[Vignette] Math, Match, Mate


suga

Math, Match, Mate

written by bepimee (@meydawk)

Casts

OC || BTS Suga

Length 1842 words | Genre Fluff, Romance, Comedy | Rating Teenager

Summary

Karena kau jatuh cinta padaku karena Matematika.

.

.

.

Sekali lagi aku mengetukkan jari-jari di atas meja, menunggu siswa badung di hadapanku ini. Oke, menunggu murid sepertinya menyelesaikan lima soal matematika tentang persamaan kuadrat tentu bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi karena sedari tadi laki-laki itu mengoceh terus, tentang betapa tak berperikemanusiaannya guru matematika kami yang dengan teganya melakukan ulangan susulan dengan aku yang menungguinya. Oh, dan bahwa sedari tadi ia malah sibuk menggambar di kertas coretannya, sementara kertas ulangan di sisi kirinya tak terjawab sama sekali.

“Min Suga, menurutmu Ibu Park memintamu apa di sini?” Tanyaku untuk kesekian kalinya dengan kejengkelan yang memuncak. Juga menyebutkan marga guru matematika kelas akselerasi kami.

Suga mendongak dari gambarnya dan menatapku dengan matanya yang kecil. “Apa, ya? Sepertinya aku lupa.”

Nah! Bagaimana mungkin aku membiarkan waktu sejam tiga puluh menitku terbuang sia-sia untuk orang sepertinya?!

Aku menghela napas dan memandangnya dengan emosi yang kutahan.

“Kau mau aku mengingatkannya?”

Coba kalau Ibu Park tidak memintaku menungguinya karena ia sendiri harus mengantar putrinya pergi kursus dan bahwa aku adalah ketua kelas yang bertanggung jawab dan terlalu sopan untuk menolak.

“Kau mau?” Tanya Suga sebagai jawaban, sementara bolpoinnya menggelinding ke bawah meja. Ia menendangnya dengan kaki, bolpoin itu semakin jauh dari bangkunya alih-alih mendekat. Terpaksa aku meraih bolpoin hitam itu dan melemparkannya.

“Kau harus menyelesaikan soal itu, Min Suga. Dengan begitu aku boleh segera pulang karena aku sangat sibuk dengan tugas-tugasku dan menungguimu mengerjakan soal ulangan seperti menunggui kiamat datang. Apa kau tertarik untuk memberikan lembar kerjamu dan keluar kalau kau sendiri tidak menyentuhnya sama sekali?”

“Tidakkah kau menganggap hal ini menyenangkan? Bukannya terkurung di ruang kelas bersamaku sesuatu yang keren?”

Aku mendelik, memasang wajah jijik. Kemudian kembali bersedekap dan memandang lurus ke depan.

“Segera. Kerjakan. Dan. Jangan. Mengoceh. Apapun. Lagi.”

“Kau menyuruhku melanjutkan gambarku?”

Astaga. Aku mengedipkan mata dengan muntab. Mungkin karena melihat kemarahanku, Suga meletakkan pensilnya.

“Kenapa kau tidak membantuku mengerjakannya saja?”

“Ini ulangan. Siapapun tidak berhak membantumu dalam mengerjakan ulangan.” Kataku dengan angkuh. “Apa kau paham?”

Aku melihat arloji dan hampir menangis menyadari masih ada satu jam tersisa.

“Kau ingin cepat pulang, kan? Bukannya membantuku mengerjakan soal sialan ini dapat mempercepat dan kau bisamenikmati udara segar, begitu pula aku.”

“KENAPA KAU TIDAK MATI SAJA MIN SUGA DARIPADA MENYUSAHKANKU!!!” Tapi tentu saja aku tidak mengatakannya dan hanya menarik napas sebagai jawaban.

Aku kembali ke meja guru dan berniat akan bermain ponsel saja daripada mengeluarkan emosi terus-menerus pada orang ini.

“Kau tahu tidak, mengeluarkan ponsel saat kau menunggui seseorang ulangan itu sesuatu yang tidak sopan?”

Oke. Oke. Cukup sudah. Uban-uban akan memenuhi rambutku apabila aku masih mengurusi satu orang ini.

Aku berjalan mendekat ke meja Suga dengan enggan dan menarik kursi ke depan mejanya, sehingga posisi kami sekarang berhadap-hadapan.

“Baiklah, demi kebahagiaanku, aku akan memberitahu rumus dan caranya; tetapi kau harus mengerjakannya sendiri. Bagaimana menurutmu?”

Suga berpikir sebentar dan aku memaksa tanganku untuk tidak bergerak menggebrak meja.

“Lumayan. Oke.” Sahutnya dan aku menarik lembar soalnya. Membaca soal-soal itu di dalam hati dan berpikir bahwa Ibu Park sudah sangat baik dengan memberikan soal-soal yang sekiranya tidak melibatkan pecahan-pecahan.

Aku berdeham. “Oke, begini rumus soal nomor satu.” Aku menuliskan rumusnya dengan pensil di lembar jawabnya. “Coba kerjakan.”

Suga mengangguk-angguk dan merebut pensilnya di tanganku, dan manuver itu membuat jemarinya bersentuhan dengan jemariku. Dan aku sedikit… tidak, aku tidak merasakan apapun.

Beberapa menit memandangi jemari Suga yang mulai mengisi lembar kerjanya, namun tidak menghasilkan apapun. Well, kecuali angka-angka tak bermakna yang tidak ada hubungannya dengan soal di depannya.

“Ehm, Suga, kau menulis apa?”

“Nomor ponselku.” Ia mendongak menatapku dan nyengir. “Kalau-kalau kau ingin tahu.”

Aku memejamkan mata dengan pahit.

“Baiklah, kuanggap kau sudah bisa mengerjakan nomor satu. Begini rumus untuk nomor dua.”

Aku kembali menulis beberapa baris di bawah sederet nomor ponsel Suga. Mendongak kembali, dan mataku memandang TEPAT di mata Suga.

Oke, aku masih tidak merasakan apa-apa. Yah, kukira begitu. Kecuali kebencian, tentu saja.

Untuk menutupi kecanggungan, aku mengangsurkan kembali lembar jawabnya dan mengetukkan jemari di meja.

“Kau tidak berniat memandangiku?” Tanyanya tiba-tiba. Gerakan jariku terhenti seketika.

“Apa?”

“Biasanya perempuan akan meleleh jika kupandangi.”

“Kecuali aku, berarti.” Aku mengangkat bahu. “Kerjakan saja. Sudah dua puluh menit berlalu.”

Selama beberapa menit aku mengetukkan jemari di meja dan mengamati seisi kelas yang kosong.

“Kalau sudah begini harus diapakan?”

Aku memandangi jawabannya dan lumayan takjub karena tidak menemui kesalahan satupun.

“Oke. Kau harus membuat grafiknya. Cari titik potong terhadap sumbu y, dan x. Yap, begitu.” Aku menjelaskan.

Suga kembali menunduk dan menulis jawaban. Dengan begitu aku hanya bisa memandangi rambut hitamnya saja. Rambutnya kelihatan halus dan tebal. Dan aku tidak tahu mengapa aku ingin menyentuhnya. Oh, tidak. Aku mengalihkan pandanganku kembali ke lembar jawab Suga. Ternyata Suga sudah menjawab nomor tiga dan aku takjub melihatnya.

“Nomor empat. Apa rumusnya?”

Aku menarik lembar jawabnya dan menuliskan rumus, sama seperti tadi.

“Nomor lima, pakai saja rumus yang sama untuk nomor satu.”

Suga mengangguk-angguk dan rambutnya bergoyang dan aku semakin gemas untuk…

Apa yang terjadi padaku?

Buru-buru aku bangkit kembali dan berjalan menuju mejaku sendiri.

“Waktunya tinggal 20 menit lagi.”

Suga masih terlalu sibuk dengan soalnya sehingga kelihatannya tidak mempedulikan ucapanku.

Saat waktu kurang lima belas menit, Suga bangkit dan menyerahkan lembarannya padaku, kala aku sedang menidurkan kepalaku di meja.

Aku meneliti kembali lembar jawabannya.

“Bagaimana? Benar semua?” Tanyanya.

“Sepertinya.” Sahutku. “Oke, silakan pulang.”

Tapi bukannya beranjak keluar ruangan, Suga malah menungguku membereskan isi tasku.

“Tidak mau pulang, ya?” Tanyaku. “Baiklah, aku dul–“

“Sudah sore. Mau kuantar?”

“Hah?”

“Mau kuantar tidak? Lagipula menunggu bus itu mengesalkan.”

Aku terkejut dan berpikir bahwa sebenarnya Suga bukan laki-laki yang terlalu buruk. Tapi… bagaimana ya? Mana mungkin aku menyetujuinya begitu saja? Apalagi bahwa ini pertama kali aku berinteraksi (kecuali memelototinya dan mengatakan bahwa ia harus belajar lebih giat atau menyuruhnya piket bisa disebut dengan interaksi) dan mendapat balasan darinya.

“Mau tidak?”

Lagipula, bus selalu datang terlambat pada jam-jam seperti ini. Dan kejahatan di malam hari… ugh.

“Di mana arah rumahmu?” Aku mengeluarkan suara, akhirnya.

“Searah dengan arah rumahmu.” Suga menjawab dengan nada tidak sabaran namun tetap saja itu membuatku takjub.

“Darimana kau tahu rumahku?”

Untuk pertama kalinya aku melihat Suga salah tingkah.

“Di mana rumahmu? Lebih jauh dariku atau lebih dekat?” Tanyaku lagi, jelas-jelas mengabaikan kesalah tingkahan Suga karena mengangkatnya sebagai topik jelas akan membuatku semakin canggung.

Suga malah meraih tanganku dan menariknya alih-alih menjawab pertanyaanku dan aku terhenyak, yang kurasakan hanyalah panas di pipiku dan bahwa tanganku masih dalam genggamannya.

Ia baru melepaskan genggamannya tatkala kami sampai di depan motornya. Suga menyerahkan helmnya kepadaku dan demi apapun, aku menganggap senyumnya (yang disertai hilangnya kedua matanya) adalah hal termanis, dan bahwa aku begitu kaget menyadari pikiranku itu.

.
.
.

Hal kedua yang kusadari bahwa  sekarang aku sedang menggenggam kemeja Suga pada bagian kanan dan kirinya dan bahwa aku mengenakan jaketnya. Benar, ternyata Suga cukup gentle dengan memberikan jaketnya kepadaku (“Ingat, jangan mencurinya seperti para fangirlku itu.” Dan kusambut dengan muka penuh cela). Satu yang kusesalkan, Suga memacu motornya dengan kecepatan penuh dan mau tidak mau aku harus berpegangan padanya. Yang menyedihkan, Suga menanggalkan jasnya dan menyisakan kemeja tipis putihnya saja. Dan sangat memalukan apabila aku menggenggamnya (oke, kenyataan bahwa bagian bawah kemeja itu dikeluarkan dari celananya dan bahwa aku dapat… ugh… ‘menyentuh’ permukaan kulitnya… tidak!)

Masalahnya, apabila aku nekat tidak berpegangan, pantatku akan segera menyapa tanah dan mungkin saja Suga tidak menyadarinya dan tetap menjalankan motornya. Sementara aku akan mati mengenaskan.

“Kau lapar tidak?!” Aku mendengar Suga berseru dengan sayup-sayup.

“Memang kenapa?” Aku balas berseru dengan tidak kalah kerasnya.

Mungkin karena jawabanku itu Suga malah membelokkan motornya ke sebuah warung ramen pinggiran dan menghentikan laju motornya.

“Ayo turun.” Perintahnya.

Aku turun dan melepas helm. “Mengajakku ke sini, apa kau mau menraktirku?”

Suga mendecih. “Balas budiku. Karena kau sudah membantuku mengerjakan soal sialan itu.”

Aku agak terkejut. “Kukira mengantarku sudah impas. Lagipula, aku melakukannya ‘kan demi diriku juga.”

“Tetap saja, sebagai laki-laki yang baik, aku harus berterima kasih.”

“Wah, aku sangat terkejut karena kau bahkan tidak pernah sebegini baiknya.” Aku mencibir. “Tapi omong-omong, kenapa kita tidak masuk?”

Suga tersenyum dan aku terbutakan (ehm!) kemudian menggandeng tanganku dan aku nyaris pingsan karenanya.

“Tidak apa-apa, ‘kan, kalau begini?” Ia mengayunkan gandengan tangannya dan nyengir.

Seiring dengan cengiran lebar Suga, tak sedikitpun keinginan untuk mengibaskan tangannya dariku dan pergi menjauh.

Aku malah balas tersenyum dan tertawa, seolah-olah bergandengan tangan dengan siswa tak dikenal dan super badung seperti Suga adalah sesuatu yang sangat normal untuk dilakukan.

Sebenarnya apa sih yang berada dalam otakku?

.
.
.

Kemudian ketika aku membuka tasku sepulang sekolah, aku menemukan sebuah kertas yang dilipat kecil. Kukerutkan kening, seingatku aku tak pernah memiliki kertas yang bergambar seperti ini.

01100001 01101011 01110101 00100000 01110011 01110101 01101011 01100001 00100000 01110000 01100001 01100100 01100001 01101101 01110101

01110011 01110101 01100111 01100001.

Biner?

.
.
.

Iseng, aku membuka website biner translator dan mendapati bahwa kode biner di surat yang kudapat (atau mungkin lipatan kertas yang salah kirim) memiliki arti:

Aku suka padamu. Suga.

Well, aku juga lumayan kaget melihatnya. Aku tahu jelas sekali bahwa orang sepertinya jelas tidak menyukaiku. Seingatku, Suga bukan tipe pemalu dan ia terbiasa menyatakan cinta langsung (bukan berarti aku tahu banyak tentangnya). Dan bukan berarti aku berharap ia memang menyukaiku.

Tapi aku pernah melihat tulisan tangan Suga dan mau tidak mau, itu meyakinkanku bahwa ini milik Suga.

Apa aku bahagia?

.
.
.

“Hei!” Seruku dengan suara nyaring. Seseorang di depanku berhenti dan berbalik ke arahku.

“Ada apa?”

“Ada yang ingin kuberikan padamu. Kau bisa biner, ‘kan?”

Suga tampak kaget tapi ia hanya nyengir sedikit. Aku memanfaatkan kesempatan itu dengan menyelipkan sehelai kertas yang kulipat ke tangannya.

“Kuharap kau bisa membacanya.” Ujarku dengan malu dan bergegas pergi.

01100001 01101011 01110101 00100000 01101010 01110101 01100111 01100001 00100000 01110011 01110101 01101011 01100001 00100000 01110000 01100001 01100100 01100001 01101101 01110101

(Aku juga suka padamu)

.
.
.

“Hei, Miyeon!”

Aku berhenti melangkah dan dengan panik berbalik kembali, Suga berdiri beberapa meter di hadapanku.

“Aku jauh lebih suka padamu!”

Aku tertawa.

“Sepulang sekolah…., mau kencan?”

Aku tentu tak punya alasan untuk menolak. Dan bahwa ini konyol. Tapi aku tak punya pilihan selain mengangguk. Dengan hati berbunga-bunga.

.
.
.

“Suga? Boleh aku bertanya?” Tanyaku di sela kencan kami yang ke-26.

“Apa?” Sahutnya, tidak membuka mata atau bangkit untuk sekedar memperhatikanku dan tetap sibuk menidurkan kepala di meja (aku curiga itu merupakan hobinya yang super aneh, tapi ia sendiri pun begitu).

“Kenapa kau bilang suka padaku melalui biner?”

Butuh beberapa saat untuk mendengarkan jawabannya.

“Karena kau tidak lagi kesal ataupun terlihat benci kepadaku karena matematika. Karena kau tersenyum kepadaku karena matematika. Karena matematika berdasar pada angka. Dan karena angka merupakan pembentuk biner.” Jelas Suga panjang-lebar tetapi masih memejamkan mata. “Dan karena kau jatuh cinta padaku karena matematika.”

Aku tertawa mendengar alasan konyolnya yang terdengar begitu romantis di telingaku. Dan tidak dapat menahan diri untuk tidak mencium pipinya. Ugh. Sebenarnya itu tindakan memalukan namun aku tak akan pernah menyesali itu. Well, tidak akan selama cengiran Suga semakin lebar ketika aku melakukannya.

.
.
.

“Eh? Dan, Suga? Kau pakai sampo apa sih? Kenapa rambutmu bagus sekali?”

THE END

.

.

A/N:

Halo!

Gak tau kenapa belakangan aku lagi pengen produksi fanfict sebanyak-banyaknya padahal banyak tugas yang terlantar dan belom kusentuh sama sekali ahahah_-_

Udah lama banget gak jadi Productive Authoryang tiap minggu paling gak post sekali. Aku ilang-ilangan terus ya dan karena idenya emang nakal, suka mencar sendiri /apaini

Oh dan aku lagi naksir Mas Agus ini (Okesip, ini nama bapak saya =3) dan aku nggak tahan untuk gak bikin ff tentang matanya yang hobi ilang-ilangan seperti ideku😄 Dan ini kenapa aku sok banget pake ide matematika idih sok pinter banget >< NGAHAHAHA ini juga aku bikin di sela pelajaran matematika dan waktu gurunya keluar /bandel mode on

Aku bakal berterimakasih banget kalo ada yang baca ini ff padahal absurd banget😄

Thanks a lot! See u next time❤

sugas

sugah

Terakhir, ini Taehyung minta dicipok apa gimana y:(

vs

bepimee

4 thoughts on “[Vignette] Math, Match, Mate

  1. FF-nya manis banget🙂
    Idenya oke. Nyatain cinta pake bilangan biner. Baru kali ini nemu ff beginian.
    Tapi di kalimat terakhir malah nanya soal sampo. Berasa di iklan. Hehe, tapi keseluruhan bagus banget. Aku suka ^^

    Like

    1. Hai Vera SHE!
      Aww, sebenernya masalah kode biner itu aku terinspirasi….
      Haha itu cuman intermezo aja biar ga terlalu kaku /apasih.
      Hihi makasih udah baca dan muji-muji aku😄

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s