[Ficlet] More Than ‘Let’


more-than-let

More Than ‘Let’

a movie by bepimee (@meydawk)

Casts

OC ⋅ BTOB  Peniel Shin Jung Eunji

Duration 905 words | Genre Friendship, AU, Sad | Rating Teenager

{Special thanks to Ivana for the awesome-cool poster ^~^}

.
.

Memangnya apa yang kau ketahui tentang hati?

Hanya satu: melepaskan.


“Kami terkunci di ruang rias itu satu jam penuh, dan ponsel kami mati. Dan kenyataan bahwa kami tidak saling kenal. Itu menyedihkan.”

Aku tertawa demi mengimbangi pembicaraan masa lalu yang Peniel  angkat.

“Aku bisa membayangkan ekspresi kalian,” kataku dan masih tertawa. “Pasti benar-benar kejutan karena keesokan harinya kalian malah dipasangkan dalam serial drama itu.”

“Yaah, memang mengagetkan. Tapi kupikir aku menikmati saat itu.” Ujar Eunji. Wajahnya bersemu merah, dan kupikir ia sangat cantik dalam keadaan seperti itu.

Peniel tersenyum dan memandang telak ke arah Eunji. Aku yakin sekali melihat pipi Eunji semakin memerah.

“Jangan mulai lagi, deh.” Ujarku ketika pada detik kedua-puluh, mereka masih bertatapan. “Aku akan memesan makanan. Lagipula kulihat di antara kita tidak ada yang mau mengangkat pantatnya dari kursi. Kau mau pesan apa?”

Eunji berpikir sebentar sebelum mengucap pesanannya, sekaligus pesanan Peniel yang dihapalnya di luar kepala. Yang juga kuhapal.

“Baiklah. Jangan melakukan hal-hal aneh di sini selama aku memesan.”

“Tidak akan. Sana pergi.” Sergah Peniel dan aku tertawa.

Saat aku kembali dengan baki di tangan, Eunji setengah menyandar di bahu Peniel dan aku separuh tertawa karena mereka terlihat begitu menikmati waktu yang ada.

Peniel sedang berbicara mengenai pertemuan mereka selanjutnya, saat dimana mereka telah memiliki perasaan lain di hati masing-masing dan aku berubah menjadi pendengar yang baik. Beberapa kali Eunji menyahuti, menyergah, atau menimpali setiap kali Peniel mulai membesar-besarkan fakta yang ada dan aku hanya sanggup tertawa.

“Hei, makanannya sudah datang. Tapi kalau kalian memutuskan lebih menikmati kemesraan kalian, aku sangat bersedia menghabiskan pesananmu.”

Peniel hanya tersenyum. Kami mulai menikmati hidangan yang kupesan beberapa menit lalu.

Diam-diam aku melirik ke arah mereka berdua di depanku dan gigiku bergemerutuk sakit. Memejamkan mata sejenak, kuharap diriku yang normal kembali.

oOo

Ketukan di pintu kamarku mau tak mau memaksaku bangkit, mengetahui siapa yang telah datang dan Ibuku perbolehkan naik.

Peniel.

Setengah hati, aku tersenyum dan membuka pintu lebar-lebar. Sedari dulu, tiada rahasia di antara kami; bahkan meski kodrat kami yang berbeda, tidak membuat kecanggungan. Kuharap begitu, namun entahlah.

“Di mana Eunji?”

Peniel menggeleng, ia duduk di sofa sudut kamarku. Mengangkat kakinya seperti yang biasa kami lakukan dan tertawakan.

“Kalian bertengkar, ya?” tebakku, salah sasaran tentu saja sebab Peniel tersenyum sekilas.

“Joo, kau tidak berniat merubah ruangan kamarku?”

Aku mendongak, mengikuti pandangan matanya yang menyiram seisi kamarku. Aku tahu apa yang ada dalam pikirnya.

“Ruangan ini mengingatkanku akan—”

Aku menyelanya. “Yah, masa lalu. Itu tidak penting lagi, Dong Geun.”

“Benar.”

Peniel terdiam, cukup lama, dan kesunyian-lah yang mengisi dalam waktu yang terkadang kami pergunakan hanya untuk membaca pikiran masing-masing.

“Kau masih menyimpannya?” Peniel bersuara kembali dan menunjuk pigura di atas nakas. “Hmm, bukannya itu sudah lalu sekali, Joo?”

Aku mengiyakan ujaran Peniel dengan sukarela. Karena tentu saja, hal itu memang benar adanya dan aku tak lagi memiliki sangkalan. Sesungguhnya, sisi lain dirikulah yang enggan untuk menyahut.

“Peniel, kenapa kau kemari tanpa Eunji?” Aku mengulang kembali pertanyaanku di awal, meski dengan menggunakan kosakata yang jauh berbeda.

Peniel tak mengarahkan pandangnya selagi ia menjawab. “Kadang-kadang kita perlu membicarakan apa yang telah terjadi, Joo.”

“Aku tak yakin. Apa kau tidak pergi berkencan? Maksudku, ini ‘kan hari libur dan biasanya kalian akan berlibur, bukan?”

Dalam senyuman yang ia lemparkan, aku tahu ia mengerti bahwa diriku enggan mengangkat topik kala itu, dan aku bersyukur ia mau mengerti.

“Tidak. Eunji sedang lumayan sibuk.”

Kucekungkan bibirku sejenak dan mengangguk.

“Lain kali, kuharap kita bisa melakukan rekreasi bersama.”

Yah, kita pasti akan melakukannya. Dan mungkin dengan bayi baru kalian?”

Peniel tertawa dan bangkit dari duduknya, satu meter di depanku.

“Sepertinya aku akan pulang sekarang.”

Beberapa menit, Peniel hanya berdiri dan melayangkan pandang pada seisi kamarku sekali lagi.

“Joo, kau akan datang, ‘kan?”

Aku setengah tidak sadar.

“Tentu. Ke pesta anniversary kalian yang ke-3?” kubalas pertanyaan Peniel begitu diriku menguasai kembali keadaan, bukannya membiarkan pikirku melayang-layang seenaknya.

Malu-malu, Peniel mengoreksi ucapanku.

“Bukan, maksudku adalah pesta pernikahan kami. Kau akan datang, benar?”

Wow, kalian benar-benar akan menikah? Astaga ini sesuatu yang sangat mengagetkan.” Aku tertawa dan mengangguk kemudian. “Tapi tentu saja, ya, aku akan datang.”

“Terima kasih. Pestanya pasti akan terasa kosong sekali kalau kau tidak datang.”

“Kau berlebihan. Pestanya akan berjalan baik-baik saja. Aku sangat yakin.”

Peniel mengangguk sedikit kepadaku dan aku tak lagi memiliki pilihan, selain menganggukkan kepala dan tersenyum lebar.

oOo

Selepas kami mengadakan rekreasi bersama—seperti yang kala itu Peniel janjikan—dan aku berencana masuk ke dalam rumahku, tiba-tiba Eunji menyambar tanganku.

Aku berbalik dengan tangkas.

“Terima kasih, Joo.”

Ha? Untuk apa?”

“Karena telah merelakan Peniel untukku.”

Ada jeda sejenak dalam pembicaraan ini. Tepatnya, aku yang terdiam sekian detik.

“Dengan senang hati. Tidak perlu merasa sungkan begitu. Aku senang karena kalian menjadi keluarga yang bahagia sekarang.”

Kulanjutkan kalimatku selagi teringat.

“Dan selamat atas kehamilanmu. Kuyakinkan kau, aku pasti akan menjadi bibi pertama untuk bayimu itu.” Aku terkekeh. “Ada baiknya kalau kau masuk mobil sekarang. Peniel pasti sudah mulai merutuk karena terlalu lama menunggumu.”

Sekali lagi Eunji melempar senyumannya padaku. Aku tahu sesuatu tersembunyi dalam senyumnya.  Entah itu cinta, kebahagiaan, yang terpenting; perlahan-lahan, kuharap sesuatu yang sama mengambil alih dalam kehidupanku. 

.
.

“Joo, aku mencintai Peniel. Dan dia juga mencintaiku. Lalu bagaimana dengan hubungan kalian?”

.

Pada awalnya, aku percaya akan cinta Peniel.

Aku begitu mencintainya. Kupikir ia juga. Itulah alasan mengapa kala itu kami memutuskan membungkus perasaan kami menjadi satu.

Hari itu, mungkin Peniel mencintaiku. Tetapi kemudian, meski hubungan kami masih tertaut; cinta Peniel telah lepas dan berkelana dengan hati yang lain.

Siapa yang tahu akan perasaan itu?

Tiada.

THE END

.

.

A/N:

Hell-o! ^~^

Udah lama gak maen ke sini dan sibuk di ifk😀 Dan ini merupakan fanfiksi aku yang menggunakan cast BTOB! HAHAHA

 

Last, but not least, THANK YOU FOR WATCH (OR READ) MY FANFICTION. YOU ROCK GUYS! /m\

pnl

pnll

pnil

Sincerely,
bepimee

2 thoughts on “[Ficlet] More Than ‘Let’

  1. Tetapi kemudian, meski hubungan kami masih tertaut; cinta Peniel telah lepas dan berkelana dengan hati yang lain

    kalimat ini bikin aku jlebbbbbbbbb .tapi kadang begitu faktanya dan kamu membahasakannya dengan begitu apik🙂

    Like

    1. Halo halo!!
      Aku tahu aku telat tapi lebih baik telat daripada tidk sama sekali so (apaan) tapi makasih banyaaak! Sebenarnya itu bahasa alakadarnya ajasih asal comot huhu ._.
      Tetep makasih banyak udah baca dan komentar yaaa! ^^

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s