bahwa Taehyung jarang sekali sakit. Aku tahu dia berbohong tapi terlalu enggan untuk membantahnya lagi.

Hari ini adalah hari bebas—ini salah satu peraturan aneh sekolah kami—dimana semua kegiatan belajar diberhentikan dan kegiatan ekstrakurikuler dilakukan. Taehyung ikut ekstrakurikuler menari, dan ia terpilih dalam seleksi untuk diikutkan pementasan di Seoul dengan enam orang lainnya, dua minggu lagi. Oleh karena itu, mereka harus super keras berlatih, dan aku tidak heran kalau Taehyung bersikap acuh begitu terhadap sakitnya.

Sebelum Taehyung benar-benar pergi, aku menyempatkan diri menyelipkan tiga bungkus roti tadi ke ransel Taehyung.

“Makan semuanya!” kataku dan meringis.

Taehyung memandangku sekali, dan seolah ada kekuatan magis yang menahanku untuk tetap memandang ke matanya juga.

“Terima kasih.”


Hujan turun deras dan aku lupa membawa payung. Sepertinya kemarin ramalan cuaca menunjukkan bahwa hari ini akan cerah. Aku mendecakkan lidah dan bersedekap di bawah atap gerbang sekolah. Arlojiku menunjukkan pukul tiga sore, waktu yang lumayan awal untuk pulang ke rumah.

Seseorang menarik ranselku dari belakang, dan aku tertarik begitu saja, hampir jatuh malah. Begitu orang itu melepaskan tarikannya, aku segera berbalik, berniat akan mendampratnya.

“He he he,”

“Mau apa sih, kau?!” seruku dengan kesal—meskipun senang—ketika mendapati Taehyunglah yang berada di belakangku.

“Latihannya sudah selesai?”

Taehyung mengangguk sekilas, “Kau tidak bawa payung?”

“Ramalan cuaca kemarin bilang hari ini akan cerah.”

“Dan kau percaya?”

“Tentu.”

“Tsk.” Taehyung mengeluarkan payung hitam dalam ranselnya. “Aku hanya membawa satu. Selamat menunggu hujan reda!”

Aku melongo ketika Taehyung meninggalkanku alih-alih mengajakku ikut dengannya. Aku dongkol dan memandang masamke depan. Namun baru beberapa langkah Taehyung mundur kembali.

“He he, dan kau percaya aku akan meninggalkanmu?”

Aku terdiam dan merasa… entahlah..

Taehyung menarik lenganku dan aku kini berada sepayung dengannya.


“Aku mendapatkan surat yang sangat menarik. Kurasa aku akan mencari pengirimnya dan memacarinya.”

“Ha? Kau benar-benar akan melakukannya?!” aku syok. “Taehyung, bahkan kau tidak tahu bagaimana rupa pengirim itu. Bagaimana kalau dia jelek? Atau bagaimana kalau ternyata dia laki-laki?!”

“Melihat cara penulisannya, aku tahu dia perempuan.”

Aku menatapnya dan—untuk menutupi kepanikanku—mencibir. “Gaya penulisan Hyunwoo juga seperti perempuan, apa berarti Hyunwoo perempuan?”

“Itu hal yang berbeda,”

“Menurutku sama.” Kataku. “Memang apa, sih, yang dikatakannya pada surat itu?”

“Sesuatu yang menakjubkan.” Kata Taehyung dengan muka penuh kebahagiaan. Aku heran, bagaimana mungkin dia bisa sepolos itu? maksudku… well, lupakan saja. Aku mengatakan ini hanya untuk meyakinkan bahwa tidak mungkin Taehyung menjalin hubungan dengan penggemar yang tidak ia ketahui. Konyol.

“Terserah saja, deh. Tapi hati-hati, lho.”

Aku berbalik dan melangkah pergi. Padahal aku begitu membenci kenyataan bahwa hal itu mungkin-mungkin saja. Yang menyedihkan, aku patah hati.


“Hai, Hyujin,” sapa Ibu Taehyung ketika aku masuk ke rumah mereka. “Sepertinya Taehyung belum datang. Sebentar lagi pasti akan pulang.”

Aku berpura-pura memasang wajah kecewaku, memandang buku teks tebal di tanganku. Inilah yang biasa kulakukan, pergi ke kamar Taehyung dengan alasan ingin meletakkan materi pelajaran yang tidak bisa diikuti Taehyung karena latihannya itu. Dan, Ibunya percaya.

“Mau makan dulu sambil menunggunya?”

“Tidak usah, Bibi. Aku langsung memberikan ini saja.” ujarku. “Boleh aku naik sekarang?”

“Tak masalah.” Ibu Taehyung tersenyum, dan dia kelihatan sangat cantik. Andai saja aku punya—lupakan.

Buru-buru aku menaiki tangga menuju kamar Taehyung di lantai dua, masuk ke dalam kamarnya yang dingin dan tidak dikunci, kemudian duduk di kursi yang sama. Seperti biasa, aku akan meneliti isi kamar Taehyung. Mengorganisir barang-barangnya dan berpikir bahwa selera Taehyung lumayan bagus.

Beberapa menit, aku memutuskan akan pulang. Kubuka buku teks tebal tadi, mengambil amplop yang kuselipkan di buku teks dan akan meletakkannya saat terdengar suara dari bawah kasur.

Aku tersentak, mendekap buku teks dan amplop tadi ke dada dan memandang waspada. Jangan-jangan itu hantu penunggu kamar Taehyung? Atau fans fanatik yang dimaksud Taehyung tempo hari? Aku sibuk menduga-duga.

Kemudian sebuah kepala menjulur dari bawah kasur dan aku menjerit histeris.

“Aku menangkap basah kau menyelinap ke dalam kamarku!” seru Taehyung dan tertawa. “Ya, kan?”

“Ibumu bilang kau belum pulang. Dan, aku hanya ingin meletakkan ini,” aku mengangkat buku teks tadi—untung saja surat itu sudah masuk dalam selipan.

“Buku apa itu?”

“Eh, sepertinya aku meninggalkan catatannya. Aku akan kembali ke rumahku dan mengambilkan catatannya, kemudian memberikannya kepadamu.”

Taehyung mengangkat satu alisnya, dan itu membuat aku tambah panik.

“Aku serius! Aku tidak mencuri apapun di kamarmu dan aku tidak memegang apapun! Aku tidak membuka lemarimu dan memotretmu telanjang!”

Taehyung melangkah ke depan dan aku tidak bisa menggerakkan kedua kakiku mundur. Kudekap buku teksku makin erat, ketika Taehyung sudah menjulurkan tangannya.

“Apa yang kau lakukan?!” seruku, berharap Ibu Taehyung datang dan menyelamatkanku. Saat Taehyung makin dekat, aku semakin gugup dan ingin menangis—kedokku pasti akan ketahuan setelah ini. Oh, tidak.

“Mesum, kau mau memegang dadaku, ya?!” teriakku berusaha menutupi ketakutanku yang konyol. Astaga, aku malu sekali mengatakannya. Terlebih pada Taehyung. Uuuh. Tapi—KEAJAIBAN! Taehyung berhenti berusaha merampas buku teksku.

“Apa? Memegang… apa?!”

“Lupakan saja!” aku menggeleng panik dan berbalik, tetapi seperti kemarin, aku tersandung kaki kursi dan terjatuh. Lututku mengempas di atas lantai yang keras dan rasanya sakit. Aku mengaduh dan akan bangkit lagi ketika Taehyung mengulurkan tangannya di hadapanku.

“Sepertinya sudah ribuan kali ya, kau tersandung kursi itu?”

“Apa maksudmu? Aku baru tersandung sekali ini.”

Sebaliknya, Taehyung malah tersenyum miring dan mengangkat alisnya. “Sepertinya ada seseorang yang berusaha berbohong saat ini.”

“Apa kau baik-baik saja? Maksudku kenapa bisa kau menyimpulkan bahwa aku sudah sering tersandung kaki kursimu?!”

“CCTV.”

Satu kata itu berhasil membekukanku, aku terdiam dan merasa diriku super konyol karena tak pernah menduga hal yang seperti ini. Ada apa dengan otakku? Aku menarik napas dan mengeluarkannya. Dan aku malu, benci, kesal, sekaligus sedih.

Aku menggigiti bibirku dan mengambil buku teksku yang terjatuh, berniat akan melenyapkan diriku di bawah tanah selamanya—maksudku lenyap dari kamar Taehyung segera, namun Taehyung menyambar lenganku dan aku ingin menangis karena dia, karena dia…

Apa?!

TAEHYUNG MENCIUMKU! DI BIBIR!

Aku begitu kaget dan syok dan kesal dan marah dan sedih dan… dan segala perasaanku lainnya sampai tidak menyadari bahwa bibir Taehyung sudah tidak berada di bibirku lagi. Dan aku masih melongo.

“Aku benar, kan? Pengirim surat itu kau,”

“Ja-jadi, kau sudah tahu ini dari awal.”

“Yep.”

“Dari surat pertamaku?”

“Well, ya.”

Aku merasa malu dan hatiku hancur. Taehyung boleh menghinaku dan rasanya aku tidak akan peduli karena aku sudah terlalu malu, bahkan untuk merasa malu lebih lagi.

“Selain dari CCTV, kau tahu darimana lagi?”

“Mmm,” Taehyung memandangku dan meringis, aku merasa ingin menangis sekeras-kerasnya melihat ringisannya. “Kau ‘kan mengetik surat itu, bukan? Supaya aku tidak tahu siapa pengirimnya karena jelas-jelas aku hapal tulisanmu, dan aku pernah tidak sengaja membuka folder surat-suratmu itu. Keren, kau bahkan menguncinya dengan kata sandi tanggal ulang tahunku.”

“Maafkan aku.” Kataku cepat. “Aku tidak bermaksud mengganggumu. Tapi aku tahu, kok, kalau kau tidak merasa sama sepertiku, tidak apa-apa. Mungkin lebih baik, aku pergi sekarang ya.”

“Bye.” Aku memaksakan senyum dan merengkuh bukuku erat.

“Tahu tidak, tadi itu ciuman pertamaku.” Ujar Taehyung dengan suara pelan.

“A-apa?”

“Ciuman pertama, biasanya diberikan kepada orang spesial.”

Jujur, itu juga ciuman pertamaku, tapi aku terlalu malu untuk berkata lebih. Pasti Taehyung sangat menyesal karena malah memberikan ciuman pertamanya untukku.

“Maafkan aku.” Kataku lagi. Sebelum melangkah keluar, aku menyempatkan diri untuk berkata. “Aku… tidak akan mengirimkan surat itu lagi kalau kau memaafkanku.”

Tapi mendengar Taehyung tertawa, aku berhenti dan menoleh dengan malu.

“Padahal itu surat favoritku.”

Aku hanya berdiri diam.

“Padahal aku berniat mengirimkan surat balasan padamu kalau kau mengirimkan surat itu sekali lagi.”

“Untuk apa kau mengirimkan itu padaku. Sudahlah, pokoknya maafkan aku.” Aku akan benar-benar pergi ketika Taehyung kembali berkata.

“Jadi kau menolakku?”

Eh?

“Menolak apa? Bukannya kau yang menolakku?”

Taehyung mengorek-orek laci nakasnya dan mengeluarkan sebuah surat yang pola lipatannya sama denganku tetapi aku tahu itu bukan punyaku.

“Awalnya aku ingin memberikanmu ini, tapi ternyata kau malah menolakku.”

“Ap-apa, aku bahkan tidak mengatakan apapun.” Sergahku cepat. Kemudian sadar bahwa ini hal memalukan. “Ah, sudahlah. Jangan permainkan aku.”

“Memang benar kok, aku suka padamu.”

Aku ternganga. Memandangi Taehyung dengan terluka karena aku yakin sekali ia mengatakan itu hanya untuk mempermainkanku.

Aku berjalan menghampirinya dan menginjak kakinya yang telanjang.

“Dasar menyebalkan!”

Tapi kemudian Taehyung memelukku dan aku memastikan aku akan mengingat ini sebagai skinship-ku dengan Taehyung yang kedua kalinya.

“Aku menyukaimu.” Bisiknya, dan entah mengapa aku mempercayainya.

“Aku lebih.” Ujarku sebagai balasan.

Aku mendongak dan memandangi Taehyung dengan cengiran khasnya.

“Hyujin, barusan aku mendengar suara Taehyung, apa—”

Mendengar suara Ibu Taehyung aku melepaskan diri dari Taehyung dan akan berbalik, sayangnya untuk ke-ribuan kalinya, aku tersandung kaki kursi yang sama. Lagi.

Ugh.

Suara tertawa Taehyung terdengar, dan pintu terbuka, memperlihatkan ibu Taehyung. Tapi aku tidak merasakan sesuatu selain kebahagiaan.

“Surat apa ini? Dari penggemarmu, ya?” tanya Ibu Taehyung kepada Taehyung sambil memungut surat di bawah kakiku. Taehyung tertawa lagi. “Oh, dan Hyujin, sedang apa kau tiduran begitu?”

Well, kecuali bahwa surat yang kubawa tadi berada di tangan Ibu Taehyung.

Tapi aku tidak cukup peduli.

“Yap, Ibu benar. Itu dari penggemar fanatikku.” Sahut Taehyung sambil tertawa lagi dan lagi.

Aku mendengus, tersenyum malu. Melirik pada Taehyung dengan tatapan bengis dan ia tersenyum; sepertinya aku jatuh cinta lebih dan lebih.

THE END

.

.

A/N:

Hollaaaaaaaaa~~~

Dalam beberapa jam ff-ku jadi dan akhirnya aku langsung post deh! Belakangan aku emang lagi naksir BTS apalagi V—padahal dulunya aku ngefans Jimin😄 Akibat dengerin lagu BTS yang Just One Day (atau yang aku jadiin lagu di blog-ku ini) bikin aku kesihir /apaini

Dan entahlah kekuatan macam apa yang merasuki sampai aku bisa nyelesain ff ini dalam dua hari aku megang laptop wohoho! Marvoleus marveolus!😄 Padahal aku ngetiknya di laptop, di sela-sela aku nonton film How To Train Your Dragon untuk berpuluh-puluh kalinya😄

Aku bakal berterima kasih banget kalau ada yang baca ini dan ninggalin komentar >_<

Eh, sebentar ini ada Taehyung nyempil pen ngasih bunga buat aku ><

veyss

Thanks! See you soon in my next post😄 ^^

bts

—bepimee

6 thoughts on “[Vignette] Your Fanatic

    1. Hai Janni kita ketemu lagi eaaaaa /dibuang/
      Aku juga mau dong apalagi ini taehyunggg hueee =.=
      Perbanyak makan yang asin-asin /apaini/
      Makasih ya udah baca dan ninggalin komentar hihihi

      Like

      1. samasama ^^
        ngakak pas ternyata si oc fansnya v tapi gamau ngaku x3 suka juga sama karakternya v di sini haha

        Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s