[Section-Draft] Reflection


 

I’ll find you, my REFLECTION.

.

.

R E F L E C T I O N 

written by bepimee

Choi Sooyoung feat. Kris Wu 

Genre Horror, Gore, Mystery-AU | Rating Teenager | Length 4k+ 

P r o l o g 

 


 

“Kumohon, jauhi aku…”

Bayangan wajahnya itu hanya tersenyum sekilas, senyuman yang cukup manis sebenarnya; namun terlihat sangat kejam di matanya.

“Tidak akan pernah. Jangan bermimpi.”

Dan cermin itu retak seketika.

 

 

***

 

 

Pelajaran olahraga. Betapa bencinya Sooyoung kepada pelajaran ini. Ia selalu mendapat urutan terakhir, padahal marganya berawalan ‘C’. sial memang. Apalagi Jinhee tidak ikut hari ini. Maka cukuplah sudah penderitaannya.

Bola melambung tinggi dan tepat mengenai rusuk gadis itu, membuat Sooyoung mengaduh dan berharap mendapat kompensasi berupa tiduran sebentar di ruang kesehatan, atau jika tidak, absen mengikuti olahraga voli dan duduk di pinggir lapangan.

“Choi Sooyoung!” seru gurunya, Pak Kim dengan suara menggelegar. “Sudah kubilang beberapa kali untuk tetap berkonsentrasi?!”

Duh, bukan ini yang Sooyoung harapkan.

“Kau boleh istirahat, tapi detensi untukmu siang ini.”

Detensi?! Sial, detensi bahkan tidak pernah terpikirkan di otaknya yang sakit.

Pak Kim menyodorkan sehelai kertas bercap lambang sekolahnya dan tulisan besar ‘DETENSI’ yang benar-benar mengganggu. Sooyoung menerimanya dengan tidak rela dan bangkit menuju ruang kesehatan di lantai bawah, pojok, dekat ruangan High Mistress.

Ia berjalan sambil mengurut keningnya yang penat dan menghampiri tangga, melewati murid-murid dengan seragam lainnya yang tidak memedulikannya, lalu menuruni tangga dengan cepat.

“Hei, kau!”

Sooyoung bahkan tidak berhenti, meski ia yakin seseorang sedang memanggilnya sekarang. Ia tetap berjalan turun dan mempercepat langkahnya. Tepat ketika seseorang berhenti di depannya, persis.

“Kau tidak mendengar mereka memanggilmu?” tanya seorang namja yang berdiri di hadapannya, dengan wajah dingin dan keras.

“Minggir.” Ujar Sooyoung, sama dinginnya.

“Aku bertanya kepadamu.”

“Aku memerintah kepadamu!”

“Hei, kau!” dan kali ini seseorang sudah menarik lengannya menjauh.

“Apa yang kau lakukan?!”

“Kim Jinhee! Kau mengangetkanku!”

“Maaf,” gadis bernama Jinhee itu tersenyum dengan tenang, “teman-teman menantimu di kantin.”

“Bilang padanya, aku ada urusan. Kepalaku pusing. Dan kau..” Sooyoung menoleh, dan mendapati bahwa namja yang tadi menghalanginya sudah tidak ada. Ia mengangkat bahu dan menyelipkan kertas detensinya di saku celana olahraganya.

“Kau? Kau siapa?”

“Ani, tidak ada.”

“Ayo cepat.”

 

 

***

 

 

Ini pertama kali baginya pergi ke ruang guru, khususnya: ruang detensi. Ia benar-benar tidak menyangka, ruang detensi semenakutkan ruangan di film hantu yang pernah dilihatnya beberapa kali. Gelap, tidak berjendela, dan mengeluarkan aroma dingin. Entah mengapa.

Sooyoung menyeret ranselnya dengan enggan dan duduk di kursi terdepan, di bagian pojok. Rambutnya yang terkuncir kuda bergerak tersambar angin dingin. Ruangan masih kosong, hanya ada dirinya dan meja kursi kosong yang mengeluarkan efek menakutkan.

Byar, lampu menyala dan itu membuat Sooyoung terperanjat.

Seharusnya lampunya bewarna putih, namun ini… bewarna-warni… menakutkan.

“Sudah lama aku tidak mendapatkan murid yang terkena detensi.”

oh ya? Pantas saja ruangan ini sudah jelek sekali!

“Bukannya kau tidak pernah melihatku, nak?”

“Nde.” Sooyoung mengangguk, merasa aneh dengan wajah tirus dan tua milik guru pengurus detensi di depannya.

“Hmm… sudah lama sekali sejak kejadian itu.”

“Maaf, aku kesiniuntuk menerima hukuman detensi, bukan mendengarkan sejarah.”

Guru tua itu mengangguk, rambut putihnya yang tergulung di belakang jatuh dan seperti per yang menggantung-gantung, mengerikan sekali.

“Kau hanya perlu mengingat anak-anak dalam buku ini,”

Sooyoung menerima buku yang disodorkan guru itu, merasa tangannya langsung berdebu ketika merasakan tekstur buku itu.

GUIDE FOR BEGINNERS.

PROBLEMS WILL BEGIN.

Belum sempat ia membukanya, lampu sudah mati dan pintu berderak terbuka. Buku itu terjatuh dari tangannya.

“Ah, kau Choi Sooyoung, maaf aku terlambat,” ujar Miss Hwang, guru bahasanya.

Sooyoung terperanjat, menengok ke bawah meja dan tidak mendapati tanda-tanda buku itu. Saat ia mendongak, sudah tidak ada guru tua itu.

 

 

***

 

 

Ia tidak bisa tidur, hanya berguling di atas kasurnya, berharap sesuatu membuatnya cepat tidur. Nafasnya memburu, dilihatnya sosok Jinhee di kasur sampingnya, sudah tertidur lelap. Ia tidak bisa melakukan apapun, ponselnya disita tadi sore oleh Ibu Shin karena ponselnya itu berdering di tengah-tengah kelas tambahan matematikanya.

Sooyoung kembali berguling, berusaha menemukan posisi yang nyaman. Tidak juga.

Aku harus tidur,” bisiknya sendiri dan memejamkan mata.

Dan kilatan seperti blitz itu membuat matanya membuka.

Buru-buru ia bangkit, menyambar mantel untuk menutupi piyamanya dan langsung memakai sandal kamarnya. Keluar dari kamar setelah mengantongi sebuah senter milik Jinhee.

Asrama terlihat sangat sepi. Bagaimana tidak, malam sudah menunjukkan pukul satu dan siswa-siswi sudah dilarang keluar pada pukul sembilan. Udara dingin menerpanya dan membuatnya merinding. Sooyoung tidak berani menyalakan senternya dan hanya dapat mempercayakan penglihatannya yang buram, terus berjalan menuju atap sekolah.

Entah kenapa, langkahnya membawanya kemari. Ini sangat aneh, hanya karena kilatan blitz dalam matanya, ia langsung berani keluar malam-malam begini; tanpa ditemani Jinhee pula. Sooyoung menaiki tangga memutar dari balok-balok kayu yang terus berkeriut membuat keringat dinginnya mengalir di tengkuknya.

Jangan.. ketahuan..” sampai. Ia berada di puncak gedung asrama tujuh tingkat itu. Gadis itu menghela napas, lalu mendongak, memandangi atap-atap. Perlahan Sooyoung melangkah, menuju ujung atap dan menajamkan telinganya ketika tidak sengaja mendengar sebuah suara.

Ia sudah panik, berjalan mundur dengan ketakutan, ketika sebuah tangan menangkapnya. Ia akan menjerit ketika sebuah tangan menutup mulutnya. Pertahanannya runtuh dan ia langsung lemas dalam dekapan ‘orang’ itu.

“Tenanglah.”

Sooyoung belum pernah mendengar suara seberat itu.

“Siapa disana?!”

Dan dirinya langsung merasakan tubuhnya perlahan terbang.

 

 

***

 

 

Gelap. Ia belum pernah melihat kegelapan senyata ini. Ini pasti ruang rahasia, pikirnya. Lalu ketika menajamkan matanya, akhirnya Sooyoung melihat sosok itu, sosok yang sama dengan orang yang menghalanginya tadi pagi.

“Hai.”

Sooyoung mundur beberapa langkah, lalu berhenti ketika punggungnya sudah menabrak tembok.

“Jangan takut. Aku menyelamatkanmu dari penjaga.”

“tidak pernah… aku melihatmu..” ucapan Sooyoung kacau dan laki-laki itu tertawa dengan suara beratnya.

“Ya, kau memang tidak pernah melihatku.”

Sooyoung menghela napas lega. Setidaknya laki-laki di depannya ini terlihat baik, yah, sepertinya.

“Siapa namamu?”

“Choi Sooyoung.”

“Saatnya kau kembali.”

“Tunggu, siapa namamu?!”

Laki-laki itu sudah menjauh, membuat Sooyoung kesal setengah mati.

 

 

***

 

 

Seperti pagi biasanya, bel berbunyi dengan nyaring dan lampu di atap kamar serentak menyala. Membuat mata siswa-siswi asrama itu membuka mata karena sinar lampu yang begitu terang dan membuat kepala sakit. Begitu juga dengan Sooyoung dan Jinhee yang sudah beranjak bangun dan mematikan lampu atap itu. Mereka tidak bisa tidur lagi dikarenakan kamera cctv perkamar sudah menyala dan pengawas sekolah sudah mengawasi mereka.

“Kau mandi duluan,” ujar Jinhee dan merapikan isi ranselnya.

Sooyoung mengangguk malas dan menyambar handuk serta seragam sekolahnya. Kemudian menguncir rambutnya dan buru-buru masuk ke kamar mandi, meninggalkan Jinhee. Beberapa menit mandi—lebih cepat dari yang dijadwalkan oleh asrama, ia langsung keluar dan mendapati kamar dalam keadaan kosong.

Jantungnya berdegup begitu saja karena tidak biasanya Jinhee keluar begitu saja. Apalagi dengan insiden ‘Detensi’ itu. Mengerikan. Bulu kuduknya berdiri begitu saja dan itu semakin membuat Sooyoung ketakutan, ia sampirkan handuknya di bahu dan berjalan pelan sambil memanggil-manggil Jinhee.

“Ya! Jinhee-ya! Eodirasseo?!” teriaknya kesal tepat ketika sebuah bel yang tidak dikenalinya terdengar. Sooyoung terperangah dan memandang ke sekitarnya yang sepi, sebuah bingkai kertas sudah bertengger manis di atas meja belajarnya.

Hai, bisa kau keluar? Kutunggu kau di atap asrama.

Sooyoung menghela napas lega, ia yakin bahwa pengirim surat itu adalah laki-laki yang kemarin tidak sengaja ia temui. Ya, pasti.

Buru-buru Sooyoung menyampirkan handuk basahnya dan berdiri di depan meja rias, menyisir rambutnya kemudian menjepit separuh rambutnya. Selesai, ia terlihat cukup baik. Sooyoung menyambar ranselnya dan berjalan di sepanjang lorong kamar-kamar para siswi, mengikuti jalan menuju tangga balok seperti yang ia lewati kemarin.

Langkahnya terhenti ketika tiba pada pijakan tangga teratas. Bukan laki-laki kemarin yang menunggunya, namun orang lain. Orang yang tampaknya tidak pernah mengenalinya.

Seorang gadis lain berdiri di ujung atap, seragamnya tampak tidak karuan, roknya bahkan sobek. Sooyoung memandanginya dari jauh, ketika lengan gadis itu tertarik dan menggesek sebuah biola. Pelan, halus, kemudian kasar, membentuk nada tidak karuan yang memekakkan telinga.

“Chogiyo~” sapa Sooyoung dengan takut-takut dan berjalan mendekat. Namun tampaknya gadis itu tidak mempedulikannya. “Annyeong, maaf mengganggu, tapi bukannya sekarang jam pelajaran untuk kelas high?”

Gadis itu melirik Sooyoung, tersenyum dengan wajah datar dan kemudian kembali memainkan biolanya. Kali ini membentuk nada sebuah lagu yang terdengar seperti backsound untuk film horror. Sooyoung meringis, sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa.

“Baiklah, aku akan turun sekarang.”

Cepat-cepat Sooyoung berbalik dan menuruni tangga balok, setengah berlari untuk mencapai kamarnya dan menceritakan hal aneh itu kepada Jinhee atau siapapun.

“Ya, Sooyoung-ah! Darimana saja kau?”  

“Aku tidak kemana-mana, kau menghilang tadi.”

“Hah? Bagaimana bisa kau mengatakan aku menghilang? Kau yang menghilang! Aku kan dari tadi merapikan kamar.”

Merapikan kamar? Tapi mengapa kamar dalam keadaan kosong ketika aku keluar dari kamar mandi?

Sooyoung memutuskan untuk diam saja, menyimpan keanehan itu sendiri ketika terdengar seruan keras siswi kamar sebelah.

“ADA YANG INGIN BUNUH DIRI DI ATAP!”

Pikirannya langsung tidak nyaman dan berlari ke lantai bawah, lapangan.

 

 

***

 

 

Benar apa yang dipikirkannya. Orang yang dikatakan ingin bunuh diri adalah gadis yang memainkan biola tadi.

Sudah banyak siswa-siswi yang berdiri di lapangan dan meneriaki gadis itu untuk turun dan berhenti membuat cemas. Bahkan Pak Kim dan Ibu Shin sudah ada di bawah, ikut meneriaki gadis itu. Sementara gadis yang diteriaki itu hanya diam dan terus memainkan biolanya dan musik horror itu terdengar menggema di telinga Sooyoung.

“Kau mengenalnya?!” tanya Jinhee kepada siswi kelas high di sampingnya.

“Ne, namanya—”

Prak!

Biola itu meluncur dengan mulus ke bawah, hancur berkeping-keping di lapangan yang penuh sesak itu, tongkat penggeseknya hampir saja mengenai Sooyoung.

“YA! KAU CEPAT TURUNLAH!” suara Pak Kim menggelegar namun gadis itu tetap tidak bergeming. “Dimana Donghae?!”

“Pintu atap terkunci dari dalam, Pak. Kami tidak bisa masuk. Sudah berusaha didobrak namun pintu itu terbuat dari beton.” Ujar Donghae keras.

Sooyoung semakin terkejut, bukannya tadi ia bisa masuk dengan mudah? Tapi mengapa—

“AWAS SOOYOUNG-AH!”

Sooyoung merasa linglung, matanya menatap ke atas, tepat pada tubuh gadis itu yang melayang-layang dengan kecepatan tidak terduga. Kaki Sooyoung kaku, tidak bisa tergerak untuk menggesar.

Terakhir, ia memejamkan matanya dan merasakan sesuatu menciprat di wajahnya dan sesuatu yang terasa seperti benda menjatuhi kakinya.

Ketika Sooyoung membuka matanya, mayat gadis itu sudah tergeletak tepat di kakinya, dengan tangan menggenggam betis Sooyoung.

Lalu matanya kehilangan fokus dan kehilangan kesadaran begitu saja.                                   

 

 

***

 

 

Saat terbangun, yang pertama ia dapati adalah dinginnya ruangan dan kasur yang ia gunakan untuk tidur. Ia mengerjapkan mata beberapa kali dan memegangi kepalanya, kemudian ingatannya membawanya ke gadis itu, gadis yang meninggal di kakinya.

Ia sontak bangun, kemudian merasa ruangan itu berputar dan ia terpaksa tidur lagi. Kepalanya sangat pusing, mungkin pingsan memang bukan solusi yang bagus. Sooyoung tetap dalam posisi itu beberapa saat, kemudian bangun dan mendapati sepatunya hanya satu.

Sooyoung diam beberapa detik, kemudian menuduk dengan posisi duduk dan menatap kolong kasur itu, namun yang ia dapati hanya gelap sehingga tidak dapat melihat letak sepatunya. Ia julurkan tangannya dan meraba-raba dalam kegelapan, mencari letak sebelah sepatunya itu.

Tangannya berhenti meraba ketika merasakan sebuah benda berada di bawah jemarinya. Teksturnya jauh berbeda dari sepatunya, ia meraba benda itu, tepat ketika benda itu berbalik menggenggamnya. Sebuah tangan.

Sooyoung menjerit, namun tangan itu telah menariknya masuk dalam kegelapan.

Dan ia terbangun begitu saja, dengan napas terengah-engah dan keringat bercucuran. Ia terduduk dan memandang ke seisi ruangan. Persis seperti mimpinya; ruang kesehatan, angin dingin, dan sepi.

Sooyoung merasakan bulu kuduknya berdiri, ia menengok ke bawah, berharap bahwa sepatunya dalam keadaan lengkap dan bukannya hilang sebelah seperti dalam mimpinya.

Sepatunya lengkap.

Ia langsung mengembuskan napas. Sangat lega.

Perlahan Sooyoung memakai sepatunya, buru-buru menalikannya dan ingin kabur dari ruangan kesehatan yang sepi itu. Ia beringsut cepat dan langsung berlari kecil menuju pintu ruang kesehatan, bertubrukan dengan suster yang akan masuk.

“Ya! Choi Sooyoung! Kenapa kau panik begitu? Lihat perbuatanmu!”

Sooyoung memasang wajah memelas, memandangi kotak obat yang berserakan di kakinya sendiri, kemudian matanya menangkap bercak darah disana…

“Aku harus segera pergi. Mianhaeyo, suster.” Kemudian ia langsung berlari.

 

 

***

 

 

Tidak ada hal yang paling menyedihkan kecuali noda darah kering di baju yang tidak bisa dibersihkan. Apalagi itu bukan darahnya sendiri.

Sooyoung dengan kesal menyiram air ke seragamnya, menggosoknya hingga buku-buku jarinya memutih. Terus menggosoknya dan melipat dahinya kesal. Mengapa seseorang tidak berusaha membersihkannya tadi ketika ia pingsan?! Sooyoung merutuk, namun itu toh percuma saja.

“Ya… sampai kapan ini akan hilang?!” bentaknya kemudian, mendongak menatap kaca dan terpana. Ia menoleh ke belakang dan tidak apa-apa, namun di cermin itu… Sooyoung kembali menatap kaca, sudah tidak apa-apa. Hanya ada bayangan dirinya sendiri. Ia mendehsa lega dan menyalakan keran lagi, namun ia kembali terpana ketika sesuatu menempel di pundaknya. Ia menoleh sedikit, melihat sebuah tangan yang sangat pucat; tangan gadis yang meninggal di kakinya.

Sooyoung menjerit begitu saja, apalagi ketika menatap cermin, dirinya tidak sendirian lagi.

“Kau kenapa Choi Sooyoung?!” seru seseorang tiba-tiba, membuat Sooyoung berhenti menjerit dan menatap ke pundaknya. Tangan itu sudah menghilang dan ia sekarang berdua dengan Jinhee, seperti seharusnya.

“A-ani, g-gwe-gwenchana. Nna-neun ggwenchana.” Ujar Sooyoung sambil berusaha bernapas dengan baik. Ia menatap ke kaca, wajahnya sangat pucat dan noda darah di pipinya semakin memperburuk keadaannya.

“Sini, biar kubantu bersihkan.” Ujar Jinhee, tampak bingung namun mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan menyalakan keran, membiarkan air membasahi sapu tangan itu kemudian mengusapkan bagian yang basah ke pipi Sooyoung.

Perlahan, napas Sooyoung kembali menormal dan ia sudah biasa saja. Membiarkan tangan Jinhee aktif di wajahnya, sedangkan tangannya sendiri menggenggam erat tangan kiri Jinhee yang tersampir di samping tubuh Jinhee sendiri.

Beberapa detik, dan tiba-tiba Sooyoung merasakan tangan dalam genggamannya mendingin. Ia meremas tangan itu, merasakan gerakan sapu tangan di wajahnya berhenti. Sooyoung menunduk lalu membuka mata. Tangan yang digenggamnya bukan tangan Jinhee lagi.

Dan seseorang yang berdiri di hadapannya juga bukan Jinhee.

 

 

***

 

 

 

“Aku tidak bisa tidur.” Bisik Sooyoung, memandang langit-langit kamarnya yang gelap dan ditempeli dengan bintang dan bulan palsu buatan Jinhee. “Sesuatu terus menghantui pikiranku. Aku harus bertemu dengan laki-laki itu.”

Kemudian ia teringat bahwa laki-laki it berada di atap. Atap yang sama dengan atap yang digunakan gadis itu untuk bunuh diri tadi pagi. Dan meninggal di kakinya.

Sooyoung tersenyum miris, kenapa harus ia yang mengalaminya? Maksudnya, kenapa gadis itu tidak langsung jatuh di tanah melainkan jatuh di kakinya dan mencipratkan darahnya di wajah dan seragamnya?!

Tidak, bayangan gadis itu pasti hanya imajinasi otaknya yang sedang syok. Ya, pasti itu. Tidak ada keterangan lain yang masuk akal selain itu. Sooyoung mengembuskan napas, memutuskan keluar dari asrama sebentar untuk menghirup udara segar, dan tentu berhati-hati dengan kamera cctv yang aktif di setiap lorong kamar-kamar asrama.

Perlahan Sooyoung menyibak selimutnya dan memakai sandalnya, mengaduk lemarinya untuk mengambil jaket lalu memastikan membawa senter. Ia harus cepat.

Langkah kakinya tenang ketika membawa dirinya sendiri ke tangga atap, menuju pintu beton yang kata siswa kelas high terkunci ketika akan menyelamatkan gadis itu; yang justru tidak terkunci ketika Sooyoung mengunjunginya sekarang.

Suara berkeriutan tangga dan pintu beton itu membuat dadanya bergemuruh, ia harus bersyukur karena—kata Jinhee—penjaga malam memiliki telinga yang tidak sensitif. Sooyoung mendorong pintu itu dengan mudah kemudian menutupnya kembali, memastikan tidak terkunci kemudian berjalan di atap itu, menuju ke ujung. Ia tidak melihat laki-laki kemarin itu, sepertinya ia sendirian sekarang. Sooyoung mengangguk, tidak apa-apa, aku sudah bersyukur bisa menghirup udara segar.

Sooyoung memejamkan mata dan merentangkan tangan. Menghidurp udara banyak-banyak kemudian mengembuskannya. Atap adalah tempat ternyaman di asrama ini. Sooyoung tidak sering kemari, baru-baru ini saja. Bahkan mungkin Jinhee tidak pernah kemari. Jinhee bukan tipe suka penasaran sepertinya, Jinhee tipe murid biasa yang ingin bergegas lulus dan keluar dari asrama; tipe yang tidak suka terseret masalah seperti Sooyoung. Berbeda jauh dengannya sepertinya.

“Hei, kita bertemu lagi.”

Sooyoung menoleh, mendapati laki-laki yang kemarin malam ditemuinya itu berada di hadapannya dengan senyum menawan namun terkesan arogannya.

“Kau menghilang tiba-tiba kemarin.” Cetus Sooyoung.

“Maaf, aku ada urusan kemarin.”

“Baiklah, siapa namamu? Kau belum menjawab kemarin.”

“Apa itu sangat penting bagimu?”

“Tentu saja! Kau tahu namaku sedangkan aku tidak tahu namamu,”

“Baiklah, namaku Kris.”

Sooyoung mengangguk-angguk, baiklah nama namja itu Kris.

“Sedang apa kau kesini?” tanya Kris.

“Tidak tahu,” mengedikkan bahu kemudian memandang Kris serius. “Kau melihat kejadian bunuh diri itu?”

“Tidak, itu tidak penting.”

“Hei, ini tentang nyawa seseorang! Bagaimana bisa kau mengatakan itu tidak penting?!”

“Kenapa kau peduli? Bahkan gadis itu sendiri belum tentu peduli dengan nyawanya sendiri. Jika dia peduli dia tidak akan mengakhiri hidupnya, dengan ditonton orang banyak.”

“Kau melihatnya, kau tahu dia ditonton orang banyak.”

“Diamlah, bisa saja dia datang kemari. Lihat, itu stick biolanya.” Ujar Kris santai sambil menunjuk ssuatu yang terlihat seperti tongkat sihir. Ya, sepertinya Kyuhyun benar. “Dia pasti sedang mengawasi kita.”

“Kau membuatku takut.” Kata Sooyoung langsung dan merapatkan jaketnya. “Aku merasa aneh belakangan ini.”

“Wae?”

“Seolah-olah… aku tidak pernah sendirian di saat aku memang sendirian. Ada yang menemaniku, dan itu membuatku takut.”

Kris tampak aneh setelah mendengar Sooyoung mengatakan itu. Ia menatap menyelidik, ke belakang Sooyoung, kemudian memberi isyarat seperti menyuruh pergi, membuat Sooyoung semakin merinding.

“Apa yang kau lakukan?!”

Kris tampak kaget, kemudian berpaling ke Sooyoung dan tersenyum. tidak apa-apa.

“Aku harus segera kembali.” Kali ini Sooyoung yang pergi duluan. “Kita bertemu besok?”

Kris mengedikkan bahu.

Selesai sudah.

 

 

***

 

 

“Aku tidak menemukan apa-apa. Kau hanya sedang lelah saja,”

Benar juga, semalaman Sooyoung tidak bisa tidur dan hanya berguling di kasurnya.  Tapi masa tidak tidur bisa membuat matanya membayangkan sosok-sosok aneh itu? Apalagi ia melihatnya ketika sedang pelajaran matematika.

“Tapi, tadi aku melihat seorang gadis duduk disana.” Ujar Sooyoung dengan penekanan, merasa merinding. “Aku tidak berbohong, sungguh.”

“Ayolah, Sooyoung-ah. Fokuskan saja pikiranmu di pelajaran, maka bayangan itu tidak akan mengganggumu lagi.” Pinta Jinhee dengan memelas, apalagi jika bukan karena Pak Kim super galak yang sedang mengajar di depan mereka. Berani bicara, sama dengan mati.

Sooyoung menyerah, berusaha mengikuti saran Jinhee. Beberapa menit trasa lancar-lancar saja, ia kembali fokus ke papan tulis dan telingannya mendengarkan penjelasan dengan baik. Tapi kemudian terdengar sebuah deringan telepon.

Semuanya hening, deringan itu masih terdengar.

“Sooyoung… itu ponselmu…” bisik Jinhee dengan ngeri.

 

 

***

 

 

Dikeluarkan di kelas matematika dengan guru super killer benar-benar bukan ide yang bagus. Sooyoung tidak tahu harus melakukan apa untuk menghabiskan waktunya, yang seharusnya digunakan untuknya belajar matematika di kelas seperti yang lainnya.

Kemudian ia teringat tentang buku yang diberikan guru tua ketika ia mendapatkan detensi itu.

Apa buku itu ada di perpustakaan? Kata Jinhee, perpustakaan asrama mereka sangat lengkap. Banyak buku sejarah akan sekolah ini dan daerah di sekitar sini. Pasti buku itu ada. Karena terdorong rasa penasarannya, Sooyoung akhirnya pergi ke perpustakaan.

Perpustakaan dalam keadaan sepi ketika ia masuk, padahal ruangan itu sangat luas. Bangunannya sudah tua, lemari-lemari dan rak-raknya sudah rapuh, dan kayu lantai yang ia pijak tampak tidak meyakinkan. Untung saja kru sekolah meletakkan karpet tebal yang terlihat mahal di atasnya sehingga kayu-kayu mengerikan itu tidak kelihatan.

Sooyoung mencari buku itu di rak ‘History’ di bagian terpojok dan terbelakang perpustakaan. Tampaknya rak ini sangat jarang dikunjungi. Lagipula, siapa yang penasaran dengan sekolah ini? Jinhee yang notabene siswi jenius saja tidak pernah bertanya tentang sekolah ini, apalagi Sooyoung.

Langkahnya terhenti ketika melihat buku tebal, bukan buku yang dicarinya, namun tetap saja buku itu membuat rasa penasarannya membuncah begitu saja. Ia menariknya dan membaca halaman depannya. Wow, buku ini diproduksi sekitar 30 tahun yang lalu, dan berhenti dua tahun yang lalu.

Sooyoung membukanya, bab awal bercerita tentang asal-usul tanah tempat sekolah dan asrama ini didirikan. Awalnya, tanah ini dimiliki oleh banyak orang, tapi kemudian orang-orang menganggap bahwa tempat ini tidak strategis dan terlalu jauh dari kota. Maka banyak dari mereka menjualnya dengan harga murah dan pergi pindah. Tapi kemudian ditemukan keanehan, orang-orang yang pindah itu tidak pernah ditemukan lagi. Seperti lenyap, tertulis di buku itu. Sooyoung mengerutkan kening. Kenapa sekolah memproduksi buku yang menceritakan keanehan—yang bisa dihubungkan dengan peristiwa horror—itu? Namun keanehan itu tidak berhenti. Orang-orang yang membeli tanah ini—ada beberapa orang juga—memutuskan akan bergotong royong membuat sumur untuk kebutuhan rumah tangga mereka. Anehnya, sampai berpuluh-puluh tahun kemudian, sumur itu tidak pernah jadi. Sumur itu selalu gagal dibangun. Sampai sekarang.

Bulu kuduk Sooyoung berdiri.

Ia membuka halaman berikutnya. Di situ diceritakan pembangunan sekolah itu. Sangat monoton dan membosankan, jadi Sooyoung akan melewatinya ketika matanya mendapati tulisan; ‘empat orang meninggal dalam pembangunan gedung sekolah ini. Satu di ruang 01, satu diruang 04, dan dua di ruang 17.’ Sooyoung tidak mengerti ruang apa saja itu, tapi kemudian ia menemukan gambar, seperti sebuah peta yang kuno. Kemudian ia menyadari bahwa ruang 01 adalah halaman depan asrama, ruang 04 adalah… ruang detensi…

Pikirannya sudah semakin melantur, namun ia mencari di mana ruangan 17 itu. Namun di peta itu tidak tertulis angka 17. Padahal terdapat ruang 18 dan 19, namun setelah diteliti, tidak ada ruangan 17 itu. Kemudian ia menemukan catatan kaki di peta tersebut. Ruang 17 selalu gagal dibangun. Tidak ada ruang itu.

“Tunggu.. gagal dibangun? Lalu dua orang yang mati itu?” gumam Sooyoung sendirian dan membuka bab berikutnya. “Buku yang sangat aneh. Seperti mengatakan aib-aib sekolah saja.”

Bab berikutnya hanya lembar kosong. Selanjutnya pun begitu.

Sooyoung membalik-balikkan kertas itu, tapi tetap saja tidak ada yang muncul, sampai halam terakhir.

“Tsk, konyol sekali! Untuk apa menjilid buku yang sebegini tebal jika setengah lebih bagiannya hanya kertas kosong? Konyol.”

“Ada tulisan di sana.” Kata seseorang tiba-tiba, membuat Sooyoung kaget.

Ketika ia mendongak, ia mendapati laki-laki aneh bersama Kris berdiri di depan kursi.

“Tulisan apa?”

Kris mengambil alih buku itu, membuka halaman-halamannya kemudian menyodorkannya kepada Sooyoung kembali.

“Baca itu, aku harus pergi.”

Belum sempat Sooyoung mengatakan sesuatu, Kris sudah pergi.

“Baiklah, coba lihat apa tulisannya.”

Kertas kosong ini hanya menunjukkan seberapa kosongnya gedung ini.

Apa maksudnya?

 

 

***

 

 

“Kau darimana saja?” tanya Jinhee begitu Sooyoung meletakkan tasnya di bangku sebelahnya, di kelas Sejarah. “Tadi aku berusaha meneleponmu, tapi tidak aktif.”

“Masa, sih? Aku tidak merasa menon-aktifkan ponselku setelah insiden tadi,”

“Mungkin sinyal.”

Sooyoung mengangguk saja. Tapi kemudian ia tergoda untuk bertanya kepada Jinhee mengenai sejarah sekolah yang Jinhee tahu. Tapi niat itu batal karena Jinhee akan berpikir bahwa Sooyoung berubah menjadi aneh setelah kejadian well, mayat itu.

Dalam dua detik, Pak Gil masuk dan pelajaran akan dimulai.

Di tengah-tengah pelajaran, Sooyoung tidak bisa menahan rasa penasarannya sehingga ia mengangkat tangannya ketika Pak Gil membuka sesi tanya.

“Ya, kau Choi Sooyoung?”

“Hmm… begini, Pak. Tadi saya pergi ke perpustakaan dan membaca buku mengenai sejarah sekolah—”

Terdengar keluhan di seantero kelas begitu mendengar sejarah sekolah.

“—dan saya menemukan keanehan di sana.” Lanjut Sooyoung tanpa merasa bersalah kepada teman-temannya yang tampak mengantuk itu.

Pak Gil tidak terkejut mendengar pertanyaan Sooyoung. “Keanehan macam apa yang kau temukan?”  tanyanya dengan tenang.

“Mengenai tanah gedung ini, orang-orang yang hilang dan meninggal itu, ruang 17, lembar-lembar kosong, serta tulisan seperti catatan kaki di tengah-tengah buku itu.”

Teman-temannya tampak sedikit tertarik mendegar penuturan Sooyoung yang penuh misteri.

“Sebenarnya saya tidak tau bagaimana jelasnya. Tapi melalui penelitian melalui buku-buku sejarah, saya memutuskan bahwa orang-orang yang hilang itu mungkin saja pergi ke luar negeri atau meninggal dunia. Tidak ada yang tahu itu bukan? Ah, kau pasti tiba di peta itu, bukan? Seperti yang dikatakan buku itu, ruang 17 tidak benar-benar ada. Sepertinya ruang itu akan dibangun, namun tidak jadi, entah karena apa. Dan kematian dua orang itu dalam pembangunan ruang 17—dengar kalian semua, ruang 17 adalah atap…”

Saat itu Sooyoung melihat seorang gadis tersenyum di balik Pak Gil.

 

 

***

 

 

“Bukannya agak konyol mendapati bahwa sekolah kita punya terlalu banyak misteri?”

Sooyoung membalikkan badanya dan menatap Kris dengan pandangan muram. “Sekolah yang mengerikan.” Katanya. “Apalagi dengan bayangan-bayangan itu.”

“Bayangan apa?”

“Kau tahu, insiden bunuh diri itu..”

Kris tersenyum dingin. “Jangan mengatakan itu di sini. Ini tempatnya.”

“Ah ya, kau benar. Tapi aku tidak tahan. Aku seperti melihat seusatu aneh, menghampiriku, berjalan melewatiku, menatapku; tapi tidak ada orang lain yang melihatnya. Hanya aku.”

Kris menatap ke atas.

“Apa kau pernah merasakan yang seperti ini, Kris?”

Kris kembali fokus menatap Sooyoung. “Lumayan sering.”

“Apa kau berpikir ini mengerikan?”

“Awalnya memang mengerikan. Tapi lama kelamaan aku tahu ini normal.”

“Normal kau bilang? Melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain normal?! Apa kau gila?”

“Hanya satu yang perlu kau ingat,”

“Apa?”

“Jangan pernah menatap balik ke arah mereka, dan mendengarkan apa kata mereka.”

“Kris? Apa maksudmu?”

Tapi Kris hanya tersenyum, mengangguk dan kemudian pergi.

 

 

 

***

 

 

“Hari ini sekolah akan diliburkan. Jadi kita bebas kemana pun, asal tetap dalam lingkup asrama.” Jelas Jinhee panjang lebar. “Tsk! Percuma saja liburan kalau tetap di asrama! Eh, Sooyoung? Kau mau ke mana?!”

“Ke atap. Kau mau ikut?”

Jinhee langsung menggeleng, jadi Sooyoung berjalan sendirian. Tangga balok itu terasa dingin akibat terkena selalu tertutup seperti ini. Dengan langkah mantap Sooyoung mengangkat kakinya naik, dan terus naik.

“Ah, akhirnya sampai juga.” Gumamnya dan mendorong pintu dari beton itu kuat-kuat. Cahaya matahari langsung menyambutnya dengan terlalu berlebihan ketika pintu berhasil terbuka.

Seperti yang ia harapkan, atap dalam keadaan sepi. Ia melangkahkan kakinya di bagian pinggir atap.

Asramanya memang aneh. Baru saja seminggu insiden bunuh diri salah seorang siswi itu, semuanya telah kembali normal. Bahkan meskipun tidak ditemukan alasan mengapa gadis itu bunuh diri. Mungkin jika gadis itu tidak bunuh diri Sooyoung akan terbebas dari bayangan-bayangan mengerikan itu, dan itu artinya ia akan merasa tenang dan hidup seperti tanpa beban.

Sooyoung hanya berdiri di sana sambil memandang ke bawah, berpegangan pada pembatas yang terasa panas. Ia memejamkan mata dan menikmati semilir angin yang meskipun terasa panas namun menyegarkan. Kemudian, sayu-sayup terdengar seperti nada dering ponsel.

Sooyoung mengecek miliknya dan ponselnya hanya diam, namun nada dering itu masih terdengar.

“Aku yakin itu suara ponsel,”

Karena keyakinan itu ia berjongkok, mencari di antara bangku-bangku yang disediakan untuk digunakan duduk, tentu saja. Kemudian ia menemukan ponsel itu.

Letak ponsel itu di garis kapur yang digambar polisi untuk menunjukkan letak gadis yang bunuh diri itu, sebelum meloncat. Ponsel itu berada setengah meter dari stick biola itu. Sooyoung panik, namun tidak mengurungkan rasa penasarannya, lagipula siapa yang meninggalkan ponselnya di area seperti ini?

Ia mengambil ponsel yang kini hanya tergeletak diam tanpa suara. Mendapati ada banyak notifikasi. Sooyoung mematung melihat wallpaper ponsel itu, potret wajah gadis yang meninggal. Wajah yang sama dengan wajah yang menatapnya tajam sebelum ia terjatuh sambil memegangi betisnya.

Itu ponsel miliknya.

Sooyoung gemetaran ketika mengutak-atik ponsel itu, ia membuka-buka last views dan mendapati ada sebuah foto.

Ia semakin pucat begitu saja mendapati foto siapa itu.

Potret wajah Kris.

 

 

***

 

 

Sekarang, ia semakin takut pada sekolah ini.

Ia tidak mengerti apa yang salah. Ia hanya takut, takut, dan takut.

Ia ingin berlari pulang ke rumahnya, meninggalkan tempat terkutuk ini. Tapi ia tidak bisa. Sekali kau masuk, kau tidak bisa keluar dari sini sebelum lulus.

Sedari masuk ke sini, ia telah tahu ada yang tidak beres dengan tempat ini. Terlebih dengan mitos-mitos kutukan itu. Ia semakin tidak berani melakukan sesuatu yang berbahaya di sini.

Tak hanya itu saja, dirinya yang sensitif dalam arti yang sebenar-benarnya tahu bahwa ada sesuatu yang mengincar di sini. Insiden bunuh diri itu jelas masih kurang. Ada seseorang lagi yang harus berkorban nyawa.

Sayangnya, ia tidak pernah tahu siapa itu.

 

k k e u t-

 

Helaaaw! 

Masih ada yang inget fic ini?!?! Emang sih aku baru munculin prolognya aja dan kemudian menyesal karena–well, aku jadi ngeri sendiri dan ga ada keberanian buat lanjutin. BISA-BISANYA YA ADA WRITER KYK AKU.

Dokumen ini kesimpen gitu aja di komputer, barusan aku liat-liat documents di komp (udah lama banget sejak aku utak-atik komp, karena skrg lebih suka sama laptop hehet) dan kemudian nemu ini. Dan kemudian aku kayak ‘LAH KOK INI MASIH ADA’ Nah daripada mubazir kebuang gitu aja setelah ngumpul 4k words jadi aku post ajalah meskipun INI GA BAKALAN DILANJUT (kecuali kalo ada ide tibatiba hamdallah),

Cukup curhatnya, and see u<3 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tell Me Your Wish?  ̄ε ̄)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s