[Vignette] Hit by A Feeling


hansang

Hit By a Feeling

a movie © 2014

written by bepimee (@shosicu)

Casts

[AOA] Kim Seolhyun || [VIXX] Han Sanghyuk

Genre Fluff-Romance, AU ||   Duration 2148 words ||  Rating Teenager

.

“Who do you like? Come on! Answer me!”


Jika aku dipaksa menunggu satu jam lagi, aku yakin kopi di hadapanku sudah akan berubah menjadi es. Dan aku tidak bercanda. Sisi lain diriku sudah sangat kedinginan (bodohnya Starbucks mengalami kerusakan pemanas ruangan pada cuaca seperti ini), sedangkan sisi lain diriku masih ingin menunggu Sanghyuk.

Dan parahnya, aku menunggu seperti ini hanya karena pesan dari Sanghyuk yang berisi ‘aku naksir pada seseorang’. Hey yeah, bukannya itu benar-benar sederhana?! Tapi tidak jika yang jatuh cinta adalah seorang Han Sanghyuk. Lima tahun menjadi kakak perempuan palsu sekaligus temannya, tak sekalipun Sanghyuk pernah membicarakan tentang gadis yang ia taksir. Aku sering mengungkitnya, dan ia hanya menatapku dengan datar, sampai aku merasa sangat canggung. Dan aku benci merasa canggung. Jadi begitulah, tak sekalipun aku tahu bahwa kapan ia jatuh cinta.

“Nona, ingin menambah?” seorang pelayan kembali menghampiriku (untuk yang ketiga kalinya), kupikir ia melihat isi piringku yang telah kosong dari kue dan donat-donat itu.

“Tidak, nanti saja kalau temanku sudah datang.”

Si pelayan pergi dan aku menatap jam tanganku, uh oke, sudah satu jam aku menunggu. Aku sudah memesan kopi dua gelas, dan aku yakin perutku telah kembung. Han Sanghyuk benar-benar menyebalkan rupanya.

Satu jam lebih empat belas menit, akhirnya Sanghyuk tiba. Wajahnya tenang dan santai, tidak tampak sedikitpun perasaan menyesal, dan aku benar-benar tidak menyukai itu.

“Hei kau! Kau sudah terlambat dua jam dan masih bisa santai seperti ini?!”

Sikap tubuhnya tak menunjukkan penyesalan atau apapun yang bisa membuatku sedikit lebih tenang. “Dua jam? Jangan berlebihan,” katanya.

Nah, mana mungkin lelaki sepertinya menyukai seseorang?

.

“Jadi sekarang katakan, siapa gadis itu?” tanyaku dengan nada sok datar.

“Mmm, apa?” dia mendongak, setelah sebelumnya menyeruput kopinya.

“Gadis itu.” Aku mengulang, “gadis yang katanya kautaksir.”

“Kenapa memangnya?”

Jika aku kurang sabar, pasti aku sudah mengangkat gelasku dan menggempurkannya ke kepalanya yang kurang sehat.

Mungkin dia melihat wajah geramku sehingga ia berkata, “Tidak tahu juga. Aku sudah lama mengenalnya tapi perasaan itu baru muncul sekarang.”

“Kedengarannya sangat tidak meyakinkan,” aku mendesah dan menatapnya serius. “Kalau aku jadi gadis itu, aku pasti sudah menyesal kenapa orang sepertimu bisa menyukaiku.”

Ttuk!

Aku meringis sambil memegangi keningku. Dengan kejamnya Sanghyuk memukulkan sendoknya—yang basah—di dahiku. Itu menjijikkan sekaligus sakit.

“Dasar menyebalkan,”

“Harusnya kau yakin dengan perasaanmu,” aku mencoba sok bijak. “Dengan itu perempuan akan percaya padamu.”

“Aku akan percaya jika yang mengatakannya bukan kau.” Katanya dengan sangat meremehkan. “Kau bahkan sama pecundangnya denganku.”

“Tidak bisa begitu! Meskipun aku belum pernah pacaran, tapi setidaknya aku pernah menyukai seseorang,” protesku dengan suara melengking, tanpa sadar membuka aib ‘tuna asmara’ milikku sendiri.

Sanghyuk tertawa terbahak-bahak demi melihat wajah merah padamku, dan itu membuatku semakin meragukan kewarasannya.

.

Pagi berikutnya, aku masih belum mendapatkan apa-apa dari mulut Sanghyuk. Aku sudah bertanya bahkan memaksanya, namun ia hanya berdeham, dan mengatakan bahwa ia tidak punya waktu untuk itu. Oke, rupanya ia benar-benar sedang menguji kesabaranku.

Hari ini aku sangat sibuk, banyak tugas dan tes yang harus kukerjakan dan kulewati. Namun aku mengorbankan waktu berhargaku untuk tidur, hanya karena Sanghyuk menelepon bahwa ia di kantin kampus sekarang.

Seharusnya sekarang aku sudah berada di bathup, berendam dan mendengarkan lagu dari i-Pod, harusnya. Kenyataannya, aku malah duduk di kursi kantin di hadapan Han Sanghyuk sambil menatap lelaki itu penuh harap.

Aku tahu diriku berlebihan sekali, apalagi dengan kenyataan Sanghyuk tak sekalipun menggubrisku. Ia hanya makan dan minum, sambil sesekali melihat ponselnya. Kupikir aku harus bertindak untuk membuat Sanghyuk tidak mengabaikanku lagi.

Aku berdeham.

Sanghyuk mendongak, tidak menatapku.

Aku batuk,

Sanghyuk masih sibuk dengan ponselnya.

Aku bersin,

Sanghyuk berseru, “Kau menularkan virus!”

Oh, sialan.

“Dengar aku,” ujarku dengan nada sabar, “aku butuh penjelasanmu sekarang. Kau tahu, sebenarnya kau telah berdosa banyak.”

“Apa?”

“Pertama, membuat orang yang lebih tua darimu menderita penyakit penasaran, dan bahkan hampir mati karenanya. Kedua, orang itu adalah aku.”

“Memangnya kenapa jika itu kau?”

Aku tertawa penuh sarkasme, terdengar tidak begitu bagus.

“Tidak usah bertanya lagi, se-ge-ra ja-wab.”

“Aku menyukainya, sudah?”

“Astaga, poin yang lain maksudku. Yang itu aku sudah tahu.” Aku memijat pelipis, pusing menghadapi orang sepertinya.

“Poin apalagi? Yang terpenting ‘kan itu,”

“Tidak hanya itu.” Aku berdeham lagi. “Alasannya, alasan kenapa kau menyukainya.”

“Hei, kau ini ingin tahu sekali.”

“Aku kakakmu, Han Sanghyuk yang tampan.”

“Tapi kau bahkan kalah dewasa denganku, dan, ya, terima kasih sudah mengataiku tampan.”

“Sudahlah, katakan saja alasannya.” Aku malas, dan kepalaku mulai berdenyut.

“Dia tidak punya kelebihan, tapi kekurangannya banyak.” Ujar Sanghyuk sambil menerawang. Ia terlihat serius kala mengatakan itu.

“Astaga, itu lucu sekali!” aku tertawa, “maksudku, kenapa bisa kau menyukai gadis yang tidak punya kelebihan?”

Sanghyuk cemberut, dan demi apapun diam-diam aku merasa bahwa Sanghyuk tidak hanya tampan.

“Bukan begitu, dasar bodoh!” ia memaki dan berdeham, “sudahlah, jangan tanyakan apapun kepadaku. Aku benci padamu.” Kemudian ia mengangkat ranselnya dan berjalan pergi.

Oh, please, aku membuatnya marah, dan itu artinya aku tidak bisa mengorek-orek tentang gadis yang disukainya itu.

Masih ada masalah lain yang harus kupikirkan: aku tidak membawa mobil, sedangkan sekarang sudah sore, angkutan pasti akan sulit. Satu-satunya  jalan keluar sekarang adalah Sanghyuk dan bahkan ia sedang marah padaku.

“Ya, Sanghyuk! Beri aku tumpangan sebelum kau pulang!”

.

Ada tiga tugas yang belum kuselesaikan. Dan aku tidak sedang dalam mood untuk mengerjakannya. Temanku Jinah sudah pergi entah kemana sejak empat puluh menit yang lalu, sedangkan aku malah memilih untuk sekedar nongkrong di kantin.

Kantin sepi, dan aku bahagia karena itu. Tidak perlu berdesakan, dan pesanan bisa lebih cepat datang. Sepiring nasi goreng kimchi sudah ada di hadapanku dan jus alpukat sudah menanti di atas nampan.

Aku akan segera memakannya jika tugas merangkum novel tidak menggangguku. Aku cukup senang membaca, dan aku akan lebih senang lagi jika novel di tanganku sekarang ber-genre comedy. Tapi ini? Sad dan tragis? Apa aku gila?!

Ini kerjaan Mrs. Kim yang gemar menyiksa mahasiswa, tapi ini siksaan terburuk yang pernah ia berikan kepadaku. Yang benar saja, masa aku, orang yang paling anti dengan sad-romantic dipaksa membaca Shakespeare?

“Hei!”

Aku mendongak, mendapati Yook Sungjae berjalan ke arahku sambil melambaikan tangan. Aku membalasnya.

“Sedang apa di sini?”

“Kau tidak lihat?” aku menelengkan kepalaku dan menunjuk piringku. “Matamu normal, ‘kan?”

Haish,”

Aku tertawa. “Kenapa kau tidak masuk kelas?” tanyaku dengan mulut penuh.

“Malas. Miss Kim terlalu banyak tugas.”

Aku mencibir.

“Seol, tahu tidak kalau Sanghyuk naksir seseorang?”

Aku mengangguk, “Tapi dia tidak mau memberitahuku orang itu,”

“Sudah kau paksa?”

“Tanpa kau suruh pun aku tentu sudah memaksanya.”

Sungjae tertawa, dan aku melanjutkan makan.

“Menurutmu, siapa gadis itu? Kau pernah memata-matainya?”

“Memata-matainya? Kedengarannya seperti penguntit,” Sungjae bergumam dan aku berusaha menahan diriku untuk tidak menimpuknya dengan gumpalan tisu di dekatku.

“Maksudku, kau pernah melihat Sanghyuk dengan perempuan atau tidak?”

“Tidak pernah. Tapi dulu dia pernah bilang dia suka melihat Jessica,”

Jessica? Bukannya dia dua tingkat di atas Sanghyuk? Kurasa lelaki itu mempunyai tipe gadis yang lebih tua darinya.

“Baiklah, Jessica ya..”

.

Kali ini, Sanghyuk sudah duduk santai di meja kafe saat aku sampai. Aku bersyukur, karena itu artinya tidak ada menunggu lagi.

“Jadi apa?”

“Apa?” aku mendongak, meletakkan tasku dan mengerutkan kening. Ranselku benar-benar berat, para dosen penyiksa itu memaksaku membawa dua tumpuk buku teks yang tebalnya bisa membuatmu pening.

“Alasan kenapa kau mengajakku bertemu,”

“Oh itu,” aku bergumam dan melambaikan tangan. “Biarkan aku memesan dulu, oke?”

Setelah pesananku datang—kafe sedang sepi sehingga pelayanan sangat baik—aku menarik napas dalam dan mencoba berkata, menjelaskan kepada Sanghyuk.

“Jessica Kim sudah punya pacar,” ujarku dengan nada bergumam, berusaha menabahkannya. Aku sendiri harap-harap cemas menunggu ekspresinya; apakah orang sepertinya akan menangis? Menampilkan wajah syok? Atau..

“Lalu kenapa?”

Hah? Aku mendongak, dan mendapati bahwa wajah Sanghyuk masih sama seperti semenit yang lalu, sebelum aku mengatakan hal itu.

“Lalu apa hubungannya Jessica denganku?” tanyanya lagi, masih tampak acuh.

“Eh, kau ‘kan.. naksir padanya,” ujarku, berusaha terdengar tidak terlalu memaksa. “Aku hanya ingin memberitahumu supaya kau tidak patah hati,”

Han Sanghyuk sudah tertawa terbahak-bahak tanpa memedulikan wajah kesalku.

.

“Jadi jelaskan padaku, bagaimana bisa kau menarik kesimpulan bahwa aku naksir pada Jessica?”

Aku merutuk dalam hati, benar-benar sialan Sungjae!

“Kata Sungjae kau suka pada Jessica,”

“Hei, aku hanya bilang tipeku seperti Jessica.”

“Iya, lalu bisa saja ‘kan kalau diam-diam kau naksir padanya,” aku masih memaksa, berusaha memikirkan jalan agar wajahku tidak hilang saking malunya. “Itu masuk akal.”

“Jadi kalau tipeku seperti aktris Korea Song Hye Kyo, berarti aku naksir padanya?”

“Itu tidak berlaku jika tipemu seperti aktris!” aku berseru, setengah kesal dan setengah malu. “Sudahlah, aku mau pulang! Dasar menyebalkan!”

Baru saja aku beranjak, Sanghyuk sudah berdeham dan berkata dengan santainya, “Padahal aku baru mau mengatakan siapa gadis yang kutaksir.”

Oh, sialan, Han Sanghyuk memang moodbreaker sejati!

.

“Siapa dia, Hyuuuuk?!” aku memohon dengan sangat memaksa dan tidak lupa menampilkan wajah memelasku. Sudah setengah jam aku memaksanya dan ia masih bergeming dengan menyebalkannya.

“Bagaimana ya menjelaskannya,” ia berpangku tangan kemudian mengerutkan kening. “Tebak dulu, bagaimana?”

“Hei, aku sudah sibuk menebak-nebak selama tiga hari!”

“Kau terlalu ingin tahu sih.”

“Bukan hanya aku, tapi semua orang yang kenal padamu pasti ingin tahu!”

“Apa aku sebegitu terkenalnya sampai—”

“Hentikan, katakan saja siapa dia.”

Sanghyuk berdeham. “Bagaimana mengatakannya ya.. Kukira dia orang yang paling aneh. Dia pendek dan rambutnya bewarna cokelat, panjang.” Jelasnya sambil menerawang.

Please, tipe seperti itu banyak di kampus kita. Lagipula banyak perempuan yang dekat denganmu, yang  punya rambut panjang.” Aku mengeluh.

“Kalau begitu aku yakin kau tidak akan tahu siapa dia.”

“KENAPA KAU TIDAK MENGATAKAN NAMANYA SAJA?!” aku berseru dan gemparlah seisi kafe menatap kami.

Sanghyuk akan bergerak memukul dahiku dengan sendoknya lagi ketika salah seorang dari pengunjung kafe menatapnya dengan super tajam. Well, that’s my revenge!

.

“Jadi, siapa perempuan tidak beruntung itu?”

“Maksudmu?”

“Perempuan tidak beruntung yang ditaksir manusia sepertimu.”

Sanghyuk memaki dengan pelan. “Coba kau pikir dulu, siapa tipe gadis seperti yang kusebutkan tadi,”

“Aku tidak bisa berpikir, please. Tugasku menumpuk di rumah.” Aku memohon, memasang wajah sangar. “Lagipula kau ‘kan bilang akan memberitahunya.”

“Aku tidak bilang akan mengatakannya sekarang.”

Aku mendelik. “Kau harus mengatakannya sekarang, atau aku akan berteriak pada tetanggamu supaya—”

“Kau lupa ruangan di sini kedap suara? Kau berteriak sekarang sampai nanti percuma saja, yang ada pita suaramu yang habis. Lagipula, ini apartemen.”

Sudahlah, mungkin lebih baik aku menyerah saja.

.

“Kau benar-benar akan mengatakannya, ‘kan? Tidak ada alasan-alasan menjengkelkan lagi ‘kan?” aku memastikan, sambil tangan kananku memegang erat buku teks dan kanan kiriku menempelkan ponsel ke telinga. “Kau yakin? Aku tidak mau tertipu lagi,”

Oh ya, tebak aku sedang ngobrol dengan siapa, dan—YA—orang itu memang Han Sanghyuk yang setengah gila.

“Kau serius? Aku benar-benar tidak yakin.” Aku mencatat tulisan di papan tulis di depan. Yap, hanya murid teladan sepertikulah yang justru tidur ketika yang lain mencatat, dan hukumannya aku dipaksa membersihkan kelas Bahasa dan menulis catatan itu empat kali berturut-turut (tenang saja, aku akan memaksa Jinah, Sungjae, dan Sanghyuk untuk melakukannya, hehe). “Ah, masa? Aku sudah kebal, Sanghyuk.”

Suara Sanghyuk di seberang terdengar geram dan aku mau tidak mau harus mengakhiri acara mencatatku sekarang juga.

“Oke, oke, jangan marah. Aku ke sana segera.”

.

Ponselku bergetar terus menerus—aku sengaja mensenyapkannya agar konsentrasiku menyetir tak terganggu oleh teriakan Sanghyuk di setiap telepon. Dan sekarang Sanghyuk malah berbalik mengirim pesan singkat padaku, yang memiliki inti yang sama; menyuruhku cepat. Memangnya ada apa, sih? Bukannya biasanya ia akan mengundur-undur waktu sebelum mengatakan semuanya dengan jelas, atau bahkan tidak jelas?

Lift terbuka dan aku menyusuri koridor apartemen daerah Sanghyuk, sepi sekali karena kebetulan koridor apartemen Sanghyuk adalah yang teratas, sehingga setiap apartemen memiliki satu ruang atap untuk pribadi, dan tentu saja biaya membelinya lebih mahal. Tapi kukira keluarga Han bahkan rela-rela saja membelikan putranya itu lima apartemen sekaligus.

Aku memencet bel, rasanya aneh karena biasanya aku akan langsung memasukkan password dan masuk, tapi kali ini aku sedang sopan.

Lima detik kemudian Sanghyuk membuka pintu (ini yang membuatku tidak begitu suka memencet bel, aku harus menunggu beberapa saat).

Tumben memencet bel, kukira siapa.” Katanya dengan nada mencibir, yang hanya kubalas dengan senyuman menyebalkan.

Aku langsung melepas sepatu dan memakai sandal kain yang disediakan, lalu masuk ke ruang utama.

“Jadi jelaskan padaku, siapa gadis yang kau maksud itu,” aku langsung mengatakan maksudku, tanpa bermaksud basa-basi.

“Ikut aku,” Sanghyuk tidak menjawab dan malah menarik tanganku menuju tangga mungil di sudut ruangan, mengajakku naik. Aku tidak tahu ada apa, tapi kupikir Han Sanghyuk memang tidak begitu normal.

Begitu sampai di atap, Sanghyuk berbalik, menatapku dan meringis. Gelagatnya tidak enak.

“Ada apa?” tanyaku.

“Aku akan mengatakannya di sini, sekali saja, bagaimana?”

Baiklah, aku akan menajamkan telingaku sekarang.

“Kau tidak berniat minum dulu?” Aku mendelik begitu Sanghyuk berusaha mengalihkan perhatian. Aku tahu dia gugup, atau setidaknya begitu. Aku cukup memakluminya.

“Jadi aku harus mengatakannya sekarang?”

Aku bersedekap dengan malas, tanpa menyahutinya.

Yah, baiklah.” Sanghyuk berkata, terdengar tidak begitu lancar dan wajahnya gugup. “Yang terpenting aku menyukainya. Dia akan marah mendengar aku mengatakan ini—”

“Berhenti. Bukannya kau bilang akan mengatakan orangnya secara langsung?”

Tatapannya tak fokus. Seakan ia sedang berusaha menghindari sesuatu. Oh, aku tahu. Mungkin Sanghyuk terlalu panik. Yah, mungkin.

“Orang itu… kau, Seolhyun-a.”

.

APA?!”

 

-f i n –

 

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s