[Ficlet] At That Moment


atthe

At That Moment

Layaknya berkonversasi di dalam lift dengan orang tak dikenalnya, Hoseok belum pernah bisa tertawa selepas ini tanpa kecanggungan—meski tak seharusnya seorang Hoseok bersikap canggung.

Disebut apa perasaan seperti ini?

.

A movie presented by

Bepimee (@shosicu)

Casts Jung Hoseok [BTS] & OC [Casey]

• Genre Fluff-Romance, Comedy • Rating Teenager • Duration Ficlet, 1567 words

©2014.

 


Suara ting nyaring terdengar kala Hoseok melangkahkan kakinya masuk ke dalam kotak yang dapat naik-turun bernama lift itu. Ting tadi terdengar kembali begitu Hoseok menutup pintu.

Lift dalam keadaan kosong. Hanya ada Hoseok di dalamnya, dan bagi laki-laki itu; ini adalah surga.

Katakanlah, Hoseok sebagai orang abnormal yang terlalu gila. Selagi lift beranjak naik, ia melakukan gerakan tarian yang dipelajarinya hingga olahraga seperti berjongkok-kemudian-berdiri. Menit berlalu dan suara ting tanda lift akan terbuka terdengar, sayang Hoseok yang tengah sibuk push up di lantai tak begitu tertarik.

Pintu terbuka dan seorang gadis berada di hadapannya, sedang Hoseok masih setia dalam posisinya—push up di lantai dengan kepala berada di belakang pintu persis. Intinya, gadis itu melihat Hoseok dalam posisi ter-memalukannya.

Begitu Hoseok menguasai suasana, ia bangkit dan memencet tombol menutup dengan kikuk. Gadis tadi berdiri di pojok kanan sedang ia di kirinya, namun tak membuat Hoseok tuli akan tawa tertahan dari bibir gadis tak dikenal itu.

Ugh. Meski Hoseok terkenal akan kegilaannya, tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan merasa malu dalam keadaan seperti ini. Ditambah, tawa gadis itu semakin mengeras—Hoseok yakin itu tak pantas disebut tawa tertahan lagi.

Demi mengurangi rasa malunya dan terlebih tidak sopan seseorang menertawai orang yang tak dikenalnya, Hoseok membuka mulut untuk sekedar mengucap sapaan. Sekaligus memulai konversasi.

“Hai.”

Tak seperti yang Hoseok kira, tawa gadis itu tiba-tiba membuncah begitu saja selesai bibir Hoseok mengucap.

“Oh, maaf,” gadis itu berujar selepas tawanya yang keras tadi selesai, meski tawa kecil masih meluncur darinya. “Aku tidak bisa menahan tawa.”

Hoseok menggaruk bagian bawah telinganya, sedikit keki. “Yah, tidak apa-apa. Tadi itu konyol.” cetusnya.

“Aku Casey.”

“Oh, aku Hoseok.”

Tidak menyadari, Hoseok kini berdiri tepat di samping Casey tanpa memberi banyak jarak. Syukurlah karena kegugupannya hilang seiring Casey memperkenalkan diri; tanda gadis itu bukan seorang pemalu. Atau setidaknya begitu yang Hoseok tangkap.

“Kau turun di lantai berapa?” Sembari berkata begitu, sudut mata Hoseok melirik layar yang menunjuk angka 13.

“17. Kau?”

“Satu di atasmu. Aku belum pernah melihatmu di sini.”

Casey menyibak poninya yang menutupi mata, “Baru saja pindah.” Sahutnya, pintu terbuka dan ia buru-buru melanjutkan. “Senang bertemu denganmu, Hoseok.”

Ketika Casey tiba di luar lift, ia berbalik dan melempar kalimat yang sedikit membutakan Hoseok.

“Oh, dan tadi adalah pertunjukkan yang hebat.”

oOo

Tak dinyana, esok harinya ketika pintu lift terbuka untuk Casey, Hoseok telah berdiri santai di dalamnya, kali ini tak melakukan hal-hal gila seperti kemarin.

“Hai,” sapa Casey dengan suara nyaring. Secara refleks ia memilih berdiri di samping Hoseok ketimbang bersijajar dengan orang lain yang tak dikenalnya.

“Halo. Kuliah?” Hoseok memandang pakaian yang dikenakan Casey.

Yap. Kau sendiri akan ke mana?”

Seumur hidup, Hoseok belum pernah bercakap-cakap dalam lift dengan orang yang tidak begitu dikenalnya—selain nama, jelas—dan bahkan tidak mengalami kegugupan.

Hoseok memilih menjawab dengan konteks, ia menggerakkan tubuhnya seakan sedang menari dan Casey mengerti.

“Menari? Jadi pengajar atau murid?”

“Dua-duanya. Terkadang aku mengajar juga.” Saat bibir Hoseok selesai mengucap, tiba-tiba tangan Casey ada di depan matanya dan menyentuh rambutnya dengan super-halus.

Casey menjelaskan sembari membuka telapak tangannya, menunjuk cuil kertas di sana, “Ada sesuatu di rambutmu.”

Spontan, Hoseok mengarahkan tangannya ke rambutnya.

“Sudah kuambil, Hoseok.” Kata Casey sembari tertawa. “Oh, dari skala satu hingga sepuluh, menurutmu keterampilan menarimu ada di mana?”

Pintu terbuka di lantai paling bawah, menginterupsi Hoseok yang tengah berpikir. Keduanya melangkah keluar, dengan Casey yang masih setia mendampingi Hoseok.

“Tujuh? Eh, tidak. Delapan. Tidak, tidak. Sepuluh.” Mereka tertawa. “Untuk apa menanyakannya?”

Casey mengerling jenaka ketika menyebut jawabannya. “Sekedar memastikan kalau kau memang bisa menari, jangan-jangan kau hanya bergerak sembarang tanpa mengikuti aturannya.”

Layaknya berkonversasi di dalam lift dengan orang tak dikenalnya, Hoseok belum pernah bisa tertawa selepas ini tanpa kecanggungan—meski tak seharusnya seorang Hoseok bersikap canggung.

Disebut apa perasaan seperti ini?

oOo

Otak Hoseok buntu.

Sedari tadi ia berusaha menghapal gerakan tarinya, namun gerakan-gerakan tadi tak kunjung masuk ke dalam otaknya, malah otaknya kini terjejali akan semua hal tentang… Casey?

Bahkan, kaleng berisi kopi di tangannya tak mampu mengalihkan pikir Hoseok dari sosok gadis berambut model bob itu. Entah apa yang ada di pikirannya selain bahwa Casey adalah sosok yang lumayan menyenangkan. Oh, dan bahwa Casey adalah gadis yang sebenarnya tak terlalu cantik atau manis, tetapi di mata Hoseok, semua yang ada dalam diri Casey adalah kesempurnaan.

Seiring pikirnya yang beterbangan, pipi Hoseok memerah begitu saja akan kemungkinan bahwa dirinya menyukai Casey.

Whoop! Apa yang kau pikirkan?” seseorang tiba-tiba menempeli pipi Hoseok dengan kaleng dingin yang membuat Hoseok berjengit.

“Taehyung! Jangan menggangguku.”

Kini ganti Taehyung yang pikirannya melanglang.

“Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Ada apa, Hope? Sesuatu terjadi? Ayo, katakan padaku, aku yakin kita bisa mengatasinya bersama. Apa gerakan tariannya susah? Apa kau kesulitan menghapal—”

Tangan Hoseok menutup bibir Taehyung yang berada di belakang sementara ia masih menatap ke depan. Entah keajaiban apa hingga telapaknya memang pas untuk menghentikan Taehyung bicara.

“Tidak ada apa-apa, Kim Taehyung. Lanjutkan saja kegiatanmu.”

Baiklah, Taehyung mengangguk-angguk—masih dengan gelagat penasaran—tetapi memilih segera menyingkir ketimbang terkena amukan Hoseok.

Begitu suara langkah kaki Taehyung makin menjauh, Hoseok bertanya-tanya sampai dimana pemikirannya tadi.

oOo

Sekarang, bukan suatu keajaiban—atau justru keanehan—lagi apabila Casey bertemu dengan Hoseok tiap kali masuk ke lift. Baik ketika ramai atau ketika mereka berdua sendirian di dalam lift.

Casey tak lagi segan menertawai tingkah polah Hoseok—meski di awal pun ia tidak, dan Hoseok tak pernah merasa keberatan ditertawai. Well, sebut saja itu padu padan yang bagus.

Namun sekarang, Hoseok mulai meragukan dirinya.

Pembicaraan dua menit mereka selama di lift seakan mengambang ke permukaan—tanpa kelanjutan yang jelas—dan sejujurnya, Hoseok ingin membawa Casey serta bersama dirinya ke sesuatu yang lebih intens.

Apabila ditanya mengenai perasaannya, Hoseok tak tahu lagi. Perasaan suka ini tentu bukan keahliannya. Well, Hoseok memang mengenal banyak perempuan dalam dua puluh tahun kehidupannya, namun rasa-rasanya, belum ada seseorang yang begitu pas dengannya sehingga membuatnya tak henti berpikir, berpikir, dan berpikir.

Semuanya menjadi semakin berkabut, begitu perkiraan Hoseok karena sepertinya Casey tak tertarik akan hal-hal yang Hoseok harapkan. Dan Hoseok selalu gagal.

Sebagai contoh, Hoseok belum juga berhasil memberikan tiket masuk ke pertunjukkan tarinya Sabtu nanti. Padahal, tiket itu telah berada di tangannya semenjak empat hari yang lalu.

Selasa, Hoseok sudah mengeluarkan tiket itu dan hanya perlu menjulurkannya pada Casey. Namun gagal ketika lift berhenti di lantai sebelas, saat orang-orang yang akan berangkat kerja menggeruduk masuk.

Rabu, tiket dalam genggaman. Namun Casey tidak naik lift yang sama.

Kamis, Casey kembali namun sayang sekali, Hoseok meninggalkan tiketnya di meja tamu apartemennya.

Sore ini, ketika sedang menunggu lift, Casey berada di belakangnya dan menjawil bahu Hoseok dengan jahil.

“Bertemu lagi!” seru Casey sembari tertawa. “Kau pulang cepat?”

“Ya. Gladi bersih.”

“Memang akan diadakan apa?” Tanya Casey seakan memancing Hoseok untuk segera mengeluarkan tiket dan menyodorkannya pada Casey.

Tangan Hoseok sudah berada dalam ranselnya, akan menarik keluar tiket itu tatkala orang-orang tak dikenal menyerobot ke dalam lift sebelum mereka masuk. Hoseok benci ini, sungguh.

Begitu orang-orang masuk, Hoseok berhasil menempatkan diri di samping Casey, namun karena desakan-desakan yang kian menyiksa itu memaksa Hoseok untuk mengurungkan niat.

“Orang-orang benar buas sore begini.” Gumam Hoseok pelan, mengumpat di dalam hati.

“Memang menyebalkan.” Suara Casey teredam bebunyian langkah kaki ketika seseorang akan keluar. “Tapi kau belum menjawab pertanyaanku.”

Ini saatnya, Hoseok!

“Aku akan mengadakan pertunjukkan.” Jelas Hoseok, ia akhirnya berhasil mengeluarkan tiket. Sebelah tangannya yang menganggur mengangkat lengan Casey, membuka telapaknya, dan menyerahkan kertas bewarna mencolok tersebut. “Sabtu besok, pukul empat sore.”

Ting!

Lantai tujuh belas.

“Oke, aku akan datang.” Casey setengah berteriak sebelum beranjak keluar. Ia menyempatkan diri untuk tersenyum kepada Hoseok.

Kelegaan membuncahi dada Hoseok. Yeah, akhirnya. Setidaknya, langkah awal yang penuh pengorbanan ini membuahkan hasil.

“Kuharap Casey benar-benar akan datang.”

oOo

Kepanikan menggelayuti pundak Hoseok yang tertutupi kaus hitam lengan pendek. Sedari tadi, laki-laki itu tak henti berputar-putar di belakang panggung. Sementara temannya yang lain kini memandangnya heran.

Well, pertunjukkannya dua menit lagi; dan mata Hoseok yang nyalang belum mendapati keberadaan Casey di kursi penonton. Parahnya, Hoseok tak memiliki nomor ponsel Casey atau pun kontak yang lainnya.

Hoseok benar-benar menyesali keteledorannya. Tetapi ia seakan tersadarkan, punya hak apa ia untuk memaksa Casey datang?

Oh, sial. Hoseok frustasi sekarang. Ia benar-benar akan melakukan push-up untuk menyegarkan pikirnya tatkala suara Suga menyela.

Man, kita harus keluar sekarang.”

oOo

“Tadi itu pertunjukkan yang hebat.”

Suara nyaring Casey seakan melayang-layang di kepala Hoseok. Meski kalimat itu seakan diulang dari pertemuan awal mereka.

“Hoseok, eskrimmu hampir menetes.” Peringatan Casey mampu menggugah Hoseok. “Ada banyak sekali perempuan yang menjerit di sampingku saat kau berada di depan. Kelompokmu pasti sudah sangat terkenal.”

“Tidak seterkenal itu,” Hoseok mengangkat bahu dan tersenyum dengan konyol. “Casey? Apa kau juga menjerit saat aku berada di depan?”

Semu merah merambati pipi Casey tanpa ampun. Ganti eskrim di tangannya yang hampir menetes.

Hoseok menyenggol lengannya—kejahilan bertengger dengan jelas di rautnya—memaksa Casey untuk segera mengeluarkan suara.

Menimang-nimang, Casey tak kunjung menemukan alasan mengapa ia harus bersikap tidak jujur. Jadi dengan berani ia menatap Hoseok dan tersenyum.

“Ya, aku menjerit dengan sangat keras.”

“Hanya menjerit kepadaku?”

Casey nyengir, “Tentu.”

“Kalau begitu tidak salah, ‘kan?”

“Salah apa?”

“Bisakah kau menjerit sekali lagi untukku?”

“Hn?”

“Ayolah.”

“Oke.”

Bibir Casey sudah membuka separuh tatkala Hoseok tiba-tiba berteriak,

“Casey, aku menyukaimu!”

Seakan tersadarkan, Casey menoleh dengan tatapan tak terdefinisi. Hoseok sempat panik akan reaksi yang ditampilkan Casey selepas ia meneriakkan perasaannya, namun kepanikan itu gugur perlahan saat Casey melempar tawanya dan ikut berteriak.

“Aku jugaaaaaaaaa!”

Ugh. Setidaknya tingkah Hoseok di lift kemarin tak sia-sia.

 End.

H-hai~~

Serius aku nggak pernah niat pengen nge-post ini, karena ini sungguhan ancurnya ><”

Tapi karena aku orang yang benci kemubaziran (?) dan sangat disayangkan kalau lagi-lagi aku ngebuang karyaku (yang jujur, UDAH BANYAK BANGET yang kebuang sia-sia) akhirnya aku nekat HEHE.

Syukur-syukur kalau ada yang baca ya hehe. Boleh dong aku minta reviewnya?

Oya, namaku Meyda. Thank you.

Inspired by this picture.

at that moment

3 thoughts on “[Ficlet] At That Moment

  1. Wowww aku suka aku suka.
    Hope nya cute lucu aneh hahaha suka
    Ceritanya ringan dan bahasanya mudah dimengerti
    Joha….

    Like

  2. hello kak meydaa,
    ffnya baguuusss;; plihan katanya jugaaa
    apalagi ini ff ngingetin aku sama reality show bangtan yg dilift ituu aihhh////
    ohiyaa salam kenal ya hihii

    Like

    1. Halo Byeolight! :))

      Ihihihiw ini emang terinspirasi dari situ kok😄 waaaah makase banget ya udah baca ((tambahan muji muji lagi)) :3

      Salam kenal jugaaa X3

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s