[Oneshot] Behind Her Reflection


dae

Hyeri tersadarkan akan posisinya. Selamanya, mungkin ia akan tetap di belakang Bella. Bahkan ketika ia telah berusaha keras membuat dirinya tak hanya menjadi.

.

.

Behind Her Reflection

a movie presented by

bepimee

[B.A.P] Jung Daehyun feat [Girl’s Day] Lee Hyeri

Genre Hurt-Comfort, Sad, Fluff | Rating Teenager | Duration 3k+

©2014


Suara nyaring yang berasal dari ponselnya seakan menarik Hyeri dari selimut tebal yang melilit tubuhnya sekarang. Baiklah, mungkin sudah tiba waktunya untuk bangkit dan mengucap selamat tinggal pada kasurnya, melambaikan tangan pada rutinitas yang sama dan berlarut-larut setiap harinya.

Begitu Hyeri keluar dari kamar mandi, ponselnya berdengung sekali lagi dan kali ini ia tahu siapa yang seakan tak rela membiarkannya menikmati paginya—yang sudah terasa buruk—dengan bertumpuk-tumpuk pesan yang berisi sama, namun dengan tata bahasa yang berbeda.

Orang itu jelas Bella Jo .

Ketimbang membaca pesan-pesan Bella yang dihapalnya di luar kepala dengan begitu jelasnya, Hyeri lebih memilih menyisir rambutnya dan menguncirnya dengan gaya yang selalu dikomentari oleh Bella dengan bantuan kalimat, ‘membosankan’ atau ‘cupu’. Sebenarnya masih banyak sebutan Bella untuk kuncir panjangnya itu, namun Hyeri terlalu malas untuk memutarnya kembali dalam pikir.

Memangnya aku peduli apa katanya?

.

 

Mobil Bella sudah terparkir memalang di depan pekarangan rumah Hyeri, menghalanginya untuk pergi ke kuliah tanpa Bella.

“Kau sengaja bangun terlambat, ya?” pertanyaan penuh selidik terlempar dari bibir yang terpoles lipgloss Bella. “Menghindariku?”

Hyeri memutar bola matanya. Enggan menyahuti atau menyangkal, ia hanya melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil Bella.

Perjalanan ke kampus berjalan seperti biasanya. Bella memulai ocehannya mengenai kencan-kencannya yang terdaftar rapi di papan yang selalu ditenteng Hyeri, sedang Hyeri pribadi hanya diam dan mengacuh bosan.

“Percaya tidak percaya, Choi Minho itu membayari semua yang kuinginkan! Semua, Hye!”

Hhh, Hyeri tidak berpikir lebih mengenai sambutan pagi dari Bella yang sudah terlalu umum ia jumpai. Ia hanya melempar pandang pada jalanan di luar, itu jelas lebih menyegarkan dan tentu, Hyeri tak perlu merasa bosan.

“Hari ini siapa lagi yang mengajakku kencan, Hye?” suara ringan milik Bella kembali terngiang. Dan untuk satu ini, Hyeri memilih untuk menanggapinya dengan mengeluarkan papan yang dimaksud tadi dan mengurutkan waktu.

“Jam satu, Jonghyun akan menunggumu di pastry cafe. Mungkin akan menghabiskan waktu dua jam, kalau kau tidak kabur seperti biasanya.”

Bella tertawa. “Oh, kau tahu siapa Daehyun, Hyeri?”

Ehm. Hyeri menelan ludahnya diam-diam begitu Bella menyebut satu nama keramat itu. Well, tak sepenuhnya begitu. Hyeri hanya bersikap berlebihan akan hal yang dianggap Bella sangat normal. Tetapi membayangkan laki-laki itu juga akan menghampirinya untuk mendapatkan nomor ponsel Bella…

Yah, itu memang menyedihkan.

“Jung Daehyun. Kau benar-benar tidak mengenalnya?”

“Hanya sekedar tahu namanya. Ada apa? Dia juga berniat mengajakmu kencan?”

Bella memutar bola mata. “Kenapa kau harus sesinis itu? Setiap kali aku menanyakan seorang laki-laki, kau pasti akan melempar pertanyaan yang sama. Itu mengesalkan, asal kau tahu.”

“Maaf.” Kata Hyeri. Tangannya memasukkan kembali papannya ke dalam ransel dan menutup ritsletingnya dengan gugup. “Aku hanya terlalu biasa akan hal itu.”

“Jadi selama ini kau menganggap aku seburuk itu?” tanya Bella, nada suaranya naik seoktaf. “Terserahlah. Pokoknya, aku bukan perempuan yang seperti itu. Sudah sampai, kita berbeda jadwal hari ini.”

.

“Hyeri? Kau tidak bersama Bella?”

Kali ini, Min Yoongi-lah yang menghampirinya.

“Tidak, kami berbeda jadwal hari ini. Ada apa?”

Seperti serigala berbulu domba yang ketahuan, Yoongi tersenyum sekilas dan menggaruk tengkuknya. Hyeri sudah terlalu biasa akan pemandangan ini. Laki-laki yang sok bertingkah malu untuk sekedar menanyakan keberadaan Bella padanya. Lama kelamaan, ia mulai malas akan hal-hal menjemukan yang hampir setiap hari ia temui.

“Kau ingin menanyakan Bella, bukan? Biasanya pada jam seperti ini ia berada di kantin. Kau cari saja. Selamat siang.” Sebelum Yoongi mengajukan pertanyaan, Hyeri tangkas menjawab dan bergegas pergi ke perpustakaan. Tugasnya sangat banyak hari ini dan kehadiran laki-laki yang hanya memanfaatkan dirinya—yah, hanya karena seorang Bella Jo —benar-benar bukan ide yang bagus.

Ketika Hyeri setengah menyeret langkahnya, seratus meter dari perpustakaan, laki-laki lain justru muncul di hadapannya dengan senyuman ceria. Hyeri tersihir, sapaan Daehyun seakan mengambang di hadapan Hyeri dan tak kunjung terserap telinganya yang separuh tuli.

“Hai.” Daehyun mengulang kembali, masih tetap memajang senyumnya. Yang diam-diam menyenggol lutut Hyeri secara tak langsung dan tak nyata.

“Hai.”

Hyeri setengah merutuk dirinya sendiri. Sebenarnya apa yang terkandung dalam senyum Daehyun sehingga bisa menghentikan langkahnya, tanpa beban di hati seperti tatkala laki-laki lain menyapanya? Bukan berarti sapaan itu benar-benar ditujukan padanya. Yah, Hyeri tak akan berbesar diri akan hal yang sudah jelas bertujuan tak benar.

“Sendirian?” suara santai Daehyun kini menyibak kabut dan menunjukkan maksud di baliknya. Hyeri mengerti dengan baik, setiap kali seseorang menanyakan apakah dirinya sendirian, justru memiliki artian ‘di mana Bella Jo ?’ yang samar.

Kali ini, sepertinya Hyeri disadarkan kembali.

“Pada jam seperti ini, biasanya Bella berada di kantin. Kau cari saja dia di sana.” Hyeri mengulang jawaban yang sama, ia bergegas akan berjalan kembali.

“Hei, apa aku menyebutkan nama Bella di pertanyaanku barusan?”

Ayolah, jangan ganggu aku. Sudah jelas sekali kau hanya memanfaatkan keadaan.

Hyeri memejamkan mata sejenak dan berbalik menatap Daehyun.

“Dalam pertanyaanmu, juga menyangkut-pautkan Bella, meski tidak langsung.” Ujarnya tenang. “Aku harus pergi sekarang. Maaf.”

Hyeri sudah satu meter jauhnya ketika Daehyun tertawa keras-keras. Dan mendengar tawa yang serasa tak beres itu, Hyeri memutuskan berbalik untuk kali kedua.

“Ada yang lucu?” Sejatinya Hyeri tak ingin mengeluarkan sarkasme dalam nada suaranya. Tetapi keadaanlah yang terus mendorongnya untuk melakukan hal yang sama, berulang-ulang kali.

Sebaliknya, Daehyun—yang sepertinya mulai tak normal itu—masih tertawa dan hanya mengucap, “Namamu Lee Hyeri, bukan?”

.

Hyeri melempar pandang bosan ketika Bella berteriak keras-keras dari lantai dua. Memanggil namanya secara lengkap dan tanpa memedulikan beberapa puluh mata yang kini memandang Hyeri tak suka. Memang tak adil, setiap kali Bella Jo mengundang keramaian, semua orang tak pernah membencinya dan justru menyalahkan orang lain. Dalam kasus ini, Hyeri-lah yang harus menelan kailnya.

“Tunggu aku di sana!”

Hyeri berdiri diam, menunggu Bella dengan sabar, meski sebenarnya hati tak rela. Well, mereka berdua bersahabat sejak kecil. Memang bukan jenis persahabatan yang normal dan terlihat sama dengan yang lain. Orang-orang melihat Bella sebagai majikan Hyeri, tetapi bukan begitu yang terjadi.

Ada suatu permasalahan dalam kehidupan Bella yang menjadikannya tipikal orang yang selalu mengesalkan Hyeri—bukan berarti gadis itu membenci Bella. Selama bersahabat dengan Bella, ia mempelajari banyak hal dan dapat menerima Bella dengan baik, meski banyak sekali gangguan dalam kedekatan mereka—contohnya, laki-laki yang ingin mendekati Bella dan memilih Hyeri sebagai makcomblang. Lupakan saja. Hyeri tak lagi peduli.

Begitu maniknya menangkap Bella yang kian dekat, ia memilih melangkahkan kaki lebih dulu. Tetapi begitu ia berbalik, Daehyun sudah berada di hadapannya dan memasang senyumnya. Hyeri tak tahu darimana asal laki-laki itu, tetapi tak ingin mengambil pusing akan hal itu ketika Bella muncul.

“Hai, Daehyun!” seru Bella, menarik lengan Hyeri yang tergantung lemas di kanan-kiri tubuhnya sendiri.

“Hai.”

Hyeri takjub mendapati balasan sapa yang disampaikan Daehyun. Ini pertama kalinya ia mendengar nada kosong dan normal laki-laki ketika berbicara pada Bella. Seringnya, para laki-laki itu akan berbicara dengan tekanan berlebihan dan ekspresi yang membuatnya risih.

“Hai,” untuk kali kedua di hari ini, Daehyun menyapanya. Tak kunjung menerima jawaban, Daehyun menyenggol lengan Hyeri dan membuat gadis itu terkesiap.

Oh, tidak. Tepatnya, shock. Entah untuk alasan macam apa.

.

“Ayolaah, Hyeri, masa kau tega membiarkanku sendiri?”

Hyeri ingin sekali menutup telinganya dengan kedua tangan, ia tak ingin lagi terlibat dalam kencan Bella yang biasanya hanya terisi dengan rayuan-rayuan kering yang bermakna kosong. Dan, apa pula maksud Bella mengajaknya ikut serta? Ingin menunjukkan bahwa semua laki-laki memuja Bella seperti memuja dewi? Oh, tidak. Tanpa ditunjukkan pun, Hyeri sudah tahu, dan sayangnya, ia tak menaruh peduli.

“Hyeri!”

Untuk menegaskan kesungguhannya, Bella merampas novel yang beberapa detik lalu berada dalam genggaman Hyeri, yang kini bertengger dengan indah di lantai. Hyeri menarik napasnya dan menggeleng.

“Aku sedang sibuk, Bella. Apa kau tidak melihatku? Aku punya banyak sekali tugas.”

“Apa membaca novel bisa disebut tugas?”

“Bisa. Itu tugas Bahasa. Menyelesaikan satu novel dan mencari—”

“Hyeri, kau pikir aku peduli akan hal itu?”

Menit berikutnya, Hyeri sudah berada di dalam mobil Bella.

.

Kecurigaan Hyeri akan eksistensinya yang kasat mata semakin membuncah kala pada menit ke-tiga puluh, Bella sama sekali tak mengajak bicara dirinya yang berada di samping kanannya. Tak seperti biasanya, Bella terlihat menikmati kencan kali ini dan Hyeri amat sangat tak suka.

Jelas, laki-laki yang kini berada di hadapan Bella adalah Daehyun.

Hyeri memangku kepalanya dengan kedua tangan, sementara sudut matanya memilih menatap ke luar. Yah, tentu saja. Sedari tadi tak satupun topik yang diangkat oleh dua orang itu dapat ia pahami atau sekedar membuatnya memberi perhatian lebih.

Konyol.

Beberapa orang melirik ke arah mereka, dan memandang Hyeri seolah-olah pengganggu yang paling tak diharapkan. Hyeri pribadi ingin segera pergi dari sini dan memaki habis-habisan. Rencananya, ia akan benar-benar melakukan itu jika jarum panjang arlojinya menujuk angka sebelas dan Bella masih tak mempedulikannya.

Bagus, empat detik lagi dan Hyeri akan segera angkat kaki.

Hyeri berdeham. “Permisi. Aku punya banyak tugas dan aku harus pulang sekarang. Apa kalian tidak keberatan?” ujarnya.

Bella memberikan respons yang Hyeri benar-benar benci.

“Maaf, Hyeri. Setelah ini aku harus pergi ke toko Ibuku. Daehyun, kau mau mengantarnya tidak?”

Tolong, aku bukan barang dan aku tak perlu diantar.

“Ide bagus. Aku juga akan pulang.” Ini suara Daehyun. Cukup mengagetkan memang. Terlebih bagi telinga Hyeri.

Tetapi, Hyeri menjunjung tinggi prinsipnya untuk tak berbesar hati akan suatu perbuatan yang memiliki tujuan tak benar. Oleh karena itu, ia berlagak tak peduli.

“Tak perlu.” Kilahnya cepat-cepat dan bangkit. “Nikmati saja kencan kalian, aku bisa berjalan sendiri.”

Sesuatu menangkap lengannya yang kemudian terasa kebas. Hyeri panik akan sesuatu yang jelas-jelas hanya delusinya saja. Akan tetapi, Hyeri mendapati bahwa jemari Daehyun memang benar-benar berada di lengannya.

Apa mungkin itu masih tersebut sebagai ‘delusi’?

.

“Hyeri, tolong tambahkan jadwal kencan bersama Daehyun lusa.”

Perintah Bella terngiang dalam pikirnya dengan cara tak menyenangkan. Kencan dengan Daehyun? Ah, sepertinya seorang Bella Jo benar-benar jatuh cinta pada Jung Daehyun sehingga mau-mau saja melakukan kencan dengan laki-laki yang sama untuk kali kedua dalam jangka waktu kurang dari seminggu.

Sisi lain Hyeri mengerut.

Memang apa yang ia harap? Hyeri merasa bodoh akan hal yang sebenarnya bukan kesalahannya. Tanpa berbasa-basi atau sekedar bergumam pada Bella, Hyeri menarik keluar papannya dan menuliskan jadwal kencan baru Bella itu.

“Sudah.” Hyeri membuka suara setelah menyelipkan papannya kembali ke dalam tas. “Ada lagi?”

“Tidak.”

Setelah Bella menutup panggilan, Hyeri menyurukkan diri ke dalam balutan selimut yang sama, yang selalu ia rindui di setiap pagi. Rasa kantuknya melayang begitu saja selagi bayangan jemari hangat Daehyun melingkupi lengannya tadi siang membumbung di pikirannya. Benci, tentu saja.

Hyeri tak mengerti hatinya. Di sisi lain, ia ingin menyerukan perasaannya dan bersikap jujur kepada dirinya sendiri, namun di sisi lainnya lagi—dimana ia menjunjung tinggi prinsip bahwa laki-laki hanya akan memanfaatkannya untuk dekat dengan Bella—tak segan memaksanya untuk bungkam, mencari aman melalui kediaman dirinya. Harusnya Hyeri tak lagi peduli.

Namun pada kenyataannya, Hyeri selalu memiliki asa pada Daehyun.

Meski sekarang ia menyadari, dirinya tak lebih dari bayang Bella, yang mungkin saja merupakan objek hati Daehyun.

.

Seharian ini Bella begitu sibuk dengan jadwalnya. Pemotretan, kencan, dan kuliah tak segan-segan menarik Hyeri ikut di dalamnya. Padahal dirinya tak memiliki urusan apapun akan hal-hal itu. Hanya saja, seperti biasa, Bella Jo yang berkuasa tak henti memaksa Hyeri untuk ikut.

Seperti biasanya, Hyeri tak pernah bisa menolak.

Kali ini, ia terpaksa harus menemani Bella makan siang bersama Ravi. Sepertinya embel-embel terpaksa tak akan pernah jenuh membayangi setiap kegiatan yang Hyeri lakukan, jika itu berhubungan dengan kencan dan laki-laki.

Harusnya Hyeri bersyukur karena Bella selalu mengajaknya berpartisipasi akan segala pembicaraan, membuat Hyeri tak mengira dirinya menjadi kasat mata. Tetapi kenyataan bahwa tak mungkin Bella menaruh hatinya pada laki-laki selain Daehyun mau tak mau menggoreskan suatu luka tak terdefinisi yang sebenarnya konyol.

“Ravi-a, mau mengantarku dan Hyeri? Aku tidak membawa mobil.”

“Bella, tak perlu, kau pulang saja aku akan pergi ke toko buku.” Kilah Hyeri, enggan mengikuti keinginan Bella yang ia tahu ujungnya; menyesatkan.

“Tidak, kau tidak mau pergi ke sana, bukan? Ravi, ayo.”

Seiring dengan kerlingan yang dilemparkan Bella secara cuma-cuma, Ravi mengangguk dan bangkit.

.

Seseorang tolong aku.

Hyeri tak henti melirik arlojinya yang menunjuk angka tujuh. Benar, sudah malam dan entah mengapa bus tak lagi ia temui. Ini semua masih disebabkan oleh Bella.

Dia benar-benar iblis.

Maki-makian merentet keluar dalam hati Hyeri dan tak bisa ia hentikan. Rumahnya masih berjarak lebih dari lima kilometer dan ia harus berjalan kaki? Ugh. Ia memandang ponselnya dengan pasrah dan benci yang menjadi satu, bagaimana mungkin dalam keadaan seperti ini ponselnya itu malah kehabisan pulsa dan baterai?

“Hei, Hyeri!”

Hyeri mendongak dari pelataran halte dan mendapati Daehyun berada dua meter di hadapannya, dalam Audi-nya. Ia benar-benar tak yakin akan penglihatannya.

“Kau tidak pulang?”

Yah, aku mau.” Sahut Hyeri dengan suara pelan, yang syukurlah masih dapat didengar Daehyun. “Tapi kau lihat sendiri, tidak ada angkutan yang beroperasi.”

Daehyun menertawainya. “Lalu aku untuk apa?” tandas laki-laki itu dan melangkah keluar dari mobilnya.

Satu kedipan mata kemudian Daehyun sudah berada di samping Hyeri. Gadis itu tidak merasakan apapun selain kepanikan yang tidak jelas ketika Daehyun menautkan jemari mereka menjadi satu.

Tolong. Aku tak bisa menaruh banyak harap, bukan?

.

“Jadi kenapa kau masih berada di luar rumah pada jam seperti ini? Apa Bella tak mengantarmu?”

Hyeri suka bagaimana Daehyun mengubah tata bahasanya ketika berbicara dengannya. Nada suara Daehyun seakan menunjuknya sebagai seseorang yang spesial, lebih spesial ketimbang Bella Jo .

Nah, sepertinya Hyeri banyak berharap.

“Tadi kami diantar Ravi. Tapi Bella punya keperluan lainnya dan harus pergi lebih dulu. Berikutnya, Ravi menurunkanku di halte tadi.”

“Lelaki sialan.”

Hyeri mengabaikan makian yang meluncur dari bibir Daehyun itu. Enggan menaruh kepedulian lebih toh dari awal dirinya sudah tahu siapa itu Ravi.

“Terima kasih sudah mau mengantarku.”

“Tak masalah.” Daehyun menekan tombol lampu sen dan berbelok. “Lain kali, jangan mau diantar oleh pacar-pacar Bella. Tinggal telepon aku, oke?”

Ujaran Daehyun—yang lebih mirip permintaan—mau tak mau membuat Hyeri tegang. Cara laki-laki itu mengucap pacar-pacar Bella seakan tak menaruh rasa yang lebih. Dan kenyataan bahwa Daehyun sedang menawarkan diri..

“Aku tidak punya nomor teleponnya.”

Pernyataan bodoh! Maki Hyeri dalam hati. Ia benci dirinya yang selalu bertindak gegabah dan berakhir dengan mempermalukan dirinya sendiri.

Tanpa menyahuti Hyeri lagi, Daehyun hanya menengadahkan tangannya di hadapan gadis itu.

“Apa?”

“Ponselmu. Kau bilang tidak punya nomor teleponku.”

Hyeri linglung. Tubuhnya kehilangan kekuatan untuk sekedar mengatakan bahwa ponselnya mati tepat kala Ravi memaksanya turun dari mobil. Matanya hanya menatap nyalang sembari hatinya menyumpah—mengapa ia menjadi tak terkenali seperti ini?

“A-aku, eh tidak, ponselku mati.” Yah, Hyeri harus bersyukur karena akhirnya ia sanggup bicara. Daehyun menoleh ke arahnya sekejap.

“Kalau begitu, berapa nomor ponselmu?”

Sayang sekali, Hyeri tak pernah ingat tiga digit terakhir nomor ponselnya.

.

Katakanlah, Hyeri begitu menyesali keberuntungannya.

Mengapa tak dari dulu ia menghapal nomor ponselnya? Konyol karena ia bahkan hapal di luar kepala nomor Bella. Tetapi belakangan, Hyeri memikirkan ini baik-baik dan tiba pada kesimpulan bahwa permintaan Daehyun tentu tak seperti yang berada dalam mimpinya.

Tentu saja, mungkin Daehyun hanya berusaha bermain get-hard kepada Bella. Itu kemungkinan yang masuk akal mengingat sikap Daehyun yang terbilang tak peduli tetapi lelaki itu tetap berada di sekeliling Bella.

Hyeri tersadarkan akan posisinya. Selamanya, mungkin ia akan tetap di belakang Bella. Bahkan ketika ia telah berusaha keras membuat dirinya tak hanya menjadi.

.

“Apa lagi?” Mood Hyeri begitu buruk saat Bella menghampirinya setelah berdandan satu jam penuh.

“Hye, barusan aku mendapat telepon,”

Hyeri tak menyahut, menunggu Bella menyelesaikan kalimatnya.

“Aku ada janji dengan Ibuku.”

“Lalu?”

“Waktunya sama dengan kencanku dengan Daehyun.”

“Oh, kalau begitu batalkan saja.” Hyeri setengah bahagia. “Kau tidak mau melewatkan kesempatan makan malam bersama Ibumu, ‘kan?”

Bella duduk di samping Hyeri, merengutkan rautnya. “Tidak bisa begitu, aku bukan tipe yang ingkar janji.”

Ucapan Bella tak sepenuhnya benar, Hyeri tahu itu. Tetapi melihat bahwa Bella berusaha untuk tidak mengecewakan Daehyun…well, itu bukan sesuatu yang Hyeri harapkan.

“Lalu kau ingin melakukan apa? Mengajak Ibumu ikut sekalian?”

Bantal di tangan Bella terlempar tepat saat Hyeri selesai membuka mulut. “Bukan begitu maksudku, bodoh.” Ia bangkit dan mengeluarkan sebuah kotak dan paperbag.

“Temui Daehyun.”

.

Well, Hyeri tak pernah mengira ia benar-benar akan menuruti permintaan Bella. Terlebih, gadis itu memaksa Hyeri untuk mengenakan gaun yang berada di dalam paperbag itu.

Dan kini, Daehyun berada di hadapannya.

“Bella tidak bisa datang, dia memintaku memberikan ini untukmu.” Hyeri mengeluarkan kotak tadi dan mengangsurkannya. Ia harap-harap cemas akan reaksi Daehyun, tetapi laki-laki itu tak mengubah ekspresinya, menyadarkannya bahwa play-get-hard itu mungkin memang sedang dilakukan Daehyun. “Kalau begitu… aku pergi dulu.”

“Kenapa terburu-buru?”

Ha?

“Kau bahkan belum memesan sesuatu—”

“Tidak usah, aku sudah kenyang.”

“—seperti minuman.” Daehyun tersenyum miring. “Teh tidak akan membuatmu terlalu kenyang, bukan?”

Hyeri terbungkam. Ia terpaksa melesakkan diri kembali ke kursi dan menunggu pelayan menghampirinya.

“Kau tidak kaget mendengar Bella tidak bisa datang?”

“Untuk apa kaget?”

Nah. Daehyun sukses membuat kepalanya berdenyut.

Toh aku tidak di sini untuk menemuinya.”

“Apa?” Hyeri terkejut mendapati pernyataan Daehyun. Well, mengingat Bella yang berdandan satu jam penuh…

Kernyitan di dahi Daehyun dua detik yang lalu lenyap berbarengan dengan lengkungan tipis di bibirnya. “Ah, Bella mengatakan aku akan kencan dengannya?”

“Ya, tetapi bukannya memang seperti itu?”

“Dasar anak itu.”

Sekarang bayangan Daehyun dan Bella seakan terhapus dari pikiran Hyeri. Bagaimana mungkin seseorang yang menyukai Bella bersikap semudah dan seringan itu? Ia tak mengerti.

Prakiranya salah?

“Kalau begitu kau mengira aku menyukai Bella.”

“…Kau memang menyukainya, bukan?”

Tawa Daehyun menggema dalam sedetik.

“Kau memercayai itu?”

“Memang normalnya seperti itu. Laki-laki hanya akan mendekatiku atau bicara padaku kalau ingin dekat dengan Bella atau mendapat simpatinya. Itu sangat terbaca di wajah mereka.”

“Di wajahku juga?”

Hyeri menatap Daehyun dengan mata yang disipitkan. Berusaha mengira-ngira, tetapi hasilnya nihil.

Yah, aku tidak bisa menilainya.” Katanya dengan nada enggan. “Tetapi sepertinya, ya.”

“Kau bilang kau tidak bisa menilainya dan mengatakan ‘ya’?”

“Perkiraanku begitu!” Hyeri kehilangan kesadarannya, well untuk apa ia setengah membentak Daehyun seperti itu? Ia mengumpat di dalam hati.

“Kalau begitu perkiraanmu salah seratus persen.”

“Ya, ya, terserah saja.” Cepat-cepat Hyeri menyesap tehnya. “Aku harus pergi sekarang.”

“Kau harus pergi sekarang atau kau sedang menghindari pembicaraan ini?”

Hyeri menoleh dan amarahnya yang tak terdefinisi tersulut tatkala melihat senyuman miring bertengger di bibir Daehyun. Ia terpaksa duduk kembali, semata-mata supaya tidak membuat Daehyun menang.

“Lalu apa aku harus mengatakan kau tidak tertarik pada Bella sementara kau mengajaknya kencan berturut-turut?”

“Kau masih mengira ini kencanku dengan Bella?”

Astaga. Hyeri tak menyangka Jung Daehyun yang kelihatannya cool itu bisa mengubah dirinya menjadi semenyebalkan ini.

“Baiklah, katakan saja kau menjaga harga dirimu untuk tidak mengakui bahwa Bella Jo sudah mengecewakanmu dengan tidak datang pada acara kencan kalian. Tetapi aku bisa meyakinkanmu, Bella berusaha datang tetapi orangtuanya membuat janji dengannya. Itu alasan mengapa ia tidak datang.”

Sebaliknya, Daehyun tertawa terbahak-bahak.

“Hyeri—kau mengira aku sedangkal itu?”

.

“Kau masih tidak percaya kepadaku?”

“Tidak.”

“Pernyataan mana yang membuatmu tidak percaya?”

“Semuanya.”

“Aku hanya berteman dengan Bella? Well, itu memang benar. Aku tidak punya perasaan apapun padanya? Yang itu juga benar. Jadi yang mana yang membuatmu tak yakin?”

Setelah penjelasan Daehyun, Hyeri kehilangan kekuatan. Ia tidak sanggup mengeluarkan pernyataan panjang. Bahkan kakinya bergetar sampai sekarang.

“Atau… bahwa aku suka padamu?”

Sial. Hyeri hampir kembali tenang, tetapi sekarang ia bergetar kembali.

“Kau salah.” Kata Hyeri dengan keyakinan yang semakin menyusut. “Kalau kau berpikir dengan cara ini kau akan berhasil mendapat simpatiku dan membuatku menyampaikan pada Bella bahwa kau laki-laki yang sangat cocok dengannya, kau salah.”

“Hyeri, kau baik-baik saja?”

“Kau tahu, aku tidak pernah menjadi apa-apa di balik Bella. Kau mungkin mengenalku karena para laki-laki itu menginginkan diriku untuk membuat Bella menyukai mereka. Tetapi itu tidak sepenuhnya benar. Aku tidak pernah memberikan pendapatku mengenai pacar-pacar Bella.”

Daehyun tak menangkap maksud yang tersirat dari pernyataan panjang lebar Hyeri yang disertai dengan memerahnya mata gadis itu.

“Aku tidak pernah memercayai apa yang keluar dari mulut mereka, asal kau tahu, Jung Daehyun. Bahkan darimu, aku tidak.”

“Hye—”

“Dan sekarang kau mengatakan kau berkencan denganku? Kau pikir aku hendak percaya begitu saja?”

Oh, Hyeri belum pernah menjadi seemosional ini. Daehyun menangkap itu dan tak tahu harus mengambil tindakan apa selain membiarkannya mengeluarkan isi hatinya.

“Menyukaiku? Dari awal hingga akhir, aku hanya akan berada di balik Bella. Aku hanya menjadi bayangan Bella Jo dan—”

Saat air mata Hyeri luruh, Daehyun menyadari ini.

Sembari mengusap mata, Hyeri menatap Daehyun nyalang, “Kau membuatku berharap terlalu banyak.”

Otak Daehyun cakap mengirimkan impuls.

“Silakan berharap sebanyak-banyaknya. Aku tidak peduli kalau kau hanya menjadi bayangan Bella atau kau tidak terlihat di belakangnya.” Daehyun mengulurkan tangan dan tangkas menggenggam kepalan jemari Hyeri. “Selama aku menyukaimu, itu bukan sesuatu yang besar.”

Daehyun menunggu perubahan ekspresi Hyeri. Namun, gadis itu tak kunjung menampakkan wajah bahwa ia memercayai apa yang dikatakannya.

“Hei, aku serius.”

apa yang akan kulakukan?

“Kau hanya harus mencintaiku.”

Sekali lagi Hyeri mengusap air matanya dan menatap jemarinya yang kini terbalut telapak hangat Daehyun.

Beberapa detik gadis itu berpikir dan ketidaktahuan akan melakukan apa membuatnya pusing. Ia melirik Daehyun untuk kesekian kalinya, dan entah mengapa ia percaya. Percaya begitu saja.

Hyeri menyerah, ia menunduk kemudian mengulum senyum, “Enak saja! Kau hanya menyukaiku dan aku harus mencintaimu?”

.

“Hyeri!”

Terpanggil, refleks Hyeri berbalik dan mendapati Ravi berada di belakangnya.

“Waktu itu, maaf, ya.” Kata laki-laki itu. “Saat menurunkanmu di halte.”

Ah, Hyeri mengangguk dan tersenyum sekilas.

“Itu atas permintaan Bella dan Daehyun. Kau sudah tahu itu?”

“Apa?”

Yah, mereka memintaku menurunkanmu di sana dan menelepon Daehyun untuk menjemputmu.”

“Tidak apa-apa.”

Dasar! Awas saja kau, Jung Daehyun!

End.

 

Fanfiksi lama yang niatnya pengen diikutin eventnya IFK tapi kemudian ngerasa ini amat hancur dan mendem ini lagi HAHA ><

Terakhir, leave your review? ^~^

2 thoughts on “[Oneshot] Behind Her Reflection

  1. hellloooooo meydaaaa😉

    yaampunnn ini manis sekaliiii;;;;;; apalagi daehyunnyaaaaa

    bella ternyata baik juga yaaa, kirain dia jd peran egois gitu.-. hehe

    Like

    1. Haloooo Eka!

      Hihihhiw kamu kok bisa mampir di sini wkwkwk aduh aku malu X’D

      Iyep Daehyun emang spesies gula-gulaan dan berpotensi banget bikin depresi (lah)

      Emang sengaja itu, jadi Bella itu egois sekaligus baik gituuu🙂

      Btw makasih ya udah baca + komen haha :3 see you!

      Like

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s