[Ficlet] Unperfect


unperfect

UNPERFECT

A movie ©2014

written by bepimee (@bepimey)

Casts

AKMU’s Lee Soohyun || GOT7’s BamBam

{Duration 1366 words Genre School-Life, Fluff-Romance, Comedy – Rating Teenager}

special thanks to Ivana for make this cool poster!

.

.

Ideal Type: A woman who is pretty when she smiles.

Because Bambam don’t need a perfect woman.


.

//

Dalam kurun waktu kurang dari satu menit, semua bandana yang tadinya tertata rapi dalam laci telah berhamburan dan terhempas di atas selimut tebal merah jambu oleh tangan Soohyun yang tak hentinya memilah kain, yang sebenarnya masih terlihat apik namun begitu buruk di matanya. Dua menit berlalu dan kini laci di hadapannya kosong. Soohyun dihadapkan oleh kenyataan bahwa semua bandananya telah jatuh terlempar dan gagal melewati ujian ‘bandana-paling-cocok-untuk-hari-Senin’ dengan sia-sia.

Sekarang gadis itu hanya sanggup meringkuk di depan meja riasnya dan hampir menangis ketika menangkap bayang dirinya sendiri dalam cermin. Ia terlihat buruk, tentu saja. Helai cokelatnya yang lurus berubah menjadi keriting tak terbentuk oleh eksperimennya untuk menjadi perempuan dewasa. Pipinya yang bulat dan bewarna pink segar beralih menjadi kemerahan yang disebabkan oleh make-up yang dibelinya Sabtu kemarin. Seragamnya yang pas di badan menjadi rusuh ketika Soohyun menempelinya dengan berbagai macam pin dan boneka—seperti yang dilakukan seniornya di sekolah.

Ugh. Soohyun meratapi nasibnya. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini. Berangkat sekolah? Omong kosong, ia hanya akan menjadi badut di kelas dan mendapat bully-an dari seantero sekolah. Tinggal di rumah? Itu namanya mencari mati. Ibunya akan mengomel panjang lebar dan Soohyun sudah terlalu frustasi akan hidupnya.

Memantapkan hati, Soohyun memutus ia akan menghadapi hari ini dengan berani. Ia akan memasang jepit rambut dan membiarkan pin dan boneka tadi tetap bertengger menyedihkan di seragamnya.

Soohyun selalu ingin terlihat sempurna.

.

Semua mimpi buruknya menjadi nyata. Sejak bel pertama kali didendangkan, semua orang meliriknya dengan tatapan menghina. Teman sekelasnya tak repot menyembunyikan tawan ketika Soohyun masuk ke dalam kelas. Bahkan Ibu pemilik salah satu stan di kantin tak lagi mengenalinya dan malah mengira Soohyun sebagai seorang guru baru.

Tak hanya itu, ketika Soohyun memasuki kelas menari, semua penari yang berada di sana menunjuknya seakan Soohyun seonggok sampah yang tak memiliki perasaan. Dan juga Bambam.

Ia yakin air matanya akan merebak apabila Bambam tak menghentikan tawanya dan tidak menarik tangannya keluar dari kelas. Tetapi Bambam melakukannya, dan air mata Soohyun tergantikan oleh wajah terkejutnya yang sebenarnya bukan sesuatu yang bagus.

“Apa yang kamu pikirkan?” suara Bambam sarat akan kecemasan dan tawa tertahan. “Pin-pin itu, astaga.”

Soohyun jadi ingin menangis untuk kedua kalinya.

Ia hanya ingin terlihat sempurna, apa itu sesuatu yang salah? Soohyun juga perempuan dan ia mulai masuk dalam tahap tumbuh menjadi remaja, terlebih dengan suatu kecemasan tak beralasan yang entah mengapa menghinggapi Soohyun sejak ia bertemu pandang dengan Bambam.

Soohyun terlalu cemas untuk terlihat tak sempurna di mata Bambam.

Itulah alasannya. Dan sekarang Bambam justru menertawai perubahan Soohyun dimana Bambam sendiri memiliki andil terbesar di dalamnya?

Di mana letak keadilannya?

Soohyun bergegas pergi, alih-alih menyahuti pertanyaan Bambam yang terdengar begitu mengesalkan di telinganya.

.

Harusnya Soohyun berhenti merubah dirinya setelah insiden memalukan pada hari Senin kemarin itu. Tetapi, tidak. Pagi buta, ia sudah siap dengan seragamnya (kali ini tanpa pin dan boneka), rambut yang dikeriting rapi, tas selempang senada, dan muka penuh coretan.

Ini malapetaka. Soohyun tak menyadari bahwa dirinya hari ini lebih mirip dengan she-male ketimbang menjadi seseorang sempurna yang mampu menarik Bambam untuk memberi perhatian lebih. Ia mengira dirinya dalam penampilan terbaiknya dan melangkah keluar dari rumah dengan riang gembira.

Soohyun seharusnya bersyukur karena sekolah masih dalam keadaan sepi sehingga ia dapat melenggang bebas tanpa cemoohan tak diharapkan akan wajahnya yang tak terdefinisikan. Ia masuk ke dalam kelas dan meletakkan tasnya, kemudian berjalan menuju kelas menari.

Well, Soohyun percaya diri akan kemampuannya mendandani dirinya sendiri. Ia yakin Bambam akan melihatnya dengan tatapan memuja dan bisa dikatakan, tak percaya. Begitu Soohyun mendorong pintunya ke samping kanan, ia melihat Bambam sedang tidur di lantai tanpa mengacuhkan seragamnya yang kusut.

“Bam-bam.” Soohyun berjongkok dan menggoyang tubuh Bambam sekali, dua kali.

Merasa terganggu, Bambam membuka mata dan menjerit.

Apapun itu, bukan tatapan Bambam yang seperti ini, yang diharapkan oleh Soohyun. Sungguh bukan. Bambam menjerit dan memandangnya seolah ia hantu yang memunculkan dirinya di pagi hari.

Sebelum Bambam meneriakkan apapun, Soohyun lebih dahulu menyadari ini. Ia tak jadi melemparkan kalimat penenang kepada Bambam dan justru tertegun akan kesalahan fatal yang tak terpikirkan olehnya ini.

“Lee Soohyun!” seruan Bambam mampu membuat Soohyun mengalihkan pikirannya yang melanglang entah ke mana. “Kamu benar-benar menakutiku! Apa ini Halloween?!”

Meski Soohyun sudah dapat menebak apa yang akan dikatakan Bambam setelah jeritannya tadi, tetap saja kalimat yang tercetus dari bibir Bambam merobek hatinya dalam sekali tebas. Soohyun mundur dan memandangi Bambam dengan matanya yang kini mengabur.

Pintu berderak dan beberapa siswi dari kelas menari masuk, memandangi Soohyun dan tertawa dengan sangat keras kemudian. Juga bukan ini yang Soohyun harapkan. Suasana semakin ramai ketika tawa gadis-gadis tak pengertian itu semakin menggema dan semakin dalam pula hati Soohyun terkoyak.

“Aku melakukan ini karena aku suka Bambam!”

Bambam kelewat takjub sehingga tak dapat bergerak menghalangi Soohyun yang kini telah berlari, keluar dari kelasnya dan tak terlihat lagi.

Uh-oh.

.

Bagaimana ini?

Soohyun tak menyangka dirinya bisa seberani itu menyatakan perasaannya pada Bambam, di depan semua perempuan-perempuan kelas Bambam, lagi! Sekarang ia hanya dapat menyesali apa yang telah terjadi tanpa bisa melakukan apapun.

Bambam akan semakin tak menyukainya. Sepertinya Soohyun kehilangan kesempatannya untuk—paling tidak—berteman baik dengan laki-laki yang lebih tua dua tahun darinya itu. Ia hanya bisa meringkuk dalam lilitan selimutnya dan mencakar-cakar pipinya.

Bunyi yang berasal dari ponselnya menginterupsi kuku tumpul Soohyun untuk melukai pipinya. Ia bangkit dan menyambar ponsel itu tanpa kelembutan.

Temui aku sekarang. Kamu tahu di mana harus menemukanku.

Soohyun lupa melihat caller id-nya dan ketika ia menatapnya, ia nyaris jantungan melihat nama Bambam tertera di sana dengan sebegitu jelasnya. Soohyun tahu harus melakukan apa.

Kali ini ia berhenti me-make-over dirinya sendiri.

.

Bambam sudah berada di tempatnya ketika Soohyun menapakkan kakinya di rumput yang basah itu. Anak laki-laki itu menunggu Soohyun menempatkan diri di sampingnya sebelum mengucap apa yang ingin mereka tuntaskan (dan menarik napas lega mendapati warna merah make-up tak lagi menghiasi pipi Soohyun).

“Kamu sudah makan?”

Soohyun bergerak tak nyaman, enggan menyahuti Bambam dan mengaku bahwa dirinya belum makan sama sekali sejak pagi hingga sore ini.

“Belum, ya?”

“Sudah.” Soohyun mengoreksi dengan kebohongan yang dapat ditangkap Bambam hanya dengan mendengarkan nada suara Soohyun.

“Kamu tidak menanyakan apa aku sudah makan juga?” tanya Bambam sekali lagi.

“Tidak. Tidak perlu.” Soohyun tak suka situasi yang canggung seperti ini. Kecemasan akan ketidaksempurnaan dirinya kembali dan ia merasa tidak nyaman akan itu. “Ada apa memanggilku kemari?”

“Membicarakan yang kemarin.”

“Aku ditolak. Iya, ‘kan?”

Bambam tak menjawab, justru melempar balik pertanyaan. “Apa alasan kamu memakai make-up seperti itu? Tidak seperti biasanya.”

Soohyun menimang-nimang.

“Aku… Aku ingin terlihat sempurna.” Konyol, mengapa Soohyun harus menjawab sejujur itu? “Aku hanya tidak ingin dianggap anak kecil, hanya karena kelas kita berbeda.”

“Memangnya siapa yang menganggap kamu anak kecil?” sergah Bambam cepat. “Dan lagi, untuk apa kamu ingin terlihat sempurna?”

Terbata-bata Soohyun menyahut. “Karena… karena aku takut kamu lebih suka gadis di kelasmu yang sempurna itu. Mereka memakai make-up dan mengeriting rambutnya. Aku pernah mendengar kamu memuji bandana mereka, aku juga ingin mendengar kamu memujiku.”

Bambam tersenyum sekilas.

“Soohyun, kamu tahu tidak apa yang kutulis di jurnalmu sewaktu kamu memintaku menuliskan biodata?”

Soohyun lupa sama sekali akan hal itu.

“Memang kamu menulis apa?”

“Tipe perempuan yang aku suka.” Sahut Bambam sembari bangkit. Ia menepuk-nepuk bagian belakang celananya. “Coba kamu lihat sendiri.”

.

Dengan napas tersengal akibat berlari dari tempat bertemu dengan Bambam tadi sampai rumahnya, Soohyun membuka halaman biodata yang Bambam tulis di jurnal hariannya. Ia menyeleksi tulisan tangan Bambam dan berhenti pada satu kolom yang dikarang sendiri oleh Bambam.

Ideal Type: A woman who is pretty when she smiles.

Soohyun tak memahami ini dan berlari menuju ponselnya.

“Halo? Bambam? Aku tidak mengerti apa maksud ideal type­-mu.”

Bambam tertawa dan berdeham sebelum menyahut.

Soohyun, dengarkan aku. Apa aku menulis ‘perempuan yang cantik ketika memakai make-up? Atau ‘perempuan yang sempurna’?”

Soohyun berpikir sejenak sebelum menyahut. Namun Bambam telah mendahuluinya.

“Tidak, ‘kan? Itu artinya, kamu tidak perlu merubah dirimu. Aku tidak butuh itu.

Oh, dan Soohyun, cantik itu relatif.”

Soohyun mulai menangkap maksud Bambam.

“Jadi aku bisa menjadi orang yang kamu sukai?”

Yap, tepat.” Suara Bambam terdengar ceria. “Dan aku tidak menolakmu, Soohyun.”

Mendengar jawaban Bambam, refleks Soohyun melempar pandang pada bandana-bandana yang berceceran di kasurnya, kotak make-up, serta pita dan boneka yang tergantung tak rapi di samping meja rias.

Well, sepertinya Lee Soohyun harus mengucap selamat tinggal keras-keras pada benda-benda itu.

THE END

A/N:

Hello!

Ehm, Kuharap ini masih layak untuk dibaca karena ini fanfict-kilat alias bikinnya cuman dua jam aja :3

Dan aku sengaja pake pairing ini yang sebenernya (mungkin)  masuk ke semacam crack pair, eh tapi nggak tahu juga sih ._. Sengaja sih milih Soohyun karena dia semacam kembaran karena ultahnya yang sama persis kayak aku, bahkan tahunnya 😄

Mungkin besok-besok aku bakal bawain fict dengan cast yang masih mereka hehe. Dan karena mereka masih bocah aku mungkin tidak berani menambahkan adegan kisseu HAHAHA

Bonus Pict of Lee Soohyun and BamBam:

kmu

mu

bmbb

bmb

source: Instagram.

.

Wanna leave an lollipop for me? Click the comment box! ^~^

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s