[Oneshot] Skinships


seok

Skinships

Written by bepimee (@meydawk)

Casts

OC || Kim Seokjin

Length 3231 words | Genre Romance, Fluff | Rating General

Summary

Dan bahwa ini adalah skinship tak terhitungku dengan Seokjin.

.

.

.

“SIAPA KAU?!”

Aku terhenyak mendengar suara teriakan yang sebegitu kerasnya. Pelan aku berbalik dan mendapati Seokjin berdiri di hadapanku dan menatapku dengan marah.

Oh, tentu saja. Bagaimana mungkin ia tidak marah setelah aku menyelinap ke dalam kamarnya dan mengobrak-abrik meja belajarnya.

“Hai, Seokjin.” Sapaku dengan suara semanis mungkin dan tersenyum dengan sangat bahagia. Well, meski dalam keadaan marah, bagiku Seokjin tetap terlihat seperti malaikat.

“Bagaimana bisa kau masuk ke kamar orang asing dan mengobrak-abrik meja belajar seseorang?!” Seokjin bertanya, masih dengan nada berteriak yang sayangnya tak menggentarkanku. Kemudian ia mencekal lenganku dengan kuat dan menarikku (wow, Seokjin memegang tanganku!) keluar dari kamarnya. “Sekali lagi kau masuk tanpa ijin, aku tidak akan segan-segan mengirimmu ke kantor polisi!”

Aku merengut, memandang pintu apartemen yang terbanting di depanku.

Tapi tenang saja, aku tidak akan menyerah.

oOo

 

Kali ini, aku sudah mengetahui jadwal Seokjin seminggu ini sehingga aku bisa mengikutinya dengan mudah. Pukul tujuh, aku sudah stand-by di parkir apartemennya dan berjongkok di dalam bagasi mobilnya; menunggu Seokjin datang dan membawaku serta ke tempat ia melakukan pemotretan.

Aroma mobil Seokjin sangat khas. Campuran antara kayu mahoni yang tak kutahu asalnya darimana dan bau parfum Seokjin yang setiap hari kupakai, semata-mata hanya supaya aromaku dan Seokjin sama.

Kemudian aku mendengar suara kunci bergemerincing dan pintu terbuka. Mobil bergerak sedikit ketika Seokjin naik dan duduk di joknya dan menutup pintu. Sementara ia tidak menyadari keberadaanku sama sekali.

Seokjin menyalakan radio tape sementara mobil berjalan perlahan, mungkin untuk mengusir kebosanan. Ia menyalakannya dalam volume kecil dan ikut bersenandung mengikuti lagu tersebut, dan aku begitu bahagia dapat mendengar suaranya secara Cuma-Cuma, terlebih itu bukan suara dengan nada penuh amarah dan teriakan, seperti kemarin.

Mobil berbelok beberapa kali dan Seokjin menambah kecepatan, lagunya masih berputar dan aku setengah berdiri di bagasi dan berniat akan ‘meloncat’ ke jok deret kedua, di belakang Seokjin. Aku ahli melakukan ini sewaktu kecil tanpa disadari oleh Ayahku atau siapapun yang sedang menyetir. Kuharap Seokjin juga tak menyadarinya.

Perlahan aku meloncat, namun sayangnya Seokjin mengerem tiba-tiba dan jadilah aku menabrak jok depan dan sebenarnya itu hal menyakitkan.

“Kau lagi!” Seokjin memelototiku penuh kebencian dan rasa ngeri. Aku dapat melihat kekagetan serta—ketakutan?—di matanya. Demi keamanan, Seokjin menghentikan mobilnya di pinggir jalan raya dan menunjukku. “Keluar kau dari mobil ini! Atau aku akan melaporkanmu di polisi terdekat!”

Aku merengut.

“Aku ini fans-mu. Seharusnya kau memperlakukanku dengan lebih baik.” Gumamku. “Aku sudah berhasil sejauh ini dan kau memaksaku keluar? Oh, tentu tidak.”

“Kau pasti bukan fans! Kau seorang anti, benar, ‘kan?!” seru Seokjin dan matanya bersinar merah. Seandainya kami berada dalam komik, seseorang pasti akan menggambar taring di kanan-kiri kepala Seokjin. Ha ha.

“Tidak! Itu tidak benar! Aku mencintaimu dan aku rela melakukan apapun untukmu!”

“Kalau begitu, kenapa kau tidak enyah saja? Kau bukan seorang fans, kau sasaeng!” meskipun suara Seokjin sudah turun beberapa oktaf, tetap saja nada suaranya membentak dan mengintimidasi.

“Memang kenapa kalau aku seorang sasaeng? Bukannya seharusnya kau senang aku dengan sangat bahagia mencucikan pakaianmu, piring-piringmu, dan bahkan aku membersihkan seisi apartemenmu.”

Pipi Seokjin memerah, kemarahannya pasti sangat mengerikan. Ia turun dari mobil dan membuka pintu mobil deret kedua, tempat aku berada, dan menarikku dengan sangat kuat, dan well, kasar.

“Dengarkan aku sekali ini saja, jangan menyusup ke rumah atau ke mobilku. Jangan pernah jadi fans-ku!” bentaknya kemudian mengempaskan tanganku, masuk ke mobilnya lagi dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi.

Dan, oh, ini skinship-ku yang kedua dengan Seokjin. Aku tak pernah menyangka ada seorang fans yang seberuntung diriku.

oOo

 

Semalaman ini aku belum melihat tanda-tanda Seokjin pulang ke apartemennya. Padahal, bisa kupastikan kalau jadwalnya sudah berakhir sejak dua jam yang lalu. Ke mana ia pergi?

Aku menatap sekeliling, tetap berjongkok di halaman parkir apartemen dan menanti mobil Seokjin tiba di tempatnya. Tetapi, setengah jam berlalu dan masih belum ada tanda-tanda Seokjin akan pulang. Kuputuskan untuk naik ke apartemennya saja dan menunggu di dalamnya. Seokjin pasti akan terkejut dan sangat marah nantinya. Semoga saja ia kembali menyeretku dan jadilah skinship-ku yang ketiga dengannya.

Tiba di depan pintu apartemennya, aku melemaskan jemariku dan mulai menyentuh tombol-tombol kunci. Sedetik, dua detik, pintunya bergeming dan tak membuka seperti biasanya. Aku mengulangnya beberapa kali dan hasilnya tetap sama.

Seokjin mengganti password-nya?

Aku menyentuh sembarang tombol sambil berharap pintu akan terbuka dengan mudah untukku. Well, aku tidak peduli. Aku hanya ingin masuk ke dalam dan mengorganisir isi apartemen Seokjin yang begitu kuidam-idamkan.

Tetap saja, nasib sedang tidak berpihak padaku dan pintu sialan ini tetap diam. Aku memakinya dalam hati, bernafsu mendobraknya meski itu jelas hal yang konyol karena pintu ini terbuat dari beton.

Sial, kalau begini caranya, aku pasti harus memata-matai Seokjin lagi ketika masuk ke apartemennya. Dan melakukannya sungguh sulit karena kukira Seokjin sudah mengetahui wajahku. Uuuh.

Oke, tarik napas, buang. Seseorang sepertiku tidak pantang menyerah dan kuyakinkan kau, Kim Seokjin, aku pasti akan menginap di apartemenmu suatu hari nanti kalau aku mengetahui password-nya lagi.

Aku tersenyum dan berbalik pergi.

oOo

 

Well, kau sudah mengganti password apartemenmu, ‘kan? Kalau begitu kau aman.”

“Yah, memang sudah kulakukan. Tetap saja, aku khawatir perempuan gila itu akan menerobos masuk ke dalam kamarku dan melakukan hal-hal mengerikan yang tak pernah tebersit di kepala kita.”

Aku nyengir mendengar suara Seokjin. Well, meski aku belum mengetahui password apartemennya, jangan lupakan bahwa aku sudah pernah masuk ke sana dan berhasil menempelkan sebuah kamera perekam mungil di semua sudut apartemennya, kecuali kamar mandi tentu saja. Karena meski aku ini seorang penggilanya, aku tidak semesum itu.

Tunggu, siapa perempuan yang diajak mengobrol Seokjin itu? Menurut riwayat hidup dan fakta-fakta aktual Seokjin yang kudapatkan dari internet ataupun dari hasil memata-matai Seokjin, aku tidak pernah menemukan bahwa Seokjin dekat dengan seorang perempuan, atau memiliki pacar. Jangan-jangan perempuan itu pacarnya?

Aku menyangga kepalaku dengan tangan dan tetap memperhatikan gerak-gerik Seokjin dan perempuan itu.

“Itu artinya kau sudah jadi seseorang yang terkenal, Jin. Dengan bukti gadis sasaeng itu.” kata perempuan tadi dan tertawa. “Selamat, ya.”

Seokjin merengut, ia memandang perempuan tadi, dan aku terkejut ketika feeling-ku mengatakan bahwa ada sesuatu di antara mereka. Oh, wow, tidak boleh ada yang menjalin hubungan dengan Seokjin-ku!

“Tetap saja itu mengerikan. Bayangkan, ia bahkan mencucikan pakaianku—yang kukira itu kau—bahkan pakaian dalam!”

Perempuan tadi tertawa lagi. Wajahnya cantik dan kalem. Aku jadi tahu mengapa Seokjin menyukainya.

“Sudahlah, Jin. Menurutku gadis itu tidak berpotensi mengancam nyawamu. Kau hanya perlu berhati-hati saja. Dan kalau tingkah sasaeng itu semakin mengerikan, pacarku selalu ada.”

APA?! PACARKU?!

Itu artinya… perempuan itu sudah punya pacar? Dan Seokjin masih mengejarnya? Ah, Seokjin-ku yang malang.

“Omong-omong, kenapa kau mengira aku yang mencucikan pakaianmu?” tanya perempuan tadi dan aku melihat wajah Seokjin menjadi semacam… sedih.

Dan melihat Seokjin yang biasanya terlihat keren dan tampan dan bahagia sedih, aku merasa tidak kuat dan memilih mematikan laptop-ku saja.

oOo

 

“Ayolah, Pak. Aku benar-benar membutuhkan password apartemen nomor 124. Ini keadaan yang sangat darurat. Coba kalau kau tahu keadaanku! Aku benar-benar merasa dirugikan dengan ini!” aku masih memaksa dan memasang wajah sedih yang kukira menghanyutkan.

“Nona, aku tidak berhak untuk memberitahukan password tanpa seijin pemilik apartemen. Dan kau juga bukan salah satu kerabat dekat pemilik, benar?”

“Tidak! Anda salah. Aku adalah pacar Jeongsu dan ia mencuri barang-barang berhargaku! Dia seorang penipu parah dan apa yang Anda bilang? Tanpa seijin? Menurut Anda, Jeongsu akan memberikan barang-barang yang ia curi dariku kalau aku memberitahunya, ha?!” aku berseru. Omong-omong, Jeongsu adalah nama samaran Seokjin agar tidak diketahui oleh orang-orang di sini sehingga menyerbu apartemennya nanti. Dan bukankah aku hebat sehingga berhasil mengetahui hal sepele itu?

“Ayolah, Pak. Aku benar-benar memerlukan ini. Jeongsu akan membunuhku kalau ia tahu aku merebut kembali barang-barangku.” Aku memelas.

Dan—hore!—penjaga itu menyerah dan mulai mengetikkan sesuatu di komputernya. Kemudian berbalik kembali kepadaku.

Password-nya 040599.”

Aku tersenyum dan berterima kasih dengan sangat banyak.

Kim Seokjin, sepertinya kau berada di tanganku lagi.

oOo

 

Awalnya, aku akan berniat keluar dan ‘menyambut’ Seokjin yang baru masuk ke dalam apartemen ketika aku melihat Seokjin duduk lesu di meja makan untuk dua orang dan melihat cara berjalannya, aku tahu ia mabuk. Aku mengintipnya melalui celah-celah pantry dapur dan keremangan menyelamatku dari pandangan Seokjin, meskipun aku tahu ia tak akan menyadariku karena keadaan mabuknya itu.

Kelihatannya Seokjin sedang patah hati. Atau sakit? Entahlah, aku tidak pandai membedakan raut orang sakit dan patah hati. Tetapi karena aku tak tega mengganggunya, aku tetap pada posisiku sementara Seokjin menidurkan kepalanya di meja.

Apa yang terjadi? Apa akhirnya perempuan itu mengetahui perasaan Seokjin dan menolaknya? Atau pacar perempuan itu melabrak Seokjin? Atau ada seorang sasaeng lain yang bertindak tidak senonoh padanya? Untuk yang terakhir, kupastikan aku akan membunuh sasaeng lain itu karena telah menyakiti Seokjin.

Karena terlalu sibuk dengan potongan puzzle di otakku, aku tak menyadari bahwa Seokjin muntah. Keadaannya pasti buruk sekali karena aku tahu Seokjin bukan penyuka minuman keras. Aku penasaran siapa yang membawanya ke apartemen dengan selamat.

Aku bangkit dan berjalan mendekat.

“Seokjin, apa kau baik saja?” bisikku pelan.

Seokjin jelas tidak sadar akan keadaan sekitar dan bersiap akan muntah lagi. Well, ia sukses muntah di pakaianku.

“Oke, kau pasti tidak baik saja.” aku memutuskan tak bertanya lagi dan menariknya, setengah membopong, menuju kamar utama yang ia huni. Yeah, skinship-ku yang ketiga terlihat agak menyedihkan, dengan muntahan di pakaianku. Tetapi itu tidak mengurangi kebahagiaanku karena dengan posisi Seokjin yang setengah menyandar ke tubuhku membuatku dapat mencium aromanya dengan sangat jelas. Hore!

Aku mengambrukkan Seokjin di kasurnya dan melepas sepatunya. Ini hal yang sangat membahagianku karena aku terlihat seperti pacar Seokjin dan seperti itulah yang selalu kuharapkan, ha ha.

Meski dalam keadaan tidak sadar (dan mungkin tertidur), Seokjin tetap terlihat tampan. Aku melepas jasnya dan ia kini mengenakan kemejanya saja dan itu semakin menambah kadar kekerenannya. Aku berdecak kagum karena belum ada seorang pria yang berhasil membuatku segila ini.

Sadar tentang pakaianku, aku memutuskan mencari pakaian yang sekiranya bisa kupakai di lemari Seokjin. Ada empat deret lemari dan aku mulai mengobrak-abriknya. Seokjin tidak punya pakaian yang bisa kupakai, kecuali kemeja-kemeja yang berderet rapi. Aku menyambar satu dan berganti pakaian di kamar mandi, sekalian mencuci pakaianku itu.

Selesai, aku mematut diriku di cermin dan bahwa aku merasa kemeja Seokjin terasa super nyaman dan aku begitu menyukainya. Keluar dari kamar mandi, aku menyelimuti Seokjin dan tergoda untuk mencium dahinya namun aku tak tega dan tak berani juga.

Jadi aku keluar dari kamarnya dan menutup pintu.

oOo

 

Seseorang menggoyang-goyangkan badanku dengan sangat kasar dan aku terpaksa bangun. Cahaya matahari terik membuatku tak bisa melihat dengan jelas.

“Apa yang kaulakukan padaku?!”

Lamat, akhirnya aku sadar bahwa Seokjin-lah yang berada di hadapanku, dan dengan wajah buas dan penuh amarah.

Eh? Bukannya orang mabuk akan bangun sangat terlambat? Kenapa Seokjin sudah bangun? Mendahuluiku? Aku mengucek mata dan menyesuaikan diri dengan cahaya.

“Kutanya, kau melakukan apa semalam?! Kau memanfaatkan kemabukanku, ya?!”

Aku memejamkan mata, pening akan teriakan Seokjin yang menggema dan bahwa aku baru sadar semalaman aku tidur di lantai apartemen Seokjin.

“Apa kau tak punya mulut?! Aku benar-benar akan melaporkanmu ke polisi!” Seokjin menarik tanganku untuk bangkit dan aku tidak punya tenaga untuk memberontak. Cengkeramannya begitu kasar dan aku yakin kulitku akan sedikit lecet.

“T-tunggu sebentar,” aku menyahut pelan dan mengumpulkan nyawa. “Aku tidak melakukan apapun padamu. Oke?”

“Lalu kenapa kau mengenakan kemejaku?!”

“Oh, semalam kau mabuk. Dan kau muntah di pakaianku.”

Seokjin mendelik. “Pembohong besar! Kupastikan kau akan mendapat hukuman yang setimpal di kantor polisi!”

Apa? Aku tak menyangka Seokjin benar-benar akan melakukannya.

“T-tunggu sebentar. Aku tidak berkata bohong, oke? Aku tidak melakukan apapun selain membopongmu ke kamar dan membersihkan rumahmu. Oh, dan meminjam kamar mandimu. Tapi kau bisa pegang ucapanku, aku tidak melakukan apapun yang merugikanmu!”

Seokjin mengabaikanku dan tetap menyeretku.

“Kumohon, jangan laporkan aku ke polisi, ya? Kumohon. Seokjin Oppa, kumohon.” Aku berusaha menahan langkahnya dengan berusaha menempelkan kakiku ke lantai.

Tak berhasil, Seokjin tetap saja berhasil menarikku dan kepanikan menyerangku.

“Kau orang gila! Mungkin Rumah Sakit Jiwa adalah satu-satunya yang pantas untukmu! Kubilang dari dulu, enyah saja kau!”

Seokjin membuka pintu dengan sangat kasar dan pergelangan tanganku terasa sangat panas dan pedih ketika tanpa sengaja (atau sengaja?) kuku Seokjin menggoresnya. Aku berusaha mengibaskan tangannya dan berhenti melangkah tetapi ternyata tenaga Seokjin sangat kuat dan aku menemui kegagalan lagi-lagi.

Aku masih berusaha mundur—melindungi agar seseorang tidak melihat Seokjin sedang bersikap kasar kepada perempuan dan membuat karirnya turun—ketika tiba-tiba Seokjin melepaskan tanganku dengan tiba-tiba dan otomatis aku limbung.

Well, tidur di lantai, kedinginan semalaman, dan jatuh dengan kepala terbentur pintu yang terbuat dari beton adalah perpaduan yang bagus untuk membuatku tak sadarkan diri.

oOo

 

“Hei, dia sadar, Jin!”

Aku bangun, dan kukira ini mimpi karena aku melihat perempuan yang disukai Seokjin berada di atasku, dan begitu juga Seokjin.

Tapi ini tidak mimpi karena kemudian tanganku terasa perih dan kepalaku sakit.

“Ini kantor polisi, ya?” aku bertanya dengan bodoh. Bagaimana mungkin kantor polisi ber-wallpaper yang mirip persis dengan apartemen Seokjin?

“Oh, tidak.” Sahut perempuan tadi dan tersenyum. “Kau sasaeng Jin itu?”

Masih bertanya?

Kemudian kepala Seokjin ikut berada di atasku dan ia memasang tampang kebenciannya, yang berbeda jauh dengan tatapannya untuk perempuan itu. Aku jadi ingin menangis, menyadari kegilaanku akan obsesi memiliki Seokjin.

Yang ternyata tak mungkin.

“Namaku Seohyun. Oh, dan aku kakak Jin.”

Kakak? KAKAK?! Apa ia serius?! Jadi Seokjin tidak punya seseorang yang ia sukai?!

“Maafkan adikku ini, ya. Aku tahu Jin tidak pernah berniat untuk mencelakaimu seperti itu. tapi bersyukurlah karena kepalamu tidak luka.”

“Kalau dia tidak menyelinap ke apartemenku dan menggangguku tentu aku tidak akan melakukan itu!” seru Seokjin dan memandangku, masih penuh kebencian. “Dan kalau dia tidak mengenakan kemejaku!”

“Tenang, Jin.” Kakak Seokjin yang bernama Seohyun itu menengahi. “Tadi aku pergi ke kamar mandi dan melihat pakaian perempuan. Itu milikmu, ya?”

Aku mengangguk pelan. Teringat pakaianku yang masih tergantung dalam keadaan kotor karena aku tidak menemukan keberadaan deterjen.

“Kelihatannya itu memang bekas terkena muntahan.”

“Tetap saja, dia menyelinap ke apartemenku!”

Seohyun mengabaikan Seokjin dan malah memandangku. “Kalau aku boleh tahu, siapa namamu?”

Aku menimang-nimang. Kuberitahu nama asli atau palsu saja, ya? Bisa saja Seokjin akan mencariku dan memasukkanku ke penjara setelah ini. Segila apapun aku, aku tetap tidak mau masuk ke kurungan itu.

“Kupastikan Seokjin tak akan melaporkanmu ke polisi. Kecuali kalau kau masih mengejarnya.”

Memangnya aku bisa berhenti mengejar Seokjin? Aku menggigit bibir dan aku sungguh menyesal. Maksudku, ada apa dengan aku ini? Kenapa bisa aku begitu terobsesi pada laki-laki yang bahkan alam sadarku pun tahu bahwa aku tak bisa mendapatkannya? Desakan ingin menangis semakin memaksa tetapi aku tak ingin. Aku hanya tak ingin.

“Itu karena Seokjin sangat menarik dan aku jatuh cinta padanya!”

Aku sendiri kaget mendengar jawabanku. Oh, itu sungguh memalukan. Tapi yang ingin kulakukan hanyalah pergi dari apartemen ini dan kalau bisa, tidak menampakkan diri lagi di hadapan Seokjin.

“Boleh aku pergi sekarang? Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak kembali di sini atau mengikuti Seokjin lagi,” kataku. Aku bangkit dan berkeliling ke seluruh ruangan, memanjat dan mencabuti kamera perekam mungil yang kutempel. “Lihat? Aku sudah mencabut semua kameraku.” Aku pergi ke kamar mandi dan berganti pakaian, well, mengenakan pakaian yang terkena bekas muntahan benar-benar… ugh, tetapi aku akan menganggap ini sebagai kenangan terakhirku.

“Dan ini kemejamu. Maaf karena aku mengambilnya tanpa ijin. Aku tidak sempat mencucinya, maaf. Kalau kau mau buang saja kemeja itu. Aku akan menggantinya.”

Seokjin berdiri diam—tadi aku melihat Seohyun berjalan ke dapur—dan aku meraih tangannya (oke, memang agak menyedihkan karena ini adalah skinship terakhirku..), meletakkan kartu kreditku di sana dan pergi keluar dari apartemen Seokjin.

Mungkin untuk selamanya.

Aku menutup pintu apartemennya dan tanpa sadar menangis.

Aku pergi.

oOo

 

“Yunhee! Ini kesepuluh kalinya aku melihatmu berusaha melihat lembar jawab Mina! Keluar!” suara teriakan Pak Kim menggema di telingaku, dan aku terpaksa keluar dari ruang ujian.

Yeah, hari ini ujian dan aku tidak belajar sama sekali semalam dan malah tidur. Yah, hebat sekali dan ditendang keluar dengan lembar jawab nyaris kosong merupakan keberuntunganku yang lain.

Hari yang indah.

Aku menyangklong ranselku dengan malas dan memutuskan pergi ke perpustakaan atau ke manapun, asal aku bisa beristirahat sejenak karena belakangan ini insomnia-ku kambuh.

Aku memutuskan pergi ke Starbuck. Well, kuharap secangkir espresso dapat mengobati patah hati akut-ku akan seseorang yang selalu kulihat di teve (merupakan satu alasan mengapa aku paling anti menatap televisi) dan dulu pernah kujadikan sebagai objek cinta tak terbalasku yang mengerikan.

Mungkin seharusnya aku menjadi monster saja karena sepertinya aku begitu mengganggu. Aku tidak becus dalam banyak hal, dan bahkan mengerjakan ujian dengan lancar saja aku tidak bisa. Mungkin lebih baik aku membeli cutter dan menyobek urat nadiku nanti sepulangku dari sini.

Tidak, tentu saja aku bercanda.

Aku hanya terlalu stres dan kelelahan. Jadi aku menelungkupkan kepalaku di meja setelah sebelumnya memasang headphone di telinga.

“Pesananmu.” Kata seseorang, yang kupastikan adalah seorang pelayan.

Tanpa bangkit atau memandang pelayan itu aku menyahut dengan serak, “Ya, letakkan saja.” Aku akan tidur di sini dan sedikit menyembuhkan otakku yang gila ini.

“Hei, bangun.”

“Kopinya, kan? Letakkan saja. Kupastikan aku akan membayar. Jadi biarkan aku tidur sebentar.”

“Hei.”

Geram, akhirnya aku mendongak dan mendapati seseorang yang bukan pelayan di hadapanku.

Benar-benar bukan pelayan.

Dan itu Seokjin.

“Ha ha ha, bagaimana mungkin seorang pelayan bisa berubah wajah menjadi Seokjin.” Gumamku pelan dan menidurkan kepalaku kembali. Mengabaikan otakku yang panas.

“Yunhee? Ini memang aku.”

Aku mendelik dan bangkit. Di hadapanku memang Seokjin. Wah, kejutan lainnya lagi. Apa ia akan menyeretku ke kantor polisi sekarang?

“Oh? Tapi aku sudah tidak memata-mataimu lagi, ‘kan? Jadi mungkin pelakunya adalah sasaeng yang lain. Tapi itu bukan aku.”

“Bukan itu yang kumaksudkan.” Ia menarikku tiba-tiba dan aku panik.

“Hei, aku tidak memata-mataimu lagi! Kau tidak berhak melaporkanku ke polisi! Pelakunya bukan aku! Aku tidak memasang CCTV lagi! Hei, hei!”

oOo

 

Well, itu cerita yang cukup memalukan sebenarnya. Dan mengingatnya bersama Seokjin membuat kami tertawa terbahak-bahak (khusus untukku, merasa malu juga).

Oh, dan bahwa sekarang kami sedang melakukan piknik. Dengan Seokjin yang menidurkan kepalanya di atas pahaku. He he.

“Seokjin?” aku menggoyang-goyangkan kaki, mengetes apakah Seokjin tidur atau sekedar memejamkan mata saja.

“Hm?”

“Ceritakan keajaiban darimana, kok tiba-tiba kau menyatakan cinta padaku. Yang notabene adalah mantan sasaeng-mu.”

“Tidak mau.”

“Ayolaaah, ceritakaaaan.” Aku memaksanya sambil menggoyang-goyangkan kakiku lagi. sebenarnya duduk dengan Seokjin menyandar sukses membuat kakiku terkena kesemutan. Tapi apa peduliku?

“Kau mau melakukan apa kalau aku menceritakannya?”

Aku berpikir sebentar. “Hmmm, aku akan memasakkanmu pizza raksasa.”

“Tidak, kau tidak bisa memasak dan itu hanya menghabiskan uang saja.”

Benar juga. Aku berpikir sebentar. Tidak ada sesuatu yang bisa kulakukan sepertinya.

“Ah, aku akan memata-mataimu lagi, seperti dulu.” Kataku. “Ah, tidak jadi. Bahkan sampai sekarang pergelangan tanganku masih ada barut bekas luka.”

“Maafkan aku.” Kata Seokjin dan membuka matanya.

“Baru akan kumaafkan kalau kau menceritakan kok bisa kau menyukaiku.”

Mendengar jawabanku, Seokjin menidurkan kembali kepalanya dan aku tidak bisa menghentikan tanganku untuk tidur membelai rambutnya. Dari dulu, bahkan sampai sekarang, aku masih tergila-gila padanya.

“Kau meninggalkan tasmu.” Kata Seokjin. “Di dalam tasmu ada laptop, ponsel, dan berbagai macam lagi. Aku iseng membuka laptop-mu dan melihat rekaman CCTV itu, di malam ketika aku mabuk. Well, itu membuatku terkesan.”

Seokjin tertawa.

“Terkesan apanya?”

“Ada satu adegan setelah kau ganti baju, dan kau menyelimutiku dan kukira kau akan menciumku atau bagaimana. Tetapi tidak.”

Ah, itu.

“Aku tidak tega menciummu. Itu tindakan kriminal yang mengerikan.”

“Tapi sekarang kau bebas menciumku.” Kata Seokjin, tersenyum, sambil mencibir. Kemudian ia bangkit dan mencium pipiku. “Dan begitu juga aku.”

Peduli apapun. Aku hanya tersenyum lebar dan balas menciumnya. Dan ini adalah skinship tak terhitungku dengan Seokjin.

“Oh, dan ada satu alasan lagi.” katanya tiba-tiba.

“Apa?”

“Karena kau menyatakan cinta padaku.”

.

.

.

“Itu karena Seokjin sangat menarik dan aku jatuh cinta padanya!”

THE END

.

.

A/N:

Halo!

HAHAHAHAHA FANFICTION MODEL APA INI😄

Aku cuman bikin ini dari tadi sore sampe sekarang (20.47 WIB) dan aku gak nyangka ini kelar AHAHAHA😄

Dan dan…… aku bawa Seokjin yang ganteng banget dan entah kenapa aku kepengen bikin bagian dia terinspirasi dari MV Boy In Luv sendiri yang aku simpulin semacem psiko-psiko gimana gitu.

((Well, aku masih gak rela karena cewek di mv itu gak begitu cantik dan ewwwhhh))

Ini lumayan panjang loh, dan ini udah gak vignette lagi :3 Akhirnyaaaaaaaaahh.

Aslinya aku pengen banget nge-input gif sebanyak-banyaknya karena aku nemu banyak banget gif keren Jin. Sayangnya aku sadar koneksi dan…

Gak jadi😦

Aku bakal makasih banget kalo ada yang baca ini apalagi ngasih komentar :3 Kritik dan saran selalu ditunggu😄

See u next time in my next post❤

bepimee

4 thoughts on “[Oneshot] Skinships

  1. Arggghjsnsis. . Bagus banget, pengen jadi si ceweknya !!🙂
    Tpi aneh jga sih, yg cwek kok tasnya ketinggalan.. Hehe. But overall, aku suka banget. Bahasanya apalagi. Keren pokoknya, keep writing.🙂

    Like

    1. Halo lagi!😀

      Sebenernya ini alay bgt lho dan gak masuk akal juga tapi makasih banyak yaaa kalo km suka ini walopun aneh wkwk😀

      Anyway makasih yhaaa udah baca dan ninggalin komen :3

      Like

  2. setuju banget Mey, tuh yeoja di MV Boy in Luv nggak terlalu cantik dan mereka bertiga (baca: Jungkook, Jin, Jimin) harus sama si yeoja itu.. Haduhhh-___-

    Btw ff-nya keren!!! Hwaiting yak nulis ff yang lain!!

    Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s