[Oneshot] A Shuddup


a shuddup

A Shuddup

(jangan coba-coba mengartikan judulnya)

a movie (c) 2014

 bepimee (@shosicu)

Casts OC x [VIXX] Cha Hakyeon

Duration Oneshot, 3680 words – Genre Crime, Angst, Hurt-Comfort – Rating Teenager – Theme Shadow.

.

Dia bukan Hakyeon. Mungkin lebih tepat bila aku menyebutnya, seseorang di belakang Hakyeon. Atau di sisi lainnya.

Tetapi, di atas segalanya, dia Hakyeon yang sama.


Aku baru akan melemparkan bungkusan cokelat dari kulkas ke dalam mulutku ketika lampu di sekeliling rumah mati secara tiba-tiba. Aku mengerutkan kening, sudah lama sekali sejak pemadaman bergilir di daerah kami, dan sekarang? Pertanyaanku nyaris terjawab ketika segerombolan orang bermantel gelap dan tebal masuk ke dalam dengan moncong pistol siap menodong siapa saja.

Segera, rasa panik dan takut melingkupi tubuhku. Aku menyelipkan diri ke dalam lemari kecil yang berjajar di bawah pantri dapur, jantungku berpacu secara tak wajar dan telingaku menangkap teriakan sebagian anggota keluargaku.

“Jangan mencoba berteriak!” seseorang berseru dengan lantangnya, disertai dengan suara bantingan sesuatu, yang kuyakini bukan benda. “Kupastikan kau akan mati sekarang juga.”

Aku ingat celanaku yang memiliki kantung, dimana ponselku terletak di sana dengan aman. Tetapi lemari ini terlalu sempit untukku bergerak tanpa menimbulkan suara sekecil apapun. Sedang, aku yakin orang tak dikenal di luar sana benar-benar waspada.

Senyap beberapa jenak lalu terganti oleh suara teriakan Ibuku, yang menggema di setiap ruang tanpa peredam, dan air mataku menetes akan itu. Bebunyian langkah kaki begitu kentara di telinga, menggaung seakan memaksaku keluar dan mengumpankan diri.

Aku mulai menutup telinga ketika pistol-pistol itu mengeluarkan tembakannya, tanpa kutahu siapa yang menjadi tempat peluru bersarang. Pelipisku berdenyut ngeri dan lamat-lamat kutarik ponselku keluar. Jari-jemariku bergetar ketika aku mengetikkan nomor darurat, disertai suara tembakan yang tak henti menghias. Suara-suara teriakan di kepalaku menjerit, histeris dan penuh akan ketakutan. Sementara aku hanya mampu berjongkok di sini dan membiarkan.

Tetapi aku tahu, saat aku keluar di sini—dalam keadaan apapun—struktur keluargaku tak akan lagi sama.

Halo, tolong aku.”  Aku mengatakan segalanya dengan tempo cepat dan suara sangat lirih sementara dadaku berdegup. Aku khawatir apabila orang-orang itu mengetahui letak persembunyianku sehingga aku langsung menyebut alamat dan membekap ponselku di dada.

Derap langkah kaki terdengar semakin jelas dan aku berusaha menenggelamkan diriku semakin dalam, menuju kegelapan yang tiada.

“Semuanya mati?”

Samar aku mendengar suara yang setengah diredam, mereka mengenakan masker mungkin, derap kaki tak terdengar kembali dan ketakutan merangkak ke arahku.

Aku tak tahu bagaimana penampilanku sekarang namun aku tak lagi peduli. Kejadiannya berlalu begitu cepat, langkah kaki yang begitu kentara terdengar semakin jauh, namun sesuatu membuka lemari tempatku bersembunyi.

Secara spontan dan seakan menunggu kematian, aku memejamkan mata dan berdoa.

“Aku tidak akan membunuhmu.” Seseorang itu berkata, meski aku tahu ada pistol disurukkan di pelipisku. “Jangan pernah mengatakan apapun. Kau tahu, itu membahayakan dirimu.”

Dorongan pistol tadi mengendur, suara seseorang itu masih teredam dan terdengar lucu. “Asingkan dirimu.

Kegelapan total masih menjadi satu-satunya yang kulihat ketika pintu lemari tertutup dan langkah kaki seseorang itu pergi. Tetapi, bukan itu semua yang menjadi perhatianku. Ada nada berdenting di kakiku.

Tanganku bergetar ketika meraihnya. Suatu benda.

Namun ada satu lagi yang membuatku menangis, aku di Amerika dan orang tadi—yang membiarkanku tetap menghirup udara—berbahasa Korea.

 

.

 

“Jadi kau tetap tidak ingin berkata apapun?” hardik seorang polisi berseragam biru. Tangannya terkepal begitu saja. Meski itu membuatku tahu jalan terbaik adalah pergi dari sini tanpa mengatakan apapun.

“Berhenti melakukannya,” kepalaku mengernyit ketika mendengar nada tegas yang tercetak jelas dalam suara Hakyeon. “Dia sedang trauma dan kau masih tetap memaksanya?”

“Ini juga demi kepentingannya.” Kata polisi itu sembari memutar-mutar pena di tangannya. “Dia satu-satunya yang tersisa dan aku akan membiarkannya pergi? Tidak, Bung.”

Sial, kau.” Hakyeon mendesis seperti seekor ular, dan bahkan ia tidak cukup peduli. Ia menggenggam tanganku dan mengangkatku bangkit sebelum polisi itu sempat melakukan protes. Genggamannya terasa erat dan menenangkan, harusnya.

Hakyeon melingkupi bahuku dengan mantel cokelat tebalnya begitu aku duduk di kursi dalam mobilnya. Dia tak mengeluarkan suara apapun selain mengeluarkan kunci dan menyalakan gasnya. Perlahan aku menyandarkan kepala dan memejamkan mata, seiring dengan berjalannya mobil menuju rumah Hakyeon.

“Kau ingin kembali ke Korea, benarkah, kau?”

Ketika sedang tidak berkonsentrasi, tata bahasa Hakyeon selalu berubah menjadi sesuatu yang sulit dipahami. Namun setelah bersamanya enam tahun lebih, aku lebih lincah dalam mengartikannya.

“Kakak dan Ibuku meninggal, Hakyeon.” Suaraku terdengar lemah dan tak bahagia. “Ayahku akan menunggu nantinya.”

Hakyeon mengeluarkan suara kekecewaan dan rasa sedih. Sebelah tangannya menggenggam jemariku, mengirimkan kekuatan untukku tetap berdiri.

“Mungkin itu pilihan yang bagus.” Katanya dengan lirih, seakan berbisik kepada dirinya sendiri. Dia berbelok dan melepas jemariku. “Aku yakin kau akan baik-baik saja. Aku akan ikut denganmu.”

Matahari terbenam tampak jingga dari jendela mobil. Semburatnya janggal dan itu menggangguku. Aku tak menjawabnya.

Sebelum aku turun dari mobil, Hakyeon terlebih dahulu menggenggam jemariku dan memelukku. Aku meletakkan dagu di bahunya dan tangisku pecah, meski aku tak kunjung tahu mengapa aku melakukannya.

 

.

 

Dalam dua menit, Hakyeon telah berada di dalam kamarku dan membawa senampan makanan. Suara gemerisik dari plastik buah-buahan menginterupsi kegiatanku menatap sunset. Aku masih tak menoleh, memilih menunggu ketimbang memulai pembicaraan yang sesungguhnya tak ingin kulakukan selamanya.

“Clarise.”

“Letakkan saja di sana, Hakyeon.” Udara bertiup pelan ketika Hakyeon membuka jendela yang menghadap langsung ke kolam renang di lantai bawah. Aku memejamkan mata dan  membiarkan celana korduroiku tertiup angin.

Aku tahu Hakyeon tengah melangkahkan kakinya kemari, diiringi oleh semburan angin yang semakin membesar. Ia berjongkok di sampingku dan meletakkan nampan di pangkuanku. “Ada banyak sekali hal, Clarise.”

Aku memaksa untuk mempertahankan kesenyapan. Mataku sendiri enggan menatap nampan.

“Hei, tersenyumlah.”

Tapi yang ingin kulakukan hanyalah menangis.

“Semuanya akan baik-baik saja.Kita akan kembali ke Korea dengan selamat, dan Ayahmu akan menyambutmu dengan sukacita. Apa kau tak ingin melakukannya?”

Sejujurnya, aku merasa bahwa semua kebahagiaan telah tertutup oleh suatu kabut janggal yang mengganggu.

“Seburuk itukah?” Suaranya tercekat kala mengatakannya. Aku tahu Hakyeon berniat mempertanyakannya di dalam hati.

Kuketukkan sendok di pinggir piring tanpa semangat sementara air mataku meleleh. “Ya, seburuk itu, Hakyeon. Kau pasti tak mengiranya.”

Hakyeon mendekapku sekali lagi, dan sayangnya, aku tak lagi menemukan keamanan di sana.

 

.

 

Lalu lalang kendaraan bermotor terdengar begitu jelas, bahkan meski aku baru saja keluar dari bandara. Mantel tebalku tak membantu sama sekali ketika angin menderu dengan kencang ke arah kami berdua. Aku berjalan terhuyung-huyung, dengan Hakyeon yang terus memegangi lenganku. Kami masih diam, aku memikirkan tentang apa yang akan kulakukan di sini dan bertanya-tanya mengenai reaksi Ayahku nantinya.

Hakyeon mengeratkan pegangannya ketika kami berbelok dan mataku menangkap mobil Ayahku—yang belum berganti meski sudah enam tahun lamanya—dengan Ayahku di bagian depannya. Aku masih lemah ketika setengah menarik Hakyeon berjalan ke arahnya.

Tak ada sesuatu yang dapat kami lakukan selain menebar senyum. Aku gagal meyakinkan Ayahku bahwa diriku yang berdiri di sini baik-baik saja, dan aku gagal meninggalkan perasaan terluka dan trauma berlebihanku di sana.

“Perkenalkan dirimu, Nak.” Ujar Ayahku pada Hakyeon sembari tersenyum dengan ringan, meski kantung mata hitamnya menjelaskan segalanya. “Apa kau pacar baru Clarise?”

Ayahku mengatakannya seakan aku sudah mengenalkan beribu-ribu pacarku padanya. Tapi tak urung, pertanyaannya mampu membuatku tergerak untuk sekedar tersenyum.

Hakyeon menyebutkan namanya sekaligus alamatnya di sini ketika Ayahku menggerakkan mobilnya menjauhi pelataran bandara yang ramai akan orang asing. Hakyeon tak berubah, kendati ia tidak mengenal Ayahku dengan baik, ia bisa mengendalikannya dengan mudah. Bahkan, aku menebak bahwa dalam dua jam Hakyeon sanggup mengenal Ayahku luar-dalam.

“Clarise, kau belum mengatakan kabarmu.” kata Ayahku dengan suara riang. “Apa kau memakan burger gosong lagi?”

Mau tak mau aku tertawa, “Itu sudah lama sekali.” Mataku melirik Hakyeon yang tengah memandang kosong ke depan. Biasanya, aku akan menyenggol lengannya dan mengatakan sesuatu tentang apa saja, tetapi kali ini, aku membiarkannya.

 

.

 

Cincin di tanganku bergemerutuk ketika aku mengeluarkannya kasar dari dalam koper. Peraknya berkilau dan ada sebuah ukiran di sana. Aku merutuk, menutup kembali koperku, dan berjalan menuju kasur.

Tidak ada yang berubah dari ruangan ini. Aku masih bisa mendengarkan nyanyian lullaby Ibuku tiga belas tahun yang lalu. Bahkan rasa-rasanya aku masih bisa melihat pertengkaran masa kecilku dengan Kakakku. Dan itu semua semakin membuatku sedih. Aku tahu tak seharusnya aku berdiam diri di kamar dan mengenang semua yang telah berlalu, bahkan meski itu baru terjadi dua minggu yang lalu.

Kali ini aku memilih untuk memfokuskan pandangan pada cincin di jari tengahku, memandanginya tanpa semangat.

“Waktunya makan.” Kata Hakyeon setelah terdengar derit pintu terbuka. Ia berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja dan celana panjangnya tadi. “Aku dan Ayahmu menunggumu di bawah.”

“Ya.”

“Apa yang sedang kaulakukan?” Khas Hakyeon, bertanya mengenai segala hal. Dia menempatkan dirinya di sampingku.

“Berpikir.”

“Apa yang kau pikirkan? Kau tidak seperti Clarise yang kukenal.”

“Memangnya, aku yang dulu—bagaimana?”

Jeda. Aku melihat tangan Hakyeon bergerak tak nyaman.

“Kau banyak bicara, kau tidak segan-segan meminta tolong padaku, atau menangis di dekatku. Kau melakukan segala hal konyol yang tak kaulakukan sekarang.”

Begitu? Aku bertanya dalam hati dan mengiyakan.

Tapi Hakyeon bangkit sebelum aku melanjutkan kalimatku, “Ayo. Ayahmu pasti sudah menunggu.”

“Kau juga bukan Hakyeon yang kukenal lagi.”

Pintu berderit kembali dan saat itulah aku mengingat segala perilaku Hakyeon. Bahwa aku begitu mencintainya, dan bahwa aku tak ingin kehilangannya meski terkadang ia menjadi satu-satunya orang yang ingin kubengkokkan hidungnya.

Dan bahwa cincin dalam genggamanku ini adalah benda berdenting yang dijatuhkan pembantai keluargaku.

 

 

.

 

Kuharap segalanya berjalan normal kembali. Kehidupanku di Seoul mungkin mengalami kemajuan. Setiap hari Hakyeon mengajakku keluar dengan dalih ingin mengenal lebih daerah kami, meski aku tahu ia melakukannya agar otakku dengan cepat menyembuhkan trauma yang kualami. Ayahku bersikap seperti biasa, mungkin ia menangis setiap malam selama seminggu, tetapi sesudahnya ia kembali menjadi normal.

Setidaknya, begitulah yang tergambar dengan jelas di otakku.

Seperti sore ini, ketika tiba-tiba Hakyeon muncul di teras dengan senyum sumringah.

“Ada apa?” tanyaku.

“Ayo berjalan-jalan.” Jawabnya. Kepalanya terangkat dengan senyum menghiasi bibirnya. Aku tak menyangkal, terkadang dia bisa menjadi seseorang yang paling kau idam-idamkan. “Aku baru saja mendapat SIM di sini.”

Tak ingin mengecewakannya, aku bangkit dan mengangguk semangat.

Lima belas menit kemudian, aku sudah duduk di dalam mobilnya—yang dikirim dari Amerika empat hari yang lalu—dan menunggu Hakyeon masuk. Ia tengah berada di kamar mandi mungkin. Entahlah, Hakyeon bukan tipe pacar yang melaporkan posisinya setiap saat.

“Sudah menunggu lama?” Hakyeon duduk di kursi kemudi dan menoleh ke arahku. Tatapannya menyiratkan sesuatu yang aneh dan tak kumengerti. “Rute mana dulu yang ingin kaulewati?”

“Terserah padamu.”

Hakyeon tersenyum sekilas. “Baiklah, jangan menyesal telah menyerahkannya padaku.”

Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Tanganku tak mau berhenti memencet tombol di radio tape, mencari saluran yang sedang menyetel lagu kesukaanku. Namun suara ponsel menginterupsi kegiatanku dan Hakyeon yang tengah menyanyi keras-keras.

“Itu ponselmu?” tanyanya dan melirik tasku.

Aku mendecak, “Tidak, bodoh. Itu ponselmu.”

Hakyeon meringis sedetik sebelum mengangkat teleponnya. Aku memandanginya ketika dia melemparkan pandangannya pada jalanan sepi di depan dan alisnya naik perlahan-lahan.

Mobil terhenti. “Aku harus turun, Clarise.” Katanya dengan raut tidak wajar. “Ada sesuatu yang harus kukerjakan.”

Ia akan segera bangkit sebelum aku memegangi pergelangan tangannya erat-erat. “Jangan pergi, Hakyeon-a.” Aku tahu, alam bawah sadarku tahu, bahkan pikiranku tahu. Oleh karena ketahuanku itu, aku memaksanya untuk tetap tinggal. “Tetap di sini.”

“Ini bukan main-main.” Sergah Hakyeon dan wajahnya sangar. “Clarise, aku serius. Kau bisa mengemudi pulang, ‘kan? Kuyakinkan kau, kau akan baik-baik saja.”

Tetapi aku tak melepas cekalanku.

“Clarise, ada apa denganmu?” ia bertanya frustasi. “Aku tidak akan pergi jauh.”

Cincin di saku jinsku seperti bergetar dalam kegelapan dan aku semakin merasa jauh. Ketakutanku semakin nyata dan bertambah setiap saat. Dan itu semua bukan salahku.

Hakyeon mengibaskan tanganku dan peganganku terlepas.

“Aku akan segera kembali.”

Tapi aku tak ingin lagi. Aku tak ingin dia kembali dan menipuku dengan wajah tampan dan senyumannya. Aku hanya ingin menangis tatkala Hakyeon menjauh.

Dia bukan Hakyeon. Mungkin lebih tepat bila aku menyebutnya, seseorang di belakang Hakyeon. Atau di sisi lainnya.

 

.

 

Gemerincing kunci mengisyaratkanku untuk terjaga dari tidur palsuku. Aku membuka mata dan mendapati kamarku terang-benderang, tak seperti sepuluh menit yang lalu.

Bagian samping kasurku mengerut seperti ketika seseorang menindihnya. “Clarise,” panggil Hakyeon. Aku tahu itu dia begitu mendengar derit pintu. “Kau marah padaku?”

Keengganan melingkupiku. Aku tak marah, aku bahkan tak cukup peduli akan tindakan Hakyeon meninggalkanku di pinggir jalan. Tetapi, ini lebih dari sekedar hal sepele itu.

“Kau benar-benar marah, ya?”

Aku memejamkan mata dan berusaha tidur saat itu juga, sebelum rasa ingin tahu dan sakit hatiku menyeruak keluar dalam bentuk umpatan atau makian.

“Aku tahu kau tidak tidur.”

“Bisakah kau pergi?” hardikku, masih memejamkan mata. “Aku butuh istirahat dan kau mengacaukannya.”

“Lusa aku harus kembali.” Hakyeon tak mengindahkan ujaranku. Justru, akulah yang tak bisa mengacuhkan kata-katanya barusan.

“Kembali ke Amerika maksudmu?”

“Ya. Pekerjaanku telantar di sana.” Katanya dengan lirih. Aku membalikkan badan dan menatap punggungnya yang dilapisi jamper. “Jaga diri baik-baik.”

Aku tak sanggup untuk menahannya lebih. “Kau ini siapa?” tanyaku dengan putus asa. Punggung Hakyeon menegang perlahan dan sewaktu ia menoleh, ekspresinya menunjukkan ketidakbahagiaan.

“Apa maksudmu? Apa kau menderita amne—”

“Katakan kau siapa.”

“Hei, aku Hakyeon. Aku Cha Hakyeon. Kau benar-benar melupakannya?” Hakyeon tertawa, dan aku menangkap kegetiran dari sana. “Kita bahkan berpacaran lebih dari tiga tahun.”

“Kalau kau memang Cha Hakyeon; apa yang kau lakukan?”

“Clarise?”

“Untuk itu kah kau memintaku bungkam?”

Aku tahu air mataku meleleh detik itu juga ketika Hakyeon menoleh dan memandangku, yang masih telentang.

“Clarise—kau benar, kau kelelahan. Kau butuh tidur. Aku akan segera pergi.” Ia mengangkat selimutku dan berniat melingkupkannya.

“Kau menghindariku.” Aku setengah mencerca. “Kau melakukan sesuatu yang buruk dan kau membohongiku.”

Kau pikir aku tidak tahu, Hakyeon-a?

 

.

 

Aku tak sanggup untuk sekedar membuka mata keesokan harinya. Selepas pembicaraanku dengan Hakyeon yang tak memiliki akhir. Hakyeon memandangku kosong setelah aku mengucap kau membohongiku dan kemudian dengan wajah terluka, ia bangkit dan meninggalkanku.

Sisanya, aku menangis dengan suara keras, dengan cincin dalam genggamanku.

Aku merasa terluka, marah, kecewa, dan tidak tertolong lagi. Raut Hakyeon dalam bayanganku membuatku ingin meninju sesuatu. Atau jika perlu, melukai diriku sendiri.

Refleks diriku yang di luar kendali mengangkat ponsel dan berusaha menghubungkannya dengan nomor ponsel Hakyeon di sini. Tetapi, kini, nomor itu tidak aktif.

Hakyeon, atau bayangannya, atau sisi lain dirinya,

telah pergi.

 

.

 

Satu bulan berlalu dan aku masih berusaha berpegang erat pada sisa kewarasanku. Aku berhenti mengharapkan kedatangannya dan berhenti memupuk harapan. Aku berusaha bangkit dan menjalani hidupku yang sudah sedemikian hancurnya. Aku tetap membiarkan mulutku terbungkam tanpa memberi tahu siapapun mengenai pembantaian sebagian keluargaku. Aku bahkan tak mengangkat telepon atau memberi kabar pada polisi pemaksa yang menginterogasiku di Amerika hampir empat bulan yang lalu. Aku berhenti menempatkan diriku sebagai korban.

Aku nyaris menjadi normal dan kembali pada rutinitas kehidupanku ketika pada suatu sore, seseorang bernama Cha Hakyeon yang nyaris tak kukenal menyebut namaku dengan senyumnya yang beracun.

“Clarise.” Sebutnya sekali lagi. Yang membuat dadaku serasa ditusuk. “Clarise.” Ia mengatakannya hampir tujuh kali tanpa berhenti, dengan senyuman yang perlahan-lahan, seiring namaku yang keluar dari mulutnya, memudar.

Pada akhirnya, Hakyeon berdiri dua meter di hadapanku dengan raut kosong dan tak bahagia.

“Apa… kau baik-baik saja?”

Aku ingin mengangguk dan mengatakan ya dengan mantap. Tetapi, yang kulakukan justru menggeleng dalam-dalam dan ingin menangis pada akhirnya.

Terlebih, ketika selesai mendapat jawabanku, Hakyeon berbalik dan masuk kembali ke mobilnya. Ia pergi untuk kedua kalinya.

 

.

 

“Clarise? Apa kau baik-baik saja? Kau ingin aku membelikanmu cokelat lagi?” pertanyaan Ayahku terdengar tak yakin. Seolah ia menanyakannya bukan untuk mendapat jawaban, tetapi sekedar memastikan bahwa pita suaraku masih berfungsi dengan baik.

“Ya, aku baik-baik saja. Segalanya baik-baik saja.”

“Tapi laki-laki itu berada di halaman.” Katanya. “Kau tak berniat menemuinya?”

Aku terdiam sejenak. Membiarkan udara lembap tak berarti mengembus di sela-sela ruang kosong antara kursi yang kududuki dan Ayahku. Aku menyerah dan bangkit menuju pintu depan.

“Aku akan segera kembali.”

Ketika telapak sandalku mengambah aspal di jalan, Hakyeon menatap ke arahku dengan tatapannya yang tak terdefinisi. Ia membiarkanku naik ke dalam mobilnya dan tidak melakukan apapun. Atau mengatakan sesuatu.

Selagi mobilnya melaju, aku memikirkan betapa tidak berharganya kelangsungan hidupku. Betapa tak berartinya keadaan kami saat ini. Bahkan meski separuh diriku meyakinkan bahwa tak sedikitpun diriku membencinya.

“Kita akan ke mana?”

Hakyeon bahkan tak menoleh. Ia membuka mulut, kemudian menutupnya lagi. “Menurutmu, kita harus ke mana?”

Rasanya menyedihkan mendengar cara Hakyeon menyebut kita. Seakan bibirnya mendecap udara kosong dan tiada arti apapun yang terkandung di dalamnya.

“Berbicara saja di sini.”

“Kau—yang pertama.” Katanya dengan tempo lambat. Kegetiran muncul di kalimat keduanya. “Bukannya aku di sini.., untuk menjawab?”

Bibirku kaku ketika aku membukanya, “Kau ingin aku mulai dari mana?”

Entah disengaja atau tidak, Hakyeon memperlambat laju kendaraannya tanpa mengucap apapun. Aku mengambil kesimpulan sendiri.

“Kau menjaga jarak denganku.” Lidahku mengerut sesaat setelah aku melepaskannya.

Hakyeon menekan lampu sen dan berbelok, jalanan menjadi lebih sepi lagi. “Kau ingin aku menjawabnya?”

“Tidak.”

Kakinya setengah menendang rem, namun dia tak mengatakan apapun. Tetap berfokus pada sesuatu yang gelap di luar sana.

Aku yang keras kepala setengah menekan diriku, untuk tak mengatakan apapun kepadanya dan membiarkan hubungan kami yang retak separuh tetap pada tempatnya. Alam bawah sadarku mengirimkan sinyal bahwa akan ada perubahan besar setelah malam ini terlewati. Meski diriku yang dalam keadaan sadar tak tahu apa itu.

Tapi aku mengucapkannya.

“Kau ada di sana.” Aku menggigit lidahku keras-keras setelah mengatakannya. Kesunyian yang tidak akrab di kepalaku menggantung di awang-awang. “Salah satu yang memegang pistol dan menodongkannya di kepala Ibuku dan Kakakku. Satu-satunya yang menyuruhku bungkam.

“Itu semua—untuk apa, Hakyeon-a?”

“Ya. Aku berada di sana.” Seiring dengan jawaban Hakyeon, aku merasa seperti terkuliti. Meradang. “Tapi bukan aku. Aku tidak cukup terpercaya atau terpelajar untuk membunuh seseorang dalam sekali tembak.”

“Peringatanmu—”

Telingaku menangkap suara hela napasnya. “Aku tahu kau bersembunyi di sana, Clarise. Aku berusaha keras untuk mengalihkan orang-orang agar tidak menuju ke arahmu dan menemukanmu.” Ia mengatakannya seakan begitu berat bahkan untuk menarik napas. “Kalau kau membuka mulut—

“—aku akan dikejar-kejar oleh mereka, bukan?” selaku dengan nada pasrah. “Oh, bahkan kau—”

Pistol laras pendek dengan kecepatan kurang dari sesekon menempel di kepalaku. Sama seperti saat itu, sayangnya kali ini aku tahu siapa yang mengarahkan pistol itu di kepalaku. Jantungku berdentum, anehnya, aku tak merasa takut.

“—ya, kau memang sedang berusaha memburuku. Dan mungkin, setelah ini, Ayahku?” saat aku menoleh, aku melihat air mata mengalir di pipinya yang kemudian lenyap. Aku menoleh dengan berhati-hati dan tak peduli lagi akan hidupku yang di ujung tanduk. “Sebelum aku mati, bolehkah aku tahu alasannya?”

Mobil berhenti di tengah jalan dengan ban berdecit nyaring. Hakyeon menoleh ke arahku, dan ini kali pertama bagiku melihatnya menangis. Aku tak tahu apakah ia menangis sungguhan atau tidak. Namun seiring air matanya yang menderas, aku tahu aku juga dalam keadaan yang sama.

“Kau bukan Hakyeon yang kukenal lagi.” bibirku terbata, seakan aku bayi yang mulai berlatih bicara. “Atau, mungkin aku yang tidak pernah mengenalmu dengan baik.”

Moncong pistol di pelipisku terasa semakin mendorong. Sebelah tangan Hakyeon menggenggam tanganku yang terkepal. Lama kelamaan, pistol itu terjatuh ke bawah dan Hakyeon mendekapku tiba-tiba.

Aku tak peduli lagi. Aku menangis keras-keras di bahunya, tak memedulikan pakaiannya yang basah oleh air mataku.

“Jadi begitu,” di antara tangisku yang menggila, aku berkata, “kau memang membunuh keluargaku.”

Tak ada jawaban dan aku lebih senang melanjutkan.

“Kau memang termasuk, dan sekarang—kenapa aku tidak peduli lagi, Hakyeon? Kenapa tak kau bunuh aku sekarang juga? Kenapa kau justru menghancurkannya—hk—dengan ini? Dan cincin ini, apa maksudnya?!”

Aku mundur ke belakang dan mengeluarkan cincin perak dari dalam sakuku.

Aku mencintaimu. Aku begitu mencintaimu. Kau tahu itu, kau tahu itu semua, bukan?” ujaran Hakyeon menghancurkan hatiku. Ia tahu persis, itu pula yang menimpaku. Sesaat aku mengira aku akan pingsan saking lelahnya menangis, namun seseorang bernama Cha Hakyeon itu menciumku.

Ia benar-benar menciumku dan aku berpikir, ini mungkin ciuman terakhirku. Bibirku mengecap asin dari air mata kami. Tapi aku tak peduli lagi.

Keheningan kembali menyelimuti kami. Aku mundur sedikit dan berbisik lirih, sehingga hanya dia dan diriku yang mendengar, “Kalau kau ingin membunuhku, bunuh saja aku sekarang.”

 

.

 

Tanganku meraih sesuatu di kakiku yang berdenting beberapa puluh menit yang lalu. Sebuah cincin, aku meraihnya dengan tangan berkeringat dan gemetar parah sementara kakiku mendorong pintu lemari kecil itu terbuka. Terhuyung-huyung keluar dari sana dan aku muntah tepat ketika mataku menangkap potongan-potongan tubuh yang harusnya kukenal berceceran dengan cara yang tak pernah terbayangkan dalam otakku.

Kelenjar air mataku seakan bocor karena aku tak berhenti mengeluarkan air mata. Bahkan meski pada saat itu aku tak mengeluarkan suara apapun. Aku tahu, sesuatu yang besar telah terjadi dalam hidupku dalam beberapa menit, atau bahkan jam, yang lalu.

Telapakku yang terkepal terbuka dan cincin itu ada di sana.

Aku merasa familiar dan menatapnya lebih dekat. Saat itu pula, sesuatu seperti menyedot habis tenaga yang kukira tak kupunyai lagi,  dan aku pingsan.

Bahkan, sirene mobil polisi yang terdengar dengan sangat nyaring tak mampu membuat diriku sadar dan menormalkan otak.

Karena cincin dalam genggamanku, aku tahu itu milik Hakyeon.

 

.

 

Tapi dia tak melakukan apapun.

Semenit setelah aku mengatakannya, Hakyeon tetap memandangiku dengan tatapannya yang tak terjangkau. Tangannya jatuh di kedua sisi tubuhnya yang menekuk. Isakku terhenti pada saat ini.

Matanya menatapku lama, seolah tengah menusuk diriku, mengingat itulah yang kurasakan saat ini. “Bicaralah.” Suaranya memendar dan pecah. “Katakan padapolisi, aku yang melakukannya.”

Aku berkedip sekali.

“Katakan saja pada mereka, Clarise. Dengan begitu kau akan aman.” Katanya dengan ketenangan luar biasa. “Kau akan tetap baik-baik saja, aku sudah menghabisi mereka, aku berani menjamin itu.”

Kepalaku jatuh. Pistol di kakiku tampak memilukan, tapi aku mengalihkan pandangan pada kelabu tanpa gemintang di luar.

“Di atas semuanya; lupakan aku.”

Dia mengatakannya untuk dirinya sendiri, karena ketika aku mendongak, mataku tangkas menangkap sesuatu yang berkilau karena cahaya lampu pinggir jalan di pipinya. Beberapa saat kemudian Hakyeon bangkit dan keluar dari dalam mobilnya. Ia tak sekalipun menoleh kepadaku untuk sekedar melambaikan tangan atau mengucap salam berpisah. Bahunya berjalan lurus dan aku baru menyadari kakinya yang timpang.

Meski tak mengatakannya, aku tahu kami sama-sama tercabik. Dalam porsi yang sama.

Tubuh Hakyeon seakan fatamorgana. Aku tak tahu sejak kapan aku menjerit, berteriak, memaki, memanggil-manggil namanya dengan tangis menyertai. Aku tak tahu sejak kapan aku terjerembap di samping mobil dan menangis sesenggukan.

Tapi dia sudah hilang.

Saat itulah, aku tahu dia memang Cha Hakyeon. Di samping segalanya, mengenai kejahatan yang dilakukannya di belakangku, mengenai alasan yang tak pernah terdengar di telingaku, mengenai kepergiannya, mengenai kelompoknya, aku mengerti dia tetap Hakyeon. Dia tetap menjadi satu-satunya orang yang harusnya kubenci dan tak kujumpai, meski bayangan tak mengenalnya memburam seperti langit kala ini.

Aku tahu, mungkin ini saatnya membuka mulut.

Seperti permintaan kedua Cha Hakyeon untukku.

 

.

 

Ketika aku membuka mata, esok hari, esok hari, esok hari, esok harinya lagi—begitu terus menerus—hingga terasa seperti selamanya, semuanya tetap tak berubah.

Hakyeon tak pernah kembali.

End.

 

Maaf untuk typo, alur yang terlalu cepat, karakter di luar kenyataan.

Makasih udah baca! :3

Semoga kamu sukaaaa~~XD

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s